Вы находитесь на странице: 1из 24

ABSTRAK

PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP

NAMA ANGGOTA KELOMPOK :


1. MALAWI SAPUTRA (13700045) 6. GALIH PERTIWI (13700057)
2. DIANA WULANDARI (13700047) 7. PUTRA NARENDRA (13700059)
3. MENDY AUDIAN P. (13700049) 8. PUTRA DWIPAYANA (13700061)
4. KRESNA ADITYA (13700051)
5. RATRI DIANA SARI (13700053)

2013 A





UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
FAKULTAS KEDOKTERAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
SYSTEMIK LUPUS
ERYTHERMATOSUS
ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
ABSTRAK
Sistemik Lupus Erythematosus adalah gangguan autoimun kronis dengan
bebagai persentase, serta dapat mempengaruhi beberapa sistem organ,
termasuk kulit, ginjal, kardiovaskular jantung ,paru, danSistem Saraf Pusat
yang dapat mengakibatkan stroke pada penderita. Penyakit ini sering didapati
pada wanita yang sedang dalam masa reproduksi dan patologinya adalah
gabungan dari genetik, lingkungan, dan faktor hormon yang menyebabkan
hilangnya keseimbangan kontrol dari imunoregulasi sel.
Biasanya di tandai dengan aktivitas kronis dari sel sel dendritik plasmasitoid
(pDCs) dan produksi autoantibody terhadap nuklir self-antigen oleh sel B
hyperreactive. Neutrofil juga terlibat dalam pathogenesis penyakit namun,
mekanisme yang terlibat tidak di ketahui. Lupus eritematosus sistemik juga
merupakan penyakit autoimun heterogen yang berhubungan dengan
hiperaktivitas sel-B, autoantibody, dan peningkatan konsentrasi B-linfosit
stimulator (BLyS).
Strategi pengobatan nonfarmakologis utama adalah perlindungan yang tepat
dari paparan langsung sinar matahari (misalnya, menghindari, pakaian
pelindung, dan tabir surya dengan UVA dan UVB) dan nutrisi yang tepat.
Terapi farmakologis dapat menggunakan Glukokortikoid, NSAID, sitotoksik /
agen imunosupresif, Belimumab yang memiliki resiko efek samping yang
rendah, dan agen antimalaria yang digunakan untuk gejala umum dan pasien
dengan gejala yang lebih kronis atau parah.


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
PENDAHULUAN

Penyakit Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) adalah salah satu dari
penyakit kronis autoimun sistemik yang di tandai atau manifestasi dari
adanya autoantibody terhadap autoantigen. Diagnosis SLE harus
didasarkan pada penelitian yang tepat dari temuan klinis dan bukti
laboratorium. The American College of Rheumatology (ACR)
mengusulkan beberapa kriteria pada tahun 1982 dan direvisi pada tahun
1997, memberikan gambaran yang dapat membantu dalam diagnosis,
kondisi ini tergantung pada keparahan penyakit dan keterlibatan organ.
Pengujian laboratorium sangat penting untuk mendeteksi tanda-tanda dan
gejala keterlibatan system organ dan untuk memantau reaksi negative
terhadap terapi.


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
DEFINISI
Lupus Eritematosus Sistemik adalah penyakit sistemik kronik
yang di tandai dengan adanya autoantibody terhadap autoantigen atau
berupa kelainan autoimun yang asal usulnya belum diketahui, dimana
sistem imun menyerang sel tubuh dan jaringan sehingga menyebabkan
peradangan, yang ditandai dengan adanya luka dibeberapa sistem tubuh
secara imunologi. Penyakit ini sering didapati pada wanita yang
sedang dalam masa reproduksi dan patologinya adalah gabungan dari
genetik, lingkungan, dan faktor hormon yang menyebabkan hilangnya
keseimbangan kontrol dari imunoregulasi sel. Perjalanan penyakitnya
bersifat episodik (berulang) yang diselingi periode sembuh. Pada setiap
penderita, peradangan akan mengenai jaringan dan organ yang
berbeda. Beratnya penyakit bervariasi mulai dari penyakit yang ringan
sampai penyakit yang menimbulkan kecacatan, tergantung dari jumlah
dan jenis antibodi yang muncul dan organ yang terkena.

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
ETIOLOGI
SLE adalah proses imun kompleks yang disebabkan oleh disregulasi B-dan
T-limfosit, produksi auto-antibodi, dan pembentukan Sitokin. Sistem imun tubuh
dianggap memainkan peran kunci dalam SLE, namun sejauh manapun penelitian
yang telah dilakukan, asal usul dan perkembangan lupus masih tidak jelas. Hasil
penelitian sebelumnya hanya membantu menjelaskan variasi terlihat pada kondisi
klinis pasien. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi peran sitokin
dalam rangka untuk lebih memahami perkembangan penyakit serta mencari pilihan
pengobatan baru.
Kita ketahui bahwa sistem kekebalan tubuh memainkan peran dalam
perkembangan penyakit, apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh untuk
berfungsi normal tidak diketahui. Hal ini berspekulasi bahwa faktor lingkungan
memainkan peran, namun tidak ada data yang konsisten untuk mendukung teori ini.
Tetapi, walau bagaimanapun, bukti telah menunjukkan bahwa komponen genetiklah
yang memainkan peran. Beberapa kelainan imunologi gen misalnya, interferon faktor
regulasi , tirosin protein fosfatase telah diidentifikasi.


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
EPIDEMIOLOGI

Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) merupakan bukan penyakit
menular, namun penyebabnya spesifik terjadinya penyakit belum
diketahui. kebanyakan penyakit autoimun, pengidap SLE diderita oleh
wanita dibanding pria, dengan rasio 9 : 1, dikarenakan kehadiran 2
kromosom X pada wanita dan 1 kromosom X pada pria dimana
kromosom Y diketahui tidak bermutasi berhubungan dengan penyakit
autoimun. SLE terutama mempengaruhi orang dewasa , biasanya wanita
usia subur ( 20 sampai 40 tahun ) , pada perempuan terhadap laki-laki
dari rasio 9:1 hingga 15:1 . Sekitar 8 % sampai 15 % kasus SLE terjadi
pada anak-anak . Orang dewasa seperti wanita menopause yang
didiagnosis dengan SLE , , biasanya memiliki gejala yang lebih ringan .
Faktor genetik dan ras juga dikaitkan dengan peningkatan risiko
pengembangan SLE .

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
KARAKTERISTIK
Gejala :
Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis yang
gejalanya meliputi arthritis, kelainan imonologi, kelainan darah, serositis, kerusakan
ginjal, gangguan neurologi.
Pria dengan SLE cenderung memiliki lebih sedikit arthritis , namun serositis bisa lebih
dominan daripada di perempuan. Fitur lain yang umum , terjadi pada 50 % kasus , adalah
ulserasi mukosa , biasanya oral (pada mulut penderita). Karena methotrexate juga dapat
menyebabkan ulserasi ini , jadi kemungkinan akan sulit untuk menentukan apakah ulkus
tersebut disebabkan oleh SLE atau obat yang digunakan untuk mengobatinya.
Gejala yang lebih pesifik lagi mencakup abnormalitas jantung, gejala gangguan
pernafasan dan termasuk nyeri dada pada inspirasi karena pleuritis atau perikarditis .
Penyakit kardiovaskular ( misalnya , infark otot jantung ) sangat mendukung untuk
mempercepat aterosklerosis dan risiko lainnya ( hipertensi , hiperkolesterolemia ,
hipertrigliseridemia , diabetes , dan gagal jantung ) yang juga dapat memperburuk
penyakit kardiovaskuler pada SLE. Risiko rawat inap untuk infark Otot jantung akut
adalah 2,27 kali lebih besar untuk pasien lupus berusia 18 hingga 44 tahun daripada
pasien non lupus.
ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
Komplikasi ginjal ( glomerulonefritis dan trombosis mikrovaskular ) dan
komplikasi neuropsikiatri ( kejang , psikosis , neuropati , stroke , dan
depresi ) yang umum digunakan sebagai patokan bagi kedokteran.
Komplikasi pada gastrointestinal biasanya jarang namun dapat berakibat
serius , termasuk keratokonjuntiva , pankreatitis , hepatitis , dan obstruksi
usus sub akut .
Gejala awal dapat ditentukan pada :
Adanya ruam pada kulit / ulkus pada oral.
Anemia (umumnya pada anak-anak)
Nyeri pada sendi
Kelelahan yang parah pada penderita SLE

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
Faktor Resiko :

1. Coronary Artery Disease (CAD) / Penyakit Arteri Koroner.
SLE meningkatkan resiko Infark otot jantung/myokardial (MI)
pada beberapa populasi penderita SLE.

2. Congestive Heart Failure (CHF)/ Gagal jantung kongestif.
Pasien dengan SLE memiliki resiko tinggi untuk mengalami
arterisklerosis, yang jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan
terjadinya gagal jantung dan mengakibatkan kematian.

3.Cerebrovascular Disease (CVD)/ gangguan cerebro vascular.
SLE meningkatkan resiko terjadinya stroke ketika dibandingkan
dengan populasi kontrol


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
4.Hyperlipidemia.
SLE dihubungkan dengan peningkatan total kolesterol 1
hingga 2 kali lipat pada pasien dengan SLE serta
bersamaan dengan peningkatan trigliserida dalam darah.

5. Jenis Kelamin.
Kebanyakan penderita SLE didominasi oleh wanita dibanding
pria, akan tetapi pria penderita SLE memiliki resiko lebih tinggi untuk
mengidah CVD (Penyakit Cerebro Vaskular)

6. Kebiasaan merokok.
Hasil studi di Swedia, diketahui bahwa tindakan merokok
meningkatkan resiko CVD pada pasien dengan SLE kurang lebih 7%
dari populasi penderita SLE yang meningkatkan resiko pasien
menderita stroke.


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
DIAGNOSIS

Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) didasarkan pada kriteria klasifikasi yang
telah ditetapkan oleh American College of Rheumatology ( ACR ) . Diharuskan Minimal 4
dari 11 kriteria ACR harus dipenuhi untuk memenuhi syarat sebagai SLE untuk keperluan
uji klinis . Beberapa kriteria ACR tersebut ialah :
1. kulit
2. arthritis (nyeri pada sendi)
3. pleuritis atau perikarditis
4. gangguan ginjal
5. gangguan neurologis dengan kejang atau psikosis yang tidak diketahui penyebabnya
dan dari hasil uji laboratorium.
Seorang dokter spesialis rheumatologi atau nefrologi dapat mendiagnosa pasien jika pasien
hanya memenuhi 3 kriteria ( 1 harus klinis dan 1 harus serologi ) dan memiliki manifestasi
klinis lain seperti alopecia , vaskulitis kulit , fenomena Raynaud , atau fibrosis paru.
Pasien kemungkinan telah mengidap SLE selama bertahun-tahun sebelum kriteria
penyakitnya memenuhi standar ACR agar dapat didiagnosis mengidap SLE , dengan rata-
rata 2 tahun antara manifestasi pertama dan diagnosis akhir.

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP

Tes Antibodi antinuklear ( ANA ) merupakan tes yang sangat spesifik dengan
hasil yang positif pada > 95 % pasien SLE . tes antibodi anti - dsDNA
ditemukan positif pada 60% pasien SLE dan dianggap sebagai penanda terbaik
untuk aktivitas penyakit , dengan spesifikasi hampir 100 % , kecuali pada pasien
usia lanjut yang memiliki prevalensi lebih rendah dari anti - dsDNA, Anti - Ro (
SSA ) antibodi dengan anti - La ( SSB ) terjadi pada 20 % sampai 30 % dari
pasien . SSA berhubungan dengan lesi kulit sub akut , dan SSB berhubungan
dengan ruam mirip malaria , lesi kulit sub akut , fotosensitivitas , arthritis ,
serositis , dan trombosis . Anti- U1 - snRNP terjadi pada 13 % pasien , dan
antibodi anti - Sm terjadi pada 10 % pasien , terutama mereka dengan ulkus oral
dan myositis. Sampai dengan 95 % dari pasien dengan DILE memiliki antibodi
anti - histon positif . Oleh karena itu , pasien ini umumnya memiliki ANA positif.
Selain tes darah, biopsi ginjal diperlukan bagi pasien yang mengalami komplikasi
ginjal untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan penyakit.

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
Pria dengan Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) cenderung memiliki lebih
sedikit arthritis , namun serositis bisa lebih dominan daripada di perempuan.
Jantung dan gejala pernafasan juga umum dan termasuk nyeri dada pada
inspirasi karena pleuritis atau perikarditis . Penyakit kardiovaskular (
misalnya , infark otot jantung ) sangat mendukung untuk mempercepat
aterosklerosis dan risiko lainnya ( hipertensi , hiperkolesterolemia ,
hipertrigliseridemia , diabetes , dan gagal jantung )Yang juga dapat
memperburuk penyakit kardiovaskuler pada SLE . Risiko rawat inap untuk
infark Otot jantung akut adalah 2,27 kali lebih besar untuk pasien lupus
berusia 18 hingga 44 tahun daripada pasien non lupus. Komplikasi ginjal (
glomerulonefritis dan trombosis mikrovaskular ) dan komplikasi
neuropsikiatri ( kejang , psikosis , neuropati , stroke , dan depresi ) yang
umum digunakan sebagai patokan bagi kedokteran. Komplikasi pada
gastrointestinal biasanya jarang namun dapat berakibat serius , termasuk
keratokonjuntiva , pankreatitis , hepatitis , dan obstruksi usus sub akut .


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
TERAPI

Pada pasien Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) kronis atau berat,
diberikan glukokortikoid dan obat imunosupresan lain, akan tetapi pemberian
glukokortikoid dosis tinggi sangat erat hubungannya dengan peningkatan
aktivitas penyakit, maka dosis tertentu telah diterapkan dan dibatasi. Terapi
lainnya adalah menggunakan Hydroxychloroquine, yang erat kaitannya
dengan peningkatan angka harapan hidup pasien pengidap SLE. Sampai saat
ini belum ditemukan terapi yang dapat menyembuhkan SLE, sehingga SLE
belum dapat disembuhkan secara keseluruhan.

Berikut adalah jenis terapi obat yang dapat digunakan :


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
NSAI Ds

NSAIDs umumnya diresepkan untuk pasien dengan SLE. Karena keterbatasan
data yang mendukung hasil yang lebih baik di SLE , NSAID harus digunakan
dengan hati-hati , dan ada risiko signifikan yang terkait dengan penggunaan
NSAID , sistem kerja jangka panjang dengan menghambat siklooksigenase - 2 (
COX - 2 ) , yang menghambat produksi prostaglandin yang memediasi peradangan
dan nyeri . Selain COX - 2 penghambatan , NSAIDs juga dapat menghambat COX
- 1 , yang pada gilirannya menghambat produksi prostaglandin yang melindungi
lapisan saluran pencernaan . Oleh karena itu, dikhawatirkan terjadi perdarahan
gastrointestinal, terutama pada pasien yang menggunakan obat ini dalam jangka
panjang dan / atau menerima kortikosteroid . Oleh karena itu disarankan untuk
menggunakan NSAID dengan tinggi COX - 2 selektivitas, seperti celecoxib , dan
untuk menghindari agen dengan kurang selektivitas seperti piroksikam dan
ketorolac . Selain itu , pasien NSAID jangka panjang mungkin memerlukan
inhibitor pompa proton atau histamine - 2 receptor blocker untuk membantu
mencegah komplikasi dan mengurangi efek samping.


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
Antimalaria .
Antimalaria yang digunakan untuk mengobati dan mengurangi gejala serta sangat berguna
untuk arthralgia yang tidak bisa dikendalikan hanya dengan pemberian NSAIDs saja.
Hydroxychloroquine adalah agen antimalaria yang paling sering diresepkan, tercata hingga
95 % dari resep di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan kemungkinan yang menurun
menyebabkan efek samping okular dan gastrointestinal dibandingkan dengan agen
antimalaria lainnya. Hydroxychloroquine juga telah ditunjukkan untuk membantu
mempertahankan remisi, mungkin melindungi terhadap pembuluh darah dan peristiwa
trombotik (arterosklerosis). Klorokuin adalah agen antimalaria lain yang dapat digunakan.
Mekanisme kerja dari agen antimalaria dalam pengobatan SLE tidak sepenuhnya dipahami,
tetapi diyakini karena imunosupresif dikenal dan sifat anti - inflamasi. Mereka juga dapat
memblokir penyerapan sinar UV, yang dapat menurunkan gejala lesi pada kulit
Efek samping yang paling umum adalah gangguan pencernaan, reaksi kulit, sakit kepala, dan
pusing. ACR merekomendasikan bahwa semua pasien SLE harus menjalani pemeriksaan
mata dasar sebelum memulai pengobatan dengan agen antimalaria, diikuti dengan penilaian
oftalmologi setiap 6 sampai 12 bulan. The American Academy of Opththalmology pada
tahun 2002 menerbitkan rekomendasi untuk skrining retinopati, sehingga efek samping
kronis berupa kebutaan permanen akibat penggunaan agen anti-malaria dapat dicegah.

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
Glukokortikoid

Glukokortikoid dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan agen
imunosupresif lainnya, biasanya digunakan untuk pasien dengan gangguan organ
yang signifikan , terutama ginjal atau CNS. Penggunaan dosis tinggi (40 sampai 60
mg/d prednison atau setara prednison) digunakan pada pasien dengan SLE berat ,
sedangkan dosis 10 mg/d atau kurang digunakan untuk SLE ringan. Durasi
penggunaan obat harus sesingkat mungkin untuk menghindari panjang komplikasi
jangka panjang dengan obat-obat ini , yang mungkin termasuk miopati ,
osteoporosis , hipertensi , diabetes , penyakit vaskular aterosklerotik , dan infeksi .
Pasien yang memerlukan terapi jangka panjang harus rutin dipantau untuk
komplikasi ini . Kolesterol total dan kepadatan tulang harus diperiksa setiap tahun ,
dan kadar glukosa darah harus diperiksa setiap 3 sampai 6 bulan secara teratur.
ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
Belimumab

Pada bulan Maret 2011 , belimumab ( enlysta) telah disetujui FDA untuk
pengobatan orang dewasa yang positif menderita SLE untuk mendapatkan terapi.
Standar Belimumab memiliki mekanisme unik tindakan menargetkan disfungsi sel -
B dengan menghambat B - limfosit stimulator ( BLyS ) . Telah menunjukkan bahwa
penurunan kadar BLyS berhubungan dengan peningkatan aktivitas SLE dan
peningkatan tingkat BLyS berhubungan dengan memburuknya aktivitas SLE
tingkat ringan / sedang. Keamanan dan kemanjuran Belimumab telah dievaluasi
dalam 3 studi yakni acak, plasebo-terkontrol, dan double-blind . Dalam semua 3
studi , pasien yang memenuhi kriteria ACR untuk SLE dan pada terapi SLE standar,
termasuk kortikosteroid , antimalaria , NSAID , dan imunosupresan ( sendiri atau
dalam kombinasi ) . Pasien biologis atau siklofosfamid lainnya dikeluarkan ,
bersama dengan pasien dengan lupus nephritis aktif atau CNS. Hasil studi
menunjukkan bahwa belimumab secara umum ditoleransi dengan baik , dengan
tingkat efek samping yang rendah, infeksi , dan penghentian yang mirip dengan
placebo


ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
IMMUNOPATOLOGI PENYAKIT
Komplemen C1q adalah penyebab genetik terkuat terhadap terjadinya Sistemik
Lupus Erythematosus atau SLE. Komplemen C1q adalah protein yang terbentuk
dari 6 sub unit homotrimerik yang berfungsi dalam respon Innate imun untuk
membasmi pathogen dengan mengaktivasi komplemen, juga berkontribusi untuk
pembersihan Imun Kompleks sel dan Apoptotic sel dari sirkulasi darah, sebuah
aktivitas yang sangat penting untuk menjaga toleransi imun terhadap self-antigen.
C1q juga ditemukan dapat menghalangi monosit untuk mengdiferensiasi DC,
aktivasi DC dan produksi interferon oleh DC plasmasitoid, terlebih juga memainkan
peran utama dalam mencegah penyimpangan fungsi dari Innate imun dan respon
adaptif imun.
Pasien dengan anti-DNA atau anti-RNP antibodi yang mengalami peradangan
sistemik, dengan peningkatan ekspresi dari Interferon tipe-1(IFN), menginduksi gen
pada periferal mononuklear sel darah. Mengakibatkan teraktivasinya Sel Dendrit
Plasmasitoid (pDCs), sekresi dari IFN merupakan bagian penghubung asam nukleat
yang mengandung imun kompleks yang secara internal diaktifkannya Reseptor FC
(FcRs).

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
KESIMPULAN ATAU PENUTUP
Sistemik Lupus Erythematosus adalah gangguan autoimun yang dapat
mempengaruhi beberapa sistem organ, termasuk kulit, ginjal, kardiovaskular
jantung ,paru, dan SSP (Sistem Saraf Pusat) yang dapat mengakibatkan stroke
pada penderita. Pengenalan yang lebih baik dari SLE dan pengobatan yang lebih
efektif telah secara signifikan meningkatkan tingkat ketahanan hidup.
Pengobatan umumnya dilakukan secara individual, berdasarkan presentasi klinis
pasien. Strategi pengobatan nonfarmakologis utama adalah perlindungan yang
tepat dari paparan langsung sinar matahari (misalnya, menghindari, pakaian
pelindung, dan tabir surya dengan UVA dan UVB) dan nutrisi yang tepat. Terapi
farmakologis dapat menggunakan Glukokortikoid, NSAID, sitotoksik / agen
imunosupresif, Belimumab yang memiliki resiko efek samping yang rendah, dan
agen antimalaria yang digunakan untuk gejala umum dan pasien dengan gejala
yang lebih kronis atau parah. Lupus nefritis adalah salah satu manifestasi yang
paling umum dan biasanya diobati dengan kombinasi siklofosfamid dan
kortikosteroid. Hubungan dengan penyakit lain juga dapat diobati dengan terapi
menargetkan kondisi tertentu, seperti obat antipsikotik untuk gejala gangguan
kejiwaan.

ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA


[1] Shiraz E-Medical Journal Vol. 11, No. 1, January 2010
http://semj.sums.ac.ir/vol11/jan2010/86065.htm
Thyroid Disorder in Systemic Lupus Erythematosus Patients inSoutheast Iran.

[2] SciTranslMed 9March2011: Vol. 3, Issue 73, p. 73ra19 Sci. Transl. Med.
DOI: 10.1126/scitranslmed.3001180. http://stm.sciencemag.org/content/3/73/73ra19

[3] Sara R. Schoenfeld, MD, Shanthini Kasturi, MD, Karen H. Costenbader, MD, MPH. The
epidemiology of atherosclerotic cardiovascular disease among patients with SLE: A
systematic review. Seminar in arthritis and rheumatism,2013;43:77-95

[4] Konstantinos H. Katsanos, Paraskevi V. Voulgari, Epameinondas V. Tsianos. Inflammatory
bowel disease and lupus: A systematic review of the literature. Journal of Crohn's and Colitis
2012 ; 6 : 735742

[5] Mariane Curado Borges R.D., M.Sc., Fabiana de Miranda Moura dos Santos M.D., M.Sc.,
Rosa Weiss Telles M.D., Ph.D., Cristina Costa Duarte Lanna M.D., Ph.D., Maria
IsabelT.D. Correia M.D., Ph.D. Nutritional status and food intake in patients with
systemic lupus erythematosus. Nutrition 28;2012:10981103




ABSTRAK
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
PENUTUP
TERIMA KASIH