You are on page 1of 11

MOH RIFALDI RONE (F 221 15 022)

I WAYAN SUANTANA (F 221 15 024)


MOH ANDRIANTO TADEKO (F 221 15 023)
arsitektur bali memiliki konsep arsitektur yang
harmoni dengan lingkungan alam. Arsitektur harmoni
ini merupakan karakter dan inheren sebagai
watak dasar arsitektur Bali. Dengan konsep Tri Hita
Karana, arsitektur Bali terdiri dari 3 unsur pengubung
kerharmonisan yaitu, jiwa, raga dan tenaga. Tiga unsur
ini akan menciptakan keharmonisan hubungan antara
lingkungan alam, antar-manusia serta manusia
dengan Tuhan.
Filosofi arsitektur tradisional Bali pada masa
prasejarah hingga kekuasaan Majapahit (abad XV XIX
) dianggap sebagai masa tumbuh dan berkembangnya
arsitektur tradisional Bali yang dilandasi oleh lontar asta
kosala-kosaili dan lontar asta bumi. (Bhagawan
Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan)
Asta kosala-kosali merupakan sebuah cara
penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan
suci. penataan Bangunan yang dimana di dasarkan oleh
anatomi tubuh yang punya. Pengukurannya pun lebih
menggunakan ukuran dari Tubuh yang empunya rumah.
Asta bumi adalah aturan tentang luas halaman
pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar
pelinggih.
filosofi utama yang menjadi titik acuan
arsitektur tradisional Bali, yaitu prinsip tri angga atau tri
loka, konsep kosmologis (tri hita karana), dan orientasi
kosmologis.
Bentuk rumah Bali, pada dasarnya
bukan merupakan suatu organisasi ruangan
dibawah satu atap , tetapi beberapa bangunan
yang masing-masing dengan fungsinya
tertentu di dalam satu lingkungan atau satu
tembok.
Gaya arsitektur Bali dibuat dengan
konsep Tri Angga yang merupakan konsep
keseimbangan. Tri Angga merupakan
pembagian zona atau area dalam perencanaan
arsitektur tradisional Bali, yang
memperlihatkan tiga tingkatan yaitu.
Utama atau kepala.
Madya atau badan.
Nista atau kaki
Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai
konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tata nilai
ruangnya. Konsep dasar tersebut adalah :

Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga


Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga
Mandala
Konsep keseimbangan kosmologi
Konsep proporsi dan skala manusia
Konsep court, Open air
Konsep kejujuran bahan bangunan
Konsep orientasi kosmologi nawa sang, Konsep
ini berpegang kepada mata angin, 9 mata
angin( Nawa Sanga ). Setiap bangunan itu memiliki
tempat sendiri. seperti misalnya:
Dapur, karena berhubungan dengan Api maka Dapur
ditempatkan di Selatan,
Tempat Sembahyang karena berhubungan dengan
menyembah akan di tempatkan di Timur tempat
matahari Terbit.
Karena Sumur menjadi sumber Air maka ditempatkan
di Utara dimana Gunung berada begitu seterusnya.
Pamerajan
Umah Meten ( gedong )
Bale Sakepat
Bale tiang sang
Bale Dangin
Lumbung
Paon (Dapur)
Aling-aling
Angkul-angkul
Struktur badan bangunan tradisional Bali
sebagian besar menggunakan tiang (sesaka) yang
terbuat dari kayu, begitu juga halnya dengan struktur
atap menggunakan bahan kayu yang dikombinasikan
dengan bambu.
material yang digunakan pada bangunan bali ini
adalah bahan bata dan batu padas pada tembok, kayu
yang digunakan pada tiang dan struktur atap, dan
juga ijuk dan alang-alang yang digunakan pada atap
bangunan
Ornamen yang digunakan pada
rumah tradisional Bali sangat beragam.
Pada bagian dasar bangunan terdapat
ornament berupa kepala gajah, sesuai
dengan bentuknya karang asti/ gajah
memiliki makna sebagai penopang
bangunan karena gajah merupakan hewan
yang kuat dan besar. Pada bagian atas
ornament karang asti terdapat ornament
karang goak. Karang goak melambangkan
burung gagak. Selain itu juga ada karang
tapel dan juga ragam hias lainnya yang
berupa pepatran/ ukiran berupa tanaman
merambat. Pada bagian atap juga terdapat
ornament berupa murda sebagai mahkota
dari bangunan tersebut.
TERIMA KASIH