You are on page 1of 25

PESONA KEMU’JIZATAN

AL QUR’AN

Ariestyo Wahyu Nugroho


Phypit Marisa

Kelas : KE – 1A
 Pengertian Al Quran
Al-Qur'an adalah kitab suci agama Islam.
Umat Islam percaya bahwa Al-Qur'an merupakan puncak
dan penutup wahyu Allah yang diperuntukkan bagi manusia
dan bagian dari rukun iman yang disampaikan kepada
Nabi Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur'an berasal dari
bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca
berulang-ulang". Kata Al-Qur'an adalah bentuk kata benda
(masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca.
Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah
satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah
Al-Qiyamah yang artinya:
 "Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur'an (di dalam
dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu
adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah
membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya". (Al-
Qiyāmah 75:17-18)
 Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur'an sebagai
berikut: "Kalam Allah yang merupakan mukjizat yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad dan ditulis di
mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir,
membacanya termasuk ibadah".
 Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan
Al-Qur'an sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah firman
Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada
Nabi Muhammad penutup para nabi dan rasul,
dengan perantaraan Malaikat Jibril dan ditulis pada
mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada
kita secara mutawatir, serta membaca dan
mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai
dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan
surat An-Nas"
Nama-nama lain Al-Qur'an
 Al-Kitab (Buku)
 Al-Furqan (Pembeda benar salah)
 Adz-Dzikr (Pemberi peringatan)
 Al-Mau'idhah (Pelajaran/nasihat)
 Al-Hukm (Peraturan/hukum)
 Al-Hikmah (Kebijaksanaan)
 Asy-Syifa' (Obat/penyembuh)
 Al-Huda (Petunjuk)
 At-Tanzil (Yang diturunkan)
 Ar-Rahmat (Karunia)
 Ar-Ruh (Ruh)
 Al-Bayan (Penerang)
 Al-Kalam (Ucapan/firman)
 Al-Busyra (Kabar gembira)
 An-Nur (Cahaya)
 Al-Basha'ir (Pedoman)
 Al-Balagh (Penyampaian/kabar)
 Al-Qaul (Perkataan/ucapan)
 Pengkodifikasian al-Qur’an
1. Pada Masa Nabi Muhammad SAW
Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Nabi ini
dinamakan periode hifzhan (hafalan) dan kitabatan (pembukuan) yang
pertama.
Pada saat-saat wahyu turun, Rasulullah SAW senantiasa
menghapalnya sesaat setelah wahyu tersebut turun. Rasulullah
adalah penghapal Al-Qur’an pertama dan merupakan contoh terbaik bagi para
sahabat dalam menghapal Al-Qur’an.
Maka Setiap kali ayat Al-Qur’an turun, para sahabat Rasulullah juga
ikut langsung menghapalnya dalam hati. Bangsa Arab tekenal dengan
hapalannya yang kuat karena pada zaman itu, mereka pada umumnya buta
huruf, sehingga cara penulisan mereka adalah dengan menghapalnya di dalam
hati mereka.
Selain menghapal Al-Qur’an dalam hati sebagai salah satu cara
mengumpulkan Al-Qur’an, para sahabat juga menulis ayat-ayatnya sesaat
setelah Malaikat Jibril menurunkannya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah
SAW telah mengangkat para sahabat sebagai penulis wahyu Al-Qur’an. Ketika
sebuah ayat turun, Rasulullah SAW memerintahkan kepada mereka untuk
menulis ayat tersebut dan Mayoritas ulama meyakini bahwa Rasulullah SAW
juga menunjukkan kepada para sahabat tempat ayat tersebut dalam surah Al-
Qur’an, juga menunjukkan urutan/susunan surah-surah tersebut di Al-Qur’an.
2. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar
Meskipun Rasulullah dan para sahabat telah menuliskan semua ayat, namun
tulisan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut belumlah dikompilasi menjadi satu buku yang
utuh. Setelah Rasulullah saw. wafat, banyak umat islam yang murtad dari islam
terutama di daereah Nejed dan Yaman. Keimanan mereka goyah atas wafatnya
Rasulullah SAW,karena mereka mengira bahwa Rasulullah SAW. tidak akan
meninggal dunia. Sehingga pada masa itu terjadi beberapa peperagan. Perang ini
melibatkan para penghafal Al-Qur’an dan mengakibatkan tujuh puluh sahabat
penghafal Al-Qur’an gugur dalam medan perang.
Melihat kenyataan ini, Ummar bin Khaththab khawatir Al-Qur’an musnah
seiring wafatnya para penghafal Al-Qur’an. Dia mengusulkan kepada Abu
Bakar untuk menyusun Al-Qur’an dan mengumpulkannya menjadi satu mushaf. Lalu,
Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit dan menceritakan maksud serta usulan Umar.
Awalnya Zaid menolak usulan itu seperti halnya dengan Abu Bakar, namun akhirnya
Zaid mengerti dan menerima tugas yang sangat berat tersebut. Pemilihan Zaid sebagai
penulis Al-Qur’an ini tidak sembarangan, pemilihan ini didasarkan kepada beberapa
kualifikasi, diantaranya adalah sebagai berikut ini:
1) Zaid adalah seorang yang sangat besar gairah keagamaannya. Memiliki akhlak
terpuji, seprti yang secara khusus diapresiasi oleh Abu Bakar dengan menyatakan
“Kami tidak pernah melihat hal yang buruk pada diri kamu”
2) Zaid adalah seorang sahabat yang memiliki kecerdasan. Hal ini berarti
menyangkut masalah kompetensi
3) Zaid memiliki pengalaman di masa lampau tentang penulisan wahyu
4) Azami mengatakan bahwa Zaid termasuk sahabat yang bernasab mujur karena
sempat mendengar bacaan Al-Qur’an malikat Jibril bersama Nabi Muhammad di
bulan Ramadhan
Zaid memulai tugasnya untuk menulis dan membukukan Al-Qur’an
dengan bersandar pada hafalan yang ada di dalam hati para penghafal Al-
Qur’an dan catatan potongan-potongan ayat yang ada pada penulis. Zaid bin
Tsabit bertindak dengan sangat teliti dan hati-hati. Metode pengumpulan dan
penulisan Al-Qur’an yang digunakan Zaid dapat dipertanggung jawabkan.
Di dorong oleh semangat yang meluap dari para pelaku pengumpul
Al-Qur’an, proyek tersebut berkembang menjadi upaya masif yang
mengikutsertakan partisipasi semua sahabat. Langkah-langkah partisapasi para
sahabat digambarkan sebagai berikut.
1) Khalifah Abu Bakar mengeluarkan undangan umum memberi peluang
kepada setiap orang yang mampu untuk ikut berpartisipasi
2) Proyek pengumpulan dan penulisan Al-Qur’an tersebut dilakukan di
dalam Masjid Nabawi sebagai pusat berkumpulnya kaum muslim
3) Dalam memberi respon terhadap instruksi seorang khalifah, Umar berdiri
di depan pintu gerbang masjid dan mengumumkan kepada setiap orang yang
memiliki tulisan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah saw. agar
membawanya ke masjid. Bilal juga mengumumkan hal yang sama ke seluruh
sudut-sudut kota Madinah.
Upaya yang dilakukan Zaid sebagai ketua pengumpul Al-Qur’an
adalah penyusunan semua surah dan ayat secara tepat. Sebagai seorang putra
Madinah kemungkinan besar ia menggunakan script dan ejaan Madinah yang
umum atau konvensional. Akan tetapi ukuran kepingan-kepingan kertas yang
digunakan untuk menulis Al-Qur’an tidak sama sehingga menjadikan
tumpukan kertas itu tidak tersusun rapi, karena itu dinamakan suhuf, tidak
dinamakan mushaf sebagaimana yang kita kenal saat ini.
3. Pemeliharaan Al-Qur’an pada Masa Umar bin Khathab
Pada masa khalifah Umar bin Khathab, terjadi penyebaran Al-
Qur’an ke wilayah-wilayah yang sudah menerima Islam. Penyebaran
ini bukan sekedar mengirimkan lembaran mushaf-mushaf, tetapi
disertai pulan dengan pengajarannya. Khalifah Umar mengirimkan
sekurangnya sepuluh sahabat ke Basrah untuk mengajarkan Al-Qur’an.
Umar juga mengirim Mas’ud ke Kufah untuk mengajarkan Al-Qur’an.
Umar sangat menekankan pentingnya mengajarkan Al-Qur'an dengan
suhuf yang telah dibuat sebelumnya. Suatu ketika ada sahabat yang
mengabarkan seseorang mendiktekan Al-Qur’an kepada masyarakat
melalui hafalan di Kufah. Mendengar hal itu Umar marah besar.
Namun setelah mengetahui bahwa orang yang mendiktekan Al-Qur’an
adalah Ibnu Mas’ud, Umar menjadi tenang, karena ia teringat akan
kemampuan dan kepandaian Ibnu Mas’ud.
Selain mengirim utusan kedua tempat teresbut, Umar
juga mengirim tiga utusan ke Palestina, mereka adalah Muaz, Ubadah,
dan Abu Darda’. Setelah berdakwah dan mengajarkan Al-Qur’an di
Homs salah satu dari mereka diutus meneruskan perjalanan menuju ke
Damaskus dan tempat lain di Palasetina. Umar juga mengirimkan
beberapa utusan ke negara dan wilayah-wilayah lain untuk
mengajarkan Al-Qur’an.
Ketika Umar menginggal dunia, kekhalifahan di pegang oleh Utsman bin
Affan, dan untuk sementara waktu himpunan Al-Qur’an dirawat oleh Hafsah
binti Umar. Hal ini dikarenakan dua alasan, pertama, Hafsah adalah seorang
penghafal Al-Qur’an dan kedua, dia adalah salah satu istri Rasulullah saw. di
samping juga sebagai anak Umar bin Khaththab.

4. Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Utsman bin Affan


Setelah wilayah kekuasaan islam semakin luas dan para pengajar Al-
Qur’an tersebar di pelbagai daerah, penduduk daerah tersebut biasanya
mempelajari qiraah (bacaan) ayat dan pengajar yang dikirim ke mereka.
Pembacaan Al-Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda, sesuai dengan
perbedaan huruf-huruf Al-Quran. Adanya perbedaan dalam melafalkan Al-
Qur’an mulai menampakkan keracuan dan perselisihan di kalangan
masyarakat Islam. Terkadang sebagian mereka merasa puas karena mengetahui
bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya bersandar kepada Rasulullah saw.,
namun itu tidak mampu membendung keraguan dalam benak generasi muda
yang tidak sempat berjumpa dengan Rasulullah saw. Sehingga terjadilah
perselishan tentang bacaan mana yang lebih benar.
Ketika penyerbuan Armenia dan Azerbeijan dari penduduk
Irak, Hudzaifah bin al-Yaman melihat banyak perbedaan dalam cara-cara
membaca Al-Qur’an, sebagian bacaan itu bercampur dengan ketidakfasihan.
Masing-masing mereka mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta
menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya, dan pada puncaknya
mereka saling mengafirkan satu sama lain. Lalu Hudzaifah mengusulkan dan
menyarankan agar Utsman segera mengambil tindakan untuk mencegah
keadaan menjadi semakin kacau.
Menanggapi usulan tersebut, Utsman bin Affan segera mengeluarkan
kebijakan untuk melakukan kodifikasi (pembukuan) Al-Qur’an lagi.
Setidaknya ada dua teori mengenai metode kodifikasi yang dilakukan Utsman,
yaitu sebagai berikut.
 Pertama, Utsman bin Affan menyalin suhuf yang berada di tangan Hafshah.
Pada saat itu ia memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin
Zubair, Abdurrahman bin Harits, dan Said bin Ash untuk melakukan
proses penyalinan catatan Al-Qur’an hasil pengumpulan tahap pertama,
yang mushafnya disimpan oleh Hafshah. Kemudian salinan itu dikirim
ke Kufah, Basrah, Damaskus, dan Madinah. Sedangkan naskah yang asli
disimpan oleh Utsman bin Affan sendiri, yang kemudian
dinamakan mushaful Imam, sedangkan catatan-catatan Al-Qur’an yang
lain dimusnahkan.
Kedua, Utsman membuat mushaf tersendiri kemudian
dibandingkan dengan suhuf yang ada di tangan Hafshah. Untuk
mewujudakan hal itu, Utsman membentuk tim pengumpul naskah Al-
Qur’an yang terdiri dari dua belas sahabat, yaitu Said bin al-Ash, Nafi’
bin Zubair bin Amr bin Naufal, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab,
Abdullah bin Zubair, Abdurrahman bin Hisyam, Kathir bin Aflah,
Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Malik bin Abu Amir,
Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Amru bin Ash. Metode
penyusunan Al-Qur’an ini tidak ada yang berbeda dengan metode yang
dilakukan pada masa Abu Bakar.
Setelah semua naskah terkumpul, suhuf-suhuf itu disusun
menjadi sebuah mushaf (buku), kemudian naskah tersbut diverifikasi
dan dibandingkan dengan suhuf yang ada di tangan Hafshah. Lalu
semuanya dibacakan di hadapan Utsman dan para sahabat. Setelah
tidak ada yang protes, Utsman mengirimkan duplikat naskah mushaf
untuk disebarluaskan ke seluruh wilayah negara Islam. Menurut sebuah
riwayat ada empat daerah yang dikirim salinan mushaf,
yaitu Kuffah, Basrah, dan Damaskus. Sedangkan yang satu lagi
disimpan di Madinah. Riwayat yang lain menambahkan
di Mekkah,Yaman, dan Bahrain.
Setelah naskah disepakati dan dikirimkan ke barbagai
belahan Arab, Utsman memerintahkan para sahabat untuk
memusnahkan suhuf-suhuf yang ada ada di tangan masing-
masing. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesatuan dan
keragaman dalam bacaan Al-Qur’an.
Arti penting kodifikasi Al-Qur’an pada masa Utsman bin
Affan adalah sebagai berikut:
a) Menyatukan kaum muslim pada satu
macam mushaf yang seragam ejaan dan tulisannya
b) Menyatukan bacaan, meskipun pada kenyataannya
masih ada perbedaan cara membaca, akan tetapi hal tersebut
tidak berlawanan dengan ejaan mushaf Utsmani. Bacaan
yang tidak sesuai dengan mushaf Utsmani tidak
diperbolehkan lagi
c) Menyatukan tata tertib susunan surah-surah, menurut
tata tertib urut sebagaimana yang kita lihat pada mushaf-
mushaf sekarang ini.
 Pokok pokok kandungan Al-Quran
1. Akidah
Akidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai
kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia.
Al-Qur’an mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu
menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang
tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah
SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang
yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-
orang kafir.
2. Ibadah
Ibadah adalah taat, tunduk, ikut atau nurut dari segi
bahasa. Dari pengertian “fuqaha” ibadah adalah segala bentuk
ketaatan yang dijalankan atau dikerjakan untuk mendapatkan
ridho dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dalam ajaran agama
islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir rukum islam.
Mengucapkan dua kalimah syahadat, sholat lima waktu,
membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan, dan beribadah
haji bagi yang telah mampu menjalankannya.
3. Akhlak
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik
akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela
atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi
Muhammad SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk
memperbaiki akhlak. Setiap manusia harus mengikuti apa yang
diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
4. Hukum
Hukum yang ada di Al-quran adalah memberi suruhan atau
perintah untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hukum
pada sesama manusia yang terbukti bersalah. Hukum dalam islam
berdasarkan Al-Qur’an ada beberapa jenis atau macam seperti jinayat,
mu’amalat, munakahat, faraidh, dan jihad.
Sebagai sumber hukum yang utama, maka al-Qur’an memuat
sisi-sisi hukum yang mencakup berbagai bidang. Secara garis besar Al-
Qur’an memuat tiga sisi pokok hukum , yaitu:
a) Hukum-hukum I’tiqadiyah. Yakni hukum-hukum yang berkaitan
dengan kewajiban orang mukallaf, meliputi keimanan kepada Allah,
Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, hari Qiyamat dan
ketetapan Allah (qadha dan qadar).
b) Hukum-hukum Moral atau akhlak. Yaitu hukum-hukum yang
berhubungan dengan perilaku orang mukallaf guna menghiasi dirinya
dengan sifat-sifat keutamaan dan menjauhkan diri dari segala sifat
tercela yang menyebabkan kehinaan.
c) Hukum-hukum Amaliyah, yakni segala aturan hukum yang berkaitan
dengan segala perbuatan, perjanjian, dan muamalah sesama manusia.
Segi hukum inilah yang lazimnya disebut dengan fiqh Al-Qur’an dan
itulah yang dicapai dan dikembangkan oleh ilmu Ushul Al-Fiqh.
Hukum amaliyah tersebut secara garis besar
terbagi menjadi dua bagian,
a. Hukum-hukum yang mengatur tingkah laku dan
perbuatan lahiriah manusia dalam hubungannya dengan
Allah SWT., seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.
Hukum ini disebut hukum ibadah dalam arti khusus.
b. Hukum-hukum yang mengatur tingkah laku lahiriah
manusia dalam hubungannya dengan manusia atau alam
sekitarnya, seperti jual beli, kawin, pembunuhan, dan
lainnya. Hukum-hukum ini disebut hukum mu’amalah
dalam arti umum.
5. Peringatan
Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang memberi
peringatan kepada manusia akan ancaman Allah SWT berupa
siksa neraka. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira bagi orang-
orang yang beriman kepada-Nya dengan balasan berupa nikmat
surga. Di samping itu ada pula gambaran yang menyenangkan di
dalam Al-Qur’an atau disebut juga targhib dan kebalikannya
gambaran yang menakutkan dengan istilah lainnya tarhib.
6. Kisah
Al-qur’an juga berisi kisah-kisah mengenai orang-orang
terdahulu , baik yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat
kepada Alloh SWT ataupun kisah-kisah orang yang mendapatkan
kejayaan karena ketaatannya kepada Alloh SWT. Kisah-kisah
tersebut agar bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang
sesudahnya.
Kemukjizatan Alquran.

Dalam Bahasa Indonesia, frase Kemukjizatan Alquran merupakan


terjemahan dari susunan kata-kata I’jazul-Quran dalam Bahasa Arab. Kata
I’jaz dalam susunan ini, secara etimologis berasal dari akar kata ‘ajaza yang
berarti lemah; kemudian mendapat imbuhan hamzah pada awalnya, menjadi
a’jaza yang berarti melemahkan. Dengan demikian, susunan kata-kata I’jaz
Alquran merupakan bentuk idhafah mashdar kepada fa’ilnya, yang jika
diterjemahkan secara literlek berarti keberadaan Alquran yang dapat
melemahkan. Sedangkan obyek yang dilemahkan dalam hal ini adalah
manusia. Jadi, secara lughawy, susunan kata ini dapat diartikan sebagai
klaim Alquran terhadap kelemahan manusia untuk menandinginya.

Sedangkan menurut pengertian istilah (terminologi) yang dipakai di


kalangan para ahli ‘Ulumul Quran, Kemukjizatan Alquran (I’jazul Quran)
ialah penetapan kelemahan manusia, baik secara perorangan maupun
kelompok, untuk menghasilkan suatu karya yang sama nilainya dengan
Alquran (Ash-Shabuni, 1958: 100). Dalam hal ini, yang dimaksud dengan
kelemahan manusia bukanlah berarti, bahwa manusia itu tidak memiliki
potensi sama sekali untuk menandingi Alquran; melainkan karena
kehebatan dan ketinggian Alquran itu baik dari segi keindahan bahasa,
maupun dari segi kandungan isinya berada jauh di atas kemampuan
manusia biasa. Sehingga manusia tidak sanggup untuk menandinginya.
Dengan demikian, sangatlah mustahil untuk mengatakan Alquran sebagai
karya manusia. Hal ini berarti, bahwa ia (Alquran) betul-betul datang dari
Allah.
MACAM-MACAM MUKJIZAT NABI MUHAMMAD
1. Mukjizat Indrawi.
Masyarakat Arab yang berhadapan langsung dengan Nabi
Muhammad, membutuhkan bukti nyata bahwa ia betul-betul utusan
Allah. Untuk pembuktian ini, maka Allah berikan mukjizat yang dapat
dilihat langsung oleh orang-orang Arab. Mukjizat-mukjizat tersebut
antara lain :
a. Terbelahnya bulan
b. Pohon kurma berbuah seketika
c. Air memancar dari sela-sela jari Nabi
d. Hujan Lebat dan Banjir
e. Rasulullah menyembuhkan Ali dari sakit mata
f. Mimbar menangis

2. Mukjizat Aqliyah

Satu-satunya Mukjizat Nabi Muhammad yang bersifat Aqliyah adalah


Alquran. Sebagai bukti kenabian Muhammad, kemukjizatan Alquran
dapat dilihat dari beberapa aspek, sebagaimana penjelasan berikut ini.
ASPEK – ASPEK KEMUKJIZATAN AL – QURAN

Dalam sejarah kemunculan dan berkembangnya


pembiranaan tentang Kemukjizatan Alquran ,
terlihat bahwa para ahli berbeda pendapat dalam
melihat aspek-aspek kemukjizatan Alquran yang
dipandang penting. Namun dari berbagai
perbedaan itu , secara global tidak terlepas dari
tiga aspek yang meliputi: (1) as-Sharfah, (2)
Keindahan bahasa, (3) Ketelitian Redaksi, dan (4)
Kandungan isinya.
METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN
1) Bentuk Penafsiran
Yang dimaksud dengan bentuk penafsiran disini
ialah naw’(macam atau jenis) penafsiran. Sepanjang
sejarah penafsiran Al-Qur’an, paling tidak ada dua
bentuk penafsiran yang dipakai (diterapkan) oleh
ulama’ yaitu al-ma’tsur (riwayat) dan al-
ra’y(pemikiran).
2) Metode Penafsiran
Yang dimaksud dengan metodologi penafsiran ialah
ilmu yang membahas tentang cara yang teratur dan
terpikir baik untuk mendapatkan pemahaman yang
benar dari ayat-ayat A;-Qur’an sesuai kemampuan
manusia.
(a) Metode Ijmali (Global)
Yang dimaksud dengan metode al-Tafsir al-
Ijmali(global) ialah suatu metoda tafsir yang
menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara
mengemukakan makna global.Pengertian tersebut
menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara ringkas tapi
mencakup dengan bahasa yang populer, mudah
dimengerti dan enak dibaca. Sistematika
penulisannya menurut susunan ayat-ayat di dalam
mushhaf. Di samping itu penyajiannya tidak terlalu
jauh dari gaya bahasa AL-Qur’an sehingga pendengar
dan pembacanya seakan-akan masih tetap mendengar
Al-Qur’an padahal yang didengarnya itu tafsirnya.
(b) Metode Tahliliy (Analisis)
Yang dimaksud dengan
Metode Tahliliy (Analisis) ialah menafsirkan
ayat-ayat Al-Qur’an dengan memaparkan segala
aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang
ditafsirkan itu serta menerangkan makna-
makna yang tercakup di dalamnya, sesuai
dengan keahlian dan kecenderungan mufasir
yang menafsirkan ayat-ayat tersebut.
(c) Metode Muqarin (Komparatif)
Pengertian metode muqarin (komparatif) dapat
dirangkum sebagai berikut :
a. Membandingkan teks (nash) ayat-ayat Al-Qur’an yang
memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam
dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang
berbeda bagi satu kasus yang sama;
b. Membandingkan ayat Al-Qur’an dengan Hadits Nabi
SAW, yang pada lahirnya terlihat bertentangan;
c. Membandingkan berbagai pendapat ulama’ tafsir
dalam menafsirkan Al-Qur’an.