You are on page 1of 2

inspirasional

Eksekutif Ber-EQ Rendah


Anthony Dio Martin
ulisan ini merupakan salah satu topik yang saya angkat di siaran radio Smart Emotion yang saya bawakan baru-baru ini, di salah satu jaringan radio bisnis di Indonesia. Ternyata responsnya sangat luar biasa. Banyak SMS dan email yang saya terima setelah siaran ini. Ada yang isinya curhat, ada pula yang membenarkan. Ada yang tak habis pikir mengapa keadaan ini bisa terjadi. Ya, bayangkan saja, seorang CEO di posisi paling puncak di sebuah organisasi, tetapi level Kecerdasan Emosionalnya rendah? Apa jadinya? Tapi, realitas semacam itulah yang terjadi. Setidak-tidaknya, ada beberapa contoh yang bisa memberikan gambaran bagaimana seorang CEO bisa memiliki level EQ yang rendah. Misalkan saja, kisah CEO terburuk di dunia tahun 2009, John Thain. Bayangkan, dia termasuk salah satu CEO dengan bayaran tertinggi di dunia, yakni US$ 83 juta. Namun, tahun 2008, saat perusahaannya Merrill Lynch merugi hingga US$ 27 miliar, dengan enaknya ia minta agar bonusnya sebesar US$ 30-40 juta dibayarkan. Tak hanya itu. Manakala perusahaannya dibantu oleh pemerintah melalui Bank of America, ia justru membagibagi bonus kepada para eksekutifnya senilai hampir US$ 10 miliar. Dan lebih parahnya, di saat banyak terjadi PHK dan pemangkasan dana, ia justru mendekorasi ruang kerjanya sendiri senilai hampir US$ 1,2 juta. Itulah yang membuat banyak lapisan marah kepadanya yang berakhir dengan hilangnya jabatan John Thain. Termasuk pula, salah satu kisah yang membuat banyak pihak geleng-geleng kepala adalah kekonyolan Walt Baker, CEO Tennessee Hospitality Association. Apa yang dia lakukan? Menyebarkan email yang menyamakan first lady Amerika, Michelle Obama, dengan Cheetah, simpanse yang merupakan sahabatnya Tarzan. Email yang dia anggap lucu ini ternyata beredar kemana-mana. Meskipun akhirnya Walt Baker sempat buru-buru meminta maaf dengan mengatakan, I am sorry for my actions. I am sorry for the offensive contents of the email. (Saya minta maaf atas tindakan saya. Saya menyesal atas isi email yang bisa menyakiti orang). Akan tetapi, langkahnya

terlambat. Seharusnya, Walt Baker berpikir dulu sebelum mengirimkan email tersebut. Akhirnya, ia pun dipecat dari posisinya.

Sudah Tahu Buruk, Kenapa Diangkat?


Kedua kisah di atas menjadi cerminan menarik bagi kita bahwa orang dengan posisi tinggi tidak selalu identik dengan EQ yang tinggi. Masalahnya, banyak di antara mereka yang dipilih untuk menduduki posisi di atas karena perusahaan buru-buru ingin mencapai target dalam waktu singkat. Nah, banyak di antara para CEO ini adalah jagoan dalam mencapai target dan menyajikan angka-angka. Soal bagaimana caranya, perusahaan kadangkala tutup mata. Akibatnya, banyak CEO yang menjalankan manajemennya dengan tangan besi, otoriter, dan tidak peduli dengan suara-suara di bawah. Memang, dalam waktu yang singkat mereka menunjukkan hasilnya. Namun, dalam jangka panjang, banyak yang hasilnya berantakan. Konsekuensinya adalah: buruknya semangat kerja, tim yang tidak kompak, orang keluar masuk, tim proyek yang bongkar pasang, kepuasan kerja yang rendah. Itulah akibat-akibatnya, yang tentunya untuk jangka panjang, justru amat merugikan organisasi! Itu sebabnya dalam salah satu wawancaranya, Travis Bradberry, penulis buku Emotional Intelligence 2.0 yang bukunya juga menjadi salah satu sumber inspirasi workshop Kecerdasan Emosional yang rutin kami lakukan lebih dari 9 tahun di Indonesia, mengatakan dengan kalimat menarik, ..many CEO are being promoted for being a good financial managers, not as people managers. (Banyak CEO yang diangkat karena mereka adalah manajer finansial yang baik, bukan manajer orang). Mereka bagus dalam mengelola angka, tetapi buruk dalam berinteraksi atau memperlakukan manusia.

Ciri-ciri Eksekutif Ber-EQ Rendah!


Bagaimanakah kita mendefinisikan CEO ber-EQ rendah? Ciri pertama dan yang paling bermasalah adalah self awareness mereka yang terkadang, terlalu berlebihan. Akibatnya, mereka sering kali egois, self reference tinggi (sumber acuannya adalah

62

HC September 2010

inspirasional
diri sendiri). Intinya, mereka sering berpikir, Kalau menurut saya OK, berarti ya OK dong. Kedua, menyangkut self management mereka yang rendah. Terkadang, mereka tidak bisa mengontrol diri sehingga tampak emosional, serakah, reaktif, atau terkesan seenaknya. Prinsipnya adalah, Kalau aku maunya yang ini, berarti harus inilah mesti dipenuhi. Ketiga, menyangkut social awareness mereka yang rendah sehingga mereka menjadi tidak peka terhadap perasaan orangorang di sekitarnya. Dan terakhir, social skills mereka juga rendah. Akibatnya, kemampuan berempati mereka cenderung rendah, begitu pula listening skills mereka buruk. Celakanya, karena mereka rata-rata cukup terdidik dan banyak belajar, bisa jadi kemampuan lip service mereka luar biasa. Akibatnya, di depan publik, mereka bisa saja bicara tentang hal-hal yang bagus tetapi di belakangnya mereka melanggar kata-kata yang baru saja mereka ucapkan. Istilahnya talk the talk, bukan walk the talk. EQ yang rendah. Catatan dari penulis buku Executive EQ mengatakan, 10% kenaikan skor seorang karyawan (apalagi seorang CEO) dampaknya adalah 60% pada bottom line suatu bisnis. Fakta membuktikan, seperti yang disajikan di bagian awal tulisan ini, yang menunjukkan bahwa banyak leader yang jatuh bukan karena kurang strategi atau teknis, tapi karena EQ mereka yang rendah. Berikutnya, mari kita tekankan WHAT-nya. Apanya yang perlu ditingkatkan dari seorang eksekutif? Di sinilah kita bicara soal empat elemen kompetensi EQ yang dikemukakan oleh Daniel Goleman, yang kemudian direvisi oleh tim Talentsmart. Inilah yang perlu dipelajari o l e h semua

eksekutif, agar Kecerdasan E m o s i o n a l mereka meningkat. Sayangnya, banyak di antara mereka yang skor EQ-nya rendah tetapi tidak menyadarinya sama sekali. Itulah sebabnya, mengapa workshop dan training EQ menjadi sangat berharga bagi mereka. Dan akhirnya, melalui proses HOW, atau mendorong mereka untuk terus-menerus mengembangkan EQ melalui 5 tips sederhana, yakni: to read (membaca), to learn (belajar dari yang lebih mampu), to get mentor (meminta bimbingan), to apply (mencoba menerapkannya), dan to take risk (ambil risiko untuk melakukannya)! Semoga dengan mempraktikkan konsep dan metode-metode ini, para eksekutif kita menjadi lebih seimbang. Jadi bukan saja strategi bisnis mereka yang bagus, tetapi Kecerdasan Emosi mereka pun lebih dikembangkan lagi! n

Bagaimana Meningkatkan EQ Para Eksekutif?


Jawabannya sangat tidak mudah. Masalahnya, mereka berada di posisi paling atas yang terkadang tidak membutuhkan orang lain. Tentu, untuk mengubahnya pun tidak gampang. Jadi, bagaimana langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk membuat para eksekutif mau mengembangkan EQ mereka? Dari pengalaman mengajarkan EQ selama hampir 10 tahun kepada begitu banyak perusahaan nasional dan multinasional, saya menganjurkan untuk melakukannya dengan metode: WHY-WHAT-HOW. Bagaimana prosesnya? Begini caranya! Prosesnya harus dimulai dengan memberikan gambaran mengenai WHY dulu. Artinya, para eksekutif harus diawali dengan diberikan kesadaran, mengapa mereka perlu mengembangkan EQ mereka? Beberapa data statistik sering saya tunjukkan kepada mereka agar lebih yakin. Misalnya, saya menyajikan data dari Center for Creative Leadership yang menyatakan bahwa 27% CEO ternyata mempunyai skor

Anthony Dio Martin Trainer dan penulis buku-buku best seller Host program radio Smart Emotion di SmartFM dan Host program televisi EQ Inspiration di Q-TV (www.anthonydiomartin.com)

HC September 2010

63