You are on page 1of 52

askep Pada Ibu

Post Partum

By :
Hemi rochaemi anjing

Nifas / Puerperium

Puerperium adalah periode pemulihan dari perubahan


anatomis dan fisiologis yang terjadi selama kehamilan
( Bambang Wijanarko, 2009 ) Puerperium
(masa nifas) atau periode pasca persalinan umumnya
berlangsung selama 6 12 minggu.

Nifas adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah


kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil,
masa nifas berlangsung selama 6 minggu.
(Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002)

Nifas / Puerperium

Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta


dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali
seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung
kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).

Masa nifas merupakan masa selama persalinan


dan segera setelah kelahiran yang meliputi
minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran
reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang
normal. (F.Gary cunningham,Mac
Donald,1995:281).

Periode Masa Nifas


Masa nifas dibagi dalam 3 periode:
1. Early post partum
Dalam 24 jam pertama.
2. Immediate post partum/ Post Partum
DiniMinggu I post partum.
3. Late post partum
Minggu ke-2 s/d minggu ke-6.

Tujuan Perawatan Masa Nifas


1.Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik
fisik maupun psikologi.
2.Melaksanakan skrining yang
komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi
komplikasi pada ibu maupun bayi.
3.Memberikan pendidikan kesehatan
tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, keluarga berencana, menyusui,
pemberian imunisasi pada bayi dan
perawatan bayi sehat.
4.Untuk mendapatkan kesehatan emosi.
(Bari Abdul,2000:121)

Perubahan Masa Nifas


1. Perubahan fisik
Involusi
Involusi adalah perubahan yang merup.proses kembalinya alat kandungan
atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai
keadaan seperti sebelum hamil.
Proses involusi terjadi karena adanya:
Autolysis (penghancuran jar.otot-otot uterus yang tumbuh karena
adanya hiperplasi) & jar.otot yang membesar menjadi lebih panjang 10 X
& 5X lebih tebal dari sewaktu masa hamil akan susut kembali mencapai
keadaan semula. Penghancuran jar. Tsbdiserap oleh darah
dikeluarkan oleh ginjal ibu >>>> kencing setelah melahirkan
Aktifitas otot yaitu adanya kontrasi dan retraksi dari otot-otot setelah
anak lahir menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya
pelepasan plasenta & untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak berguna.
Ischemia yaitu <<< darah pada uterus Atropi pada jaringan otot
uterus.

PERUBAHAN FISIOLOGI
dan ANATOMI

Perubahan endokrin yang terjadi selama kehamilan


akan terjadi secara cepat Hpl { human Placental
Lactogen } serum tidak terdeteksi dalam waktu 2 hari
dan hCG- Human Chorionic Gonadotropin tidak
terdeteksi dalam waktu 10 hari pasca persalinan.

Kadar estrogen dan progesteron serum menurun sejak


3 hari pasca persalinan dan mencapai nilai prakehamilan pada hari ke 7. Nilai tersebut akan menetap
bila pasien memberikan ASI ; bila tidak memberikan
ASI estradiol akan mulai meningkat dan menyebabkan
pertumbuhan folikel.

PERUBAHAN FISIOLOGI
dan ANATOMI

Pada pasien yang memberikan ASI, kadar human


Prolactin-hPr akan meningkat.
Sistem kardiovaskular akan kembali pada nilai sebelum
kehamilan dalam waktu 2 minggu pasca persalinan.
Pada 24 jam pertama terjadi hypervolemic state
akibat adanya pergeseran cairan ekstravaskular
kedalam ruang intravaskular. Volume darah dan plasma
normal kembali pada minggu kedua.
Sampai pada 10 hari pertama pasca persalinan,
peningkatan faktor pembekuan dalam kehamilan akan
menetap dan diimbangi dengan kenaikan aktivitas
fibrinolisis

PERUBAHAN MORFOLOGIS
PADA TRAKTUS GENITALIA

Dinding vagina edematous, kebiruan


serta kendor dan tonus kembali kearah
normal setelah 1 2 minggu.
Pada akhir kala III, besar uterus setara
dengan ukuran kehamilan 20 minggu
dengan berat 1000 gram. Pada akhir
minggu pertama berat uterus mencapai
500 gram.
Pada hari ke 12, uterus sudah tidak dapat
diraba melalui palpasi abdomen.

Perubahan pd Uterus

Involusi

TFU

Stl plasenta
lahir
1minggu

2minggu

Sepusat

Pertengahan
pusatsymphisis
Takteraba

6minggu

8minggu

Sebesar hamil 2 50gr


mg

Normal
30gr

Sumber: Rustam muchtar, 1998

Diameter
Berat Bekas
Uterus Melekat
Plasenta
1000 gr 12,5

500gr 7,5cm

350gr 5cm
2,5cm

Keadaan
Cervix
Lembik

Dptdilalui2
jari
Dptdilalui1
jari

Perubahan involusi tinggi fundus uteri dan ukuran uterus selama 10 hari pasca persalinan

PERUBAHAN MORFOLOGIS
PADA TRAKTUS GENITALIA

placental site mengecil dan dalam


waktu 10 hari diameternya kira-kira 2.5
cm.
Lochia yang terjadi sampai 3 4 hari
pasca persalinan terdiri dari darah, sisa
trofoblas dan desidua coklat kemerahan
yang disebut lochia rubra.
Selanjutnya berubah menjadi lochia
serosa yang seromukopurulen dan
berbau khas.

PERUBAHAN MORFOLOGIS
PADA TRAKTUS GENITALIA

Selama minggu II dan III, lochia


menjadi kental dan putih kekuningan
yang disebut lochia alba terdiri dari
leukosit dan sel desidua yang
mengalami degenerasi.
Setelah minggu 5 6, sekresi lochia
menghilang yang menunjukkan bahwa
proses penyembuhan endometrium
sudah hampir sempurna.

Perubahan fisiologis
Dinding perut dan peritonium
Dinding perut longgar akibat regangan slm
kehamilan akan pulih dalam 6 mg.
Ligamen fascia dan diafragma pelvis yang
meregang pada waktu partus setelah bayi
lahir berangsur angsur mengecil dan pulih
kembali.
Tidak jarang uterus jatuh ke belakang
menjadi retrofleksi karena ligamentum
rotundum jadi kendor
Untuk memulihkan kembali sebaiknya
dengan latihan-latihan pasca persalinan
( Rustam M, 1998: 130)

Perubahan fisiologis
Siklus Menstruasi
Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu,
untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal.

Ovulasi
Ada tidaknya tergantung tingkat prolaktin. Ibu menyusui
mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih.
Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu
ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah
satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.

Perineum : Episiotomi
Penyembuhan dalam 2 minggu.
Laserasi
TK I : Kulit & strukturnya dr permukaan s/d otot
TK II : Meluas sampai dengan otot perineal
TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter
TK IV : melibatkan dinding anterior rektal

Perubahan fisiologis

Payudara
Payudara membesar karena vaskularisasi dan

engorgement (bengkak karena peningkatan


prolaktin pada hari I-III).
Pada payudara yang tidak disusui,
engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari,
puting mudah erektil bila dirangsang.
Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil
pada 1-2 hari.

Perubahan fisiologis
Sistim Hormonal
OXYTOXIN
Oxytoxin disekresi oleh kelenjar hipofise posterior dan
bereaksi pada otot uterus dan jaringan payudara.
Selama kala tiga persalinan aksi oxytoxin
menyebabkan pelepasan plasenta.
Setelah itu oxytoxin beraksi untuk kestabilan kontraksi
uterus, memperkecil bekas tempat perlekatan
plasenta dan mencegah perdarahan.
Pada wanita yang memilih untuk menyusui bayinya,
isapan bayi menstimulasi ekskresi oxytoxin dimana
keadaan ini membantu kelanjutan involusi uterus dan
pengeluaran susu.
Setelah placenta lahir, sirkulasi HCG, estrogen,
progesteron dan hormon laktogen placenta menurun
cepat, keadaan ini menyebabkan perubahan fisiologis
pada ibu nifas.

Perubahan fisiologis
PROLAKTIN
Penurunan estrogen menyebabkan prolaktin yang
disekresi oleh glandula hipofise anterior bereaksi
pada alveolus payudara dan merangsang produksi
susu.
Pada wanita yang menyusui kadar prolaktin terus
tinggi dan pengeluaran FSH di ovarium ditekan.
Pada wanita yang tidak menyusui kadar prolaktin
turun pada hari ke 14 sampai 21 post partum dan
penurunan ini mengakibatkan FSH disekresi
kelenjar hipofise anterior untuk bereaksi pada
ovarium yang menyebabkan pengeluaran estrogen
dan progesteron dalam kadar normal,
perkembangan normal folikel de graaf, ovulasi dan
menstruasi.
( V Ruth B, 1996: 231)

Perubahan Endokrin

Hormon

Perubahan

Kead. terendah

Human Placental
Lactogen (hPL)
Estrogen
Progesteron
FSH
LH
Prolaktin
GH
Tiroid
Kortikosteroid
Plasma renin
Angiotensin II

Menurun

< 24 jam

Menurun
Menurun
Menurun
Menurun
Menurun
Ttp rendah smp hr 3
Tidak berubah
Menurun
Menurun
Menurun

Hari ke 7
Hari ke 7
Hari ke 10 12
Hari ke 10 12
Hari ke 14

Hari ke 7
< 2 Jam
< 2 jam

Perubahan fisiologis

Sistim Kardiovasculer
Penurunan estrogen diuresis >> vol.plasma
menurun secara cepat pada kondisi normal.
Keadaan ini tjd 24 sampai 48 jam pertama setelah
kelahiran.
Penurunan progesteron < retensi cairan
sehubungan dengan penambahan vaskularisasi
jaringan selama kehamilan.
Tanda-tanda vital
Tekanan darah sama saat bersalin, suhu
meningkat karena dehidrasi pada awal post
partum terjadi bradikardi.
Volume darah
Menurun karena kehilangan darah dan kembali
normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200
500 cc, SC : 600 800 cc.
Jantung
Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan
normal 2-3 minggu.

Perubahan fisiologis

Sistem Hematologik
Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat

Sistem Urinaria
Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus
urinarius terjadi karena trauma.
Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam.
Aktifitas ginjal +++ pd ms nifas krn reduksi dari
volume darah dan ekskresi produk sampah dari
autolysis. Puncak dari aktifitas ini terjadi pada hari I
post partum
Fungsi kembali normal dalam 4 minggu.

Sistem Respirasi
Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit,
keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu
post partum.

Perubahan fisiologis
Perubahan fisiologis

Sistem Gastrointestinal
Mobilitas lambung menurun shg timbul
konstipasi.
Nafsu makan kembali normal.
Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg.

Sistem Muskuloskeletal
Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi
tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali
normal 6-8 minggu post partum.

Sistem Integumen
Hiperpigmentasi perlahan berkurang.

Sistem Imun
Rhesus incompability, diberikan anti RHO
imunoglobin.

Perubahan Psikologis
Perubahan psikologi masa nifas menurut
Reva- Rubin terbagi menjadi dalam 3 tahap
yaitu :
1. Periode

Taking In
Terjadi setelah 1-2 hari dari persalinan.
Dalam masa ini terjadi interaksi dan
kontak yang lama antara ayah, ibu dan
bayi.
Dapat dikatakan sebagai psikis honey
moon yang tidak memerlukan hal-hal
yang romantis, masing-masing saling
memperhatikan bayinya dan menciptakan
hubungan yang baru.

Perubahan Psikologis
2.

Periode Taking Hold


Berlangsung pada hari ke 3 sampai ke- 4 post
partum.
Ibu berusaha bertanggung jawab terhadap
bayinya dengan berusaha untuk menguasai
ketrampilan perawatan bayi.
Pada periode ini ibu berkosentrasi pada
pengontrolan fungsi tubuhnya, misalnya buang
air kecil atau buang air besar.

3. Periode Letting Go
Terjadi setelah ibu pulang ke rumah. Pada masa ini
ibu mengambil tanggung jawab
terhadap bayi.
( Persis Mary H, 1995:
)

PRINSIP PENATALAKSANAAN PUERPERIUM

Pasca persalinan, bila pasien


menghendaki maka diperkenankan
untuk berjalan-jalan, pergi ke kamar
mandi bila perlu dan istirahat kembali
bila merasa lelah.
Sebagian besar pasien menghendaki
untuk beristirahat total ditempat tidur
selama 24 jam terutama bila dia juga
mengalami cedera perineum yang luas

PRINSIP PENATALAKSANAAN PUERPERIUM

Fungsi perawatan medis adalah:


Memberikan fasilitas agar proses
penyembuhan fisik dan psikis berlangsung
dengan normal.
Mengamati jalannya proses involus uterus.
Membantu ibu untuk dapat memberikan
ASI.
Membantu dan memberi petunjuk kepada
ibu dalam merawat neonatus.
Tak ada waktu yang baku mengenai lama
perawatan pasca persalinan, diperkirakan
bahwa semakin lama tinggal di rumah sakit,

PERAWATAN PUERPERIUM DI RUMAH SAKIT

Ambulasi dini membuat perawatan nifas


menjadi lebih sederhana.
Pemeriksaan meliputi :
Pemeriksaan tekanan darah, nadi dan
pernafasan secara teratur.
Inspeksi perineum setiap hari untuk melihat
proses penyembuhan.
Pada pasien dengan cedera perineum luas
perlu diberikan analgesik.
Penilaian jumlah dan sifat lochia.

PERAWATAN PUERPERIUM DI RUMAH SAKIT

Penilaian proses involusi dengan


menentukan tinggi fundus uteri.
Analgesik mungkin juga diperlukan bila
ada keluhan nyeri akibat kontraksi
uterus terutama saat laktasi.
Perawatan Vulva ( Vulva Hygine )

Keluhan di masa nifas


MASALAH TRAKTUS URINARIUS
24 jam pasca persalinan, pasien
umumnya menderita keluhan miksi akibat
depresi pada reflek aktivitas detrussor
yang disebabkan oleh tekanan dasar
vesika urinaria saat persalinan.
Keluhan ini bertambah hebat oleh karena
adanya fase diuresis pasca persalinan,
bila perlu retensio urine dapat diatasi
dengan melakukan kateterisasi.

Keluhan di masa nifas


MASALAH TRAKTUS URINARIUS
Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa resiko
inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan
pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan
resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar.

10% pasien pasca persalinan menderita inkontinensia


(biasanya stress inkontinensia) yang kadang-kadang
menetap sampai beberapa minggu pasca persalinan.
Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat
dilakukan latihan pada otot dasar panggul.

Keluhan di masa
nifas

MASALAH TRAKTUS URINARIUS


Retensio Urine

Sensasi dan kemampuan pengosongan kandung kemih


terganggu akibat anaestesi atau analgesi.

Ching-chung dkk (2002) : angka kejadian retensio urine pasca


persalinan 4%

Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam


waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan
sebaiknya segera dipasang dauer catheter selama 24 jam

Keluhan di masa nifas


MASALAH TRAKTUS URINARIUS
Retensio Urine
Bila

kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4


jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml
maka nampaknya ada gangguan proses urinasinya. Maka
kateter tetap terpasang dan dibuka 4jam kemudian , bila
volume urine <>
Retensio urine kemungkinan oleh karena hematoma atau
edema daerah sekitar urtehra sehingga terapi meliputi :
antibiotika dan obat anti inflamasi,

Keluhan di masa nifas


MASALAH PENCERNAAN
Sejumlah

pasien pasca persalinan mengeluh konstipasi


yang biasanya tidak memerlukan intervensi medis. Bila
perlu dapat diberi obat pencahar supositoria ringan
(dulcolax).

Haemorrhoid

yang diderita selama kehamilan akan


menyebabkan rasa sakit pasca persalinan dan keadaan ini
memerlukan intervensi medis.

Keluhan di masa nifas

Nyeri

punggung sering dirasakan pada trimester ketiga


dan menetap setelah persalinan dan pada masa nifas.
Kejadian ini terjadi pada 25% wanita dalam masa
puerperium namun keluhan ini dirasakan oleh 50% dari
mereka sejak sebelum kehamilan.
Keluhan ini menjadi semakin hebat bila mereka harus
merawat anaknya sendiri.

MASALAH PSIKOLOGIS PADA MASA NIFAS

Keberadaan bayi tidak jarang justru


menimbulkan stress bagi beberapa ibu
yang baru melahirkan.
Ibu merasa bertanggung jawab untuk
merawat bayi, melanjutkan mengurus suami,
setiap malam merasa terganggu dan sering
merasakan adanya ketidak mampuan dalam
mengatasi semua beban tersebut.
Banyak wanita pasca persalinan menjadi sedih
dan emosional secara temporer antara hari 3
5 (third day blues) dan kira-kira 10%
diantaranya akan mengalami depresi hebat.

Third Day Blues / Post Partum Blues

Etiologi tak jelas, diperkirakan karena


gangguan keseimbangan hormonal, reaksi
eksitasi akibat persalinan dan perasaan
tak mampu untuk menjadi seorang ibu.
Third days blues dapat berupa :
Lanjutan rasa cemas saat kehamilan dan
proses persalinan
Rasa tak nyaman pada masa nifas dan tak
mampu menjadi orangtua.

Third Day Blues / Post Partum Blues

Ketidakmampuan untuk melakukan


sesuatu yang baik dan berguna
Rasa lelah pasca persalinan dan kurang
tidur /istirahat
Penurunan gairah seksual atau tidak lagi
menarik seperti waktu masih gadis
Labilitas emosional.
Depresi berat sampai beberapa minggubulan.

Third Day Blues / Post Partum Blues

Penatalaksanaan :
Terapi medis, diskusi dengan perawat,
menjelaskan mengenai apa yang
terjadi dan bila pasien menghendaki
maka kunjungan keluarga dibatasi.

Terdapat bukti yang menunjukkan


bahwa rooming-in dapat mengurangi
kejadian third days blues

LAKTASI dan PEMBERIAN ASI

Selama kehamilan terjadi perkembangan


pada payudara. Estrogen menyebabkan
bertambahnya ukuran dan jumlah duktus.
Progesteron menyebabkan peningkatan
jumlah alveolus.
Proses laktasi selama kehamilan tidak terjadi
meskipun hPr meningkat selama kehamilan
oleh karena kadar estrogen yang tinggi
menyebabkan adanya penguasaan terhadap
binding site pada alveolus sehingga
aktivitas laktogenik dari hPr terhalang.

LAKTASI dan PEMBERIAN ASI

Pada akhir kehamilan, terjadi sekresi cairan


jernih kekuningan yang disebut kolustrum
yang mengandung imunoglobulin, produksi
kolustrum terus meningkat pasca persalinan
dan digantikan dengan produksi ASI.
Kadar estrogen menurun dengan cepat 48
jam pasca persalinan sehingga
memungkinkan berlangsungnya aktivitas
hPr terhadap sel alveolus untuk inisiasi dan
mempertahankan proses laktasi.

LAKTASI dan PEMBERIAN ASI

Proses laktasi semakin meningkat dengan isapan


pada payudara secara dini dan sering oleh karena
secara reflektoar, isapan tersebut akan semakin
meningkatkan kadar hPr
Emosi negatif [kecemasan ibu bila ASI tak dapat
keluar] menyebabkan penurunan sekresi prolaktin
melalui proses pelepasan prolactine-inhibiting
factor (dopamin) dari hipotalamus.
Pada hari ke 2 dan ke 3 pasca persalinan, hPr
merangsang alveolus untuk menghasilkan ASI. Pada
awalnya, ASI menyebabkan distensi alveolus dan
ductus kecil sehingga payudara menjadi tegang.

Proses Lactasi

Reflek ejeksi ASI diawali hisapan oleh bayi


hipotalamus hipofisis mengeluarkan
oksitosin kedalam sirkulasi darah ibu
( gambar atas)
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi
sel mioepitelial dan ASI disalurkan kedalam
alveoli dan ductuli ductus yang lebih besar
penampungan subareolar.
Oksitosin mencegah keluarnya dopamin dari
hipotalamus sehingga produksi ASI dapat
berlanjut.

Reflek Prolaktin

Sel mioepitelial sekitar villi yang sebagian berisi ASI


Keluarnya ASI terjadi akibat kontraksi sel mioepitelial
dari alveolus dan ductuli (gambar atas) yang berlangsung
akibat adanya reflek ejeksi ASI ( let-down reflex ).

MEMPERTAHANKAN PROSES LAKTASI

Cara paling efektif dalam


mempertahankan proses laktasi adalah
isapan bayi yang reguler sehingga reflek
prolaktin dan reflek ejeksi ASI dapat terus
terjadi dan distensi alveolus dapat
dicegah.
Distensi alveolus menyebabkan sekresi
ASI alveolus menjadi tidak efisien dan
rasa sakit pada payudara menyebabkan
ibu enggan untuk menyusui bayinya.

KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI

Keberhasilan proses laktasi memerlukan


beberapa hal :

Terjadi sekresi ASI dalam alveolus.


Reflek ejesi ASI efisien.
Ibu memiliki motivasi untuk
memberikan ASI.

Ten Steps to Succesful Breastfeeding

1. Sarana pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan


tentang penerapan 10 langkah menuju
keberhasilan menyusui dan melarang promosi
PASI
2. Sarana pelayanan kesehatan melakukan pelatihan
untuk staf sendiri atau lainnya
3. Menyiapkan ibu hamil untuk mengetahui manfaat
ASI dan langkah keberhasilan menyusui.
Memberikan konseling apabila ibu penderita
infeksi HIV positif
4. Melakukan kontak dan menyusui dini bayi baru
lahir (1/2 - 1 jam setelah lahir)

Ten Steps to Succesful Breastfeeding

5.

6.
7.
8.
9.
10.

Membantu ibu melakukan teknik menyusui yang


benar (posisi peletakan tubuh bayi dan pelekatan
mulut bayi pada payudara)
Hanya memberikan ASI saja tanpa minuman
pralaktal sejak bayi lahir
Melaksanakan rawat gabung ibu dan bayi
Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau
bayi
Tidak memberikan dot/ kempeng
Menindak lanjuti ibu-bayi setelah pulang dari
sarana pelayanan kesehatan

Tehnik Menyusui

Ibu perlu memperoleh petunjuk bagaimana


mempertemukan mulut bayi dengan puting
susu agar bayi membuka mulut dan mencari
lokasi puting susu.
Ibu kemudian menahan payudara dengan
puting susu diantara jari telunjuk dan jari
tengahnya sehingga puting menonjol dan bayi
dapat menempatkan gusinya pada areola
mammae dan bukan pada puting susu . Cara ini
memungkinkan bayi bernafas saat menyusu.

Posisi ideal puting susu dalam mulut bayi


(a) dan (b) puting susu dikulum bayi dan
(c) puting berada tempat yang benar dalam mulut
bayi

Tehnik
memberikan
ASi

Melepaskan
puting dari
hisapan bayi

Pada gambar diatas terlihat bagaimana cara ibu


melepaskan puting dari mulut bayi tanpa
menimbulkan rasa sakit. Cara melepaskan dari
isapan tersebut adalah dengan meletakkan jari
kelingking kesudut mulut bayi untuk
menghentikan isapan sebelum melepaskan mulut
bayi dari puting susu.
Sebagian kecil bayi membutuhkan tambahan
cairan selain ASI pada 4 hari pertama, bila bayi
terlihat mengalami dehidrasi, dapat diberikan
air dengan sendok setelah pemberian ASI.
Pemberian dengan botol susu harus dihindarkan
karena proses pembelajaran bayi untuk menyusu
akan terhenti.