You are on page 1of 38

CLINICAL SCIENCE SESSION

ABSES LEHER DALAM


Oleh:
Dieni Rahmatika A 1110312072
Vithiya A/P Chandra Sagaran 1010314008

Preseptor:
dr. Rossy Rosalinda, Sp.THT-KL
PENDAHULUAN

Akibat Abses leher Nyeri tenggorok +


penjalaran dalam demam
infeksi + trismus

Abses peritonsilar
Abses retrofaring
Abses parafaring
Abses submandibular
Angina ludovici
Huang dkk (1997-2002)
Infeksi leher dalam: 185 kasus
- Abses parafaring (38,4)
- Abses submandibula (15,7%)
- Ludwigs angina (12,4%)
- Parotis (7%)
- Abses retrofaring (5,9%).
Abses leher dalam kondisi yang mengancam jiwa

Komplikasi serius:
- obstruksi jalan napas
- kelumpuhan saraf kranial
- mediastinitis
- ruptur arteri karotis interna
Anatomi Leher
Lapisan fasia leher dalam
A. Fasia servikalis superfisialis
B. Fasia servikalis profunda :
1. Lapisan superfisial
2. Lapisan media :
- divisi muskular
- divisi viscera
3. Lapisan profunda :
- divisi alar
- divisi prevertebra
Potongan Oblik Leher
Ruang potensial leher dalam
Ruang yang melibatkan sepanjang leher terdiri dari:
ruang retrofaring, ruang bahaya (danger space), ruang
prevertebra.
Ruang suprahioid terdiri dari: ruang submandibula,
ruang parafaring, ruang parotis, ruang mastikor, ruang
peritonsil , ruang temporalis.
Ruang infrahioid: ruang pretrakeal.
Potongan Oblik Leher
Potongan Sagital Leher
DEFINISI

Abses leher dalam adalah terkumpulnya nanah


(pus) di dalam ruang potensial di antara fasia leher
dalam sebagai akibat penjalaran dari berbagai
sumber infeksi, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus
paranasal, telinga dan leher.
EPIDEMIOLOGI
Yang dkk (April 2001- oktober 2010) pada 100
kasus abses leher dalam
- Laki-laki:perempuan 3:2
- Lokasi abses lebih dari satu ruang potensial 29%
- Abses submandibula 35%, parafaring 20%,
mastikator 13%, peritonsil 9%, sublingual 7%, parotis
3%, infra hyoid 26%, retrofaring 13%, ruang karotis
11%
ETIOLOGI
Sumber infeksi:
gigi-geligi (odontogenic infection)
faring
trauma saluran nafas dan organ cerna
infeksi kelenjar liur
benda asing
intervensi alat-alat medis (iatrogenic)

Organisme penyebab: Streptococcus hemoliticus,


Klebsiella sp, Enterobacter sp, Staphylococcus aureus, dll
Pembentukan abses hasil perkembangan flora
normal dalam tubuh.
Flora normal dapat tumbuh dan mencapai
daerah steril dari tubuh baik secara perluasan
langsung maupun melalui laserasi atau perforasi.
Penyebaran abses leher dalam dapat melalui
hematogen, limfogen, dan celah antar ruang leher
dalam.
1. Abses Peritonsil (Quinsy)

Terkumpulnya material purulen yang terbentuk di luar

kapsul tonsil dekat kutub atas tonsil

Paling banyak ditemukan

Komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang bersumber

dari kelenjar mukus Weber


Diagnosis
Gejala klasik dimulai 3-5 hari dari onset gejala. Odinofagia
,trismus dan muntah (regurgitasi), mulut berbau (foeto ex
ore), hot potato voice suara gumam, hipersalivasi,
pembengkakan kelenjar submandibula dengan nyeri
tekan.
Stadium infiltrat palatum mole dan peritonsil
membengkak serta hiperemis tonsil dan uvula
terdorong kontralateral iritasi m. pterygoideus interna
trismus
Abses peritonsil dengan deviasi uvula
Pemeriksaan penunjang:
pemeriksaan darah lengkap
gold standard = pengumpulan pus dengan aspirasi
jarum
CT- scan : membantu rencana operasi
Ultrasonografi : membantu membedakan antara
selulitis dan awal dari abses.
Terapi

Stadium infiltrasi: antibiotika dosis tinggi dan obat

simtomatik, kumur air hangat dan kompres dingin


leher.

Bila telah terbentuk abses pembedahan drainase,

dengan teknik aspirasi jarum atau insisi dan drainase.

Tonsilektomi abses peritonsilaris berulang atau

abses yang meluas pada ruang jaringan sekitarnya


Jenis-jenis tonsilektomi:
Tonsilektomi a chaud bersama tindakan drainase
abses
Tonsilektomi a tiede 3-4 hari setelah drainase
abses
Tonsilektomi a froid 4-6 minggu sesudah drainase
abses

Pada umumnya tonsilektomi dilakukan sesudah infeksi


tenang, yaitu 2-3 minggu sesudah drainase abses.
Komplikasi
Abses pecah perdarahan, aspirasi paru atau piemia.
Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring
abses parafaring
Penjalaran ke mediastinum mediastinitis
Penjalaran ke daerah intrakranial trombus sinus
kavernosus, meningitis dan abses otak.
2. Abses Retrofaring

Terutama pada bayi atau anak < 5 th

Anak akibat infeksi saluran nafas atas dengan

supurasi pada kelenjar getah bening yang terdapat


pada daerah retrofaring.

Dewasa akibat trauma tumpul pada mukosa faring,

perluasan abses dari struktur yang berdekatan.


Diagnosis
Riwayat infeksi saluran napas atas atau trauma.
Odinofagia, disfagia, demam, pergerakan leher terbatas,
dan sesak nafas, stridor dan perubahan suara.
Anak kecil sangat nyeri menangis terus dan tidak
mau makan
Pemeriksaan pembengkakan dinding posterior faring,
biasanya unilateral serta mukosa terlihat bengkak dan
hiperemis.
Darah rutin leukositosis
Kultur spesimen dari hasil aspirasi
Pemeriksaan radiologis
Terapi
Antibiotika dosis tinggi dan tindakan bedah.
Pungsi dan insisi abses dilakukan melalui laringoskop
langsung dalam posisi pasien Trendelenberg
3. Abses Parafaring
Setelah infeksi faring, tonsil, adenoid, gigi, parotis, atau
kelenjar limfatik
Perluasan dari abses leher dalam yang berdekatan
Gejala demam, trismus, nyeri tenggorok, odinofagi dan
disfagia
Pemeriksaan fisik pembengkakan di sekitar angulus
mandibular dan dinding lateral faring hingga menonjol ke
arah medial
Foto rontgen jaringan lunak AP penebalan jaringan
lunak parafaring
Terapi
Antibiotika dosis tinggi
Evakuasi abses segera dilakukan bila tidak ada
perbaikan dengan antibiotika dalam 24-48 jam dengan
cara eksplorasi dalam narkosis.
Insisi Mosher
4. Abses Submandibula
Infeksi gigi, dasar mulut, faring, kelenjar liur atau KGB
submandibula serta kelanjutan infeksi leher dalam lain
Kuman penyebab campuran aerob dan anaerob
Nyeri di rongga mulut dan leher, hipersalivasi,
pembengkakan di daerah submandibula, fluktuatif,
lidah terangkat ke atas dan terdorong ke belakang,
angulus mandibula dapat diraba. Pada aspirasi
didapatkan pus.
Terapi

Antibiotik dosis tinggi


Terjaganya saluran nafas yang adekuat dan drainase
abses yang baik
Evakuasi abses dapat dilakukan dalam anastesi lokal
untuk abses yang dangkal dan terlokalisasi atau
eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam dan
luas
5. Angina Ludovici (Ludwigs Angina)

Peradangan selulitis atau flegmon dari bagian superior

ruang suprahioid atau di daerah sub mandibula,


dengan tidak ada fokal abses

Akibat infeksi yang berasal dari gigi geligi, tetapi dapat

berasal dari proses supuratif nodi limfatisi servikalis


pada ruang submaksilaris.
Diagnosis
Riwayat sakit gigi, mengorek atau cabut gigi
Biasanya akan mengenai kedua sisi submandibula
Air liur yang banyak, trismus, nyeri, disfagia, massa di
submandibula yang tampak hiperemis dan keras pada
perabaan
Kekerasan jaringan dasar mulut mendorong lidah
ke atas dan ke belakang obstruksi jalan napas
Terapi
Antibiotika dosis tinggi
Eksplorasi dengan pembedahan insisi melalui garis
tengah untuk menghentikan ketegangan (dekompresi)
yang terbentuk pada dasar mulut

Komplikasi
Sumbatan jalan nafas, penjalaran abses ke ruang leher
dalam lain dan mediastinum hingga sepsis
THANK YOU