You are on page 1of 95

PENGERTIAN, FUNGSI, DASAR,

dan TUJUAN Khilafah


Pengertian khilafah
Secara bahasa kata Khilafah berasah dari
bahasa arab yaitu


yang artinya adalah menggantikan orang lain
disebabkan ghaibnya orang yang akan
digantikan karena meninggal dunia atau tidak
mampu
Secara istilah pengertian Khilafah adalah
Negara dengan sistem pemerintahan dan
peraturannya diatur berdasarkan syariat Islam
FUNGSI KHILAFAH
1. AL-SULTHAH AL-TASYRIIYAH Yaitu fungsi
legislatif yang berwenang membuat dan
menetapkan hukum (DPR)
2. AL-SULTHAH AL-TANFIDZIYAH yaitu fungsi
eksekutif yang berwenang
menyelenggarakan dan melaksanakan
undang-undang (Presiden)
3. AL-SULTHAH AL-QHADLAIYAH Yaitu fungsi
yudikatif yang berwenang terhadap
pengamanan atas pemberlakuan undang-
undang dan penyelenggaraan negara (MK)
Khilafah Islamiyah (Negara Islam) di bagi 2
Khilafah yang bersifat khusus, yaitu Negara yang
secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara
Islam seperti Arab saudi, pakistan, Syiria dll
Khilafah yang bersifat Umum, yaitu suatu negara
yang mayoritas penduduknya beragama Islam
dan tidak menyatakan dirinya sebagai negara
Islam namun undang-undangnya sejalan dengan
undang-undang Islam, spt Indonesia, malaysia
dan negara-negara yang masuk anggota
Organisasi Konferensi Islam (OKI)
PRINSIP-PRINSIP POLITIK ISLAM
Prinsip tauhidillah (kedaulatan tertinggi
ditangan Allah)
Prinsip Persamaan (Al-Musawah)
Prinsip Keadilan
Prinsip Kemerdekaan (al-Hurriyah)
Prinsip Musyawarah
Sebab Perlunya Musyawarah
Setiap manusia memiliki kepentingan yang
berbheda
Pendapat yang berbeda
Tujuan yang berbeda
Kemampuan intelektual yang berbeda
SISTEM PENGANGKATAN PRESIDEN DI INDONESIA
1. Soekarno : Preode pertama dan seterusnya di pilih oleh
MPR (Orde Lama)- Pemilihan tidak langsung
2. Soeharto : Preode pertama dan seterusnya dipilih oleh MPR
(orde baru)- Pemilihan tidak langsung
3. BJ Habibi : usulan Presiden kepada MPR (orde baru)-Usulan
Presiden sebelumnya
4. Gusdur : dipilih oleh MPR sebagai poros tengah
(orde baru)-Pemilihan tidak langsung
5. Megawati : usulan Presiden kepada MPR (orde baru)-
Usulan presiden sebelumnya
6. SBY : Preode pertama dan kedua dipilih oleh rakyat (orde
reformasi)-Pemilihan langsung
7. Jokowi : dipilih oleh rakyat (orde reformasi)-Pemilihan
langsung
PROSES PENGANGKATAN KHULAFA RASYIDUN
Abu Bakar menjadi khalifah pertama melalui
pemilihan dan musyawarah 5 Shahabat,
Umar bin Khattab, Abu Ubaidah bin Jarah,
Baasyir bin Saad, Asid bin Khudair, dan Salim.
Yang berlangsung pada hari kedua setelah
Nabi Wafat sebelum janazah dimakamkan,
sehingga menyebabkan kemarahan keluarga
dekat Nabi Ali bin Abi Thalib dan Ustman bin
Affan (dua mennantu Nabi) serta putri tunggal
Nabi,Fatimah
Umar bin Khattab Ditunjuk langsung oleh abu
bakar diwaktu beliau sedang sakit dengan
memanggilnya untuk menuliskan pesan-pesan
abu bakar agar umar mengganti pemimpin
setelah beliau wafat
Usman bin affan melalui hasil pemilihan dan
musyawarah 6 shabat yang ditunjuk umar,
yaitu Ali bin abi thalib, ustman bi affan, saad
bin abi waqqash, abdurrahman bin Auf, Zubair
bin Awwam, thalhah bin ubaidillah, abdullah
bin Umar
Ali bin Abi Thalib diangkat melalui pemilihan yang
pelaksanaanya jauh dari sempurna. Setelah para
pemberontak membunuh Usman bin Affan
kemudian mereka mendesak Ali bin Abi Thalib
agar diangkat menjadi khalifah yang keempat.
Disisi yang lain Penetapan Ali bin Abi Thalib
sebagai khlifah ditolak oleh keluarga Usman bin
Affan yaitu Muawiyah bin abi sofyan (gubernur
syiria), dengan alasan (1). Ali harus
mempertanggung jawabkan atas kematian
usman, (2). Karena Islam telah meluas ke daerah
lain maka hak suara bukan hanya orang yang
tinggal dimadinah saja
Dasar Mendirikan Khilafah
Hukum mendirikan Khilafah
adalah fardu kifayah dengan
dasar :
Ijma shahabat
Sulitnya melaksanakan hukum-
hukum Islam apabila tidak ada
khilafah
Al-Quran dan Al-Sunnah
Dasar melaksanakan Khilafah yang dicontohkan
oleh Rasulullah dan Khulafaal-rasyidun
1. Tauhid (mengesakan allah)
2. Keadilan yang muthlak kepada semua
lapisan
3. kejujuran, keikhlasan, dan tanggung jawab
4. Kedaulatan ditangan rakyat, ketaatan kepada
Uli al-Amri (wakil-wakil rakyat)
5. Ukhuwah Islamiyah
6. Persamaan derajat sesama manusia
Tujuan Mendirikan Khilafah
1. Melanjutkan kepemimpinan setelah Rasul Wafat
2. Terwujudnya kehidupan bermasyarakat,
bernegara, berbangsa yang dibimbing oleh
syariah islam
3. Terwujudnya keamanan dam stabilitas politik
dengan dukungan instrumen hukum islam
4. Terwujudnya keadilan disegala bidang
5. Terwujudnya masyarakat yang taat kepada Allah
dan Rasul-Nya
6. Terwujudnya masyarakat yang makmur
BALDATUN THAYYIBATUN WARABBUN GHAFUR
ARTI KHALIFAH

Khalifah adalah Pengganti kedudukan yang


ditinggalkan pendahulunya, dengan dasar al-
Baqarah ayat 30





Dan (ingatlah ) ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui
Cara Pengangkatan Khalifah
1. Pemilihan secara langsung oleh rakyat, seperti yang
telah terjadi pada waktu sekarang ini, atau seperti
pemilihan Umar bin Abdul Aziz dari bani umayyah
2. Pemilihan secara tidak langsung, yaitu pemilihan oleh
wakil-wakil rakyat (ahl-al-halli wa al-haqdi) atau
pemimpin ummat Islam . Wakil-wakil rakyat yang
memiliki otoritas untuk memilih seperti pemilihan
abu bakar al-shiddiq atau diusulkan oleh khalifah
atau pemimpin terdahulu untuk ditetapkan sebagai
pemimpin, seperti pemilihan umar bin khattab atas
usulan abu bakar, Pemilihan Ustman bin affan
3. Pemilihan dengan cara wasiat yaitu dengan prinsip
wilayah dan ishmah
Tugas dan Kewajiban Khalifah
Membela dan menghidupkan agama
Mentanfidzkan hukum antara yang berselisih atau
mendamaikannya
Menjaga keamanan umum
Bermusyawarah dengan wakil-wakil rakyat
Mengatur penjagaan batas-batas negeri
(Pertahanan)
Jihad
Mengatur kemakmuran
Hendaknya bekerja sendiri dan memantau
masyyarakat
Syarat menjadi Khalifah
A. Syarat legalitas
1. Muslim yang taat
2. Laki-laki
3. Baligh
4. Berakal
5. Merdeka
6. Adil
7. Mampu (profesional)
B. Syarat Prioritas
1. Mujtahid
2. Politikus
3. Keturunan quraisy
Hak rakyat
1. Mendapat jaminan hidup dan keamanan
2. Kemerdekaan pribadinya
3. Kemerdekaan bertempat tinggal
4. Kemerdekaan berfikir dan beraspirasi
5. Kemerdekaan belajar
6. Kemerdekaan beragama
7. Mendapat keadilan
Kewajiban Rakyat
1. Berperan serta dalam membela negara
2. Membayar pajak
3. Taat terhadap wakil-wakil pemimpin
yang ditunjuk oleh khalifah
AHLUL HALLI WAL AQDI & MAJLIS SYURO
Secara bahasa Ahlu al-halli wa al-aqdi adalah
orang yang melepas dan mengikatkan tali
Secara istilah fiqih Ahlu al-halli wa al-aqdi
adalah lembaga perwakilan rakyat yang
memiliki wewenang memilih dan membaiat
khalifah serta memberhentikannya jika telah
memenuhi syarat untuk diberhentikan (DPR)
Majlis al-syura adalah tempat bermusy awarah
(MPR)
Ada 3 konotasi makna terhadap majlis al-syura
1. Praktik syura telah dilaksanakan pada masa rasululllah
namun tidak terbentuk lembaga tertentu, posisinya
hanya semacam mikanisme politik antar penyelenggara
pemerintahan dalam menangani persoalan yang
muncul terutama pada khalifah dan wakil-wakilnya
2. Majlis al-syura merupakan pengembangan dari ahl al-
halli wa al-aqdi, sehingga disamping memiliki fungsi
permusyawaratan, majlis syura juga berperan
sebagaimana yang diperankan ahl al-halli wa al-aqdi,
dalam hal ini majlis al-syura dan ahl al-halli wa al-aqdi
merupakan sebutan dari suatu lembaga yang sama
3. Majlis syura merupakan lembaga yang tertinggi (MPR
untuk di indonesia), sedangkan ahl al-halli wa al-aqdi
merupakan lembaga legislatif (DPR untuk Indonesia)
Syarat menjadi majlis al-syura
1. Harus memiliki kualifikasi moral yang tinggi,
tingkat keberagamaan yang baik, memiliki
pemahaman terhadap ajaran Islam, dalam
menjalankan tugasnya harus berorentasi
pada kemaslahatan ummat
2. Secara khusus harus memiliki kualifikasi
sebagaimana persyaratan pada mujtahid
Hak majlis al-syura
1. Melakukan pemilihan kepala negara
(khalifah)
2. Membuat undang-undang (sulthah al-tasyri)
3. Mengawasi jalannya undang-undang (al-
riqabah ala amali al-hukama)
Kewajiban majlis al-syura
1. Mencari langkah-langkah untuk penerapan
hukum Islam
2. Membuat undang-undang atas berbagai
persoalan yang tidak ditemukan dalilnya
secara rinci dalam al-quran dan al-hadist
JIHAD
Secara Bahasa Jihad berasal dari kata Al-Jahdu
(kelelahan) atau Al-Juhdu (kemampuan), artinya
orang yang berjihad adalah orang yang mencapai
kelelahan karena Allah dan meninggikan kalimah-
Nya. Dengan demikian Jihad adalah bersungguh-
sungguh mencapai sesuatu yang dicintai Allah
berupa iman dan amal shaleh dan menolak
sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran,
kefasikan dan kemaksiatan.
Secara Istilah jihad adalah bersungguh-sungguh
mencurahkan seluruh kekuatan dan kemampuan
baik berupa perkataan atau perbuatan untuk
memerangi orang kafir
Jihad ada tiga macam;
1. Jihad melawan musuh yang nyata,
2. Jihad melawan syetan,
3. Jihad melawan hawa nafsu
HUKUM JIHAD
Fardu ain (kewajiban individu), apabila :
1. Apabila kaum muslimin bertemu kaum kafirin
berhadap-hadapan di peperangan, maka tidak
boleh satupun dari kaum muslimin mundur dan
berpaling. (Al-Anfal ayat 16)
2. Apabila orang-orang kafir menyerang dan
mengepung kaum muslimin, maka semua orang
Islam harus melawan mereka demi
mempertahankan negeri kaum muslimin
3. Apabila Imam (pimpinan negara) meminta suatu
kaum atau menunjuk beberapa orang untuk
berperang melawan kaum kafirin, maka wajiblah
kaum tersebut berperang
Fardu kifayah, apabila :
1. Ada sekelompok orang Islam hidup dan tinggal di
negara orang kafir, maka jihad bagi orang-orang Islam
adalah fardlu kifayah
SYARAT WAJIB JIHAD
1. Islam, (tidak wajib jihad bagi orang kafir)
2. Baligh, (tidak wajib jihad bagi anak kecil)
3. Berakal,(tidak wajib jihad bagi orang gila)
4. Merdeka,(tidak wajib jihad bagi budak)
5. Laki-laki, (tidak wajib jihad bagi wanita dan banci)
6. Sehat, (tidak wajib jihad bagi orang sakit)
7. Mampu berperang (tidak wajib jihad bagi orang yang
tidak mampu berperang).
HUKUM ORANG KAFIR YANG TERTAWAN OLEH ORANG ISLAM
Mereka akan menjadi budak dengan sendirinya
apabila tahanan itu berupa wanita dan anak kecil
Tidak menjadi budak apabila tawanan itu laki-laki
dewasa. Dan pemerintah atau pimpinan perang
orang Islam boleh memilih antara empat hal
1. membunuhnya
2. memperbudak
3. membebaskan
4. meminta tebusan dengan harta, atau dengan
pembebasan orang Islam yang ditahan di
negeri kafir
Ulangan Harian 1
Hari/Tanggal : Senin, Selasa, Rabu

30 Soal Pilihan Ganda (Skor 90)


1 Soal Uraian (Skor 10)
SUMBER HUKUM ISLAM
Sumber hukum Islam dalam ushul fiqh diistilahkan
dengan Mashadiru al-ahkam (sumber-sumber hukum),
adillah al-ahkam (dalil-dalil hukum), ushul al-ahkam
(dasar-dasar hukum). Namun yang dimaksud dengan
sumber hukum Islam adalah :


Sesuatu yang dipakai untuk menunjukkan hukum
syarayang berkaitan dengan perbuatan manusia
melalui jalan yang qathi atau dhanniy
Sumber hukum Islam ada 2 bagian
1. Sumber hukum Islam yang disepakati
Ulama, yaitu al-Quran, al-Sunnah, Ijma,
Qiyas.
2. Sumber hukum Islam yang masih
diperselisihkan oleh ulama, yaitu
Istihsan, Mashlahah Mursalah, Urf,
Istishab, Syaru man qablana, dan
Madzhab Sahabiy
DASAR AL-QURAN, AL-SUNNAH,IJMA,QIYAS
SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM
DALIL AL-QURAN



( )59
DALIL AL-SUNNAH








DALIL HADIS


-




-
. . .

- - .-


- . .
-

-



.
1. AL-QURAN
Al-Quran sebagai sumber hukum Islam yang
pertama , semua ketetapan hukum harus
didasarkan pada al-Quran, sebagaimana telah
diterangkan dalam al-Quran sendiri :
Sesungguhnya kami telah menurunkan Kitab
kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya
kamu mengadili antara manusia dengan apa
yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan
janganlah kamu menjadi penantang (orang tidak
bermasalah), karena (membela) orang-orang
yang khianat (al-Nisa ayat 105)
Keistimewaan al-Quran
Al-Quran adalah firman Allah yang diturunkan dengan
perantara malaikat jibril kedalam hati Rasulullah
Muhammad bin Abdillah dengan lafadz arab dan
makna yang pasti sebagai bukti bagi rasul
bahwasannya dia adalah utusan Allah, sebagai
undang-sundang sekaligus petunjuk bagi manusia dan
sebagai sarana pendekatan hamba kepada Tuhannya,
dan ibadah dalam membacanya yang diawali dengan
surah al-fatihah dan diakhiri oleh surah al-nas , sampai
kepada kita secara teratur dan perawinya tidak
terputus baik secara tulisan maupun lisan, dari
generasi ke generasi, selalu terjaga dari perubahan.
Pengertian Al-Quran



"




"


Firman Allah yang memiliki kemukjizatan, yang
diturunkan kepada Nabi-Nya yang terakhir
(Muhammad SAW.), melalui al-Amin Jibril, yang
ditulis pada mushaf, diriwayatkan sampai
kepada kita secara mutawatir, membacanya
bernilai ibadah, dimulai dengan surat Al-Fatihah
dan diakhiri dengan surat Al-Nas
TAHAPAN TURUNNYA AL-QURAN
1. Tahap pertama : Dari Allah Ke lauh mahfudh (suatu
tempat yang merupakan catatan tentang segala
ketentuan dan kepastian Allah) secara sekaligus.
2. Tahap kedua : Dari lauh al-mahfudh ke baitul izzah
(tempat yang berada di langit dunia) secara sekaligus,
Tahapan yang kedua ini dinamakan dengan lailah al-qadr
3. Tahap ketiga : Dari baitul Izzah ke dalam hati nabi
melalui malaikat jibril dengan cara berangsur-angsur
sesuai dengan kebutuhan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari
di dua kota (13 tahun di makkah dan 10 tahun di madinah)
yaitu mulai dari malam 17 ramadlan tahun 41 dari
kelahiran Nabi, bertepatan tanggal 6 agustus 610 M.,
sampai tanggal 9 Dzulhijjah haji wada tahun ke 63 dari
kelahiran Nabi atau tahun 10 Hijriyah, adakalanya satu
ayat, dua ayat, bahkan kadang-kadang satu surat.
Hikmah diturunkan al-Quran secara berangsur-angsur
Meneguhkan hati nabi dari penyiksaan orang-
orang musrik
Menenangkan hati nabi ketika menerima wahyu
al-Quran
Pembentukan hukum Islam secara bertahap
Mempermudah orang Islam/sahabat untuk
menghafal
Untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi
peristiwa
Untuk menunjukkan bahwa al-Quran kalam Allah
dan bukan kalam makhluq
Apakah status Al-Quran itu Qodim (kekal)
atau Jadid (baru)......?
Al-Quran kalam Allah adalah kekal, karena
kalam dengan yang memiliki kalam
merupakan satu kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan
Al-Quran dalam bentuk fisik adalah baru,
karena fisik al-Quran adalah produk
percetakan manusia
Metode Al-Quran dalam membentuk Hukum Islam
1. BERTAHAP
Haramnya khamar ada 4 tahapan, yaitu :
Tahap Pertama :Dan dari buah kurma dan anggur
kamu buat minuman yang memabukkan dan Rizki
yang baik (Al-Nahl :67)
Tahap Kedua : Mereka bertanya kepadamu
tentang khamar dan judi. Katakanlah :Pada
keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa
manfaat bagi manusia tapi dosa keduanya lebih
besar dari manfaatnya (al-Baqarah : 219)
Tahap Ketiga : Hai orang2 yang beriman
janganlah kamu shalat sedang kamu dalam
keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa
yang kamu ucapkan (al-Nisa : 43)
Tahap Keempat : Hai orang2 yang beriman
sesungguhnya meminum khamar, berjudi,
berkorban untuk berhala, mengundi nasib
dengan panah adalah perbuatan keji termasuk
perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-
perbuatan itu agar kamu dapat
keberuntungan (al-Maidah : 90)
2. TIDAK MEMBERATKAN
Dasar untuk melaksanakan hukum adalah al-
Quran, jika tidak ada maka al-Hadist, jika
tidak ada maka Ijma, jika tidak ada maka
qiyas dan seterusnya
Contohnya : Boleh Qashar / jama shalat,
tayammum, tidak puasa bagi yang tidak
mampu,dll.
3. TIDAK BANYAK TUNTUTAN
.....dan Dia sekali-kali tidak menjadikan
untuk kamu dalam agama suatu kesempitan
....... (al-Hajj : 78)
ISI KANDUNGAN AL-QURAN
Keimanan : (Allah, Rasul, Malaikat,
kitab,Qadla dan Qadar (Taqdir), Hari Akhir
Hukum-hukum
Kisah-kisah (cerita para Nabi dan orang-orang
terdahulu yang menentang Allah)
HUKUM-HUKUM YANG DIKANDUNG AL-QURAN
Hukum Itiqodiy (keyakinan)
Hukum akhlaqiy (moral seseorang)
Hukum praktis yaitu hubungan manusia
dengan Allah (vertikal), dan Manusia dengan
manusia (horisontal)
MACAM-2 HUKUM PRAKTIS
Hukum ibadah, seperti shalat, puasa, zakat, haji,
nadzar, dan sumpah;
Hukum mu'amalah, seperti berbagai transaksi
jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam
Hukum peradilan pidana
Hukum peradilan perdata
Hukum tatanegara
Hukum pertahanan
Hukum perekonomian, baik bersifat pribadi,
masyarakat, negara
HUKUM MUAMALAH DI BAGI 2
Hukum-hukum perorangan, seperti kawin,
talaq, waris, wasiat, waqaf
Hukum-hukum perdata, seperti jual beli,
pinjam meminjam, perserikatan dagang, dan
transaksi harta dan hak lainnya;
2. AL-HADITS / AL-SUNNAH
Al-Hadits secara bahasa berarti yang baru, yang
dekat, atau warta (sesuatu yang dibicarakan)
Al-sunnah secara bahasa artinya jalan seperti dalam QS
al-Ahzab 62, dan adakala berarti jalan yang terpuji
atau jalan tercela seperti hadits Nabi Man sana
sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man amila
biha ila yaumi al-qiyamah, wa man sanna sunnatan
sayyiatan falahu wizruha wa wizru man amila biha ila
yaumi al-qiyamah
Al-Hadits sering juga disebut dengan al-Sunnah
Karena hadist dan sunnah secara umum memiliki
persamaan yaitu sama-sama bersumber dari nabi
Al-Hadits/al-Sunnah secara istilah adalah


Segala sesuatu yang disandarkan kepada
Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan,
persetujuan,dan sifatnya
Dengan definisi di atas maka hadits dapat
diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu hadits
qauliy, hadits filiy, dan hadis taqriri
1. Hadist Qauliy adalah hadist (kata-kata) Nabi
yang disampaikan sesuai dengan tujuan dan
kondisi, seperti sabda beliau
La dlarara wa ladirara (tidak boleh berbuat
sesuatu yang membahayakan dan juga tidak
boleh membalas dengan sesuatu yang
membahayakan
2. Hadits filiy adalah perbuatan Rasulullah,
seperti shalat 5 waktu dengan cara dan
rukun-rukunnya, pelaksanaan ibadah haji,
dan sebagainya.
3. Hadits taqririy adalah penetapan Rasulullah atas ucapan dan
perbuatan yang dilakukan shahabat, dengan diam atau tidak
ada penolakan, persetujuan, atau anggapan baik dari beliau,
sehingga penetapan itu dianggap perbuatan yang dilakukan
oleh Rasulullah sendiri , seperti Riwayat : Dua sahabat
bepergian dan ketika tiba waktu shalat mereka tidak
menemukan air untuk wudlu maka mereka bertayammum
dan kemudian shalat, sesaat kemudian mereka berdua
menemukan air, lalu satu diantara mereka mengulang
shalatnya dan yang satunya tidak mengulang shalatnya, dan
ketika mereka menceritakan peristiwa ini kepada Nabi maka
nabi membenarkan apa yang diperbuat oleh keduanya seraya
beliau bersabda kepada shahabat yang tidak mengulang
shalatnya Engkau telah melaksanakan sunnah dan shalatmu
sudah cukup dan beliau bersabda kepada sahabat yang
mengulang shalatnya Engkau mendapat pahala dua kali
Al-QURAN-HADIST-HADIST QUDSIY
Al-Quran : Kalam Allah yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad melalui malaikat
jibril
Hadist : Perkataan, perbuatan, ketetapan dan
sifat-sifat Nabi
Hadist Qudsiy : Firman Allah (yang tidak ada
dalam al-Quran) disampaikan oleh Nabi,
redaksi kalimatnya juga dari Nabi, tapi maksud
dan isinya dari Allah
Perbedaan al-Quran & Hadis Qudsiy
AL-QURAN HADIST QUDSIY
Redaksi dan Isinya Dari Isinya Dari Allah dan
Allah redaksinya dari Nabi
Seluruh isinya Mayoritas hadist
mutawatir/qatiy ahad/dugaan, bisa jadi
shahih, hasan, dlaif
Membacanya ibadah, Membacanya bukan
syarat bacaan shalat ibadah , Bukan syarat
bacaan shalat,
Contoh hadist Qudsiy






: , :

, ,

(
)
FUNGSI HADIST TERHADAP AL-QURAN
1. Menetapkan dan menguatkan hukum yang dibawa
al-Quran. Misalnya : Perintah mendirikan shalat,
Menunaikan zakat, Puasa Ramadlan, Haji ke Baitullah,
larangan menyekutukan Allah, larangan kesaksian palsu,
larangan menyakiti kedua orang tua, larangan membunuh
tanpa alasan yang benar.
Contoh di atas di perkuat oleh hadis Nabi Dari
Abdurrahman bin abi bakrah, dari ayahnya ra, dia berkata,
Nabi SAW bersabda : Maukah kalian aku beritahu tentang
dosa-dosa yang paling besar? Rasulullah mengulanginya
sebanyak 3 kali- Para shahabatpun menjawab, Mau wahai
Rasulullah Rasulullah bersabda syirik kepada Allah dan
durhaka kepada kedua orang tua. Saat itu Rasulullah
sedang bersandar, lalu beliau bersabda Awas, jauhilah
perkataan dusta (HR. Bukhari)
2. Menjelaskan dan memerinci hukum-
hukum al-Quran yang masih global
(umum), Contoh Firman Dirikanlah
shalat untuk mengingat aku (QS. Thaha
20 : 14), ayat ini masih bersifat umum
karena tidak dijelaskan cara dan waktu
melaksanakan shalat. Lalu ayat diatas
dijelaskan oleh Nabi Lakukanlah shalat
seperti kamu melihat bagaimana aku
menunaikan shalat
3. Membentuk hukum yang tidak dibentuk
oleh al-Quran, Contoh : Haram
menikahi seorang perempuan sekaligus
bibi (dari ayah atau dari ibu), makan
binatang buas yang bertaring, makan
burung yang berkuku tajam, memakai
kain sutra dan cincin emas bagi laki-laki,
dan apa yang haram sebab nasab juga
haram sebab susuan.
Pendapat Imam Syafii dalam kitab
al-RisalahHADIST DIPEROLEH DENGAN 3 CARA
1. Nash al-Quran diturunkan oleh Allah,
kemudian Nabi membentuk hadist sesuai
dengan nash tersebut
2. Allah menurunkan nash secara global, lalu
nabi menjelaskan keglobalan nash tersebut
3. Nabi membentuk Sunnah yang memang
tidak terdapat dalam al-Quran
PEMBAGIAN HADIST MENURUT SANADNYA
1. Hadist Mutawatir adalah : hadis yang
diriwayatkan dari Rasulullah oleh
sejumlah orang (perawi) dan masing-
masing tidak mungkin melakukan
kebohongan, dan kemudian
diriwayatkan oleh sejumlah orang pula
yang juga tidak mungkin berbohong,
dan seterusnya. Contoh : hadist tentang
pelaksanaan shalat, puasa, haji, adzan
2. Hadist Masyhur adalah : hadist yang
diriwayatkan oleh satu atau dua orang shahabat
yang tidak sampai pada hitungan mutawatir,
kemudian diriwayatkan oleh sejumlah orang
yang masuk pada hitungan mutawatir, dan
seterusnya, seperti hadist yang diriwayatkan
oleh Umar bin khattab, Abdullah bin Masud,
Abu bakar al-Shiddiq kemudian diriwayatkan
oleh kelompok yang tidak mungkin berbohong
(mutawatir) (1). Bahwasannya sahnya suatu
perbuatan itu tergantung pada niatnya. (2).
Islam didirikan atas lima dasar. (3). Tidak
boleh berbuat suatu yang membahayakan juga
tidak boleh membalas dengan suatu yang
membahayakan
3. Hadist Ahad adalah : Hadist yang
diriwayatkan dari Nabi oleh perorangan yang
jumlahnya tidak sampai pada mutawatir dan
seterusnya sehingga sampai kepada kita
dengan perawi perorangan
MACAM-MACAM HADIST AHAD
1. Shahih : hadist yang memiliki mata rantai
(sanad ) yang bersambung dan tidak
bertentangan dengan riwayat hadis yang lain,
dan perawinya adil dan tidak cacat serta
periwayatannya akurat
2. Hasan adalah : hadist hasan tidak jauh beda
dengan hadist shahih, hanya saja perawi
hadist hasan tidak sepopuler (terkenal)
perawi hadist shahih
3. Dlaif adalah : sebuah hadist yang tidak
memenuhi kriteria hadist shahih dan hasan
Alasan hadist dijadikan sumber hukum Islam kedua
A. Karena Allah banyak menjelaskaan dalam al-Quran, antara lain :
Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; . (Ali Imran 32)

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati


Allah. (Al-Nisa 80)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya),
dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat
tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(sunnahnya), . (Al-Nisa 59)

.. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri[322] di


antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui
kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil
Amri).. (Al-Nisa 83)

.. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang
dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (Al-Hasyr 7)
B. Karena kesepakatan para shahabat baik
semasa Rasulullah hidup atau sepeninggal
beliau
C. Karena keglobalan ayat al-Quran, seperti :
Dirikanlah shalat dan terimalah zakat (QS. Al-
Nisa ayat 77)
Diwajibkan atas kamu berpuasa (QS. Al-
Baqarah 183)
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia
terhadap Allah (QS. Ali Imran 97)
D. Karena ada dalil Hadist : Sungguh aku
tinggalkan dua hal yang tidak akan
membuatmu sesat selama kamu berpegang
teguh pada keduanya yaitu kibaullah dan
sunnah rasul-Nya (HR. Malik)
Ucapan dan Perbuatan rasul yang tidak
termasuk hukum syara
1. Hal-hal yang keluar dari rasul sesuai watak
manusiawi, seperti berdiri, duduk, berjalan,
tidur, makan, minum. Hal ini tidak termasuk
hukum syara karena tidak bersumber dari
tugas kerasulan hanya saja sifat
kemanusiaan, akan tetapi apabila sifat-sifat
manusiawi itu memiliki dalil bahwa
tujuannya sebagai tuntutan maka dengan
dalil itu perbuatan tersebut termasuk hukum
syara
2. Hal-hal yang keluar dari rasul sesuai
pengetahuan manusia, kecerdasan dan
pengalaman dalam kehidupan duniawi, seperti
sewa-menyewa, pertanian, mengatur pasukan,
strategi peperangan, resep obat penyakit.
Semua ini tidak termasuk hukum syara karena
tidak bersumber dari tugas kerasulan
3. Hal-hal yang keluar dari Rasul yang berdasarkan
dalil syara bahwa hal tersebut berlaku kuhusus
pada Rasul dan bukan pada ummatnya, seperti
rasul beristri lebih dari empat orang
3. IJMA
Secara bahasa : sepakat, setuju, sependapat
Secara istilah ulama ushul : kesepakatan semua
mujtahid muslim pada suatu masa setelah
Rasulullah wafat atas hukum syara mengenai
suatu kejadian
Unsur-unsur Ijma
1. Ada beberapa mujtahid pada saat terjadinya
suatu peristiwa, karena kesepakatan tidak akan
tercapai dengan seorang mujtahid saja, dan
ijma akan terjadi setelah wafatnya Rasul, karena
kalau pada masa Rasul hidup beliau sendiri
sebagai mujtahid
2. Kesepakatan atas hukum syara
mengenai suatu peristiwa pada saat
terjadi oleh mujtahid muslim tanpa
melihat asal negara, kebangsaan atau
kelompoknya. Apabila kesepakatan atas
hukum syara mengenai suatu peristiwa
oleh hanya mujtahid dari negara
tertentu/kelompok tertentu/keluarga
tertentu, maka kesepakatan tersebut
tidak sah
3. Kesepakatam mereka diawali dengan
pengungkapan pendapat masing-masing
mujtahid. TEKNISNYA ADALAH : Pendapat itu
diungkapkan dalam bentuk perkataan seperti
fatwa atau dalam bentuk perbuatan seperti
putusan hukum. Atau pendapat itu diungkapkan
oleh perorangan mujtahid, kemudian setelah
masing-masing pendapat dikumpulkan
ditemukan adanya kesepakatan. Atau
diungkapkan secara kolektif, yaitu semua
mujtahid berkumpul pada masa terjadinya suatu
peristiwa kemudian peristiwa itu diajukan
kepada mereka , dan setelah mereka bertukar
pendapat mereka sepakat atas satu hukum
mengenai peristiwa tersebut
4. Kesepakatan itu benar-benar dari seluruh
mujtahid dunia Islam. Artinya apabila
kesepakatan itu hanya dari mayoritas para
mujtahid maka kesepakatan itu tidak disebut
ijma walaupun yang tidak sepakat hanya
minoritas dan yang sepakat mayoritas,
karena jika masih ada pertentangan maka
dimungkinkan benar satu sisi dan salah pada
sisi yang lain, karena kesepakatan mayoritas
bukanlah hujjah yang menjadi dasar hukum
syara yang memeiliki kepastian dan wajib
diikuti
KEKUATAN IJMA SEBAGAI SUMBER
HUKUM ISLAM
1. Dasar al-Quran : seperti dalam surat al-Nisa
ayat 59 Wahai orang-orang yang beriman,
tatailah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad),
dan uli al-amri (pemegang kekuasaan) diantara
kamu.
Lafadh al-Amri dalam ayat diatas masih
bersifat umum,meliputi masalah agama dan
masalah dunia, dalam masalah dunia dikenal
dengan istilah raja, pemimpin dan penguasa,
sedangkan dalam masalah agama dikenal
dengan istilah para mujtahid dan ahli fatwa
2. Dasar al-hadits :

) (
Sesungguhnya ummatku tidak akan
berkumpul (sepakat) untuk melakukan
kesalahan (HR. al-Turmudzi)

) (



Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin,
maka baik menurut Allah SWT
MACAM-MACAM IJMA
1. Ijma sharih/bayaniy, yaitu para mujtahid
menyampaikan pendapatnya dengan jelas
dan tegas, baik berupa ucapan atau tulisan
2. Ijma sukutiy, yaitu para mujtahid
mengungkapkan pendapatnya dengan jelas
dan tegas, dan sebagian yang lain diam,
artinya tidak mengemukakan komentar
setuju atau tidak terhadap pendapat yang
telah dikemukakan
Jumhur ulama berpendapat bahwa ijma yang
bisa dijadikan landasan hukum adalah ijma
sharih dan bukan ijma sukutiy
SEBAB-SEBAB DILAKUKAN IJMA
1. Permasalahan yang harus dicarikan status
hukumnya, sementara dalam al-Quran dan al-
Sunnah tidak ada
2. Karena nash, baik al-quran maupun al-Sunnah
tidak turun lagi
3. Karena pada masa itu jumlah mujtahid tidak
terlalu banyak sehingga sangat mudah dikordinir
untuk melakukan kesepakatan
4. Belum timbul perpecahan diantara mujtahid,
dan jika ada perselisihan pendapat masih mudah
dipersatukan
CONTOH-CONTOH IJMA
1. Pengangkatan abu bakar sebagai khalifah
setelah rasul wafat
2. Pengkodifikasian al-Quran pada masa
pemerintahan Abu Bakar dengan usulan khalifah
Umar, sehingga abu bakar mengumpulkan para
ulama untuk bersepakat dalam pembukuan al-
quran
3. Penetapan tanggal 1 syawal/1 ramadlan, maka
harus disepakati oleh ulama di negerinya
masing-0masing
QIYAS
Pengertian secara bahasa : Menyamakan,
membandigkan, mengukur
Pengertian secara istilah : Menetapkan hukum
suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada
dasar nashnya dengan menyamakan dengan
kejadian yang lain yang ada dasar nashnya
karena ada persamaan illat antara dua
kejadian tersebut.
RUKUN QIYAS
1. AL-Ashlu (pokok) : Kejadian yang hukumnya
sudah ada dalan nash disebutkan dalam
nash), al-Maqis Alaih (yang digunakan
sebagai ukuran), al-Mahmul alaih
(pembanding), al-Musyabbah bih (yang
dipakai untuk menyamakan)
2. al-Faru (cabang) : Kejadian yang hukumnya
tidak disebutkan dalam nash), al-maqis
(yang diukur), al-Mahmul (dibandingkan), al-
Musyabbah (yang disamakan)
3. al-Hukmu al-ashliy : Hukum syara yang telah
ditetapkan oleh nash, Tujuannya adalah
menjadi hukum dasar bagi masalah baru
4. Al-Illah : Alasan yang dijadikan dasar oleh
hukum asal
CONTOH QIYAS
Menyamakan keharamannya minuman yang memabukkan
dengan khamar (arak), khamar dengan minuman yang
memabukkan punya illat yang sama yaitu memabukkan
Harta anak-anak wajib dizakati karena dismaakan dengan
harta orang dewasa
Menyamakan wajibnya zakat beras dengan gandum (illatnya
sama-sama makanan pokok).
Jual-beli pada waktu adzan jumah hukumnya makruh karena
ada ilat (sebab) yaitu kesibukan yang melupakan shalat.
Sewa-menyewa, gadai dan transaksi lainnya pada waktu
adzan jumat hukumnya juga makruh karena diqiyaskan pada
hukum asal jualbeli pada waktu adzan jumah yaitu sama
makruh dengan illat yang sama yaitu kesibukan yang
melalaikan shalat.
Kertas yang dibubuhi tanda tangan adalah peristitiwa
yang ditetapkan dalam nash undang-undang perdata,
yaitu hujjah bagi yang bertandatangan, dengan illat
bahwa pembubuhan tandatangan adalah sebagai bukti
bagi pemberi tandatangan, di qiyaskan dengan
tandatangan adalah kertas yang dibubuhi cap jari,
maka kekuatan hukumnya sama dengan tandatangan,
karena illatnya sama
Pencurian uang dalam keluarga (antara orang tua
dengan anak, suami dengan istri atau sebaliknya, dst)
menurut undang-undang pidana pelakunya tidak boleh
dihukum kecuali atas tuntutan korban. Diqiyaskan
dengan pencurian adalah ghasab, merampas harta,
mengeluarkan cek kosong dan kriminal pemaksaan,
MACAM-MACAM QIYAS
1. Qiyas aulawi : mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu
yang hukumnya telah ada, namun illatnya lebih tinggi dari
hukum yang telah ada, seperti haramnya memukul orang
tua diqiyaskan dengan memakinya saja sudah haram
2. Qiyas musawi : yaitu illat qiyas suatu hukum sama, seperti
haramnya membakar harta anak yatim disamakan dengan
memakan harta anak yatim
3. Qiyas dilalah : Menetapkan hukum karena ada dilalatul
hukmi (penunjukan hukumnya), seperti kesamaan
kewajiban zakat untuk harta anak yatim dan harta orang
dewasa
4. Qiyas syibhi : terjadinya keraguan dalam mengqiyaskan,
keasal mana illat ditentukan kemudian harus ditentukan
salahsatunya untuk menetapkan hukum
SEBAB-SEBAB DILAKUKAN QIYAS
1. Persolan2 yang harus dicarikan hukumnya
sementara dalam al-Quran dan al-Sunnah
tidak ditemukan hukumnya dan para
mujtahidpun belum pernah melakukan ijma
2. Karena nash al-quran dan al-sunnag telah
berakhir dan tidak turun lagi
3. Karena ada persamaan illat antara peristiwa
yang belum ada hukumnya dengan peristiwa
yang telah ada hukumnya dalam nash
KEKUATAN QIYAS SEBAGAI SUMBER
HUKUM ISLAM
1. Al-Quran (al-Hasyr ayat 2)

Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi
pelajaran , wahai orang-rang yang memiliki
pandangan
2. Al-Nisa; ayat 59
ALASAN ULAMA YANG MENERIMA QIYAS
A. Karena ada dalil al-Quran, al :
1. al-Nisa ayat 59
2. al-Hasyr ayat 2
3. Yasin ayat 79
B. Karena ada hadist Nabi, al :
1. Hadist Muadz bin jabal : Ketika Rasulullah mengutusnya ke negeri yaman,
beliau bertanya, dengan apa engkau memutuskan suatu hukum ketika
dihadapkan suatu masalah kepadamu? Muadz berkata, aku putuskan dengan
Kitab Allah (Al-Quran), bila tidak aku temukan maka dengan sunnah Rasulullah,
bila tidak aku temukan maka aku berijtihad dengan pendapatku, dan aku tidak
akan condong. Maka Rasulullah Saw. Menepuk dadanya dan bersabda Segala
puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepada utusan Rasulullah
atas apa yang ia relakan.
2. Hadist : seorang wanita yang menghajikan ayahnya yang telah lumpuh,
diqiyaskan dengan seorang anak membayarkan hutangnya orang tua
3. Chadist tentang : Ciuman suami istri disiang ramadan tanpa mengeluarkan air
mani tidak batal, diqiyaskan dengan kumur-kumur disiang ramadlan
C. Karena pendapat dan perbuatan shabat. Al :
Seperti perbuatan shahabat tentang
pengangkatan khalifah abu bakar sebagai
pemimpin ummat , dengan ijma
(kesepakatan) sahabat yang lain dengan dasar
mengqiyaskan kepada imam shalat, artinya
pada masa hidup Rasulullah, beliau sering
menunjuk abu bakar sebagai imam shalat
ketika beliau berhalangan
D. Karena adanya illat yang rasional, al :
1. Allah tidak menetapkan hukum syara kecuali
demi kemaslahatan ummat, apabila ada
kejadian yang tidak memiliki nash dan ada
kesamaan illat dengan kejadian yang ada nasnya
, maka secara rasional dan bijaksana kita harus
menyamakan peristiwa tersebut dengan
peristiwa yang ada nasnya demi terciptanya
kemashlahatan bersama, seperti haramnya
khamar dijelaskan dalam nas al-quran dengan
illat karena memabukkan, maka secara rasional,
adil dan bijaksana tidak hanya khamar yang
diharamkan, akan tetapi sesuatu minuman yang
memabukkan
2. Nash al-Quran dan al-Sunnah sangat terbatas ,
sedangkan kejadian dan permasalahan manusia
selalu berkembang , maka secara rasional tidak
mungkin kita memaksakan diri dengan hanya
terbatas menggunakan dasar sumberhukum
Islam al-quran dan al-sunnah. Sesuai dengan
perkatan al-Satibiy : Al-Hukmu yatagayyaru bi al-
azminah wa al-amkinah wa al-ahwali ma lam
yukhalifi al-syariah (hukum itu beredar sesuai
dengan ruang dan waktu, maka boleh kita
mengikuti perkembangan, selama perkembangan
itu tidak kontroversial dengan syariah). Karena
hukum itu dinamis dan bukan statis, fleksibel dan
bukan stagnan
ALASAN ULAMA YANG MENOLAK QIYAS
1. Karena qiyas itu didasarkan pada dugaan,
padahal sesuatu yang didasarkan pada dugaan
maka hasilnya adalah dugaan, dan Allah
mencegah kepada orang yang ,engikuti dugaan,
seperti dalam surah al-Isra ayat 36
)37(
Dan jangalah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Akan tetapi alasan ini sangat lemah, karena yang
dilarang mengikuti dugaan itu dalam masalah
aqidah dan bukan dalam masalah hukum.
2. Karena qiyas didasarkan pada perbedaan
pandangan dalam menemukan illat hukum,
dan itu merupakan sumber perbedaan dan
pertentangan hukum, sementara hukum
syara yang bijaksana itu tidak ada perbedaan
SYARAT-SYARAT QIYAS
1. Qiyas harus berupa hukum syara
2. Qiyas harus berupa hukum asal yang illatnya
dapat ditangkap oleh aqal manusia untuk
dijadikan sandaran oleh hukum baru yang
tidak ada nasnya tapi illatnya sama dengan
hukum asal
3. Hukum asal tidak bersifat khusus, karena
kalau bersifat khusus maka tidak bisa
dijangkaukan pada lainnya
Ulangan Harian 2
45 Soal Pilihan Ganda (Skor 90)
1 Soal Uraian (Skor 10)
Tentang: al-Quran, al-Sunnah,
Ijma, Qiyas