You are on page 1of 43

CSS BBLR

Disusun oleh :
Idharmawan BL 12100115102

Preceptor :
Dr. Nina S.,Sp.A., M.Kes

SMF ILMU KESEHATAN ANAK RS MUHAMMADIAH BANDUNG


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2017
BBLR
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru
lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran
kurang dari 2500 gram.
EPIDEMIOLOGI
Pada tahun 2007, bayi BBLR di Amerika Serikat mengalami dismaturitas
Sekitar 30%, dan dilahirkan sesudah 37 minggu. Di negara-negara yang
sedang berkembang sekitar 70% bayi BBLR tergolong dismaturitas.
Di Indonesia, kejadian bayi prematur belum dapat dikemukakan, tetapi
angka kejadian BBLR di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun
2006 adalah 24%. Angka kematian perinatal di rumah sakit pada tahun yang
sama adalah 70%, dan 73% dari seluruh kematian disebabkan oleh BBLR.
Jawa Barat tahun 2010 sebanyak 885 (4,25%) dari 21.426 kelahiran hidup.
Jumlah bayi BBLR ini meningkat dibandingkan tahun 2009 yang terdapat 814
bayi BBLR.
FAKTOR RESIKO
Sosioekonomi
Budaya
Faktor pendidikan
Usia ibu saat kehamilan
Life style ibu
KLASIFIKASI
prematuritas murni
masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat
badannya sesuai dengan berat badan pada masa gestasi
tersebut, atau biasa disebut dengan neonatus kurang bulan-
sesuai dengan masa kehamilan (NKB-SMK)
Dismaturitas
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan
seharusnya pada masa gestasi. Berarti bayi mengalami
retardasi pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi
yang kecil untuk masa kehamilannya ( KMK).
KONGRES UROPEAN
PERINATAL MEDICINE KE II DI
LONDON (1970)
1. Berat badan lahir
Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR), dengan berat lahir <1000
gram.
Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), dengan berat lahir 1001-1500
gram.
Bayi berat lahir rendah (BBLR), dengan berat badan 1501-2499 gram .

2. Usia kehamilan
Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan belum
mencapai 38 minggu.
Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan 38-42
3. Usia kehamilan dan berat badan lahir
Masa kehamilan kurang dari 38 minggu dengan berat yang sesuai
dengan berat badan untuk usia kehamilan (sesuai untuk masa
kehamilan=SMK), dimana masa kehamilan dihitung mulai hari pertama
haid terakhir dari haid yang teratur.
Bayi yang beratnya kurang dari berat semestinya menurut masa
kehamilannya (kecil untuk masa kehamilan=KMK)
ETIOLOGI
Faktor Ibu:
Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi

Kelainan bentuk uterus (contoh: uterus bikornis, inkompeten serviks)

Tumor (contoh: mioma uteri, cystoma)

Ibu yang menderita penyakit, seperti tifus abdominalis, malaria (akut),


TBC, penyakit jantung, glomerulonefritis kronis (kronis)
Trauma pada masa kehamilan , fisik (jatuh/terbentur), psikologis (stress)

Usia ibu pada waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Faktor Janin :
Kehamilan ganda

Hidramnion

Ketuban pecah dini

Cacat bawaan atau genetik

Infeksi transplasenta (contoh: rubeolla, sifilis, toxoplasmosis)

Insufisiensi plasenta

Inkompatibilitas darah ibu dan janin (faktor rhessus, golongan darah


ABO)
Faktor Plasenta :
Plasenta previa

Solusio plasenta

Plasentitis Villus (ec. Bakteri, virus, parasit)

Tumor (contoh: chorioangima, mola hidatidosa)


PATOGENESIS
Bayi lahir prematur yang BBLR-nya sesuai dengan umur kehamilan
pretermnya biasanya dihubungkan dengan keadaan medis dimana terdapat
ketidakmampuan uterus untuk mempertahankan janin (incompetent
cervix/premature dilatation), gangguan pada perjalanan kehamilan,
pelepasan plasenta, atau rangsangan tidak pasti yang menimbulkan
kontraksi efektif pada uterus sebelum kehamilan mencapai umur cukup
bulan.
Dismaturitas dihubungkan dengan keadaan medik yang menggangu
sirkulasi dan efisiensi plasenta, pertumbuhan dan perkembangan janin, atau
kesehatan umum dan nutrisi ibu. Dismaturitas mungkin merupakan respon
janin normal terhadap kehilangan nutrisi atau oksigen. Sehingga
masalahnya bukan pada dismaturitasnya, tetapi agaknya pada resiko
malnutrisi dan hipoksia yang terus menerus. Serupa halnya dengan
beberapa kelahiran preterm yang menandakan perlunya persalinan cepat
GEJALA KLINIS
Umur kehamilan kurang dari 38 minggu

Berat badan lahir kurang dari 2500 gram

Panjang badan lahir kurang dari 46 cm

Kuku panjangnya belum melewati ujung jari

Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas

Lingkar kepala lahir kurang dari 33 cm

Lingkar dada lahir kurang dari 30 cm

Rambut lanugo masih banyak


Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang

Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga seolah-


olah tidak teraba tulang rawan daun telinga
Tumit mengilap, telapak kaki halus

Alat kelamin pada bayi pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang, testis belum
turun ke dalam skrotum. Untuk bayi perempuan klitoris menonjol, labia minora
belum tertutup oleh labia mayora
Tonus otot lemah, sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah

Fungsi saraf yang belum matang, mengakibatkan reflek hisap, menelan dan
batuk masih lemah atau tidak efektif, dan tangisannya lemah
Jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan
lemak masih kurang
Verniks kaseosa sedikit atau tidak ada
Menurut Dubowitz taksiran maturitas neonatus ditetapkan melalui
penilaian 11 tanda fisik luar dan 10 tanda neurologik, sedangkan Ballard
menilai maturitas neonatus berdasarkan 7 tanda kematangan dan 6 tanda
kematangan neuromuskular. Stadium Bayi Berat Lahir Rendah dengan tanda
wastingatau insufisiensi plasenta (Clifford):
Stadium I : Bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulitnya longgar,
kering seperti perkamen, tetapi belum terdapat noda mekonium.
Stadium II :Terdapat tanda stadium I, ditambah warna kehijauan pada
kulit plasenta dan umbilikus, hal ini disebabkan oleh mekonium yang
tercampur dalam amnion yang kemudian akan mengendap ke dalam kulit,
umbilikus dan plasenta sebagai akibat anoksia intrauteri.
Stadium III : Terdapat tanda stadium II ditambah dengan kulit, kuku dan
tali pusat yang berwarna kuning, ditemukan juga anoksia intrauterin yang
lama.
KOMPLIKASI
Enterokolitis nekrotikans neonatal
Enterokolotis nekrotikan merupkan penyakit salurann cerna yang serius pada bayi yang
baru lahir dan ditandai dengan bercak nekrosis atau nekrosis difus pada mukosa tau
submukosa usus serta vaskularisasi usus. Insidensi terjadinya dihubungkan denga umur
kehamilan yang kurang, dan merupakan komplikasi yang penting yang terjadi pada
kelahiran premature. Terhitung 7,5 % kasus EKN sebagai penyebab kematian neonatal.
Ileum bagian distal dan kolon proksimal sangat sering terlibat. Beberapa stress perinatal ,
terutam asfiksia dan hipotermia dianggap sebagai factor predisposisi terjadinya EKN.
Permulaan penyakit biasanya pada 2 minggu pertama tetapi dapat terlam bat sampai
umur 2 bulan.
Dapat menimbulkan gejala seperti apneu, bradikardi, dan distensi abdominal. Mekonium
keluar secara normal dan sebagai tanda pertama ialah distensi perut dengan retensi
lambung. Timbulnya penyakit ini nsering tidak jelas, dan dapat terjadi sepsis sebelum
dicurigai terjadi lesi pada usus. Sekali terkena kondisi anak biasanya buruk, dengan cepat
menjadi lemah dan asidosis serta dapat berkembang kearah syok dan DIC.
Hipotermia
Perbedaan suhu di dalam kandungan dan lingkungan akan
memberi pengaruh pada kehilangan panas tubuh bayi, selain itu
hipotermia dapat terjadi karena kemampuan untuk untuk
mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi
panas sangat terbatas, karena pertumbuhan otot-otot yang belum
cukup matang, lemak subkutan yang sedikit, belum matangnya
sistem saraf pengatur suhu tubuh, luas permukaan tubuh relatif lebih
besar dibanding dengan berat badan sehingga mudah kehilangan
panas.
Sindrom Gawat Nafas
Sampai saat ini penyakit membrane hyaline dianggap terjadi
karena defisiensi pembentukan surfaktan pada paru bayi yang
belum matang. Surfaktan adalah zat yang penting dalam
pangembangan paru dan merupakan suatu kompleks yang
terdiri dari protein, karbohidrat dan lemak. Senyawa utama zat
tersebut adalah lesitin dan mulai terbentuk pada kehamilan 22
24 minggu dan berjumlah lengkap dan mulai berfungsi normal
pada minggu ke-35 kehamilan.
Defisiensi Surfaktan menyebabkan gangguan kemampuan
paru untuk mempertahankan stabilitasnya, alveolus akan
kembali kolaps setiap akhir ekspirasi sehingga untuk pernafasan
berikutnya dibutuhkan tekanan negatif intratoraks yang lebih
besar yang disertai usaha inspirasi yang kuat.
Tanda klinis sindrom gawat nafas :
Pernafasan cepat

Sianosis perioral

Merintih sewaktu ekspirasi

Retraksi substernal dan interkostal


Hipoglikemia
Penyelidikan kadar gula darah pada 12 jam pertama menunjukkan bahwa
hipoglikemia dapat terjadi sebanyak 50% pada bayi matur. Kecepatan glukosa yang
diambil janin tergantung dari kadar gula darah ibu karena terputusnya hubungan
plasenta dan janin yang menyebabkan terhentinya pemberian glukosa.
Bayi aterm dapat mempertahankan kadar gula darah 50-60 mg/dL selama 72 jam
pertama, sedangkan bayi berat badan lahir rendah dalam kadar 40 mg/dL. Hal ini
disebabkan cadangan glikogen yang belum mencukupi. Hipoglikemia terjadi bila kadar
gula darah 20 mg/dL.
Tanda klinis hipoglikemia :Gemetar, Sianosis, Apatis, Kejang, Apnea Intermiten,
Tangisan lemah atau melengking, Kelumpuhan atau letargi, Kesulitan minum, Terdapat
gerakan putar mata, Keringat dingin, Hipotermia, Gagal jantung dan henti jantung,
Hipoglikemia pada neonatus terjadi bila gula darah < 47 mg/dl, Pada hipoglikemia
berat didapatkan hasil gula darah < 25 mg/dl, dan hipoglikemia ringan/sedang jika
kadar gula darah >25 - <47 mg/dl.
Perdarahan Intrakranial
Pembuluh darah pada bayi prematur masih sangat rapuh
dan mudah pecah, sehingga perdarahan intrakranial dapat
terjadi karena trauma lahir, diseminated intravascular
coagulopathy atau trombositopenia idiopatik. Matriks germinal
epidimal yang kaya pembuluh darah merupakan wilayah yang
sangat rentan terhadap perdarahan selama minggu pertama
kehidupan.
Tanda klinis perdarahan intrakranial :
Kegagalan umum untuk bergerak normal, Refleks moro
menurun atau tidak ada, Letargi, Pucat dan sianosis, Apnea,
Kegagalan menetek dengan baik, Muntah yang kuat, Tonus otot
menurun, Tangisan bernada tinggi dan tajam, Kejang, Fontanela
mayor tegang dan cembung
Hiperbilirubinemia
Terjadi karena belum maturnya fungsi hepar, dimana terjadi kekurangan
enzim glukoronil transferase sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi
bilirubin direk belum sempurna, dan kadar albumin darah yang berperan
dalam transportasi bilirubin dari jaringan ke hepar berkurang. Kadar
bilirubin normal pada bayi prematur 10 mg/dL. Jika terjadi
hiperbilirubinemia pada bayi prematur, bila tidak segera diatasi dapat
menjadi kern ikterus yang akan menimbulkan gejala yang permanen.
Tanda klinis hiperbilirubinemia :
Sklera, puncak hidung, sekitar mulut, dada, perut dan ekstremitas
berwarna kuning
Letargi

Kemampuan mengisap menurun

Kejang
Ikterus yang kemungkinan menjadi patologi atau dapat dianggap sebagai
hiperbilirubinemia adalah :
Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran.

Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau lebih setiap 24 jam.

Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus kurang bulan dan 12,5 mg
% pada neonatus cukup bulan.
Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD
dan sepsis).
Ikterus yang disertai berat lahir kurang dari 2000 gram, masa gestasi kurang dari 36
minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom gangguan pernafasan, infeksi hipoglikemia,
hiperkapnia, hiperosmolalitas darah.
Rentan Terhadap Infeksi
Bayi prematur mudah menderita infeksi karena imunitas
humoral dan seluller masih kurang, sehingga bayi mudah
menderita infeksi. Selain itu pada kulit dan selaput lendir
membran tidak memiliki perlindungan seperti pada bayi
cukup bulan. Sensitivitas yang kurang akan memudahkan
terjadinya kerusakan integritas kulit, terutama pada daerah
yang sering tertekan dalam waktu yang lama.
DIAGNOSIS
Menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka waktu 1
jam setelah lahir, dapat diketahui dengan dilakukan anamesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Anamnesis : Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk menegakkan
mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya BBLR :
Umur ibu

Riwayat hari pertama haid terakir

Riwayat persalinan sebelumnya

Paritas, jarak kelahiran sebelumnya

Kenaikan berat badan selama hamil

Aktivitas

Penyakit yang diderita selama hamil

Obat-obatan yang diminum selama hamil


Pemeriksaan Fisik
Yang dapat dijumpai saat pemeriksaan fisik pada bayi BBLR
antara lain3:
Berat badan > 2500 gram
Tanda-tanda prematuritas (pada bayi kurang bulan)
Tanda bayi cukup bulan atau lebih bulan (bila bayi kecil
untuk masa kehamilan).
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
Tes kocok (shake test), dianjurkan untuk bayi kurang
bulan
Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia
fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan analisa gas darah.
Foto dada ataupun babygram diperlukan pada bayi baru
lahir dengan umur kehamilan kurang bulan dimulai pada
umur 8 jam atau didapat/diperkirakan akan terjadi
sindrom gawat nafas.
TATALAKSANA
Bayi berat bayi lahir rendah biasanya tampak haus dan harus diberikan makanan
dini (early feeding), hal ini sangat penting untuk menghindari terjadinya
hipoglikemia, kadar gula darah harus diperiksa setiap 8-12 jam.
Frekuensi pernafasan terutama dalam 24 jam pertama harus selalu diawasi untuk
mengetahui adanya sindrom aspirasi mekonium atau sindrom gangguan pernafasan
idiopatik, sebaiknya setiap jam dihitung frekuensi pernafasan lahir dan bila
frekuensi lebih dari 60 x/menit dibuat foto thoraks.
Pencegahan terhadap infeksi sangat penting, karena bayi sangat rentan terhadap
infeksi, yaitu karena pemindahan IgG dari ibu ke janin terganggu.
Temperatur harus diperbaiki, jangan sampai kedinginan karena mudah terjadi
hipotermik, hal ini disebabkan oleh karena luas permukaan tubuh bayi relatif lebih
besar dan jaringan lemak subkutan kurang.
PENGATURAN SUHU
Kelembaban yang tinggi diperlukan pada bayi dengan sindroma gangguan
pernafasan, suhu inkubator dapat diturunkan 1 C per minggu untuk bayi dengan
berat badan 2000 gram dan secara berangsur-angsur ia dapat diletakkan di dalam
tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27 C - 29 C.
Bila inkubator tidak ada, pemanasan dilakukan dengan membungkus bayi dan
meletakkan botol hangat di sekitarnya atau dengan memasang lampu pijar atau
petromaks di dekat tempat tidur bayi. Cara lain untuk mempertahankan suhu tubuh
bayi sekitar 36,5C-37,5C adalah dengan memakai alat perspexheat shield yang
diselimuti pada bayi di dalam inkubator, alat ini berguna untuk mengurangi
kehilangan panas karena radiasi.
INFEKSI
Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi, hal ini
disebabkan oleh karena daya tahan tubuh terhadap infeksi
berkurang, relatif belum sanggup membentuk antibody dan
daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik.
Oleh karena itu perlu dilakukan tindakan pencegahan yang
dimulai pada masa perinatal, yaitu dengan memperbaiki
keadaan lingkungan, kebersihan makanan, mencegah
terjadinya infeksi silang para dokter, perawat, bidan dan
petugas lain.
KEBUTUHAN NUTRISI PADA
BBLR
Energi
Kebutuhan energi diperkirakan sebesar 90-120 kkal/kgbb/hari. Adanya variasi individual,
anjuran asupan energi untuk nutrisi enteral sebesar 105-130 kkal/kgbb/hari.
Protein
Masukan protein sebesar 2.25-4.0 g/kgbb/hari dinilai adekuat dan tidak toksik. Bayi dengan
asupan protein sebesar 2.8-3.1 g/kgbb/ hari dengan 110-120 kkal/kgbb/hari menunjukkan
pertumbuhan yang paling menyerupai pertumbuhan janin.
Lemak
Lemak merupakan sumber energi terbesar (40-50%) yang setara dengan masukan sebesar 5-
7 g/kgbb/hari. Lemak ASI lebih mudah diserap karena komposisi asam lemak serta asam palmitat
dalam posisi di samping adanya lipase pada ASI. Lemak pada formula untuk bayi prematur
mengandung campuran lemak rantai sedang (MCT) medium chain triglyevide dan lemak
tumbuhan yang kaya akan lemak tidak jenuh rantai ganda serta trigliserida rantai panjang.
Karbohidrat
Karbohidrat memasok energi sebesar 40-50% dari kebutuhan per hari
atau setara dengan 10-14 g/kgbb/ hari. Enzim glukosidase untuk glukosa
polimer sudah aktif pada BBLR sehingga pemberian glukosa polimer
ditoleransi dengan baik. Selain itu glukosa polimer tidak menyebabkan
beban osmotik pada mukosa usus, sehingga memungkinkan digunakan pada
formula bayi dengan osmolalitas kurang dari 300 mOsm/kg.air. Formula
prematur umumnya mengandung 50% laktosa dan 50% glukosa polimer,
rasio yang tidak menyebabkan gangguan penyerapan mineral di usus.
NUTRISI ENTERAL
Pemberian nutrisi enteral pada bayi dengan berat lebih dari 1500 gram, dan
masa gestasi lebih dari 32 minggu, serta tidak terdapat distres dimulai saat
berumur 2-4 jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan
hiperbilirubinemia.
Pada bayi lebih kecil, walaupun tidak distress, jangan diberikan nutrisi
enteral selama 12-24 jam pertama, lebih baik diberikan infus larutan glukosa
5-10 % sejak lahir dan diobservasi, bila keadaan bayi stabil maka pemberian
nutrisi enteral dapat dimulai. Syarat lain untuk memulai nutrisi enteral
adalah keluarnya mekonium, yang menunjukkan adanya kontinuitas dan
motilitas traktus gastrointestinal.
Masalah yang sering menghambat pemberian nutrisi enteral adalah sindrom
distress pernafasan, sindrom aspirasi, pneumonia, apnea karena
prematuritas dan gagal jantung akibat duktus arteriosus paten
Sesudah 5 hari bayi dicoba menyusui, bila daya isap cukup baik, maka
pemberian air susu ibu diteruskan.
Frekuensi jumlah cairan yang diberikan pertama kali adalah 1-5 ml/jam dan
jumlahnya dapat ditambah sedikit demi sedikit setiap 12 jam, untuk mencegah
regurgitas (muntah) atau distensi abdomen, cairan yang diberikan adalah 60
ml/kg/hari, dan setiap hari dinaikkan sampai 200 ml/kg/hari.
Kadang-kadang diperlukan pemberian makanan melalui kateter (polietilen) yang
dapat tinggal di lambung selama 4-5 hari tanpa iritasi, kateter no. 8 untuk bayi
kurang dari 1500 gram dan no.10 untuk bayi diatas 1500 gram. Kateter yang
telah dimasukkan ke dalam lambung dihubungkan dengan botol infus yang berisi
susu yang digantungkan setinggi 1 meter dari atas bayi, susu diberikan dengan
tetes yang teratur sebanyak 60 ml/kg berat badan sehari, dan tiap hari
dinaikkan sampai 200 ml/kg berat badan pada akhir minggu kedua. Bila daya
isap dan menelan mulai baik, kateter secara berangsur-angsur dapat diganti
dengan pipet, sendok atau botol dengan dot.
NUTRISI PARENTERAL
TOTAL
Tujuan dari pemberian nutrisi parenteral adalah memasukkan kalori nonprotein
yang cukup, sehingga memungkinkan bayi menggunakan sebagian terbesar
proteinnya untuk pertumbuhan.
KEBUTUHAN CAIRAN
Bayi preterm yang amat imatur (<1000 gram) memerlukan
sebanyak 2-3 mL/kg/jam. Jumlah cairan yang dianjurkan
adalah 60-70 mL/kgBB pada hari pertama dan dinaikkan
sampai 100-120 mL/kgBB pada hari ke-2 dan ke-3, dan pada
hari ke 4-5 mencapai 150 ml/kgBB, selanjutnya dapat
mencapai 160 - 180ml/kgBB/hari.
Penimbangan badan setiap hari, pengeluaran urin,
pemeriksaan fisik harus dipantau secara cermat untuk
mendeteksi adanya kelainan status hidrasi.
MASALAH ASI PADA BBLR
KURANG BULAN
MEMULANGKAN BAYI
bayi harus sudah mampu minum sendiri, baik dengan botol maupun
dengan puting susu ibunya.
kenaikan berat badan berkisar antara 10-30 g/hari.
suhu tubuh tetap normal di ruang biasa.

bayi harus tidak menderita apneu atau bradikardi. dan tidak


memerlukan oksigen atau obat yang diberikan melalui pembuluh
darah.
bayi harus dipantau secara teratur untuk melihat pertumbuhan dan
perkembangannya, serta menemukan kelainan yang mungkin baru
timbul.
PERAWATAN DI RUMAH
Ibu bayi diajarkan cara merawat bayi baru lahir seperti cara
memandikan, merawat tali pusat, memberi ASI/PASI, mengganti popok,
PROGNOSIS
Tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa
gestasi (makin muda masa gestasi, makin rendah berat bayi makin tinggi
angka kematian), asfiksia, sindrom gangguan pernafasan, perdarahan
intraventrikuler, infeksi gangguan metabolik (asidosis, hipoglikemia,
hiperbilirubinemia). Asfiksia sendiri merupakan komplikasi yang paling
serius dari bayi berat lahir rendah, bila tidak segera diatasi maka prognosis
neonatus menjadi buruk.
Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial ekonomi, pendidikan
orang tua dan perawatan pada saat kehamilan, persalinan, post natal
(pengaturan suhu lingkungan, resusitasi, makanan).
TERIMAKASIH