Вы находитесь на странице: 1из 81

TERAPI YANG

DIGUNAKAN UNTUK
ANESTESI
TUJUAN MATERI

Agar mahasiswa mengetahui obat-obat anestesi yang


digunakan untuk pembedahan baik general, lokal
maupun regional
ANESTESI

Suatu keadaan tidak sadar mendekati pingsan tapi


reversibel bebas nyeri dan dalam keadaan rileks
Anestesi umum: keadaan perubahan fisiologik yang
reversibel dengan karakteristik:
- hilangnya kesadaran
- analgesia
- amnesia
- relaksasi otot
GOLONGAN ANESTESI

• General anestesi
•Lokal anestesi (circum ferential block)
•Regional anestesi
TAHAPAN ANESTESI
• Anestesi dibagi menjadi 3 stadium yaitu :
– Induksi
– Rumatan
– Pemulihan
• Induksi adalah periode waktu sejak awitan pemberian
anestesi shg perkembanagan anestesi yg efektif pd pasien
• Rumatan adalah periode ketika pasien teranastesi selama
pembedahan
Anestesi memantau vital sign dan respon pasien thd obat
anestesi selama prosedur pembedahan
• Pemulihan adalah kebalikan induksi dimana tergantung
kecepatan obat anestesi berdifusi dari obat
TAHAPAN ANESTESI
•Premedikasi
Bertujuan agar supaya pasien tenang, dan tidak gelisah (tenang)
Obat premed : midazolam (golongan benzodiazepin yg kerjanya
cepat) opioid, atropin sulfat

•Induksi
Diberikan anestesi inhalasi sampai pasien tidak sadar

•Intubasi
Suatu keadaan memasukkan alat Endo Tracheal Tube (ETT) ke
dalam trachea melalui rongga mulut.
Untuk mempertahankan pembukaan saluran udara ETT
dihubungkan dengan mesin anestesi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
dalam pemilihan obat anestesi
• Sistem organ  hati dan ginjal
hati dan ginjal berpengaruh thd distribusi obat juga sebagai organ
target efek toksisitas
• Sistem pernapasan
Yang harus dipertimbangkan jika diberikan anestesi inhalasi
• Sistem kardiovaskular
Pertimbangkan jika terjadi efek hipotensi dari obat anestesi yang
diberikan
• Sistem saraf
Pertimbangkan pemilihan obat anestesi thd adanya gangguan
neurologis seperti epilepsi atau miastenia gravis
• Kehamilan
Waspadai obat-obat anestesi yang diberikan kepada wanita hamil
ANESTESI GENERAL

•Inhalasi : halotan, isoflurane, enflurane,


desflurane, sevoflurane.

•IV : Golongan Benzodiazepin(Diazepam,


Midazolam), golongan barbiturat
(thiopental), ketamin, propofol, etomidate
Inhalational Anaesthetics
Inhalational anesthesia refers to the delivery of gases or
vapors to the respiratory system to produce
anesthesia
The main target of inhalation anesthetics is the brain.
Potensi Anestesi
• Potensi anestesi inhalasi didefinisikan secara kuantitatif
sebagai konsentrasi alveolar minimal (minimal alveolar
concentration (MAC)).
• MAC adalah dosis efektif median (ED50) dari obat anestesi,
sebagai persentasi gas dalam campuran yang diperlukan
untuk mencapai efek anestesi
• MAC merupakan konsentrasi tidal akhir gas anestesi
yang diperlukan untuk mengeleminasi 50% pasien yang
diuji dg dosis tersebut
• MAC berguna membandingkan efek farmakologis obat
anestesi
• Semakin larut lemak maka semakin rendah konsentrasi
anestesi yang diperlukan dan semakin tinggi potensinya
MAC
 Minimum Alveolar Concentration = MAC.

 1 MAC is the Minimum Alveolar Concentration at which


50% of humans have no response (movement) to
surgical stimulus (skin incision).

 MACawake is the alveolar concentration when 50% of


persons will awake to vocal stimulus.

 Anesthetic potency is measured in MAC

 MAC is consistent within a species and between species.


 MAC is different for each inhaled agent.
AGENT MAC POTENCY
Methoxy-flurane 0.16% Most potent

Halothane 0.74%

Isoflurane 1.17%

Enflurane 1.7%

sevoflurane 2.05%

desflurane 6.0%

Nitrous oxide 104% Least potent


Classification of
inhalational anaesthetics

Outdated Gases Volatile agents

 Ether  Nitrous oxide  Halothane

 trilene  Xenon  Enflurane

Methoxyflurane  Isoflurane

Cyclopropane  Sevoflurane

 chloroform  Desflurane
Match the following
Agent Answer Description

1)2-chloro,bromo 1-trifluro a)Agent of choice for


ethane.
Halothane d neuroanaesthesia

2)2-chloro 1-trifluro methyl-ethyl b)Agent of choice for


ether.
Isoflurane a paediatric anaesthesia

3) 2-fluro,1-trifluro methyl ethyl c)Agent of choice for day care


ether.
Desflurane c anaesthesia

4)Methyl –isopropyl ether. d)Agent of choice for asthama


Sevoflurane b patients
ANESTESI INTRAVENA

Premedikasi
Induksi anestesia : memberikan obat anestesi dari sadar
menjadi tidak sadar (untuk anestesi IV)→ maintenance
Pemeliharaan anestesia :
 Penyuntikan berulang
 Kombinasi anestetika inhalasi
Obat tunggal bedah singkat
Anestesia intravena total (TIVA)
Tambahan untuk analgesia regional
ANESTESI INTRAVENA YANG IDEAL
 Dapat memberikan efek amnesia, hipnosis, dan
analgesia
 Efeknya cepat dan tidak menyebabkan nyeri pada
pemberiannya, larut dalam NaCl dan stabil dengan
anestesi IV lainnya
 Mempunyai sedikit efek residual pada post operasi
Pasien yang perlu dipertimbangkan tidak
menggunakan propofol sebagai induction
agent :
1. Allergies → pada pasien dengan alergi propofol atau
kedelai dan telor
2. Pregnancy → propofol dapat menurunkan MAP
3. hypercholesterolemia→ propofol dapat meningkatkan
kadar trigliserida dalam darah
4. muscle relaxants → dilaporkan dapat terjadi
bronchospasme berat
5. cardiovascular-challenged patients (misalnya pada
pasien yang mengalami hipovolemik atau pada pasien
penyakit jantung)
INDUKSI AGEN YANG DAPAT
MENINGKATKAN TEKANAN INTRAKRANIAL
(TIK)
 Ketamin dapat meningkatkan aliran darah cerebral, TIK,
dan dapat meningkatkan metabolisme cerebral melalui
rangsangan pada sistem saraf simpatik.
 Semua induksi agen yang lain dapat menurunkan TIK
dengan terjadinya penurunan aliran darah cerebral dan
kecepatan metabolisme cerebral.
BAGAIMANA EFEK OBAT-OBAT ANESTESI IV
PADA SISTEM PERNAFASAN?
 Semua golongan anestesi IV menyebabkan depresi
pernafasan
 menurunkan tidal volume dan minute ventilation
 Derajat apneu yang bervariasi
 Hati-hati pada pasien dengan COPD → efek lebih berat
OBAT ANESTESI INTRAVENA
1. MIDAZOLAM / DIAZEPAM

Aksi :
Membentuk ikatan dgn reseptor spesifik di daerah
korteks dan memudahkan ikatan dgn reseptor GABA
Bentuk sediaan :
- midazolam : 5 mg/5 ml
15 mg/3 ml
- diazepam : 10 mg/2 ml
lanjutan
 Sifat : larut dalam air dan larut dalam lemak
 Sediaan di pasaran : lebih larut air
 Pada pemberian IV or IM : pasien merasa comfort
 Diazepam dan lorazepam tidak larut air → dilarutkan
dalam propilen glycol
 Inj IV atau IM dari diazepam dan lorazepam → nyeri dan
venoiritasi dan phlebitis
Midazolam
• Kadar puncak pada SSP terjadi 4-8 menit setelah
penyuntikan intravena, dengan waktu paruh 20 jam
• Redistribusi cepat setelah penyuntikan intravena
• Metabolisme terjadi di hati melalui sitokrom P450
• Hasil metabolisme (dalam bentuk aktif) dibuang lewat urin
• On set pada waktu 1 – 5 menit dan durasinya 20 – 40 menit
• Ikatan dengan protein plasma 95%
Midazolam
SSP
• Amnesia, anti kejang, hipnosis, sedasi, relaksasi otot
• Tidak ada efek analgesia
• Menurunkan aliran darah dan laju metabolisme otak
Sistem kardiovaskular
• Vasodilatasi sistemik ringan, curah jantung menurun, laju nadi
tetap
• Gangguan hemodinamik terjadi pada pasien hipovolemik
Sistem pernafasan
• Penurunan ringan laju nafas dan tidal volume
• Depresi nafas terjadi bila : kombinasi dengan narkotik,
penyakit paru berat
Midazolam

Kompatibel dengan NaCl, RL, dan D5%


Larutan dalam NS dengan kadar 0,5 mg/ml stabil dalam 24 jam
Midazolam setelah direkonstitusi stabil selama 24jam dalam
D5% & NaCl dan selama 4 jam di dalam RL, jika disimpan
dalam wadah PVC pada suhu 25°C
Tidak perlu terlindung dari cahaya
Jika dicampur dalam satu syringe dengan atropin sulfas,
morfin, scopolamin larut dalam 30 detik
Jika dicampur dengan ketamin → kompatibel dalam 8 jam
MIDAZOLAM

Premedikasi
 Diazepam : 5 – 10 mg i.v.
 Midazolam : 0,05 – 0,1 mg / kg BB i.v.
 Induksi
 Diazepam : 5 – 10 mg i.v.
 Midazolam : 2,5 – 5 mg i.v.
 Sedasi
 Diazepam : 0,2 – 1 mg / kg BB i.v.
 Midazolam : 0,15 mg / kg BB i.v
2. THIOPENTHAL

•Aksi : menekan sistem aktivasi retikular di batang otak


•Digunakan dalam bentuk larutan 2,5%
•Aksi sedatif hipnotik
•Berikatan dengan neurotransmitter inhibitor GABA, dan
adanya blokade neurotransmitter excitatory (as glutamat &
acetilcholin)
•Masa kerja cepat, on set setelah 30 detik durasinya 20 menit
•Sediaan : 500 mg
•Dosis induksi : 3 – 5 mg/kg BB IV
THIOPENTAL

 Hilangnya kesadaran terjadi dalam waktu 30 detik (waktu


sirkulasi ekstremitas atas ke otak)
 Metabolisme di hati dengan hasil metabolit tidak aktif
 Kelarutan lemak tinggi sehingga pulih sadarnya (5-10
menit) dan redistribusi ke otot2 dan organ2 dgn aliran darah
tinggi berlangsung sangat cepat
THIOPENTAL
 SSP :
Menyebabkan hilangnya kesadaran dan hiperalgesia
Menurunkan metabolisme dan aliran darah otak
 Sistem Kardiovaskular
Menurunkan tekanan darah dan curah jantung
Meningkatkan laju nadi akibat refleks baroreseptor
 Sistem Pernafasan :
Menurunkan laju nafas dan tidal volume
Apneu dpt terjadi 30-90 detik setelah penyuntikan dengan
dosis sedasi
THIOPENTAL

Dapat dilarutkan dalam WFI atau NaCl yang


stabil selama 24 jam
WFI tidak boleh digunakan untuk melarutkan
dengan kadar <2%→menghasilkan larutan yang
hipotonis →dapat terjadi hemolisis
KONTRA INDIKASI DARI TIOPENTAL
 Absolute
 Porphyria : barbiturat dapat meningkatkan sintesa
dari asam amino levulinat sehingga sintesis porphyrin
meningkat → terjadi abdominal pain, neurotoxic dan
disfungsi saraf autonom, kerusakan saraf perifer
 Alergy to thiopental :meningkatnya resiko
keluarnya histamin → reaksi anaphilaktik (walaupun
jarang).
lanjutan

 Relative
 Hypovolemia : karena adanya depresi pada
kardiovaskular sehingga dapat terjadi hipotensi yang
signifikan → pemberian dengan titrasi pelan
 Hepatic failure : adanya metabolisme yang lambat
sehingga memberikan efek memanjang
3. KETAMIN
• Merupakan anestesi non barbiturat yang kerjanya singkat
• Dapat menginduksi status disosiasi pasien tidak sadar tapi
tampak terjaga dan tidak merasa nyeri
• Anestesi disosiasi menyebabkan amnesia dan imobilitas
• Merupakan derivat Phencyclidine.
• Aksi : - mendisosiasi daerah talamus dari korteks limbik.
- antagonisme reseptor N-methyl-D-aspartat
• Sediaan : 10 ml dosis 100 mg/10 ml
• Ketamin yang mempunyai efek bronkodilator → pilihan
untuk pasien dengan asma atau bronkhospasme
• Digunakan pada anak-anak dan dewasa muda untuk prosedur
singkat
FARMAKOKINETIKKETAMIN
• Hilangnya kesadaran terjadi 30-60 detik setelah
induksi i.v dengan durasi 15-20 menit.
(bila I.M, 5 menit setelah penyuntikan)
• Suntikan berulang atau infusi menyebabkan
akumulasi
• Mempunyai sifat lipofilik sehingga dapat masuk
sirkulasi otak dengan sangat cepat
• Metabolisme di hati, dnegan hasil metabolit aktif
KETAMIN

SSP
Menyebabkan keadaan ‘dissosiasi’ disertai amnesia & analgesia
kuat
Meningkatkan aliran darah dan laju metabolisme otak, tekanan
intrakranial
Sistem kardiovaskular
Meningkatkan tekanan darah, laju jantung, curah jantung
Sering digunakan pada pasien dengan hemodinamik terganggu
Kontra indikasi : penyakit jantung koroner, hipertensi
Sistem Pernafasan
Bronkodilator
hipersalivasi
KETAMIN

Dosis i.m. : 6 – 13 mg / kg BB
 Dosis i.v. : 1 – 4 mg / kg BB
ulangan : 0,5 mg / kg BB
4. PROPOFOL
• Merupakan obat anestesi IV yang digunakan untuk induksi
atau rumatan anestesi
• Merupakan pilihan pertama untuk induksi dan sedasi
karena dapat menghasilkan perasaan euforik pada pasien
dan tidak menimbulkan mual muntah pasca anestesi
• Aksi : Menghambat transmisi neuron yang dihantar GABA
• Sediaan : 20 ml dosis 10 mg/ml

FARMAKOKINETIK
 Kelarutan lemak tinggi mengakibatkan hilangnya
kesadaran cepat (30 – 45 detik) diikuti pulih sadar cepat
karena redistribusi
 Metabolisme di hati dengan metabolit tidak aktif
PROPOFOL

 SSP
 Dosis induksi mengakibatkan hilangnya
kesadaran, dosis kecil menyebabkan sedasi
 Tidak ada efek analgesia
 Sistem Kardiovaskular
 Menurunkan tekanan darah dan curah jantung
tanpa mendepresi miokard
 Menurunkan tekanan intra kranial
 Sistem Pernafasan
 menurunkan laju nafas dan tidal volume
PROPOFOL

 Induksi : 1 – 2,5 mg / kg BB i.v.


 Pemeliharaan : 50 – 200 g / kg BB / menit, infusi
 Sedasi : 25 – 100 g / kg BB / menit, infusi
5. ETOMIDAT
• Merupakan anestesi IV yang tidak memiliki efek analgesik
• Mempunyai dampak paling kecil terhadap kardiovaskuler dan pulmonal
• Dapat menghambat sintesis kortisol secara reversibel dalam beberapa jam
sesudah suntikan tunggal
• Reaksi yang tidak diinginkan: miokloni, gerakan otot involunter kadang
seperti konvulsi
• Penggunaan:
• dapat digunakan untuk pasien dengan gangguan hemodinamik (mis:
syok kardiogenik, atau disfungsi cardio vaskuler)
• tekanan intrakranial meningkat/pada operasi intrakranial
• Pada pasien dengan operasi bedah mata terbuka karena menurunkan
tekanan intraorbital 50-60%
• Hanya untuk digunakan pada anestesi pendek
• Keuntungan
• Efek hipnotiknya cepat, tidak ada rasa nyeri setelah injeksi
• Tidak terjadi trombophlebitis
• Pasien cepat bangun / siuman
• Efek samping terjadinya penurunan kadar kortisol dan aldosteron plasma
yang menetap hingga 8 jam oleh karena itu etomidat tidak boleh diberikan
dalam waktu lama karena adanya supresi thd hormon tersebut
ANESTESI LOKAL

Dasar pemilihan anestesi lokal:


on set nya
durasinya
safety profile
Obat-obat anestesi lokal:
Lidocain
Bupivacain
Ropivacain
Tetracain
• Terjadinya difusi bentuk anion (bentuk base) yang
menembus sistem saraf dan sel membran
• Terjadinya keseimbangan antara bentuk base dan bentuk
kation dalam axoplasma
• Ikatan bentuk kation pada reseptor Na+ channel,
menghasilkan blokade dan penghambatan yang sinergis
pada Na+
KEGUNAAN ANESTESI LOKAL
 lokal anestesi digunakan pada regional anestesi
dimana akan memblok syaraf secara reversible
 Sebagai analgesia post op pada prosedur operasi
dengan resiko nyeri tinggi
 untuk mengurangi pressor respon untuk intubasi
trachea, mengurangi timbulnya batuk selama intubasi
dan ekstubasi, juga sbg anti aritmia
CONTOH ANESTESI LOKAL
BUPIVACAIN (MARCAIN)
•Merupakan long acting lokal anestesi
•Digunakan untuk anestesi infiltrasi untuk peripheral, syaraf
simpatik dan untuk memblok epidural
Untuk anestesi obstetri dan epidural anestesi
•Bentuk sediaan : 5 mg/ml
•Dosis : bervariasi tergantung prosedur yg dilakukan (lokal anest, epidural block
atau peripheral herve block)
•Onset : tergantung rute dan dosisnya (1-17 menit)
•Duration : 2-9 jam
•Prot binding :95%, metabolisme: hepar
ROPIVACAIN (NAROPIN)
• Merupakan long acting lokal anestesi
• Digunakan untuk anestesi infiltrasi untuk peripheral, syaraf
simpatik dan untuk memblok epidural
Bentuk sediaan
7,5 mg/ml dalam 20 cc

Kelebihannya :
• Efek samping pada jantung lebih minimal
ANESTESI REGIONAL
Spinal anestesia SAB (Sub Arachnoid Block)
Epidural anestesi
Peripheral nerveblocks (PNB)
Fisiologi neonatus
fungsi ginjal
Fungsi fungsi fungsi
Renal glomerulus tubular
Terbatas terbatas terbatas

eliminasi memanjang

fraksi obat asing

potensi toksisitas
KOMBINASI LOKAL ANESTESI DGN OPIOID
Bagaimana efek kombinasi dari lokal anestesi dg dosis
rendah dengan opioid pada pasien post op?

Kombinasi lokal anestesi dengan dosis rendah dengan


opioid scr infusion dapat memberikan efek analgesik
yang lebih besar daripada opioid diberikan tersendiri
oral : morfin MST
IV : morfin, fentanil, sufentanil, remifantanil,
petidin
transdermal : fentanyl

sediaan 12,5, 25, 50, 100 mikrogram


efek steady state dicapai 8 – 12 jam
patch diganti setelah 3 hari (72 jam)
FENTANYL PATCH
 Bentuk sediaannya patch dgn membrane micro porous
 Waktu mencapai steady state sekitar 8-12 jam setelah
ditempel pada kulit
 Efek analgesianya lebih lama dibanding pemberian oral
 Penggantian patch setiap 72jam (3hari), efektif sebagai
terapi untuk nyeri kronik atau pada px post op yang alergi
terhadap NSAID
opioid
Premedikasi :
 morfin : 5 – 10 mg i.v.
 petidin : 1 mg / kg BB i.v.

 Induksi :
 morfin : 1 – 3 mg / kg BB i.v.
 petidin : 1 – 2 mg / kg BB i.v.
 fentanil : 10 – 50 g / kg BB i.v.
•Analgesik unik, like opioid
•Digunakan pada moderate – severe pain after surgery, cancer,
obstetry
•Pada pemakaian lama  habit
•Bentuk kombinasi : tramadol + paracetamol
•Dosis :
Dewasa : 50-100 mg / 6jam
Anak : 2-3 mg/kg BB
•Hindari pada pasien gagal ginjal
•Bentuk sediaan : 100 mg/ 2 ml
•Efek samping : mual, muntah . dapat diatasi dgn ondancentron
MUSCLE RELAXAN
•Depolarizing agent
•Non depolaring agent

Berdasarkan masa kerja:


•Short acting
contoh: suchinilcholin
•Intermediet
contoh: atracurium, vecuronium
•Long acting
contoh: pancuronium
Depolarizing Agent

• Depolarizing relaxants : succinylcholin


• Digunakan untuk intubasi endotrakeal yang perlu
cepat selama induksi anestesi (kerja yang cepat dapat
mencegah aspirasi lambung selama intubasi)
• Indikasi pada pasien operasi yang tidak puasa (full
stomach, seperti DM, hiatal hernia, obesitas, hamil,
severe pain, bowel obstruction dan trauma) dan
kemungkinan resiko terjadinya aspirasi dari gastric.
• On set 60 – 90 detik, durasinya 5 – 10 menit
Mekanisme kerja
• Succinylcholin melekat pada reseptor nikotinik dan
bekerja menyerupai asetilkolin untuk terjadinya
depolarisasi
• Succinylcholin tidak segera dirusak oleh
asetilkolinesterase, shg kadar obat depolarisasi ini
tetap tinggi dalam celah sinaps dan melekat pada
reseptor pada waktu relatif lama dan dapat memacu
reseptor terus-menerus
• Golongan depolarisasi ini membuka kanal natrium
yang berhubungan dg reseptor mikotinik yang
menyebabkan depolarisasi reseptor
Efek Samping
• Hipertermia
Pemberian succinylcholin dapat menyebabkan hipertermia
maligna jika diberikan bersama dg obat anestesi halothane
• Apnea
Pemberian succinylcholin thd pasien dengan defisiensi
kolinesterase plasma secara genetik atau mempunyai bentuk
enzim yang atipikal dapat menyebabkan apnea karena
kelumpuhan otot diafragma
• Hiperkalemia
Succinylcholin dapat meningkatkan pelepasan kalium dari
intraseluler.Keadaan ini berbahaya bagi pasien luka bakar atau
pasien dengan kerusakan jaringan masiv akibat kehilangan kalium
secara cepat dari dalam sel
• Obat ini memiliki struktur serupa dg acetyl choline dan bekerja baik
secara antagonis (tipe nondepolarisasi) maupun agonis (tipe
depolarisasi) pada reseptor yang terdapat pada neuromuskular
• Secara klinis bermanfaat untuk melemaskan otot secara sempurna
selama operasi tanpa pemberian obat anestesi dosis tinggi untuk
mencapai relaksasi otot yang sempurna
• Bermanfaat untuk mempermudah tahapan intubasi
• Kerjanya kompetitif antagonis pada ACH (acetyl choline) pada
membran post synaptic
• Contoh:
• Pancuronium
• Atracurium
• Vecuronium
• Abacurium
• Rocuronium
•Nama paten : pavulon
•Muscle relaxan non depolarizing neuro muscular blocking
agent
•Digunakan sebagai relaksan dalam pembedahan
Dosis IV 0,06 mg/kg BB→efek on set tercapai 2 – 3 menit
durasi 35 – 45 menit
•Bentuk sediaan 2 mg/ml
•Stabilitas:
larut dalam D5%, NaCl dan RL
stabilitas setelah direkonstitusi 48 jam pada suhu 15 – 30 °C
dalam wadah plastik.
•Muscle relaxan non depolarizing neuro muscular blocking agent

•Digunakan sebagai relaksan dalam pembedahan

•Efek blokade dengan dosis 0,4 – 0,5 mg/kg BB pada neuro

muskular terjadi dalam 3 – 5 menit

•Recovery dari neuro muskular blokade dimulai setelah 20–35 menit dengan
balans anestesi thiopental, H2O dan fentanyl
•Kompatibel dengan D5%, D5% dalam NaCl, dan NaCl,
tidak dianjurkan dilarutkan dalam RL
•Konsentrasi 0,2 – 0,5 mg/ml stabil dalam 24 jam
•Bentuk sediaan: 50 mg/5ml, 25 mg/2,5ml
Efek blokade neuro muskular pada waktu 1 menit, maksimal 3 – 5 menit
Waktu injeksi max 3,3 – 6,9 menit
Durasinya 25 – 40 menit
Sediaan : 4 mg/ml
Stabilitas:
Dapat dilarutkan dg WFI→kadar 2 mg/ml stabil dalam 24 jam
Stabilitas dalam lar D5%,NaCl dan RL stabil selama 24 jam dalam
wadah original dan di lemari es
Jika dilarutkan dalam WFI dan disimpan dalam syringe plastik atau
kaca, dianjurkan penggunaannya < 24jam
Sebagai anti cholinesterase agent
Digunakan sebagai reversal efek dari non depolarizing blocking agent
sesudah pembedahan
Pada pemberian prostigmin pasien harus diobservasi ketat untuk
menjamin tidak terjadinya depresi pada respiratory
Recovery pada waktu 3 – 5 menit, dapat tertunda jika ada extreme
debilitation, hipokalemia, carcinoma atau pada penggunaan anti
biotik amino glikosida
Bentuk sediaan : 0,5 mg/ml
Malignant hypertermia (MH) : suatu keadaan myopathy pada saat

intra operative dan perioperative

Karakteristiknya yaitu adanya peningkatan metabolisme dalam otot

skeletal yang tidak terkontrol sesudah adanya exposure

Pelepasan Ca yang tidak terkontrol dari Reticulum sarcoplasma

Kematian sering tjd jika problem ini tidak diketahui dan tidak diterapi
Kerjanya menghalangi kontraksi calsium dependent muscle
Dantrolene cepat meningkatkan metabolisme dan
mengembalikan level katekolamine dan kalium kembali normal
Preparasi : campur 20mg dantrolene dengan 3 gr manitol dan
60ml aqua steril
Pemberian dantrolene 2 mg/kg, diulangi setiap 5 menit sampai
dengan dosis 10mg/kg jika diperlukan
Endotracheal Tube with Cuff
• Tubing Bening, memudahkan
melihat adanya kondensasi
saat pasien mulai sadar.
• Cuff low pressure low volume,
sangat cocok untuk di kamar
operasi dan UGD
• Murphy eye
• Nomor tubing tertera di pilot
ballon dan Pilot ballon one
way valve.
• Connector standard.
Endotracheal Tube Uncuff
• Tubing bening
• Adanya Depht Marker
• Connector yg standard
15 mm
• Digunakan di kamar
operasi dan PICU,
NICU.
• Tersedia mulai nomor
2.0 s/d 7.0
Cara Pasang ETT
Lanjutan Cara…
TENGKYU