You are on page 1of 29

Deep vein thrombosis (DVT)

ARIF HIDAYATULLAH
PENDAHULUAN

 Trombosis adalah terjadinya bekuan darah di dalam sistem kardiovaskuler


termasuk arteri, vena, ruangan jantung dan mikrosirkulasi. Menurut Robert
Virchow, terjadinya trombosis adalah sebagai akibat kelainan dari
pembuluh darah, aliran darah dan komponen pembekuan darah (Virchow
triat).
 Di Amerika Serikat, dilaporkan 2 juta kasus trombosis vena dalam yang di
rawat di rumah sakit dan di perkirakan pada 600.000 kasus terjadi emboli
paru dan 60.000 kasus meninggal karena proses penyumbatan pembuluh
darah.
LAPORAN KASUS

 Identitas Pasien

 Nama : NI NENGAH NGANTI
 Tanggal lahir : 01 – 07 - 1973
 Usia : 45 tahun
 Jenis Kelamin : perempuan
 Status Perkawinan : Menikah
 Agama : Hindu
 Tanggal MRS : 25-04-2018
 Alamat : kintamani

1. Anamnesa (Autoanamnesis)
a. Keluhan utama : nyeri kedua kaki
Keluhan penyakit sekarang : pasien datang ke IGD dengan keluhan nyeri kedua kaki sejak 4
hari yang lalu. Nyeri dirasakan semakin memberat sejak 2 hari terakhir. Nyeri lebih dominan pada
kaki kiri. Kesemutan (+). Pasien juga merasa kedua kaki lemas. Merasa akan jatuh saat berjalan.
Riwayat keluhan yang sama sebelumnya(+). Sesak (-), nyeri dada (-), berdebar (-), riwayat sesak
(+), riwayat HT (+).

 Riwayat penyakit dahulu :


 Riwayat keluhan yang sama : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat hipertensi :ada
- Riwayat DM : disangkal
a. Riwayat peyakit keluarga : Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal
b. Riwayat sosial : tidak Pernah merokok, tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak mengkonsumsi obat-
obat terlarang.
1. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum : Nampak Sakit Sedang
- Kesadaraan : compos mentis
- GCS :E4V5M6
- Tanda vital : TD 110/70 mmHg, Nadi 100x/menit, RR 20x/menit, Suhu 360C (axilla), BB 60 kg, TB 165 cm, IMT 22,03
A. Status Generalis
 Kulit : Warna sawo matang, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor cukup, tidak tampak jejas trauma, tidak tampak bekas
operasi.
 Kepala : Simetris, normal, rambut beruban, distribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak tampak jejas trauma dan
kelainan kongenital, tidak tampak bekas operasi
 Muka : Simetris, tidak tampak ada jejas trauma, tidak tampak ada kelainan kongenital
 Mata : Pupil bulat isokor dengan diameter 3mm/3mm Konjungtiva anemis tidak ada, sklera ikterik tidak ada, terdapat
reflek cahaya pada kedua mata.
 Hidung : Discharge tidak ada, nafas cuping hidung tidak ada, deviasi septum tidak ada, deformitas tidak ada
 Mulut/Gigi : Bibir sianosis tidak ada, lidah kotor tidak ada, carries tidak ada, faring tidak hiperemis, tonsil T0-T0
 Telinga : Simetris, discharge tidak ada, tidak ada kelainan kongenital
Pemeriksaan Leher

- Inspeksi : Deviasi trakea tidak ada, JVP normal (5 – 2 cm H2O)

- Palpasi : Kelenjar tiroid dan kelenjar limfe tidak ada pembesaran

Pemeriksaan Thorax
Cor :
- Inspeksi : simetris, iktus cordis tidak terlihat
- Palpasi : iktus cordis terlihat, lokasi di apex, kuat angkat (+)
- Perkusi :
Batas atas : ICS II PSL sinistra
Batas kanan : ICS V PSL dextra
Batas kiri : ICS V MCL sinistra
Batas bawah : ICS IV PCL sinistra
- Auskultasi : S1 dan S2 tunggal reguler, mur-mur (-).
Pulmo :
- Inspeksi : dada simetris kanan dan kiri, tidak ada gerakan napas yang tertinggal, tidak nampak adanya massa,
tidak ada tampak adanya tanda – tanda peradangan.
- Palpasi : tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus dada kanan dan kiri sama.
- Perkusi : sonor di kedua lapang paru
- Auskultasi : suara nafas vesikuler di seluruh lapang paru, ronki basah halus (+) , wheezing (-)
Abdomen :
- Inspeksi : distensi tidak ada, asites tidak ada, tidak tampak adanya massa, tidak tampak adanya tanda – tanda
peradangan
- Auskultasi : BU (+) normal
- Perkusi : timpani di seluruh kuadran abdomen, nyeri ketok sudut costovertebra tidak ada.
- Palpasi : nyeri tekan (-)
o Hepar : tidak terdapat pembesaran hepar dan tidak terdapat nyeri tekan.
o Lien : tidak terdapat pembesaran lien dan tidak terdapat nyeri tekan.
o Ginjal : tidak terdapat pembesaran ginjal kanan dan kiri dan tidak terdapat nyeri tekan, dan tidak nyeri ketok
costovertebra.
Ekstermitas : Ekstermitas atas dan bawah hangat, nyeri [-], sianosis [-], jari tabuh [-] dan bengkak [-].
Pemeriksaan Penunjang

 Ro Thorax, DL, BUN SC, SGOT, SGPT, EKG, ECO.


Pemeriksaan EKG (25-4-2018)
Ro Thorax
PEMERIKSAAN KIMIA DARAH
Tes Nilai Satuan Nilai Rujukan Keterangan

GDS 158 mg/dL 75 – 115 Meningkat

Albumin 3,12 g/dL 3,8 – 5,1 Menurun

Creatinine 6,99 mg/dL 0,6 – 1,1 Meningkat

Urea UV 84 mg/dL 10 – 50 Meningkat


•Pemeriksaan Darah Lengkap

Hematologi Nilai Satuan Nilai Rujukan Keterangan

WBC 20600 109/l 3500-10000 Normal


LYM% 14,5 % 15,0-50,0 menurun
LYM 0,8 109/l 0,5-5,0 Normal
MID 0,7 109/l 0,1-1,5 Normal
MID% 6,1 % 2,0-15,0 Normal
GRAN 16,7 109/l 1,2-8,0 meningkat
GRA% 80,2 % 35,0-80,0 Meningkat
RBC 3,47 jt 1012/l 3.500.000-5.500.000 menurun

HGB 9,7 g/dl 11,5-16,5 Menurun


HCT 28,6 % 35,0-55,0 Menurun
MCV 78,6 Fl 75,0-100,0 Normal
MCH 25,5 Pg 25,0-35,0 Normal
MCHC 32,5 g/dl 31,0-38,0 Normal
RDW% 13,7 % 11,0-16,0 Normal
RDWa 62,0 Fl 30,0-150,0 Normal
PLT 77 109/l 150.000-400.000 Menurun
MPV 8,9 fl ↓ 8,0-11,0 Normal
PDW 11,4 Fl 0,1-99,9 Normal
PCT 0,16 % 0,01-9,99 Normal
•Pemeriksaan profil lipid
Tes Nilai satuan Refrensi rentang nilai Keterangan

Cholesterol total 252 mg/dl 0-200 Meningkat

Trigliseride 146 mg/ dl 0-150 Normal


 Diagnosis Kerja
 DVT
 Trombositopenia
•Penatalaksanaan

Penatalaksanaan di IGD

- IVFD NaCl 0,9% 8 tpm


- Enoxapam 2 x0,6 ml s.c
- alopurinol 1 x 300 mg
- cilostasol 2 x 100 mg
- rasic 3 x 500 mg
- Paracetamol 3 x 150 mg
- CMCK
 Prognosis
 Ad vitam : dubia ad bonam
 Ad fungsionam : dubia
1. Follow Up Bangsal 25 april 2018

Pulmo :
Pulmo :
Inspeksi : dada simetris kanan dan kiri, tidak ada
Keluhan : nyeri kedua kaki (+) gerakan napas yang tertinggal, tidak nampak adanya
Pasien mengeluh nyeri kedua kaki (+), kesemutan (+) massa, tidak ada tampak adanya tanda – tanda
KU : sakit sedang peradangan.
Kesadaran : compos mentis Palpasi : tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus dada
GCS : E4V5M6 kanan dan kiri sama.
Tanda Vital : TD: 110/60 mmHg, N : 92x/menit, RR : 24x/mnt, Perkusi : sonor di kedua lapang paru
T : 36°C (axilla) Auskultasi : suara nafas vesikuler di seluruh lapang paru,
Pemeriksaan Fisik ronki basah halus (+) , wheezing (-)
Kepala : Simetris, normal, rambut beruban, distribusi Abdomen :
merata, tidak mudah dicabut, tidak tampak jejas trauma Inspeksi : distensi tidak ada, asites tidak ada, tidak
dan kelainan kongenital, tidak tampak bekas operasi tampak adanya massa, tidak tampak adanya tanda –
Muka : Simetris, tidak tampak ada jejas trauma, tidak tanda peradangan
tampak ada kelainan kongenital Auskultasi : BU (+) normal
Mata : Pupil bulat isokor dengan diameter 3mm/3mm Perkusi: timpani di seluruh kuadran abdomen, nyeri ketok
Konjungtiva anemis tidak ada, sklera ikterik tidak ada, sudut costovertebra tidak ada.
terdapat reflek cahaya pada kedua mata. Palpasi : nyeri tekan (-)
THT : DBN Hepar : tidak terdapat pembesaran hepar dan tidak
Pemeriksaan Leher terdapat nyeri tekan.
- Inspeksi : Deviasi trakea tidak ada, JVP Lien : tidak terdapat pembesaran lien dan tidak
normal (5 – 2 cm H2O) terdapat nyeri tekan.
- Palpasi : Kelenjar tiroid dan kelenjar limfe Ginjal : tidak terdapat pembesaran ginjal kanan
tidak ada pembesaran dan kiri dan tidak terdapat nyeri tekan, dan tidak
Pemeriksaan Thorax nyeri ketok costovertebra.
Cor : Ekstermitas : Ekstermitas atas dan bawah hangat, nyeri [-],
Inspeksi : simetris, iktus cordis tidak terlihat sianosis [-], jari tabuh [-] dan bengkak [-].
Palpasi : iktus cordis teraba, lokasi di apex, kuat angkat (+) Diagnosis : DVT eks inferior (S)
Perkusi : Terapi :
Batas atas : ICS II PSL sinistra IVFD NaCl 0,9% 8tpm
Batas kanan : ICS V PSL dextra Inj. Omeprazole 1 amp
Batas kiri : ICS IV MCL sinistra Inj. ondansentron 1 amp
Batas bawah : ICS IV PCL sinistra Sanmol flash 1 gr
Auskultasi : S1 dan S2 tunggal reguler, mur-mur (-). Co. dr. Suryawati Sp.Jp
IVFD NaCl 0,9% 8tpm
Lovenox 2 x 0,6 cc
Cilostazilol 2 x 100 mg
26 april 2018
Pulmo :
Pulmo :
Inspeksi : dada simetris kanan dan kiri, tidak ada gerakan napas
Keluhan : nyeri dan bengkak kaki kiri menurun
yang tertinggal, tidak nampak adanya massa, tidak ada tampak
KU : sakit sedang
adanya tanda – tanda peradangan.
Kesadaran : compos mentis
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus dada kanan dan kiri
GCS : E4V5M6
sama.
Tanda Vital : TD 120/80, N : 84x/menit, RR : 20x/menit, T :
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
36°C (axilla)
Auskultasi : suara nafas vesikuler di seluruh lapang paru, ronki basah
Pemeriksaan Fisik
halus (+) , wheezing (-)
Kepala : Simetris, normal, rambut beruban, distribusi
Abdomen :
merata, tidak mudah dicabut, tidak tampak jejas trauma
Inspeksi : distensi tidak ada, asites tidak ada, tidak tampak adanya
dan kelainan kongenital, tidak tampak bekas operasi
massa, tidak tampak adanya tanda – tanda peradangan
Muka : Simetris, tidak tampak ada jejas trauma, tidak
Auskultasi : BU (+) normal
tampak ada kelainan kongenital
Perkusi: timpani di seluruh kuadran abdomen, nyeri ketok sudut
Mata : Pupil bulat isokor dengan diameter 3mm/3mm
costovertebra tidak ada.
Konjungtiva anemis tidak ada, sklera ikterik tidak ada,
Palpasi : nyeri tekan (-)
terdapat reflek cahaya pada kedua mata.
Hepar : tidak terdapat pembesaran hepar dan tidak terdapat
THT : DBN
nyeri tekan.
Pemeriksaan Leher
Lien : tidak terdapat pembesaran lien dan tidak terdapat nyeri
- Inspeksi : Deviasi trakea tidak ada, JVP
tekan.
normal (5 – 2 cm H2O)
Ginjal : tidak terdapat pembesaran ginjal kanan dan kiri dan
- Palpasi : Kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
tidak terdapat nyeri tekan, dan tidak nyeri ketok costovertebra.
tidak ada pembesaran
Ekstermitas : Ekstermitas atas dan bawah hangat, nyeri [-], sianosis [-], jari
Pemeriksaan Thorax
tabuh [-] dan bengkak [-].
Cor :
Diagnosis : DVT eks inferior (S)
Inspeksi : simetris, iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : iktus cordis teraba, lokasi di apex, kuat angkat (+)
Terapi :
Perkusi :
IVFD NaCl 0,9% 8tpm
Batas atas : ICS II PSL sinistra
Enoxapam 2 x 0,6 ml s.c (5 hari)
Batas kanan : ICS V PSL dextra
clostasol 2 x 100 mg iv
Batas kiri : ICS IV MCL sinistra
nasic 3x500 mg
Batas bawah : ICS IV PCL sinistra
allopurinol 1x300 mg
Auskultasi : S1 dan S2 tunggal reguler, mur-mur (-).
Paracetamol 3x1 gr
Monitoring :
CM : 600cc CK : 1000cc
27 april 2018
Pulmo :
Inspeksi : dada simetris kanan dan kiri, tidak ada gerakan
napas yang tertinggal, tidak nampak adanya massa, tidak ada
tampak adanya tanda – tanda peradangan.
Keluhan : nyeri dan semakin bengkak kai kiri. Kesemutan (+), sesak
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, vocal fremitus dada kanan
(-)
dan kiri sama.
KU : sakit sedang
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Kesadaran : compos mentis
Auskultasi : suara nafas vesikuler di seluruh lapang paru, ronki
GCS : E4V5M6
basah halus (+) , wheezing (-)
Tanda Vital : TD 90/60 mmHg, N : 80x/menit, RR : 20x/menit, T : 36°C
Abdomen :
(axilla)
Inspeksi : distensi tidak ada, asites tidak ada, tidak tampak
Kepala : Simetris, normal, rambut beruban, distribusi merata, tidak
adanya massa, tidak tampak adanya tanda – tanda
mudah dicabut, tidak tampak jejas trauma dan kelainan
peradangan
kongenital, tidak tampak bekas operasi
Auskultasi : BU (+) normal
Muka : Simetris, tidak tampak ada jejas trauma, tidak tampak ada
Perkusi: timpani di seluruh kuadran abdomen, nyeri ketok sudut
kelainan kongenital
costovertebra tidak ada.
Mata : Pupil bulat isokor dengan diameter 3mm/3mm Konjungtiva
Palpasi : nyeri tekan (-)
anemis tidak ada, sklera ikterik tidak ada, terdapat reflek cahaya
Hepar : tidak terdapat pembesaran hepar dan tidak
pada kedua mata.
terdapat nyeri tekan.
THT : DBN
Lien : tidak terdapat pembesaran lien dan tidak
Pemeriksaan Leher
terdapat nyeri tekan.
- Inspeksi : Deviasi trakea tidak ada, JVP normal (5
Ginjal : tidak terdapat pembesaran ginjal kanan dan kiri
– 2 cm H2O)
dan tidak terdapat nyeri tekan, dan tidak nyeri ketok
- Palpasi : Kelenjar tiroid dan kelenjar limfe tidak
costovertebra.
ada pembesaran
Ekstermitas : Ekstermitas atas dan bawah hangat, nyeri [-], sianosis
Pemeriksaan Thorax
[-], jari tabuh [-] dan bengkak [-].
Cor :
Diagnosis : DVT eks inferior (S)
Inspeksi : simetris, iktus cordis tidak terlihat
Terapi :
Palpasi : iktus cordis teraba, lokasi di apex, kuat angkat (+)
IVFD NaCl 0,9% 8tpm
Perkusi :
Enoxapam 2 x 0,6 ml s.c (5 hari)
Batas atas : ICS II PSL sinistra
cilostasol 2 x 100 mg iv
Batas kanan : ICS V PSL dextra
nasic 3x500 mg
Batas kiri : ICS IV MCL sinistra
allopurinol 1x300 mg
Batas bawah : ICS IV PCL sinistra
Paracetamol 3x1 gr
Auskultasi : S1 dan S2 tunggal reguler, mur-mur (-).
Monitoring :
CMCK
Keluhan
TINJAUAN PUSTAKA

 Definisi
 Deep vein thrombosis (DVT) merupakan pembentukan bekuan darah
pada lumen vena dalam (deep vein) yang diikuti oleh reaksi inflamasi
dinding pembuluh darah dan jaringan perivena .DVT disebabkan oleh
disfungsi endotel pembuluh darah, hiperkoagulabilitas dan gangguan
aliran darah vena (stasis) yang dikenal dengan trias Virchow.
PATOGENESIS

 Stasis vena.
 Kerusakan pembuluh darah.
 Aktivitas faktor pembekuan.
Factor resiko

 1. Defisiensi Anto trombin III, protein C, protein S dan alfa 1 anti tripsin.
 2. Tindakan operatif
 3. Kehamilan dan persalinan
 4. Infark miokard dan payah jantung
 5. Immobilisasi yang lama dan paralisis ekstremitas.
 6. Obat-obatan konstrasepsi oral
 7. Obesitas dan varices
 8. Proses keganasan
Manifestasi klinis

 Trombosis vena terutama mengenai vena-vena di daerah tungkai antara


lain vena tungkai superfisialis, vena dalam di daerah betis atau lebih
proksimal seperti vena poplitea, vena femoralis dan viliaca. Sedangkan
vena-vena di bagian tubuh yang lain relatif jarang di kenai.
diagnosis

 Ada 3 jenis pemeriksaan yang akurat, yang dapat menegakkan diagnosis


trombosis vena dalam, yaitu:
 Venografi
 Flestimografi impendans
 Ultra sonografi (USG) Doppler
penatalaksanaan

 Pemberian Heparin standar


 Heparin 5000 ini bolus (80 iu/KgBB), bolus dilanjutkan dengan drips konsitnus 1000 – 1400
iu/jam (18 iu/KgBB), drips selanjutnya tergantung hasil APTT. 6 jam kemudian di periksa APTT
untuk menentukan dosis dengan target 1,5 – 2,5 kontrol.
 Bila APTT 1,5 – 2,5 x kontrol dosis tetap.
 Bila APTT < 1,5 x kontrol dosis dinaikkan 100 – 150 iu/jam.
 Bila APTT > 2,5 x kontrol dosis diturunkan 100 iu/jam.
 Penyesuaian dosis untuk mencapai target dilakukan pada hari ke 1 tiap 6 jam, hari ke 2
tiap 2 - 4 jam. Hal ini di lakukan karena biasanya pada 6 jam pertama hanya 38% yang
mencapai nilai target dan sesudah dari ke 1 baru 84%.
 Heparin dapat diberikan 7–10 hari yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian
heparin dosis rendah yaitu 5000 iu/subkutan, 2 kali sehari atau pemberian anti koagulan
oral, selama minimal 3 bulan.
 Pemberian anti koagulan oral harus diberikan 48 jam sebelum rencana penghentian
heparin karena anti koagulan orang efektif sesudah 48 jam.
 Pemberian Low Milecular Weight Heparin (LMWH)
 Pemberian obat ini lebih di sukai dari heparin karena tidak memerlukan
pemantauan yang ketat, sayangnya harganya relatif mahal dibandingkan
heparin. Saat ini preparat yang tersedia di Indonesia adalah Enoxaparin
(Lovenox) dan (Nandroparin Fraxiparin). Pada pemberian heparin standar
maupun LMWH bisa terjadi efek samping yang cukup serius yaitu Heparin
Induced Thormbocytopenia (HIT).

 Pemberian Oral Anti koagulan oral
 Obat yang biasa di pakai adalah Warfarin Cara. Pemberian Warfarin di
mulai dengan dosis 6 – 8 mg (single dose) pada malam hari. Dosis dapat
dinaikan atau di kurangi tergantung dari hasil INR (International Normolized
Ratio). Target INR : adalah 2,0 – 3,0
kesimpulan

 Dalam kasus, pasien adalah seorang perempuan usia 45 tahun. Dengan


berbagai gejala klinis dan hasil dari pemeriksaan yang didapatkan,
keterangan ini merupakan salah satu fakta pendukung DVT. pasien datang
ke IGD dengan keluhan nyeri kedua kaki sejak 4 hari yang lalu. Nyeri
dirasakan semakin memberat sejak 2 hari terakhir. Nyeri lebih dominan
pada kaki kiri. Kesemutan (+). Pasien juga merasa kedua kaki lemas.
Merasa akan jatuh saat berjalan. Riwayat keluhan yang sama
sebelumnya(+). Sesak (-), nyeri dada (-), berdebar (-), riwayat sesak (+),
riwayat HT (+).
Terimakasih