You are on page 1of 36

MENGANALISA KEMATIAN

AKIBAT TRAUMA TUMPUL


Kelompok E3

Skenario
Sesosok mayat dikirimkan ke bagian kedokteran forensik FKUI / RSCM oleh
sebuha Polsek di Jakarta. Ia adalah tersagka pelaku pemerkosaan terhadap
seorang remaja putri yang kebetulan anak dari seorang penjahat kepolisian.
Berita yang dituliskan di dalam surat permintaan visum et repertum adalah
bahwaa laki laki ini mati karena gantung diri di dalam sel tahanan polsek.
Pemeriksaan yang dilakukan keesokan harinya menemukan bahwa pada wajah
mayat terdapat pembengkakan daan memar pada punggungnya terdapat
beberapa memar berbentuk dua garis sejajar ( railway hematome ) dan di
daerah paha di sekitar kemaluannya terdapat beberapa luka bakar yang
sesuai dengan jejas listrik. Sementara itu terdapat pula jejajas jerat yang
melingkai leher dengan simpul di daerah kiri belakang yang membentuk
sudut keatas. Pemeriksaan bedah jenazah menemukan resapan darah yang
luas di kulit kepala, perdarahan yang tipis di bawah selaput otak keras,
sembab otak besar, tidak terdapat resapan darah di kulit leher tetapi sedikit
resapan darah di otot leher sisi kiri dan patah ujung rawan gondok sisi kiri,
sedikit busa halus di dalam saluran napas dan sedikit bintik bintik
perdarahan di permukaan kedua paru dan jantung. Tidak terdapat patah
tulang. Dokter mengambil bebrapa contoh jaringan untuk pemeriksaan
laboratorium.

Aspek Hukum dan Medikolegal


Pasal 133 KUHAP
1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang
diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada
ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu
disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau
dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik
dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap
jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain
badan mayat.

Pasal 179 KUHAP


(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai
ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli
lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi
keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi
berlaku juga bagi mereka yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka
mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan
keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenarbenarnya menurut pengetahuan dalam bidang
keahliannya.

Apabila dokter tidak memenuhi kewajiban


Pasal 216 KUHP
1. Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau
permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat
yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan
tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan
sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling
banyak sembilan ribu rupiah.
2. Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang
menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk
sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum.
3. Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak
adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam
itu juga, maka pidanya dapat ditambah sepertiga.

Pasal 222 KUHP


Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.

Pasal 224 KUHP


Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli
atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang
menurut undang-undang ia harus melakukannnya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9
bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6
bulan.
Pasal 522 KUHP
. Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau
jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana
denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

Pasal 183 KUHAP

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang


kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat
bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa
terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Pasal 184 KUHAP

Alat bukti yang sah ialah


Keterangan saksi
Keterangan ahli
Surat
Petunjuk
Keterangan terdakwa.

Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu

Pasal 186 KUHAP

Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di


sidang pengadilan.

Penjelasan : Keterangan ahli ini dapat juga sudah


diberikan pada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau
penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk
laporan dan dibuat dengan mengingat sumpah di waktu
ia menerima jabatan atau pekerjaan.

Pasal 338 KUHP


Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana,
yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah
pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya
dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan
penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam
dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama
dua puluh tahun.

Pasal 340 KUHP


Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa
orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan
pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu,
paling lama dua puluh lima tahun.

Pasal 351 KUHP


(1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun
delapan bulan atau pidana denda paling banyak 4500 rupiah.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun.
(4) Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.
(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.

Pasal 354 KUHP


(1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena
melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan
tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana
penjara paling lama sepuluh tahun.

Pemeriksaan Autopsi

Pemeriksaan terhadap tubuh mayat


Meliputi pemeriksaan bagian luar maupun bagian
dalam
Tujuan menemukan proses penyakit dan atau
adanya cedera, melakukan interpretasi atas
penemuan penemuan tersebut, menerangkan
penyebabnya serta mencari hubungan sebab
akibat antara kelainan kelainan yang ditemukan
dengan penyebab kematian.

Tujuan Autopsi
1.

2.

3.

4.

Untuk memastikan identitas seseorang yang


tidak diketahui atau belum jelas.
Untuk menentukan sebab pasti kematian,
mekanisme kematian, dan saat kematian
Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda
bukti untuk penentuan identitas benda
penyebab dan pelaku kejahatan.
Membuat laporan tertulis yang objektif
berdasarkan fakta dalam bentuk visum et
repertum.

Pemeriksaan Luar
1.

Label mayat

2.

Penutup dan bungkus mayat

3.

Pakaian

4.

Perhiasan

5.

6.

Mencatat benda di samping mayat misalnya tas ataupun


bungkusan.
Mencatat perubahan tanatologi :
a)
b)

c)

Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.


Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi,
dan ada tidaknya spasme kadaverik.
Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat
juga suhu ruangan pada saat tersebut.

d)

Pembusukan

e)

Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera.

7. Mencatat identitas mayat


8. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan
identitas khusus
9. Pemeriksaan rambut
10. Pemeriksaan mata
11. Pemeriksaan daun telinga dan hidung
12. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut
13. Pemeriksaan leher
14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan.
15. Tanda-tanda kekerasan atau luka harus dicatat lengkap
16. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda
perbendungan, ikterus, sianosis, edema, bekas pengobatan,
bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.
17. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis atau sifatnya

Pemeriksaan Traumatologi Forensik


Trauma Tumpul
Trauma tumpul adalah suatu ruda paksa yang mengakibatkan
luka pada permukaan tubuh yang disebabkan oleh bendabenda yang mempunyai permukaan tumpul. Cara kejadian
trauma benda tumpul lebih sering disebabkan oleh kecelakaan
atau penganiyaan, jarang karena bunuh diri.
1.

2.

Akselerasi: benda tumpul (alat atau senjata) yang bergerak


mengenai atau melukai orang (korban) yang relatif tidak
bergerak (diam)
Deselerasi: orang (korban) bergerak kearah benda tumpul
(objek atau alat) yang tidak bergerak. Dalam bidang
medikolegal kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan, walaupun
terkadang sulit dipastikan.

Derajat luka trauma tumpul

Kekuatan dari benda yang mengenai


tubuh
Waktu dari benda yang mengenai tubuh
Bagian dari tubuh yang terkena
Perluasan terhadap jaringan tubuh
Jenis benda yang mengenai tubuh

Luka Lecet (Abrasi) luka lecet dapat


diklasifikasikan sebagai luka gores (scratch), luka
lecet serut (scrape, graze), luka lecet tekan
(impression, impact abrasion) dan luka lecet
geser (friction abrasion).
Karakteristik

Ante Mortem

Post Mortem

Warna

Coklat kemerahan

Kekuningan

Pemeriksaan
Mikroskopik

Terdapat sisa-sisa epitel

Epidermis terpisah sempurna


dari dermis

Tanda Intravital

(+)

()

Lokasi

Sembarang tempat

Daerah yang ada penonjolan


tulang

Memar (Kontusio)

Perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat


pecahnya kapiler dan vena

Luka memar dapat diklasifikasikan sebagai luka memar


superfisial, luka memar dalam (deep), dan luka memar
berbekas (patterned).

Pada saat timbul, memar berwarna merah

Berubah menjadi ungu atau hitam

Setelah 4-5 hari akan berwarna hijau

Kemudian akan menjadi kuning dalam 7-10 hari

Menghilang dalam 14-15 hari

Karakteristik

Memar

Lebam Mayat

Lokasi

Sembarang tempat

Bagian tubuh yang terendah

Pembengkakan

(+)

()

Tanda intravital

(+)

()

Penekanan

Warna tetap

Memucat / hilang

Mikroskopik

Reaksi jaringan (+)

Reaksi jaringan ()

Diiris

Tidak menghilang

Dibersihkan
menjadi bersih

dengan

kapas

Luka Robek (Laserasi)

Luka yang disebabkan karena persentuhan


dengan benda tumpul dengan kekuatan yang
mampu merobek seluruh lapisan kulit dan
jaringan di bawahnya
Laserasi yang terjadi setelah mati dapat
dibedakan dengan yang terjadi saat korban hidup
yaitu tidak adanya perdarahan

Perdarahan

Perdarahan dapat muncul setelah terjadi


kontusio, laserasi, fraktur, dan kompresi.
Kehilangan 1/10 volume darah tidak
menyebabkan gangguan yang bermakna.
Kehilangan volume darah dapat menyebabkan
pingsan meskipun dalam kondisi berbaring.
Kehilangan volume darah dan mendadak
dapat menyebabkan syok yang berakhir pada
kematian.

Kontusio otak

Ketika bagian kepala terkena benda yang keras


dan berat seperti palu atau botol bir hasilnya
dapat berupa abrasi, kontusio, dan laserasi dari
kulit kepala. Jika jaringan dibawahnya terkena,
hal ini disebutcoup. Hal ini terjadi saat kepala
relatif tidak bergerak.
Kepala yang bergerak mengenai benda yang
padat dan diam kontusio yang terjadi, bukan
pada tempat trauma melainkan pada sisi yang
berlawanan. Hal ini disebut kontusiocontra-coup.

Laceratio Cerebri
(Robek Otak)

Oedema Cerebri

Commotio Cerebri
(Gegar Otak)

Merupakan kerusakan
jaringan otak (white
and grey mater)
disertai robeknya
Arachnoid.

Tanda-tanda::
Permukaan gyri
menjadi lebih rata
Sulci menjadi lebih
dangkal
Otak bertambah berat
Ventrikel-ventrikel
mengecil
Karena adanya
kompresi maka terjadi
bekas cetakan
Foramen Magnum
pada Cerebellum
bagian bawah
Mikroskopis terdapat
timbunan cairan intra
cellular, peri cellular,

Gejala::
Pingsan : sebentar s/d
15 menit
Muntah
Amnesia
Pusing kepala
Tidak ada kelainan
neurologi

Cedera Kepala pada Penutup Otak


Perdarahan
Epidural

Perdarahan
Subdural

Perdarahan
Subarakhnoid

Di atas selaput tebal


otak
Disebabkan fraktura
tengkorak yang
merobek pembuluh
darah di luar
duramater
Dura yang
terdorong ke dalam
menyebabkan otak
mendapatkan
kompresi
Nyeri kepala
Penurunan
kesadaran
Kematian bila tidak
dilakukan dekompresi

Perdarahan di
1. Nontraumatik
bawah selaput tebal
2. Traumatik
otak
bridging vein yang
. pecahnya
pecah dan darah
pembuluh darah
berkumpul di ruang
berdinding tipis
subdural
pada bagian
Hasil akhir dari
bawah otak, serta
penyembuhan adalah
tidak terdapat
terbentuknya
aneurisma
jaringan skar yang
lunak dan tipis yang
menempel pada dura.


a)

a)
b)

c)

Trauma Tumpul pada


Leher:
Patah tulang leher
Robek pembuluh darah,
otot, oesophagus,
trachea/larynx

b)

Kerusakan saraf
a)

a)

b)

Trauma Tumpul pada


Dada:

Patah os costae, os sternum,


os scapula, os clavicula

a)

Robek organ jantung, paru,


pericardium

b)

Trauma Tumpul pada Perut


Patah os pubis, os sacrum,
symphysiolysis, luxatio sendi
sacro iliaca
Robek organ hepar, lien, ginjal,
pankreas, adrenal, lambung,
usus, vesica urinaria
Trauma Tumpul pada Tulang
Belakang (Vertebra):
Fraktur, dislokasi os vertebrae
Trauma Tumpul pada
Anggota Gerak:
Patah tulang, dislokasi sendi
Robek otot, pembuluh darah,
kerusakan saraf

Penjeratan

Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat


pinggang, rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki dan
sebagainya, melingkari atau mengikat leher yang makin
lama makin kuat, sehingga saluran nafas tertutup.

Ada 3 mekanisme kematian pada jerat , yaitu :

Asfiksia

Iskemia Serebral

Syok Vasovagal

Cara kematian pada kasus jerat diantaranya adalah:

Pembunuhan (paling sering), kecelakaan, bunuh diri

Pemeriksaan Luar Jenazah


Tanda Penjeratan Pada Leher
Bentuk jeratan berjalan mendatar/horizontal.
Alur jeratan pada leher korban berbentuk lingkaran. Alurjerat biasa
disertai luka lecet atau luka memar
Tanda penjeratan berwarna coklat gelap dan kulit tampak kering,
keras dan mengkilat.
Pinggiran jejas jerat berbatas tegas dan tidak terdapat tanda-tanda
abrasif.
Jumlah tanda penjeratan terkadang pada leher terlihat dua buah
atau lebih bekas penjeratan.

Tanda-tanda Asfiksia (sianosis, kongesti vena dan edema) Buih


halus

Lebam Mayat Lokasi timbulnya lebam mayat tergantung dari


posisi tubuh korban setelah mati.

Kasus Gantung

Kasus Jerat

(bunuh diri)

(pembunuhan)

Simpul

Simpul hidup

Jumlah lilitan penjerat

Simpul

Arah

kepala(tidak terikat kuat)

kuat)

Jarak titik tumpu-simpul

Bisa lebih dari 1 lilitan

Biasanya 1 buah lilitan

Serong ke atas

Mendatar/horizontal

Jauh

Dekat

Berbentuk v (lingkaran terputus)

Berbentuk lingkaran penuh

Lokasi jejas

Lebih tinggi

Lebih rendah

Jejas jerat

Meninggi ke arah simpul

Mendatar

Luka perlawanan

Luka lain-lain

Biasanya

Karakteristik simpul

percobaan lain
Jejas simpul jarang terlihat

Terlihat jejas simpul

Simpul hidup

Simpul

Simpul

Simpul mati

dapat

ada,

dikeluarkan

mungkin

dapat

melalui Simpul sulit dikeluarkan melalui kepala (terikat

terdapat

dikeluarkan

luka Ada, sering di daerah leher

melalui Simpul sulit dikeluarkan melalui kepala (terikat

kepala(tidak terikat kuat)

kuat)

Lebam mayat

Pada bagian bawah tubuh

Tergantung posisi tubuh korban

Lokasi

Tersembunyi

Bervariasi

Kondisi

Teratur

Tidak teratur

Pakaian

Rapi dan baik

Tidak teratur, robek

Ruangan

Terkunci dari dalam

Tidak teratur, terkunci dari luar

Pemeriksaan Dalam Jenazah

Akibat penjeratan :
Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami
laserasi ataupun ruptur.
Tanda-tanda Asfiksia
Terdapat bintik perdarahan pada pelebaran pembuluh darah,
Terdapat buih halus di mulut
Didapatkan darah lebih gelap dan encer akibat kadar CO2
yang meninggi.
Terdapat resapan darah pada jaringan dibawah kulit dan otot
Terdapat memar atau ruptur pada beberapa keadaan. Kerusakan
otot ini lebihsering dihubungkan dengan tindak kekerasan.
Pada pemeriksaan paru-paru sering ditemui edema paru.
Jarang terdapat patah tulang hyoid atau kartilago cricoid.

Gantung
Mekanisme Kematian:
1.

Kerusakan pada batang


otak dan medulla
spinalis

2.

Asfiksia

3.

Iskemia otak

4.

Reflex vagal

Jenis gantung diri:


.

Typical hanging

Atypical hanging

posisi korban saat gantung


diri:

kedua kaki tidak


menyentuh lantai
(complete hanging)

duduk berlutut (biasanya


menggantung pada daun
pintu)

berbaring (biasanya di
bawah tempat tidur)

Jerat kecil dan keras

hambatan total pada


arteri

muka tampak pucat

tidak terdapat ptekie


pada kulit maupun
konjungtiva

Jerat lebar dan lunak

hambatan pada saluran


pernapasan

perbendungan pada
daerah sebelah atas
ikatan

Distribusi lebam mengarah pada kaki,


tangan
dan genitalia
pada
kulit dan
eksterna, bila korban tergantung cukup lama.
konjungtiva terdapat
Jika korban adalah wanita, labium akan tampak membesar dan
ptekie
terdapat lebam, sedangkan
Jika korban adalah pria hal ini akan terjadi pada skrotum. Penis
akan tampak seolah-olah korban mengalami ereksi akibat
terkumpulnya darah, sedangkan semen keluar karena relaksasi
otot sfingter post mortal.

Pencekikan
Mekansime Kematian:
Asfiksia
Reflex vagal
Biasanya tedapat luka-luka lecet pada kulit,
berupa luka lecet kecil, dangkal berbentuk bulan
sabit akibat penekanan kuku jari.

Luka akibat
suhu/temperatur

I.
II.
III.
IV.

Luka bakar terjadi akibat kontak kulit dengan


benda bersuhu tinggi.
Kerusakan kulit yang terjadi bergantung pada
tinggi suhu dan lama kontak
Luka bakar yang terjadi dapat dikategorikan ke
dalam 4 derajat luka bakar
Eritema
Vesikel dan bullae
Nekrosis koagulatif
Pembekuan disertai kerusakan jaringan.

Luka akibat trauma listrik

Faktor yang berperan tegangan (Volt),


kekuatan arus (ampere), tahanan kulit (ohm),
luas dan lama kontak
Kuat arus yang masih memungkinkan bagi
tangan yang memegangnya untuk melepaskan
diri disebut let go current
Gambaran makroskopis jejas listrik kerusakan
lapisan tanduk kulit sebagai luka bakar dengan
tepi yang menonjol, di sekitarnya terdapat
daerah yang pucat dikelilingi oleh kulit yang
hiperemi

Ketentuan visum et repertum


1.
2.

3.

4.

Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa.


Bernomor, bertanggal di bagian kiri atasnya dicantumkan
kata Pro Justitia
Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,
tanpa singkatan dan tidak menggunakan istilah asing
Ditandatangani dan diberi nama jelas pembuatnya serta
dibubuhi stempel instansi tersebut

Dalam kesimpulan visum et repertum diharapkan tercantum


perkiraan tentang usia korban, deskripsi mengenai luka
yang diderita korban dan menyebutkan kapan perkiraan
terjadinya kekerasan yang menimbulkan luka tersebut.