You are on page 1of 41

Relationship

Relationship; kata ship menunjukkan adanya kualitas hubungan, yakni adanya keakraban, keeratan - relasi dibentuk oleh komunikasi atau produk komunikasi Komunikasi tidak hanya sekedar penyampaian pesan sebagai level pertama yg disebut content, tetapi juga mempunyai level kedua yang disebut relationship, yang menunjukkan bagaimana komunikator memandang dirinya sendiri dan orang lain yang ditujunya

Komunikasi mengandung aspek retorika (kemengertian thd pesan2 yg disampaikan) dan aspek ekspresif (keterlibatan perasaan dan sikap). Dg demikian, relasi merupakan interaksi perasaan dan sikap Perkembangan relasi dipengaruhi oleh komunikasi, dan pada gilirannya (secara serentak) perkembangan relasi mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak2 yg terlibat dalam relasi

Peranan Relasi
1. need for inclusion ; Membentuk dan memelihara perasaan mutual interest dg orang lain saling mementingkan, bisa bersama-sama dg orang lain atau diterima orang lain. Jika kebutuhan ini terpenuhi, orang akan merasa berguna, jika tidak terpenuhi, orang akan merasa kesepian 2. need for control ; Kemampuan utk mewujudkan dan memelihara tingkat kepuasan kontrol dan kekuatan di dlm relasi dg orang lain. Jika kebutuhan ini terpenuhi, org dipandang mampu membuat keputusan atau mempengaruhi org lain, juga masa depannya sendiri 3. need for affection ; Memberi dan menerima cinta/kasih sayang dan atau mengalami relasi dg perasaan dekat/erat

Dimensi Relasi
Breadth

Depth

Keluasan (breadth) ; berapa banyak topik yg dibahas dg orang lain Kedalaman (depth) ; bagaimana pemusatan topik yang membahas konsep diri dan seberapa banyak membuka topik

Apakah Relationship itu ?


Sarah Trenholm (2000)

1.Constellation of behaviors (peta perilaku); relasi setara dg tindakan yang saling tergantung antara 2 orang. Relasi adalah semua hal ttg apa yang dipikirkan oleh 2 orang manakala melakukan hal bersamasama 2. Cognitive Constructs (konstruksi pikiran); relasi sbg suatu konstruksi kognitif di dalam pikiran kita manakala kita memikirkan satu sama lain. Relasi adalah cara kita memikirkan perilaku kita. 3. Mini-culture (budaya mini); relasi bukan sebagai pandangan individu, melainkan pemahaman bersama. Manakala 2 orang melakukan hub.antar pribadi mereka menciptakan kultur kecil-kecilan, mengembangkan persepsi bersama dan peran masing-masing. 4. Collections of Contradictory forces ; relasi sbg sekumpulan kekuatan yg saling berlawanan. Relasi adalah suatu dialog antar 2 org yang saling mempunyai perbedaan pandangan, masing2 pernyataan sbg ungkapan hati, tetapi kenyataannya saling berbeda.

Karakteristik Relationship
1. Relasi dimulai dengan kesadaran ; - relasi dimulai pd saat org menjadi sadar ttg apa yg sdg terjadi - masing-masing memiliki persepsi ttg apa yg dirasakan 2. Relasi berkembang melalui interaksi yg terkoordinasi ; - apa yg dilakukan akan berdampak pada yg lain - perilaku tidak lagi sbg kegiatan yg bersifat pribadi - interaksi lebih seperti sebuah pertandingan 3. Sebagai relasi yg terbuka, orang mulai mengevaluasi hubungan yg sedang berlangsung; Terdapat 6 indikator relasi yg berhasil : - kepercayaan - kenyamanan - respek - kehadiran - kesenangan dalam berkomunikasi - keterbukaan

4. Relasi dipengaruhi oleh kekuatan dari luar :


norma budaya dan model yg ditampilkan oleh media keterlibatan keluarga dan teman kondisi ekonomi dan lingkungan 5. Relasi dapat mengontrol kita, sebanyak kita mengontrol mereka Sbg relasi yg tengah berkembang, relasi mempunyai kehidupan sendiri ; bila 2 org menjalin relasi, ada sebuah pesta, yakni relasi itu sendiri Relasi yg terjadi adalah sbg pengakuan sederhana antar org yg tidak saling mengenal, yg kemudian berkembang dlm cara-cara yg tidak diharapkan atau tidak disangka-sangka (mengapa relasi ini tidak dapat dikendalikan ?, mencoba utk lari dari relasi, dsb) 6. Relasi dibangun dan dipelihara melalui komunikasi Komunikasi sangat penting pada setiap tahap pengembangan relasi

Tahap-tahap Perkembangan Relasi


1. Initiating (awal) Dimulai saat kontak awal dg orang lain. Ada isyarat untuk membuka percakapan, mencari kata pembuka 2. Experimenting (coba-coba) Menjajagi lebih jauh ttg org tsb, sering menggunakan small talk 3. Intensifying (pendalaman) Ke-2 pihak menjadi sahabat karib (good friends). Mulai berbagi hal yg sama, lebih terbuka, dan lebih baik dlm memprediksi perilaku masing2. Dlm perasaan mulai membentuk we feeling (perasaan kekitaan. 4. Integrating Dua individu dikenal sbg pasangan serasi. Sinkronisasi interpersonal meningkat (utk smt IV) D-IV

5. Bonding Interaksi menunjukkan adanya komitmen diantara keduanya, dan terjalin dlm suatu kontrak formal. Relasi menjadi melembaga. Relasi menunjukkan karakter yg baru, dan sifat informal luntur yg diarahkan oleh aturan (hak dan kewajiban) 6. Differentiating We feeling berubah kembali pada orientasi ke-akuan, mrk minta dibedakan ; teman kita teman saya. Hal ini menunjukkan adanya masalah dlm relasi, proses pemisahan telah dimulai. 7. Circumscribing (membentengi/menutup diri) Komunikasi menurun baik secara kualitas maupun kuantitas ; - membatasi bidang pembicaraan yg terbuka demi keamanan - topik tidak dibahas secara bebas dg kedalaman yg sebenarnya - relasi ditandai dg kurangnya enerji, penyusutan kepentingan dan kelelahan perasaan

8. Stagnating - mereka merasa tidak lagi perlu berhubungan, karena tahu interaksi yg akan dihasilkan. Mereka menganggap lebih baik tidak bicara - komunikasi terhenti, dan bekas hubungan hanya tinggal bayangan - sifat hubungan mereka seperti dengan orang lain
9. Avoiding - menghindari kontak satu sama lain. Hubungan face to face atau voice to voice sangat tidak menyenangkan - tanda-tanda untuk berpisah semakin jelas 10. Termination Dapat terjadi bila keduanya setuju. Berakhirnya hubungan dapat terjadi dg cepat atau lambat, berakhir dg baik atau pahit.

Faktor-faktor Penentu Relasi


1. Attraction (daya tarik) daya tarik fisik

outward attractiveness

daya tarik personaliti


proximity

fisik tempat tinggal situasi geografis

reward

reinforcement punishment

similarity ; sikap dan kepentingan yang sama complementarity ; saling melengkapi atas perbedaan

2. Feeling (perasaan) dapat mempengaruhi relasi menjadi lebih baik atau lebih buruk

Karakteristik Relasi Pertolongan


1. Berorientasi pada pemenuhan kebutuhan klien, bukan pada kepuasan kebutuhan pekerja sosial Felix Biestex dalam bukunya The Case Work Relationship merumuskan 7 kebutuhan dasar manusia dlm melakukan relasi : a. ingin diperlakukan sebagai individu yang unik b. mengekspresikan perasaan-perasaan c. memperoleh simpati atas masalah/kegagalan yg dialami, tidak mencela atau menegur, tetapi respon yg mendorong, konstruktif, dan tidak menilai d. tidak dipersalahkan atau tidak dihakimi e. dikenal dan dihargai sbg manusia yg bermartabat f. diakui hak-nya, untuk memilih dan menentukan keputusan sendiri g. ingin dihargai keputusannya 2. Bersifat mendorong dan menambah enerji - enerji bisa berasal dari diri sendiri (kemauan), dapat pula berasal dari luar diri/orang lain (support)

3. Secara sosial bersifat integratif dan inklusif - integratif ; relasi mengarah pada kesepakatan - inklusif ; mengarah pada kesetiakawanan, kegotong-royongan - orientasi relasi bukan pada perbedaan pendapat, tetapi pada kesepakatan, shg relasi pertolongan menawarkan cinta kasih, keakraban, saling menghargai, menerima, saling mengakui nilai dan identitas masing-masing 4. Bersifat transaksional/partisipatif - merupakan komunikasi dua arah, harus ada partisipasi

5. Relasi yang murni, jujur dan realistik - Pekerja sosial sadar dan menghentikan persepsi atau ekspektasi yg tidak realistik antara dirinya dg klien, terutama yg timbul akibat adanya transferensi
6. Bersifat komplementaris - di dalam relasi pertolongan terjadi aktivitas kolektif - relasi pertolongan profesional berbeda dg relasi sosial biasa, di dalamnya terdapat persyaratan, yakni jarak emosional (emotional distance) dan jarak sosial (social distance)

Tahap-tahap Proses Pertolongan


Terdapat 2 fase dasar dalam proses pertolongan :
Fase Pembentukan Relasi : menjalin relasi Fase Kegiatan : Pemecahan masalah

I. Fase Pembentukan Relasi 1. Tahap mempersiapkan dan memasuki relasi a. Kesiapan (baik pekerja sosial maupun klien) Tujuan : - bagi pekerja sosial ; utk bisa membuka wawancara dg hambatan sekecil mungkin - bagi klien ; seberapa jauh kesiapannya. Apakah klien datang sudah mempunyai pemahaman thd masalahnya atau belum ? Relasi pertolongan pada dasarnya mengikat orang lain (klien) untuk menerima perubahan

b. Resistensi Berkaitan dg penolakan utk berubah ; apakah klien sudah benarbenar siap atau masih ada perasaan menolak. Resistensi sangat bergantung pada kondisi klien Ada 2 alasan terjadinya resistensi : - jika seseorang minta bantuan pada pihak lain, oleh suatu kebudayaan dianggap menunjukkan/membuktikan kelemahan - ada kecenderungan utk menolak perubahan thd gaya hidup yg sudah melekat pada diri seseorang
c. Setting Setting merupakan segala sesuatu yg dapat mempengaruhi relasi pertolongan, dan biasanya pengaruhnya thd klien sangat individual d. Pembukaan Penampilan yg rileks pekerja sosial, dapat mendorong klien mengemukakan apa yg mendorongnya datang kepada pekerja sosial

2. Tahap Klarifikasi Tujuan : - menjelaskan pernyataan klien, mengapa ia meminta pertolongan - memperoleh kejelasan, bagaimana klien melihat dan merasakan masalahnya - memperoleh keterangan mengenai situasi kehidupan klien
3. Tahap struktur Tujuan : merumuskan kontrak dan struktur pertolongan Penyusunan struktur pertolongan pd dasarnya adalah menetapkan hakikat, batas-batas, dan tujuan-tujuan pertolongan. Tanggung jawab dan komitmen yg mungkin terjadi antara pekerja sosial dan klien dirumuskan Struktur waktu ; harus dinyatakan secara jelas Struktur proses ; klien dan peksos terlibat secara aktif dalam proses mencapai tujuan yg mereka tetapkan Kontrak formal ; klien dan peksos bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu yg mereka sepakati

4. Tahap Relasi Tujuan : meningkatkan kedalaman relasi dan intensitas komitmen klien - antara klien dan pekerja sosial ada kemungkinan utk menghentikan relasi atas dasar kesepakatan bersama. - tahap 1 s/d 3 sbg kontak pertama, sehingga klien dapat menentukan apakah ia akan meninggalkan relasi pertolongan atau tidak, apa yg akan terjadi selanjutnya dalam relasi tsb, dan apa yg dapat diharapkannya apabila relasi pertolongan itu dilanjutkan.
5. Tahap Eksplorasi (penjajagan) - Pekerja sosial menjadi lebih aktif dan memperlihatkan keterlibatan atau tanggung jawab - Pekerja sosial telah memiliki gambaran yang jelas mengenai siapa kliennya, apa yg dikehendaki klien, dan bagaimana cara membantu klien 2 pertanyaan kunci : - perubahan2 tingkah laku apa yg tepat dan dibutuhkan klien untuk mencapai tujuan-tujuan yg dikehendakinya - strategi intervensi macam apa yg paling tepat utk mencapai hasil yg diinginkan

6. Tahap Konsolidasi Tujuan : - memperoleh kejelasan mengenai perasaan-perasan klien - menetapkan alternatif tindakan - meningkatkan keterampilan klien dalam mengatasi masalahnya 7. Tahap Perencanaan Tujuan : - mengkristalisasikan pembicaraan yg dilakukan dalam tahap-tahap awal ke dalam rencana-rencana yang spesifik dan konkret - utk mengambil keputusan bhw perkembangan yg dicapai saat ini dianggap telah sampai kepada suatu titik yg menunjuk pada perlunya terminasi Tahap ini ditandai dengan proses perencanaan yang rasional 8. Tahap Terminasi Dalam tahap ini semua langkah dan tujuan yg telah dicapai hendaknya disimpulkan. Jika ada tujuan2 yg belum tercapai, hendaknya dicari sebab-sebabnya.

Menciptakan Relasi Pertolongan yang Efektif


(Bradford W Sheafor & Charles R Horejsi : 2003)

Apologi : penerapan metode dan teknik dalam praktek pertolongan sangat dibutuhkan, tetapi tanpa adanya relasi yang positif antara pekerja sosial dengan klien, perubahan pada diri klien tidak akan terjadi

Beberapa kondisi dasar dalam relasi pertolongan : 1. Empathy ; menunjuk pada kemampuan pekerja sosial utk memahami dg tepat perasaan dan pengalaman subjektif yg dialami klien Mendengarkan secara aktif apa yg dikatakan klien, merupakan teknik untuk memunculkan empati terhadap klien 2. Positive Regard ; keyakinan bahwa klien adalah orang yang berharga dan memperlakukan mereka secara hormat, dengan mengabaikan ; penampilan mereka, perilaku, keadaan hidupnya atau memberikan alasan mengapa mereka menjadi klien. Positive regard diperlukan bagi pekerja sosial untuk menangkis kecenderungan memberikan penilaian bahwa klien adalah orang yang telah berbuat kesalahan. 3. Personal Warmth ; pekerja sosial harus menampilkan diri sebagai pribadi yang ramah/hangat

4. Genuineness ; Pekerja sosial harus memperlihatkan keaslian yang muncul secara spontan (tidak dibuat-buat), dan tidak bersikap bertahan, apa yg dikatakan harus sesuai dengan apa yg dilakukan, berbicara benar-benar keluar dari hati. Guna mendemontrasikan perasaan empathy, positive regard, personal warmth, dan genuine, maka beberapa hal penting bagi pekerja sosial dalam menciptakan relasi pertolongan yang efektif, juga harus :

Concreteness ; mampu berkomunikasi dengan menyampaikan gagasan dan pemikiran yang jelas dan spesifik
Competence ; berkompeten dalam melaksanakan tugas dan aktivitas profesional

Objectivity ; tidak bias dan mampu menghargai adanya pandangan yang berbeda

Core Communication and Relationship Skills


(Karent K Ashman & Grafton H Hull,Jr : 1993)

Permulaan Relasi Pekerja Sosial dengan Klien

1. Verbal and nonverbal behavior (perilaku verbal dan nonverbal) 2. Eye contact (kontak mata) 3. Attentive listening (mendengarkan dg penuh perhatian) 4. Facial expression (ekspresi wajah) 5. Body positioning (posisi tubuh) 6. Warmth, Empathy, and Genuineness (ramah, empati, keaslian) 7. Gestures of greeting (isyarat tangan, jabat tangan) 8. Personal space (ruang personal) 9. Arm and hand movements (gerak lengan dan tangan) 10. Tone of voice (nada suara) 11. Dress and appearance (pakaian dan penampilan)

Wawancara

Wawancara (interview) merupakan kegiatan manusia yang paling universal

Suatu wawancara terjadi antara dua orang, sering kali lebih, yg sedang berusaha mencapai tujuan bersama
Di dalam wawancara terjadi relasi timbal-balik (two way relationship) antara dua orang, yg bertindak mewawancarai (interviewer) dg orang yg diwawancarai (interviewee) mengambil tanggung jawab untuk mengarahkan atau mengembangkan percakapan ke arah tujuan yang hendak dicapai Pada hakekatnya bentuk-bentuk wawancara dapat dikategorikan ke dalam 3 golongan besar, yaitu : - wawancara yg ditujukan utk mengumpulkan fakta-fakta (fact-finding) - wawancara yg ditujukan utk memberikan informasi (informing) - wawancara yg ditujukan utk memotivasi (motivating)

Interviewer

Struktur Wawancara
Tahap

Permulaan (The Start)

- Menuntut interviewer utk merumuskan tujuan wawancara, shg jelas bagi interviewee pada saat yang sedini mungkin. - pembicaraan awal (small talk) - mengatasi critical events (perasaan canggung, ketidakmenentuan, ketidakenakan yang dialami pada tahap permulaan
Tahap

Pertengahan (The Middle)

- Isi/inti wawancara ; suatu wawancara dapat tercapai bilamana diskusi antara interviewer dan interviewee secara langsung dapat sampai pada tujuan pokok wawancara - saat-saat kritis pada tahap ini bisa terjadi, yakni apa yg disebut sbg psychological blocks di dalam diri interviewee maupun interviewer yg mengganggu jalannya wawancara

Tahap

Akhir (The Ending)

- Suatu wawancara dapat berakhir ketika sampai pada saat atau waktu yg telah ditetapkan sebelumnya, atau pada saat interviewee maupun interviewer menganggap bahwa tujuan wawancara telah tercapai. - adakalanya wawancara berakhir atau diakhiri karena terjadi hambatanhambatan yg serius, sehingga benar-benar telah menjadi suatu krisis yang tidak memungkinkan wawancara dilanjutkan. - peristiwa kritis yg terjadi pada tahap akhir akan berbeda sifat dan bentuknya dengan peristiwa-peristiwa kritis yg terjadi pada tahap permulaan dan tahap pertengahan wawancara

Starting the Interview


1. The interview setting (menyiapkan seting wawancara) 2. How to dress for the interview (bagaimana cara berpakaian ketika melakukan wawancara. 3. Thinking ahead about an interview with a client (memikirkan terlebih dulu tentang apa yang akan dibicarakan dengan klien) 4. Initial introduction (pengantar awal) 5. Alleviating the client anxiety (meredakan kecemasan klien) 6. Portraying confidence and competence (menggambarkan diri sebagai orang yang dapat dipercaya dan memiliki kemampuan) 7. Beginning statement of purpose and role (mulai menyatakan tentang tujuan wawancara dan peran) 8. Conducting the interview (mengarahkan wawancara)

Verbal Responses to the Client


1. Simple encouragement (dorongan sederhana) 2. Rephrasing (pernyataan/apa yang dikatakan klien) 3. Reflective responding (respon yang reflektif) 4. Clarification (mengklarifikasi pesan yang disampaikan klien) 5. Interpretation (menginterpretasi informasi yang diperoleh dari klien) 6. Providing information (memberikan informasi balikan) 7. Emphasizing clients strengths (bertumpu pada kekuatan yang dimiliki klien) 8. Self-Disclosure (pengungkapan diri) 9. Summarization (membuat ikhtisar) 10.Eliciting information (memperoleh informasi)

Skills in Interview
1. Keterampilan Mendengarkan (Listening Skills) Hearing (mendengar) Respon fisik terhadap masuknya stimulus ; proses masuknya suara ke telinga Listening (mendengarkan) ; proses memaknai, memahami dan merespon terhadap suara yang masuk

Mendengar Aktif : - jangan menyela pembicaraan - memberikan empati terhadap pembicara - mempertahankan keterlibatan - menunda evaluasi - mengorganisasi pesan - menunjukkan perhatian - memberikan umpan balik

Mendengarkan : - hindari terlalu banyak bicara, beri kesempatan orang lain untuk lebih banyak bicara - hindari gangguan fisik - memberikan perhatian yang penuh terhadap pembicara - ajukan beberapa pertanyaan - menyimpulkan apa yang dikatakan oleh pembicara - jangan menyela pembicaraan, tunggu sampai ia selesai sebelum kita memberikan respons - segera mencatat poin-poin penting setelah pembicaraan selesai 4 Komponen sebagai persyaratan menjadi pendengar yang baik : a. Concentration ; memusatkan segenap perhatian pada apa yang sedang dilakukan b. Active participation ; mengerahkan pikiran dalam keadaan kesadaran yang santai, terbuka dan fleksibel terhadap semua perubahan c. Comprehension ; kemampuan menangkap dan memahami arti yang sebenarnya dari apa yang kita dengar d. Objectivity ; mendengarkan apa yang dikemukakan orang lain tanpa memaksakan pendapat kita sendiri

2. Keterampilan Mengamati (Observation Skill) Keterampilan mengobservasi selama proses wawancara berlangsung sejak dimulai hingga berakhirnya wawancara . 3. Keterampilan membentuk Rapport (Skill form Rapport) Rapport digunakan untuk menunjukkan kadar relasi yang ditandai oleh adanya keakraban atau keharmonisan antara pekerja sosial dengan klien.
Elemen-elemen di dalam rapport : - interviewer mampu bersikap bersahabat atau hangat serta memberikan perhatian penuh terhadap klien - ruangan interview harus menyenangkan dan privacy - interviewer tidak terburu-buru dalam melakukan wawancara - interviewer dapat menerima semua gagasan dan sikap yang ditunjukkan klien - interviewer dapat menerima klien sebagai teman yang memiliki derajat yang sama selama wawancara berlangsung

Felix P. Biestek : The Case Work Relationship : Merumuskan 7 prinsip untuk digunakan dalam membentuk relasi atau rapport dengan klien : 1. Individualization ; untuk menjawab kebutuhan klien akan perlakuan sebagai individu, bukan sebagai kasus semata 2. Purposeful expression of feelings ; untuk menjawab kebutuhan klien untuk mengekspresikan perasaan 3. Controlled emotional involvement ; untuk menjawab kebutuhan klien untuk mendapatkan respons yang simpatetik terhadap masalahnya 4. Acceptance ; untuk menjawab kebutuhan klien akan pengakuan sebagai manusia yang berguna, mempunyai martabat dan harga diri 5. Nonjudgemental attitude ; untuk menjawab kebutuhan klien untuk tidak dihakimi dan tidak dituduh sehubungan dengan kegagalan atau kesulitan yang dialaminya 6. Client self-determination ; untuk menjawab kebutuhan klien akan kebebasan untuk memilih cara-cara dan mengambil keputusan mengenai kehidupannya sendiri. 7. Confidentiality ; untuk menjawab kebutuhan klien agar kerahasiaan mengenai dirinya dijaga sebaik-baiknya

4. Keterampilan Menggunakan Pertanyaan (the Use Question Skill) - Pertanyaan bukan semata-mata bertujuan utk memperoleh jawaban, tetapi pertanyaan merupakan prosedur teknis yg dipergunakan secara ajeg dalam berbagai bentuk - pertanyaan yg hanya dapat menimbulkan jawaban ya atau tidak pd dasarnya menunjukkan adanya kekurang-terampilan dan teknik yg jelek - Ada berbagai bentuk pertanyaan disamping pertanyaan yg langsung: - pertanyaan retorikal, yi pertanyaan yg diajukan sbg pernyataan ulangan (restatement) utk memberikan penjelasan - pertanyaan yg diajukan utk memberikan ketegasan/kepastian atau penolakan - pertanyaan yg diajukan utk memperoleh informasi khusus - pertanyaan dlm bentuk cross-examination (tdk dianjurkan utk Peksos) - pertanyaan mengapa merupakan usaha utk membantu melalui pemahaman yg lebih mendalam thd motivasi klien - Apa merupakan bentuk pertanyaan yg dapat menimbulkan penjelasan dan gambaran atau deskripsi

5. Keterampilan Berdiam diri (Silence) - Persoalan silence dlm wawancara bukanlah semata-mata merupakan faktor individual, melainkan jg dipengaruhi oleh faktor budaya. Ada masyarakat yg menghargai tinggi sifat-sifat orang yg tdk banyak bicara, ada pula sebaliknya masyarakat yg menghargai tinggi sifatsifat orang yg terus terang dan responsif thd orang lain. - keterampilan mengendalikan silence wawancara tergantung pada ketajaman interviewer utk melihat apa yg sedang dikomunikasikan melalui berdiam diri tsb. - seringkali berdiam diri menunjukkan adanya kegiatan memikirkan, merenungkan apa yg baru saja dikatakan dan dirasakan - silence dapat jg merupakan indikasi kecemasan atau hambatan emosional - Ada pula interviewer yg menggunakan silence sbg teknik dalam wawancaranya, ia lebih banyak berdiam diri daripada bertanya atau memberikan komentar, akan tetapi kalau teknik ini dipergunakan secara tidak tepat, maka klien tidak kembali lagi.

Tugas Anda
Pilih seorang teman diantara anda sendiri untuk melakukan wawancara, bergantian sebagai pekerja sosial dan klien Fokus wawancara : - identitas klien - permasalahan yg dihadapi klien - Upaya pemecahan masalah Menyusun laporan hasil wawancara, dengan menggunakan format SOAP

Wawancara Baku dan Tidak Baku

Wawancara Baku : Terdiri dari seperangkat pertanyaan yg dipegang teguh pewawancara dan tidak boleh menyimpang dari pertanyaan-pertanyaan itu Keuntungan : jawaban seragam yg dapat ditangani sejumlah besar pewawancara Wawancara Tidak Baku : Memungkinkan pewawancara dan juga responden memperoleh keleluasaan. Pewawancara boleh menyimpang dari sejumlah pertanyaan yg telah disiapkan, boleh menambahkan pertanyaan yg telah dibakukan dg pertanyaan sendiri utk memperoleh jawaban yg lebih lengkap. Pewawancara juga boleh membatalkan suatu pertanyaan yg tampak tidak sesuai atau yg dapat membuat responden defensif. Wawancara yg baku dan yg tidak baku tsb bersifat ekstrem. Sebenarnya, wawancara baku juga membolehkan sedikit kebebasan untuk bertanya, dan sebagian wawancara tidak baku juga tidak memberikan kebebasan mutlak untuk bertanya

Bentuk-Bentuk Pertanyaan Wawancara


1. Pertanyaan Terbuka dan Pertanyaan Tertutup
Pertanyaan

Terbuka : Menyerupai pertanyaan esei dalam ujian; ia tidak membatasi panjangnya jawaban responden, dan memberikan keleluasaan bagi responden utk menafsirkan topik yg akan dibicarakan Keuntungan pertanyaan terbuka : - memungkinkan responden menyampaikan informasi yg ia anggap penting - memungkinkan pewawancara mengetahui kekurangpahaman responden dalam suatu bidang - memungkinkan responden menyatakan perasaannya

Contoh : Bagaimanakah perasaan anda mengenai perkawinan anda ?

Kerugian pertanyaan terbuka : - memerlukan banyak waktu - mungkin membatasi kemajuan wawancara - mengurangi jumlah topik yg bisa dibahas

Pertanyaan Tertutup : Bersifat lebih spesifik dan biasanya membutuhkan jawaban yg lebih pendek dan lebih langsung. Pertanyaan tertutup dapat membatasi responden lebih jauh dg memintanya menjawab ya atau tidak
Contoh : Berapa tahun anda bekerja dalam bidang ini ?

Keuntungan Pertanyaan Tertutup : - lebih banyak pertanyaan dapat ditanyakan dalam banyak bidang - memerlukan waktu lebih sedikit dibanding pertanyaan terbuka - pewawancara dapat membimbing dan mengatur wawancara dengan terkendali - Lebih sering melegakan responden (kurang mengancan responden) Kerugian Pertanyaan Tertutup: - memberi sedikit informasi mengenai isu nyg ditanyakan - dapat menutup bidang-bidang yg mungkin berharga utk diketahui oleh pewawancara

2. Pertanyaan Primer dan Menyelidik

Pertanyaan Primer : memperkenalkan sebuah topik baru dalam wawancara. Contoh dalam pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup adalah contoh-contoh dari pertanyaan primer

Pertanyaan Menyelidik atau Sekunder : merupakan pertanyaan utk menyusul pertanyaan primer, dan dimaksudkan utk meminta penjabaran dari responden.
Contoh : Dapatkah anda menceritakan lebih jauh lagi ?

Keuntungan pertanyaan menyelidik : - menambah jumlah informasi yg diperoleh dari responden - memungkinkan responden menambah penjelasan lebih banyak
Kerugian pertanyaan menyelidik : - dapat membuat responden menjadi defensif - responden mungkin tidak suka diselidiki lebih jauh lagi, dan hal ini dapat menimbulkan kehilangan informasi bila responden memutuskan utk tidak memberikan informasi atau menyimpangkannya

3. Pertanyaan Menggiring versus Pertanyaan Netral

Pertanyaan Netral : pertanyaan yg tidak secara eksplisit atau implisit menyarankan jawaban yg diinginkan, sementara pertanyaan Menggiring adalah sebaliknya Contoh : - pertanyaan Netral : Apakah anda menyukai pekerjaan ini ? - pertanyaan Menggiring : Anda menyukai pekerjaan ini, kan ? bentuk pertanyaan menggiring yg sering menjengkelkan adalah pertanyaan yg membebani (loaded question), yg direkayasa dengan mengisyaratkan jawaban yg diinginkan. Bentuk pertanyaan tertutup terkadang digunakan utk menyudutkan responden, akibatnya pewawancara menjawab pertanyaannya sendiri. misal : kepada seorang militan sayap kiri (responden), pewawancara bertanya : Bukankah benar bahwa kekerasan dapat memperburuk keadaan ?
Pertanyaan yg membebani tidak memiliki keuntungan, kecuali tujuannya

4. Pertanyaan Membebani
Suatu

adalah utk mengetahui apakah responden dapat mengatasi suatu situasi yg mengancam dan memusuhi

Playback Theatre
Pemusik
( 2 orang )

Pelaku
( 3 orang )

Sutradara

Pencerita

K h a l a y a k

Kelompok Pendukung (Support Group Theraphy)

Playback Theatre
Esensi dari playback theatre terletak pada bagaimana penceritera menyampaikan hal-hal yang ia rasakan berkaitan dengan kejadian hidupnya di masa lalu

Kelompok Pendukung
Kelompok pendukung merupakan materi yang mengantarkan para peserta agar mampu melakukan terapi individu melalui media kelompok. Kelompok ini bertujuan untuk membuat sebuah forum kepada peserta untuk berbagi cerita (tentang masalah atau pengalaman buruk), dan berbagi solusi untuk pemecahan masalah Social Network : - Social network terbangun secara baik, syaratnya dg melakukan pergaulan, berbicara dan bercerita dg orang lain

Komunikasi Kelompok (kerjasama kelompok) masing-masing kelompok sesuai identitasnya untuk membuat gambar dan mendiskusikan tentang filosofi dari buah (nama jenis buah sebagai identitas kelompok), meliputi manfaat dan kelebihan dari buah tersebut. Selanjutnya setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kepada kelompok lainnya, dan kelompok yang lain memberikan tanggapan. Jangan lupa, buat yel-yel di kelompok