Вы находитесь на странице: 1из 38

Oleh:

Dr. Putri Suci Asriani, S.P., M.P.


Ketua Pusat Studi perempuan (PSW)
LPPM Universitas Bengkulu

Disampaikan pada acara Workshop Peningkatan Peran Perempuan


dalam Pengambilan Keputusan yang diselenggarakan oleh Badan
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bengkulu,
pada tanggal 11-13 Agustus 2014 di Hotel Nala Sea Side, Kota Bengkulu.
1. Pengertian Sex dan Gender
Sex
Seks mengacu pada jenis kelamin (Sunarto, 2000:112,
Macionis, 1989: 314-315) yakni perbedaan bilogis
antara perempuan dan laki-laki; perbedaan antara
tubuh perempuan dan laki-laki. Defenisi konsep seks
tersebut menekankan perbedaan kromosom pada janin.
Oleh karena itu kalau kita berbicara tentang perbedaan
jenis kelamin, kita berbicara tentang manusia (Fakih,
1995:8) yang berjenis laki-laki dan manusia yang
berjenis kelamin perempuan. Jenis kelamin laki-laki
adalah manusia yang memiliki penis, dan memproduksi
sperma. Sedangkan manusia perempuan memiliki alat
reproduksi seperti rahim, dan saluran untuk
melahirkan, memproduksi telur, memiliki alat vagina
dan mempunyai alat menyusui. Alat-alat tersebut
secara biologis melekat pada manusia jenis kelamin
perempuan dan laki-laki selamanya.
Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014
Artinya, secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa
tidak bisa dipertukarkan antara alat biologis yang melekat
pada manusia lelaki dan perempuan. Secara
permanen tidak pernah berubah dan merupakan
ketentuan biologi atau sering dikatakan sebagai ketentuan
Tuhan atau kodrat.
Gender
Gender merupakan suatu sifat (Fakih, 1995:8-9) yang
melekat pada kaum lelaki mapun perempuan yang
dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya
perempuan itu dikenal: lemah lembut, cantik,
emosional, keibuan. Sementara lelaki dianggap: kuat,
rasional, jantan, perkasa. Ada beberapa karakter dari
sifat-sifat tersebut yang dapat dipertukarkan.
pertama, ada lelaki yang emosional, lemah lembut,
keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat,
rasional Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014
dan perkasa.
Kedua, perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu
dan dari tempat ketempat lain. Misalnya saja zaman
dahulu di suatu suku tertentu perempuan lebih kuat
dari laki-laki, tetapi pada jaman yang lain ditempat
yang berbeda lelaki yang lebih kuat.
Ketiga, dari kelas ke kelas masyarakat yang lain juga
berbeda. Pada perempuan kelas bawah di pedesaan
pada suku-suku tertentu lebih kuat dibandingkan
kaum lelaki.
Menurut Giddens (Sunarto, 2000:112) konsep gender
menyangkut perbedaan psikologis, sosial dan budaya
antara laki-laki dan perempuan. Macionis (1989:315)
mendefenisikan gender sebagai suatu sifat manusia
yang diikat oleh budaya pada masing-masing jenis
Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014
kelamin.
2. Gender dan Ideologi Patriarkhi
Ideologi
Ideologi (Jeffries, 1980:339) mengandung tiga elemen yaitu
nilai, norma dan kepercayaan-kepercayaan. Nilai memuat
apa yang diharapkan, diinginkan untuk dicapai, sedangkan
norma mengandung unsur kewajiban yang memaksa
seseorang untuk memenuhi apa yang diinginkan. Norma
pada dasarnya bersifat mengatur. Elemen yang terakhir
adalah kepercayaan yang memuat pandangan-pandangan
yang ada dalam masyarakat.
Patriarchy
Patriarki (Macionis, 1989:317) merupakan suatu bentuk
organisasi sosial yang mana laki-laki mendominasi
perempuan.
Indeologi patriarkhi
Berdasarjan penjelasan dua konsep sebelumnya; ideologi
dan patriarkhi, maka yang dimaksudkan dengan ideologi
patriarki adalah pandangan yang menempatkan laki-laki
sebagai superordinat dari perempuan. Perempuan dalam hal
ini bersifat subordinat.
Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014
3. Gender dan Stratifikasi Sosial
Macionis (1989:328) mendefenisikan stratifikasi gender yaitu
sebagai ketimpangan dalam pembagian kekayaan, kekuasaan
dan privelese antara laki-laki dan perempuan. Menurut
Macionis, ketimpangan ini dijumpai diberbagai bidang; di dunia
kerja, dalam pelaksanaan pekerjaan rumah tangga, dibidang
pendidikan, di dibidang politik, selain itu perempuan lebih
cenderung menjadi korban kekerasan laki-laki dari pada
sebaliknya.

Adanya stratifikasi gender (Sunarto, 2000:116) telah


mendorong lahirnya gerakan sosial di kalangan kaum
perempuan, yang bertujuan membela dan memperluas hak-hak
kaum perempuan. Gerakan ini dinamakan fenimisme.

4. Feminisme
Menurut Giddens (Sunarto, 2000:116), feminisme telah bermula
di Perancis pada abad ke 18 dan kemudin menyebar ke negara-
negara lain dibenua Eropa, Amerika, Afrika dan Asia.
Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014
Macionis (1989:336-337) mengatakan bahwa
feminisme merupakan suatu cara pandang baru dan
berbeda mengenai diri kita sendiri dan masyarakat
kita. Feminisme merubah pola-pola sosial yang
konvensioanl yang diterima sebagaimana apa adanya
oleh masyarakat. Dalam konteks ini, feminisme
merupakan suatu tantangan baru khususnya
terhadap nilai-nilai kekuasaan dan dominasi
maskulinisme terhadap masyarakat yang patriarkhi.
Oleh karena perjuangan feminisme bertujuan untuk
menyamakan kedudukan sosial laki-laki dan
perempuan, maka feminisme sering dianggap
mereintegrasi kemanusiaan. Artinya kemanusiaan
laki-laki dan perempuan adalah sama, dan oleh
karena itu sudah seharusnya kesempatan-
kesempatan sosialpun harus sama pada laki-laki dan
Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014
perempuan.
5. Sosialisasi Gender
Sosialisasi peran gender mulai dilakukan di keluarga, kelompok-kelompok
sebaya, di lembaga-lembaga pendidikan dan juga media masa. Institusi
dan kelompok sosial tsb seringkali memberikan peran sosial yang berbeda
kepada laki-laki dan perempuan.
6. Perspetif sosiologi terhadap stratifikasi gender
Perspektif Konflik.
Randal Collins (Jeffries, 1980:198) mengatakan bahwa
kepemilikan alat produksi memungkinkan kelas yang
satu mengeksploitasi kelas yang lainnya. Pada
umumnya kelas yang berkuasa itu adalah laki-laki. Ini
berarti laki-laki mendominasi perempuan berdasarkan
kepemilikan alat-alat produksi. Dalam masyarakat
tradisional di mana pemanfaatan teknologi masih
rendah tidak ada pembagian kerja yang signifikan
antara laki-laki dengan perempuan, namun tidak
demikian halnya menurut Collins dalam masyarakat
modern. Masyarakat modern lebih kompleks dan
ekonomi pada umumnya dikuasai oleh kaum laki-laki.
Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014
Ekonomi merupakan sumber dari kekuasaan. Oleh
karena perempuan kurang memiliki akses terhadap
ekonomi secara signifikant, maka kontrol laki-laki
terhadap perempuan tidak dapat dihindari lagi.
Perempuan dalam hal ini tidak memiliki kekuasaan.
Perspektif Fungsional
Stratifikasi seksual merupakan sesuatu yang
seharusnya bagi organisasi keluarga dn integrasi
masyarakat yang lebih luas. Pembedaan antara laki-
laki sebagap pencari nafkah dan perempuan sebagai
isteri rumahan menyumbang kohesi sosial, kemurnian
peran, dan penyelesaian tugas-tugas penting
kemasyarakatan. Perspektif ini lebih jauh
mengemukakan bahwa keluarga merupakan suatu
institusi vital penting yang menyumbang integrasi
sosial karena perannya memelihara anak,
mempertahankan kelangsungan hidup dan sosialisasi
kepada anak-anak.
7. Ketidakadilan gender
Pembedaan gender pada dasarnya (Fakih,1995: 11-20) tidaklah menjadi
masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun
persoalan nyata, pembedaan
Workshop gender
Peningkatan Peran telah 8/12/2014
Perempuan melahirkan berbagai ketidak
adilan.
Ketidakadilan itu nampak dalam marginalisasi
peran perempuan dalam berbagai sektor
kehidupan; pendidikan, politik, ekonomi dan
sosial. Distribusi kekuasaan, prestise
(kemewahan), dan hak-hak istimewa dalam
masyarakat tidak seimbang. Ketidakadilan yang
lain nampak dalam subordinasi perempuan.
Perempuan dianggap sebagai kelas bawah dan
suaranya tidak dapat diperhitungkan, di sini ada
stereotipe. Dan yang lebih buruk lagi adalah
kekerasan yang cenderung di alami oleh
perempuan, pada hal perempuan memikul beban
ganda dan keluarga.

Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014


Menurut Vitayala (2010), gender adalah
suatu konsep yang menunjuk pada suatu
sistem peranan dan hubungannya antara
perempuan dan lelaki yang tidak
ditentukan oleh perbedaan biologi, akan
tetapi ditentukan oleh lingkungan sosial,
politik, dan ekonomi.
WHO (2012) mendefinisikan gender adalah
seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan
atribut yang dianggap layak bagi laki-laki
dan perempuan, yang dikonstruksikan
secara sosial dalam suatu masyarakat.

Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014


Gender adalah suatu konsep kultural
yang merujuk pada karakteristik yang
membedakan antara perempuan dan
laki-laki baik secara biologis, perilaku,
mentalitas, dan sosial budaya. Laki-laki
dan perempuan secara sexual memang
berbeda. Begitu pula secara perilaku
dan mentalitas. Namun perannya di
masyarakat dapat disejajarkan dengan
batasan-batasan tertentu.

Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014


Gender sebagai Gender sebagai
istilah konseptual Alat analisis

Gender sebagai
fenomena sosial

Gender sebagai
Masalah sosial

Gender sebagai Gender sebagai


gerakan sosial Kesadaran sosial
Gender selalu menimbulkan
penolakan dan perdebatan
karena dipandang sebagai
istilah asing:
Bandingkan dengan
istilah:
Ekonomi?
Demokrasi?
Politik?
Klasifikasi dualistis yang
didasarkan pada
perbedaan jenis kelamin
Laki-laki & perempuan
Memunculkan
citra dan sifat,
pembagian peran,
nilai dari peran dan
posisi sosial tertentu
KASADARAN:
Perbedaan sifat,
peran dan posisi
laki-laki &perempuan

Merupakan konstruksi
Produk sejarah
sosial
adaptasi dg lingkungan
bukan takdir Tuhan
dan teknologi
Sebuah instrumen untuk
menganalisis data dan informasi
secara sistematis tentang laki-laki
dan perempuan untuk
mengidentifikasi dan
mengungkapkan kedudukan, fungsi,
peran dan tanggung jawab laki-laki
dan perempuan serta faktor-faktor
yang mempengaruhinya
Digunakan sebagai upaya kongkrit
untuk mengatasi dan merubah
kesenjangan status, peran dan
tanggung jawab serta pemanfaatan
sumber daya antara laki-laki dan
perempuan yang berdampak pada
diskriminasi terhadap perempuan dan
ketertinggalannya dalam kehidupan.
Disebut pula dengan feminisme:
sebuah kesadaran bahwa perempuan
mengalami ketertindasan dan berusaha
untuk menolong perempuan agar
mendapatkan hak-hak dasarnya.
Adanya kesadaran bahwa perbedaan
citra/sifat, peran dan posisi
menimbulkan ketidaksetaraan akses
salah satu jenis kelamin untuk
mendapatkan manfaat dari proses
aktifitas dan hak-hak dasar
Ketidakadilantersebut disebabkan
adanya perilaku yang diskriminasi
gender
DAMPAK: TERJADI KETIDAK-ADILAN
GENDER
(Disebut demikian apabila salah satu jenis kelamin berada
dalam keadaan tertinggal dibandingkan jenis kelamin lain).

MANIFESTASI:
Stereotip
Subordinasi
Marjinalisasi
Beban ganda/berlebih
Kekerasan
Himpunan pandangan-
pandangan, anggapan,
atau kepercayaan
negatif terhadap salah
satu jenis kelamin.
Pandangan-pandangan
stigmatik dan negatif
yang merendahkan
memiliki dampak yang
merugikan.
Posisi sosial yang
asismetris dengan adanya
pihak yang superior dan
inferior. Subordinasi ini
merupakan kelanjutan dari
pandangan yang stereotip
yang merendahkan.
Subordinasi melandasi
pola relasi atau pola
hubungan sosial yang
hirarkhis dimana salah
satu pihak memandang
dirinya lebih dari mereka
yang direndahkan
Proses penyingkiran
kepentingan, hak-hak,
kebutuhan, serta
aspirasi berdasarkan
jenis kelamin yang
berlangsung secara
sistematis dalam
memperoleh manfaat
dari kesejahteraan
hidup dan
pembangunan.
Sebagaimana stereotip,
marginalisasi dapat
terjadi secara sengaja
atau dianggap sebagai
sesuatu yang wajar
Proses pembedaan dan
penindasan terhadap
perempuan di berbagai
bidang dengan berbagai
cara sehingga
kepentingan, hak-hak,
kebutuhan, serta
aspirasi berdasarkan
jenis kelamin tidak
terakomodasi dan
berlangsung melalui
pemaksaan.
Diskriminasi bisa terjadi
secara terbuka, ataupun
secara terselubung
yaitu
memaksakan
dan membiarkan
salah satu jenis
kelamin
menanggung
beban aktifitas
berlebihan.
yaitu serangan atau kekerasan
yg dilakukan, baik terhadap
laki-laki maupun perempuan
berdasarkan pandangan
gendernya.
Kekerasan berbasis gender
disebabkan pandangan bias
yang menempatkan salah satu
jenis kelamin superior dan
lebih berkuasa.
Umumnya, kekerasan berbasis
gender lebih banyak terjadi
pada perempuan dari pada
pada laki-laki. Hal tersebut
didasarkan pada persepsi
dominan bahwa perempuan
adalah mahluk lemah.
Fenomena Jenis Kelamin Masalah

Struktur dan Laki-laki Perempuan Laki- Perempuan


Relasi Gender laki

Publik ?

Domestik ?

Produksi ?

Reproduksi ?
BAGAIMANA SOLUSINYA???
SOLUSI

Jika terjadi hambatan Jika terjadi hambatan


biologis/kodrati kultural/budaya

Difasilitasi
Dinegosiasikan

Antar laki-laki & perempuan


Menghormati takdir Tuhan dlm konteks sosial
Kesetaraan Gender adalah kesamaan
kondisi bagi laki-laki dan perempuan
untuk memperoleh kesempatan dan
hak-haknya sebagai manusia, agar
mampu berperan dan berpartisipasi
dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial
budaya, pertahanan dan keamanan
nasional, dan kesamaan dalam
menikmati hasil pembangunan.
Memperoleh akses yang sama atas
hak-hak dasar;
Berpartisipasi yang sama dalam
proses pencapaian hak-hak dasar
dan sumber daya pembangunan,
termasuk proses pengambilan
keputusan;
Memiliki kontrol yang sama atas
sumber daya pembangunan; dan
Memperoleh manfaat yang sama
dalam kehidupan.
Suatu proses yang seimbang antara laki-laki dan
perempuan dalam mencapai hak-hak dasar dalam
lingkup keluarga, masyarakat, negara dan
.
dunia internasional.

Kesamaan pemenuhan hak-hak dasar


akan meningkatkan kualitas dan
martabat kemanusiaan
laki-laki dan perempuan secara adil
SENSITIF GENDER:
Kepekaan bahwa ketidaksetaraan gender dapat
menimbulkan ketidakadilan sosial.
PERSPEKTIF/WAWASAN GENDER:
Cara pandang bahwa konstruksi gender dapat
mempengaruhi kehidupan sosial dan kebijakan publik.
NETRAL GENDER:
Perbedaan gender bukan sebagai masalah struktural.
BIAS GENDER:
Mengunggulkan salah satu jenis kelamin dalam
kehidupan sosial dan kebijakan publik.

Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014


KEBIJAKAN RESPONSIF GENDER:
Manajemen lembaga atau organisasi, peraturan atau
perundangan yang mengakomodir kebutuhan praktis
dan strategis perempuan dan laki-laki untuk mencapai
hasil yang sama.

Pencapaian kebutuhan strategis gender, antara lain


melalui:

PEMBELAJARAN INKLUSIF GENDER:


Mengintegrasikan prinsip-prinsip kesetaraan gender
dalam bahan ajar sebagai upaya untuk mencapai
keadilan sosial.

Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014


MANAJEMEN SEKOLAH CIRI & ASPEK YANG
RESPONSIF GENDER

Struktur organisasi Menjamin kesetaraan akses


kebutuhan strategis gender
Fasilitas Memperhatikan kebutuhan
praktis laki-laki dan
perempuan
Target sekolah Kesetaraan laki-laki &
perempuan secara eksplisit
dicantumkan
Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014
MANAJEMEN CIRI & ASPEK YANG
SEKOLAH RESPONSIF GENDER

Kebijakan Mekanisme pengambilan keputusan


seimbang
Budaya Menghindari perilaku stereotipi,
marginalisasi, subordinasi, beban
lebih, kekerasan
Gaya manajerial Pengaturan kerja ramah individu

Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014


PRAKTIS :Untuk men- Contoh : menyediakan
dukung pelaksanaan peran tempat penitipan anak
gender tradisional shg tdk >
menghalangi target yg >
diharapkan

STRATEGIS : Untuk Contoh : penyadaran seks &


mengubah relasi & peran gender kpd seluruh staf &
gender tradisional guna stakeholder yg lain
mencapai target yg >
diharapkan

Workshop Peningkatan Peran Perempuan 8/12/2014


SEKIAN

TERIMA KASIH

Tidaklah (disebut) orang yang memuliakan


perempuan
kecuali orang yang mulia
dan tidak pula (disebut) orang yang hina
kecuali orang yang menghina perempuan
Karena kita semua terlahir dari seorang
perempuan yang kita sebut IBU