You are on page 1of 31

KEWIRAUSAHAAN

Berfikir Membangun Usaha


Baru, Merger dan Akuisisi
Kelompok 5
Cici Rosfitania (1401075)
Lidiatil Masnun (1401099)
M. Chaliqga Saputra (1401136)
Selvi Nurizky (1401138)
Beri Ardianto

Dosen : Erniza Pratiwi, M.Farm.,


Apt
POKOK
BAHASAN

Memulai usaha Definisi akuisisi


baru dan merger

Tujuan akuisisi Klasifikasi


dan merger akuisisi dan
merger

Kelebihan dan Penyebab


kekurangan kegagalan
akuisisi dan akuisisi dan
merger merger
Merintis usaha baru
Memulai (starting)
Usaha Membeli
Baru perusahaan orang
lain
Menurut (buying)
Suryana
(2006) Kerja sama
manajemen
(franchising)
Merintis Usaha Baru

membentuk dan mendirikan usaha baru


dengan menggunakan modal, ide, organisasi
dan manajemen yang dapat dirancang sendiri

Dalam merintis usaha baru, ada beberapa hal


yang harus diperhatikan:
1. Bidang dan jenis usaha yang dimasuki.
2. Bentuk usaha dan kepemilikan yang akan
dipilih.
3. Ada beberapa kepemilikan usaha yang dapat
dipilih, diantaranya perusahaan perseorangan,
persekutuan (dua macam anggota sekutu
umum dan sekutu terbatas), perseroan, dan
firma
5. Organisasi usaha yang akan digunakan.
6. Kompleksitas organisasi usaha tergantung pada
lingkup atau cakupan usaha dan skala usaha.
7. Lingkungan usaha

Membeli perusahaan orang lain (buying)

dengan membeli perusahaan yang telah


didirikan atau dirintis dan diorganisir oleh
orang lain dengan nama dan organisasi yang
sudah ada.
Banyak alasan mengapa seseorang memilih
membeli perusahaan yang sudah ada daripada
mendirikan atau merintis usaha baru, antara lain:
Resiko lebih rendah
Lebih mudah
Memiliki peluang untuk membeli dengan harga
yang dapat ditawar
Kerja sama manajemen
(franchising)
kerja sama antara wirausaha dengan
perusahaan besar dalam mengadakan
persetujuan jual beli hak monopoli untuk
menyelenggarakan usaha (waralaba).

Franchisor adalah (perusahaan induk)


adalah perusahaan yang memberi lisensi

Franchise adalah perusahaan pemberi


lisensi (penyalur atau dealer).
Identifikasi Peluang Usaha
Frinzes (2011: 230) mengidentifikasi ada
tidaknya sebuah peluang usaha berdasarkan
tiga kondisi pasar sebagai berikut :
1. Ketika sebuah produk atau jasa sudah ada
di pasaran tetapi tidak atau belum dapat
memenuhi kebutuhan, keinginan, atau
selera konsumen.
2. Adanya kenyataan atau kondisi ketika
konsumen membutuhkan sebuah produk
yang dapat mengatasi persoalan yang
mereka hadapi namun tidak ada di
pasaran.
3. Ketika ada sebuah inovasi (temuan baru)
barang atau jasa yang sebelumnya tidak
diketahui oleh konsumen.
Hambatan Hambatan dalam
Memasuki Industri
Hambatan Hambatan dalam Memasuki Industri
Menurut Peggy Lambing (2000: 95)
Ada beberapa hambatan untuk memasuki industri
baru, yaitu :
Sikap dan kebiasaan pelanggan. Loyalitas
pelanggan kepada perusahaan baru masih kurang
sebaliknya, perusahaan yang sudah ada justru lebih
bertahan karena telah lamam mngetahui sikap dan
kebiasaan pelanggannya.
Biaya perubahan. Yaitu biaya yang diperlukan untuk
pelatihan kembali para karyawan dan penggantian
alat serta sistem yang lama.
Respon dari pesaing yang secara agresif akan
Kelebihan dan Kekurangan
Bentuk Kelebihan Kekurangan
Merintis Usaha Gagasan Murni Pengakuan nama barang
Bebas beroperasi Fasilitas inefisien
Fleksibel dan mudah Persaingan kurang
penggunaan diketahui
Membeli Kemungkinan sukses Perusahaan yang dijual
Perusahaan Lokasi sudah cocok biasanya lemah
Karyawan dan pemasok Peralatan tak efisien
biasanya sudah mantap Mahal
Sudah siap operasi Sulit inovasi
Kerjasama Mendapat pengalaman Tidak mandiri
manajemen dalam logo, nama, metoda, Kreativitas tidak
teknik produksi, pelatihan berkembang
dan buruan modal Menjadi independen
Penggunaan nama, merek terdominasi, rentan
yang sudah dikenal terhadap perubahan
franchisor
Merger dan Akuisisi
Pengambilalihan
Usaha Akuisisi

Penggabungan
Merger
Usaha
Merger
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27
Tahun 1988 mendefinisikan
Merger sebagai perbuatan hukum yang dilakukan
oleh dua perseroan atau lebih untuk
menggabungkan diri dengan perseroan lain yang
telah ada dan selanjutnya perseroan yang
menggabungkan diri menjadi bubar.
Pihak yang masih hidup dalam atau yang
menerima merger dinamakan surviving firm atau
pihak yang mengeluarkan saham (issuing firm)
Sementara itu perusahaan yang berhenti dan
bubar setelah terjadinya merger dinamakan
merged firm
Merger adalah suatu proses penggabungan
dua perusahaan atau lebih dimana
perusahaan pengambil alih akan tetap
berdiri sedangkan perusahaan yang diambil
alih akan lenyap.
Akuisisi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.27
tahun 1998 tentang penggabungan, peleburan
dan pengambilalihan Perseroan Terbatas

Akuisisi sebagai perbuatan hukum yang dilakukan oleh


badan hukum atau perseorangan untuk mengambil
alih baik seluruh atau sebagian besar saham
perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya
pengendalian terhadap perseroan tersebut.
Tujuan Merger dan Akuisisi
Menurut Eugene F. Brigham (2006)

a. Sinergi
Merger yang bersifat sinergistik,nilai
perusahaan setelah merger lebih besar
daripada penjumlahannilai masing-masing
perusahaan sebelum merger.
b. Pertimbangan pajak
Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat
melakukan akuisisi dengan perusahaan yang
menghasilkan laba untuk memanfaatkan
kerugian pajak.
c. Diversifikasi
Manajer berpendapat bahwa diversifikasi
menstabilkan laba perusahaan sehingga
bermanfaat bagi pemiliknya.

d. Pembelian aktiva di bawah biaya


pengganti
Kadang-kadang perusahaan diambilalih
karena nilaipengganti (replacement value)
aktivanya jauh lebih tinggi daripadanilai
pasar perusahaan itu sendiri.
e. Nilai pecahan
Para analis mengestimasi nilai pemecahan
suatu perusahaan, yang merupakan nilai
masing-masing bagian dari perusahaan itu
jika dijual terpisah dan menghasilkan laba
yang besar.
Klasifikasi Akuisisi Dan Merger
Berdasarkan aktivitas ekonomik, merger dan akuisisi
dapat diklasifikasikan dalam lima tipe
Merger
Horizontal

merger antara dua atau lebih perusahaan


yang bergerak dalam industri yang sama.

Merger
Vertikal

Merger vertikal adalah integrasi yang melibatkan


perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam
tahapan-tahapan proses produksi atau operasi.

Merger
Konglomera
t

merger dua atau lebih perusahaan yang


masing-masing bergerak dalam industri
Merger
Ekstensi
Produk

merger yang dilakukan oleh dua atau lebih


perusahaan untuk secara bersama-sama
memperluas area pasar.

Merger
Ekstensi
Pasar

merger yang dilakukan oleh dua atau lebih


perusahaan untuk memperluas lini produk
masing-masing perusahaan.
Klasifikasi berdasarkan obyek yang diakuisisi
dibedakan atas :

1. Akuisisi saham

Istilah akuisisi digunakan untuk


menggambarkan suatu transaksi jual beli
perusahaan, dan transaksi tersebut
mengakibatkan beralihnya kepemilikan
perusahaan dari penjual kepada pembeli.
2. Akuisisi Asset

Akuisisi asset secara sederhana dapat dikatakan


merupakan Jual beli (asset) antara pihak yang melakukan
akuisisi asset ( sebagai pihak pembeli ) dengan pihak
yang diakuisisi assetnya (sebagai pihak penjual)
Kelebihan dan Kekurangan Merger
(Harianto dan Sudomo, 2001)

Kelebihan Merger
Keuntungan dan Kerugian Akuisisi
Keuntungan Akuisisi (Harianto dan
Sudomo, 2001)
Keuntungan-keuntungan akuisisi saham dan akuisisi
aset adalah sebagai berikut:
a. Akuisisi Saham tidak memerlukan rapat pemegang
saham dan suara pemegang saham sehingga jika
pemegang saham tidak menyukai tawaran Bidding
firm, mereka dapat menahan sahamnya dan tidak
menjual kepada pihak Bidding firm.

b.Dalam Akusisi Saham, perusahaan yang membeli


dapat berurusan langsung dengan pemegang saham
perusahaan yang dibeli dengan melakukan tender offer
sehingga tidak diperlukan persetujuan manajemen
perusahaan.
c. Karena tidak memerlukan persetujuan manajemen
dan . komisaris perusahaan, akuisisi saham dapat
digunakan untuk pengambilalihan perusahaan
yang tidak bersahabat (hostile takeover).

d. Akuisisi Aset memerlukan suara pemegang saham


tetapi tidak memerlukan mayoritas suara
pemegang saham
Kerugian Akuisisi (Harianto dan Sudomo,
2001)
Kerugian-kerugian akuisisi saham dan akuisisi aset
sebagai berikut :
a. Jika cukup banyak pemegang saham minoritas
yang tidak menyetujui pengambilalihan tersebut,
maka akuisisi akan batal. Pada umumnya
anggaran dasar perusahaan menentukan paling
sedikit dua per tiga (sekitar 67%) suara setuju
pada akuisisi agar akuisisi terjadi.
b. Apabila perusahaan mengambil alih seluruh
saham yang dibeli maka terjadi merger
c. Pada dasarnya pembelian setiap aset dalam
akuisisi aset harus secara hukum dibalik nama
sehingga menimbulkan biaya legal yang tinggi.
Faktor Penyebab Kegagalan
Merger dan Akuisisi
Menurut Cartwright dan Cooper(1993)

a. Pengambilan keputusan yang belum tepat karena


membeli perusahaanlain dengan harga yang
terlalu tinggi
b. Adanya kesalahan dalam pengelolaan keuangan
sehingga realisasibertambahnya skala ekonomi
dan rasio-rasio laba yang diharapkan tidaktercapai
c. Terjadi perubahan pasar yang mendadak
Contoh Merger
Beberapa diantaranya adalah penggabungan tiga
perusahaan farmasi pada tahun 2015 yaitu PT Kalbe
Farma Tbk, PT Dankos Laboratories Tbk, dan PT
Enseval. Dalam penggabungan ini, badan hukum
yang dipertahankan adalah PT Kalbe Farma Tbk,
sedangkan kedua perusahaan lainnya dibubarkan.
Semua aset dan kewajiban perusahaan yang
menggabungkan diri (PT Dankos dan PT Enseval)
selanjutnya akan beralih ke dalam PT Kalbe Farma.
Karena PT Kalbe Farma dan PT Dankos sudah menjadi
perusahaan terbuka yang menjual sahamnya di Pasar
Modal Indonesia, proses mergernya juga wajib
dilakukan menurut aturan Badan Pengawasan Pasar
Modal (Bapepam).
Contoh Akuisisi
Satu lagi perusahaan Indonesia dicaplok perusahaan asal
Malaysia. Adalah Pharmaniaga Bhd yang telah
menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan
pengusaha Glenn Rahyu Adli Ariff untuk mengakusisi
100% saham pada perusahaan farmasi nasional, PT Errita
Pharma. Errita Pharma merupakan produsen produk
farmasi generik yang berbasis di Bandung. Nilai
pembelian mencapai US$ 28 juta ( 86,2 miliar Ringgit
Malaysia). Pharmaniaga menyebutkan dalam sebuah
pernyataan kepada bursa, bahwa pihaknya berencana
mengakuisisi 40 ribu saham di Errita Pharma dari dua
vendor, Sutjipto Tjengudororo dan Hendrijanto
Surjosuseno
Berdasarkan perjanjian tersebut, Pharmaniaga
yang 54,7% sahamnya milik konglomerat Boustead
Holdings Bhd, akan membeli 30 ribu saham atau 75%,
sementara Ariff sebesar 10 ribu saham. Ariff
merupakan Direktur PT Millennium Pharmacon
International Tbk, perusahaan farmasi yang listing di
PT Bursa Efek Indonesia, di mana Pharmaniaga juga
memiliki saham sebesar 55%. Pharmaniaga membeli
sahamnya pada 2004, sehingga membuatnya menjadi
pemegang saham terbesar pada Millenium Pharmacon.
Pharmaniaga juga terdaftar sebagai salah satu klien
PT Millennium Pharmacon International.
TERIMA KASIH
TERIMA KASIH