You are on page 1of 45

Anestesi Umum pada

Operasi Laminektomi
Pembimbing:
Dr. Ucu Nurhadiat
Oleh:
Rismeiniar Yuniar Pattisina
11202145

I. Identitas Pasien
Nama Lengkap

: Tn. M

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 40 tahun

Suku Bangsa

: Indonesia

Alamat

: Dsn Kaum Kp Cisalada RT Agama

: Islam

Mulyasari, Ciampel, Karawang


Status Perkawinan : Menikah

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

No RM

: 2013034203

Tanggal Masuk RS : 29 November 2013

No. Registrasi

: 201107003210

Jam Masuk RS

Ruang

: Lukas 3/1

: Karyawan Swasta

: Pkl. 13.00 WIB

II. Anamnesis
Diambil dari: Autoanamnesis;
Pada tanggal : 3 Desember 2013
Pkl. 13.00 WIB

Keluhan Utama
Nyeri pada kaki kiri sejak 3 hari yang
lalu

Riwayat Penyakit Sekarang


Sejak 2 tahun yang lalu pasien sudah merasakan nyeri pada
kaki kirinya, namun nyeri tersebut akan menghilang bila pasien
berjalan. Nyeri juga dirasakan pada daerah punggung bawah.
Nyeri dirasakan terutama jika pasien duduk dan baru berdiri,
batuk, bersin, atau membungkuk. Saat duduk, pasien biasanya
akan sedikit miring ke kanan untuk mengurangi rasa nyerinya.
Gejala ini muncul hilang timbul.
Satu tahun yang lalu, pasien merasa nyeri lebih terasa pada
kaki kirinya. Namun pasien masih bisa beraktifitas seperti
biasanya. Sampai 3 hari SMRS, nyeri sangat terasa sehingga
pasien dibawa ke IGD RS Bayukarta. Riwayat makan minum baik,
BAK lancar, BAB tidak ada keluhan. Riwayat trauma disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Ttdak ada anggota keluarga yang memiliki
riwayat kencing manis, darah tinggi, penyakit
jantung, paru, hati, ginjal, asma dan alergi
terhadap obat-obatan maupun makanan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Os mengatakan bahwa belum pernah
mempunyai riwayat penyakit akut
atau kronik sebelumnya.

Riwayat Operasi dan


Anestesi
Riwayat operasi dan anestesi
sebelumnya (-)

III. Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan jasmani
Berat badan : 60 kg
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda-tanda vital
Suhu : 36.6 oC
Tekanan darah : 140/90
Frekuensi nadi : 88 x / menit
Frekuensi napas : 22 x / menit

Kepala

Bentuk: normocephal
Rambut : hitam, bergelombang, tidak
mudah dicabut, distribusi merata
Mata : konjungtiva anemis (-), sclera
ikterik (-), pupil isokor, refleks cahaya (+/+),
eksoftalmus (-), penglihatan baik
Hidung: simetris, tidak ada sekret, tidak
ada deviasi, mukosa normal
Mulut : bibir tidak sianosis, gusi tidak ada
perdarahan, lidah tidak kotor, gigi putih
bersih, faring tidak hiperemis
Telinga : bentuk normal, simetris, liang
lapang

Leher
Kelenjar tiroid
: Tidak tampak membesar
Kelenjar Limfe
: Tidak tampak pembesaran
Bentuk
: Simetris
Pembuluh darah
: Denyut teraba

Thorax
Paru-paru
Inspeksi : Bentuk dan pergerakan pernapasan
kanan dan kiri simetris
Palpasi : Fremitus taktil simetris kanan-kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara napas vesikuler pada
seluruh lapangan paru, wheezing (-/-),
rhonki (-/-)
Jantung : BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi
(-)
Palpasi
distensi (-)
Perkusi
Auskultasi

: Abdomen datar, distensi (-), peristaltik


: Supel, nyeri tekan (-), massa (-),
: timpani seluruh lapang paru
: Bising usus +, normal

Ekstremitas
Akral hangat : +
+ +
Edema umum :
- -

+
-

Status Lokalis
Columna Vertebrae
Inpeksi : keterbatasan gerak pada
sisi kiri
Palpasi : Nyeri tekan pada daerah
lumboscral, benjolan (-), tanda
radang (-)

IV. Pemeriksaan Penunjang


Laboratorium : dalam batas normal
Rontgen Lumbal Sacral :
penyempitan ruangan intervertebral
L5-S1, perubahan degenerative

V. Status Fisik Anestesia


Pasien termasuk golongan ASA II
( dilihat dari anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan penunjang,
pengaruh pada aktivitas, dan jenis
operasi yang termaksud sedangbesar)

VI. Diagnosis
Diagnosis Kerja Hernia Nukleus
Pulposus

Rencana Tindakan Bedah


Tindakan operasi : Laminektomi

Rencana Tekhnik Anestesi


Teknik anestesi : Anestesi General dengan intubasi
Pemberian obat anestesi
Pre medikasi : Miloz 2 mg
Trovensis 4 mg
Torasic 30 mg
Pethidin 20 mcg
Induksi : Propofol 100 mg
Roculax 50 mg
Maintenance : O2 2 L/h
Pethidin 20 mg
Tradosic 100 mg
Sulfas atropine 0,5 mg
Prostigmin 1 mg
Torasic 30 mg

IX. Perhitungan Cairan


Diketahui :
Berat badan
Pendarahan
Lama puasa
Lama anestesi
Stress operasi

:
:
:
:

60 kg
200 cc
6 jam
4 jam
: Berat

CAIRAN PEMELIHARAAN SELAMA OPERASI

Jika jumlah kebutuhan cairan pemeliharaan untuk dewasa = 2


cc/kgBB/jam
Maka untuk pasien dengan BB: 60 kg,
= (2 cc / kgBB / jam ) x (60 kgBB)
= 120 cc / jam

Selama operasi yang berlangsung selama 1 jam 30 menit,


= (120 cc / jam) x (4 jam)
= 520 cc

Jadi, total kebutuhan cairan pemeliharaan selama operasi adalah 520 cc.

CAIRAN PENGGANTI SELAMA PUASA


Jika jumlah cairan pengganti puasa = lama puasa x
kebutuhan cairan pemeliharaan
Maka untuk pasien yang telah menjalani puasa selama 6
jam sebelum melakukan operasi,
= 6 jam x (120 cc / jam)
= 720 cc
Sebelum operasi Os diberi infus dari 1 kolf RL (500 cc), saat
masuk ok sisa infus 400 cc. Jadi yang terpakai sebanyak
100 cc.
Dengan demikian selisih cairan pengganti puasa,
= input output
= 100 cc 720 cc
= (-620 cc)
Jadi total defisit cairan yang harus diberikan selama 1 jam 30
menit adalah 620 cc.

CAIRAN PENGGANTI AKIBAT STRESS


OPERASI
Jika jumlah cairan pengganti akibat stress
operasi berat untuk dewasa = 8 cc/kgBB/jam
Maka untuk pasien dengan BB: 60 kg,
= (8 cc / kgBB / jam ) X (60 kgBB)
= 480 cc / jam

Selama operasi yang berlangsung selama 4 jam,


= (480 cc / jam) X (4 jam)
= 1920 cc

Jadi, total kebutuhan cairan pengganti akibat stress


operasi adalah 1920 cc.

CAIRAN PENGGANTI DARAH


Jika Estimated Blood Volume (EBV) untuk dewasa = 70 cc / kgBB
Maka untuk pasien dengan BB: 60 kg,
= (70 cc / kgBB) X (60 kgBB)
= 4200 cc

Diketahui jumlah pendarahan selama operasi berlangsung sebanyak 200


cc,
Maka persentase pendarahan yang terjadi selama operasi =
Pendarahan / EBV X 100%
= 200 cc / 4200 cc X 100%
= 4,76 % 5%

Jadi, untuk penggantian < 15% EBV dapat diberikan Kristaloid sebagai
pengganti pendarahannya sebanyak 1 : 3 dengan pendarahannya, yaitu 50
cc.
Dalam kasus ini pasien diberikan cairan KRISTALOID, dengan demikian, jika
perbandingan KOLOID : KRISTALOID = 3:1, maka
Cairan KRISTALOID yang diberikan adalah:
= 3 * 200 cc
= 600 cc

TOTAL JUMLAH CAIRAN YANG


DIBUTUHKAN SELAMA OPERASI

Jumlah total kebutuhan cairan selama operasi


= total cairan pemeliharaan + defisit puasa +
pengganti stress operasi + pengganti pendarahan
= 520 cc + 620 cc + 1920 cc + 600 cc
= 3660 cc KRISTALOID
Untuk kebutuhan cairan selama operasi selama 1 jam
pertama :
1 jam pertama : cairan maintanance + 0,5 cairan
puasa + stress operasi
520 + 310 + 1920 = 2750

Maintanance: 480
Puasa 620
Operasi 480
Jam
Jam
Jam
Jam

I : M + O + 1/2P = 480 + 480 + 310 = 1270 cc


II : M+O+1/4P = 480 + 480 + 155 = 1115
III : M + O + 1/4P = 1115
IV : M + O = 960

Total : 4460 cc
4460 + 600 = 5060 cc
Defisit = 5060 2500 = 2560 cc

BALANCE CAIRAN
Jika jumlah cairan Ringer Laktat yang diberikan
selama operasi adalah sebanyak 2500 cc,
Maka Balance cairan = Input Output
= 2500 cc 3660 cc
= 1610 cc (KRISTALOID) BALANCE
NEGATIF

Jadi, pasien masih membutuhkan pemberian


cairan KRISTALOID sebanyak 1160 cc untuk
memenuhi kebutuhan cairan agar tercapai
balance yang seimbang.

Tinjauan Pustaka
Persiapan Anestesi
Persiapan pra anestesi sangat mempengaruhi keberhasilan anestesi
dan pembedahan. Kunjungan pra anestesi harus dipersiapkan dengan
baik, pada bedah elektif umumnya dilakukan 1-2 hari sebelumnya,
sedangkan pada bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat.
Adapun tujuan kunjungan pra anestesi adalah :
Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal.
Merencanakan dan memilih tehnik serta obat obat anestesi yang
sesuai dengan fisiK dan kehendak pasien.
Menentukan status fisik penderita dengan klasifikasi ASA ( American
Society Anesthesiology).

ASA I, pasien normal sehat, kelainan bedah terlokalisir,


tanpa disertai kelainan faali,biokimiawi,dan psikiatris.
ASA II, pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai
dengan sedang sebagai akibat kelainan bedah atau
proses patofisiologis.
ASA III, pasien dengan gangguan sistemik berat
sehingga aktivitas harian terbatas.
ASA IV, pasien dengan gangguan sistemik berat yang
mengancam jiwa, tidak selalu sembuh dengan operasi.
Misal : insufisiensi fungsi organ, angina menetap.
ASA V, pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Tidak
diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi / dengan
operasi.

Premedikasi Anestesi
Tujuan:
1. Memberikan rasa nyaman bagi pasien.
2. Membuat amnesia.
3. Memberikan analgesia.
4. Mencegah muntah.
5. Memperlancar induksi.
6. Mengurangi jumlah obat obat anestesika.
7. Menekan reflek reflek yang tidak
diinginkan.
8. Mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas.

Adapun obat obat yang sering digunakan


sebagai premedikasi adalah :
1. Golongan hipnotik sedatif : barbiturat,
benzodiazepin, transquilizer.
2. Analgetik narkotik : morfin, petidin,
pentanil.
3. Neuroleptik : droperidol,
dehidrobenzoperidol.
4. Anti kolinergik : Atropin, skopolamin.
5. Vasodilator : nitrogliserin

Midazolam

Adalah obat induksi tidur jangka pendek untuk premedikasi,


induksi

dan

diazepam,

pemeliharaan

midazolam

anestesi.

bekerja

cepat

Dibandingkan
kerana

dengan

transformasi

metabolitnya cepat dan lama kerjanya singkat. Pada pasien orang


tua dengan perubahan organik otak atau gangguan fungsi jantung
dan pernafasan dosis yang diberikan harus hati-hati. Efek obat
timbul dalam 2 menit setelah penyuntikan. Dosis premedikasi
dewasa

0,07-0,10

mg/kgBB, disesuaikan dengan umur dan

keadaan pasien. Dosis lazim adalah 5mg. Efek sampingnya terjadi


perubahan tekanan darah arteri, denyut nadi dan pernafasan
umumnya hanya sedikit

Petidin
efek utamanya adalah depresi susunan saraf pusat.
Gejala yang timbul antara lain adalah analgesia, sedasi, euforia dan efek
sentral lainnya. Sebagai analgesia diperkirakan potensinya 80 kali morfin.
Lamanya efek depresi napas lebih pendek dibanding meperidin. Dosis
tinggi menimbulkan kekakuan pada otot lurik, ini dapat diantagonis oleh
nalokson. Setelah pemberian sistemik, petidin akan menghilangkan reflek
kornea akan tetapi diameter pupil dan refleknya tidak terpengaruh.
meningkatkan kepekaan alat keseimbangan sehingga dapat menimbulkan
muntah muntah, pusing terutama pada penderita yang berobat jalan.
Pada penderita rawat baring obat ini tidak mempengaruhi sistem
kardiovaskular, tetapi pada penderita berobat jalan dapat timbul sinkop
orthostatik karena terjadi hipotensi akibat vasodilatasi perifer karena
pelepasan histamin.

untuk parenteral tersedia dalam bentuk ampul 50 mg per cc. Dosis dewasa
adalah 50 100 mg, disuntikkan secara SC atau IM. Bila diberikan secara

Induksi
Propofol adalah campuran 1% obat dalam air dan emulsi yang berisi 10%
soya bean oil, 1,2% phosphatide telur dan 2,25% glycerol. Pemberian
intravena propofol (2 mg/kg BB) menginduksi anestesi secara cepat
seperti tiopental. Setelah injeksi intravena secara cepat disalurkan ke
otak, jantung, hati, dan ginjal. Rasa nyeri kadang-kadang terjadi di
tempat suntikan, tetapi jarang disertai dengan plebitis atau trombosis.
AneJstesi dapat dipertahankan dengan infus propofol yang
berkesinambungan dengan opiat, N2 dan atau anestesi inhalasi lain.
Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% teapi efek ini
lebih disebabkan karena vasodilatsai perifer daripada penurunan curah
jantung. Tekanan sismatik kembali normal dengan intubasi trakea.
Propofol tidak menimbulkan aritmia atau iskemik otot jantung. Sesudah
pemberian propofol IV terjadi depresi pernafasan sampai apnea selama
30 detik. Hal ini diperkuat dengan premediaksi dengan opiat.
Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran darah ke otak,
metabolisme otak dan tekanan intrakranial akan menurun. Tak jelas
adanya interaksi dengan obat pelemas otot. Keuntungan propofol karena
bekerja lebih cepat dari tiopental dan konfusi pasca operasi yang
minimal. Terjadi mual, muntah dan sakit kepala mirip dengan tiopental.

Pemeliharaan
Nitrous Oksida / N2O
Merupakan gas yang tidak berwarna, berbau amis, dan tidak iritasi.
Mempunyai sifat analgetik kuat tapi sifat anestesinyalemah, tetapi dapat
melalui stadium induksi dengan cepat, karena gas ini tidak larut dalam darah.
Gas ini tidak mempunyai relaksasi otot, oleh karena itu operasi abdomen dan
ortopedi perlu tambahan dengan zat relaksasi otot. Depresi nafas terjadi pada
masa pemulihan, hal ini terjadi kaena Nitrous Oksida mendesak oksigen
dengan ruangan ruangan tubuh. Hipoksia difusi dapat dicegah dengan
pemberian oksigen konsentrasi tinggi beberapa menit sebelum anestesi
selesai. Penggunaan biasanya dipakai perbandingan atau kombinasi dengan
oksigen. Perbandingan N2O : O2 adalah sebagai berikut 60% : 40 % ; 70% :
30% atau 50% : 50%.

Intubasi Trakea
Suatu tindakan untuk memasukkan pipa khusus ke
dalam trakea, sehingga jalan nafas bebas hambatan dan
nafas mudah dikendalikan. Intubasi trakea bertujuan
untuk :
1. Mempermudah pemberian anestesi.
2. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas dan
kelancaran pernafasan.
3. Mencegah kemungkinan aspirasi lambung.
4. Mempermudah penghisapan sekret trakheobronkial.
5. Pemakaian ventilasi yang lama.
6. Mengatasi obstruksi laring akut.

Pemberian Cairan
Pra operasi
Dapat terjadi defisit cairan kaena kurang makan, puasa,
muntah, penghisapan isi lambung, penumpukan cairan
pada ruang ketiga seperti pada ileus obstruktif, perdarahan,
luka bakar dan lain lain. Kebutuhan cairan untuk dewasa
dalam 24 jam adalah 2 ml / kgBB / jam. Bila terjadi
dehidrasi ringan 2% BB, sedang 5% BB, berat 7% BB.
Setiap kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan cairan
bertambah 10 15 %.

Pemberian Cairan
Selama operasi
Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Kebutuhan cairan
pada dewasa untuk operasi :
a. Ringan = 4 ml / kgBB / jam
b. Sedang = 6 ml / kgBB / jam
c. Berat = 8 ml / kg BB / jam

Setelah operasi
Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan
selama operasi ditambah kebutuhan sehari hari pasien.

Pemulihan
di ruang pulih sadar atau recovery
room yaitu ruangan untuk observasi
pasien pasca operasi atau anestesi.

Pembahasan
Pre Operatif
Penilaian klinis
Informasi

Riwayat alergi obat, hipertensi, diabetes mellitus, operasi


sebelumnya, asma
Riwayat penyakit keluarga (penyakit dan komplikasi anestesia)
Menilai jalan nafas (gigi geligi, lidah, tonsil, tempuromandibula-joice, tumor, tiroid, tyro-mental-distance, trakea)
Pada pasien ini di dapatkan nilai mallampati 2
Menilai nadi, tekanan darah
Makan minum terakhir (mencegah aspirasi isi lambung karena
regurgitasi atau muntah pada saat anestesi)

Persiapan informed concent, Setelah dilakukan pemeriksaan


pada pasien, maka pasien digolongkan dalam klasifikasi ASA II.

Operatif
PreMedikasi
=> Midazolam 3 mg (golongan benzodiazepin) sebagai terapi
premedikasi , mengurangi rasa cemas dan amnesia retrograd.
Obat ini dipilih karena efek kerja midazolam yang relatif cepat.
=>Petidin adalah obat anestesi umum golongan analgesik
narkotik, opioid. Diberikan sebagai terapi premedikasi
analgetik dan juga bisa untuk mengurangi rasa cemas.
=>Selain itu juga digunakan trovensis, tradosic, dan torasic.

Induksi
Dengan menggunakan Propofol
100mg untuk induksi keuntungannya
memiliki efek analgesik, anti emetik,
pemulihan yang lebih cepat
dibandingkan dengan obat
lainnyadan memiliki rasa nyaman
ketika bangun. Efek sampingnya
adalah depresi nafas.

Pemasangan ETT
Tujuan penggunaan ETT pada pasien
ini :
Menjaga patensi jalan napas karena
durasi pembedahan diperkirakan
lebih dari 4 jam
Mempermudah ventilasi positif dan
oksigenasi
Pencegahan terhadap aspirasi dan
regurgitasi

Maintanance
Yang digunakan untuk maintanace adalah:
O2
N2O adalah anestetik inhalasi digunakan
sebagai pembawa anestetik inhalasi lainnya.
Pemberiannya tidak boleh terlalu lama karna
akan mengakibatkan hipoksia.
Sulfas atropine 0,5 mg dan prostigmin 1 mg

Post Operatif
Nilai
Kesadaran

Sadar, orientasi baik Dapat dibangunkan


Merah muda (pink) Pucat atau kehitaman

Warna

Aktivitas

Respirasi

Kardiovaskular

tanpa O2, SaO2 > 92 perlu O2 agar SaO2 >

0
Tak dapat
dibangunkan
Sianosis dengan O2
SaO2 tetap < 90%

90%

4 ekstremitas

2 ekstremitas

Tak ada ekstremitas

bergerak

bergerak

bergerak

Dapat napas dalam


Batuk
Tekanan darah
berubah 20 %

Napas dangkal
Sesak napas

Apnu atau obstruksi

(minimal)
Berubah 20-30 %

Berubah > 50 %