Вы находитесь на странице: 1из 31

Kelompok 3

Diaz Ananta
Priska Harsanti
Normarida Soraya
Veryne Ayu

Lesi Putih Rongga


Mulut

Lesi putih pada rongga mulut sering ditemukan

pada pemeriksaan klinis


Merupakan

tanda

dari

berbagai

macam

diagnosis. Ringan sampai berat. (ex trauma,


karsinoma, dll)
Dokter

umum

mengetahui

diagnosis untuk memberi arah rujukan

diferensial

Diagnostik
Terdiri dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan
penunjang bila diperlukan.
Anamnesis
S7: lokasi,onset, kronologis, kualitas, kuantitas,fx
pengubah, gejala penyerta (ex lesi serupa di luar
rongga mulut)
F4:RPD: riwayat merokok, trauma, penggunaan obatobatan sebelumnya, penyakit sistemik
RPK: kondisi herediter (white sponge nevus, dll)
RSE: higiene sanitasi

Pemeriksaan Fisik
Observasi keadaan umum
Perhatikan: lokasi, permukaan dan karakteristik subepitelial
adakah manifestasi lain di luar rongga mulut
Ex: Ventral lidah/dasar mulut : potensi neoplastik
Debris pada permukaan yg mudah dihapus curiga
candidiasis
Lesi tak mudah dihapus: potensi pra kanker, Ca In Situ
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi, biopsi histopatologi
Harus sesuai indikasi, bila diagnosis lain (yang penegakan
diagnosisnya tdk harus mll biopsi sudah disingkirkan)

Diferensial Diagnosis

Le
Frictional Keratosis
:Cheek Bitting
si
Lip Bitting
P
utTanpa Burns (termal/kimiawi)
Hiperkeratosis Akut
Acute Pseudomembran Moniliasis
ih
Moniliasis
Kronis

Acute Atropic Moniliasis

Chronic Atropic Moniliasis

Chronic Hyperplastic Moniliasis

Lichen Planus

Erosif

Dengan
Hiperkeratosis

Non erosif

Leukoplakia
dll: white sponge nevus, nikotin stomatitis, dst

1. Frictional Keratosis
Etiologi
Abrasi ringan/trauma membran mukosa di mulut
oleh iritan seperti gigi yang tajam, gigitan pada
mukosa pipi atau gigi palsu
Epidemiologi
Banyak terjadi pada wanita dg kebiasaan
menggigit bibir/pipi

Manifestasi Klinis
Awal berupa lesi pucat dan translusen
Kemudian lesi memadat dan putih, kadang
permukaannya kasar. Penebalan epitel terjadi karena
iritasi yang berlangsung kronik
Lokasi lesi pada tempat iritasi
Pasien dengan maloklusi sederhana sering menggigit
mukosa bukal di sepanjang garis oklusal, dapat sbg tanda
disfungsi TMJ
Tata Laksana:
Menghilangkan penyebabnya.
Bila gigi tajam diasah, pembuatan gigi tiruan fungsional
Kebiasaan Edukasi untuk menghentikan kebiasaan,
terutama bila mengganggu

2. Burns (Termal/Kimiawi)
Etiologi:
Oleh suhu/ berbagai zat asam/basa
Penyebab paling sering tablet aspirin yang dibiarkan larut
dalam mulut. Penyebab lain natrium perborat, hidrogen
peroksida yang tidak diencerkan.
Pizza burns, Aspirin Burns, Tobacco Burns, Cotton Roll
Burns
Manifestasi Klinis
Sering di mukosa bukal. Gambaran umum berupa lesi putih
dengan batas merah. Lesi merupakan epitel dan jaringan
ikat dibawahnya yang yang nekrosis. Bila dikupas akan
sangat nyeri.

3. Moniliasis

Etiologi:
Infeksi fungal genus Candida, terutama Candida
albicans.
Faktor Predisposisi:
Imunosupresi,
DM,
penggunaan
Antibiotik,
penggunaan
obat
kumur,
perokok
berat,
menggunakan dentures (gi-pals), penggunaan
kortikosteroid, radiasi leher dan kepala, pada bayi
dan ortu, leukimia, limphoma, AIDS, xerostomia

Berdasarkan Onset:
1. Akut
Pseudomembran:
lesi putih merupakan koloni fungal pada mukosa yang
inflamasi,nyeri. Bila dilepaskan akan memerah dan bisa
berdarah.
Atrophic : lesi kemerahan akibat overgrowth candida
2. Kronik
Atrophic (dental sores)
lesi kemerahan yg nyeri, jamur sudah sulit diidentifikasi
dengan kultur, smear, biopsi
Hiperplastik
hiperkeratosis, biasa di mukosa bukal dekat komisura,
umumnya menyertai penyakit endokrinopati kronis

Manifestasi Klinik
Anak: lesi putih, tidak sakit. Dapat dihilangkan
walau sulit namun dapat rekuren.
Dewasa : pada daerah erosi tampak merah dan
sakit.
Diagnosa
Smear, hapusan pemeriksaan mikrobiologi
Mikroskopik : pewarnaan Periodic Acid Schaf (PAS)
Kultur dengan medium yg sesuai L saboraud agar,
corn meal
Biopsi dengan : PAS, GMS, pewarnaan jamur lain

Terapi
Obat antifungal :nistatine, amfoterisisn B
Dapat diberikan secara topikal (t.u
imunocommpromised) /sistemik
Koreksi faktor predisposisis jika memungkinkan
Beberapa kasus candidiasi kronik membutuhkan
terapi jangka panjang
Prognosis
Sangat baik pada pasien imunokompeten

1. Lichen Planus
Adalah penyakit inflamasi mukokutaneus yang kronis dan
rekurensinya tinggi. Ditandai dengan berbagai tipe papula
kecil termasuk bulosa, atropi dan erosi.Insiden lebih tinggi
pada wanita
Etiologi:
Unknown. Beberapa dihubungkan dengan proses autoimun
T-Cell Mediated, dengan target basal keratinosit. Lichen
planus sering didapatkan pada pasien dengan kecemasan
dan berhubungan dengan stres.
Lichenoid: lesi seperti lichen planus yang timbul setelah
pemakaian obat tertentu (mepacrine, chloroquin,
hidrochloroquine, amiphenazole, chlorpropamide), allergen
tertentu (bismuth, arsen, emas) dan graft-versus-hostdisease.

Manifestasi Klinik :
Diperkirakan 0,5-1% populasi dengan lichen planus
daerah kutan dan 50% diantaranya memiliki manifestasi
di mukosa oral.
Variasi Klinis :
Erosif (dapat merupakan premaligna)
sering ditemukan. Lesi bulosa dengan tepi kasar, nyeri,
disekitarnya ada daerah putih dengan lesi dendritik
Non Erosif : reticular, atrophic, papular, plaque
Tanpa keluhan, umumnya tidak sengaja ditemukan.
Lesi putih agak meninggi, distribusi umumnya bilateral
simetrik
Lokasi: mukosa bukal (>>), lidah, ginggiva, bibir,
palatum
Kutan: lengan bawah, scalp, genitalia

Diagnosis
Pemeriksaaan fisik mukosa oral, kulit, genitalia
Riwayat penyakit dahulu : kontak alergen, pemakaian obat
Biopsi
Mikroskopik didapatkan : hiperkeratosis, nekrosis basal
keratinosit , ditemukan sel limfosit pada daerah antara
epitel-jaringan penyokong
Direct imunofluoresens-fibrinogen dan cytoid bodies
Terapi
Non Erosif: Tidak diberi terapi khusus, dapat diberikan
obat penenang, vitamin A topikal
Erosif : Ringan-sedang: topikal kortikosteroid(kenalog)
Berat : imunosupresan sistemik (prednison)
Simtomatik : obat kumur anesthesia

2. Leukoplakia
Plak putih yang menempel pada mukosa mulut
Tidak spesifik merupakan diagnosis eksklusi
Dapat merupakan lesi pra kanker

Etiologi:
Unknown, pada beberapa kasus dihubungkan dengan
kebiasaaan konsumsi tembakau atau pinang.
Beberapa pendapat mengatakan penyebabnya multifaktorial:
Sistemik : - Karakter konstitusional (keturunan)
- Defisiensi nutrisi (besi, vitamin A, B
complex)
- Endokrinopati
- Penyakit Sistemik: Syphilis
Lokal : - Iritasi: gigi tajam, detures
- Bahan kimia : tembakau, pinang
- Oral Hygienen buruk :penyakit periodontal,
bakteri
Hairy Leukoplakia : berhubungan dengan imunodefisiensi,
bukan pra kanker

Berhubungan
dengan infeksi EBV
oprtunistik pada
pasien
imunocommpromise
d
Pada insisi biopsi
didapatkan nuclear
inclusion EBV diatas
keratinosit

Manifestasi Klinik
Lesi kaku, tebal, tidak dapat dilepaskan dari dasar
Ukuran dapat kecil-luas
Tidak nyeri kecuali telah erosi, bila erosi (nyeri)
ganas >>
Lokasi pada mukosa mulut (umumnya bucal, bibir,
gingiva), bila terdapat pada lidah atrofi papil
Perokok : lesi terletak pada batas bibir, smoker patch
(lesi pada vermilion bibir krn iritasi termal oleh pipa)
Orang tua: lesi pada daerah tak bergigi
Bentuk klinis : homogen, verrucose, speckled,
proliferatif verrucose leukoplakia (bhub dg HPV 16,18)
Prognosis : variatif dari regresi-progresi, bila progresi
menjadi displasia/keganansan

Gambaran klinis yang menunjukan perubahan ke

arah keganasan yaitu lesi merah dan putih. Adanya


indurasi, tepi menggulung, melekat pada pada
jaringan dibawahnya, berkembang dengan cepat.
Secara signifikan ukuran yang lebih besar
speckled lesion (9,1%) dan leukoplakia homogen
(1,3%) mengalami transformasi ke arah
keganasan. Resiko keganasan pada leukoplakia
erosif (termasuk eritema) dilaporkan menjadi lima
kali lebih tinggi dibandingkan leukoplakia biasa

Diagnosis:
Biopsi untuk menyingkirkan berbagai macam
kemungkinan penyebab, adakah diskeratosis?
Terapi:
Diskeratosis (-) : Hilangkan semua trauma, mikroba
Cukupi kebutuhan nutrisi (vitamin A, Bc, Fe)
Edukasi kotrol teratur
Diskeratosis (+) :
kecurigaan keganasan semakin kuat, tindakan dapat
berupa operatif (wide excisi, laser ablation, cryosurgery)
namun kemungkinan rekurensi masih tinggi.
Prognosis
Tergantung hasil biopsi, observasi dengan biopsi berkala
kadang diperlukan

HALITOSIS (Nafas bau)


Definisi :
Bau mulut yang tidak enak. Hal ini merupakan
suatu gejala, bukan penyakit.
Tergantung pada :
Waktu
Aliran liur
Populasi kuman
Proses fisiologis

Dibedakan menjadi 5
kelompok :
a. FAKTOR LOKAL PATOLOGIS:

Oral hygine buruk


Caries gigi
Penyakit jaringan rongga mulut
Noma
Neoplasma

b. FAKTOR LOKAL NON PATOLOGIS:


Pengurangan aliran saliva
Denture (gigi palsu) kotoran di antara gigi

palsu dan saliva

c. FAKTOR SISTEMIK PATOLOGIS:


DM
Gagal ginjal
Gagal hati
Abses saluran nafas
GI disturbance

d. FAKTOR SISTEMIK NON PATOLOGIS:


Makanan (petai, jengkol, bawang, dll..)

e. OBAT:
Obat untuk angina pektoris

Terima

kasih