You are on page 1of 9

KELAINAN PADA SISTEM RESPIRASI (FARING)

KELOMPOK 2

Fitri Rangian Mulad Afriyanto Rauf


Fitria Puji Sri Rawil Lamusu
Fahrianto Djarumia Nurinda Abdullah
Noval Ismail Anisa gani
Sri Wulandari Stevin B. Yane
Theresya Pratiwi Koniyo Rusliah Zainul Abdul Kamba
Alan
FARINGITIS

TONSILITIS

CARSINOMA FARING
HOME
FARINGITIS

1. Definisi

Faringitis adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring). Faringitis (dalam bahasa Latin; pharyngitis), adalah suatu penyakit
peradangan yang menyerang tenggorok atau faring. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorokan.

2. Etiologi

Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri.

Virus : Common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV.

Bakteri : Sreptokokus grup A, Korinebakterium, Arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia Pneumoniae.

Batuk dan pilek. Dimana batuk dan lendir (ingus) dapat membuat tenggorokan teriritasi.

Alergi.
3. Patofisiologi

Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel terkikis maka
jaringan limfoid superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.
Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi
menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi,
pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu abu
terdapat folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel dan bercak bercak pada dinding faring posterior atau
terletak lebih ke lateral menjadi meradang dan membengkak sehingga timbul radang pada tenggorok atau faringitis.
TONSILITIS

1. Defenisi

Tonsi1itis adalah peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau
kumanstreptococcus beta hemolitikus grup A, streptococcus viridans dan pyogenes dan dapatdisebabkan oleh virus

2. Etiologi

Streptokokus beta hemolitikus

Streptokokus Ciridans

Streptokokus Piogenes

virus influenza
3. Patofisiologi

Bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut. Amandel atau tonsil berperan sebagai filter, menyelimuti organisme yang
berbahaya tersebut. Hal ini akan memicu tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang akan tetapi kadang-kadang
amandel sudah kelelahan menahan infeksi atau virus. Kuman meninfiltrasi lapisan epitel, bila epitel terkikis muka jaringan limfoid
supefisial mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimolfonuklear proses ini secara klinis tampak
pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning yang disebut deptriptus. Deptritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang
terlepas, suatu tonsil akut dengan detritus disebut tonsiliti valikularis, bila bercak deptritus berdekatan menjadi satu maka terjadi tonsillitis
lankunaris. Tonsillitis dimulai dengan gejala sakit tenggorokan ringan hingga menjadi parah. Pasien hanya mengeluh merasa sakit di
tenggorokkannya. Sehingga berhenti makan. Tongsilitis dapat menyebabkan kesukaran menelan, panas, bengkak, dan kelenjar getah bening
melemah di dalam daerah submandibuler, sakit pada sendi dan otot, kedinginan, seluruh tubuh sakit, sakit kepala dan biasanya sakit pada
telinga. Sekresi yang berlebih membuat pasien mengeluh, sukar menelan, belakang tenggorokkan akan merasa mengental. Hal-hal yang
tidak menyenangkan tersebut biasanya berakhir setelah 72 jam.
Lanjutan...

Bila bercak melebar lebih besar lagi sehingga terbentuk membrane semu (peseudomembran),
sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karena proses radang berulang maka epitel mukosa dan
jaringan limfoid terkikis. Sehingga pada proses penyembuhan, jaringan limfoid diganti jaringan
parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruangan antara kelompok melebar (kriptus) yang akan
diisi oleh detritus, proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlengketan
dengan jaringan sekitar fosatonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar
limfesubmandibula.
CARSINOMA FARING
1. Defenisi

Karsinoma nasofaring adalah keganasan pada nasofaring yang berasal dari epitelmukosa nasofaring atau kelenjar yang terdapat di
nasofaring.Carsinoma Nasofaring merupakan karsinoma yang paling banyak di THT. Sebagianbesar klien datang ke THT dalam keadaan
terlambat atau stadium lanjut

2. Etiologi

Virus Epstein Barr dengan ikan asin dikatakan sebagai penyebab utamatimbulnya penyakit ini. Virus ini dapat masuk dalam tubuh dan tetap
tinggal disana tanpamenyebabkan suatu kelainan dalam jangka waktu yang lama.Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator.

Mediator yang berpengaruh untuk timbulnya Ca Nasofaring :

Ikan asin, makanan yang diawetkan dan nitrosamine.

Keadaan social ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.

Sering kontak dengan Zat karsinogen ( benzopyrenen, benzoantrance, gas kimia, asapindustri, asap kayu, beberapa ekstrak tumbuhan).

Ras dan keturunan (Malaysia, Indonesia)


Radang kronis nasofaring

3. patofisiologi

Karsinoma Faring Banyak dijumpai pada usia lanjut diatas 40 tahun. Kebanyakan pada orang laki-laki. Hal
ini berkaitan dengan kebiasaan merokok, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik dan serbuk,
logam berat. Bagaimana terjadinya belum diketahui oleh para ahli secara pasti. Kanker kepala dan leher
menyebabkan 5,5% dari semua penyakit keganasan. Terutama neuplasma laryngeal. 95% adalah karsinoma
sel sakwamaso. Bila kanker terbatas pada pitasuara ( intrinsik) menyebar dengan lambat. Pita suara miskin
akan pembuluh limfe sehingga tidak terjadi metastase kearah kelenjar limfe. Bila kanker melibatkan
epiglottis (ekstrinsik) metastase lebih umum terjadi. Tumor superglotis dan subglotis harus cukup besar
sebelum mengenai pitasuara sehingga mengakibatkan suara serak. Tumor pitasuara yang sejati terjadi lebih
dini biasanya terjadi pada waktu pita suara masih dapat di gerakkan.