You are on page 1of 30

Keracunan Karbon

Monoksida (CO)

OLEH:

Linda Mutiara
Ni Putu Ari Laksmi Dewi
Sepia Risa
Siska Dafita Wijaya

PEMBIMBING :

dr. Jims F. Tambunan, M. Ked. For, Sp. F


PENDAHULUAN
Racun adalah :

Suatu Zat yang bila masuk kedalam tubuh


dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan
reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan
dapat menyebabkan kematian.

Dalam ilmu kedokteran kehakiman, keracunan


dikenal sebagai salah satu penyebab kematian
yang cukup banyak sehingga keberadaannya
tidak dapat diabaikan.
Ada 8 point penting, yaitu:

1) SUMBER
2) FARMAKOKINETIK
3) FARMAKODINAMIK
4) TANDA & GEJALA
5) PEM. FORENSIK: Otak, Myocardium, Kulit, Paru, Ginjal,
Darah
6) PEM. LABORATORIUM: Dilusi Alkali, Formalin,
Spektroskopis, Spektrofotometrik, dan Kromatografi Gas
7) PENGOBATAN
8) GEJALA SISA
PENDAHULUAN
Karbon monoksia (CO) adalah racun yang tertua
dalam sejarah manusia.

Gas CO adalah gas yang tidak berwarna, tidak


berbau, dan tidak merangsang selaput lendir,
sedikit lebih ringan dari udara sehingga mudah
menyebar.

Co dapat bersenyawa dengan logam ataupun non


logam. Misalnya dengan klorin akan terbentuk
karbonil klorida yaitu Fosgen (gas beracun yang
dipakai saat peperangan)
1. SUMBER
Sumber terpenting adalah motor yang menggunakan bensin sebagai bahan
bakar, karena campuran bahan yang terbakar tsbt mengandung bahan bakar
lebih banyak dari pada udara sehingga gas yang dikeluarkan mengandung 3 -
7% CO.
Sebaliknya motor diesel mengeluarkan sangat sedikit CO, kecuali motor yang
tidak sempurna sehingga banyak mengeluarkan asap hitam yang
mengandung CO.

Sumber lain adalah gas arang batu yang mengandung 5% CO, alat pemanas
berbahan bakar gas, lemari es gas dan cerobong asap yang bekerja tidak
baik.

Gas alam jarang sekali mengandung CO, tetapi pembakaran gas alam yang
tidak sempurna tetap akan menghasilkan CO.

Pada kebakaran juga akan terbentuk CO.

Pada alat pemanas air berbahan bakar gas. jelaga yang tidak dibersihkan
pada pipa air yang dibakar akan memudahkan terjadinya gas CO berlebihan.
2. FARMAKOKINETIK
CO hanya diserap oleh paru-paru dan sebagian besar diikat
oleh Hemoglobin secara reversibel, setelah itu membentuk
karboksi hemoglobin. Selebihnya mengikat diri dengan
mioglobin dan beberapa protein heme ektraseluler lain.

Afinitas CO terhadap Hb adalah 208-245x dari afinitas O2.

Co bukan merupakan racun yang kumulatif, ikatan CO


dengan Hb tidak tetap (reversibel) dan setelah CO
dilepaskan oleh Hb,sel darah merah tidak akan mengalami
kerusakan.

Arbsorpsi dan eksresi CO dipengaruhi oleh kadar CO tsbt


dalam udara lingkungan (ambient air), lama paparan dan
ventilasi paru korban
Bila orang yang keracunan CO dipindahakan ke udara
bersih dan berada dalam keadaan istirahat, maka
kadar COHb akan berkurang dalam waktu 4,5 jam.
Sedangkan dalam waktu 6-8jam darahnya tidak akan
mengandung CO lagi.

Inhalasi O2 mempercepat ekskresi CO, sehingga


dalam waktu 30 menit kadar COHb telah berkurang
setengahnya dari kadar semula,

Umumnya kadar COHb akan berkurang 50% bila


penderita CO akut dipindahkan ke udara bersih, dan
selanjutnya sisa COHb akan berkurang 8-10% setiap
jam nya.
3. FARMAKODINAMIK
CO bereaksi dengan Fe dari porfirin dan karena itu CO
bersaing dgn O2 dalam mengikat protein heme yaitu
hemoglobin, mioglobin, sitokrom oksidase dan sitokrom
peroksidase&katalase.

Yang terpenting adalah reaksi CO dengan Hb dan sitokrom


oksidase, dengan di ikatnya Hb menjadi COHb
mengakibatkan Hb menjadi INaktif sehingga darah
berkurang kemampuan nya untuk mengangkut O2, selain itu
adanya COHb dalam darah akan menghambat disosiasi Oxi-
Hb. dengan demikian jaringan akan mengalami hipoksia.

Reaksi sitokrom oksidase yang merupakan link yang penting


dalam sistem enzim pernafasan sel yang terdapat dalam
mitokondria akan menghambat pernafasan sel dan
mengakibatkan hipoksia jaringan.
Konsentrasi CO dalam udara lingkungan dan lamanya inhalasi
menentukan timbulnya gejala dan kematian pada korban.
50ppm (0,005%) adalah TLV (Threshold Limit Value / Nilai
Ambang Batas) yaitu: Konsentrasi CO dalam udara
lingkungan yang di anggap masih aman bila dihirup selama 8
jam setiap hari dan setiap minggu untuk jumlah tahun yg
tidak terbatas.
220ppm (0,02%): inhalasi 1-3 jam akan mengakibatkan
kadar COHb mencapai 15-20% saturasi dan gejala keracunan
mulai timbul.
1000ppm (0,1%): inhalasi 3 jam dapat menyebabkan
kematian,
3000ppm(0,3%): inhalasi selama 2 jam saja sudah dapat
menimbulkan kematian.
10.000ppm (1%): inhalasi 15 menit menyebabkan
kehilangankesadaran, 20 menit menyebabkan kematian.
Rumus Henderson dan Haggard:
(Berlaku bagi orang dalam keadaaan
istirahat)
ppm adalah: Banyaknya konsentrasi CO dalam udara
Lamanya inhalasi dihitung dalam: jam

Cara penggunaan: (Waktu) x (Konsentrasi)


Bila hasil:
300 <Tidak ada gejala>
900 <Timbul gejala sakit kepala, rasa lelah, dan mual>
1500 <Menandakan bahaya dan fatal>
4. TANDA DAN GEJALA
Gejala keracunan CO dalam darah, berikut penilaian nya dalam persentase
saturasi COHb:

10% : Tidak ada gejala


10-20% : Rasa berat pada kening, sakit kepala ringan, Pelebaran
pembuluh darah subkutan, Dispnu,mulai ganggan koordinasi
20-30% : Sakit kepala, berdenyut dalam pelipis, emosional
30-40% : Sakit kepala keras, lemah, pusing, penglihatan buram, mual,
muntah, kolaps
40-50% : Sama seperti diatas, kemungkinan besar Kollaps dan nadi
bertambah cepat
50-60% : Sinkop, koma ,kejang pernafasan cheyne stokes
60-70% : Koma dengan kejang, depresi jantung dan pernafasan, mungkin
mati
79-80% : Nadi melemah,nafas melambat, dan kematian
(10% - 30%) (30% - 40%) (40% - 50%) (50% - 80%)
5. PEM. FORENSIK
Pada korban mati yang tidak lama setelah keracunan CO
ditemukan lebam mayat berwarna merah muda yang terang
(cheryy pink colours). Tampak jelas bila kadar COHb mencapai
30% atau lebih.

Warna lebam mayat seperti ini juga ditemukan pada mayat yg


di dingin kan , pada korban keracunan sianida, dan pada
orang yang mati akibat infeksi oleh jasad renik yang mampu
membentuk nitrit, sehinggga dalam darahnya terbentuk
nitroksi-hemoglobin (nitric-oxide Hb), meskipun demikian
masih dapat dibedakan dengan pemerikasaan sederhana.

Pada mayat yg didinginkan dan pada keracunan CN ,


penampang ototnya berwarna biasa tidak merah terang, juga
pada mayat yg didinginkan warna merah terang tidak merata,
selalu masih ditemukan daerah yg berwarna ungu tua (livid).
Pada analisis toksikologi darah akan ditemukan ada nya COHb,
sedangkan pada mayat yg tertunda kematian nya sampai 72 jam
maka seluruh CO telah di ekskresi dan darah tidak lagi
mengandung COHb, sehingga ditemukan lebam mayat berwarna
livid seperti biasa, ditemukan juga jaringan otot, visera dan darah.

Otak: Pada substansi alba dan korteks kedua belah otak globus
palidus ditemukan ptekiae (untuk setiap kasus hipoksemia otak
yang cukup lama)
Miocard: Ditemukan perdarahan pada otot ventikel terutama di
subperkardial dan endokardial.
Kulit: eritema, vesikel / bula (pada bagian dada, perut muka dan
anggota gerak badan yang lain)
Paru: mudah terjadi Pneumonia hipostatik paru karena gangguan
peredaran darah,dan juga dapat terjadi trombosis a.pulmonalis.
Ginjal: Terjadi nekrosis tubuli (secara mikroskopik seperti payah
ginjal)
Darah: Trombus
6. PEM. LABORATORIUM
Dilusi Alkali: berfungsi untuk menentukan COHb secara
kualitatif
-> Ambil 2 tabung reaksi
-> Masukkan ke tabung pertama 1-2 tetes darah korban
-> Masukkan ke tabung ke dua 1-2 tetes darah normal (sebagai
kontrol)
-> Encerkan masing masing dengan menambahkan 10ml air sehingga
warna merah pada ke dua tabung sama.
-> Tambahkan pada setiap tabung 5 tetes larutan NaOH 10-20%
(kocok)

Hasil: Darah normal akan berubah warna menjadi merah hijau


kecoklatan karena terbentuk hematin alkali, sedangkan darah
yang mengandung CO tidak berubah warna nya.
Cat: Darah kontrol haruslah darah dengan Hb normal
Uji Formalin: Darah yang akan diperiksa ditambahkan
formalin 40% sama banyaknya, bila darah mengandung CO
25% saturasi maka akan terbentuk koagulat berwarna merah
yang mengendap pada dasar tabung reaksi . Semakin tinggi
kadar COHb semakin merah warna koagulatnya. Sedangkan
pada darah normal akan terbentuk koagulat berwarna coklat.

Metode Gettler-Freimuth (semi-kwantitatif):


Darah + kalsium ferisianida ---> CO dibebaskan dari COhb
CO + PdCl2 +H2O ---> Pd + CO2 + HCl
Paldium (Pd) ion akan di endapkan pada kertas saring
berupa endapan hitam, dengan membandingkan intensitas
warna hitam tersebut dengan warna hitam yg di peroleh dari
pemeriksaan terhadap darah dengan kadar COHb yang
diketahui, maka akan ditentukan konsentrasi COHb secara
semi kuantitatif.
SPEKTROFOTOMETRI:
adalah cara terbaik untuk melakukan analisa CO atas darah
segar korban keracunan CO yang masih hidup, karena
hanya dengan cara ini dapatditentukan rasio COHb : OxiHb
darah mayat adalah darah yg tidak segar sehingga
memberikan hasil yang tidak dapat dipercaya

KROMATOGRAFI GAS: banyak dipakai untuk mengukur


kadar CO dari sample darah mayat (darah tidak segar) dan
cukup dapat dipercaya.
7. PENGOBATAN
Pindahkan korban ke udara segar
Beri oksigen 100% sampai COHb dalam darah menurun di bawah kadar
berbahaya
Bila terjadi depresi pernafasan berikan pernafasan buatan dengan oksigen
100% sampai pernafasan menjadi normal kembali.
Memasukkan korban ke dalam ruang hiperbarik (hyperbaric chamber)
dengan tekanan oksigen sebesar 2 - 2,5 atmosfir selama 1 sampai 2 jam
akan mempercepat eliminasi CO, tetapi harus hati hati terhadap
kemungkinan edema dan perdarahan paru
Pertahankan kehangatan tubuh dengan memberikan selimut tetapi jangan
memberikan panas dari luar (external heat), karena mungkin dapat
memperburuk keadaan syok yang di alami nya.
Pertahankan tekanan darah, bila perlu meningggikan bagian kaki tempat
tidur jika terjadi hipotensi, sehingga aliran darah ke otak tetap terjamin
Berikan 50 ml glukosa 50% IV atau manitol, untuk mengurangi edema otak
yang mungkin timbul
Bila terdapa hipertermia berikan kompres air dingin
Jika perlu dapat diberikan stimulan seperti kafein atau natrium benzoat
Bila ada payah jantung berikan strophatin 0,5 mg atau lanatoside 0,4 0,6
mg IV
8. GEJALA SISA
Keracunan ringan CO dapat meninggalkan sisa nyeri
kepala pada korban yg telah disembuhkan, untuk
sementara waktu yg kemudian dapat hilang dengan
sendiri nya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan
khusus.

Keracunan CO yang sampai menyebabkan koma bila


kemudian sembuh mungkin akan menderita gejala sisa
berupa gejala disorientasi, amnesia retrogad,
parkinsonisme, atau sindrom post-ensefalitis, gejala
tersebut ada karena kerusakan yg terjadi pada sel-sel
SSP ketika keracunan hebat tsbt berlangsung.
You Must Know It
Tip-tip mencegah keracunan karbon monoksida
Periksa semua saluran rumah yang bukaannya menghadap keluar rumah
(pemanas air dsb) setiap tahun untuk memastikan saluran pengeluaran
tidak tersumbat.
Periksa AC mobil untuk memeriksa kebocoran yang mungkin terjadi
Periksa pemanas air, pastikan bukanya sempurna dan saluran tidak bocor
Jangan nyalakan mobil dalam garasi yang tertutup rapat
Jika ingin beristirahat dalam mobil, jangan menutup semua kaca dan pintu
dengan penyejuk udara yang masih menyala. Banyak kasus kematian
dalam mobil karena tertidur dan keracunan gas karbon monoksida
Kalau mengendarai mobil kemudian akan memberhentikan mobil dalam
waktu lama seperti parkir atau beristirahat, hendaknya mesil mobil
dimatikan dan ac tidak perlu dihidupkan
Pada karyawan yang bekerja di kawasan industri harus menggunakan alat
pelindung diri seperti masker untuk mengurangi terhirupnya asap hasil
pembakaran.
SEKIAN DAN TERIMAKASIH