You are on page 1of 29

KELOMPOK II

Haki Meizahrah1311011084
Marselani Kolobinti 1511011018
Pratiwi Yanel Putri 1511012008
Vivi Dwi Maryeti 1511012010
Rezky Effendi 1511012035
Definisi lupus
Menurut Dr. Rahmat Gunadi (Fak. Kedokteran Unpad)
jenis penyakit yang menyerang system imunitas tubuh dimana jaringan
dalam tubuh dianggap benda asing.
Pembagian lupus
Drug Induced Lupus(DIL) Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
Disebabkan oleh penggunaan obat-obat tertentu Ditandai dengan adanya autoantibodi terhadap
autoantigen, pembentukan kompleks imun, dan
disregulasi sistem imun, sehingga terjadi kerusakan
pada beberapa organ tubuh
Menunjukkan manisfestasi pada kulit Menunjukkan manisfestasi pada organ tertentu (ex.
Paru-paru,jantung,darah,ginjal dll)
Etiologi
1. Faktor Genetik
Studi pada anak kembar: 2-5% anak kembar dizigot SLE
58% kembar monozigot SLE
Risiko terjadinya SLE pada individu yang memiliki saudara 20X lebih tinggi dari populasi umum.

2. Faktor Hormonal
3. Faktor Imunologi
a. Antigen
b. Kelainan intrinsik sel T dan sel B
c. Kelainan antibodi
Lanjutan..

4. Faktor Lingkungan
a.virus dan bakteri
b. Paparan sinar ultra violet
Sinar ultra violet: sistem imun penyakit SLE dapat kambuh atau bertambah berat.
c. Stres
respon imun tubuh akan terganggu ketika seseorang dalam keadaan stres.
d. Obat-obatan
Obat pada pasien SLE dan diminum jangka waktu tertentu dapat menyebabkan Drug Induced Lupus
Erythematosus (DILE).
Patofisiologi lupus
PATOFISIOLOGI
Stimulasi antigen spesifik Antigen
sel penghasil presenting
antibodi, cells (APCs)
hipergamaglobulin Aktivasi sel B
emia,
autoantibodi,
APCs menjadi peptida
kompleks imun

Dibawa ke sel T melalui


HLA

Sel T teraktivasi 
menghasilkan sitokin 
merangsang sel B

Sel T  TH2  IL10 


menekan sel TH1

Cell mediated immune


terganggu
Gangguan Pemrosesan Penurunan up-take
Klirens Komplek Imun Kompleks Imun dalam komplek imun pada
Hati limpa

berkurangnya CR1 dan juga


fagositosis yang inadekuat pada
IgG2 dan IgG3
karena lemahnya ikatan
reseptor FcγRIIA dan
FcγRIIIA.

meningkatnya paparan antigen


terhadap sistem imun dan
terjadinya deposisi kompleks
imun pada berbagai macam
organ  terjadi fiksasi
komplemen pada organ

menghasilkan mediator-
mediator inflamasi yang
menimbulkan reaksi radang
Diagnosa
PEMERIKSAAN LABORATORIUM

• Penghitungan sel darah lengkap (complete blood count)


Penderita lupus dapat mengalami anemia sehingga dapat diketahui melalui
pemeriksaan sel darah lengkap..
• Pemeriksaan ANA (antinuclear antibody)\
untuk memeriksa keberadaan sel antibodi tertentu dalam darah
Lanjutan
• Pemeriksaan imunologi
Di antaranya adalah anti-dsDNA antibody, anti-Sm antibody, antiphospholipid antibody,
syphi-lis, lupus anticoagulant, dan Coombs’ test
• Tes komplemen C3 dan C4
Komplemen senyawa pembentuk sistem kekebalan tubuh. Level komplemen
menurun seiring aktifnya SLE.
• Analisis urine
Urine pada penderita lupus dapat mengalami kenaikan kandungan protein dan sel darah
merah. Kondisi ini menandakan bahwa lupus menyerang ke ginjal.
Lanjutan
Pemindaian

• Ekokardiogram
mendeteksi aktivitas jantung dan denyut jantung menggunakan gelombang suara.
Kerusakan katup dan otot jantung penderita lupus, diketahui melalui ekokardiogram.
• Foto rontgen
Lupus dapat menyebabkan peradangan pada paru-paru, ditandai dengan adanya cairan
pada paru-paru. Pemeriksaan Rontgen dapat mendeteksi adanya cairan paru-paru
tersebut.
Penatalaksanaan
• Tujuan : untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas hidup agar pasien penderita
SLE dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
• Non Farmakologis
1. Edukasi
2. Pencegahan serangan berulang
3. Monitoring ketat
4. Dukungan sosial dan psikologis
• Farmakologis
1. Obat-obatan
Penatalaksaan Farmakologis
1. NSAID
• mengendalikan gejala SLE pada tingkatan yang ringan, menurunkan
inflamasi dan rasa sakit pada otot, sendi dan jaringan lain.
• Contoh obat : aspirin, ibuprofen, baproxen dan sulindac.
• efek samping : mual, muntah, diare dan perdarahan lambung.
2. Kortikosteroid
• Tinggi rendahnya dosis tergantung tingkat keparahan penyakiy
• Contoh : Metilprednisolon.
• Kesalahan yang sering terjadi adalah pemberian dosis yang tinggi, namun
tidak disertai kontrol dan dalam waktu yang lama.
• Efek samping : berat badan, penipisan kulit, osteoporosis, resiko infeksi
virus dan jamur, perdarahan gastrointestinal, hipertensi dan moon face
3. Antimalaria
• Contoh : hydroxychloroquinon dan kloroquin.
• Hydroxychloroquinon sering digunakan dibanding kloroquin karena resiko
efek samping pada mata lebih rendah.
• Obat antimalaria efektif untuk SLE dengan gejala fatique, kulit, dan sendi.
• Toksisitas pada mata berhubungan dengan dosis harian dan kumulatif,
sehingga selama dosis tidak melebihi, resiko tersebut sangat kecil.
• Dianjurkan pemeriksaan ketajaman visual tiap 6 bulan untuk identifikasi dini
kelainan mata selama pengobatan.
4. Imunosupresan
• untuk menekan sistem imun tubuh.
• Contoh ; azathioprine (imuran), mycophenolate mofetil (MMF),
methotrexate, cyclosporine, cyclophosphamide, dan Rituximab.
Algoritma Penatalaksanaan SLE
Terapi
1. Pengobatan SLE Ringan
• Obat-obatan : pnghilang rasa nyeri (500mg) , obat antiinflamasi non steroid,
glukokortikoid untuk ruam , kortikosteroid dosis rendah dan kloroquin basa 3,5-4,0 mg/kg
BB/hari
2. Pengobatan SLE Sedang
• diperlukan beberapa rejimen obat-obatan tertentu serta mengikuti protokol pengobatan yang
telah ada. Misal pada serosistis yang refrakter: 20 mg / hari prednison atau yang setara.
Lanjutan
3. Pengobatan SLE Berat atau Mengancam Nyawa
• Diperlukan obat-obatan
- Glukokortikoid Dosis Tinggi: Lupus nefritis, serebritis atau trombositopenia:
40 60 mg / hari (1 mg/kgBB)
- Obat Imunosupresan atau Sitotoksik
Kasus

“Seorang wanita berumur 45 tahun dengan disorientasi akut yang sangat parah
sehingga ia tidak bisa mengurus dirinya sendiri (seperti memakai baju maupun mandi).
Wanita tersebut memiliki gejala cepat lelah, demam berkepanjangan, dan bercak merah
pada wajah. Pada pemeriksaan sistem saraf tidak ditemukan adanya kelainan, dan pada
pemeriksaan laboratorium, termasuk pemeriksaan urin, hasil yang didapatkan adalah
normal.
Kasus
Dari hasil laboratorium, paien tersebut didiagnosis mengidap systemic lupus
erythematosus (SLE) dengan data pada tabel x. Pasien tersebut diberikan
Prednisolone dan terjadi perubahan yang dramatis pada pasien tersebut. Setelah
satu minggu, pasien tersebut mampu memakai pakaiannya sendiri dan 10 hari
setelah pemberian pasien tersebut telah diperbolehkan pulang ke rumah.
Setelah 9 bulan dilakukan tes serologi dan didapatkan positif ANA dengan
konsentrasi rendah (1/10), C3 dengan normal (0,77g/L), C4 yang rendah
(0,14g/L), dan peningkatan ikatan DNA (68%).”
Table 1. Investigations for Case 1

Antinuclear antibody (ANA) Positive, 1/40


Antineutrophil cytoplasmic Negative
antibodies
DNA binding High, 91% (normal <30%)
DNA antibodies (IgG) Positive on Crithidia Iuciliae
(titre 1/120)
Serum IgG 14.5g/l (NR 6.0-12.0)
C3 0.54g/l (NR 0.65-1.25)
C4 0.03g/l (NR 0.2-0.5)
Pertanyaan
a. Apakah obat yang diberikan dokter tepat menurut anda?
b. Berapa dosis yang tepat untuk diberikan kepada pasien?
c. Apakah ada efek samping yang harus diwaspadai pasien dan tindakan apa
yang sebaiknya dilakukan?
d. Saran apa yang sebaiknya anda berikan kepada pasien saat hendak pulang?
Jawaban

a. Pasien terdiagnosis mengalami SLE dengan gejala kelumpuhan pada sendi,

arthritis, dan ruam kulit kupu-kupu. Untuk pengobatan pada kasus SLE ini

digunakan prednisolone, yang sudah sesuai dengan indikasi pasien.

Prednisolone merupakan golongan kortikosteroid, yang memiliki efek

glukokortikoid dan mineralokortikoid.


Lanjutan
b. Dosisnya 200 mg/hari dan setelah satu minggu dosisnya diturunkan menjadi 80mg/hari dan
dikonsumsi selama satu bulan.

c. kortikosteroid dosis tinggi dapat menyebabkan diabetes melitus atau hipertensi, diperlukan
monitoring terhadap tekanan darah dan kadar glukosa darah selama penggunaan obat ini.

Efek samping lain adalah osteoporosis karena kortikosteroid dapat menyebabkan penurunan
absorpsi kalsium dan peningkatan ekskresi kalsium. Oleh karena itu pada pasien SLE, terapi
kortikosteroid sering dikombinasikan dengan suplemen kalsium dan vitamin D.
Lanjutan
d.- Hindari stress
-Kurangi beban kerja yang berlebihan
-Hindari kontak sinar matahari secara langsung terutama pada jam 8 pagi -3 sore.
-Kurangi asupan lemak untuk menigkatkan penyerapan kalsium.
-Hindari sumber radikal bebas dan konsumsi antioksidan dalam jumlah memadai
-Kurangi berat badan
-Minum sekurang-kurangnya 1,5-2 L air/hari.