You are on page 1of 41

LAPORAN SEMINAR

KASUS

SGD 4

DESAK
AYU
WULAN
MAS
SUARI
1202106010
I KADEK AGUS ANGGRIAWAN 1202106032
NI
MADE
MEGA
RATIH
PRATIWI
1202106061
NYOMAN AYU PUSPITASARI 1202106068
NI MADE ERAWATI 1202106077
I PUTU SENA PRATAMA 1202106078
I ANOM MESA WISNU SANTA 1202106079
COKORDA PUTRI NOVASARI D
1202106081

BAB
1

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

kondisi inflamasi rongga


pelvis
yang
dapat
mengenai
uterus,
tuba
falopii,
ovarium,
peritoneum pelvic, atau
sistem vascular pelvik

PID
PENGGUNA
AN
ANTIBIOTIK
Pengobatan yang tepat seperti
penggunaan antibiotik terhadap
penyakit ini akan dapat menekan
angka kejadian ini.

NEXT
berpotensi mengancam nyawa dan
sering menjadipenyebab infertilitas,
nyeri panggul dan kehamilan di luar
kandungan.

PENYAKI
T YANG
SERIUS

PENCEGAHA
N DAN
PENATALAKS
ANAAN YANG
TEPAT

diperlukan pencegahan dan


penatalaksanaan yang tepat untuk
mengurangi angka kejadian PID agar
dapat dicegah, didiagnosa secara
dini, dan ditatalaksana dengan
cepat, tepat dan segera

TUJUAN
Untuk mengetahui konsep penyakit
Pelvic Inflammatory Disease (PID).
Untuk mengetahui asuhan
keperawatan Pelvic Inflammatory
Disease (PID).
Untuk mengetahui efektivitas
penatalaksanaan antibiotika pada
klien dengan Pelvic Inflammatory
Disease (PID).

MANFAA
T
Bagi Perawat
Sebagai acuan dalam penatalksanaan intervensi
keperawatan saat penanganan pasien Pelvic
Inflammatory Disease (PID).
Bagi Mahasiswa
Menambah wawasan mahasiswa dalam mengetahui
konsep penyakit serta penerapan asuhan keperawatan
pada pasien Pelvic Inflammatory Disease (PID).
Bagi Rumah Sakit
Dapat dijadikan sebagai teori baru atau masukan dalam
alur penanganan pasien khususnya pada kasus Pelvic
Inflammatory Disease (PID)., sehinga dapat menurunkan
angka kekambuhan dan menekan lama perawatan.

BAB
2

TINJAUAN PUSTAKA

PID
Definisi PID
EPIDEMIOLOGI

ETIOLOGI

Pelvic inflammatory Disease (PID)


adalah kondisi inflamasi rongga pelvis
yang dapat mengenai uterus
(endometritis), tuba falopii (salpingitis),
ovarium (ooforitis), peritoneum pelvic,
atau sistem vascular pelvik

Patofisiologi
EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI
Definisi PID
EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI
ETIOLOGI

PID menyerang lebih dari 1 juta wanita


di Amerika dalam satu tahun dan ratarata menghabiskan biaya 4,2 milyar
dollar. Per tahunnya hamper 250.000
wanita masuk rumah sakit akibat PID
dan 100.000 orang mengalami prosedur
bedah, sisanya menjalani rawat jalan.
chlamydia trachomatis dan berisiko
pada Penggunaan IUD dan Hubungan
seks usia dini

PID
DEFINISI PID
EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI

PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI
KLINIS
KLASIFIKASI
Definisi PID
EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI
ETIOLOGI

PATOFISIOLOGI
Nyeri tekan organ pelvis
Leukorrhea dan mucopurulen
endoservisitis
Kriteria tambahan untuk
meningkatkan spesifisitas
diagnose
Biopsy endometrium yang
menunjukkan endometritis
Suhu lebih dari 38C
Derajat I
Derajat II
Derajat III

PID
DEFINISI PID
EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI

PATOFISIOLOGI
MANIFESTASI
KLINIS
KLASIFIKASI
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK

PENATALKSANAA
N

KOMPLIKASI

DIAGNOSIS BANDING

USG, TVS (transvaginal sonografi),


TAS (transabdominal sonografi), MRI
(magnetic resonance imaging), CT
(computed tomography)
Pasien mendapatkan antibiotic
spectrum luas. Wanita dengan infeksi
ringan dapat diobati di unit rawat
jalan, tetapi hospitalisasi mungkin
diperlukan pada waktu tersebut.
Terapi Pembedahan
Abses tuba ovarian
Apendicitis, Servisitis, Tumor adnexa,
Aborsi spontan, Kehamilan ektopik,
Kista ovarium, Torsio ovarium, Infeksi
saluran kemih, Endometriosis

PROGNOSIS
Prognosis pada umunya baik jika didiagnosa
dan diterapi segera. Terapi dengan antibiotik
memiliki angka kesuksesan sebesar 33-75%.
Terapi pembedahan lebih lanjut dibutuhkan
pada 15-20% kasus. Nyeri pelvis kronik timbul
pada 25% pasien dengan riwayat PID:
Gangguan fertilitas adalah masalah terbesar
pada wanita dengan riwayat PID. Rerata
infertilitas meningkat seiring dengan
peningkatan frekuensi infeksi. Resiko kehamilan
ektopik meningkat pada wanita dengan riwayat
PID sebagai akibat kerusakan langsung tuba
fallopi.

ASUHAN
KEPERAWATAN

KASUS
Ny. W.D.P (28 tahun) datang ke UGD RSUD wangaya
mengeluh nyeri perut bagian kiri bawah sampai
kepunggung dan kemaluan disertai flek-flek darah
pervaginam sejak tgl 9-9-2016 pasien sampai mengganti
pembalut 4x sehari nyeri dikatakan memberat saat BAK
skala nyeri 4 dari (1-10)., Pasien mengatakan dirinya
pernah mengalami keluhan penyakit yang sama seperti
saat ini pada tanggal 15 -8 2016 dirawat di RS swasta.
Pasien mengatakan BAK 5 - 7x/ hari nyeri (+), Darah (+)
warna seperti cucian daging. Pasien mengatakan tidak
tahu tentang penyakitnya dan khawatir dengan status
kesehatannya karena pasien sudah melakukan beberapa
kali pengobatan namun belum memperoleh hasil yang
optimal. Pasien mengatakan karena penyakitnya pasien
dan suaminya sudah tidak melakukan hubungan seksual
(coitus)

PENGKAJIAN
Identitas Pasien

Nama : Ny. W.D.P


Umur : 28 tahun (4-3-1988)
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status Perkawinan : menikah 1x
Agama : Hindu
Suku : Bali
Alamat : Br. Purwa Ds Pengastulan, Seririt - Buleleng
No. CM : 608838
Tanggal MRS : 11 09 2016 pkl. 19.04 wita
Tanggal Pengkajian : Senin, 13 09 2016 Pkl. 08.00 wita
Sumber Informasi: Pasien, Keluarga Pasien, Rekam Medik

Penanggung/ Suami
Nama : Bp. W
Umur : 32 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pegawai Swasta
Alamat : Br. Purwa Ds Pengastulan, Seririt - Buleleng
Hub. Dengan Klien : Suami Pasien

Riwayat Penyakit
Keluhan Utama (saat MRS dan sekarang)
Saat MRS dan pengkajian : Nyeri dibagian perut kiri
bawah menjalar ke pingang dan kemaluan. terutama
saat BAK
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke UGD RSUD wangaya mengeluh
nyeri pada perut kiri bawah hingga ke pingang dan
kemaluan disertai flek-flek darah pervaginam sejak
tgl 9-9-2016. Nyeri dirasakan memberat saat BAK
skala nyeri 4 dari (1-10), Pasien mengatakan dirinya
pernah mengalami keluhan penyakit yang sama
seperti saat ini pada tanggal 15 -8 2016 dan
dirawat di RS swasta.

Riwayat Penyakit Sebelumnya

Riwayat Obstetri dan Ginekologi


Keluhan Utama (saat MRS dan sekarang)
Saat MRS dan pengkajian : Nyeri dibagian perut kiri
bawah menjalar ke pingang dan kemaluan. terutama
saat BAK
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke UGD RSUD wangaya mengeluh
nyeri pada perut kiri bawah hingga ke pingang dan
kemaluan disertai flek-flek darah pervaginam sejak
tgl 9-9-2016. Nyeri dirasakan memberat saat BAK
skala nyeri 4 dari (1-10), Pasien mengatakan dirinya
pernah mengalami keluhan penyakit yang sama
seperti saat ini pada tanggal 15 -8 2016 dan
dirawat di RS swasta.

Riwayat Penyakit Sebelumnya

Riwayat Obstetri dan Ginekologi


Kom
Anak ke

Kehamil
an

Persalinan

plika

Anak

si
Nifas

No

Tah
un

Umur
Kehamila

Jenis

201

37 38

mg

SC

Penol

Perda

ong

rahan

Dokt

<

er

500

Jenis
Kelami

BB

PJ

3100

50

gr

cm

3015

48

gr

cm

n
P

cc
2

201

37 38

mg

SC

Dokt

<

er

500
cc

Akseptor KB
: jenis Suntik @ 3bulan
Lama
: sampai sekarang 6 bulan
Masalah
: Pasien mengatakan
semenjak menggunakan KB suntik nafsu makan
seperti bertambah dan tidak mengalami
masalah pada jadwal menstruasinya

Riwayat Penyakit Klien dan Keluarga


Pasien mengatakan di keluarganya maupun
keluarga suaminya tidak ada yang pernah
mengalami penyakit menular seperti HIV, TBC,
Hepatitis, dll serta penyakit genetik seperti
Hipertensi, Jantung, diabetes Melitus.
Pasien mengatakan dirinya pernah mengalami
keluhan penyakit yang sama seperti saat ini
pada tanggal 15 -8 2016 dan memeriksakan

Pola Fungsional Kesehatan


Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
Pasien mengatakan jika dirinya sakit pasien akan mengatasinya dengan
beristirahat atau minum obat yang biasa ia konsumsi, jika kondisinya
tidak kunjung membaik pasien akan memeriksakan dirinya ke pelayanan
kesehatan seperti Puskesmas dan RS.
Pasien mengatakan sebelum sakit dia selalu rutin menjaga kesehatan
khususnya berkaitan dengan penyakitnya seperti rutin mengganti celana
dalam 2x sehari. Pasien mengatakan penyakit yang dialaminya ini sangat
mengganggu aktivitasnya serta hubungannya dengan suaminya.

Nutrisi/ metabolic
5 hari Sebelum MRS : pasien makan 1 hari 3x dengan menu nasi, sayur,
lauk serta minum 800 1200 ml / hari
Saat MRS : pasien makan 1 hari 3x dengan menu Bubur, sayur, lauk serta
minum 1000 ml / hari ( tidak termasuk cairan dari infus)

Pola eliminasi
5 hari Sebelum MRS : px mengatakan BAK 4-5x/ hari nyeri (+), Darah (+)
warna terkadang seperti cucian daging
Saat MRS : px BAK 4-6x/hari warna kemerahan, BAB (-) px mengatakan
belum BAB sejak MRS

Pola aktivitas dan latihan


Kemampuan perawatan

diri
Makan/minum

Mandi

Toileting

Berpakaian

Mobilisasi di tempat tidur

Berpindah

Ambulasi ROM

Pola tidur dan istirahat


5 hari Sebelum MRS : px mengatakan tidurnya terganggu karena nyeri yang dialami dan cemas dengan
penyakitnya, pasien sulit untuk tidur, tidur malam 6-8 jam namun pasien sering terbangun.
Saat MRS pasien mengatakan tidurnya lebih lelap dan lebih sering tidur karena telah diberikan penghilang rasa
sakit, namun pasien masih cemas dengan penyakit yang dialaminya. Pasien mengatakan saat di RS sering Tidur
siang, tidur malam Pkl. 22.00 05.00.

Pola kognitif-perseptual
Pasien mengatakan tidak tau tentang penyakitnya dan cemas dengan penyakit yang dialam, pasien tampak
meringis dan memegang perutnya.
Pengkajian nyeri yang didapatkan pada pasien :
P : Nyeri karena proses infeksi pada panggul
Q : nyeri dirasakan teriris-iris
R : Perut kiri bawah sampai kepinggang dan kemaluan
S : 4 dari (1-10)
T : menetap dan memberat saat BAK dan setelah Jongkok

Pola persepsi diri/konsep diri


Pasien mengatakan menyukai semua bagian tubuhnya karena menurutnya setiap bagian tubuh memiliki fungsi
masing-masing namun jika 1 bagian saja sakit/ bermasalah maka akan mengganggu seluruh fungsinya.

Pola seksual dan reproduksi


Pasien mengatakan dirinya pernah mengalami keluhan penyakit yang sama seperti saat ini pada tanggal 15 -8
2016 dan dirawat di RS swasta.
pasien mengatakan karena sakitnya pasien mengalami sedikit masalah terkait pola seksual dengan suaminya.
Pasien mengatakan sudah lama tidak pernah berhubungan dengan suaminya (> 1 bulan ) karena penyakit yang
dialaminya

Pola peran-hubungan
Pasien mengatakan dirinya seorang anak dari 3 bersaudara, seorang istri dan seorang ibu dari 2 anaknya.
Pasein mengatakan tidak mengalami masalah terkait hubungannya dengan keluarganya selama px sakit.

Pola manajemen koping stress


Pasien mengatakan jika pasien memiliki masalah dan stress pasien akan menceritakannya kepada suaminya.

Pola keyakinan-nilai
Pasien beragama hindu. Pasien meyakini setiap masalah pasti memiliki jalan keluar, pasien meyakini penyakit

Keadaan Umum
GCS
: Eye 4 Verbal 5 Motorik 6 = 15
Tingkat Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda Vital
:
130
Tekanan Darah :
Nadi :87 x/menit
/ 90 mmHg
Respiration Rate : 20 x/menit
Temprature axilla : 36,8 oC
Berat badan
: 54 kg
Tinggi Badan : 152 kg

Head to toe
Kepala Wajah
Inspeksi :
Rambut pasien berwarna hitam sebahu distribusi merata, dandruf (+), wajah berwarna kuning
kecoklatan, pucat (-), nodul (-), bentuk wajah simetris, edema (-), px tampak meringis menahan
sakit.
Palpasi
: Benjolan (-), nyeri tekan(-)

Mata
Inspeksi
: Sklera berwarna putih, benjolan(-), bentuk mata simetris, pandangan normal /
simetris.
Palpasi
: nyeri tekan (-), masa (-)

Leher
Inspeksi : Edema (-), bentuk leher simetris, nodul (-), eritema (-)
Palpasi
: Nyeri tekan (-), masa (-),pembesaran vena jugularis (-)

Dada
Payudara
Inspeksi : Areola berwarna coklat tua
Puting : menonjol
Tanda dimpling/ retraksi : (-)
Palpasi
: Pengeluaran ASI (-) Adanya nodul : (-)

Palpasi
: Nyeri tekan (-), masa (-), Heart Rate
Perkusi
: Tidak dilakukan pengkajian.
Auskultasi : suara jantung S1 S2 tunggal regule, murmur (-), gallop (-)

Paru-paru
Inspeksi
: Retraksi dinding dada (-), pergerakan dinding dada simetris, pasien tidak menggunakan alat bantu
pernafasan. RR pasien 20x / menit
Palpasi
: Nyeri tekan (-)
Perkusi
: Tidak dilakukan pengkajian.
Auskultasi : suara nafas pasien vesikuler, ronchi (-), weezing (-)

Abdomen
Inspeksi
: Terdapat luka bekas SC.
Auskultasi : Bising usus 10x/ menit, edema (-), perut px teraba lembek
Palpasi
: Nyeri tekan (+), masa (-)
Perkusi
: Suara perut Timpani

Genetalia dan Perineum


Kebersihan : Cukup bersih
Keputihan : (+) warna putih, bau (-), gatal (-), kental (+)
Hemoroid : Tidak tampak, pasien mengatakan memiliki hemoroid dan sering perih jika makan terlalu pedas
secara rutin, tidak pernah keluar darah.
Perdarahan : (+) flek-flek

Ekstremitas
Atas
Oedema
: (-)
Varises
: (-)
CRT
: < 2 detik
Kekuatan Otot
: (+)
Tonus
:
Bawah
Oedema
: (-)
Varises
: (-)
CRT
: < 2 detik
Kekuatan Otot
: (+)
Tonus
:

Data Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan darah
lengkap, urinalisa (terlampir)
Pemeriksaan USG tgl 11 9 - 2016
Tidak tampak pembesaran pada Ginjal dan VU, tidak
tampak masa, Sonografi organ abdomen laindalam
batas normal.

Diagnosa Medis
Pelvic Inflamatory Disease (PID)

Pengobatan
Claneksi (amocilin) 1 gr intravena @ 8 jam : Antibiotika
Asam mefenamat 500 mg inta oral @ 8 Jam : Analgetik
IVFD Ringger Laktat 20 tpm

Tanda-tanda Vital :
Tekanan Darah : 130/ 90 mmHg
Respiration Rate : 20 x/menit
Berat badan
: 54 kg

Nadi :87 x/menit


Temprature axilla : 36,8 oC
Tinggi Badan : 152 kg

PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah Lengkap ( Hematologi) 11 9


2016 Pkl. 18.39 wita
Jumlah Leukosit : 11.5 10^3/ulL(High)
PCT
: 0.40 % (High)
Hemoglobin : 12 d/dL
Monosit : 6.8 %
Trombosit
: 346 10^3/uL
Neutrofil
: 48.0 % (Low)
Eosinofil : 11.6% (High)
IG
: 0.3 % (High)

Urine Lengkap Tanggal : 11 9 2016 pkl. 18. 39 Wita


Darah (Blood) +1
Bakteri Negatif

Pemeriksaan USG tgl 11 9 - 2016


Tidak tampak pembesaran pada Ginjal dan VU, tidak tampak masa,
Sonografi organ abdomen lain dalam batas normal.

LAMPIRAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

ASUHAN KEPERAWATAN

ANALISA DATA

Rencana
Keperawatan
PK Infeksi
Noc label
Infection Severity
NIC LABEL: Infection
Control
Infection Protection

Nyeri Akut
NOC Label : Pain level
NOC Label : Pain control
NIC Label : Pain
Management

NOC Label :
Anxiety Self-control
NOC Label : Anxiety Level
NOC Label : Coping
NOC label: Knowledge:
Disease Proces
NOC label: Knowledge:
Illness Care
NIC Label : Anxiety
Reduction
NIC Label: Emotional
Support
NIC label: Health Education

Ketidakefektifa
n pola
hubungan
seksual

ASUHAN KEPERAWATAN

IMPLEMENTASI

ASUHAN KEPERAWATAN

EVALUASI

PEMBAHASAN

RINGKASAN JURNAL
Center For Disease Control And Prevention (CDC) (2015), menerbitkan guideline
penatalaksanaan untuk penyakit menular seksual salah satunya PID yang
menyebutkan jika penggunaan beberapa antimikrobial secara oral maupun
parenteral efektif dalam penyembuhan secara klinis dan mikrobiologis pada
beberapa penelitian dalam jangka pendek. Penatalaksanaan PID harus memiliki
spektrum yang luas terhadap patogen sejenis. Berbagai macam jenis pengobatan
direkomendasikan baik parenteral maupun oral seperti clindamycin, gentammicin,
cefoxitin, ampicilin sulbactam, doxyciclin, ceftriacxon, metronidazole. Menurut
Sweet (2011) dalam memberikan pengobatan antibiotika harus berdasarkan pada
polimikrobial alami dari infeksi. Menurut Goverment of Western Australia (2015)
ada banyak pilihan antimikrobial potensial untuk mengobati PID. Beberapa
rejimen parenteral antimikroba memiliki jangka pendek yang sangat baik efikasi
klinis dan mikrobiologis. Sebagian besar literatur mendukung kombinasi cefoxitin
atau cefotetan ditambah doxycycline dan klindamisin ditambah gentamisin.
rejimen parenteral ini direkomendasikan oleh CDC untuk pengobatan PID. Terapi
oral sama efektifnya dengan regimen parenteral, terutama untuk pencegahan
gejala sisa jangka panjang. Studi PEACH telah memberikan bukti yang mendukung
penggunaan rejimen lisan secara rawat jalan untuk pengobatan ringan dan cukup
parah pada PID akut. PEACH tidak hanya dinilai jangka pendek tetapi juga hasil
jangka panjang selama lebih dari 800 pasien (398 rawat inap dan 410 pasien
rawat jalan) dengan PID ringan sampai cukup parah. Sebagaimana dicatat oleh
CDC , terapi oral rawat jalan bisa dipertimbangkan untuk pengobatan wanita
dengan ringan-sedang- PID akut.

Keuntungan
Penatalaksanaan
Antibiotik pada PID

Terdapat jenis antibiotik yang memiliki


spektrum luas
Terapi antibiotik sudah sesuai dengan
evidence based untuk menangani PID
Dilakukan screening seperti
pemeriksaan vaginal, swab test,
pemeriksaan darah, urine dan USG

Kelemahan
Penatalaksanaan PID
Di Bali belum semua menerapkan
skrining pada pasangan seksual pasien
dengan PID untuk mengetahui adanya
klamidia dan infeksi gonokal.
Keberhasilan dari pengobatan antibiotik
untuk PID ini dipengaruhi oleh keinginan
dan kepatuhan pasien mengonsumsi
obat serta keparahan penyakit.

Hambatan dalam
Penatalaksanaan PID
Tidak semua jenis antibiotik dapat
ditanggung oleh jaminan kesehatan yang
dimiliki oleh pasien sehingga pasien tidak
bisa mendapatkan antibiotik yang sesuai
dengan jenis bakteri yang menginfeksi.

Intervensi yang dapat


dilakukan di tatanan
Keperawatan dalam
Penatalaksanaan pasien
dengan PID yaitu :

Perawat sebagai edukator


Perawat sebagai fasilitator
Perawat sebagai care giver

Penatalaksanaan antibiotika
pada klien dengan Pelvic
Center For Disease
Control And Prevention
Infection
Disease
(PID)(CDC) (2015),

menerbitkan guideline penatalaksanaan untuk penyakit menular


seksual salah satunya PID yang menyebutkan jika penggunaan
beberapa antimikrobial secara oral maupun parenteral efektif dalam
penyembuhan secara klinis dan mikrobiologis pada beberapa
penelitian dalamjangka pendek. Penatalaksanaan PID harus memiliki
spektrum yang luas terhadap patogen sejenis. Berbagai macam jenis
pengobatan direkomendasikan baik parenteral maupun oral seperti
clindamycin, gentammicin, cefoxitin, ampicilin sulbactam, doxyciclin,
ceftriacxon, metronidazole. Menurut Sweet (2011) dalam
memberikan pengobatan antibiotika harus berdasarkan pada
polimikrobial alami dari infeksi. Mikroorganisme yang diketahui
terdapat pada saluran genitalia atas dari wanita dengan PID meliputi
N. gonorrhoeae, C., trachomatis, bakteri anaerob dan aerob yang
biasanya merupakan flora endogenous vagina dan genital
mycoplasmas, khususnya M. genitalium.
Menurut Goverment of Western Australia (2015) ada banyak pilihan
antimikrobial potensial untuk mengobati PID. Sebaiknya perlu
didiskusikan dengan mikrobiologi jika pengobatan sebelumnya tidak

Sambungan..
Pada klien ibu WDP. Penatalaksanaan yang diperoleh klien sesuai dengan riwayat dan
keterangan dari klien antara lain klien pada awal perawatan memperoleh pengobatan
antibiotika karena dari hasil darah lengkap yang diperoleh di rumah sakit sebelumnya
menujukkan hasil lebih dari normal. Kemudian klien masuk dan dirawat di ruang dara
dan memperoleh pengobatan antara lain clanexi 1000 mg dan asam mefenamat 500
mg, pemeriksaan diagnostik yang diperoleh oleh klien antara lain pemeriksaan darah
lengkap, urinalisis dan pemeriksaan USG.
Dalam penegakan diagnosa PID memang sulit untuk dipastikan melalui pengkajian
secara empiris dilihat dari gejal klinis oleh karena itu diperlukan pemeriksaan
diagnostik lain, karena tidak tepatnya diagnosis dan manajemen PID dapat
menyebabkan morbiditas yang tidak perlu terjadi (Sweet, 2011).
Pada kasus ini klien dapat diberikan antimikrobial dalam spektrum luas jika belum
diketahui secara spesifik mikroorganisme penyebab infeksi pada klien. Jika dalam
waktu 48 jam tidak ada perbaikan klinis maka antimikrobial yang diberikan harus lebih
spesifik oleh karena itu klien harus dilakukan pemeriksaan kultur atau biopsi ataupun
pemeriksaan laparoskopi untuk mengetahui mikroorganisme spesifik penyebab infeksi
pada klien. Sesuai dengan yang disebutkan dalam guideline Goverment of Wester
Australia, jika tindak lanjut penting untuk memastikan gejala yang telah ditimbulkan
dalam pengobatan, bila pasien telah sesuai dengan obat-obatan, pasangan sudah
diberikan perawatan serta jika Chlamydia trachomatis dan/atau Neisseria gonorrhea
atau mikroorganisme patogen penyebab telah terdeteksi. Jika salah satu dari faktorfaktor ini masih belum terselesaikan, tes obat mungkin diperlukan. Pasien harus

BAB
5

SIMPULAN SARAN

antimikrobial dalam spektrum luas jika belum


SIMPULAN

diketahui secara spesifik mikroorganisme


penyebab infeksi pada klien. Jika dalam waktu 48
jam tidak ada perbaikan klinis maka antimikrobial
yang diberikan harus lebih spesifik oleh karena
itu pasien harus dilakukan pemeriksaan kultur
atau biopsi ataupun pemeriksaan laparoskopi
untuk mengetahui mikroorganisme spesifik
penyebab infeksi. Berbagai macam jenis
pengobatan direkomendasikan baik parenteral
maupun oral seperti clindamycin, gentammicin,
cefoxitin, ampicilin sulbactam,
doxyciclin,ceftriacxon, metronidazole. Dimana
nantinya hasil uji bakteri yang menginfeksi akan
disesuaikan dengan terapi yang diberikan, terapi
yang diberikan dikhususkan pada jenis bakteri

Saran
Disarankan dalam penanganan kasus PID
dilakukan uji kultur terlebih dahulu melalui apusan
kultur untuk menentukan jenis bakteri yang
menginfeksi, dimana selanjutnya dapat
menentukan penggunaan antibiotik yang sesuai
dengan jenis bakteri tersebut.
Disarankan pada penanganan kasus PID untuk
dilakukan pengecekan secara berkala baik pada
kasus rawat inap maupun rawat jalan untuk
menekan angka kejadian kekambuhan maupun
perluasan diagnosis

JURNAL
Jurnal Utama
Jurnal Pendukung 1
Jurnal Pendukung 2

MATUR SUKSMA

MATUR SUKSMA