Вы находитесь на странице: 1из 60

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penelitian Dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat di era globalisasi saat ini,

perusahaan dituntut untuk dapat melakukan penyesuaian terhadap keadaan yang terjadi demi memperoleh keunggulan kompetitif dari perusahaan lain. Salah satu fungsi penting dalam perusahaan adalah manajemen keuangan. Dan salah satu unsur yang harus diperhatikan dalam manajemen keuangan adalah mengenai seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dana yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan operasional dan mengembangkan usahanya (Silvestezr, 2007). Selain itu, salah satu keputusan yang dihadapi oleh manajer keuangan dalam kaitannya dengan kelangsungan operasi perusahaan adalah keputusan pendanaan dan keputusan struktur modal, yaitu suatu keputusan keuangan yang berkaitan dengan komposisi hutang saham preferen dan saham biasa yang digunakan perusahaan (Meyulinda dan Yusfarita, 2010). Keputusan untuk memilih pendanaan perusahaan sering mendatangkan dilema bagi manajer keuangan. Dilema tersebut adalah manajer harus mampu menghimpun dana, baik yang berasal dari dalam perusahaan secara efisien, dalam arti keputusan pendanaan tersebut merupakan keputusan pendanaan yang mampu meminimalkan biaya modal yang harus ditanggung perusahaan. Biaya modal yang timbul dari keputusan pendanaan tersebut merupakan konsekuensi yang langsung timbul dari

keputusan yang dilakukan oleh manajer. Keputusan pendanaan yang digunakan secara tidak cermat akan menimbulkan biaya tetap dalam bentuk biaya modal yang tinggi, yang selanjutnya dapat berakibat pada rendahnya profitabilitas perusahaan (Hasa, 2008). Pemenuhan dana tersebut menurut Riyanto (2008:209) dapat dikategorikan menjadi dua sumber, yaitu sumber dana intern merupakan sumber dana yang berasal dari peusahaan dan sumber dan ekstern merupakan sumber dana yang berasal dari luar perusahaan. Sedangkan, keputusan struktur modal merupakan keputusan keuangan yang berkaitan dengan kombinasi hutang dan ekuitas dalam struktur keuangan jangka panjang perusahaan (Meyulinda dan Yusfarita, 2010). Struktur modal adalah pembelanjaan permanen yang mencerminkan

pertimbangan atau perbandingan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri (Riyanto,1995). Struktur modal menunjukkan proporsi atas penggunaan hutang untuk membiayai investasinya, sehingga dengan mengetahui struktur modal investor dapat mengetahui keseimbangan antara risiko dan tingkat pengembalian investasinya (Meyulinda dan Yusfarita, 2010). Perusahaan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis sumbersumber dana yang ekonomis guna membelanjai kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan usahanya. Untuk itu perusahaan mempertimbangkan berbagai variabel yang memepengaruhinya. Beberapa variabel yang mempengaruhi struktur modal perusahaan
2

(Weston dan Brigham, 2008) adalah stabilitas penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, sikap pemberi pinjaman dan perusahaan penilai kredibilitas, kondisi pasar, kondisi internal perusahaan, dan fleksibilitas keuangan (Hasa, 2008). Profitabilitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan. Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri (Agus Sartono, 2001:122). Tanpa adanya laba, perusahaan tidak mungkin mendapatkan modal dari pihak eksternal (Gitman, 2006:61, Bram dan Christian, 2010). Laba ini juga merupakan salah satu motif ekonomi perusahaan. Motif ekonomi merupakan keinginan atau hasrat yang dimiliki perusahaan untuk dapat eksis dan membuatnya menjadi lebih makmur dan menghindari kerugian yang besar (Advent, 2008, Bram dan Christian, 2010). Brigham dan Houston (2001:40) menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi mengggunakan hutang yang relatif kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Apabila suatu perusahaan dengan tingkat keuntungan yang tinggi maka akan menggunakan utang yang relatif kecil, karena tingkat keuntungan yang tinggi memungkinkan suatu perusahaan untuk menggunakan sumber pendanaan dari sumber intern perusahaan yaitu laba ditahan . Sebaliknya, apabila suatu perusahaan dengan tingkat pengembalian

yang kecil maka akan lebih banyak menggunakan modal asing dalam memenuhi kebutuhan dananya. Selain profitabilitas terdapat pertumbuhan penjualan. Pertumbuhan penjualan merupakan perubahan penjualan pertahun. Jika pertumbuhan penjualan pertahun selalu naik maka perusahaan memiliki prospek yang baik di masa datang. Menurut Weston Dan Copeland (2008), pertumbuhan penjualan merupakan variabel yang

mempengaruhi struktur modal. Brigham dan Houston (2001 dalam Saidi, 2004 dalam Meyulinda dan Yusfarita, 2010) mengatakan bahwa perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil. Pada tahun 2008, Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan mengakui prospek pendapatan sektor ritel ke depan akan menurun. Dia mengatakan, untuk saat ini pihaknya tidak berharap banyak bisa meningkatkan jumlah penjualan akibat turunnya daya beli konsumen di semua tingkatan. Apalagi, lanjutnya, harga pangan di pasaran dunia juga mengalami kenaikan secara signifikan yang dipicu oleh tingginya permintaan di India dan China. "Industri makanan dan minuman memang harus melakukan banyak inovasi agar bisa naik baik volume penjualan atau keuntungan di tengah krisis keuangan global," tandasnya. Thomas menilai para pengusaha akan melakukan proyeksi ulang terhadap

keuntungan dan rencana tahun 2009. Menurutnya, krisis keuangan di AS menjadi ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Berikut ini Profitabilitas (Return On Assets ) dan Struktur Modal beberapa perusahaan pada sektor food and beverages Tahun 2006-2010.

Tabel 1.1 Profitabilitas (ROA) dan Struktur Modal Enam Perusahaan Pada Sektor Food and Beverages Tahun 2007-2010 Kode Tahun ROA Struktur Modal (%) Perusahaan AQUA 2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010 2007 2008 2009 2010 0,07 0,08 0,08 0,10 -0,87 -0,08 0,09 0,07 0,08 0,12 0,17 0,19 -0,03 0,03 0,09 0,05 0,03 0,02 0,07 0,04 0,02 0,18 0,04 0,06
5

ADES

75,75 72,54 74,63 85,00 166,39 256,50 161,34 117,22 29,21 34,35 28,84 35,40 243,41 208,63 181,93 168,79 89,53 99,67 72,90 67,21 63,97 51,41 45,41 54,11

DLTA

PSDN

SKLT

ULTJ

Sumber : Pojok BEI YPKP, Capital Market Center

Data diatas menggambarkan besaran struktur modal dan profitabilitas (ROA) dari enam perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dimana setiap tahunnya besarannya mengalami perubahan. Peningkatan struktur modal dapat dikarenakan menurunya laba atau profit perusahaan sehingga perusahaan memerlukan tambahan sumber dana atau modal eksternal seperti pinjaman untuk operasional perusahaan. Penurunan struktur modal dapat dikarenakan meningkatnya penjualan yang berakibat pada kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba pun akan ikut meningkat sehingga perusahaan lebih memilih untuk menggunakan sumber dana atau sumber modal internal yaitu dari laba. Dapat dilihat dari data diatas, profitabilitas (ROA) pada tahun 2009 mengalami peningkatan, ini mengakibatkan struktur modal pada tahun 2009 mengalami penurunan. Hal ini sesuai dengan Brigham dan Houston (2001:40) yang menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi mengggunakan hutang yang relatif kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada tahun 2010, dimana dari keenam perusahaan diatas terdapat tiga perusahaan yang profitabilitas (ROA) nya mengalami penurunan yaitu ADES sebesar 0,09 menjadi 0,07, PSDN sebesar 0,09 menjadi 0,05 dan SKLT sebesar 0,07 menjadi 0,04, namun ini diikuti dengan
6

penurunan struktur modal pada tahun 2010, hal ini dapat disebabkan oleh perusahaan lebih memilih untuk mengurangi atau tidak menggunakan pinjaman. Sedangkan, tiga perusahaan lainnya, profitabilitas (ROA) nya mengalami peningkatan yaitu AQUA sebesar 0,08 menjadi 0,10, DLTA sebesar 0,17 menjadi 0,19, dan ULTJ sebesar 0,04 menjadi 0,06, namun diikuti dengan peningkatan struktur modal. Hal ini dapat disebabkan perusahaan lebih memilih untuk melakukan pinjaman lebih besar. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang masalah tersebut, maka penelitian ini diberi judul Pengaruh Profitabilitas dan Tingkat Pertumbuhan Penjualan Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.2.Identifikasi dan Rumusan Penelitian


1.2.1 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka identifikasi masalah pada penelitian ini adalah :
1. Profitabilitas perusahaan AQUA, DLTA dan ULTJ pada tahun 2010

mengalami peningkatan ini yang dimana seharusnya diikuti dengan menurunnya struktur modal, karena perusahaan mendapatkan laba yang cukup besar sehingga perusahaan lebih memilih sumber dana internal tidak.

Tetapi, peningkatan profitabilitas ini tidak diikuti dengan menurunnya struktur modal.
2. Pada tahun 2010 perusahaan ADES, PSDN dan SKLT, profitabilitasnya

mengalami penurunan, hal ini mengakibatkan perusahaan memerlukan pinjaman atau dana lebih sehingga struktur modal akan meningkat. Namun, hal yang terjadi adalah struktur modal mengalami penurunan.

1.2.2

Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah penulis uraikan sebelumnya diatas, penulis

merumuskan beberapa permasalahan, sebagai berikut :


1. Bagaimana profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan pada perusahaan

food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)


2. Bagaimana struktur modal pada perusahaan food and beverages yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia (BEI)


3. Seberapa besar pengaruh profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan

terhadap struktur modal pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), baik secara simultan maupun parsial

1.3.

Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1. Maksud Penelitian Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji kembali dan memahami lebih mendalam teori-teori dan asumsi-asumsi dalam data dan informasi yang diperoleh.
8

Selain itu untuk mengetahui pengaruh profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). . 1.3.2. Tujuan Penelitian Dari paparan masalah yang telah disebut di atas. Penulis mempunyai tujuan, antara lain :
a.

Mengetahui profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

b. Mengetahui struktur modal pada perusahaan food and beverages yang terdaftar

di Bursa Efek Indonesia (BEI)


c.

Menganalisis pengaruh profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), baik secara parsial maupun simultan.

1.4.Kegunaan Penelitian 1.4.1 a. Kegunaan Akademis Bagi Pengembangan Ilmu Akuntasi Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi tambahan pengetahuan dan dapat menjadi bahan referensi khususnya untuk mengkaji topiktopik yang berkaitan dengan profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal.
9

b.

Bagi Peneliti Lain Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti lainnya, dan menambah ilmu pengetahuan dan informasi mengenai profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal.

c.

Bagi Peneliti Sendiri Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal.

1.4.2. Kegunaan Praktis a. Bagi Manajemen Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk dijadikan sebagai bahan masukan untuk kemajuan perusahaan serta memberikan informasi mengenai profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal.

1.5.

Lokasi dan Waktu Penelitian

1.5.1. Lokasi Penelitian

10

Penulis melakukan penelitian di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang beralamat Jln. Jend. Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12190 - Indonesia dengan memperoleh data sekunder melalui www.idx.co.id. 1.5.2 Waktu Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti membuat jadwal penelitian yang di mulai dengan tahap persiapan sampai ke tahap akhir yaitu pelaporan hasil penelitian dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1.2 Jadwal Penelitian Bulan No Prosedur Tahap Persiapan: 1. Membuat outline dan Proposal Usulan penelitian 2. Pengambilan formulir dan penyusunan UP 3. Menentukan tempat penelitian Tahap Pelaksanaan: 1. Membuat outline dan Proposal UP 2. Meminta surat pengantar keperusahaan 3. Penelitian di perusahaan 4. Penyusunan UP dan bimbingan UP 5. Seminar sidang UP
11

Fe b

Mar et

Ap r

Me i

Jun 2012

Jul

Ags

Sep

Okt

II

III

6. Revisi UP setelah seminar sidang UP 7. Bimbingan Skripsi. 8. Pendaftaran sidang skripsi. 9. Sidang skripsi. Tahap akhir: 1. Revisi setelah sidang skripsi. 2. Penggandaan Skripsi. 3. Wisuda.

12

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS


2.1. 2.1.1. Kajian pustaka Profitabilitas

2.1.1.1 Pengertian Profitabilitas Erich A. Helfert (2007:225) menyatakan bahwa: Profitabilitas adalah hasil yang diperoleh melalui usaha manajemen atas dana yang diinvestasikan. Kemudian, S. Munawir (2004:33) juga mengemukakan : Profitabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba selama periode tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang diperoleh melalui usaha manajemen atas dana yang diinvestasikan.

2.1.1.2.Pengukuran Profitabilitas Untuk menilai profitabilitas suatu perusahaan yaitu dengan menggunakan rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas akan menunjukkan kombinasi efek dari likuiditas, manajemen aktiva dan utang pada hasil-hasil operasi. Rasio profitabilitas menghubungkan laba dengan besaran tertentu yaitu penjualan maupun modal atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba. Ada beberapa indikator untuk

13

mengukur rasio profitabilitas yang dapat digunakan sesuai kepentingan. menurut Sutrisno (2007:253) menyebutkan ada beberapa indikator untuk mengukur tingkat rasio profitabilitas, yaitu : 1. Profit Margin Profit Margin merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan penjualan yang tercapai. Rumus yang biasa digunakan adalah sebagai berikut :

2. Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) sering disebut juga sebagai rentabilitas ekonomi merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Rumus yang biasa digunakan adalah sebagai berikut:

3. Return On Equity (ROE) Return On Equity (ROE) sering disebut juga rate of return on Net Worth merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki sehingga ROE ini ada yang menyebut sebagai

14

rentabilitas modal sendiri. Laba yang diperhitungkan adalah laba bersih setelah dipotong pajak atau EAT. Dengan demikian rumus yang digunakan sebagai berikut :

4. Earning Per Share (EPS)

Earning Per Share (EPS) terkadang pemilik juga menginginkan data mengenai keuntungan yang diperoleh untuk setiap lembar sahamnya. Earning Per Share atau laba per saham merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan per lembar saham pemilik. Laba yang digunakan sebagai ukuran adalah laba bagi pemilik atau EAT:

Adapun profitabilitas yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah Return On Assets sering disebut juga sebagai rentabilitas ekonomi merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimilki oleh perusahaan. Rumus yang biasa digunakan adalah sebagai berikut :

15

2.1.1.3.Tujuan Pengukuran Profitabilitas Menurut Sofyan Syafri (2008), tujuan pengukuran profitabilitas bagi perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaan, yaitu : 1. Untuk mengukur atau menghitung laba yang diperoleh perusahan dalam periode tertentu 2. Untuk menilai posisi laba perusahaan tahun sebelumnya degan tahun sekarang 3. Untuk menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu 4. Untuk menilai besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri 5. Untuk mengukur produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan

2.1.2

Tingkat Pertumbuhan Penjualan

2.1.2.1.Pengertian Penjualan Henry Simamora (2000:24),menyatakan bahwa : Penjualan adalah pendapatan lazim dalam perusahaan dan merupakan jumlah kotor yang dibebankan kepada pelanggan atas barang dan jasa. Chairul Marom (2002:28) menyatakan bahwa : Penjualan artinya penjualan barang dagangan sebagai usaha pokok perusahaan yang biasanya dilakukan secara teratur. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penjualan adalah penjualan barang dagangan yang dapat menghasilkan pendapatan lazim bagi perusahaan dimana ini adalah jumlah kotor yang dibebankan kepada pelanggan . 2.1.2.2.Pengertian Pertumbuhan Penjualan
16

Menurut Meyulinda dan Yusfarita (2010) tingkat pertumbuhan penjualan yaitu tingkat perubahan penjualan dari tahun ke tahun. Semakin tinggi pertumbuhannya suatu perusahaan akan lebih banyak mengandalkan modal eksternal. Menurut Amstrong (2005: 327) pertumbuhan penjualan dapat diartikan sebagai perubahan penjualan per tahun. Pertumbuhan penjualan suatu produk sangat tergantung dari daur hidup produk. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan tingkat pertumbuhan penjualan merupakan perubahan atau pertumbuhan penjualan per tahun. Adapun rumus tingkat pertumbuhan penjualan adalah sebagai berikut:

(Weston dan Copeland 2008:240)

2.1.3

Struktur Modal

2.1.3.1.Pengertian Modal Menurut S. Munawir (2004:19) menyatakan bahwa : Modal adalah merupakan hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditujukan dalam pos modal (modal saham), surplus laba yang ditahan. Menurut Prof Bakker dalam Bambang Riyanto (2008:18) menyatakan bahwa: modal adalah baik yang berupa barang-barang konkret yang ada dalam rumah tangga perusahaan yag terdapat di neraca sebelah debet, maupun

17

berupa daya beli atau nilai tukar dari barang-barang itu yang tercatat di sebelah kredit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa modal adalah hak atau bagian yang dimiliki perusahaan baik berupa barang-barang konkret maupun berupa daya beli atau nilai tukar dari barang-barang yang tercatat.

2.1.3.2.Jenis-Jenis Modal 1. Modal Asing Menurut Bambang Riyanto (2008:227) menyatakan bahwa : Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang bersifat sementara bekerja di dalam perusahaan, dan bagi perusahaan yang bersangkutan modal tersebut merupakan utang, yang pada saatnya harus dibayar kembali. Menurut Bambang Riyanto (2008:227), modal asing dapat digolongkan dalam 3 golongan, yaitu : a. Modal Asing/Utang Jangka Pendek Modal asing/utang jangka pendek adalah modal asing yang jangka waktunya paling lama satu tahun. b. Modal Asing/Utang Jangka Menengah Modal asing/utang jangka menengah adalah utang yang jangka waktu atau umunya adalah lebih dari satu tahun dan kurang dari 10 tahun. c. Modal Asing/Utang Jangka Panjang Modal asing/utang jangka panjang adalah utang yang jangka waktunya adalah panjang, umumnya lebih dari 10 tahun.
18

2. Modal Sendiri Menurut Bambang Riyanto (2008:240) menyatakan bahwa : Modal sendiri pada dasarnya adalah modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan yang tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak tertentu lamanya. Modal yang berasal dari pemilik perusahaan adalah berbagai macam bentuknya menurut bentuk hukum dari masing-masing perusahaan yang bersangkutan. Modal sendiri didalam suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT.), terdiri dari : a. Modal saham Saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu PT. bagi perusahaan yang bersangkutan, yang diterima dari hasil penjualan sahamnya akan tetap tertanam di dalam perusahaan tersebut selama hidupnya, meskipun bagi pemegang saham sendiri itu bukanlah merupakan penanaman yang permanen, karena setiap waktu pemegang saham dapat menjual sahamnya. Adapun jenis-jenis dari saham, adalah : b. Saham Biasa (Commond Stock) Saham Preferen (Preferred Stock) Saham Kumulatif Preferen (Cummulative Preferred Stock)

Cadangan

19

Cadangan dimaksudkan sebagai cadangan yag dibentuk dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan selama beberapa waktu yang lampau atau dari tahun yang berjalan (reserve that are surplus). c. Keuntungan Keuntungan yang diperoleh oleh suatu perusahaandapat sebagian dibayarkan sebagai dividen dan sebagian ditaham oleh perusahaan. Apabila penahanan keuntungan tersebut sudah dengan tujuan tertentu, maka dibentuklah cadangan sebagaimana diuraikan di atas. Apabila perusahaan belum mempunyai tujuan tertentu mengenai penggunaan keuntungan tersebut merupakan keuntungan yang ditahan (retained earning).

2.1.3.3.Pengertian Struktur Modal Agus Sartono (2001:225) menyatakan bahwa: Struktur modal merupakan perimbangan jumlah utang jangka pendek permanen, utang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa. Bambang Riyanto (2008:22) menyatakan bahwa: Struktur modal adalah pembelanjaan permanen dimana mencerminkan perimbangan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Struktur modal menunjukkan proporsi atas penggunaan hutang untuk membiayai investasinya, sehingga dengan mengetahui struktur modal investor dapat mengetahui keseimbangan antara risiko dan tingkat pengembalian investasinya.
20

Sehingga dapat disimpulkan bahwa struktur modal merupakan perimbangan permanen antara utang jangka pendek, utang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa dengan modal sendiri. Struktur modal dapat di ukur dengan menggunakan Debt to equity ratio (rasio utang atas modal). Rasio ini sering disebut dengan istilah rasio leverage, menggambarkan struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, dengan demikian dapat dilihat struktur risiko tidak tertagihnya hutang.

Agus Sartono (2001:121)

2.1.3.4.Struktur Modal yang Optimum Apabila suatu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dananya mengutamakan pemenuhan dengan sumber dari dalam perusahaan akan sangat mengurangi ketergantungannya kepada pihak luar. Apabila kebutuhan dana sudah demikian meningkatnya karena pertumbuhan perusahaan dan dana dari sumbet intern sudah digunakan semua, maka tidak ada pilihan lain selain menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan, baik dari utang (debt financing) maupun dengan mengeluarkan saham batu (external equity financing) dalam memenuhi kebutuhan akan dananya. Kalau dalam pemenuhan kebutuhan dana dari sumber ekstern tersebut kita lebih mengutamakan pada utang saja maka ketergantungan kita pada pihak luar akan makin
21

besar dan risiko finasialnya pun makin besar. Sebaliknya kalau kita hanya akan mendasarkan pada saham saja, biayanya akan sangat mahal. Bambang Riyanto (2000:294) menyatakan bahwa : Apabila kita mendasarkan pada konsep Cost of Capital maka kita akan mengusahakan dimilikinya struktur modal yang optimum dalam artian struktur modal yang dapat meminimumkan biaya penggunaan modal rata-rata (average cost of capital). 2.1.3.5.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Menurut Weston dan Brigham, ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal, yaitu : 1. Stabilitas penjualan
2. Struktur aktiva

3. Leverage operasi 4. Tingkat pertumbuhan 5. Profitabilitas 6. Pajak 7. Pengendalian 8. Sikap manajemen 9. Sikap pemberi pinjaman dan perusahaan penilai kredibilitas (rating agency) 10. Kondisi pasar 11. Kondisi internal perusahaan
12. Fleksibilitas keuangan

Penjelasan dari faktor-faktor di atas, yaitu sebagai berikut :


22

1. Stabilitas penjualan Perusahaan dengan penjualan yang relative stabil mungkin akan lebih gampang memperoleh pinjaman yang mengakibatkan biaya tagihan tetapnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahan yang penjualannya tidak stabil. 2. Struktur aktiva Apabila aktiva perusahaan cocok untuk dijadikan agunan kredit, perusahaan tersebut cenderung menggunakan banyak utang. 3. Leverage operasi Perusahaan dengan leverage operasi yang kecil lebih mampu untuk memperbesar leverage keuangan. 4. Tingkat pertumbuhan Perusahaan yang bertumbuh dengan pesat terpaksa lebih banyak bergantung pada modal eksternal. 5. Profitabilitas Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi menggunakan utang yang relative kecil. 6. Pajak Bunga adalah bebeabn yang dapat dikurangkan untuk tujuan perpajakan dan pengurangan tersebut sangat bernilai bagi perusahaan yang terkena tariff pajak yang tinggi. 7. Pengendalian

23

Pengaruh akibat penerbitan surat-surat utang versus saham terhadap posisi pengendalian manajemen bisa memepengaruhi struktur modal. 8. Sikap manajemen Dengan tidak adanya bukti bahwastruktur modal yang satu akan memebuat harga saham lebih tinggi daripada struktur modal lainnya, manajemen dapat menilai sendiri struktur modal yang dianggap tepat. 9. Sikap pemberi pinjaman dan perusahaan penilai kredibilitas (rating agency) Kendatipun manajer mempunyai analisis tersendiri mengenai leverage yang tepat bagi perusahaannya namun acap kali sikap pemberi pinjaman dan perusahaan penilai kredibilitas sangat berpengruh terhadap keputusan struktur keuangan. 10. Kondisi pasar Kondisi di pasar saham dan obligasi mengalami perubahan jangka panjang dan pendek yang bisa mempunyai pengaruh penting terhadap struktur modal perusahaan yang optimal. 11. Kondisi internal perusahaan Kondisi internal perusahaan juga berpengaruh terhadap struktur modal yang ditargetkan.
12. Fleksibilitas keuangan

2.1.4

Keterkaitan Antar Variabel Penelitian

2.1.4.1 Hubungan Profitabilitas terhadap Struktur Modal


24

Profitabilitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi struktur modal perusahaan (Hanafi, 2004:374, Bram dan Christian, 2010). Sesuai dengan pecking order theory (Indra dan Faris, 2008), perusahaan dengan profit yang tinggi cenderung mendanai investasinya dengan laba ditahan daripada pendanaan hutang. Semakin tinggi profit suatu perusahaan maka akan semakin menurun hutangnya karena semakin banyak dana internal yang tersedia untuk mendanai investasinya. Menurut pecking order theory (Sienloy dan Bram, 2008), perusahaan dengan tingkat keuntungan yang besar memiliki sumber pendanaan internal yang lebih besar dan memiliki kebutuhan untuk melakukan pembiayaan investasi melalui pendanaan eksternal yang lebih kecil. Dari pernyataan di atas dapat di simpulkan bahwa perusahaan yang memepunyai profit yang lebih besar akan cenderung menggunakan sumber dana intern daripada menggunakan hutang sehingga dapat menurunkan hutang dan akan berakibat pada menurunnya pula struktur modal.

2.1.4.2 Hubungan Tingkat Pertumbuhan Penjualan terhadap Struktur Modal Brigham dan Houston (2001 dalam Saidi, 2004 dalam Meyulinda dan Yusfarita, 2010) mengatakan bahwa perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil. Penelitian empiris yang telah dilakukan antara lain oleh Krishnan, Badhuri, Mohd, dan Majumdar (2002 Saidi, 2004 dalam Meyulinda dan Yusfarita, 2010) menunjukkan
25

bahwa pertumbuhan penjualan (sales growth) merupakan salah satu variabel yang berpengaruh terhadap struktur modal perusahaan.

2.1.4.3 Hubungan Profitabilitas dan Pertumbuhan Penjualan terhadap Struktur Modal Faktor lain yang menentukkan besarnya keuntungan dan dengan demikian menentukkan jumlah hutang yang bisa dipinjam adalah stabilitas penjualan, yang pada akhirnya mempengaruhi kestabilan keuntungan. Semakin stabil keuntungan, berarti semakin sempit penyeberannya. Semakin stabil keuntungannya, semakin besar kemungkinan perusahaan mampu memenuhi kewajiban tepatnya. Jadi untuk perusahaan semacam ini bisa membelanjai kegiatannya dengan proporsi hutang yang lebih besar. Salah satu faktor yang mempengaruhi struktur modal adalah profitabilitas. Menurut pecking order theory (Indra dan Faris, 2008), perusahaan dengan profit yang tinggi cenderung mendanai investasinya dengan laba ditahan daripada pendanaan hutang. Semakin tinggi profit suatu perusahaan maka akan semakin menurun hutangnya karena semakin banyak dana internal yang tersedia untuk mendanai investasinya. Sehingga, perusahaan mempunyai hutang yang lebih sedikit dan mengakibatkan menurunnya struktur modal. Selain profitabilitas yang mempengaruhi struktur modal adalah pertumbuhan penjualan. Menurut Brigham dan Houston (2001 dalam Saidi, 2004 dalam Meyulinda dan Yusfarita, 2010) mengatakan bahwa perusahaan dengan penjualan yang relatif
26

stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan menanggung beban yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil. Sehingga, perusahaan yang mempunyai penjualan relatif stabil akan mendapatan kemudahan dapat mendapatkan pinjaman dan mengakibatkan naiknya struktur modal. Berdasarkan dari hasil penelitian terdahulu dan teori-teori yang ada dapat disimpulkan bahwa Perusahaan yang memiliki profit dan penjualan yang relatif stabil dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman atau utang dan menanggung beban yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil, dimana pinjaman itu akan sangat berpengaruh pada struktur modal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap struktur modal.

2.2

Kerangka Pemikiran Menurut Agus Sartono (2001:122), profitabilitas adalah kemampuan

perusahaan memperoleh laba dalam hubungannnya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Lukman Syamsuddin (2002), ada beberapa pengukuran terhadap profitabilitas perusahaan dimana masing-masing pengukuran dihubungkan dengan volume penjualan, total aktiva, dan modal sendiri. Secara keseluruhan ketiga pengukuran ini akan memungkinkan seorang penganalisa untuk mengevaluasi tingkat earning dalam hubungannya dengan volume penjualan, jumlah aktiva dan investasi tertentu dari pemilik perusahaan. Di sini perhatian ditekankan pada profitabilitas, karena untuk
27

dapat melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan haruslah berada dalam keadaan menguntungkan/profitabilitas. Tanpa adanya keuntungan akan sangat sulit bagi perusahaan untuk menarik modal dari luar. Para kreditur , pemilik perusahaan dan terutama sekali pihak manajemen perusahaan akan berusaha meningkatkan keuntungan ini, karena disadari betul betapa petingnya arti keuntungan bagi masa depan perusahaan. Profitabilitas sering digunakan sebagai pengukur kinerja manajemen

perusahaan. Selain itu, profitabilitas juga digunakan sebagai efisiensi penggunaan modal. Profitabilitas merupakan salah satu indicator keberhasilan perusahaan untuk menghasilkan laba sehingga semakin tinggi profitabilitas, maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bagi perusahaan. Menurut Amstrong (2005: 327) pertumbuhan penjualan dapat diartikan sebagai perubahan penjualan per tahun. Pertumbuhan penjualan suatu produk sangat tergantung dari daur hidup produk. Menurut James C. Van Horne dan John M. Wachowicz, Jr. (1997:474), struktur modal adalah bauran (proporsi) pendanaan permanen jangka panjang perusahaan yang ditunjukkan oleh hutang, ekuitas saham preferen dan saham biasa. Ada beberapa variabel yang mempengaruhi struktur modal. Menurut Weston dan Brigham mengungkapkan bahwa variabel yang mempengaruhi struktur modal adalah stabilitas penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, sikap pemberi pinjaman dan
28

perusahaan penilai kredibilitas, kondisi pasar, kondisi internal perusahaan, dan fleksibilitas keuangan. Brigham dan Houston (2001:40) menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi mengggunakan hutang yang relatif kecil. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan untuk membiayai sebagian besar kebutuhan pendanaan dengan dana yang dihasilkan secara internal. Apabila suatu perusahaan dengan tingkat keuntungan yang tinggi maka akan menggunakan utang yang relatif kecil, karena tingkat keuntungan yang tinggi memungkinkan suatu perusahaan untuk menggunakan sumber pendanaan dari sumber intern perusahaan yaitu laba ditahan . sebaliknya, apabila suatu perusahaan dengan tingkat pengembalian yang kecil maka akan lebih banyak menggunakan modal asing dalam memenuhi kebutuhan dananya. Sehingga dari pernyataan di atas bahwa tingkat profitabilitas akan berpengaruh terhadap struktur modal. Semakin tinggi profitabilitas perusahaan, maka penggunaan utangnya akan semakin rendah sebagai sumber pendanaannya, dan ini membuat struktur modal pun menurun. Brigham dan Weston (2008:174) menyatakan bahwa perusahaan yang relatif stabil mungkin akan lebih gampang memperoleh pinjaman yang mengakibatkan biaya tagihan tetapnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil. Perusahaan umum, karena permintaan atas produk atau jasanya stabil,

29

selama ini dapa menggunakan leverage keuangan yang lebih tinggi daripada perusahaan biasa. Dari uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualn berpengaruh terhadap struktur modal.

Tabel 2.1 Jurnal Peneliti Sebelumnya No Nama Pengarang 1. M. Sienly Veronica Wijaya dan Bram Hadianto Judul Pengaruh Struktur Aktiva, Ukuran, Likuiditas dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal Emiten Sektor Ritel di bursa Efek Indonesia : Sebuah Pengujian Hipotesis Pecking Order Indra Widjaja Pengaruh dan Faris Kepemilikan Kasenda Institusional, Aktiva Berwujud, Ukuran Perusahaan dan Profitabilitas terhadap struktur Modal Pada Perusahaan Dalam Industri Barang
30

Hasil Profitabilitas berpengaruh positif terhadap struktur modal

Sumber Jurnal Ilmiah Akuntansi Vol. 7 No. 1 Mei 2008 : 71-84

2.

Profitabilitas juga signifikan berhubungan dengan struktur modal yang diproksikan dengan Total Debt to Asset Ratio (TDAR) dan memiliki koefisien negative sesuai

Jurnal manajemen/Tahun XII, No. 02, Juni 2008: 139-150

3.

Konsumsi di BEI Bram Hadianto Pengaruh Risiko dan Christian Sistematik, Tayana Struktur Aktiva, Profitabilitas, dan Jenis Perusahaan Terhadap Struktur Modal Emiten Sektor Pertambangan : Pengujian Hipotesis StaticTrade Off Hasa Nurrohim Pengaruh KP Profitabilitas, Fixed Asset Ratio, Kontrol Kepemilikan, dan Struktur Aktiva Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia

teori Risiko sistematik, Jurnal Akuntansi profitabilitas, dan Vol. 2 No. 1 Mei jenis perusahaan 2010: 15 39 yang diproksi dengan variabel boneka berpengaruh terhadap struktur modal,

Meyulinda Pengaruh Strukur Aviana Elim dan Aktiva, Tingkat Yusfarita Pertumbuhan Penjualan dan Return On Assets Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta

Secara parsial/individu hanya profitabilitas dan kontrol kepemilikan yang berpengaruh secara signifikan sedangkan variabel yang lain yaiti fixed asset ratio dan struktur aktiva tidak berpengaruh signifikan terhadap struktur modal Tingkat pertumbuhan penjualan terbukti mempengaruhi struktur modal pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Jakarta

SINERGI Vol. 10 No. 1, Januari 2008 Hal. 11-18 ISSN 1410-9018

EFEKTIF Jurnal Bisnis dan Ekonomi Vol. I, No.1, 1 Juni 2010, 88-103

31

Perusahaan food and beverages Profitabilitas Penjualan

Laba Tinggi

Pertumbuhan Penjualan stabil

Laba Ditahan

Pinjaman dari Kreditor Struktur Modal

Profitabilitas dan Tingkat Pertumbuhan Penjualan Berpengaruh terhadap Struktur Modal Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

32

2.3 Hipotesis Hipotesis menurut Sugiyono (2001:39) adalah sebagai berikut: Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut: Profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap struktur modal.

33

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1.

Objek Penelitian Hal yang penting yang harus diperhatikan adalah objek penelitian, karena objek

penelitian merupakan sumber informasi dalam suatu penelitian. Objek penelitian merupakan sasaran untuk mendapakan suatu data sesuai dengan pengertian objek penelitian menurut Husein Umar (2005:303) dalam Umi Narimawati (2010:29) menerangkan bahwa : Objek penelitian menjelaskan tentang apa dan atau siapa yang menjadi objek penelitian. juga dimana dan kapan penelitian dilakukan. Bisa juga ditambahkan hal-hal lain jika dianggap perlu. Objek penelitian yang diteliti adalah profitabilitas, tingkat pertumbuhan penjualan dan struktur modal. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di BEI.

3.2.

Metode Penelitian Pengertian metode penelitian menurut sugiyono (2004:21) menyatakan bahwa: Metode penelitian adalah suatu metode yang digunakan untuk mengambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk memberikan kesimpulan yang kuat.
34

Metode penelitian merupakan cara penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data untuk mencapai tujuan tertentu (Umi Narimawati, 2010:29). Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif verifikatif. Menurut Sugiyono (2005:21): Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Tujuan metode deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Metode verifikatif menurut Mashuri (2008:45) menyatakan bahwa: Metode verifikatif yaitu memeriksa benar tidaknya apabila dijelaskan untuk menguji suatu cara dengan atau tanpa perbaikan yang telah dilaksanakan di tempat lain dengan mengatasi masalah yang serupa dengan kehidupan. Dalam penelitian ini, metode deskriptif verifikatif tersebut digunakan untuk menguji lebih dalam pengaruh dari Profitabilitas, dan Tingkat pertumbuhan Penjualan terhadap Struktur Modal serta menguji teori dengan pengujian suatu hipotesis apakah diterima atau ditolak. 3.2.1. Desain Penelitian Untuk melakukan suatu penelitian harus dilakukan suatu perencanaan dan perancangan penelitian, sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik dan lancar.

35

Desain Penelitian menurut Burhan Bungin (2009:87) adalah rancangan, pedoman, ataupun acuan penelitian yang akan dilaksanakan. Oleh karenanya, desain penelitian harus memuat segala sesuatu yang berkepentingan dengan pelaksanaan penelitian nanti dan arena sifat desain kuantitatif ini mendekati komprehensif dari keseluruhan proses penelitian, maka ada beberapa pakar penelitian mengatakan, apabila peneliti telah menyiapkan dengan desain penelitian kuantitatif, bearti separuh lebih dari proses penelitiannya telah selesai pula. Langkah-langkah desain penelitian menurut Umi Narimawati (2010:30) adalah : 1. Menetapkan permasalahan sebagai indikasi dari fenomena penelitian, selanjutnya menetapkan judul penelitian. Ada pendapat yang menyatakan bahwa apabila profit tinggi maka struktur modal akan turun atau sebaliknya, tetapi pada kenyataannya atau data yang ada tidak selalu begitu. Selain itu ada penelitian orang yang menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan penjualan berpengaruh positf terhadap struktur modal tetapi pada kenyataannya juga tidak selalu begitu. Maka judul dari penelitian ini adalah pengaruh profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualana terhadap struktur modal. 2. Mengidentifikasi permasalahan yang terjadi. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi struktur modal. Dalam penelitian ini yang diambil adalah profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan. 3. Menetapkan rumusan masalah.
36

Dalam penelitian ini rumusan masalahnya yaitu seberapa besar pengaruh profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal pada perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 4. Menetapkan tujuan penelitian. Tujuan penelitian dalam penelitian ini yaitu ingin menganalisis seberapa besar pengaruh profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal pada perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 5. Menetapkan hipotesis penelitian, berdasarkan fenomena dan dukungan teori. Hipotesis dalam penelitian ini adalah profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap struktur modal. 6. Menetapkan konsep variabel sekaligus pengukuran variabel penelitian yang digunakan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan, sedangkan yang menjadi variabel terikatnya adalah struktur modal. 7. Menetapkan sumber data, teknik penentuan sampel dan teknik pengumpulan data. Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu berupa laporan keuangan yaitu neraca dan laba rugi, teknik penentuan sampelnya terdiri dari populasi dan sampel. Populasi yang di ambil adalah laporan keuangan

perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
37

selama kurun waktu 5 tahun yaitu dari tahun 2006-2010 dan sampelnya Neraca dan Laporan Laba Rugi PT. Aqua Golden Mississippi Tbk. (AQUA), PT. Akasha Wira International Tbk. (ADES), PT. Delta Djakarta Tbk. (DLTA), PT. Prasidha Aneka Niaga Tbk. (PSDN), PT. Sekar Laut Tbk. (SKLT), PT. Ultra Jaya Milk Tbk. (ULTJ) dari tahun 2006 - 2010 atau selama 5 tahun. 8. Melakukan analisis data. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis kualitatif (metode deskriptif) dan analisis kuantitatif (metode verifikatif).
9. Melakukan pelaporan hasil penelitian.

3.2.2. Operasionalisasi Variabel Umi Narimawati (2007:61) menyatakan bahwa operasionalisasi variabel adalah proses penguraian variabel penelitian kedalam sub variabel, dimensi, indikator sub variabel dan pengukuran. Adapun syarat penguraian operasionalisasi dilakukan bila dasar konsep dan indikator masing-masing variabel sudah jelas, apabila belum jelas secara konseptual maka perlu dilakukan analisis faktor. Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menetukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistic dapat dilakukan secara benar sesuai dengan judul penelitian mengenai pengaruh profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur

38

modal pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa efek Indonesia (BEI) , maka variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini adalah:
1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel independen adalah variabel yang tidak terikat oleh faktor-faktor lain, tetapi mempunyai peranan terhadap variabel lain. Terdapat dua variabel independent yang diteliti dalam penelitian ini yang pertama (X1) adalah Profitabilitas dan kedua (X2) adalah Tingkat Pertumbuhan Penjualan. Berikut adalah penjelasan mengenai masing-masing variabel bebas : a. Profitabilitas Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannnya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri ( Agus Sartono, 2001:122). Dalam penelitian ini profitabilitas diukur dengan Return On Assets . Menurut Sutrisno (2007:253) Return On Assets sering disebut juga sebagai rentabilitas ekonomi merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimilki oleh perusahaan.
b. Tingkat Pertumbuhan Penjualan

Tingkat pertumbuhan penjualan yaitu tingkat perubahan penjualan dari tahun ke tahun. (Meyulinda dan Yusfarita, 2010)
2. Variabel Terkait/Dependent (Y)

39

Variabel terikat/dependent adalah variabel yang dipengaruhi variabel lain dan kadang-kadang dapat mempengaruhi variabel lain. Variabel dependent atau variabel terikat (Y) pada penelitian ini adalah Struktur Modal. Menurut Agus Sartono (2001:225), struktur modal merupakan perimbangan jumlah utang jangka pendek permanen, utang jangka panjang, saham preferen dan saham biasa. Berdasarkan uraian di atas, operasionalisasi variabel dapat dilihat pada tabel 3.1 dibawah ini, sebagai berikut:

Variabel Profitabilitas (X1)

Tingkat Pertumbuhan Penjualan (X2)

Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel Konsep variabel Indikator Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam ( Agus Sartono, 2001:122) hubungannnya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri ( Agus Sartono, 2001:122). Tingkat pertumbuhan penjualan yaitu tingkat perubahan penjualan dari tahun ke tahun. (Meyulinda dan (Meyulinda dan Yusfarita, 2010) Yusfarita, 2010)
40

Skala

Rasio

Rasio

Struktur Modal (Y)

Struktur modal merupakan perimbangan jumlah utang jangka pendek permanen, utang Agus Sartono (2001:121) jangka panjang, saham preferen dan saham biasa. Agus Sartono (2001:225)

Rasio

3.2.3

Sumber dan Teknik Penetuan Data Dalam penelitian ini terdapat sumber data dan teknik penentuan data, berikut ini adalah penjelasannya. 3.2.3.1 Sumber Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. 1. Data primer menurut Jonathan Sarwono (2006:209) adalah data berupa teks hasil wawancara dengan informan yang sedang dijadikan sampel dalam penelitian. Data dapat direkam atau dicatat oleh peneliti. 2. Data sekunder menurut Jonathan Sarwono (2006:209) adalah data berupa datadata yang sudah tersedia dan dapat diperoleh oleh peneliti dengan cara membaca, melihat atau mendengarkan. Data ini biasanya berasal dari data primer yang sudah diolah oleh peneliti sebelumnya.

41

Data-data yang digunakan adalah data yang berhubungan dengan Profitabilitas dan Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Struktur Modal pada perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini yaitu laporan keuangan perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diperoleh dari www.idx.co.id periode tahun 2006-2010.

3.2.3.2 Teknik Penentuan Data Adapun teknik penentuan data terbagi menjadi dua bagian, yaitu populasi dan sampel. Pengertian dari populasi dan sampel itu sendiri adalah sebagai berikut: 1. Populasi Tahap pertama yang dilakukan peneliti dalam pemilihan sampel adalah mengetahui populasinya. Pengertian populasi menurut Sugiyono (2009:80) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Berdasarkan pengertian populasi diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa populasi merupakan objek atau subjek yang mempunyai karakteristik untuk diteliti dan diambil kesimpulannya, maka populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama kurun waktu 5 tahun yaitu dari tahun 2006-2010. Tabel 3.2
42

Daftar Populasi Perusahaan-Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di BEI No. Nama Perusahaan Tahun 1 Aqua Golden Mississippi Tbk 2006-2010 (AQUA) 2 Akasha Wira International Tbk 2006-2010 (ADES) 3 Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk 2006-2010 (AISA) 4 Cahaya Kalbar Tbk (CEKA) 2006-2010 5 Davomas Abadi Tbk (DAVO) 2006-2010 6 Delta Djakarta Tbk (DLTA) 2006-2010 7 Indofood Sukses Makmur Tbk 2006-2010 (INDF) 8 Multi Bintang Indonesia Tbk 2006-2010 (MLBI) 9 Mayora Indah Tbk (MYOR) 2006-2010 10 Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) 2006-2010 11 Sekar Bumi Tbk (SKBM) 2006-2010 12 Sekar Laut Tbk (SKLT) 2006-2010 13 Siantar Top Tbk (STTP) 2006-2010 14 Ultra Jaya Milk Tbk (ULTJ) 2006-2010

2. Sampel Dalam suatu penelitian biasanya peneliti mengambil beberapa contoh dari beberapa populasi untuk dijadikan sampel. Pengertian sampel menurut Sugiyono (2009:81) adalah : Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

43

Sampel dipilih secara purposive sampling yang menurut Nur Indriantoro (2002:131), yaitu : Tipe pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu Dengan demikian sampel yang diambil oleh penulis adalah laporan keuangan tahunan berupa Neraca dan Laporan Laba Rugi dari perusahaan-perusahaan yang terdapat pada tabel di bawah ini. Tabel 3.3 Daftar Sampel Perusahaan-Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di BEI No. Nama Perusahaan Tahun 1 Aqua Golden Mississippi Tbk 2006-2010 (AQUA) 2 Akasha Wira International Tbk 2006-2010 (ADES) 3 Delta Djakarta Tbk (DLTA) 2006-2010 4 Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) 2006-2010 5 Sekar Laut Tbk (SKLT) 2006-2010 6 Ultra Jaya Milk Tbk (ULTJ) 2006-2010 Diantara perusahaan-perusahaan food and beverages, keenam perusahaan di atas yang mempunyai fenomena yang sama dalam kurun waktu yang sama. Adapun kriteria yang ditetapkan adalah sebagai berikut:
1. Data yang diambil terdaftar pada Bursa Efek selama tahun 2006-2010. 2. Data yang diambil berupa laporan keuangan tahunan 6 tahun berturut-turut

selama tahun 2006-2010 dan sudah diaudit.

44

3. Data yang diambil adalah enam tahun dari tahun 2006-2010 yang dijadikan

sampel karena pada rentang periode ini terdapat fenomena yang menyebabkan adanya penelitian.
4. Sampel yang diambil sebanyak lima tahun dari periode 2006-2010 karena

sudah dianggap respresentatif (mewakili) untuk dilakukan uji penelitian.

3.2.4 Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang menunjang dalam penelitian ini, penulis melakukan pengumpulan data dengan cara sebagai berikut :
1. Metode Dokumentasi

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, yaitu pengumpulan data dilakukan dengan cara mempelajari catatan-catatan atau dokumen-dokumen perusahaan sesuai dengan data yang diperlukan. Untuk penelitian ini, pengumpulan data diperoleh dari laporan keuangan perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 20062010. 2. Penelitian Kepustakaan (Library Research) Penelitian Kepustakaan (Library Research) untuk memperoleh data sekunder yaitu dengan mempelajari berbagai literatur, buku-buku penunjang, referensi, peraturan-peraturan dan sumber lain yang berhubungan dengan objek penelitian yang akan dibahas guna mendapatkan landasan teori dan sebagai dasar

45

melakukan penelitian diantaranya profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan serta struktur modal.

1.2.5 Rancangan Analisis dan Pengujian Hipotesis 3.2.5.1 Rancangan Analisis Menurut Umi Narimawati (2010:410) Rancangan analisis adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang telah diperoleh dari hasil observasi lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang lebih penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Peneliti melakukan analisa terhadap data yang telah diperoleh dengan menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif.

1. Analisis Kualitatif Menurut Sugiyono (2009:14) analisis kualitatif adalah sebagai berikut : Metode penelitian kualitatif itu dilakukan secara intensif, peneliti ikut berpartisipasi lama dilapangan, mencatat secara hati-hati apa yang terjadi, melakukan analisis reflektif terhadap berbagai dokumen yang ditemukan dilapangan, dan membuat laporan penelitian secara mendetail. 2. Analisis Kuantitatif Menurut Sugiyono (2009:31) analisis kuantitatif adalah sebagai berikut :

46

Dalam penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik. Statistik yang digunakan dapat berupa statistik deskriptif dan inferensial/induktif. Statistik inferensial dapat berupa statistik parametris dan statistik nonparametris. Peneliti menggunakan statistik inferensial bila penelitian dilakukan pada sampel yang dilakukan secara random. Data hasil analisis selanjutnya disajikan dan diberikan pembahasan. Penyajian data dapat berupa tabel, tabel ditribusi frekuensi, grafik garis, grafik batang, piechart (diagram lingkaran), dan pictogram. Pembahasan hasil penelitian merupakan penjelasan yang mendalam dan interpretasi terhadap data-data yang telah disajikan. Adapun langkah-langkah analisis kuantitatif yang diuraikan diatas adalah:

3.2.5.1.1

Pengujian Asumsi Klasik Penggunaan model regresi berganda dalam menguji hipotesis haruslah

menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan asumsi klasik. Dalam penelitian ini asumsi klasik yang dianggap penting adalah tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen, tidak terjadi heteroskedastisitas atau varian variabel pengganggu yang konstan (homoskedastisitas) dan tidak terjadi autokorelasi antar residual setiap variabel independen. Pengujian asumsi klasik yang digunakan meliputi :

1.

Uji Asumsi Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi mempunyai

distribusi normal ataukah tidak. Asumsi normalitas merupakan persyaratan yang sangat penting pada pengujian kebermaknaan (signifikansi) koefisien regresi. Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal, sehingga layak dilakukan pengujian secara statistik.

47

Dasar pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasarkan probabilitas (Asymtotic Significance), yaitu: Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari populasi adalah normal. Jika probabilitas < 0,05 maka populasi tidak berdistribusi secara normal Pengujian secara visual dapat juga dilakukan dengan metode gambar normal Probability Plots dalam program SPSS. Dasar pengambilan keputusan : Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas. Selain itu uji normalitas digunakan untuk mengetahui bahwa data yang diambil berasal dari populasi berdistribusi normal. Uji yang digunakan untuk menguji kenormalan adalah uji Kolmogorov-Smirnov. Berdasarkan sampel ini akan diuji hipotesis nol bahwa sampel tersebut berasal dari populasi berdistribusi normal melawan hipotesis tandingan bahwa populasi berdistribusi tidak normal.

2.

Uji Asumsi Multikolinearitas Uji Multikoliniearitas ini bertujuan menguji apakah pada model regresi

ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Pada model regresi yang baik seharusnya antar variabel independen tidak terjadi korelasi. Untuk mendeteksi ada

48

tidaknya multikoliniearitas dalam model regresi dapat dilihat dari tolerance value atau variance inflation factor (VIF).

Dimana Ri2 adalah koefisien determinasi yang diperoleh dengan meregresikan salah satu variabel bebas Xi terhadap variabel bebas lainnya. Jika nilai VIF nya kurang dari 10 maka dalam data tidak terdapat Multikolinieritas. 3. Uji Autokorelasi Autokorelasi yaitu adanya hubungan antara kesalahan-kesalahan yang muncul pada data runtun waktu (time series). Apabila terjadi gejala autokorelasi maka estimator least square masih tidak bias, tetapi menjadi tidak efisien. Dengan demikian, koefisien estimasi yang diperoleh menjadi tidak akurat (Ghozali dalam Mulyono, 2009). Untuk menguji ada tidaknya autokorelasi, dari data residual terlebih dahulu dihitung nilai statistik Durbin-Watson (D-W):

Kriteria uji: Bandingkan nilai D-W dengan nilai d dari tabel Durbin-Watson: Jika D-W < dL atau D-W > 4-dL, kesimpulannya pada data tersebut terdapat autokorelasi Jika dU < D-W < 4-dU, kesimpulannya pada data tidak terdapat autokorelasi Tidak ada kesimpulan jika dL D-W dU atau 4-dU D-W 4-dL 4. Uji Heteroskedastisitas
49

Situasi heteroskedastisitas akan menyebabkan penaksiran koefisien-koefisien regresi menjadi tidak efisien dan hasil taksiran dapat menjadi kurang atau melebihi dari yang semestinya. Dengan demikian, agar koefisien-koefisien regresi tidak

menyesatkan, maka situasi heteroskedastisitas tersebut harus dihilangkan dari model regresi. Untuk menguji ada tidaknya heteroskedastisitas digunakan Uji-Rank Spearman yaitu dengan mengkorelasikan masing-masing variabel bebas terhadap nilai absolut dari residual. Jika nilai koefisien korelasi dari masing-masing variabel bebas terhadap nilai absolut dari residual (error) ada yang signifikan, maka kesimpulannya terdapat heteroskedastisitas (varian dari residual tidak homogen) (Gujarati, dalam Chasanah).

3.2.5.1.2 Analisis Regressi Linier Berganda Analisis regresi linier berganda adalah teknik statistik melalui koefisien parameter untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen. Pengujian terhadap hipotesis baik secara parsial maupun simultan, dilakukan setelah model regresi yang digunakan bebas dari pelanggaran asumsi klasik. Tujuannya adalah agar hasil penelitian ini dapat diinterpretasikan secara tepat dan efisien. Interpretasi hasil penelitian, baik secara parsial melalui uji-t maupun secara simultan melalui uji F. Analisis regresi linier berganda dipilih karena untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen. Model analisis statistik ini dipilih karena penelitian ini dirancang untuk meneliti variabel-variabel bebas yang
50

berpengaruh terhadap variabel terikat dengan menggunakan data time series cross section (pooling data) yaitu dengan mengelompokkan data pertahun berdasarkan variabel variabel indepeden dan diharapkan tidak terdapat data yang outlayered (data tidak sama dengan nol), disebut dengan Pooled TCSS OLS yang dirumuskan dengan model sebagai berikut: Y = 0 + 1.X1 + 2.X2 + e Keterangan: Y X1 X2 0 1,2 e = Variabel terikat/dependen (DPR) = Profitabilitas (ROA) = Tingkat Pertumbuhan Penjualan = Konstanta = koefisien regresi = error

3.2.5.1.3 Koefisien Korelasi Menurut Sujana (dalam Umi Narimawati, 2010:49), pengujian korelasi digunakan untuk mengetahui kuat tidaknya hubungan antara variabel x dan y, dengan menggunakan pendekatan koefisien korelasi Pearson dengan rumus :

51

Dimana : - 1 r + 1 r x y n = koefisien korelasi = profitabilitas (ROA), tingkat pertumbuhan penjualan = struktur modal = jumlah responden

Ketentuan untuk melihat tingkat keeratan korelasi digunakan acuan pada tabel 3.4 di bawah ini :

Tabel 3.3 Tingkat Keeratan Korelasi Interval Koefisien 0,00 0,20 0,21 0,40 0,41 0,60 0,61 0,80 0,81 1 3.2.5.1.4 Tingkat Hubungan Sangat rendah (hampir tidak ada hubungan) Korelasi yang lemah Korelasi sedang Cukup tinggi Korelasi tinggi

Sumber : Syahri Alhusin (dalam Umi Narimawati, 2010:50)

Koefisien Determinasi Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar

pengaruh antara variabel bebas profitabilitas (ROA), dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap variabel terikat struktur modal, maka rumus yang digunakan dalam koefisien determinasi adalah :

52

Kd = Keterangan : Kd : Koefisien determinasi : Koefisien korelasi

X 100 %

3.2.5.2 Pengujian Hipotesis Dalam penelitian ini yang akan diuji adalah seberapa besar pengaruh profitabilitas (ROA) dan tingkat pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal. Dengan memperhatikan karakteristik variabel yang akan diuji, maka uji statistic yang akan digunakan adalah melalui perhitungan analisis regresi dan korelasi. Langkahlangkah dalam analisisnya sebagai berikut : 1. Pengujian Secara Simultan/Total Dalam penelitian ini pengujian secara simultan menggunakan Uji-F. Melakukan uji F untuk mengetahui pengaruh seluruh variabel bebas secara simultan terhadap variabel terikat a. Rumus uji F yang digunakan adalah sebagai berikut:

dimana: R2 = Koefisien Determinasi

53

k N

= =

Banyaknya koefisien regresi Banyaknya Observasi

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas secara bersama-sama dapat berperan atas variabel terikat. Pengujian ini dilakukan menggunakan distribusi F dengan membandingkan antara nilai F-kritis dengan nilai Ftest yang terdapat pada Tabel Analisis of Variance (ANOVA) dari hasil perhitungan dengan micro-soft. Jika nilai Fhitung > Fkritis, maka H0 yang menyatakan bahwa variasi perubahan nilai variabel bebas (Profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan) tidak dapat menjelaskan perubahan nilai variabel terikat (Struktur Modal) ditolak dan sebaliknya. Menurut Sudjana (dalam Umi Narimawati, 2010:51) perhitungan terhadap titik keeratan dan arah hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat adalah menggunakan uji korelasi. Kemudian dilakukan perhitungan terhadap koefisien yang disebut juga koefisien korelasi produk moment (Pearson). b. Hipotesis H0 ; = 0, Secara simultan profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh terhadap struktur modal. H1 ; 0, Secara simultan profitabilitas dan tingkat pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap struktur modal. c. Kriteria Pengujian

54

H0 ditolak apabila Fhitung > Ftabel ( = 0,05). Menurut Guilford (dalam Umi Narimawati, 2010:52), bahwa tafsiran koefisien korelasi variabel dalam penelitian dapat dikategorikan sebagai berikut :
a) Taksiran koefisien korelasi yang dikategorikan menurut Guilford adalah

sebagai berikut :

Tabel 3.4 Kategori Korelasi Metode Guilford Besarnya Pengaruh 0,00 0,20 0,21 0,40 0,41 0,60 0,61 0,80 0,81 1,00 Bentuk Hubungan Sangat longgar, dapat diabaikan Rendah Moderat / cukup Erat Sangat Erat

Apabila pada pengujian secara simultan H0 ditolak, artinya sekurang-kurangnya ada sebuah pyxi 0. Untuk mengetahui pyxi yang tidak sama dengan nol, maka dilakukan pengujian secara parsial.

2.

Pengujian Secara Parsial

55

Melakukan uji-t, untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat hipotesis sebagai berikut : a. Rumus uji t yang digunakan adalah :

Hasilnya bandingkan dengan tabel t untuk derajat bebas n-k-1 dengan taraf signifikansi 5%.

b.

Hipotesis H01 ; = 0, Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap struktur modal. H11 ; 0, Profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal. H02 ; = 0, tingkat pertumbuhan penjualan tidak berpengaruh terhadap struktur modal H12 ; 0, tingkat pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap struktur modal

c.

Kriteria Pengujian H0 ditolak apabila thitung < ttabel ( = 0,05). Kriteria penarikan pengujian : Jika menggunakan tingkat kekeliruan ( = 0,01) untuk diuji dua pihak, maka criteria penerimaan atau penolakan hipotesis yaitu sebagai berikut :

56

a) Jika thitung ttabel maka H0 ada didaerah penolakan, berarti Ha diterima artinya antara variabel bebas dan variabel terikat ada hubungannya. b) Jika thitung ttabel maka H0 ada didaerah penerimaan, berarti Ha ditolak artinya antara variabel bebas dan variabel terikat tidak ada hubungannya.

Gambar 3.1 Uji Daerah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis Sumber Sugiyono (dalam Umi Narimawati, 2010:54)

3.

Penarikan Kesimpulan Daerah yang diarsir merupakan daerah penolakan, dan berlaku sebaliknya. Jika

thitung dan Fhitung jatuh di daerah penolakan (penerimaan), maka Ho ditolak (diterima) dan

57

Ha diterima (ditolak). Artinya koefisian regresi signifikan (tidak signifikan). Kesimpulannya, Profitabilias dan Tingkat Pertumbuhan Penjualan berpengaruh atau tidak berpengaruh terhadap Struktur Modal yang diberikan. Tingkat signifikannya yaitu 5 % ( = 0,05), artinya jika hipotesis nol ditolak (diterima) dengan taraf kepercayaan 95 %, maka kemungkinan bahwa hasil dari penarikan kesimpulan mempunyai kebenaran 95 % dan hal ini menunjukan adanya (tidak adanya pengaruh yang meyakinkan (signifikan) antara dua variabel tersebut.

58

DAFTAR PUSTAKA
Agus Sartono. 2001. Manajemen Keuangan Teori & Aplikasi (4th ed). Yogyakarta. Bpfe. Bambang Riyanto. 2008. Dasar-dasar Pembelanjaan. Edisi 4. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta. Bram Hadianto & Christian Tayana. 2010. Pengaruh Risiko Sistematik, Struktur Aktiva, Profitabilitas dan Jenis Perusahaan Terhadap Struktur Modal Emiten Sektor Pertambangan : pengujian Hipotesis Static-Trade Off. Jurnal Akuntansi, Vol. 2 No. 1 Hal. 15-39. Burhan Bungin. 2009. Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi dan Kebijakan Publik Serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Chairul Marom. 2002. Grasindo. Sistem Akuntansi Perusahaan Dagang. Edisi 2. Jakarta.

Erich A Helfert. 2007. Teknik Analisis Keuangan. Jakarta. Erlangga Eugene F.Brigham dan Joel F.Houston. 2006. Fundamentals of Financial Management Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. buku 1 edisi 10. Jakarta. Salemba Empat Hasa Nurohim KP. 2008. Pengaruh Profitabilitas, Fixed Asset Ratio, Kontrol Kepemilikan dan struktur Aktiva terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Manufaktur di Indonesia. Sinergi, Vol. 10 No. 1 Januari Hal. 11-18. Henry Simamora. 2000. Akuntansi Basis Pengambilan Keputusan Bisnis. Jilid 1. Jakarta. Salemba Empat. Husein Umar. 2005. Metodologi Penelitian. Jakarta. Raja Grafindo. Indra Wijaya & Faris Kasenda. (2008). Pengaruh Kepemilikan Institusional, Aktiva Berwujud, Ukuran perusahaan dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal pada Perusahaan dalam Industri Barang Konsumsi di BEI. Jurnal Manajemen, No.02 Hal. 139-150. J. Fred Weston dan Eugene F. Brigham. 2008. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jilid 2 Edisi 9. Jakarta. Erlangga.

59

James C. Van Horne dan John M. Wachowicz, Jr. 1997. Prinsip-Prinsip Manajemen keuangan. buku dua. edisi indonesia. Jakarta. Salemba Empat. Jonathan Sarwono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta. Graha Ilmu Lukman Syamsuddin. 2007. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta. Raja Grafindo Persada. M. Sienly Veronica W & Bram Hadianto. (2010). Pengaruh Struktur Aktiva, Ukuran, Likuiditas dan Profitabilitas Terhadap Struktur Modal Emiten Sektor Ritel di Bursa efek Indonesia : sebuah pengujian Hipotesis Pecking Order . Jurnal Ilmiah Akuntansi, Vol. 7 No. 1 Hal. 71-84. Meyulinda Aviana E & Yusfarita. (2010). Pengaruh Struktur Modal, Tingkat Pertumbuhan Penjualan dan Return On Assets Terhadap Struktur Modalpada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta. EFEKTIF urnal Bisnis dan Ekonomi Vol. 1. No, 1 , Hal. 88-103. Munawir. S. 2004. Analisis Laporan Keuangan. Yogyakarta. Liberty. Sofyan Safri Harahap. 2008. Analisis Kritis Laporan Keuangan. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta. Bandung. Sutrisno. 2007. Manajemen Keuangan Teori, Konsep, Aplikasi. edisi pertama . Yogyakarta. Ekonisia. Umi Narimawati, Sri Dewi Anggadini, Linna Ismawati. 2010. Penulisan Karya Ilmiah, Panduan Awal Menyusun Skripsi dan Tugas Akhir Aplikasi Pada Fakultas Ekonomi UNIKOM. Bekasi. Genesis. Umi Narimawati. 2007. Riset Manajemen Sumber Daya Manusia Aplikasi dan Contoh Perhitungannya. Bandung. Restu Agung.

60