You are on page 1of 17

LAPORAN KASUS

DE QUERVAINS SYNDROME

Gita Titian Tera Indah 6.11.11.040


Riri anggraeni 6.11.11.034

Pembiming
Dr. Handedi Sp.S M.Kes

KEPANITRAAN KLINIK NEUROLOGY


RSUD EMBUNG FATIMAH BATAM
TAHUN 2017
ANATOMI

De Quervains syndrome adalah


stenosis pada tendon sheath
kompartemen dorsal pertama
pergelangan tangan.
Kompartemen ini terdiri dari
tendon otot abduktor polisis
longus dan otot ekstensor polisis
brevis
LANJUTAN...

- Tendon pada otot ekstensor polisis


brevis berfungsi pada pergerakan
ekstensi polluks, sedangkan tendon
pada otot abduktor polisis longus
berfungsi sebagai pergerakan
abduksi pada polluks.

- Di antara kedua tendon ini berjalan


cabang dari nervus radialis sebagai
sensoriknya sehingga jika terjadi
stenosis pada kompartemen ini akan
merangsang terjadinya nyeri oleh
iritasi pada nervus radialis.
DEFINISI

De Quervains syndrome
merupakan penyakit dengan nyeri
pada daerah prosesus stiloideus
akibat inflamasi kronik
pembungkus tendon otot
abduktor polisis longus dan
ekstensor polisis brevis setinggi
radius distal dan jepitan pada
kedua tendon tersebut

Tampak kompartemen dorsal pertama pada daerah stiloid


radius menonjol
EPIDEMIOLOGI

Angka kejadian di USA untuk penyakit ini relatif,


terutama di antara orang-orang yang menunjukkan
aktivitas yang menggunakan tangan berulang-
ulang, seperti pekerja pemasangan bagian-bagian
mesin tertentu dan sekretaris.

ETIOLOGI

- Aktivitas-aktivitas yang mungkin menyebabkan


trauma ulangan pada pergelangan tangan termasuk
faktor pekerjaan, tugas-tugas sekretaris, olahraga
golf, atau permainan olahraga yang menggunakan
raket.

- Penyebab yang pasti tidak diketahui, tetapi


inflamasi tendon yang terjadi berhubungan dengan
gesekan yang berlebihan / berkepanjangan antara
tendon dan pembungkusnya, terjadi misalnya pada
wanita yang pekerjaannya memeras kain.
PATOFISIOLO
GI

Pada trauma minor yang bersifat repetitif atau penggunaan


berlebih pada jari-jari tangan (overuse) menyebabkan malfungsi
dari tendon sheath. Tendon sheath yang memproduksi cairan
sinovial mulai menurun produksi dan kualitas cairannya.
Akibatnya, pada penggunaan jari-jari selanjutnya terjadi
pergesekan otot dengan tendon sheath karena cairan sinovial
yang berkurang tadi berfungsi sebagai lubrikasi. Sehingga terjadi
proliferasi jaringan ikat fibrosa yang tampak sebagai inflamasi
dari tendon sheath. Proliferasi ini menyebabkan pergerakan
tendon menjadi terbatas karena jaringan ikat ini memenuhi
hampir seluruh tendon sheath. Terjadilah stenosis atau
penyempitan pada tendon sheath tersebut dan hal ini akan
mempengaruhi pergerakan dari kedua otot tadi.
PENEGAKAN
DIAGNOSIS

ANAMNESIS
- riwayat terjadinya
nyeri Pada pemeriksaan fisik:
- apa pekerjaannya
terdapat nyeri tekan pada daerah
prosesus stiloideus radius, kadang-
kadang dapat dilihat atau dapat teraba
nodul akibat penebalan pembungkus
fibrosa pada sedikit proksimal prosesus
stiloideus radius, serta rasa nyeri pada
adduksi pasif dari pergelangan tangan
dan ibu jari.Bila tangan dan seluruh
jari-jari dilakukan deviasi ulnar,
penderita merasa nyeri oleh karena
jepitan kedua tendo di atas dan disebut
uji Finkelstein positif.
TATALAKSANA

- Pengobatan yang dilakukan


adalah dengan terapi konservatif
dan intervensi bedah. 1. Nonsteroid anti-
inflammatory drug
-Pada terapi konservatif kasus- misalnya ibuprofen yang
kasus dini, sebaiknya penderita merupakan drug of choice
menghindari pekerjaan yang untuk pasien dengan nyeri
menggunakan jari-jari mereka. sedang. Bekerja sebagai
Hal ini dapat membantu penghambat reaksi
penderita dengan inflamasi dan nyeri
mengistirahatkan (immobilisasi)
kompartemen dorsal pertama 2. Kortikosteroid dapat
pada ibu jari (polluks) agar digunakan sebagai anti
edema lebih lanjut dapat dicegah. inflamasi karena dapat
Idealnya, immobilisasi ini mensupresi migrasi dari
dilakukan sekitar 4-6 minggu. sel-sel polimorfonuklear
Kompres dingin pada daerah dan mencegah
edema dapat membantu peningkatan permeabilitas
menurunkan edema kapiler.
(cryotherapy).
PROGNOSIS

Prognosis penyakit ini umumnya baik. Pada


kasus-kasus dini, biasanya berespon dengan baik
pada terapi konservatif. Sedangkan pada kasus-
kasus lanjut dan tidak memberikan respon yang
baik dengan terapi konservatif, dilakukan
tindakan bedah untuk dekompresi pada
kompartemen dorsal pertama dari pergelangan
tangan.
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien : Ny. SM
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 59 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Kodya Batam
Masuk RS : 13-02-2017
ANAMNESIS
Keluhan Utama : Jempol tangan kiri sakit untuk
digerakkan

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke Poli Saraf Rumah Sakit Embung Fatimah
Kota Batam dengan keluhan nyeri dan terasa berdenyut di
pergelangan tangan kiri menjalar sampai ke jari-jari. Nyeri
dirasakan terus menerus dan makin lama nyerinya semakin
memberat sejak 1 bulan yang lalu. Pasien tetap dapat
melakukan aktivitas harian seperti biasa, nyeri saat
menggenggam ataupun menggunakan tangan kirinya, pasien
harus menahan rasa nyeri yang dirasakan. Riwayat pergi
berobat dan kosumsi obat selama sakit (-). Pasien pernah
pergi berurut sebanyak 6 kali tapi tidak ada perbaikan.
Riwayat pekerjaan, pasien pernah bekerja di pabrik perakit
telfon selama 7 tahun dengan gerakan menyusun bahan
rakitan telfon menggunakan tangan dengan gerakan cepat
dan berulang-ulang. Sebelumnya pasien juga bekerja sebagai
karyawan di cafe sebagai pembuat minuman selama 10
tahun. Riwayat trauma (+) jatuh saat bermain dengan cucu
dengan posisi tangan kiri menahan badan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat keluhan yang sama, Riwayat hipertensi, Riwayat
DM , Riwayat penyakit jantung disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat keluhan yang sama, Riwayat hipertensi, Riwayat
DM , Riwayat penyakit jantung disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK

Kesadaran : Compos Mentis


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
GCS : E4M6V5
TD : 130/80 mmHg
HR : 80 x/mnit
RR : 20x/ mnit
Extremitas : Akral hangat, CRT 2 detik
Fungsi Kortiko Luhur : Dalam Batas Normal
Rangsangan Meningen: Kaku kuduk (-) Kernig sign (-)
Nn.cranial : Pupil bulat isokor, diameter 2,5 mm/2,5 mm
RCL+/+ RCTL +/+ reaktif
Nn. cranial lain : Dalam batas normal
Motorik : pergerakan = normal normal
normal normal
Kekuatan = 5 5 Tonus= normal normal
5 5 normal normal
Reflek Fisiologis= normal normal
normal normal
Reflek Patologis= -- --
Sensorik : Dalam batas normal
Otonom : BAK (+) BAB (+) Keringat (+)
STATUS LOKALIS (manus sinistra)
Inspeksi: terdapat benjolan pada Wrist sinistra sejajar
digiti dan os. Radius diameter 2 cm.
Palpasi: padat kenyal, nyeri tekan (+), nyeri saat
pergerakan pasif dan aktif. Filkenstain tes (+), Phalen tes
(+).

DIAGNOSIS
De Quervains syndrome

3.6 TERAPI
Methylprednisolone 4 mg ( 3 dd tab 1)
Natrium diclofenac 50 mg ( 2 dd tab 1)
Ranitidine 150 tab (2 dd tab 1)
PEMBAHASAN
pasien datang dengan
KASUS TEORI
nyeri di pergelangan
Ini sesuai dengan teori yaitu
tangan ibu jari,
penyebab de querveins
Riwayat bekerja terus syndrome adalah Aktivitas-
menerus dengan aktivitas yang mungkin
tangan dan jari-jari menyebabkan trauma
ulangan pada pergelangan
tangan yaitu bekerja
tangan, dan menyebabkan
sebagai perakit nyeri pada aspek
telepon selama 7 dorsolateral dari
tahun dan bekerja pergelangan tangannya
dengan nyeri yang berasal
sebagai karyawan di
dari arah ibu jari dan / atau
cafe sebagai pembuat lengan bawah bagian
minuman selama 10 lateral.
tahun.
KASUS TEORI

fisik terdapat nyeri tekan


pada daerah prosesus
stiloideus radius, kadang-
kadang dapat dilihat
Pemeriksaan fisik
atau dapat teraba nodul
dengan Finkelstein akibat penebalan
test, pasien mengeluh pembungkus fibrosa
nyeri di pegerlangan pada sedikit proksimal
tangan dan tampak prosesus stiloideus
benjolan. radius, serta rasa nyeri
pada adduksi pasif dari
pergelangan tangan dan
ibu jari.
KASUS TEORI
Tujuan pemberian obatnya adalah
untuk mengobati symptom dan
sebagai penghambat reaksi
inflamasi dan nyeri.
Nonsteroid anti-inflammatory drug
misalnya ibuprofen yang
Terapi pada pasien merupakan drug of choice untuk
pasien dengan nyeri sedang.
ini diberikan Bekerja sebagai penghambat reaksi
Metilprednisolon, inflamasi dan nyeri dengan jalan
Natrium diclofenac menghambat sintesa prostaglandin
Kortikosteroid dapat digunakan
dan ranitidin sebagai anti inflamasi karena dapat
mensupresi migrasi dari sel-sel
polimorfonuklear dan mencegah
peningkatan permeabilitas kapiler.