You are on page 1of 34

Modul 1

Kelumpuhan
Tutor : dr. Prabowo
Ahmad Abqari 2012730115
Egy Herliansyah 2012730124
Fanny Nur Latifah 2012730125
Febridayanti Nur F 2012730126
Grisel Nandecya 2012730129
Ilhami Muttaqin 2012730133
Rini Astin Triana 2012730150
Rizka Sekar kinasih 2012730154
Sabrina Putri Dewanti 2012730155
Skenario Pertanyaan
Kata / Kalimat Kunci
Kata / Kalimat Sulit
•Anak laki-laki berusia 3 tahun Tidak Ditemukan
1. jelaskan definisi, klasifikasi dan penyakit2 dari kelumpuhan
•Tidak
Seorang bisa
anak
2. jelaskan
berjalan
laki-laki
struktur
dan
berusia
anatomi
berdiri sejak
yang3berhubungan
tahun 2dgn
dibawa hariibunya
yang ke
kelumpuhan
Puskesmas
anggotakarena
gerak tidak bisa lalu
berdiri dan berjalan sejak dua
3. yang
hari •Sebelumnya
jelaskan fisiologi
lalu. mengalami
sistem
Sebelumnya saraf daridemam
anak tinggi dan
kelumpuhan
itu mengalami demam
4. jelaskan
tinggi sekali,histologi
berkurang
sudah dari sistem
diberi setelahsarafdiberi
penurun dari kelumpuhan
panas,obatdan demamnya
5. jelaskan
•Anakpenyebab
rewel, refleks tendon
muntah menurun
saturewel, serta
kali, sulit anak tidak bs
makan
sekarang sudah berkurang. Anak muntah
berdiri dan berjalan dengan gejala pd skenario ( demam, rewel,
satu kali,
•Sejak demam
sulit makan. Sejak
muntah, sulit
hanya terbaring
demam,
makan) anak hanya di tempat
terbaring tidur
di tempat
tidur, setiapkali
setiap
6. bagaimana kali anak
akan
alur bangun
bangun
diagnosis dantempat
daridari berjalan
kelumpuhan selalu
tidur dan
7. jelaskan
berjalan diagnosis
selalu terjatuh. terjatuh
differential
Dari 1 pemeriksaan fisik
hasil
•Pemeriksaan
8. jelaskan
didapatkan diagnosis
suhu tubuhdifferential
fisik : 37,5 2˚ tonsil
37,5C, C , tonsil hiperemis,
hiperemis, reflex
9. jelaskan diagnosis differential 3
tendon menurun.reflex tendon menurun
Definisi dan Klasifikasi
Lumpuh
kehilangan atau gangguan fungsi motorik pada suatu
Lumpuh bagian tubuh akibat lesi pada mekanisme saraf atau
otot.

Kelumpuhan yang spastik


(kaku)
Upper Motor
- Hiperrefleks
Neuron
- Hipertonus/spastisitas
- kelemahan
- Disuse atrofi
Klasifikasi
Kelumpuhan yang flaksid
(lemas)
- Kelemahan
Lower Motor - Atrofi otot
Neuron - Flaksid/ hipotonus
- Hiporefleks/arefleks
Macam-Macam Kelumpuhan
Hemiplegia
Kekuatan otot yang hilang sama sekali pada separuh tubuh.
Kekuatan otot yang berkurang pada separuh tubuh.
Hemiparesis

Monoplegia Kekuatan otot yang hilang sama sekali pada satu anggota
tubuh.
Monoparesis Kekuatan otot yang berkurang pada satu anggota tubuh.

Paraplegia Kekuatan otot yang hilang sama sekali pada kedua anggota
bawah.
Parapareis Kekuatan otot yang berkurang pada kedua anggota bawah.

Tetraplegia Kekuatan otot yang hilang sama sekali pada keempat anggota
tubuh.
Tetraparesis Kekuatan otot yang berkurang pada keempat anggota tubuh.
Definisi Etiologi Gejala klinis
Ensefalitis infeksi jaringan otak oleh bakteri, suhu mendadak naik, kesadaran
berbagai macam mikro- protozoa, cacing, cepat menurun, nyeri kepala,
organisme jamur, virus. muntah, kejang, paresis

Meningitis suatu sindrom infeksi virus virus panas dan nyeri kepala yang
Virus susunan saraf pusat yang akut mendadak yang disertai dengan
dengan gejala rangsang kuduk kaku , nyeri tenggorok ,
meningeal, pleositosis dalam nausea,muntah, kesadaran
likuor serebrospinalis dengan menurun, nyeri pada kuduk dan
diferensiasi terutama limfosit, punggung, fotofobia, parestesia,
myalgia.

Poliomielitis penyakit menular akut yang Virus Asimtomatis: masa inkubasi 7-10
disebabkan oleh virus dengan hari
predileksi pada sel anterior Poliomielitis abortif: malaise,
masa kelabu sumsum tulang anoreksia, nausea, muntah, nyeri
belakang dan inti motoric kepala, nyeri tenggorok, konstipasi,
batang otak dan akibat nyeri abdomen
kerusakan bagian susunan saraf Poliomielitis non-paralitik: gejala
pusat tersebut akan terjadi sama dengan poliomielitis abortif
kelumpuhan dan atrofi otot. Poliomielitis paralitik: GK pada
PNP+kelemahan satu atau lebih otot
skelet
Definisi Etiologi Gejala klinis

Sindrom polineuropati yang Virus didahului demam atau penyakit


Guillain-Barre menyeluruh, dapat imunologik tr.respiratorius bagian atas,
berlangsung akut atau subakut, kemudian kelumpuhan
mungkin terjadi spontan atau
sesudah suatu infeksi
Hemiplegia Kelumpuhan setengah badan Trauma, infeksi Disertai kejang: suhu mendadak
Infantil Akut pada bayi atau anak sehat, virus dan tinggi, kejang, kesadaran menurun,
akibat bermacam sebab. bakteri, penyakit lumpuh setengah badan
sistemik, status Tanpa kejang: hemiplegia mendadak,
epileptikus kesadaran baik, sifat kelumpuhan
sama dengan yang disertai kejang
Radang selaput otak Kuman jenis Gejala infeksi akut: lesu, panas,
Meningitis (araknoidea dan piamater) Pneumococcus, muntah, anoreksia, sakit kepala,
Purulenta yang menimbulkan eksudasi Hemophilus peteki
berupa pus disebabkan oleh infulenza, Gejala tekanan intrakranial yang
kuman non spesifik Staphylococcus, meninggi: muntah, sakit kepala,
Streptococcus, tangis yang merintih, kesadaran
E.coli, menurun, ubun-ubun menonjol,
Meningococcus kejang, paresis
dan Salmonella Gejala rangsangan meningeal: kaku
kuduk, sakit di leher dan punggung.
Anatomi neuron

Dendrit : Sebagai receiver impuls dari aferen

Axon : Sebagai penghantar keluar dari badan sel


Fisiologi UMN (Upper Motor Neuron)

di dalam korteks menyilang ke sisi


pada sisi yang kapsul internal berlawanan di
berlawanan di otak dalam batang otak

traktus
sinaps LMN
kortikospinal
Fisiologi LMN (Lower Motor Neuron)

ujung saraf
impuls
posterior

sambungan
otot.
mioneural
Histologi sistem saraf
• SSP : Otak Besar dan Medulla Spinalis
Otak Besar (Cerebrum) Otak Kecil (Cerebellum) Medulla Spinalis

LapisanMolekular LapisanMolekular Substansia Alba

Lapisan Granular Luar Lapisan Purkinje SubstansiaGrisea

LapisanPiramidLuar Lapisan Granular Kornu Anterior

Lapisan Granular Dalam Kornu Posterior

LapisanPiramidalDalam KenalisSentralis

LapisanSel Multiform
HISTOLOGI SISTEM SARAF TEPI
Komponen utama sistem saraf tepi:

Serabutsaraf Ganglia Ujung saraf

Endorium Ganglia crania Ujung sarafaferen

Perineurium Ganglia spinalis Ujung sarafeferen

Epineurium Ganglia otonom


Mekanisme Antar Gejala
Demam

Agen Infeksi Mulut


Barrier 1
Respon Imun
Saluran Tonsil
Cerna
Sirkulasi Iritasi sal.
darah Cerna Permeabilita
s kapiler
Sistem saraf Muntah
pusat Tonsil
Hiperemis

Lumpuh Reflleks
tendon
menurun
Sulit makan
Alur Diagnosis
Anamnesis Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan
• Lokasi kelumpuhan • MMT (Manual
• Onset: Akut, Sub akut, Muscle Testing) Penunjang
kronik • Peningkatan tonus • Pemeriksaan
• Adakah riwayat atau kelemahan
infeksi? ekstremitas? Liquor
• Adakah riwayat • Refleks tendon? Serebrospinal
trauma? • Tampilan otot? • Pemeriksaan
• Gangguan sensoris? • Sensabilitas radiologi: CT Scan
• Gangguan penyerta (dermatom)
lain; nyeri, kaku sendi? • Pastikan tidak ada & MRI
• Progresifitas kelainan sensoris • Elektroensefalogr
• Psikologis yang signfikan.
afi (EEG)
• Terapi apa yang
pernah dicoba?
Tipe-Tipe Kelumpuhan
Upper Motor Lowen Motor
Neuron Neuron
Gangguan
Ekstrapiramidal
Otot

Pola Kelemahan Kelemahan Tidak betul- Menyeluruh,


kelemahan tidak jelas, makin ke betul kehilangan makin
sempurna, distal makin kekuatan otot, proksimal
mempengaru berat melainkan makin berat
hi gerakan kegagalan dan biasanya
motorik kasar integritasi simetris.
antara otot
agonis dan
antagonis
Tonus Hipertonus/ Hipotonus/ Rigiditas Normal/hipoto
spastisitas flaccid nus

Refleks Hiperrefleks Hiporefleks/ Normal Normal


Arefleks

Tampilan Atrofi otot Disuse atrofi Normal Normal/atrofi


otot
Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga
Poliomielitis
• Poliomelitis atau infantile paralysis, lebih dikenal
dengan sebutan polio, adalah kelainan yang
disebabkan infeksi virus (poliovirus) yang dapat
mempengaruhi seluruh tubuh, termasuk otot dan
saraf. Kasus yang berat dapat menyebabkan
kelumpuhan bahkan kematian.
• Polio adalah virus gastrointestinal yang menyebabkan
demam, muntah dan kekejangan otot, serta dapat
merusak sistem saaraf dan menyebabkan kelumpuhan
permanen. Polio juga dapat menyebabkan kelumpuhan
pada sistem pernapasan dan otot-otot untuk menelan,
sehingga dapat berakhir pada kematian
Epidemiologi
• Di Indonesia perkembangan polio sejak
ditemukannya kasus polio pertama Maret 2005
lalu setelah 10 tahun (1995-2005) tidak
ditemukannya lagi kasus polio. Namun penyakit
polio ini kembali mewabah di Indonesia tahun
2005. Hingga tanggal 21 november 2005,
ditemukan 295 kasus polio yang terdapat di 40
kabupaten dari 10 propinsi yakni Banten, Jawa
Barat, Lampung, Jawa Tengah, sumut, Jawa
Timur, Sumatera Selatan, DKI, Riau, dan Aceh.
Etiologi
• Virus poliomielitis tergolong dalam genus enterovirus
dan famili picornaviridae, mempunyai 3 strain yaitu
tipe 1 (Brunhilde), tipe 2 (Lansing) dan tipe 3 (Leon).
Infeksi dapat terjadi oleh satu atau lebih dari tipe virus
tersebut. Pada sebagian besar kasus dan ganas
biasanya disebabkan oleh virus tipe 1. Imunitas yang
diperoleh setelah terinfeksi maupun imunisasi bersifat
seumur hidup dari spesifik untuk satu tipe.
• Penyebaran infeksi virus polio terjadi secara fekal oral
dan pernafasan. Transmisi perinatal bisa terjadi dari ibu
kepada bayinya. Faktor predisposisi virus polio
tergantung pada status imunitas, neurovirulensi virus
dan faktor host.
Patogenesis

Virus masuk melalui  mulut atau hidung 


berkembang biak dalam traktus digestivus, kelenjar
getah bening regional dan RES

Masa inkubasi 4 – 35 hari

Timbulnya gejala tergantung imunitas


dan virulensi virus
PATOGENESIS
• Daerah yang biasa terkena adalah :
Batang Otak pada nucleus
Medula Spinalis vestibularis dan inti saraf Serebelum
terutama kornu cranial serta formasio terutama inti-inti
retikularis yang
anterior mengandung pusat vital
virmis

Midbrain terutama
substansia nigra Talamus dan
dan kadang nucleus hipotalamus Palidum
rubra

Korteks serebri
hanya daerah
motorik
Gambaran Klinis
Jenis Polio
• Timbul mendadak langsung beberapa jam sampai bbrp hari
Polio • Gejala : malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan,
abortif konstipasi,nyeri abdomen

• Gejala hampir sama dengan polio abortif , timbul 1-2 hari yaitu : demam, muntah, saki
perut, lesu dan sensitif.
Polio Non-
paralitik • Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh

• Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas kondisi ini disebut acute flaccid
paralysis (AFP)
Polio
Paralitik • Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh
Spinal dan otot pada toraks (dada) dan abdomen (perut), disebut quadriplegia

• Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak
Polio ikut terserang
Bulbar • dapat mengenai otot pernapasan dan menyebabkan kematian
Pemeriksaan Polio
Bayi
• Perhatikan posisi tidur. Bayi normal menunjukkan
posisi tungkai menekuk pada lutut dan pinggul. Bayi
yang lumpuh akan menunjukkan tungkai lemas dan
lutut menyentuh tempat tidur.
• Lakukan rangsangan dengan menggelitik atau menekan
dengan ujung pensil pada telapak kaki bayi. Bila kaki
ditarik berarti tidak terjadi kelumpuhan.
• Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan. Bayi normal
akan menunjukkan gerakan kaki menekuk, pada bayi
lumpuh tungkai tergantung lemas
Pemeriksaan Polio
Anak
• Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah pincang
atau tidak.
• Mintalah anak berjalan pada ujung jari atau tumit. Anak
yang mengalami kelumpuhan tidak bisa melakukannya.
• Mintalah anak meloncat pada satu kaki. Anak yang lumpuh
tak bisa melakukannya.
• Mintalah anak berjongkok atau duduk di lantai kemudian
bangun kembali. Anak yang mengalami kelumpuhan akan
mencoba berdiri dengan berpegangan merambat pada
tungkainya.
• Tungkai yang mengalami lumpuh pasti lebih kecil.
Pemeriksaan Penunjang
• Viral Isolation
• Uji Serology
• CSF (Cerebro Spinal Fluid)
Pengobatan
• Infeksi abortif : istirahat sampai beberapa hari setelah temperatur
normal. Kalau perlu dapat diberikan analgetik, sedatif. Jangan melakukan
aktivitas selama 2 minggu. 2 bulan kemudian dilakukan pemeriksaan
neuro-muskuloskeletal untuk mengetahui adanya kelainan.
• Non paralitik : sama dengan tipe abortif. Pemberian analgetik sangat
efektip bila diberikan bersamaan dengan pambalut hangat selama 15-30
menit setiap 2-4 jam dan kadang-kadang mandi air panas juga dapat
membentu. Sebaiknya diberikan foot board, papan penahan pada telapak
kaki, yaitu agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai.
Fisioterapi dilakukan 3-4 hari setelah demam hilang. Fisioterapi bukan
mencegah atrofi otot yang timbul sebagai akibat denervasi sel kornu
anterior, tetapi dapat mengurangi deformitas yang terjadi.
• Paralitik : harus di rawat di rumah sakit karena sewaktu-waktu dapat
terjadi paralisis pernafasan, dan untuk ini harus diberikan pernafasan
mekanis. Bila rasa sakit telah hilang dapat dilakukan fisioterapi pasip
dengan menggerakkan kaki/tangan. Jika terjadi paralisis kandung kemih
makan diberikan stimulan parasimpatetik seperti bethanechol
(Urecholine) 5-10 mg oral atau 2.5-5 mg/SK
Guillain Barre Syndrome

definisi Etiologi & Epidemiologi

penyakit yang menyerang Epidemiologi penyakit ini 1,11 per


100.000 orang/tahun dan lebih sering
sistem syaraf perifer. Penyakit menyerang anak-anak di atas 2 tahun.
ini termasuk salah satu 30% Penderita GBS juga mengalami
penyakit autoimun. Respon ini infeksi dari Campylobacter jejuni dan
dapat dipicu oleh imunisasi, 10% terkena infeksi CMV. Infeksi lain
infeksi, atau operasi. yang biasa timbul dengan GBS adalah
Virus Varicella-zoster, dan Mycoplasma
pneumoniae.
Alur Diagnosis
Anamnesis Pemeriksaan fisik Pemeriksaan penunjang

- Rasa baal di kedua tungkai,


lengan dan wajah -hilangnya refleks -Pemeriksaan cairan otak
-Lemas otot sampai lumpuh pada -anggota badan lemas -Pemeriksaan EMG
kedua tungkai dan lengan -Pemeriksaan NCV (Nerve
-Nyeri pinggang Conducton Velocity test)
Pada kasus lebih parah akan
disertai :
-Gangguan gerak bola mata
-Gangguan bicara
-Gangguan mengunjah dan
menelan
-Gangguan buang air besar dan
buang air kecil
-Gangguan pernafasan
Komplikasi Tatalaksana Prognosis

80 % penderita Guillain-
-Kegagalan bernafas -Plasmaferesis (cuci darah)
Barre Syndrome akan
akibat kelumpuhan otot- -IVIG (pemberian zat anti
sembuh sempurna
otot pernafasan intra vena
walaupun memerlukan
-Gangguan irama dan -Obat penghilang nyeri
waktu beberapa minggu,
kegagalan fungsi jantung -Fisioterapi
bulan hingga tahun.
-Hipotensi
Sebagian akan sembuh
-Kematian
dengan cacat berupa lemas,
kelumpuhan dan gangguan
keseimbangan.
Definisi infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme terjadi
peradangan jaringan otak yang dapat mengenai selaput pembungkus
otak dan medula spinalis.

Etiologi Bakteri (Staphylococcus aureus, Streptococus, E.Colli, Mycobacterium,


dan T.Pallidium), virus {virus RNA (Virus Parotitis), virus morbili, virus
rabies, virus Rubela, virus dengue, virus polio, herpes zoster, herpes
simpleks, dan varicella}

Gejala Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia, Kesadaran


dengan cepat menurun, Muntah, Kejang-kejang, paresis atau paralisis,
Perubahan perilaku, Gelisah, Hemiparesis dengan asimetri refleks tendon

Pemeriksaan Lumbal pungsi (pemeriksaan CSS), Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/


penunjang urin, CT Scan/ MRI
Penatalaksanaan •Isolasi bertujuan mengurangi stimulus/rangsangan dari luar dan sebagai tindakan
pencegahan.
• Terapi antimikroba, sesuai hasil kultur Obat yang mungkin dianjurkan oleh dokter :
a. Ampicillin : 200 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis
b. Kemicetin : 100 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis
c. virus (HSV) : Acyclovir diberikan secara intravena dengan dosis 30 mg/kgBB per
hari dan dilanjutkan selama 10-14 hari untuk mencegah kekambuhan (Victor, 2001).

Komplikasi Retardasi mental, Gangguan motorik, Epilepsi, Emosi tidak stabil, Sulit tidur,
Halusinasi

Prognosis Angka kematian masih tinggi berkisar antara 35 – 50%