You are on page 1of 34

Horizontal

Directional
Drilling
Pemboran Horisontal
Terarah

Pemboran horizontal (horizontal drilling)


merupakan ilmu pengetahuan terapan dari
Teknik Perminyakan yaitu suatu pengetahuan
tentang
teknik
pengeboran
dalam
membengkokkan arah lubang sumur dari
kedalaman vertikal kearah horizontal pada
jarak dan arah tertentu untuk mencapai
suatu formasi yang dituju. Jadi pemboran
berarah hanya dilakukan karena alasanalasan dan keadaan yang khusus saja

Ilustrasi..

Alasan Topografis
Pemboran berarah disini dilakukan apabila
keadaan di permukaan tidak
memungkinkan untuk mendirikan lokasi
pemboran, misalnya:
Formasi produktif terletak dibawah
paya-paya, sungai.
Formasi produktif terletak di bawah
bangunan-bangunan, perkotaan.

Untuk reservoir
hidrokarbon di bawah
sungai, danau, dan laut yang
masih dekat dengan daratan,
jika dilakukanstraight hole
drillingatauvertical drilling,
lokasi permukaannya adalah
air, artinya kita menggunakan
peralatan layaknyaoffshore
drilling. Biasanya pemboran
secaraoffshore
drillingdibutuhkan biaya yang
sangat besar. Jika biaya
pemboran berarah dalam
kasus ini lebih murah
dibandingkan pemboran
secaraoffshore drilling, maka
dilakukanlah pemboran
berarah, dengan titik lokasi
masih didaratan.

Target
Dibawah
Perkotaan, Apabila dibuat
lubang
vertical
dari
permukaan
sampai
ke
target, harus dibuat lokasi
pemboran.
Harus ada
pembebasan tanah pada
daerah
perkotaan,
perumahan, dan lalu lintas
yang ramai. Untuk itu tidak
dilakukan
straight
hole
drilling. Tetapi dicari lokasi
yang murah di luar daerah
perkotaan yang mempunyai
kegiatan yang tidak ramai.
Lubang
diarahkan
ke
reservoir secara directional
drilling. Gambarannya dapat
dilihat disamping.

Alasan Geologis
Pemboran berarah disini dilakukan untuk
menghindari kesulitan apabila dibor
secara vertikal misalnya:
Adanya kubah garam (salt dome).
Adanya patahan.

Salt
dome
(kubah
garam)
adalah sebuah gundukan atau
kolom garam dalam jumlah besar
yang terangkat ke permukaan bumi
karena perbedaan massa jenis
batuan dengan massa jenis garam
itu sendiri. Jika dilakukan pemboran
vertikal dari permukaan sampai ke
target dengan menembus kubah
garam, banyak permasalahan yang
harus
dihadapi,
seperti
akan
mengakibatkan
loss
circulation
karena kubah garam mempunyai
porositas dan permeabilitas yang
sangat baik sehingga kolom lumpur
akan berkurang dan akan memacu
terjadinya kick. selain itu garam
akan larut, dan dinding lubang
akan runtuh karena sifat fisik kubah
garam tidak kompak (massive)
yang akibatnya pipa akan terjepit
(pipe stucking). Untuk itu kubah
garam harus dihindari, dengan
melakukan directional drilling.

Click icon to
add picture

Click
icon to
Reservoir berada di
bawah patahan, jika
add
picture
dilakukan
vertical drilling
yang menembus patahan,
hal ini dapat menimbulkan
permasalahan pemboran
seperti saat pemboran
berlangsung,bitdandrillst
ringakan cendrung
mengikuti sela-sela
patahan, selain itu akan
terjadiloss circulationpada
saat menembus patahan
tersebut, walaupun disaat
pemboran permasalahan
tersebut dapat diatasi
namun kemudian akan
timbul permasalahan lagi
dimana lubang akan
terpotong oleh patahan.

Alasan-alasan Lain
Pemboran yang dilakukan dengan sistem gugusan
sumur (cluster system) untuk menghemat luasnya
lokasi pemboran. Misalnya di lepas pantai. Di
permukaan dibuat beberapa sumur, kemudian di bawah
permukaan lubang sumur tersebut menyebar. Sistem ini
juga dapat dilakukan pada pemboran di daratan.
Mengatasi semburan liar (blow out) dengan relief well.
Menghindari garis batas di permukaan.
Menyimpang dari garis lurus.

Click icon to
Bila semua sumur dibuat
add
picture
vertikal di lepas pantai
maka haruslah dibuat
platform untuk satu
sumur, untuk pelaksanaan
ini bviayanya sangat
mahal. Jadi untuk
menghemat biaya
dibuatlah satu sumur
vertikal dan sumur lainnya
dibuat berarah menuju
Reservoir yang telah
ditentukan untuk satu
platform. Sistem ini
disebut offshore Cluster
System.

Click icon to
add picture
Bila suatu sumur
mengalami blow out dan
terbakar, maka dibuat satu
atau dua sumur berarah
menuju formasi yang
menyebabkan terjadinya
blow out tersebut, dimana
melalui sumur yang dibuat
tadi dipompakan fluida
untuk mematikan sumur
yang terbakar. Sumur ini
disebut Relief Well.

Click icon to
add picture
Pemboran berarah akan
dilakukan jikapada
permukaan terdapat
batas yang tidak
memungkinkan untuk
menempatkan titik
lokasi agar dapat
dilakukan pemboran
vertikal. seperti tempattempat keramat, batas
kepemilikan tanah, dll.

Click icon to
add picture
Pada suatu pemboran
sumur, terkadangada
barang-barang yang
jatuh, pipa terjepit atau
putus yang tidak dapat
diangkat ke
permukaan. Maka pada
umumnya lubang yang
sudah dibor tersebut
disemen, kemudian lubang
sumur dibelokkan dan
diarahkan kembali menuju
Reservoir yang akan
ditembus.

TIPE PEMBORAN BERARAH


Shallow

Deviation Type : Kick Off


Point terletak di kedalaman yang
dangkal
Deep Deviation Type : Kick Off Point
terletak jauh didalam permukaan
tanah
Return to Vertical Type
Pemilihan didasarkan pada lokasi
koordinat di permukaan dan jarak
antara lokasi dengan sasaran

Build and Hold Trajectory or L


Profile Wells

S Profile Wells
(as they are S shaped)

Deep Kick off


wells or J Profile
wells
(as they are J - shaped

Horizontal wells
or Horizontal
Directional Wells

Masalah Akibat Kemiringan


Lubang Bor
Fatigue

Failure pada drill pipe


Key Seating (Gbr. 11)
Berkurangnya umur drill pipe
karena tension pada tool joint

DEFLECTION TOOLS
Badger

Bit : Adanya satu buah


nozzle besar pada bit untuk
mengarahkan lubang
Spud Bit : bentuk seperti baji dan
memiliki nozzle
Knuckle Joint : Drill String dengan
sendi peluru sehingga terjadi
putaran bersudut antara drill string
dan bit

DEFLECTION TOOLS
Whipstock

: Lengkungan bisa dari 1


hingga 7 derajat
Turbo Drill : Down Hole Motor untuk
memutar bit Dyna Drill : sama
seperti turbo drill

Metoda Pengarahan
Lubang Bor
Metoda

Stokenbury Drill Pipe


Alignment : memakan waktu
panjang dan sering salah
Metoda Orientasi Dasar Lubang :
Lebih banyak digunakan

FAKTOR PENGARUH KEMIRINGAN


DAN ARAH LUBANG BOR
Faktor

Formasi :

Miniature

Whipstock Theory, untuk


formasi keras Formation Drillability
Theory, untuk formasi keras-lunak,
berselang seling
Formasi dengan perlapisan > 45o
Faktor Mekanis :
Drill Collar yang tidak kekar
Beban bit yang berlebihan
Perubahan BHA

PENGONTROLAN TERHADAP
PENYIMPANGAN
Teori

Pendulum : Sudut kemiringan


lubang bor akan bertambah besar
karena kontak drill string dengan
dinding
Penggunaan Drill Collar dengan
Stabilizer : Memanfaatkan teori
Pendulum untuk mengatur titik kontak
drill string dengan lubang
Penggunaan single stabilizer dari Woods