You are on page 1of 9

PEMBUATAN KEPUTUSAN ETIS

Kelompok 5
1. Julu Purba
2. Febe Florentina
3. Eva Purba
4. Evilya
PRINSIP ETIKA KEPERAWATAN :
1. Keadilan

Prinsip keadilan berkaitan dengan kewajiban perawat untuk dapat berlaku adil padasemua
orang yaitu tidak memihak atau berat sebelah. Persepsi keadilan bagi perawatdan pasien
sering berbeda, terutama yang terkait dengan pemberian pelayanan.Perawat akan
mendahulukan pasien yang situasi dan kondisinya memerlukanpenanganan segera
dan menunda melayani pasien lain yang kebutuhannya termasukdi bawah prioritas. Tidak
seluruh pasien dapat memahami situasi ini, sehingga akanmenimbulkan rasa kurang
nyaman bagi pasien yang merasa dirinya kurangdiperhatikan oleh perawat..

2. Otonomi (autonomy)

Otonomi berkaitan dengan hak seseorang untuk mengatur dan membuat keputusansendiri,
meskipun demikian masih terdapat berbagai keterbatasan, terutama yangterkait dengan
situasi dan kondisi, latar belakang individu, campur tangan hukum, dantenaga kesehatan
profesional yang ada. Konflik yang sering terjadi berkaitan denganotonomi pasien yang
menenempatkan perawat pada posisi beresiko. Namunkeyakinan terhadap tugas dan
prinsip bahwa perawat mampu melaksanankan tugassecara mandiri dan menerima
konsekwensi yang berlaku.
3. asas Manfaat (Beneficience)

Asas manfaat berkaitan dengan kewajiban untuk melakukan hal yang baik dan
tidakmembahayakan orang lain. Kesulitan biasanya muncul pada saat menentukan
siapayang harus memutuskan hal yang terbaik untuk seseorang. Prinsip ini
menuntutperawat untuk melakukan tindakan yang menguntungkan
pasiennya atas dasarkebaikan, namun dalam kenyataan sehari hari prinsip ini
sering membuat risiko bagiprofesi perawat itu sendiri

4. Tidak merugikan (non-maleficiency)

Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban perawat untuk tidak menimbulkan


kerugianatau cedera pada pasiennya. Kerugian atau cedera dapat diartikan
sebagai kerusakanfisik seperti nyeri, kecacatan, kematian, atau adanya gangguan
emosi seperti perasaantidak berdaya, merasa terisolasi, dan adanya penyesalan.
5. Asas kejujuran (veracity)
Prinsip ini berkaitan dengan kewajiban perawat untuk mengatakan suatu
kebenarandan tidak berbohong atau menipu orang lain. Prinsip ini
mempunyai implikasi yangcukup berat bagi perawat, karena terkadang
perawat harus melakukan suatukebohongan yang tidak dikehendakinya.
6. Asas kerahasiaan (confidentiality)
Prinsip ini berkaitan dengan penghargaan perawat untuk
merahasiakan semuainformasi tentang pasien yang dirawatnya, dan
perawat hanya akan memberikaninformasi tersebut pada orang yang
tepat. Perawat menghindari pembicaraanmengenai kondisi pasien dengan
siapapun yang tidak secara langsung terlibat dalamperawatan pasien.
7. Komitmen (Fidelity)
Prinsip kesetiaan berkaitan dengan kewajiban perawat untuk selalu
setia padakesepakatan dan tanggung jawab yang telah dibuat. Perawat harus
memegang janjiyang dibuatnya pada pasien, kejujuran dan kesetiaan
merupakan modal dalammemupuk rasa percaya pasien pada perawat.
Apabila pasien dan keluarganya sudahtidak percaya lagi pada perawat
yang menanganinya, maka tujuan dari asuhankeperawatan tidak akan
berhasil
MODEL DALAM MEMBUAT KEPUTUSAN ETIS
KEPERAWATAN

1. Identifiksi Masalah
2. Mengumpulkan data tambahan
3. Mengidentifikasi Semua Pilihan atau Alternatif
Secara Terbuka.
4. Memikirkan Masalah Etis Secara
Berkesinambungan
5. Melakukan Tindakan serta Mengkaji Keputusan
dan Hasil
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBUATAN KEPUTUSAN
ETIS
1. Faktor Agama dan Adat
Adat Istiadat Setiap penduduk yang menjadi warga Negara Indonesia harus
beragama/berkepercayaan. Ini sesuai dengan sila pertama pancasila. Setiap warga
negara diberi kebebasan untuk memilih agama/kepercayaan yang dianutnya. Ini
sesuai dengan Bab XI pasal 29 Undangundang Dasar 1945 yang berbunyi:
1.Negara berdasarkan atas ketuhanan yang maha esa
2.Negara menjamin kemerdekaan tiaptiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Sebagai Negara berketuhanan, maka segala kebijakan/aturan yang di buat
diupayakan tidak bertentangan dengan aspekaspek agama yang ada di Indonesia
(Islam,
Kristen, Katolik, Hindu, Budha). Misalnya, sebelum program keluarga berencana
dijadikan program nasional, pihak pemerintah telah mendiskusikan berbagai
metode kontrasepsi yang tidak bertentangan dengan agama dan para pemuka
agama. Dengan ketentuan agama, maka para perawat tidak ragu ragu dalam
mempromosikan program tersebut dan dapat memberi informasi yang tidak
bertentangan dengan agama yang di anut oleh pasien.Kaitan adat istiadat dan
implikasi dalam keperawatan sampai saat ini belum tergali secara jelas di
Indonesia
2. Faktor Social
Berbagai factor social berpengaruh terhadap pembuatan keputusan etis.
Factor ini
meliputi antara lain meliputi perilaku social dan budaya, ilmu pengetahuan dan
teknologi , hukum, dan peraturan perundang undangan (Ellis, Hartley, 1980).
Perkembangan social
dan budaya juga berpengaruh terhadap system kesehatan nasional. Pelayanan
kesehatan yang tadinya berorientasi pada program medis lambat laun menjadi
pelayanan komprehensif dengan pendekatan tim kesehatan.

3. Faktor Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi


Kemajuan di bidang kesehatan telah mampu meningkatkan kualitas hidup
serta memperpanjang usia manusia dengan ditemukannya berbagai
mekanik kesehatan, cara prosedur baru dan bahan bahan/obat obatan
baru. Misalnya , pasien dengan gangguan gagal ginjal dapat diperpanjang
usianya berkat adanya mesin hemodialise. Ibuibu yang mengalami
kesulitan hamil dapat dibantu dengan berbagai inseminasi. Kemajuan
kemajuan ini menimbulkan pertanyaanpertanyaan yang berhubungan dengan
etika
4. Faktor Legislasi dan Keputusan Juridis
Saat ini aspek legislasi dan bentuk keputusan juridis bagi
permasalahan etika kesehatan sedang mejadi topic yang banyak
dibicarakan. Hukum kesehatan telah menjadi suatu bidang ilmu dan
perundang undangan baru banyak disusun untuk menyempurnakan untuk
perundang undangan lama atau untuk mengantisipasi perkembangan
permasalahan hukum kesehatan.

5. Faktor Dana / Keuangan


Dana/keuangan untuk membiayai pengobatan dan perawatan dapat
menimbulkan konflik. Untuk meningkatkan status kesehatan
masyarakat, pemerintah telah banyak berupaya dengan mengadakan
berbagai program yang di biayai pemerintah. Walaupun pemerintah
telah mengalokasikan dana yang besar untuk pembangunan kesehatan,
namun dana ini belum seluruhnya dapat mengatasi berbagai
program/masalah kesehatan, sehingga partisipasi swasta dan
masyarakat banyak digalakkan.Perawat sebagai tenaga kesehatan yang
setiap hari menghadapi pasien, sering menerima keluhan pasien
mengenai pendanaan. Masalah ketidakcukupan dana dapat
menimbulkan konflik terutama bila tidak dapat di pecahkan.
6. Faktor Pekerjaan
Dalam pembuatan suatu keputusan. Perawat perlu
mempertimbangka posisi pekerjaannya. Sebagian besar
perawat bukan merupakan tenaga yang praktik sendiri, tetapi
bekerja di rumah sakit, dokter praktik swasta, atau institusi
kesehatan yang lain. Tidak semua keputusan pribadi perawat
dapat dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan
keputusan/aturan tempat ia bekerja. Perawat yang
mengutamakan kepentingan pribadi sering mendapat sorotan
sebagai perawat pembangkang. Sebagai konsekuensinya, ia dapat
mendapat sanksi administrasi atau mungkin kehilangan pekerjaan.