You are on page 1of 50

Risiko Perbankan

Mengapa Manajemen Risiko


diperlukan oleh dunia
Perbankan
Semakin seringnya terjadi kerugian pada

lembaga keuangan (bentuknya apa ?)


Banyak produk dan jasa yang mirip satu
dengan lainnya diantara lembaga keuangan
tsb (risiko Pasar/Manajemen).
Perkembangan layanan dengan menggunakan
teknologi sering berpengaruh pada sistem
layanan (masalah-masalah IT)

Beberapa Contoh Risiko


yang Pernah terjadi dalam
Industri Bank Dalam Negri
Bank BNI

: L/C fiktif, kerugian +/- Rp 1,7

triliun
Bank BRI : Cash Collateral Credit, kerugian
+/- Rp 297 M
Bank Mandiri : Deposito fiktif, kerugian +/- Rp
39M dll

Risiko apa yang dihadapi dunia


Perbankan ?
Penyaluran dana yang salah sasaran
Kinerja SDM yang buruk
Kondisi perekonomian makro yang buruk
Persaingan yang semakin ketat antar lembaga

perbankan
Perkembangan teknologi

Defenisi Risiko Perbankan dan


Persepsi
1.
2.

Tingkat ketidak pastian dan net return yg


akan terjadi (JP.Morgan)
The likely swing of profit which is caused
by interest rate movement,foreign
exchange, payment, technology ect. (
Kemungkinan ayunan laba yang
disebabkan oleh pergerakan suku bunga ,
valuta asing , pembayaran , teknologi
dll .)

Defenisi Risiko Perbankan dan


Persepsi
3. Merupakan perubahan negatif yg
mungkin terjadi atas nilai suatu portofolio
aset yg dapat diukur dg probabilitas
tertentu dalam rentang waktu yg
diketahui
4. Faktor potensial yg dapat menyebabkan
kerugian keuangan pada modal bank

Sudut Pandang terhadap risiko


Perbankan
Risiko adalah multidimensional
Risiko saling berhubungan satu

dengan lainnya
Eksposure risiko yang sulit
dipahami berada pada risikorisiko yang saling tumpang
tindih

Besar kecilnya risiko-risiko


Perbankan
Besar kecilnya risiko-risiko tersebut akan

sangat tergantung pada berbagai faktor


(risk exposures) seperti :
1. kemampuan dan kejelian dari manajemen
bank untuk membaca dan memprediksi
pergerakan suku bunga, perubahanperubahan yang terjadi di pasar
2. risk appetite dari pengelola bank itu
sendiri apakah
cenderung bersifat tinggi atau rendah.

Untuk meminimalisir risiko-risiko yang

dihadapi oleh suatu bank, maka


manajemen bank harus memiliki keahlian
dan kompetensi yang memadai sehingga
segala macam risiko yang berpotensi
untuk muncul dapat diantisipasi dari sejak
awal dan dicarikan cara
penanggulangannya.

Golongan dan Jenis


Risiko Perbankan
1. Risiko Operasional
Risiko Hukum
Risiko Reputasi
Risiko Kepatuhan
2. Risiko Kredit
Risiko Likuiditas
3. Risiko Pasar
Risiko Strategik

Diantara ketiga golongan


dan jenis risiko
perbankan di atas mana
yg berakibat kerugian
terbesar ?
Mengapa?

Risiko operasional dapat mengancam


modal bank
2. Risiko operasional merupakan akar
penyebab hampir semua kerugian
derivatif yg besar (berdasar pengalaman)
3. Risiko operasional adalah penyebab
utama kebankrutan dalam industri
perbankan
4. Regulator merencanakan meminta bankbank untuk menyisihkan modal guna
menutupi kerugian operasional
1.

Dimana dan Kapan Risiko


Operasional terjadi ?
Dapat terjadi di seluruh organisasi

pada front office dan back office


Dapat terjadi pada aktivitasaktivitas sebelum, selama dan
setelah penyelesaian transaksi
bisnis
Atau tidak ada kaitannya dengan
aktivitas langsung

Penyebab Risiko Operasional


1. SDM
2. Teknologi
3. Proses
4. Peristiwa-peristiwa

eksternal

Penyebab Risiko Operasional


1. SDM

Avallability (keserakahan)
Skill
Training
motivation
Attitude
2. Teknologi
Reliability
Integrity
Continuity

Penyebab Risiko Operasional


3. Proses
Presedur
Volume
Authorization
Limit controls
4. Peristiwa eksternal
Riot (kerusuhan)
Force majeure
Regulations ect

Bentuk bentuk risiko SDM


Jumlah pegawai yang tidak sebanding

dengan beban pekerjaan


Penempatan pegawai yang tidak sesuai
klasifikasi
Keterbatasan kemampuan, keahlian,
kurang pelatihan dan training
Kurang motivasi, munculnya frustasi
Ketergantungan pada beberapa pegawai
kunci dll

Bentuk bentuk risiko


Teknologi
Kemampuan rendah
Kompleksitas tinggi
Sulit dalam pengoperasian, pemeliharaan

atau pengembangan

Bentuk-bentuk Risiko Proses

Disain proses yang tidak tepat


Prosedur yang tidak tagas dan

jela
Pemberian dan penetapan
wewenang yang tidak
terkendali

Dilihat dari Segi Kedudukan/Status


Jenis Bank dilihat dari segi status adalah sebagai
berikut :
Bank devisa
Merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi
keluar negeri atau yang berhubungan dengan mata
uang asing secara keseluruhan.
Bank non devisa
Merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk
melaksanakan transaksi sebagai bank devisa,
sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti
halnya bank devisa.

Kebijakan Perbankan

Sistem Keuangan dan Perbankan


Indonesia
Sistem keuangan secara prinsip diartikan sebagai

kumpulan pasar, institusi, peraturan dan teknik


dimana surat berharga diperdagangkan, tingkat
suku bunga ditentukan, jasa keuaangan dihasilkan
dan ditawarkan keseluruh dunia

Sistem keuangan dalam perekonomian memiliki

fungsi pokok sbb:


Fungsi
Fungsi
Fungsi
Fungsi
Fungsi
Fungsi
Fungsi

Tabungan
Penyimpan kekayaan
Likuiditas
Kredit
Pembayaran
Risiko
Kebijakan

Faktor yang menyebabkan meningkatnya

peran Lembaga Keuangan:


Meningkatnya pendapatan masyarakat
Perkembangan Industri dan Teknologi
Denominasi instrumen keuangan
Skala ekonomi dan produk jasa
Jasa likuiditas
Keuntungan jangka panjang
Risiko lebih kecil

Lembaga Keuangan merupakan badan yang

melalui kegiatannya menarik dana dari


masyarakat dan menyalurkannya ke
masyarakat
Lembaga keuangan terdiri dari :
Lembaga Keuangan Depositori (Bank)
Lembaga Keuangan Non Depositori (Contractual

Instituitions) yaitu: Lembaga Pembiayaan,


Asuransi, Dana Pensiun, Pasar Uang, Pasar
Modal dan Pegadaian

Bank merupakan badan usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam


bentuk simpanan dan menyalurkannya
kembali kepada masyarakat dalam bentuk
kredit atau bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak
Dalam Undang Undang Pokok Perbankan

No.14 tahun 1967 bank didefinisikan


sebagai Lembaga keuangan yang usaha
pokoknya memberikan kredit dan jasa
dalam lalu lintas pembayaran dan
peredaran uang

Dari definisi di atas tergambar bahwa

kegiatan pokok bank adalah:


Menghimpun dana (giro, tabungan, deposito)
Memberikan pinjaman / kredit
Pelayanan jasa keuangan (L/C, transfer, TC dsb)

Menurut Undang Undang No.7 tahun 1992

dan ditegaskan lagi dengan Undang


Undang RI No.10 tahun 1998, maka jenis
perbankan terdiri dari :
Bank Umum (Bank Komersil)
Bank Perkreditan Rakyat

Bank Umum adalah bank yang

melaksanakan kegiatan usaha secara


konvensional dan atau berdasarkan prinsip
syariah yang dalam kegiatannya
memberikan seluruh jasa perbankan yang
ada dalam lalu lintas pembayaran
Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah

bank yang melaksanakan kegiatan usaha


secara konvensional atau berdasarkan
prinsip syariah yang dalam kegiatannya
tidak memberikan jasa dalam lalu lintas
pembayaran

Sistem Moneter dan Perbankan


Yang termasuk dalam sistem moneter adalah

bank atau lembaga yang ikut menciptakan


uang giral

Otoritas moneter (BI) sebagai lembaga dalam

pengambilan kebijakan moneter juga


merupakan sumber uang primer baik bagi
perbankan, masyarakat maupun pemerintah

Bank Indonesia mewajibkan bank umum

membuka rekening giro di BI yang pada


dasarnya adalah untuk memperlancar
transaksi antar bank melalui mekanisme
kliring

Fungsi Otoritas Moneter:


Menciptakan dan mengeluarkan uang kertas
dan uang logam
Memelihara cadangan devisa nasional
Mengawasi sistem moneter
Fungsi Sistem Moneter:
Menyelenggarakan mekanisme lalu lintas
pembayaran yang efisien, cepat, akurat dan
biaya yang relatif kecil
Melakukan fungsi intermediasi guna
mempercepat pertumbuhan ekonomi
Menjaga kestabilan tingkat bunga melalui
pelaksanaan kebijakan moneter

Sesuai Undang Undang No.23 tahun 1999 tentang

Undang Undang Bank Indonesia, secara tegas


dinyatakan bahwa tujuan pokok Bank Indonesia
adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai
rupiah

Kestabilan nilai rupiah tercermin dari

perkembangan laju inflasi serta nilai tukar rupiah


terhadap mata uang asing

Untuk mencapai kestabilan dimaksud BI didukung

oleh tiga bidang utama tugas, yaitu:

Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter


Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
Mengatur dan mengawasi bank

Menetapkan dan melaksanakan kebijakan

moneter melalui:
Menetapkan sasaran moneter dengan

memperhatikan laju inflasi


Pengendalian moneter dengan cara:
Operasi pasar terbuka
Penetapan tingkat diskonto
Penetapan Cadangan Wajib Minimum
Pengaturan Kredit dan Pembiayaan lainnya

Mengatur dan menjaga kelancaran

pembayaran dengan cara:


Melaksanakan dan memberi persetujuan

penyelenggaraan sistem pembayaran


Mewajibkan penyelenggara jasa ssistem
pembayaran melaporkan kegiatannya
Menetapkan penggunaan alat pembayaran
Mengatur sistem Kliring dalam rupiah dan valas
Mengeluarkan dan menyebarkan uang rupiah

Mengatur dan mengawasi bank dengan cara:


Memberikan dan mencabut izin usaha bank
Menetapkan ketentuan yang memuat prinsip

kehati hatian (prudential banking)


Melakukan pengawasan langsung dan tidak
langsung pada bank di Indonesia
Mewajibkan bank menyampaikan laporan
aktifitas usahanya dalam rangka pemeriksaan
bank

Manajemen Risiko

Manajemen Risiko
Pengelolaan Risiko
Secara umum yang dimaksudkan dengan risiko adalah sebagai bentuk

peristiwa yang mempunyai pengaruh terhadap kemampuan seseorang


atau lembaga untuk mencapai tujuannya

Dalam pengertian umum di atas belum terlihat gambaran ukuran besar

atau luas dampak risiko tersebut terhadap pencapaian tujuan bank

Bank Indonesia mendefinisikan manajemen risiko sebagai serangkaian

prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi,


mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari
kegiayan usaha bank

Dalam mengaplikasikan definisi risiko tersebut dalam program

manajemen risiko, maka semua kegiatan atau usaha yang dilakukan


akan melibatkan semua kegiatan yang membutuhkan perhatian,
kewaspadaan, pengetahuan yang harus dikembangkan, pengalaman
yang memadai serta kemampuan yang terus ditingkatkan

Risiko mempunyai potensi suatu peristiwa terjadi atau tidak terjadi

dengan dampak / peluang untung (upside) atau rugi (downside)

Bank dapat terhindar dari risiko yang tidak perlu terjadi dengan

cara

Standarisasi dan memutakhirkan semua kebijakan dan prosedur bank


Mengkaji penetapan limit risiko
Membangun konstruksi portfolio asset
Memanfaatkan keuntungan diversifikasi
Melakukan proses pendidikan mengenai risiko secara berkelanjutan
untuk semua pegawai
Membangun budaya manajemen risiko pada seluruh jenjang organisasi

Risiko yang dapat merugikan bank antara lain :


Tidak memadainya modal yang tersedia
Risiko pemberian fasilitas kredit
Risiko kecurangan
Kecenderungan kedepan kecurangan menjadi masalah utama

bank; contoh kasus L/C bodong senilai Rp.1,7 triliun yang menimpa
salah satu bank milik negara, yang tidak mungkin terjadi tanpa
kelibatan orang dalam

Semakin tinggi tingkat kewenangan pelaku atau semakin banyak

orang yang terlibat akan semakin besar kerugian yang diderita


bank

Klasifikasi Risiko
Klasifikasi risiko yang ditetapkan BI
Risiko
Risiko
Risiko
Risiko
Risiko
Risiko
Risiko
Risiko

Kredit
Pasar
Likuiditas
Operasional
Hukum
Reputasi
Strategik
Kepatuhan

Risiko Kredit
Risiko ini timbul karena kegagalan pihak lawan (debitur)

memenuhi kewajibannya karena kinerja yang kurang baik/buruk


Karena risiko ini merupakan penyimpangan kinerja portfolio
kredit dari nilai yang diharapkan maka sebagian risiko ini dapat
diversifikasi
Termasuk dalam risiko ini transaksi off balance sheet seperti
swaps atau option yang memiliki eksposur sama dengan kredit
dan disebabkan karena perubahan pasar

Risiko Pasar
Risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel
pasar (suku bunga, kurs) dari portfolio yang dimiliki bank
berbalik arah dan tidak sebagaimana yang diharapkan
Bila bank mempunyai nasabah prima (memiliki portfolio
yang tinggi) yang produknya sangat peka terhadap harga
pasar maka bank menambahkan kategori risiko
perubahan harga (commodity price risk) sebagai risiko
pasar
Risiko Likuiditas
Bila bank tidak mampu memenuhi kewajibannya pada
saat jatuh tempo karena ekspansi kredit diluar rencana
atau penarikan dana yang tidak terduga disebabkan
hilangnya kepercayaan pada bank
Risiko Operasional
Risiko ini timbul karena tidak berfungsinya proses internal
(process factors), adanya kecurangan (human factors)
dan kegagalan sistem (system factors) dalam mencatat,
membukukan dan melaporkan transaksi secara akurat
dan tepat waktu

Risiko Hukum
Risiko yang timbul karena kelemahan aspek yuridis antara
lain disebabkan adanya tuntutan hukum, tiadanya undang
undang yang mendukung atau kelemahan perikatan
seperti syarat sahnya suatu pengikatan jaminan yang
diagunkan debitur
Risiko Reputasi
Risiko karena adanya publikasi negatif yang terkait dengan
kegiatan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank
Risiko Strategik
Risiki yang timbul karena penetapan dan pelaksanaan
strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan
bisnis yang kurang responsif terhadap perubahan eksternal
Risiko Kepatuhan
Risiko yang terjadi karena tidak mematuhi dan tidak
melaksanakan ketentuan yang berlaku
Kepatuhan dilakukan melalui penerapan sistem
pengendalian intern secara konsisten

Kerangka Kerja Manajemen

Proses manajemen risiko yang akan dilakukan oleh


Risiko

para manajer diletakkan dalam suatu kerangka kerja


agar berjalan efektif
Memahami rantai risiko; melakukan analisa lingkungan untuk

menetapkan konteks yang ada hubungannya dengan risiko,


seperti masalah politik, ekonomi, sosial dan budaya
Menetapkan atau mengkaji toleransi risiko, posisi dan perilaku
para stakeholder
Memahami peristiwa yang pernah diambil perusahaan yang
dapat merugikan bank
Melakukan penilaiaan atas risiko dan pengendalian yang ada
Menyusun tanggapan atas risiko yang ada
Menetapkan aktifitas pengendalian
Mengkomunikasikan risiko dan manajemen risiko
Melakukan pemantauan terhadap risiko dan pengelolaannya

Budaya Manajemen Risiko


Keberhasilan mengkomunikasikan dan mengintegrasikan

manajemen risiko dalam sebuah organisasi bank tidak


terletak pada tekniknya akan tetapi tergantung pada
manusia pengambil dan pengelola risiko tersebut

Ada banyak pegawai, banyak karakter, sikap (attitude)

dan keterampilan yang berbeda dalam bank menuntut


adanya budaya organisasi dimana setiap orang harus
menjadi manajer risiko karena setiap pegawai
bertanggung jawab atas kegiatan dan hasil kerjanya

Pengembangan budaya manajemen risiko jauh lebih

penting dibandingkan membangun sebuah kebijakan


dan prosedur yang paling komplit karena pengelolaan
risiko harus di implantasikan kepada setiap orang dari
jenjang paling bawah sampai pada jenjang paling atas

Langkah untuk membangun budaya risiko:


Membentuk Satuan Kerja Manajemen Risiko sebagai pusat
untuk membangun dan menyebarluaskan kebijakan dan
prosedur risiko keseluruh jenjang organisasi
Menyusun manual kode etik
Merekrut pegawai yang memiliki sikap yang baik untuk
memberikan pelayanan yang terbaik pada nasabah
Menjadikan manajemen risiko sebagai syarat untuk
menduduki semua posisi manajemen
Menerapkan sanksi bagi pelaksana atau pengambil risiko
Memberikan insentif guna mendorong pegawai mengelola
risiko dengan baik
Menerapkan seperangkan aturan agar pegawai tidak
berani mengambil risiko yang berlebihan
Memasukkan penilaian kinerja mengelola risiko kedalam
proses penilaian kinerja pegawai

Organisasi Manajemen Risiko

Pengelolaan Risiko Kredit


Menciptakan lingkungan risiko kredit yang memadai :
Pemisahan tugas antara fungsi penganalisa, pemberi persetujuan
Strategi, kebijakan dan prosedur perkreditan harus tertulis dan

konsisten
Penetapan harga produk (loan pricing) secara tepat jauh lebih
penting daripada peningkatan / ekspansi kredit

Kebijakan dan prosedur pemberian kredit yang lengkap dan

mutakhir, mulai dari permohonan, persyaratan, pencairan dan


pengelolaan kredit
Proses Identifikasi dan pengendalian risiko kredit
Melakukan analisis lingkungan
Menilai fasilitas kredit satu persatu dari berbagai sudut pandang
Mengkaji ulang risiko portfolio perkreditan
Membandingkan Net Interest Margin (NIM) dengan pertumbuhan

LDR
Harus ada pemisahan antara credit initiation, approval, review dan
administration
Memberdayakan internal audit
Audit terhadap risiko kredit harus dilaksanakan secara berkala
Kredit bermasalah harus ditangani secara khusus

Asset Liability Management

Sering disebut dengan ALMA, merupakan alat utama untuk

mengendalikan risiko pasar : suku bunga, nilai tukar dan


risiko likuiditas
Kebijakan ini memuat a.l.:

Penetapan limit risiko oleh Asset Liabities Committee


Prosedur dan dokumentasi yang harus dipenuhi
Analisis yang harus dilakukan
Metode untuk mengendalikan eksposur suku bunga dan kurs
Menetapkan otorisasi dan proses menangani penyimpangan

terhadap kebijakan
Sistem penetapan harga dan penilaian pasar

Bank dapat membiayai kebutuhan nasabah / operasional

dari beberapa sumber :

Mendapatkan dana dalam bentuk simpanan jangka pendek dan

jangka panjang
Meningkatkan pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang
Meningkatkan modal
Menjual altiva bank

Beberapa apek kunci dalam perspektif pengendalian

risiko likuiditas a.l.:

Menyusun strategi pendanaan khususnya pada kondisi pasar

yang kurang menguntungkan


Mempersiapkan pedoman yang jelas mengenai pengelolaan
risiko likuiditas sesuai dengan strategi yang diambil
Aktif mengukur posisi likuiditas bank
Mengkaji rencana darurat keuangan bank agar mampu
mengatasi masalah likuiditas dengan biaya yang relatif murah

Mengelola risiko likuiditas dilakukan dengan cara :


Mengelola pendanaan yang memilih jatuh tempo tidak
seimbang
Mengelola asset dan liabilty yang sensitif terhadap perubahan
suku bunga
Mengelola portfolio yang sensitif terhadap perubahan harga
Mengukur biaya risiko likuiditas yang terkait dengan risiko lain

Risiko Operasional
Penyangga utama dalam program pengelolaan

risiko operasional adalah :


Manusia (people)

Pegawai tidak kompeten, tidak jujur karena rekruit, pelatihan

dan kompensasi yang tidak memadai

Sistem (syatems)
Kegagalan dalam dukungan sistem, misalnya kesalahan dalam

membangun program komputer, jaringan komunikasi

Proses (Processes)
Pelanggaran pengendalian intern pada front office maupun

back office
Kesalahan memproses transaksi mis: karena pegawai kurang
terdidik
Hubungan dengan lingkungan (External events)
Pelanggaran, pemalsuan baik yang dilakukan oleh intern

(pegawai) maupun pihak luar, mis: pemalsuan cheque,


computer hacker

Mengelola Hasil Usaha dan


Kecukupan Modal
Manajemen risiko bertujuan agar bank dapat

mengoptimalkan hasil usaha dan mempertahankan modal


agar selalu berada pada tingkat aman, baik dari segi praktek
perbankan yang sehat maupun dari sudut pandang regulator
Kualitas hasil usaha mengacu pada komposisi tingkat,
kecenderungan dan stabilitas laba
Laba merupakan ukuran keberhasilan manajemen dan disisi
lain memberikan rasa aman bagi pemasok dana
Hasil usaha ditentukan oleh faktor ekstern dan faktor intern
bank. Sebagian besar faktor eksternal diluar kendali
manajemen maka faktor internal menjadi lebih penting
Salah satu alat ukur kinerja bank adalah Return On Average
Assets (ROAA) yaitu net income dibagi average assets
Modal bank memberi keyakinan kepada kreditur yang akan
menempatkan / meminjamkan dananya bahwa dana
tersebut akan dibayar sesuai dengan perjanjian

Modal bank terdiri dari:


Tier 1 Capital ; Modal utama / modal inti (core capital)
Tier 2 Capital ; Modal pendukung (supplemental capital)

Tier 1 merupakan saham umum dan saham preferen


Tier 2 merupakan cadangan untuk kredit macet dan pinjaman subordinasi
Tier 1 + Tier 2 merupakan modal sebuah bank
Tier 1 sekurang kurangnya 50% x total modal
Sejak Desember 2001 regulator menetapkan bank wajib menyediakan

total modal sebesar 8% dari Asset Tertimbang Menurut Risiko untuk kredit

ATMR kredit ditetapkan:


20% untuk kredit kurang lancar
50% untuk kredit diragukan
100% untuk kredit macet

Misal: ATMR kredit 50% dari ATMR bank maka modal bank yang harus

dialokasikan untuk ATMR kredit adalah 4% dari total ATMR


Kecukupan modal merupakan alat kontrol bagi otoritas dan merupakan
alat ukur keamanan sebuah bank yang ingin menjadi bank papan atas.
Bila ATMR sebuah bank diatas standar yang ditetapkan berarti bank
tersebut memiliki kemampuan / kinerja di atas rata rata bank

Dalam melakukan perhitungan Kewajiban

Penyediaan Modal Minimum bank harus


meperhitungkan risiko kredit dan risiko pasar
dengan formula sbb:

(Tier 1 + Tier 2 + Tier 3) Penyertaan dibagi (8% ATMR

kredit + 12,5% beban modal risiko pasar)

Apabila bank memiliki tingkat kredit bermasalah

(macet) yang tinggi maka dibutuhkan modal yang


memadai untuk menyerap kemungkinan rugi yang
timbul atau bank berencana meningkatkan
aktifitasnya melalui akuisisi maka diperlukan
tambahan modal untuk mendukung semuanya itu

Strategi untuk mendapatkan tambahan modal:


Mendapatkan sumber dana dari luar; menjual saham
Mendapatkan sumber dana dari dalam; menahan laba untuk
kepentingan ekspansi
Menjual asset dalam rangka mengurangi aset berisiko tinggi