You are on page 1of 4

Slide 3 Kenapa luka pada ekstrimitas tidak dapat menggunakan anestesi topikal ?

Anestesi topikal EMLA - Eutectic campuran anestesi lokal, kombinasi obat untuk digunakan

pada kulit utuh. Kandungan anestesi topikal( EMLA, lidokain 2,5%, dan prilocaine 2,5%) dapat digunakan sebagai krim pada kulit utuh. Bila diterapkan selama sekitar 60 menit, EMLA numbs kulit dan menembus sejauh 5 mm di bawah permukaan
EMLA cream is a 1:1 mixture of 5% lidocaine and 5% prilocaine. One gram of EMLA contains 25 mg of lidocaine, 25 mg of prilocaine, an emulsifier, a thickener and distilled water. EMLA is a liquid at room temperature, containing up to 80% concentration of the uncharged base form of local anesthetic, which confers better dermal penetration. Anesthesia onset takes between 45 to 60 minutes. Its main use is in children. One or 2 grams of EMLA cream are applied per 10 cm2 of skin and covered with an occlusive dressing (maximum application area 2000 cm2 or 100 cm2 in children less than 10 kg).

Premedikasi apa saja yang diberikan ?


Tujuan premedikasi : pasien tenang, rasa takutnya berkurang -Mengurangi nyeri/sakit saat anestesi dan pembedahan -Mengurangi dosismidazolam 0.5 mg.kg-1 Slide 4 Apa yang dimaksud ansiolitik sedative, ada berapa macam kondis ansietas yang dimaksud ?
Minimal sedation (formerly anxiolysis): suatu kondisi yang disebabkan obat yang mana pasien masih memiliki respon secara normal pada perintah lisan, meskipun fungsi kongitif dan koordinasinya mulai terganggu. Fungsi pernafasan dan sistem kardiovaskuler tidak tepengaruh. Moderate sedation (formerly conscious sedation or sedation/analgesia): a drug-induced depression of

consciousness during which patients respond purposefully to verbal commands (eg, open your eyes, either alone or accompanied by light tactile stimulation, such as a light tap on the shoulder or face, not a sternal rub). For older patients, this level of sedation implies an interactive state; for younger patients, geappropriate behaviors (eg, crying) occur and are expected. Reflex withdrawal, although a normal response to a painful stimulus, is not considered as the only age-appropriate purposeful response (ie, it must be accompanied by another response, such as pushing away the painful stimulus, to confirm a higher cognitive function). With moderate sedation, no intervention is required to maintain a patent airway, and spontaneous ventilation is adequate. Cardiovascular function is usually maintained. However, in the case of procedures that may themselves cause airway obstruction (eg, dental or endoscopic), the practitioner must recognize an obstruction and assist the patient in opening the airway. If the patient is not making spontaneous efforts to open their airway to relieve the obstruction, then the patient should be considered to be deeply sedated. Deep sedation (deep sedation/analgesia): a drug-induced depression of consciousness during which patients cannot be easily aroused but respond purposefully (see discussion of reflex withdrawal above) after repeated verbal or painful stimulation (eg, purposefully pushing away the noxious stimuli). The ability to independently maintain ventilatory function may be impaired. Patients may require assistance in maintaining a patent airway, and spontaneous ventilation may be inadequate. Cardiovascular function is usually maintained. A state of deep sedation may be accompanied by partial or complete loss of protective airway reflexes. General anesthesia: a drug-induced loss of consciousness during which patients are not arousable, even by painful stimulation. The ability to independently maintain ventilatory function is often impaired. Patients often require assistance in maintaining a patent airway, and positive-pressure ventilation may be required because of depressed spontaneous ventilation or drug-induced depression of neuromuscular function. Cardiovascular function may be impaired. Anastetika umum dapat menekan SSP secara bertingkat dan berturut-turut menghentikan aktivitas bagiannya. Ada 4 taraf narkosa, yaitu : a. Analgesia : kesadaran berkurang, rasa nyeri hilang dan terjadi euforia (rasa nyaman) yang disertai impian yang mirip halusinasi. Eter dan nitrigenmonoksida memberikan analgesia baik pada taraf ini, sedangkan halotan dan tiopental baru pada taraf berikut.

b. Eksitasi : kesadaran hilang dan timbul kegelisahan. Kedua taraf ini juga disebut taraf induksi. c. Anastesia : pernafasan menjadi dangkal, cepat dan teratur, seperti pada keadaan tidur (pernafasan perut), gerakan mata dan refleks mata hilang, sedangkan otot menjadi lemas. d. Kelumpuhan sumsum tulang : kegiatan jantung dan pernafasan terhenti. Taraf ini sedapat mungkin dihindarkan

Slide 9 Dapat dijelaskan keadaan disosiasi yang unik pada pemberian ketamin ?

Ketamin adalah obat yang menghasilkan anestesi disosiasi, yang kemudian ditandai dengan disosiasi pada EEG diantara talamokortikal dan sistem limbik. Anestesi disosiasi menyerupai kondisi kataleptik dimana mata masih tetap terbuka dan ada nistagmus yang lambat. Pasien tidak dapat berkomunikasi, meskipun dia tampak sadar. Refleks-refleks masih dipertahankan seperti refleks kornea, refleks batuk dan refleks menelan, namun semua refleks ini tidak boleh dianggap sebagai suatu proteksi terhadap jalan nafas. Variasi tingkat hipertonus dan gerakan otot rangka tertentu sering kali terjadi dan tidak tergantung dari stimulasi bedah. Ketamin mempunyai efek sedatif dan analgetik yang kuat. Dosis induksi 1-2 mg/kgBB intravena, 3-5 mg/kgBB intramuskular. Pada dosis subanestesi ketamin menghasilkan efek analgetik yang memuaskan.

Berapa dosis ketamin yang dapat dianjurkan sebagai sedatif?

Ketamin dosis rendah disebut juga ketamin dosis analgesia ataupun dosis subanestesia yaitu 0,20,75 mg/kgBB IV.26 Literatur lain menyebutkan dosis analgesia dicapai pada 0,2 - 0,5 mg/kgBB IV.9

Pada dosis 0,25-0,5 mg/kgBB IV yang diberikan setelah midazolam 0,07-0,15 mg/kgBB IV dikatakan ketamin memberikan efek sedasi yang memuaskan, amnesia dan analgesia tanpa depresi kardiovaskular

yang signifikan.37 Terhadap kejadian emergence reaction, Subramaniam K, menyebutkan efek samping ketamin tidak meningkat dengan dosis kecil ketamin. Pada dosis 0,15-1 mg/kgBB IV tidak meningkatkan efek psikomimetik seperti halusinasi ataupun efek sedasi yang dalam.35 Arora menyatakan penambahan ketamin dosis kecil 0,5 mg/kgBB terhadap induksi propofol 1,5 mg/kgBB IV dapat mengurangi kejadian desaturasi dan apnoe.22