Вы находитесь на странице: 1из 17

Keragaman Hayati

Dra. Subaryanti, M.Si.,Apt


Disusun Oleh
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa,
insiden keracunan akibat mengkonsumsi makanan menduduki posisi paling
tinggi, dibandingkan dengan keracunan akibat penyebab lain, misalnya
obat, kosmetika, dan lain-lain.
Salah satu penyebab keracunan makanan adalah adanya cemaran
kimia dalam makanan tersebut, seperti boraks, formalin dan rhodamin-B.
Akumulasi bahan-bahan tersebut di dalam tubuh dapat berdampak
negatif bagi kesehatan
Jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak sekolah adalah berupa
makanan ringan, gorengan, kue basah, es sirup dan permen. Makanan yang
sering dikonsumsi tersebut sangat sensitif terhadap pencemaran yang
bersumber dari bahan tambahan pangan terutama bahan tambahan yang
bersifat kimia.
Bahan yang tidak digunakan sebagai makanan dan
bukan merupakan ingridient makanan, mempunyai atau
tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahkan ke
dalam makanan untuk maksud tehknologi, pada
pembuatan, pengolahan, penyediaan, perlakuan,
pewadahan, pembungkusan, penyimpanan dan
pengangkutan makanan untuk menghasilkan atau diharap
menghasilkan suatu komponen makananan atau
mempengaruhi sifat khas makanan.
• Keputusan Menteri Kesehatan RI No.23 tahun 1978 tentang
pedoman cara produksi pangan yang baik untuk pangan.
• PERMENKES RI NO. 239 1985 tentang zat warna tertentu
yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya seperti Methanil
Yellow, Rhodamin B.
• PERMENKES RI NO. 722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan
tambahan pangan.
• Keputusan Dirjen POM No. 02592 tahun 1991 tentang
penggunaan bahan tambahan pangan.
 Pengawet
 Antikempal ɤ Asam Borat
 Pewarna
ɤ Asam Salisilat
 Antioksidan
 Pemanis Buatan ɤ Formalin
 Pengental, ɤ Pewarna Rhodamin B,
pengemulsi,
Methanil Yellow
pemantap
 Es  Gorengan
 Bakso
 Jelli  Telur
 Somay
 Saos  Sarang Laba
 Keripik/ kerupuk
 Makaroni  Bakpao
 Tahu
 Bakwan  Cimol
 Tempura
 Nugget  Sate lilit dari
 Sosis
adonan telur.
Hasil pengawasan BPOM tahun 2008-2010 menunjukkan bahwa 40-44% dari sampel pangan
jajanan anak sekolah yang diuji, tidak memenuhi syarat karena penyalahgunaan bahan berbahaya
serta cemaran mikroba dan atau bahan tambahan pangan yang melebihi batas.

Pada tahun 2011, BPOM juga melakukan sampling dan pengujian laboratorium terhadap
pangan jajanan anak sekolah (PJAS) yang diambil dari 866 sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah yang
tersebar di 30 kota di Indonesia. Sampel pangan jajanan yang diambil sebanyak 4.808 sampel, dan
1.705 (35,46%) sampel di antaranya tidak memenuhi persyaratan (TMS) keamanan dan atau mutu
pangan.
Dari hasil pengujian terhadap parameter uji bahan tambahan pangan yang dilarang, yaitu
boraks dan formalin yang dilakukan terhadap 3.206 sampel produk PJAS yang terdiri dari mie
basah, bakso, kudapan dan makanan ringan, diketahui bahwa 94 (2,93%) sampel mengandung
boraks dan 43 (1,34%) sampel mengandung formalin. Hasil pengujian terhadap parameter uji
pewarna bukan untuk pangan (rhodamin B) yang dilakukan terhadap 3.925 sampel produk PJAS
yang terdiri dari es (mambo, loli), minuman berwarna merah, sirup, jeli/agar-agar, kudapan dan
makanan ringan diketahui bahwa 40 (1,02%) sampel mengandung rhodamin B (3).
Survei Penelitian yang Dilakukan
Penelitian observasional ini dilaksanakan dengan rancangan survei.
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Oktober 2015 di Kabupaten
Bantul Yogyakarta yang terdiri dari 17 kecamatan. Populasi adalah seluruh
SD di Kabupaten Bantul yang berjumlah 380 SD (data tahun ajaran
2013/2014) dan jumlah sampel minimal yang diperoleh dari hasil
perhitungan adalah 68 SD. Perhitungan besar sampel menggunakan rumus
untuk penelitian survei dengan tingkat kepercayaan 90% .
Sampel makanan jajanan diambil dari 68 sekolah yang terpilih, baik
makanan yang dijajakan di luar sekolah maupun di kantin sekolah.
Makanan jajanan yang diambil adalah jenis makanan yang diduga
mengandung bahan kimia berbahaya baik yang dijajakan di luar sekolah
ataupun di kantin sekolah. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 107
sampel makanan jajanan untuk dilihat kandungan boraks.
NO. JENIS MAKANAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN Frekuensi (%)
1 Bakso ( bulat, tusuk, goreng, keripik) positif boraks 22.4%
2 Somay positif boraks 12.10%
Tabel 1. Keripik (pedas, gurih) dan kerupuk (stik
3 positif boraks 10.30%
memberikan pedas asin)
gambaran 4 Mie (kering, lidi, goreng, bihun) positif boraks 9.30%
mengenai 5 Tahu (isi bakso, ponk, kentucky, goreng ) positif boraks 7.50%
jenis makanan 6 Tempura positif boraks 7.50%
jajanan yang 7 Sosis (lilit mie, basah, kering ) positif boraks 6.50%
diperoleh 8 Jelli positif boraks 4.70%
beserta 9 Es ( warna ungu, cendol, buah ) positif boraks 3.70%
frekuensinya 10 Saos positif boraks 1.90%
masing- 11 Makaroni positif boraks 1.90%
masing dan 12 Bakwan positif boraks 1.90%
jenis bahan
13 Nugget positif boraks 1.90%
kimia
14 Gorengan positif boraks 0.90%
berbahaya
yang 15 Telur positif boraks 0.90%
terkandung 16 Sarang Laba positif boraks 0.90%
17 Bakpao positif boraks 0.90%
18 Cimol positif boraks 0.90%
19 Sate Lilit dari adonan telur positif boraks 0.90%
Ketersediaan dan keamanan pangan merupakan hak dasar manusia. Salah satu kelompok
masyarakat yang sering mengalami masalah akibat keracunan makanan adalah anak sekolah.
Makanan jajanan memegang peranan yang cukup penting dalam memberikan asupan
energi dan zat gizi lain bagi anak-anak usia sekolah. Jajanan anak sekolah yang kurang terjamin
kesehatannya dapat berpotensi menyebabkan keracunan, gangguan pencernaan dan jika
berlangsung lama akan menyebabkan status gizi yang buruk. Selain itu, jajanan tidak sehat dapat
menyebabkan prestasi anak di sekolah juga terganggu.
Berdasarkan data Kejadian Luar Biasa (KLB) pada jajanan anak sekolah tahun 2004-2006,
kelompok siswa Sekolah Dasar (SD) paling sering mengalami keracunan pangan. Pendidikan
kesehatan berperan mengubah perilaku kesehatan seseorang sebagai hasil pengalaman belajar.
Oleh karena itu, perlu diadakan sosialisasi untuk memberikan pengetahuan tambahan kepada
orang tua maupun anak-anak mengenai pentingnya memilih jajanan. Dengan mengetahui ciri-
ciri makanan jajanan yang tidak sehat dan bahaya dari makanan jajajan yang tidak sehat,
diharapkan orang tua dapat mengajari anak ciri-ciri makanan jajanan yang tidak sehat agar anak
tidak membeli makanan jajanan yang tidak sehat. Atau orang tua dapat membawakan bekal buat
anaknya, agar makanan yang masuk ke dalam tubuh anak terbukti kebersihan dan kesehatannya.