You are on page 1of 110

BY

 1. PENGERTIAN FILSAFAT
 2. CIRI BERFIKIR KEFILSAFATAN
 3. CABANG-CABANG UTAMA FILSAFAT
> METAFISIKA
> EPISTIMOLOGI
> LOGIKA
 PENGANTAR
 PENGERTIANFILSAFAT HUKUM
 PERKEMBANGAN FILSAFAT
HUKUM
 1. PENGERTIAN PARADIGMA
 2. PERAN PARADIGMA DALAM
PERKEMBANGAN ILMU
 3. PARADIGMA HUKUM
 PARADIGAM HUKUM ALAM
 PARADIGMA HUKUM HISTORIS
 PARADIGMA UTILITARIAN
 PARADIGMA HUKUM POSITIF
 PARADIGMA HUKUM SOSIOLOGIS
 PARADIGMA HUKUM REALIS-PRAGMATIS
PENGENALAN FILSAFAT

.Pengertian Filsafat.
falsafah (bahasa Arab),
philosophy (bahasa Inggris),
philosophie (Belanda, Jerman, Perancis),
 /philosophia (Yunani)

 berarti cinta, kekasih atau bisa juga sahabat.

 berarti kebijaksanaan atau kearifan, bisa juga berarti pengetahuan.

secara harfiah kata  berarti yang mencintai kebijaksanaan.

filsafat merupakan aktivitas manusia dengan menggunakan kemampuan


daya pikirnya dalam rangka menelaah kejadian alam semesta untuk
menemukan kebenaran yang hakiki.
 Para filsuf pra-Sokratik
menganggap bahwa filsafat
adalah ilmu yang berupaya
untuk memahami hakikat
alam dan realitas yang ada
dengan mengandalkan akal
budi.
 Plato pernah mengatakan bahwa
filsafat adalah ilmu pengetahuan
yang berusaha meraih kebenaran
yang asli dan murni. Selain itu
Plato juga mengatakan bahwa
filsafat adalah penyelidikan
tentang sebab-sebab dan asas-
asas yang paling akhir dari segala
sesuatu yang ada.
. Filsafat menurutnya sebagai
ilmu pengetahuan yang
senantiasa berupaya mencari
prinsip-prinsip dan penyebab-
penyebab dari realitas yang
ada
 filsuf asal Perancis yang termasyhur
dengan argumen je pense, donc je
suis, atau dalam bahwa Latin cogito
ergo sum (aku berfikir maka aku ada),
mengatakan bahwa filsafat
merupakan himpunan dari segala
pengetahuan yang pangkal
penyelidikannya adalah mengenai
Tuhan, alam dan manusia.
 Al-Farabi filsuf muslim
berpendapat bahwa filsafat
itu ialah pengetahuan
tentang alam yang maujud
dan bertujuan menyelidiki
hakikat yang sebenarnya
CIRI BERFIKIR KEFILSAFATAN

RADIKAL: SISTEMATIK:saling
berfikir
sangat berhubungan secara
mendasar teratur dan terkandung
adanya maksud & tujuan
tertentu
UNIVERSAL:
common
experience of KOMPREHENSIF:
mankind mencakup secara
menyeluruh

KONSEPTUAL: BEBAS NILAI:bebas


hasil generalisasi dari prasangka sosial,
dan abstraksi historis, kultural &
pengalaman religius :tidak anarkis
manusia

KOHEREN &
KONSISTEN: BERTANGGUNG
sesuai dengan
kaidah berfikir
JAWAB:bertanggung
jawab atas hasil
(logis) dan tidak
pemikirannya &
kontradiksi/
memperhatikan etika
runtut
CABANG-CABANG UTAMA FILSAFAT
Tiga Persoalan Filsafat

KEBERADAAN PENGETAHUAN NILAI

METAFISIKA
EPISTIMOLOGI ETIKA
ONTOLOGI

LOGIKA ESTETIKA

KOSMOLOGI

ANTROPOLOGI
METAFISIKA:
MERUPAKAN ISTILAH DARI YUNANI

META TA PHYSIKA (SESUDAH FISIKA)

YANG DAPAT BERARTI SESUATU YANG ADA DI BALIK

ATAU DI BELAKANG BENDA-BENDA FISIK

METAFISIKA DAPAT DIDEFINISIKAN SEBAGAI STUDI ATAU PEMIKIRAN


TENTANG SIFAT YANG TERDALAM (ULTIMATE NATURE)
ATAS KENYATAAN ATAU KEADAAN
ONTOLOGI

BERKAITAN DENGAN
¶ APA YANG DIMAKSUD DENGAN ADA,
KEBERADAAN ATAU EKSISTENSI
¶ BAGAIMANAKAH PENGGOLONGAN DARI ADA,
KEBERADAAN ATAU EKSISTENSI
¶ APA SIFAT DASAR (NATURA) KENYATAAN ATAU
KEBERADAAN
KOSMOLOGI

BERKAITAN DENGAN ASAL MULA,


PERKEMBANGAN DAN STRUKTUR ATAU SUSUNAN
ALAM
¶ JENIS KETERATURAN APA YANG ADA DALAM
ALAM.
¶ KETERATURAN DALAM ALAM SEPERTI SEBUAH
MESIN ATAUKAH KETERATURAN YANG BERTUJUAN
¶ APA HAKIKAT HUBUNGAN SEBAB AKIBAT
¶ APAKAH RUANG DAN WAKTU
ANTROPOLOGI

BERKAITAN DENGAN PERTANYAAN


¶ BAGAIMANA TERJADI HUBUNGAN BADAN DAN
JIWA
¶ APA YANG DIMAKSUD DENGAN KESADARAN
¶ MANUSIA SEBAGAI MAHLUK BEBAS ATAU
TERIKAT
EPISTIMOLOGI

SECARA ETIMOLOGIS, ISTILAH EPISTIMOLOGI


BERASAL DARI KATA YUNANI EPISTEME YANG
BERARTI PENGETAHUAN DAN LOGOS BERARTI KATA,
PIKIRAN, PERCAKAPAN ILMU ATAU TEORI.

SECARA HARFIAH EPISTIMOLOGI BERARTI


TEORI PENGETAHUAN
(THEORY OF KNOWLEDGE)

EPISTIMOLOGI DAPAT DIDEFINISIKAN SEBAGAI CABANG


FILSAFAT YANG MEMPELAJARI ASAL MULA ATAU
SUMBER, STRUKTUR, METODE DAN SYAHNYA
(VALIDITAS) PENGETAHUAN.
PERSOALAN DALAM
EPISTIMOLOGI

BERKAITAN DENGAN PERTANYAAN


¶ BAGAIMANAKAH MANUSIA DAPAT MENGETAHUI
SESUATU
¶ DARI MANA PENGETAHUAN DIPEROLEH
¶ BAGAIMANAKAH VALIDITAS PENGETAHUAN ITU
DAPAT DINILAI
¶ APAKAH PERBEDAAN ANTARA PENGETAHUAN A
PRIORI (PENGETAHUAN PENGALAMAN) DENGAN
PENEGTAHUAN A POSTERIORI (PENGETAHUAN
PASCAPENGALAMAN)
LOGIKA

SECARA ETIMOLOGIS, ISTILAH LOGIKA BERASAL DARI


KATA YUNANI LOGIKOS YANG BERASAL DARI KATA
BENDA LOGOS .
KATA LOGOS BERARTI SESUATU YANG DIUTARAKAN,
SUATU PERTIMBANGAN AKAL (PIKIRAN), MENGENAI
KATA, MENGENAI PERCAKAPAN, ATAU YANG
BERKENAAN DENGAN BAHASA

LOGIKA DAPAT DIDEFINISIKAN SEBAGAI ILMU,


KECAKAPAN ATAU ALAT UNTUK BERFIKIR SECARA
LURUS.
OBJEK LOGIKA

¶ OBJEK MATERIAL LOGIKA ADALAH PEMIKIRAN


¶ OBJEK FORMALNYA ADALAH KELURUSAN BERFIKIR

PERSOALAN LOGIKA BERKAITAN DENGAN PERTANYAAN


¶ APA YANG DIMAKSUD DENGAN PENGERTIAN (CONCEPT)
¶ APA YANG DIMAKSUD DENGAN PUTUSAN (PROPOSITION)
¶ APA YANG DIMAKSUD DENGAN PENYIMPULAN (INFERENCE)
¶ APA ATURAN-ATURAN UNTUK DAPAT MENYIMPULKAN
SECARA LURUS
¶ APA MACAM-MACAM SILOGISME
¶ APA MACAM-MACAM SESAT PIKIR (FALLACY)
ETIKA

SECARA ETIMOLOGIS, ISTILAH ETIKA BERASAL DARI


KATA YUNANI EHTOS DAN ETHIKOS. ETHOS BERARTI
SIFAT, WATAK, KEBIASAAN, TEMPAT YANG BIASA.
ETHIKOS BERARTI SUSILA, KEADABAN, ATAU
KELAKUAN DAN PERBUATAN YANG BAIK.

ISTILAH MORAL BERASAL DARI BAHASA LATIN MOS


BENTUK TUNGGAL, SEDANGKAN BENTUK JAMAK
MORES YANG BERATI ADAT ISTIADAT ATAU
KEBIASAAN.
DALAM BAHASA INSONESIA ETIKA ATAU MORAL
DAPAT DIARTIKAN SEBAGAI KESUSILAAN
OBJEK ETIKA
¶ OBJEK MATERIAL ETIKA ADALAH TINGKAH LAKU ATAU
PERBUATAN MANUSIA YANG DILAKUKAN SECARA SADAR DAN BEBAS
¶ OBJEK FORMAL ETIKA ADALAH KEBAIKAN DAN KEBURUKAN ATAU
BERMORAL DAN TIDAK BERMORAL DARI TINGKAH LAKU TERSEBUT

PERSOALAN ETIKA BERKAITAN DENGAN PERTANYAAN


¶ APA YANG DIMAKSUD DENGAN BAIK ATAU BURUK SECARA MORAL
¶ APAKAH SYARAT-SYARAT SUATU PERBUATAN DIKATAKAN SEBAGAI
BAIK SECARA MORAL
¶ BAGAIMANAKAH HUBUNGAN ANTARA KEBEBASAN KEHENDAK DENGAN
PERBUATAN SUSILA
¶ APA YANG DIMAKSUD DENGAN KESADARAN MORAL
¶ BAGAIMANAKAH PERANAN HATI NURANI (CONSCIENCE) DALAM SETIAP
PERBUATAN MANUSIA
¶ BAGAIMANAKAH PERTIMBANGAN MORAL BERBEDA DARI DAN
BERGANTUNG PADA SUATU PERTIMBANGAN YANG BUKAN MORAL
ESTETIKA

¶ ESTETIKA SEBAGAI CABANG FILSAFAT JUGA DISEBUT


FILSAFAT KEINDAHAN (PHILOSOPHY OF BEAUTY)

¶ SECARA ETIMOLOGIS, ISTILAH ESTETIKA BERASAL DARI KATA


YUNANI AISTHETIS YANG BERARTI DAPAT DISERAP DENGAN
PANCA INDERA, PEMAHAMAN INTELEKTUAL (INTELECTUAL
UNDERSTANDING), ATAU JUGA DAPAT BERARTI PENGAMATAN
SPIRITUAL.
¶ ESTETIKA DAPAT DIGAMBARKAN SEBAGAI KAJIAN FILSAFATI
TENTANG KEINDAHAN DAN KEJELEKAN
SEJAK JAMAN YUNANI PURBA, ESTETIKA SERING DISEBUT
DENGAN BERBAGAI NAMA SEPERTI FILSAFAT SENI (PHILOSOPHY
OF ART), FILSAFAT KEINDAHAN (PHILOSOPHY OF BEAUTY),
FILSAFAT CITA RASA (PHILOSHOPY OF TASTE), DAN FILSAFAT
KEKRITISAN (PHYLOSOPHY OF CRITICISM). AKAN TETAPI SEJAK
ABAD XVII, ISTILAH ESTETIKA MULAI MENGGANTIKAN NAMA-
NAMA TERSEBBUT

ESTETIKA

PERSOALAN ESTETIKA BERKAITAN DENGAN PERTANYAAN


¶ APAKAH KEINDAHAN ITU
¶ APAKAH KEINDAHAN ITU BERSIFAT OBJEKTIF ATAUKAH
SUBJEKTIF
¶ APA YANG MERUPAKAN UKURAN KEINDAHAN
¶ APA PERAN KEINDAHAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
¶ BAGAIMANAKAH HUBUNGAN KEINDAHAN DENGAN KEBENARAN
BERBAGAI ASPEK FILSAFAT
HUKUM
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
Filsafat Hukum adalah ilmu yang
mempelajari hukum secara filosofis. Jadi
objek Filsafat Hukum adalah hukum, dan
objek tersebut dikaji secara mendalam
sampai kepada inti atau atau dasarnya
yang disebut dengan hakikat
Ketika mempertanyakan tentang apa
(hakikat) hukum itu, sebenarnya juga sudah
masuk pada ranah filsafat hukum.
Pertanyaan tersebut sebenarnya juga dapat
dijawab oleh ilmu hukum, akan tetapi
jawaban tersebut ternyata tidak
memuaskan. Hal ini antara lain dapat
berpijak dari pendapat Van Apeldoorn yang
antara lain menyatakan bahwa ilmu hukum
hanya memberikan jawaban yang sepihak,
karena ilmu hukum hanya melihat gejala-
gejala hukum belaka
Ia tidak melihat hukum, ia hanya melihat
apa yang dapat dilihat dengan panca indera,
bukan melihat dunia hukum yang tidak
dapat dilihat, yang tersembunyi di dalamnya,
dengan demikian kaidah-kidah hukum
sebagai pertimbangan nilai terletak di luar
pandangan ilmu hukumNorma (kaidah)
hukum tidak termasuk pada ranah
kenyataan (Sein), tetapi berada pada dunia
nilai (Sollen dan mogen), sehingga norma
hukum bukan dunia penyelidikan ilmu
hukum.
BERBAGAI DEFINISI HUKUM
J.van Kan :
“keseluruhan ketentuan-ketentuan
kehidupan yang bersifat memaksa, yang
melindungi kepentingan-kepentingan orang
dalam masyarakat”.

Rudolf von Jhering:


“hukum adalah keseluruhan norma-norma
yang memaksa yang berlaku dalam suatu
negara”
BERBAGAI DEFINISI HUKUM
Hans Kelsen menyatakan bahwa hukum
terdiri dari norma-norma bagaimana orang
harus berperilaku

Wirjono Projodikoro yang menyatakan


bahwa hukum adalah rangkaian peraturan
mengenai tingkah laku orang-orang
sebagai anggota suatu masyarakat,
sedangkan satu-satunya tujuan hukum
ialah menjamin keselamatan,
kebahagiaan, dan tata tertib dalam
masyarakat itu
BERBAGAI DEFINISI HUKUM
O. Notohamidjoyo berpendapat bahwa
hukum adalah keseluruhan peraturan-
peraturan yang tertulis dan tidak tertulis
dalam masyarakat negara serta antar
negara, yang berorientasi pada dua asas
yaitu keadilan dan daya guna, demi tata
tertib dan damai dalam masyarakat
Berdasarkan atas definisi tersebut di atas maka
tampaklah betapa luas hukum itu. Keluasan
hukum itu kemudian diartikan menjadi sembilan
arti hukum oleh Purnadi Purbacaraka dan
Soerjono Soekanto
Sembilan arti hukum oleh Purnadi
Purbacaraka dan Soerjono Soekanto

1) ilmu pengetahuan yakni pengetahuan


yang tersusun secara sistematis atas dasar
kekuatan pemikiran;
2) disiplin, yakni suatu ajaran tentang
kenyataan atau gejala-gejala yang dihadapi;
3) norma, yakni pedoman atau patokan
sikap tindak atau perikelakuan yang pantas
dan diharapkan;
Sembilan arti hukum oleh Purnadi
Purbacaraka dan Soerjono Soekanto
7) proses pemerintahan, yaitu proses
hubungan timbal balik antara unsur-unsur
pokok dari sistem kenegaraan;
8) sikap tindak ajeg atau perikelakuan
yang teratur, yakni perikelakuan yang
diulang-ulang dengan cara yang sama, yang
bertujuan untuk mencapai kedamaian; dan
9) jalinan nilai-nilai, yaitu jalinan dari
konsepsi-konsepsi abstrak tentang apa
yang dianggap baik dan buruk.
Dengan demikian dapat digambarkan betapa
rumitnya apabila akan merumuskan definisi
tentang hukum yang dapat mencakup secara
keseluruhan dan memuaskan
Hal ini tampaknya ada pula dalam
pemikiran Karl N. Llewellyn yang
menyatakan sebagai berikut.
“Kesulitan dalam memberikan kerangka
dan konsep tentang “hukum” adalah karena
terlampau banyaknya perihal yang terkait
sementara satu sama lain di antara perihal
yang terkait ini sangat berbeda. Karenanya,
saya tidak mengupayakan suatu definisi
dari hukum tersebut”
PENGERTIAN FILSAFAT HUKUM
Secara etimologis Filsafat Hukum terdiri atas dua
kata yakni “filsafat” dan “hukum”.
Filsafat dapat diartikan suatu cara berfikir yang
mendalam, sedangkan hukum dapat diartikan
sebagai norma yang di dalamnya terdapat nilai-
nilai serta sanksi yang memaksa bagi yang
melanggarnya.
Dengan demikian maka secara sederhana
Filsafat Hukum adalah pemikiran yang
mendalam tentang norma hukum yang
didalamnya termasuk pemikiran yang mendalam
terhadap nilai-nilai yang dikandung oleh norman
hukum beserta sanksi pemaksanya
BERBAGAI PENGERTIAN FILSAFAT
HUKUM
Gustaf Radbruch:
“Filsafat Hukum adalah cabang filsafat yang
mempelajari hukum yang benar”.
Langen Mayer:
“ Filsafat Hukum adalah pembahasan
secara filosofis tentang hukum”
Mahadi,
“Filsafat Hukum ialah filsafat tentang
hukum: falsafat tentang segala sesuatu di bidang
hukum secara mendalam sampai ke akar-
akarnya secara sistematis”
BERBAGAI PENGERTIAN FILSAFAT
HUKUM
Purnadi Purbacaraka dan Soerjono
Soekanto :
“Filsafat Hukum adalah perenungan
dan perumusan nilai-nilai kecuali itu filsafat
hukum juga mencakup penyerasian nilai-
nilai misalnya: penyerasian antara
ketertiban dengan ketentraman, antara
kebendaan dengan keakhlakan, dan antara
kelanggengan/konservatisme dengan
pembaharuan
BERBAGAI PENGERTIAN FILSAFAT
HUKUM
Soejono Dirdjosisworo:.
“Filsafat Hukum adalah pendirian atau
penghayatan kefilsafatan yang dianut orang
atau masyarakat atau negara tentang
hakikat serta landasan berlakunya hukum
Van Apeldoorn:
“Filsafat Hukum menghendaki jawaban atas
pertanyaan: Apakah hukum?,
Ia menghendaki agar kita berfikir masak-masak
tentang tanggapan kita dan bertanya pada diri
sendiri, apa yang sebenarnya kita anggap tentang
hukum
BERBAGAI PENGERTIAN FILSAFAT
HUKUM
Utrecht:
“Filsafat Hukum memberikan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan seperti: Apakah hukum itu sebenarnya?
(persoalan: adanya dan tujuan hukum). Apakah sebabnya
maka kita mentaati hukum? (persoalan: berlakunya
hukum). Apakah keadilan yang menjadi ukuran untuk
baik buruknya hukum itu? (persoalan: keadilan hukum).
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya juga
dijawab oleh ilmu hukum. Akan tetapi bagi orang banyak
tidak memuaskan. Ilmu hukum sebagai suatu ilmu empiris
hanya melihat hukum sebagai suatu gejala saja, yaitu
menerima hukum sebagai suatu “gegebenheit” belaka.
Filsafat hukum hendak melihat hukum sebagai kaidah
dalam arti kata “ethisch wardeoordeel”
BERBAGAI PENGERTIAN FILSAFAT
HUKUM

Satjipto Rahardjo:
“Filsafat Hukum mempersoalkan pertanyaan-
pertanyaan yang bersifat dasar dari hukum.
Pertanyaan tentang hakikat hukum, tentang
dasar-dasar bagi kekuatan mengikat dari
hukum, merupakan contoh-contoh
pertanyaan yang bersifat mendasar itu.”
SIMPULAN PENGERTIAN FILSAFAT
HUKUM

Berdasarkan atas beberapa definisi atau


perumusan-perumusan tersebut di atas
maka dapatlah ditarik intinya bahwa
Filsafat Hukum merupakan kajian secara
filosofis terhadap hukum yang ranah
kajiannya tentang hakikat, inti atau kajian
sedalam-dalamnya tentang hukum.
RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Ruang lingkup Filsafat Hukum antara lain


dapat ditilik dari perumusan pengertian
tentang Filsafat Hukum. Mencermati adanya
berbagai perumusan yang variatif maka
tidaklah dapat dikatakan bahwa ruang
lingkup Filsafat Hukum bersifat baku dan
stagnant, namun sebaliknya luwes dan
berkembang. Namun demikian titik
pangkalnya tetap sama yakni tentang
hakikat hukum yang paling mendalam atau
hakiki.
RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Perkembangan terletak pada hakikat


hukum yang dapat dilihat dari berbagai
perspektif antara lain tentang tujuan
hukum, keadilan, dasar mengikatnya
hukum, atau mengapa hukum ditaati dan
sebagainya.
RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Perkembangan ruang lingkup Filsafat Hukum


dapatlah ditengarai dengan pokok pikiran bahwa
ruang lingkup Filsafat Hukum sudah bergeser
pada batasan ruang lingkup yang dibuat atau
disepakati sebagai masalah Fislafat Hukum oleh
para filsuf masa lampau. Misalnya masalah dasar
yang menjadi perhatian filsuf masa lampau
terhdap Filsafat Hukum terbatas pada tujuan
hukum (terutama masalah keadilan), hubungan
hukum alam dan hukum positif, hubungan negara
dan hukum, dan sebagainya.
RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Hal tersebut di atas tidak terlepas dari


implikasi cara perspektif masa itu yang
melihat Filsafat Hukum sebagai kajian
sampingan untuk kelengkapan dalam
pengkajian tentang filsafat pada umumnya.
Demi kelengkapan berfilsafatnya para filsuf
harus juga membahas segala aspek dari
filsafat termasuk juga hukum. Walaupun
terbatas, pemikiran-pemikiran hukum dari
Plato, Aristoteles, Cicero, Zeno dari zaman
Yunani/Romawi misalnya masih banyak
banyak pengikutnya hingga kini.
RUANG LINGKUP FILSAFAT HUKUM

Pada masa kini objek kajian atau ruang lingkup


kajian Filsafat Hukum tidak hanya masalah
tujuan hukum saja, tetapi setiap permasalahan
yang mendasar sifatnya yang berkaitan dengan
masalah hukum. Dengan kata lain bahwa Filsafat
Hukum sekarang tidak lagi Filsafat Hukumnya
para ahli filsafat seperti di masa-masa lampau,
melainkan merupakan hasil pemikiran pula para
ahli hukum (teoritisi maupun praktisi) yang dalam
tugas sehari-harinya banyak menghadapi
permasalahan yang menyangkut keadilan sosial di
dalam masyarakat
PERKEMBANGAN RUANG LINGKUP
FILSAFAT HUKUM
Berkaitan dengan hal tersebut Friedmann
menyatakan sebagai berikut.“Before the nineteenth
century, legal theory was essentially a by product
of philosophy, religion, ethics, or politic. The great
legal thinkers were primarily philoshopers,
churhmen, politicians. The decisive shift from the
philpshoper’s or politician’s to the lawyer’s legal
philosophy is of fairly recent date. It follows period
of great developments in juristic research, technique
and professional training. The new era of legal
philosophy arises mainly from the confrontation of
the professional lawyer, in his legal work, with
problems of social justice”
PERKEMBANGAN RUANG LINGKUP
FILSAFAT HUKUM
Masalah-masalah hukum yang ada meliputi
beberapa masalah antara lain sebagai berikut.
•Hubungan hukum dengan kekuasaan;
•Hubungan hukum dengan nilai-nilai sosial
budaya;
•Apa sebabnya negara berhak menghukum
seseorang;
•Apa sebabnya orang mentaati hukum
•Masalah pertanggungjawaban;
•Masalah hak milik;
•Masalah kontrak;
•Masalah peranan hukum sebagai sarana
pembaharuan masyarakat; Dan lain-lain
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Perkembangan Filsafat (hukum) sebagaimana
tampak pada beberapa referensi dapatlah
dikatagorikan dalam beberapa periodesasi.
Periodesasi yang lazim adalah sebagai berikut
I. Zaman Purbakala:
1.Masa Yunani:
2. Masa Romawi:
II. Abad Pertengahan
1. Masa Gelap
2. Masa Scholastik
III. Zaman Renaissance
IV. Zaman Baru
V. Zaman Modern
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Ad. I. Zaman Purbakala
Dimulai dengan masa pra-Socratesyang dapat
dikatakan bahwa Filsafat Hukum belum
berkembang dengan baik. Alasan utama karena
para filsuf pada masa itu lebih memusatkan
perhatiannya pada alam semesta, yaitu yang
menjadi masalah bagi mereka tentang bagaimana
terjadinya alam semesta
Beberapa penulis sejarah Filsafat Hukum
mengungkapkan bahwa Socrates lah yang
pertama-tama memberikan pandangan sepenuhnya
pada manusia. Diperkirakan Filsafat Hukum mula
pertama lahir pada masa ini, kemudian mencapai
puncaknya melalui peranan para filsuf besar
seperti Plato, Aristoteles dan filsuf-filsuf lainnya
pada zaman Yunani dan Romawi
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Ad. I. Zaman Purbakala
Socrates yang melakukan dialog dengan
Thrasymachus (Sofinsft) berbendapat
bahwa ketika mengukur apa yang baik dan
apa yang buruk, indah dan jelek, berhak
dan tidak berhak, jangan diserahkan
semata-mata kepada orang perorangan atau
kepada mereka yang memiliki kekuatan
atau penguasa yang zalim, tetapi
hendaknya dicari ukuran-ukuran yang
objektif untuk menilainya. Soal keadilan
bukanlah hanya berguna bagi mereka yang
kuat, melainkan keadilan itu hendaknya
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Ad. I. Zaman Purbakala

Plato juga sudah membahas hampir semua


masalah yang tercakup dalam Filsafat
Hukum. Baginya keadilan (justice), adalah
tindakan yang benar, tidak dapat
diidentifikasikan dengan hanya kepatuhan
pada aturan hukum. Keadilan adalah suatu
ciri sifat manusia yang mengkoordinasi dan
membatasi pelbagai elemen dari manusia
terhadap lingkungannya agar
memungkinkan manusia dalam
keutuhannya berfungsi dengan baik.
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM

Ad. I. Zaman Purbakala

Plato juga berpendapat bahwa hukum


adalah pikiran yang masuk akal (reason
thought, logismos) yang dirumuskan dalam
keputusan negara. Ia menolak anggapan
bahwa otoritas dari hukum semata-mata
bertumpu pada kemauan dari kekuatan
yang memerintah (governing power).
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Ad. I. Zaman Purbakala
Aristoteles tidak pernah mendefinisikan hukum secara
formal. Ia membahas hukum dalam berbagai
konteks. Dengan cara yang lain Aristoteles
mengatakan bahwa “Hukum adalah suatu jenis
ketertiban dan hukum yang baik adalah ketertiban
yang baik, akal yang tidak dipengaruhi oleh nafsu,

Aristoteles juga menolak pandangan kaum Sofis


bahwa hukum hanyalah konfensi. Namun demikian
ia juga mengakui bahwa seringkali hukum
hanyalah merupakan ekspresi dari kemauan
sesuatu kelas khusus dan menekankan peranan
kelas menengah sebagai faktor stabilisasi.
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM

Ad. I. Zaman Purbakala

Kaum Stoa yakin akan persamaan semua


manusia dalam suatu komunitas universal
dan menolak doktrin perbudakan dari
Aristoteles. Hukum alam merupakan
standar yang paling dasar bagi aturan-
aturan hukum dan institusi-institusi yang
dibuat menusia digabungkan dengan
gagasan Aristoteles dan Kristen mewujud
dalam suatu tradisi hukum alam dari
Filsafat Hukum pada abad pertengahan
yang berpengaruh lama.
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Ad. I. Zaman Purbakala

Pada masa Romawi, perkembangan Filsafat Hukum


tidak segemilang pada masa Yunani. Sebabnya
masa itu para ahli fikir lebih banyak
mencurahkan perhatiannya kepada masalah
bagaimana hendak mempertahankan ketertiban
di seluruh kawasan Kekaisaran Romawi yang
sangat luas itu. Para filsuf dituntut untuk
memikirkan bagaimana caranya memerintahkan
Romawi sebagai suatu kerajaan dunia. Namun
demikian para ahli fikir seperti Polybius, Cicero,
Seneca, Marcus Aurelius, banyak memberikan
sumbangan penting pada perkembangan pemikiran
hukum yang pengaruhnya masih tampak hingga
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Ad. I. Zaman Abad Pertengan
Abad pertengahan dapat dibagai dalam dua masa
yakni masa gelap (dark ages) da masa Scholastik,

Masa gelap dimulai dengan runtuhnya


kekaisaran Romawi akibat serangan bangsa
lain yang dianggap terbelakang yang datang
dari utara yaitu yang disebut suku-suku
Germania. Pada masa ini dapat dikatakan
Filsafat Hukum tidak berkembang, selain
karena suasana tidak tenteram akibat
peperangan antar suku juga karena tidak
adanya peninggalan apapun dari suku
bangsa Romawi yang telah runtuh
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
Ad. I. Zaman Abad Pertengan
Hal ini agak berbeda dengan masa Scholastik,
Filsafat Hukum mulai tumbuh berkembang
dengan munculnya banyak pemikiran tentang
hukum. Namun demikian ada corak khusus
dalam pemikiran tentang hukum yaitu dengan
didasari oleh ajaran Tuhan dalam hal ini ajaran
Kristen. Sesuai dengan corak pemikiran hukum
Ketuhanan ini lalu dikenal dengan dalam
sejarah filsafat hukum sebagai masa Scholastik.
Implikasinya antara lain hukum alam tidak lagi
dipandang sebagai rasionalitas alam semesta
yang impersonal, tetapi diintegrasikan dalam
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
ZAMAN RENAISSANCE
Zaman Renaisance ditandai dengan tidak
terikatnya lagi alam pikiran manusia dalam
ikatan-ikatan keagamaan, di sisi lain manusia
menemukan kembali kepribadiannya.
Kebebasan manusia dengan menggunakan akal
pikirannya tumbuh berkembang tanpa rasa
takut akan dogma-dogma agama. Implikasinya
terjadi perubahan yang tajam dalam bebagai
segi kehidupan antara lain berupa
perkembangan teknologi yang sangat pesat,
berdirinya negara-negara baru, lahirnya
berbagai macam ilmu-ilmu baru dan
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM

ZAMAN RENAISSANCE

Dalam dunia pemikiran terhadap hukum, pada


zaman ini menimbulkan pula adanya pendapat
bahwa rasio manusia tidak lagi dapat dilihat
sebagai suatu penjelmaan dari rasio Tuhan.
Rasio manusia terlepas dari ketertiban
Ketuhanan. Dan rasio manusia yang berdiri
sendiri ini merupakan sumber satu-satunya
dari hukum. Unsur logika manusia merupakan
unsur penting dalam pembentukan hukum.
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM

ZAMAN RENAISSANCE

Thomas Aquino merupakan salah satu tokoh


yang ada pada zaman Renaissance
berpandangan bahwa aturan-aturan hukum
adalah peraturan akal budi (ordinance of
reason) yang diundangkan bagi kebaikan umum
oleh penguasa yang sah (legitimate souvereign).
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM
ZAMAN RENAISSANCE

Dalam hal ini dibedakan 4 (empat) jenis hukum yaitu


Lex aeterna (hukum abadi, eternal law), suatu ekspresi
peraturan alam semesta secara rasional dari Tuhan;
Lex divina (hukum ilahi, divine law) yang membimbing
manusia menuju tujuan supranaturalnya, hukum
Tuhan diwahyukan melalui kitab suci;
Lex naturalis (hukum alam, natural law), membimbing
manusia manusia menuju tujuan alamiahnya, hasil
partisipasi manusia dalam bentuk kosmik;
Lex human (hukum manusia, human law), mengatur
hubungan antara manusia dalam suatu masyarakat
tertentu dalam kerangka tuntutan-tuntutan khusus
dalam masyarakat tersebut (sesuai dengan kondisi
masyarakat yang bersangkutan).
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM

ZAMAN BARU

Pada zaman baru bidang fisafat pada umumnya


termasuk filsafat hukum dikembangkan dengan
dasar logika manusia. Namun demikian
dirasakan bahwa filsafat hukum dinilai kurang
berkembang sebagai akibat adanya gerakan
kodifikassi yang ada. Di sisi lain pada masa ini
awalnya kurang memberikan perhatian
terhadap masalah-masalah keadilan.
PERKEMBANGAN FILSAFAT HUKUM

ZAMAN MODERN

Pada zaman modern terdapat tendensi


pergeseran yaitu dari filsafat hukumnya para
filsuf ke arah filsafat hukum dari para ahli
hukum. Pada masa ini mulai dibangkitkan
kembali pencarian tentang masalah-masalah
keadilan melalui filsafat hukum.
PERAN PARADIGMA DALAM PENGEMBANGAN ILMU

BEBERAPA DEFINISI:
THOMAS KUHN:
“…RECOGNIZED SCIENTIFIC ACHIEVEMENTS THAT FOR A TIME
PROVIDE MODEL PROBLEMS AND SOLUTIONS TO A COMMUNITY
OF PRACTITIONERS”
LIEK WILARDJO:
“SEBAGAI MODEL YANG DIPAKAI ILMUWAN DALAM KEGIATAN
KEILMUANNYA UNUK MENENTUKAN JENIS-JENIS PERSOALAN
YANG PERLU DIGARAP, DAN DENGAN METODE APA SERTA
MELALUI PROSEDUR YANG BAGAIMANA PENGGARAPAN ITU HARUS
DILAKUKAN”
ANGKASA:
PANDANGAN FUNDAMENTAL DARI SUATU KOMUNITAS ILMUWAN
TENTANG MODEL YANG MENUNJUKKAN POKOK PERSOALAN
YANG MENDASAR, TEORI BESERTA METODE PEMECAHANNYA
PANDANGAN KUHN TENTANG PERAN
PARADIGMA DALAM PERKEMBANGAN ILMU

•KUHN MENETANG MITOS BAHWA PERKEMBANGAN ATAU


KEMAJUAN ILMU TERJADI SECARA KUMULATIF

•INTI TESIS KUHN MENGATAKAN BAHWA PERKEMBANGAN


ILMU BUKANLAH SECARA KUMULATIF TETAPI TERJADI
SECARA REVOLUSI

MODEL PERKEMBAGAN ILMU MENURUT KUHN

PARAD.I NORMAL.SC ANOMALIES CRISIS REVOL PARAD.II

MENUNJUKKAN PARADIGMA TERTENTU YANG MENDOMINASI


ILMU PADA WAKTU TERTENTU. SEBELUM ADANYA PARADIGMA
INI DIDAHULUI DENGAN AKTIVITAS YANG TERPISAH-PISAH DAN
TIDAK TERORGANISIR YANG MENGAWALI PEMBENTUKAN
SUATU ILMU (PRA-PARADIGMATIK)
•BERLANGSUNG SUATU PERIODE AKUMULASI ILMU,
NORMAL.SC TEMPAT PARA ILMUWAN BEKERJA DAN
MENGEMBANGKAN PARADIGMA, YANG DAPAT BERGUNA
BAGI DASAR PENGEMBANGAN SELANJUTNYA

•ADANYA PENYIMPANGAN-PENYIMPANGAN YANG


ANOMALIES TERJADI KARENA TIDAK MAMPUNYA PARAD.I
MEMBERIKAN PENJELASAN SECARA MEMADAI
TERHADAP PERSOALAN YANG TIMBUL

•ANOMALI YANG MEMUNCAK, SUATU KRISIS


CRISIS (CRISIS) AKAN TIMBUL DAN PARAD.I MULAI
DISANGSIKAN VALIDITASNYA

•TERJADI KETIKA KRISIS SEDEMIKIAN SERIUS


REVOL DAN TIDAK TERATASI

•PARADIGMA BARU YANG MAMPU


MENYELESAIAKAN PERSOALAN YANG
PARAD.II DIHADAPI OLEH PARAD.I.
PARAD.II. BERSIFAT RADIKAL, SANGAT BERLAIANAN DAN
BAHKAN BERLAWANAN DENGAN YANG LAMA. PARAD.II. AKAN
OPEN MENJADI KIBLAT BARU BAGI ILMUWAN SEMACAM GESTALT
ENDED SWITCH ATAU RELIGIOUS CONVERSION YANG MERUBAH
KEYAKINAN SEPENUHNYA
Paradigma Hukum

Bertolak dari gagasan Kuhn tentang paradigma


dalam konteks perkembangan ilmu seperti tersebut
di atas, maka berikut ini dipaparkan paradigma
(ilmu) hukum, yang tampaknya juga berperan dalam
perkembangan hukum. Bermula dari gagasan tentang
hukum alam yang mendapatkan tantangan dari
pandangan hukum yang kemudian (paradigma
hukum alam rasional), ilmu hukum kemudian telah
berkembang dalam bentuk revolusi sains yang khas.
Paradigma Hukum

Namun terdapat perbedaan dengan paradigma yang


terdapat pada ilmu alam (eksak), dimana kehadiran
paradigma baru cenderung akan menumbangkan
paradigma lama. Dalam paradigma ilmu sosial
(termasuk ilmu hukum) kehadiran suatu paradigma
baru di hadapan paradigma lama tidak selalu menjadi
sebab tumbangnya paradigma lama. Paradigma yang
ada hanya saling bersaing, dan berimplikasi pada
saling menguat, atau melemah.
3.1. Paradigma Hukum Alam
(1)Memberikan dasar etika bagi berlakunya
hukum positif,
(2) memberikan dasar pembenar bagi
berlakunya kebebasan manusia dalam
kehidupan negara,
(3) memberikan ide dasar tentang hakikat
hukum dan keadilan sebagai tujuan hukum,
(4) memberikan dasar bagi konstitusi beberapa
negara (Prancis, Amerika dan lain-lain)
(5) memberi dasar berlakunya hukum

internasional sebagai dasar pengubahan hukum


Romawi menjadi prinsip-prinsip hukum umum
dan berbagai manfaat praktis dan teoritis
lainnya.
3.1. Paradigma Hukum Alam

Hukum alam memberikan dasar moral terhadap


hukum, sesuatu yang tidak mungkin dipisahkan dari
hukum selama hukum diterapkan terhadap manusia.
Potensi hukum alam ini mengakibatkan hukum alam
senantiasa tampil memenuhi kebutuhan zaman
manakala kehidupan hukum membutuhkan
pertimbangan-pertimbangan moral dan etika.
Implikasinya hukum alam menjelma dalam
konstitusi dan hukum-hukum negara.
3.1. Paradigma Hukum Alam
Berdasarkan sumbernya, hukum alam dapat
dikelompokkan menjadi dua yakni (1) hukum alam
yang bersumber dari Tuhan (irrasional); dan
(2) hukum alam yang bersumber dari rasio manusia.
Penganut hukum alam yang bersumber dari Tuhan
antara lain Thomas Aquinas, Gratianus, John
Salisbury, Dante, Pierre Dubois, Marsilius Padua,
Johanes Huss.
Penganut hukum alam yang bersumber dari rasio
manusia antara lain Hugo de Groot atau Grotius,
Christian Thomasius, Immanuel Kant, Hegel dan
Rudolf Stammler
3.1. Paradigma Hukum Alam Irrasional
Menurut pradigma hukum alam irrasional,
sebagaimana dinyatakan oleh Thomas Aquinas,
hukum dapat digolongkan menjadi 4 (empat)
golongan hukum yaitu Lex Aeterna, Lex Divina, Lex
Naturalis dan Lex Positivis
Lex Aeterna atau Hukum Abadi menganggap bahwa
rasio Tuhan sendiri yang mengatur segala sumber
dari segala sumber hukum. Rasio ini tidak dapat
ditangkap oleh pancaindera manusia.
Lex Divina atau Hukum Illahi , adalah bagian rasio
Tuhan yang dapat ditangkap oleh manusia
berdasarkan waktu yang diterimanya. Menurut
Thomas Aquinas Lex Divina merupakan hukum yang
difirmankan oleh Tuhan kepada manusia yang
kemudian di himpun dalan Al-Kitab (Bijbel).
3.1. Paradigma Hukum Alam Irrasional
Lex Naturalis, inilah yang merupakan hukum alam,
yaitu yang merupakan penjelmaan dari Lex Aeterna
di dalam rasio manusia. Dengan akalnya manusia
hanya dapat memahami sebagian saja dari Lex
Aeterna yang sangat luas dan mendalam.

Lex Temporalis atau Lex Positivis atau Hukum


Positif, adalah hukum yang berlaku dan merupakan
pelaksanaan dari hukum alam yang berlaku di suatu
tempat saat ini. Hukum positif ini terdiri atas
hukum positif yang dibuat oleh Tuhan seperti
terdapat dalam kitab-kitab suci dan hukum positif
buatan manusia.
3.1. Paradigma Hukum Alam Irrasional
Mengenai konsepsi hukum alam, Thomas Aquinas
menyatakan bahwa terdapat dua asas utama hukum
alam, yaitu principia prima dan principia
secundaria.
Principia prima atau prinsip yang pertama adalah
prinsip-prinsip yang berkaitan dengan prinsip-prinsip
hak dasar manusia yang bersifat umum, universal
dan berlaku tanpa batas ruang atau waktu. Prinsip
ini bersifat mutlak, dalam arti melekat pada setiap
manusia.

Principia secundaria atau atau prinsip yang kedua,


merupakan prinsip-prinsip khusus yang dijabarkan
dari prinsip pertama itu.
3.1. Paradigma Hukum Alam Rasional
Grotius berpendapat bahwa hukum alam adalah
produk dari rasio manusia dan bukan berasal dari
Tuhan. Hukum alam merupakan pencetusan dari
tingkah laku manusia itu dipandang baik atau buruk,
apakah tindakan manusia itu dapat diterima atau
ditolak atas dasar kesusilaan alam.
Di samping pandangan yang demikian tersebut di
atas (hukum alam rasionalistis) ternyata Grotius pun
menerima adanya hukum lain yang berdasarkan
Ketuhanan sebagai sumber hukum antara lain dari
Kitab-kitab Suci
Akhir dari pandangan Grotius mengatakan bahwa
Hukum Alam diperoleh dari akal manusia, namun
dasar kekuatan mengikatnya harus dicari pada
Tuhan.
3.1. Paradigma Hukum Alam Rasional
Selanjutnya masih dari kalangan hukum alam
rasionalistis dapat diketengahkan nama Immanuel
Kant yang banyak sokongannya dalam membangun
hukum alam yang rasionalistis
Kant mengatakan bahwa hukum alam itu bersumber
pada Katagorische Imperative. Konsepsi dasar ini
adalah, “bertindaklah kamu demikian, sehingga
alasan tindakanmu dapat dijadikan alasan bertindak
oleh manusia lainnya.”
Sifat hukum alamnya Kant juga disebut rasionalistis
juga idealistis. Disebut idealistis oleh karena
terdapat kemungkinan terjadi suatu perbuatan
manusia yang bertentangan dengan apa yang
dinyatakan oleh Katagorische imperative
3.1. Paradigma Hukum Alam Rasional
Pandangan Kant tampaknya sangat berpengaruh
kepada pemikiran penganut Kant yang dikenal
dengan Neo-Kantian salah satu diantaranya adalah
Rudolf Stammler.

Stammler dengan metode kritis dan trancendentaal


sampailah pada suatu pemikiran hukum alam yang
bersifat tidak abadi.

Dasar dari hukum alamnya adalah kebutuhan


manusia. Karena kebutuhan manusia berubah-ubah
sepanjang waktu dan tempat, maka akibatnya
hukum alam yang dihasilkannya juga berubah-ubah
setiap waktu dan tempat.
3.1. Paradigma Hukum Alam Rasional
Stammler menolak pengertian hukum alam dengan
konsepsi klasik yakni sebagai peraturan-peraturan
yang terlepas dari kehendak manusia, bersifat tidak
berubah-ubah dan berlaku pada semua jaman dan di
semua tempat.
Stammler juga berpendapat bahwa adil tidaknya
suatu hukum terletak pada dapat tidaknya hukum
itu memenuhi kebutuhan manusia.

Oleh Stammler teorinya disebut : die Lehre von dem


richtichgen Rechte; namun teorinya lebih dikenal
dengan Teori Hukum Alam dengan isinya yang
berubah-ubah (Natural Law with a changing
content: droit natural a contenu variable).
3.2. Paradigma Hukum Historis
Paradigma hukum historis dibentuk oleh Frederich
von Savigny sebagai reaksi yang disengaja terhadap
paradigma hukum pada waktu yang mendapat
pengaruh sangat kuat dari revolusi Prancis dan
akibat-akibatnya yang sangat memprihatinkan.
Savigny tidak dapat menerima kebenaran anggapan
tentang baiknya hukum positif yang sekali dibentuk
dan diberlakukan sepanjang waktu dan tempat.

Savigny ingin membuktikan bahwa hakikat hukum


bukanlah terletak pada bagaimana gampangnya
hukum dibuat dan secara pastinya hukum
diterapkan, melainkan adalah dari mana hukum itu
berasal dan dengan begitu bagaimana hukum
seharusnya diterapkan.
3.2. Paradigma Hukum Historis
Menurut Savigny, masyarakat merupakan kesatuan
organis yang memiliki kesatuan keyakinan umum,
yang disebutnya jiwa masyarakat atau jiwa bangsa
atau Volksgeist, yaitu kesamaan pengertian dan
keyakinan terhadap sesuatu.
Maka menurut aliran ini, sumber hukum adalah jiwa
masyarakat, dan isinya adalah aturan tentang
kebiasaan hidup masyarakat. Hukum tidak dapat
dibentuk melainkan tumbuh dan berkembang
bersama dengan kehidupan masyarakat. Undang-
undang dibentuk hanya untuk mengatur hubungan
masyarakat atas kehendak masyarakat itu melalui
negara.
3.2. Paradigma Hukum Historis

Paradigma Hukum Historis yang berpokok pangkal


pada Volksgeist tidak identik bahwa jiwa bangsa tiap
warganegara dari bangsa itu menghasilkn hukum.
Merupakan sumber hukum adalah jiwa bangsa yang
sama-sama hidup dan bekerja di dalam tiap-tiap
individu yang menghasilkan hukum positif. Hal itu
menurut Savigny tidak terjadi dengan menggunakan
akal secara sadar, akan tetapi tumbuh dan
berkembang di dalam kesadaran bangsa yang tidak
dapat dilihat dengan panca indera.
3.3. Paradigma Hukum Utilitarian atau Funcional
Bentham dianggap tokoh radikal yang menghendaki
perubahan bagi kehidupan Inggris. Ia adalah
pencetus dan sekaligus pemimpin aliran pemikiran
“kemanfaatan”.
Menurut Bentham, hakikat kebahagiaan adalah
kenikmatan dan kehidupan yang bebas dari
kesengsaraan. Karenanya, maksud manusia
melakukan tindakan adalah untuk mendapatkan
kebahagiaan yang sebesar-besarnya dan mengurangi
pederitaan. Baik buruknya tindakan diukur dari
baik-buruknya akibat yang dihasilkan oleh tindakan
itu. Suatu tindakan dinilai baik, jika tindakan itu
menghasilkan kebaikan. Sebaliknya dinilai buruk,
jika mengakibatkan kerugian (keburukan).
3.3. Paradigma Hukum Utilitarian atau Funcional

Oleh Bentham, teori itu secara analogis


diterapkannya pada bidang hukum. Baik buruknya
hukum harus diukur dari baik buruknya akibat yang
dihasilkan oleh penerapan hukum itu. Suatu
ketentuan hukum baru dapat dinilai baik, jika
akibat-akibat yang dihasilkan dari penerapannya
adalah kebaikan, kebahagiaan sebesar-besarnya dan
berkurangnya penderitaan. Sebaliknya dinilai buruk,
jika penerapannya menghasilkan akibat-akibat yang
tidak adil, kerugian dan hanya memperbesar
penderitaan.
3.3. Paradigma Hukum Utilitarian atau Funcional

Pertentangan pemikiran antara kalangan konservatif


Inggris dengan Bentham bersumber pada faham
dasar mereka yang sangat berbeda satu sama lain.
Menurut kalangan teoritis hukum konservatif
Inggris, Undang-undang Dasar Inggris dianggap
sebagai hasil proses alam yang tercipta secara
demikian menurut pimpinan Tuhan. Bagi Bentham,
cara pandang itu dianggapnya memperbodoh rakyat
yang memudahkan penguasa menekan mereka.
3.3. Paradigma Hukum Utilitarian atau Funcional

Karenanya Bentham menganjurkan perubahan


terhadapnya. Menurut Bentham, negara diadakan
bukanlah atas kehendak alam, melainkan atas
kehendak rakyat melalui suatu bentuk “kontrak”
yang kemudian dijadikan dasar negara. Penciptaan
negara melalui kontrak itu dimaksudkan untuk
membangun kesejahteraan yang sebesar-besarnya
bagi rakyat. Karenanya jika ternyata konstitusi
menciptakan keadaan sebaliknya, maka konstitusi
itu harus segera diubah mewujudkan tujuan
hakikinya
3.3. Paradigma Hukum Utilitarian atau Funcional

Dengan demikian, paradigma utilitarianis


merupakan paradigma yang meletakkan dasar-dasar
ekonomi bagi pemikiran hukum. Prinsip utama
pemikiran mereka adalah mengenai tujuan dan
evaluasi hukum.Tujuan hukum adalah kesejahteraan
yang sebesar-besarnya bagi sebagian terbesar rakyat
atau bagi seluruh rakyat, dan evaluasi hukum
dilakukan berdasarkan akibat-akibat yang dihasilkan
dari proses penerapan hukum. Berdasarkan orientasi
itu, maka isi hukum adalah ketentuan tentang
pengaturan pengaturan penciptaan kesejahteraan
negara.
3.4. Paradigma Hukum Positif
Positivisme hukum mendapatkan dasar-dasar
filsafatnya pada aliran filsafat Positif (Positivism)
yang lahir pada awal abad 19-an. Prinsip utama
aliran filsafat ini adalah;
Pertama, Hanya menganggap benar apa yang benar-
benar tampil dalam pengalaman. Prinsip ini diangkat
dari prinsip empirisme Locke dan David Hume;
Kedua Hanya apa yang pasti secara nyata disebut
dan diakui sebagai kebenaran. Berarti tidak semua
pengalaman dapat disebut benar, hanya pengalaman
yang nyatalah yang disebut benar;
3.4. Paradigma Hukum Positif
Ketiga Hanya melalui ilmulah pengalaman nyata itu
dapat dibuktikan;

Keempat Karena semua kebenaran hanya didapat


melalui ilmu, maka tugas filsafat adalah mengatur
hasil penyelidikan ilmu itu.

Untuk mendapatkan kebenaraan yang seluas-


luasnya, termasuk kebenaran dalam kehidupan
manusia, maka metode ilmiah juga diterapkan dalam
dunia kemanusiaan. Gerakan ini dipelopori antara
lain oleh Saint-Simon, Aguste Comte dari Prancis
dan Herbert Spencer dari Inggris.
3.4. Paradigma Hukum Positif
Prinsip-prinsip dasar positivisme hukum adalah:

Pertama, Suatu tata hukum negara berlaku bukan


karena mempunyai dasar dalam kehidupan sosial
(menurut Comte dan Spencer), bukan juga karena
bersumber pada jiwa bangsa (menurut Savigny), dan
juga bukan karena dasar-dasar hukum alam,
melainkan karena mendapatkan bentuk positifnya
suatu instansi yang berwenang.
Kedua Hukum harus dipandang semata-mata dalam
bentuk formalnya; bentuk hukum formal dipisahkan
dari bentuk hukum material;
Ketiga Isi hukum (material) diakui ada, tetapi bukan
bahan ilmu hukum karena dapat merusak kebenaran
ilmiah ilmu hukum.
3.4. Paradigma Hukum Positif
Positivisme hukum John Austin

Pertama, hukum merupakan perintah penguasa (law


is a command of the law giver); hukum dipandang
sebagai perintah dari pihak pemegang kekuasaan
tertinggi (kedaulatan); hukum merupakan perintah
yang dibebankan untuk mengatur makhluk berfikir;
perintah itu diberikan oleh makhluk berpikir yang
memegang kekuasaan.
Kedua hukum merupakan sistem logika yang
bersifat tetap dan tertutup (closed logical system);
pandangan ini jelas mendapat pengaruh ketat dari
cara berfikir sains modern.
Ketiga , hukum positif harus memenuhi beberapa
unsur, yaitu adanya unsur perintah, sanksi,
kewajiban dan kedulatan.
3.4. Paradigma Hukum Positif
Positivisme hukum Hans Kelsen

Pertama, hukum haruslah dibersihkan dari anasir-


anasir bukan hukum, seperti anasir etika, sosiologi,
politik dan sebagainya

Kedua, Hukum harus dibebaskan dari unsur moral


sebagaimana diajarkan oleh aliran hukum alam
(unsur etika), juga dari persepsi hukum kebiasaan
(sosiologis) dan konsepsi konsepsi keadilan politis
(unsur politis).

Ketiga, hukum termasuk dalam sollenskatagori


(hukum sebagai keharusan), bukan seinskatagori
(hukum sebagai kenyataan).
3.4. Paradigma Hukum Positif
Positivisme hukum Hans Kelsen
Ajaran lain Kelsen adalah tentang “stufentheorie”-nya
Bahwa sistem hukum hakikatnya merupakan sistem
hierarkis yang terususun dari peringkat terendah
hingga peringkat tertinggi.
Hukum yang lebih rendah harus berdasar,
bersumber, dan tidak boleh bertentangan dengan
hukum yang lebih tinggi.
Sifat bertentangan dari hukum yang lebih rendah
mengakibatkan batalnya daya laku hukum itu.
Sebaliknya, hukum yang lebih tinggi merupakan
dasar dan sumber dari hukum yang lebih rendah.
Semakin tinggi kedudukan hukum dalam
peringkatnya, semakin abstrak dan umum sifat
norma yang dikandungnya; dan semakin rendah
peringkatnya, semakin nyata dan operasional sifat
norma yang dikandungnya.
3.4. Paradigma Hukum Positif
Dapatlah disimpulkan bahwa pada prinsipnya aliran
hukum positif adalah aliran pemikiran hukum yang
memberi penegasan terhadap bentuk hukum
(undang-undang), isi hukum (perintah penguasa), ciri
hukum (sanksi, perintah, kewajiban dan kedaulatan),
dan sistematisasi norma hukum (hierarki norma
hukum Kelsen).
Secara implisit aliran ini hakikatnya juga
menegaskan beberapa hal:

Pertama, Bahwa bentuk hukum adalah penguasa;


Kedua Bahwa bentuk hukum adalah undang-undang;
dan
Ketiga Hukum diterapkan terhadap pihak yang
dikuasai, yang dimensi keharusannya diketatkan
melalui pembebanan sanksi terhadap pelanggarnya.
3.5. Paradigma Hukum Sosiologis
Sosiological Jurisprudence merupakan aliran filsafat
hukum yang memberi perhatian sama kuatnya terhadap
masyarakat dan hukum, sebagai dua unsur utama
hukum dalam penciptaan dan pemberlakuan hukum
Sosiological Jurisprudence lebih mengarah pada
kenyataan daripada kedudukan dan fungsi hukum
dalam masyarakat. Arah fikiran ini dapat ditelusuri
melalui konsep-konsep dasar tentang hukum yang
dicetuskan oleh para penganutnya. Rosque Pound,
Eugen Ehrlich adalah dua nama terkemuka yang
disebut-sebut sebagai pendasar aliran ini.

Inti dasar prinsip pemikiran paradigma ini adalah:


Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan
hukum yang hidup di dalam masyarakat.
3.5. Paradigma Hukum Sosiologis

Hal yang sama dari beberapa pemikiran hukum dari


pendasar paradigma ini adalah bahwa mereka pada
prinsipnya menekankan pentingnya keseimbangan
antara hukum formal dengan hukum yang hidup di
masyarakat.
Pada prinsipnya, Sosiological Jurisprudence
menekankan pada masalah-masalah evaluasi hukum
(kualifikasi hukum yang baik), kedudukan hukum
tertulis dan tidak tertulis, fungsi hukum sebagai sarana
rekayasa sosial, dengan cara pembentukan hukum yang
baik (yang sesuai dengan hukum yang hidup di
masyarakat), dan cara penerapan hukum.
3.5. Paradigma Realis-Pragmatis
aliran pemikiran yang memberatkan perhatian
terhadap penerapan hukum dalam kehidupan
bermasyarakat (bernegara)
Hal terpenting bagi mereka adalah bagaimana hukum
itu diterapkan dalam kenyataan, dan mereka berkata,
bahwa hukum yang sebenarnya adalah hukum yang
dijalankan itu. Hukum bukanlah apa yang tertulis
dengan indah dalam undang-undang, melainkan adalah
apa yang dilakukan oleh aparat penyelenggara hukum,
polisi, jaksa, hakim atau siapa saja yang melakukan
fungsi pelaksanaan hukum.
Menurut Holmes, seorang ahli hukum harus menghada
pi gejala kehidupan sebagai suatu kenyataan yang
realistis. Mereka harus tahu bahwa yang menentukan
nasib pelaku kejahatan bukan rumusan sanksi dalam
undang-undang, melainkan pertanyaan-pertanyaan dan
keputusan hakim
3.5. Paradigma Realis-Pragmatis
Penekanan penting yang diberikan oleh Pragmatic
Legal Realism terhadap esensi hukum adalah

Pertama, tentang esensi praktik hukum sebagai esensi


senyatanya dari hukum.
Kedua, bahwa undang-undang bukanlah keharusan yang
serta merta mampu mewujudkan tujuan hukum,
melainkan mendapat pengaruh besar dari unsur-unsur
di luar undang-undang.

Ketiga, aparatur penyelenggara hukum dan masyarakat


tempat hukum itu diterapkan bukanlah komponen-
komponen mekanis yang serta merta (secara otomatis)
menaati perintah-perintah hukum, melainkan
merupakan komponen-komponen kehidupan yang
memiliki kemampuan untuk menyimpanginya.
Keadilan dalam Perspektif Filsafat Hukum
Perbincangan tentang keadilan rasanya merupakan
suatu kewajiban ketika berbicara tentang filsafat
hukum, mengingat salah satu tujuan hukum adalah
keadilan dan ini merupakan salah satu tujuan hukum
yang paling banyak dibicarakan sepanjang perjalanan
sejarah filsafat hukum
Memahami pengertian keadilan memang tidak begitu
sulit karena terdapat beberapa perumusan sederhana
yang dapat menjawab tentang pengertian keadilan.
Namun untuk memahami tentang makna keadilan
tidaklah semudah membaca teks pengertian tentang
keadilan yang diberikan oleh para pakar, karena ketika
berbicara tentang makna berarti sudah bergerak dalam
tataran filosofis yang perlu perenungan secara
mendalam sampai pada hakikat yang paling dalam
Pengertian Keadilan
Pertama, merujuk pendapat Ulpianus yang mengatakan
bahwa keadilan adalah kemauan yang bersifat tetap dan
terus menerus untuk memberikan kepada setiap orang
apa yang mestinya untuknya (Iustitia est constans et
perpetua voluntas ius suum cuique tribuendi)
Kedua, pendapat Aristoteles yangg menyatakan bahwa
keadilan adalah suatu kebijakan politik yang aturan-
aturannya menjadi dasar dari peraturan negara dan
aturan-aturan ini merupakan ukuran tentang apa yang
hak.

Ketiga, merujuk pendapat Justinian yang menyatakan


bahwa “keadilan adalah kebijakan yang memberikan
hasil, bahwa setiap orang mendapat apa yang
merupakan bagiannya”
Pengertian Keadilan
Keempat, merujuk pendapat Herbert Spenser yang me
nyatakan bahwa setiap orang bebas untuk menentukan
apa yang akan dilakukannya, asal ia tidak melanggar
kebebasan yang sama dari lain orang”.

Kelima, merujuk pendapat Roscoe Ponund yang


melihat indikator keadilan dalam hasil-hasil konkret
yang bisa diberikannya kepada masyarakat. Ia melihat
bahwa hasil yang diperoleh itu hendaknya berupa
perumusan kebutuhan manusia sebanyak-banyaknya
dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya.
Keenam, merujuk pendapat Nelson yang meyatakan
bahwa “Tidak ada arti lain bagi keadilan kecuali
persamaan pribadi”.
Pengertian Keadilan
Ketujuh, merujuk pendapat John Salmond yang menyatakan
bahwa norma keadilan menentukan ruang lingkup dari kemerdeka
an individual dalam mengejar ke makmuran individual, sehingga
dengan demikian mem batasi kemerdekaan individu di dalam
batas-batas sesuai dengan kesejahteraan umat manusia.
Kedelapan, merujuk pendapat Hans Kelsen, yang menyatakan
bahwa keadilan adalah suatu tertib sosial tertentu yang di bawah
lindungannya usaha untuk mencari kebenaran bisa berkembang
dengan subur. Oleh karenanya keadilan menurut Kelsen adalah
keadilan kemerdekaan, keadilan perdamaian, keadilan demokrasi-
keadilan toleransi.
Kesembilan, merujuk pendapat John Rawls mengkonsepkan
keadilan sebagai fairness, yang mengandug azas-azas “bahwa
orang-orang yang merdeka dan rasional yang berkehendak untuk
mengembangkan kepentingan-kepentingannya hendak
memperoleh suatu kedudukan yang sama pada saat akan
memulainya dan itu merupakan syarat yang fundamental bagi
mereka untuk memasuki perhimpunan yang mereka kehendaki”.
Keadilan dalam Perspektif Filsafat Hukum
Penganut paradigma Hukum Alam meyakini bahwa alam semesta
diciptakan dg prinsip keadilan, shg dikenal antara lain Stoisisme
norma hkm alam primer yg bersifat umum menyatakan:Berikanlah
kepada setiap orang apa yang menjadi haknya (unicuique suum
tribuere), dan jangan merugikan seseorang (neminem laedere)”.
Cicero juga menyatakan bahwa hukum dan keadilan tidak ditentuk
an oleh pendapat manusia, tetapi oleh alam.
Paradigma Positivisme Hukum, keadilan dipandang sebagai tujuan
hukum. Hanya saja disadari pula sepenuhnya tentang relativitas
dari keadilan ini sering mengaburkan unsur lain yang juga penting,
yakni unsur kepastian hukum. Adagium yang selalu didengungkan
adalah Suum jus, summa injuria; summa lex, summa crux. Secara
harfiah ungkapan tersebut berarti bahwa hukum yang keras akan
melukai, kecuali keadilan dapat menolongnya.
Dalam paradigma hukum Utiliranianisme, keadilan dilihat secara
luas. Ukuran satu-satunya untuk mengukur sesauatu adil atau
tidak adalah seberapa besar dampaknya bagi kesejahteraan
manusia (human welfare). Adapun apa yang dianggap bermanfaat
dan tidak bermanfaat, diukur dengan perspektif ekonomi.”.
Makna Perspektif tentang
Keadilan
Perspektif tentang keadilan sebagaimana dirumuskan di atas,
menurut Satjipto Rahardjo, mencerminkan bagaimana seseorang
melihat tentang hakikat manusia dan bagaimana seseorang
memperlakukan manusia.
Karena keadilan adalah ukuran yang dipakai seseorang dalam
memberikan terhadap objek yang berada di luar diri orang
tersebut. Mengingat objek yang dinilai adalah manusia maka
ukuran-ukuran yang diberikan oleh seseorang terhadap orang lain
tidak dapat dilepaskan dengan bagaimana seseorang tersebut
memberikan konsep atau makna tentang manusia

Apabila seseorang melihat orang lain sebagai mahluk yang mulia


maka perlakuan seseorang tersebutpun akan mengikuti anggapan
yang dipakai sebagai ancangan dan sekaligus akan mentukan
ukuran yang dipakai dalam menghadapi orang lain. Dengan
demikian dapatlah dikatakan bahwa masalah keadilan tidak dapat
dilepaskan dengan filsafat tentang manusia”.