You are on page 1of 43

PEMERIKSAAN UNTUK

DIAGNOSIS NEOPLASMA
JINAK/ GANAS

Oleh:
Dr. Gunawan Arsyadi, SpPF, SpPA
BEBERAPA TEKNIK PATOLOGI
ANATOMIK:
• HISTOPATOLOGI RUTIN
• POTONG BEKU (Frozen section)
• HISTOKIMIA
• SITOPATOLOGI / SITOKIMIA /
IMUNOSITOLOGI
• IMUNOHISTOKIMIA /
IMUNOFLUORISENSI
• INSITU HIBRIDISASI
• MIKROSKOP ELEKTRON
TEKNIK
HISTOPATOLOGI
RUTIN
I. PEMERIKSAAN JARINGAN

• Blok Parafin
• Frozen Section
Langkah – langkah umum
teknik Histopatologi
• Fiksasi jaringan
• Pemilihan sampel / semua bahan
dicetak
• Pengolahan sampel / jaringan ( mesin /
manual )
• Embedding
• Trimming dan ribboning
• Pulasan jaringan
FIKSASI JARINGAN
• Pengawetan jaringan agar
substansi jaringan tetap seperti
keadaan semula ( bentuk maupun
lokalisasi zat kimia yg ada dlm
jaringan tersebut )
• Mencegah pembusukan jaringan
• Fiksasi merupakan langkah yg
sangat penting
• Prinsip Fiksasi :
– Stabilisasi protein : denaturasi tanpa
degradasi
• Tujuan Fiksasi :
– Mempertahankan unsur dlm jaringan
tanpa bereaksi dgn unsur tsb
– Tidak melarutkan unsur tsb
– Memelihara susunan morfologi mendekati
keadaan waktu jaringan masih hidup
– Tidak bereaksi dengan zat pulasan yang
akan dipakai selanjutnya
FIKSASI RUTIN DGN FORMALDEHID
4% (FORMALIN 10%)
• Formalin memberi hasil optimal tapi bukan
yang terbaik (dapat terjadi beberapa
artefak dalam jaringan)
• Kualitas / Mutu
Dipengaruhi oleh suhu dan lama fiksasi
Jaringan harus terendam secara keseluruhan
Jaringan besar di “ slice “ dgn syarat tidak
mengganggu orientasi anatomik organ
Modifikasi dengan buffer dengan NaH2(PO4)3
& Na2H(PO4)3 shg didapat ph netral (7,0)
• Kuantitas / Jumlah
Jumlah Cairan 10 –20 kali volume jaringan
Berdasarkan cara kerjanya
fiksator dibagi dalam :
– Fiksator Golongan Koagulan
Formaldehida, K2CrO4, CH3COOH,
OsO4
– Fiksator Golongan Non-koagulan
C2H5OH (etanol / etil alkohol), Hg Cl2,
Aseton
 Pemilihan tergantung tujuan
pemeriksaan
BAHAN FIKSASI
I. Jaringan untuk blok parafin
A. 10 % unbuffered formalin
10 ml 37 – 40 % larutan formaldehid dalam
90 ml aqua destilata
B. 10 % buffered neutral formalin
10 ml 37 – 40 % larutan formaldehid dalam
90 ml aqua detilata, ditambah dengan 4 grm.
Sodium fosfat monobasic ditambah 5 grm
sodium fosfat dibasic
SITOPATOLOGI
• Eksfoliatif
– Sputum, urine, cairan efusi, nipple
discharge
• Non Eksfoliatif
– FNAB, Pap smear
– Sikatan Brochus
II. SITOLOGI
• Sitologi Cairan
- Cairan Pleura
- Cairan asites
- Urine
- Liquor cerebrospinalis
• Sikatan/ Bilasan bronchus
• Biopsi aspirasi jarum halus
• Sputum
• Sitologi alat kelamin wanita (Pap’s Smear)
BAHAN FIKSASI
II. Sitologi
1. Cairan tubuh
50 ml – 100 ml cairan tubuh ditambah
50 – 100 cc alkohol 50%
2. Sputum
Alkohol 70 %
3. Pap’s smear
Alkohol 95 %
Alkohol – eter sama banyak
Hairspray
BIOPSI JARUM HALUS
• Teknik pengambilan bahan
pemeriksaan selluler dengan atau tanpa
aspirasi aktif
• Biopsi jarum halus tanpa aspirator
memakai daya hisap kapiler
• Biopsi Aspirasi jarum halus memakai
tekanan negatif semprit
• Bahan berupa aspirat mengandung
sejumlah sel
• Sampel sel yang terambil harus sesuai
dgn kondisi lesi (representatif)
Biopsi Aspirasi Jarum Halus
• Keuntungan
1. Relatif tidak sakit
2. Hasil lebih cepat
3. Murah
4. Akurasi cukup tinggi
Biopsi Aspirasi Jarum Halus
• Kerugian
1. Perdarahan terutama pada organ – organ
dalam seperti hati, prostat, dsb. (jaringan)
2. Inplantasi sel – sel tumor ?
Jangan memakai jarum dgn ukuran yang
besar (No. 20)
3. Belum dapat mengganti pemeriksaan
histopathology
Teknik pemeriksaan biopsi aspirasi
jarum halus
• Bahan – bahan yang diperlukan
1. Jarum (No. 23 - 25)
2. Disposable syringe
3. Syringe holder
4. Slide
5. Bahan fiksasi: Ethanol 70 – 90 %
Teknik Biopsi Aspirasi

• Bila biopsi jarum halus kurang


berhasil dilakukan tindakan dgn
aspirasi aktif
– Memakai semprit 3 - 5 cc untuk
memudahkan manuver
– Apabila memerlukan tenaga lebih
kuat dapat dipakai semprit 10 – 20
cc dan dengan bantuan pistol
aspirator
Intepretasi diagnosis BAJAH
• Positif : sediaan mengandung sel tumor
ganas/ pola keganasan
• Mencurigakan keganasan : Sediaan
menunjukkan sel dgn banyak ciri yg sesuai
keganasan namun belum lengkap
• Sel atipik : Perubahan ringan ciri sel,
dilaporkan juga dalam jawaban sbg
Inkonklusif
Intepretasi diagnosis BAJAH
• Lesi Jinak : Aspirat mengandung sel
yang memadai dengan ciri sel yang
tidak menunjukkan ganas
– Dikombinasi dgn klinis dan pemeriksaan
penunjang lainnya
• Tidak representatif : Aspirat dgn
kondisi yg tidak dapat ditafsirkan
Sitologi Ginekologik

• Disebut juga apusan Pap yaitu ilmu yang


mempelajari sel – sel yang lepas dari
sistem kandungan wanita yang meliputi
sel – sel yang berasal dari vagina, serviks,
endoserviks dan endometrium.
FIKSASI SEDIAAN APUSAN PAP
1.Alkohol 95 %
2.Alkohol Aither dengan perbandingan 1 : 1
3.Hairspray

Sediaan yang masih basah harus segera di


fiksasi. Jangan tunggu sampai sediaan
menjadi kering.
KEGUNAAN DIAGNOSTIK
APUSAN PAP

1. Evaluasi Sitohormonal
2. Peradangan
3. Diagnose kelainan – kelainan pra-kanker
(Displasia) serviks, karsinoma insitu dan
invasif
4. Untuk follow up hasil pengobatan
CARA MENGAMBIL BAHAN SEDIAAN
APUSAN PAP
Diperlukan :
1. Spatula Ayre
2. Cytobrush
3. Sapu endometrium
Pemeriksaan Sitologi Sputum
• Pengumpulan bahan dgn cara tertentu/
Cara pengambilan yg representatif
• Menghapuskan bahan pada kaca benda
• Fiksasi basah dgn etanol 70 % / fiksasi
kering
• Pewarnaan dgn MGG (Kering) / Pap
stain (Basah)
Langkah – langkah umum
teknik Sitopatologi
• Pengambilan / collecting sampel
tergantung jenis spesimen yg akan
diperiksa
• Beberapa perlakuan terhadap spesimen
– Sentrifugasi, cytospin
– Pembuatan sel blok
• Fiksasi spesimen
• Pulasan spesimen rutin (Pap Stain atau
Romanovsky-Giemsa)
Pemeriksaan Sitologi Cairan

• Tidak langsung misalnya pada cairan


efusi atau urine
• Pengiriman bahan hrs segera
– sel akan lisis jika ditunda, bila tersedia alat
pemusing sangat diharapkan sentrifugasi di
tempat pengambilan
• Fiksasi dgn Alkohol 50 % aa
• Akan lebih baik jika pemrosesan
dilakukan dengan pemusing Cytospin
• Pulasan dengan PAP Stain / MGG
IMMUNOSITOPATOLOGI
• Pemeriksaan sel tidak hanya
berdasarkan sitomorfologik
• Untuk meningkatkan ketepatan
diagnostik dapat dilakukan pulasan
sitokimia maupun imunositokimia
• Imunositokimia a.l dpt dilakukan dgn
mendeteksi petanda tumor