You are on page 1of 65

SANTI KARTIKASARI,dr

Sistem yang berfungsi untuk


berkembang biak

Reproduksi secara fisiologis tidak


vital bagi kehidupan individual dan
meskipun siklus reproduksi suatu
manusia berhenti, manusia tersebut
masih dapat bertahan hidup

reproduksi baru dapat berlangsung


setelah manusia tersebut mencapai masa
pubertas atau dewasa kelamin, dan hal
ini diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin
dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh
bagian dari proses tubuh yang
bertanggung jawab terhadap
kelangsungan suatu generasi.

organ-organ reproduksi
spermatogenesis
hormon pada pria.

Organ reproduksi pria terdiri atas


organ reproduksi dalam
organ reproduksi luar
Organ Reproduksi Dalam
testis,
saluran pengeluaran
kelenjar asesoris

Organ Reproduksi Luar


penis
skrotum

Penis terdiri dari:


- Akar (menempel pada dinding
perut)
- Badan (merupakan bagian tengah
dari penis)
- Glans penis (ujung penis yang
berbentuk
seperti kerucut

Lubang uretra (saluran tempat


keluarnya semen dan air kemih)
terdapat di ujung glans penis.
Dasar glans penis disebut korona.
Pada pria yang tidak disunat
(sirkumsisi), kulit depan (preputium)
membentang mulai dari korona
menutupi glans penis

Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris


(sinus) jaringan erektil:
- 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut
corpus cavernosus, terletak bersebelahan.
- Rongga yang ketiga disebut corpus
spongiosum, mengelilingi uretra.

Jika rongga rongga tersebut terisi darah,


maka penis menjadi lebih besar, kaku dan
tegak (mengalami ereksi).

Scrotum merupakan kantung berkulit tipis


yang mengelilingi dan melindungi testis.
Scrotum juga bertindak sebagai sistem
pengontrol suhu untuk testis, karena agar
sperma terbentuk secara normal,
Testis harus memiliki suhu yang sedikit
lebih rendah dibandingkan dengan suhu
tubuh.

Otot kremaster pada dinding skrotum


akan mengendur atau mengencang
sehingga testis menggantung lebih
jauh dari tubuh (dan suhunya
menjadi lebih dingin) atau lebih dekat
ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih
hangat).

Testis berjumlah sepasang(testes =


jamak). Testis kiri dan kanan dibatasi
olehsuatu sekat yang terdiri dari serat
jaringan ikat dan otot polos.
Biasanya testis kiri agak lebih rendah
dari testis kanan
Testis berbentuk lonjong dengan ukuran
sebesar buah zaitun dan terletak di
dalam skrotum.
Ukuran testis pada orang dewasa
adalah 4 x 3 x 2,5 cm, dengan volume
15 25 ml berbentuk avoid

Testis menghasilkan Follicle


Stimulating Hormone (FSH) dan
Luteinizing Hormone (LH) juga
hormon testosterone
Secara umum berfungsi membentuk
sperma

Membentuk gamet-gamet baru yaitu


spermatozoa, dilakukan di Tubulus
seminiferus.
Menghasilkan hormon testosteron,
dilakukan oleh sel interstitial.
Testis memiliki 2 fungsi, yaitu:
Pembentukan sperma oleh tubulus
seminiferus.
Pembentukan hormon testosteron oleh
sel leydig

Saluran pengeluaran pada organ


reproduksi dalam pria terdiri dari:
epididimis,
vas deferens,
saluran ejakulasi
uretra.

Vas deferens merupakan saluran yang


membawa sperma dari epididimis.
Saluran ini berjalan ke bagian belakang
prostat lalu masuk ke dalam uretra dan
membentuk ductus ejakulatorius.
Struktur lainnya (misalnya pembuluh
darah dan saraf) berjalan bersamasama vas deferens dan membentuk
corda spermatika.

Vas deferens atau saluran sperma


(duktus deferens) merupakan saluran
lurus yang mengarah ke atas dan
merupakan lanjutan dari epididimis.
Vas deferens tidak menempel pada
testis dan ujung salurannya terdapat di
dalam kelenjar prostat.
Vas deferens berfungsi sebagai saluran
tempat jalannya sperma dari epididimis
menuju kantung semen atau kantung
mani (vesikula seminalis).

Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran
pendek yang menghubungkan
kantung semen dengan uretra.
Saluran ini berfungsi untuk
mengeluarkan sperma agar masuk ke
dalam uretra.

Fungsi Uretra:
- Bagian dari sistem kemih yang
mengalirkan air kemih dari kandung
kemih
- Bagian dari sistem reproduksi yang
mengalirkan semen.

Kelenjar Asesoris
Selama sperma melalui saluran
pengeluaran, terjadi penambahan
berbagai getah kelamin yang dihasilkan
oleh kelenjar asesoris.
Getah-getah ini berfungsi untuk
mempertahankan kelangsungan hidup
dan pergerakakan sperma.
Kelenjar asesoris merupakan kelenjar
kelamin yang terdiri dari vesikula
seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar
Cowper.

Kelenjar prostat terletak di bawah kandung


kemih di dalam pinggul dan mengelilingi bagian
tengah dari uretra.

Biasanya ukurannya sebesar walnut dan akan


membesar sejalan dengan pertambahan usia

Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra


dan terletak di bagian bawah kantung kemih.
Kelenjar prostat menghasilkan getah yang
mengandung kolesterol, garam dan fosfolipid
yang berperan untuk kelangsungan hidup
sperma.

Prostat mengeluarkan sekret cairan yang


bercampur secret dari testis, perbesaran
prostate akan membendung uretra dan
menyebabkan retensi urin.
Kelenjar prostat, merupakan suatu
kelenjar yang terdiri dari 30-50 kelenjar
yang terbagi atas
4 lobus yaitu:
Lobus posterior
Lobus lateral
Lobus anterior
Lobus medial

Fungsi Prostat:
Menambah cairan alkalis pada cairan
seminalis yang berguna untuk
melindungi spermatozoa terhadap
sifat asam yang terdapat pada uretra
dan vagina.
Di bawah kelenjar ini terdapat
Kelenjar Bulbo Uretralis yang memilki
panjang 2-5 cm. fungsi hampir sama
dengan kelenjar prostat

Kelenjar Cowper (kelenjar


bulbouretra) merupakan kelenjar
yang salurannya langsung menuju
uretra. Kelenjar Cowper
menghasilkan getah yang bersifat
alkali (basa).

Prostat dan vesikula seminalis


menghasilkan cairan yang merupakan
sumber makanan bagi sperma. Cairan
ini merupakan bagian terbesar dari
semen. Cairan lainnya yang membentuk
semen berasal dari vas deferens dan
dari kelenjar lendir di dalam kepala
penis.
Fungsi Vesika seminalis :
Mensekresi cairan basa yang
mengandung nutrisi yang membentuk
sebagian besar cairan semen

Merupakan saluran halus yang panjangnya 6


cm terletak sepanjang atas tepi dan belakang
dari testis.

Saluran berkelok-kelok di dalam skrotum yang


keluar dari testis. Epididimis berjumlah sepasang
di sebelah kanan dan kiri

Epididimis terdiri dari kepala yang terletak di atas


katup kutup testis, badan dan ekor epididimis
sebagian ditutupi oleh lapisan visceral, lapisan ini
pada mediastinum menjadi lapisan parietal.

Saluran epididimis dikelilingi oleh jaringan ikat,


spermatozoa melalui duktuli eferentis merupakan
bagian dari kaput (kepala) epididimis.
Duktus eferentis panjangnya 20 cm, berbelok-belok
dan membentuk kerucut kecil dan bermuara di duktus
epididimis tempat spermatozoa disimpan, masuk ke
dalam vas deferens
Fungsi dari epididimis yaitu

sebagai saluran penghantar testis, mengatur sperma


sebelum di ejakulasi, dan memproduksi semen.
tempat penyimpanan sementara sperma sampai sperma
menjadi matang dan bergerak menuju vas deferens

Merupakan kelanjutan dari epididimis ke


canalis inguinalis, kemudian ductus ini
berjalan masuk ke dalam rongga perut
terus ke kandung kemih
Di belakang kandung kemih akhirnya
bergabung dengan saluran vesica
seminalis dan selanjutnya membentuk
ejaculatorius dan bermuara di prostate.
Panjang duktus deferens 50-60 cm.

a. FSH
Menstimulir spematogenesis.
b. LH
Menstimulir Sel Interstitiil Leydig
untuk memproduksi Testosteron.
c. Testosteron
Bertanggung jawab dalam perubahan
fisik laki-laki terutama organ seks
sekundernya.

Efek hormon testoteron pada pria:


Sebelum lahir:
a. Maskulinasi saluran reproduksi dan
genital eksterna
b. Mendorong penurunan testis ke
skrotum
Efek reproduksi
c. Pertumbuhan dan pematangan organ
reproduksi
d. Penting dalam spermatogenesis

Perkembangan spermatogonia menjadi


spermatozoa.
Berlangsung 64 hari.
Spermatogonia berkembang menjadi
spermatozit primer.
Spermatozit primer menjadi spermatozit
sekunder.
Spermatozit sekunder berkembang menjadi
spermatid.
Tahap akhir spermatogenesis adalah
pematangan spermatid menjadi spermatozoa.
Ukuran spermatozoa adalah 60 mikron.
Spermatozoa terdiri dari kepala, badan dan
ekor

Ereksi merupakan peristiwa


neurofisiologis yang kompleks. Peristiwa
ini terjadi ketika darah dengan cepat
mengalir kedalam penis dan
terperangkap di dalam rongga
spongiosum.
Terdapat 3 sistem yang terlibat
langsung dengan ereksi penis :
Corpus Cavernosum yang memiliki
struktur menyerupai spons (busa)
Persarafan otonom penis
Pasokan darah ke penis

Kekakuan penis terutama akibat perananan


corpus cavernosum
Corpus Spongiosum juga kencang saat
ereksi namun tidak kaku

Fisiologi dasar ereksi yang paling mudah


difahami adalah dengan memperhatikan
bahwa setiap corpus cavernosum
dibayangkan sebagai ruang lakunar secara
terpisah

Arteri (helikan) yang kecil mengalirkan darah


kedalam rongga lakukar yang dikelilingi otot
polos didalam dinding trabekular.
Arteri ini memiliki dinding muskular yang
kaku.
vena kecil yang keluar dari rongga lakunar
berubah menjadi venule (subtunika) yang
lebih besar.
Venula subtunika mengalirkan darah ke
tunika albuginea dan membentuk vena
emisaria. Tak seperti halnya dengan arteri,
vena memiliki dinding yang amat fleksibel
dan dapat di kompresi

Saat penis dalam keadaan kendor, otot polos


pada dinding lakunar berada dalam keadaan
kontraksi.
Kontraksi ini dipertahankan oleh serat saraf
simpatis noradrenergik. Tonus noradrenergik di
blok akibat aktivasi sistem parasimpatis
sehingga otot intralakunar mengalami relaksasi.
Reflek ereksi dapat dibangkitkan oleh sinyal
aferen dari ujung saraf sensoris pada glans
penis yang dimediasi pada lokasi setinggi
medula spinalis
Peranan testosteron pada fungsi ereksi masih
belum diketahui dengan pasti.

Saat ejakulasi hampir terjadi, turgor


penis meningkat lebih kuat. Otot
polos dalam prostat, vas deferen dan
vesikula seminalis berkontraksi
secara berurutan untuk
mengeluarkan cairan semen dan
spermatozoa kedalam urethra pada
suatu proses yang disebut emisi

Spermatogenesis terjadi di dalam di


dalam testis, tepatnya pada tubulus
seminiferus.
Spermatogenesis mencakup
pematangan sel epitel germinal dengan
melalui proses pembelahan dan
diferensiasi sel, yang bertujuan untuk
membentuk sperma fungsional.
Pematangan sel terjadi di tubulus
seminiferus yang kemudian disimpan di
epididimis.

Pintalan-pintalan tubulus seminiferus terdapat


di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis).
Satu testis umumnya mengandung sekitar 250
lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari
sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel
benih) yang disebut spermatogonia
(spermatogonium = tunggal). Spermatogonia
terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-sel
epitel tubulus seminiferus. Spermatogonia
terus-menerus membelah untuk
memperbanyak diri, sebagian dari
spermatogonia berdiferensiasi melalui tahaptahap perkembangan tertentu untuk
membentuk sperma.

Pada tahap pertama spermatogenesis,


spermatogonia yang bersifat diploid (2n atau
mengandung 23 kromosom berpasangan),
berkumpul di tepi membran epitel germinal
yang disebut spermatogonia tipe A.
Spermatogenia tipe A membelah secara mitosis
menjadi spermatogonia tipe B. Kemudian,
setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini
akhirnya menjadi spermatosit primer yang
masih bersifat diploid.
Setelah melewati beberapa minggu, setiap
spermatosit primer membelah secara meiosis
membentuk dua buah spermatosit sekunder
yang bersifat haploid

Spermatosit sekunder kemudian


membelah lagi secara meiosis
membentuk empat buah spermatid.
Spermatid merupakan calon sperma
yang belum memiliki ekor dan bersifat
haploid (n atau mengandung 23
kromosom yang tidak berpasangan).
Setiap spermatid akan berdiferensiasi
menjadi spermatozoa (sperma). Proses
perubahan spermatid menjadi sperma
disebut spermiasi.

Ketika spermatid dibentuk pertama kali,


spermatid memiliki bentuk seperti sel-sel
epitel. Namun, setelah spermatid mulai
memanjang menjadi sperma, akan terlihat
bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.
Kepala sperma terdiri dari sel berinti tebal
dengan hanya sedikit sitoplasma. Pada
bagian membran permukaan di ujung kepala
sperma terdapat selubung tebal yang
disebut akrosom.
Akrosom mengandung enzim hialuronidase
dan proteinase yang berfungsi untuk
menembus lapisan pelindung ovum

Pada ekor sperma terdapat badan sperma


yang terletak di bagian tengah sperma.
Badan sperma banyak mengandung
mitokondria yang berfungsi sebagai
penghasil energi untuk pergerakan
sperma.
Semua tahap spermatogenesis terjadi
karena adanya pengaruh sel-sel sertoli
yang memiliki fungsi khusus untuk
menyediakan makanan dan mengatur
proses spermatogenesis.

Proses spermatogenesis distimulasi


oleh sejumlah hormon:
Testoteron,
LH (Luteinizing Hormone),
FSH (Follicle Stimulating Hormone),
Estrogen
Hormon pertumbuhan.(Growth
Hormon)

Testoteron disekresi oleh sel-sel


Leydig yang terdapat di antara
tubulus seminiferus.
Hormon ini penting bagi tahap
pembelahan sel-sel germinal untuk
membentuk sperma, terutama
pembelahan meiosis untuk
membentuk spermatosit sekunder.

LH disekresi oleh kelenjar hipofisis


anterior. LH berfungsi menstimulasi sel-sel
Leydig untuk mens
sekresi testoteron
FSH (Follicle Stimulating Hormone)
FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar
hipofisis anterior dan berfungsi
menstimulasi sel-sel sertoli. Tanpa
stimulasi ini, pengubahan spermatid
menjadi sperma (spermiasi) tidak akan
terjadi.

Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli


ketika distimulasi oleh FSH
. Sel-sel sertoli juga mensekresi suatu
protein pengikat androgen yang
mengikat testoteron dan estrogen serta
membawa keduanya ke dalam cairan
pada tubulus seminiferus
. Kedua hormon ini tersedia untuk
pematangan sperma.

Hormon pertumbuhan diperlukan


untuk mengatur fungsi metabolisme
testis.
Hormon pertumbuhan secara
khusus meningkatkan pembelahan
awal pada spermatogenesis.

Hipogonadisme
Hipogonadisme adalah penurunan
fungsi testis yang disebabkan oleh
gangguan interaksi hormon, seperti
hormon androgen dan testoteron.
Gangguan ini menyebabkan infertilitas,
impotensi dan tidak adanya tandatanda kepriaan. Penanganan dapat
dilakukan dengan terapi hormon.

Kriptorkidisme
Kriptorkidisme adalah kegagalan dari
satu atau kedua testis untuk turun dari
rongga abdomen ke dalam skrotum pada
waktu bayi.
Hal tersebut dapat ditangani dengan
pemberian hormon human chorionic
gonadotropin untuk merangsang
testoteron.
Jika belum turun juga, dilakukan
pembedahan

Uretritis
Uretritis adalah peradangan uretra
dengan gejala rasa gatal pada penis dan
sering buang air kecil.
Organisme yang paling sering
menyebabkan uretritis adalah Chlamydia
trachomatis, Ureplasma urealyticum atau
virus herpes,Neisseria Gonorrhea

Prostatitis
Prostatitis adalah peradangan prostat.
Penyebabnya dapat berupa bakteri, seperti
Escherichia coli maupun bukan bakteri.
Epididimitis
Epididimitis adalah infeksi yang sering terjadi
pada saluran reproduksi pria. Organisme
penyebab epididimitis adalah E. coli dan
Chlamydia.
Orkitis
Orkitis adalah peradangan pada testis yang
disebabkan oleh virus parotitis. Jika terjadi
pada pria dewasa dapat menyebabkan
infertilitas.