You are on page 1of 41

KONJUGASI

Kelompok 3

Andre Sonanda Fitria


Dilla Aprila Nanda Lidya Annisa
Fakhriyah Aulia Putri Lestari
Fathullah Dhya Mutiara

Dosen Pengampu: Meiriza Djohari, M.Farm,Apt


KONJUGASI
DEFINISI IMUNISASI
KLASIFIKASI IMUNISASI
VAKSIN
JENIS-JENIS VAKSIN
VAKSIN KONJUGASI
REAGEN
1. DEFINISI KONJUGASI

Konjugasi (Crosslinking) merupakan suatu proses kimia untuk


menggabungkan dua atau lebih molekul dengan suatu ikatan kovalen
(Hayworth, 2014.)
Konjugasi antara suatu molekul sintetik dengan suatu protein memiliki peranan
yang besar dalam dunia kesehatan, misal pada pengembangan suatu agen terapi
berbasis protein dengan menggabungkan suatu polimer atau suatu molekul obat
pada protein.

Tujuan dari konjugasi ini adalah untuk menaikkan sifat farmakokinetik


dari komponen terapinya.
Sistem konjugasi dapat diaplikasikan untuk membuat suatu sistem
termodifikasi berbasis protein yg berfungsi untuk deteksi, assay
tracking atau mentarget suatu molekul biologi

Dari banyak jenis sekuen asam amino protein, hanya beberapa gugus
fungsional saja yang menjadi target dalam konjugasi, diantaranya
adalah amina primer (-NH2), karboksilat (-COOH), sulfidril (-SH) dan
karbonil (-CHO).
Gugus reaktif dari crosslinker telah dikarakterisasi dan digunakan untuk
melabel suatu ligand, protein, peptida, karbohidrat, polimer sintesis, dan
lain-lain.

Crosslinker dengan dua gugus Mengkombinasikan gugus reaktif


reaktif yang berbeda dapat yang berbeda tersebut dengan
disintesis menjadi satu bagian suatu molekul.

‘back bone’
( spacer arms)
1. DEFINISI IMUNISASI
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013,
Menyatakan bahwa imunisasi adalah suatu upaya untuk
menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu
penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan
sakit atau hanya mengalami sakit ringan.
Imunisasi atau sering disebut juga dengan vaksinasi, merupakan suatu cara
untuk meningkatkan imunitas seseorang terhadapn invasi mikroorganisme
patogen atau toksin (Radji, 2010).
2. KLASIFIKASI IMUNISASI

Imunisasi Aktif Imunisasi Pasif


Imunisasi aktif adalah pemberian zat
sebagai antigen yang diharapkan akan
terjadi suatu proses infeksi buatan Imunisasi pasif adalah penyuntikan
sehingga tubuh mengalami reaksi sejumlah antibodi sehingga kadar
imunologi spesifik yang akan antibodi dalam tubuh meningkat.
menghasilkan respon seluler dan
humoral serta dihasilkan cell
memory,
Imunisasi dapat terjadi secara alamiah dan
buatan dimana masing masing dapat diperoleh
secara aktif maupun pasif (Radji, 2010)

Imunisasi Aktif Imunisasi Pasif

Diberikan vaksin hidup / dilemahkan /


yang dimatikan.
1) Imunisasi Pasif Alamiah
 Imunisasi BCG, DPT, polio
- Imunisasi maternal melalui plasenta
 Imunisasi campak
- Imunisasi maternal melalui colostrum
 Imunisasi hepatitis B
 Imunisasi MMR
2) Imusasi Pasif Buatan
 Imunisasi tifoid
- Immune Serum Globulin (ISG)
 Imunisasi Hib
- Globulin manusia yg spesifik
 Imunisasi hepatitis A
 Imunisasi cacar air
 Imunisasi influenza
3. VAKSIN
VACCINIA (CACAR SAPI)

VACCA (SAPI)

Vaksin adalah suatu suspensi mikroorganisme atau substansi mikroorganisme


yang digunakan untuk menginduksi sistem imunitas.
Pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk
membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit
yang dapat dicegah dengan vaksin. (Peakmen, Mark , 2009)
NEXT…
Vaksin mengandung sejumlah kecil agen yg
menyerupai mikroorganisme tertentu.
• Agen akan menstimulir sistem imun tubuh untuk
mengenal agen asing tersebut, membunuhnya , dan
mengingatnya,
• Sehingga bila ada agen yg sama tersebut masuk
kedalam tubuh dengan mudah akan dibunuhnya
NEXT… JENIS
VAKSIN

BERDASARKAN
SUMBERNYA

Mikroorganisme Mikroorganisme
Mati yang dilemahkan
Anti-Idiotipe
NEXT… A. Mikroorganisme Mati

Cara yang paling sederhana untuk merusak


kemampuan mikroba membuat sakit inang, tetapi tetap
antigenik, yaitu dengan mencegah perbanyakannya melalui
pembunuhan dengan cara tertentu.
Contoh untuk vaksin yang mengandung organisme
mati: tifoid (dicampur dengan paratyphoid A dan B), kolera
dan virus poliomyelitis.
NEXT…
B. Organisme Yang Dilemahkan

Tujuan melemahkan organisme yaitu untuk


memodifikasi organisme agar bertingkah laku
tetap alami seperti organisme asli tanpa
menyebabkan sakit yang berarti.
NEXT… C. Anti-Idiotipe

Idiotipe ini terdapat pada daerah Fab sehingga


beberapa epitop pada imunoglobulin akan mempunyai
struktur yang merupakan pasangan dari bagian antigen
yang membangkitkan imunoglobulin tersebut. Apabila
idiotipe ini membangkitkan respons humoral, maka
antibodi yang terbentuk (anti-idiotipe) akan mempunyai
struktur Fab yang mirip dengan antigen semula.
Jenis Penyakit Jenis Vaksin
Difteri Toksoid murni dari Diptheria
Meningokokal Polisakarida dari Neisseria meningitidis
Pertusis Bordetella pertussis yang dimatikan
Pneumonia Polisakarida dari Streptococcus pneumoniae
Tetanus Toksoid murni dari tetanus
Meningitis Hib Polisakarida dari Haemophilus influenzae tipe b
Influenza Virus influenza yang dilemahkan
Polio Virus polio yang dimatikan (Salk) atau dilemahkan (Sabin)
Rabies Virus rabies yang dimatikan
Cacar air Virus chikenpox yang dilemahkan
Hepatitis B Fragmen antigenik dari virus hepatitis B
Hepatitis A Virus hepatitis A yang dimatikan
Measles,mumps,rubella Terdiri dari virus measles,mumps,rubelle yang dilemahkan
JENIS VAKSIN BERDASARKAN CARA PEMBUATANNYA :

VAKSIN HIDUP

VAKSIN MATI

TOKSOID
VAKSIN SUB UNIT

VAKSIN DNA
Jenis vaksin ini mengandung mikroorganisme yang
sudah dilemahkan sehingga tidak bersifat virulen. Vaksin
A. Vaksin hidup hidup ini menyerupai mikroorganisme aslinya pada saat
(live attenuated menimbulkan infeksi.
vacine) Contoh vaksin yang mengandung virus yang
dilemahkan antara lain adalah vaksin polio (Sabin),
vaksin measles,mumps, dan rubella (MMR).
KELEBIHAN DAN KELEMAHAN VAKSIN HIDUP

KELEBIHAN KEKURANGAN
1. Kekebalan tubuh berlangsung dalam waktu yang lebih 1. Kemungkinan dapat terjadi mutasi, sehingga kembali
lama. menjadi virulen
2. Biaya produksi vaksin lebih murah 2. Virus yang dilemahkan tidak dapat diberikan pada
3. Lebih cepat dalam menimbulkan respon imun penderita imunodefisiensi
4. Lebih mudah untuk digunakan, misalnya vaksin polio
dan vaksin adenovirus yang digunakan secara oral
B. Vaksin Mati (Killed Vaccine/ Inactiveted Vaccine)

Vaksin ini menggunakan mikroorganisme yang


telah dimatikan, biasanya dengan menggunakan
formalin atau fenol. Beberapa vaksin yang
mengandung mikroorganisme yang dimatikan antara
lain adalah vaksin rabies, vaksin polio (Salk), vaksin
pneumokokus dan vaksin kolera (Radji & Biomed,
2010).
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN VAKSIN MATI

KELEBIHAN KEKURANGAN
1. Dapat memberikan respon imun humoral 1. Memerlukan pengulangan vaksinasi
jika diberikan vaksinasi ulang (booster) (booster)
2. Tidak terjadi mutasi atau reverse menjadi 2. Biaya produksi vaksin mahal
virulen kembali
3. Dapat digunakan untuk penderita
imunodefisiensi
(sumber : vaccine fact book,2012)
C. TOKSOID
Toksoid merupakan toksin yang telah
diinaktifkan atau dimatikan untuk mempertahankan
tubuh dari toksin yang dikeluarkan oleh
mikroorganisme. Toksoid tetanus dan difteri
merupakan vaksin yang telah lama digunakan untuk
imunisasi dasar anak dan bayi.
D. Vaksin SubUnit

Vaksin subunit adalah vaksin yang hanya menggunakan


bagian dari antigen yang terbaik untuk merangsang sistem
imun. Kadang digunakan epitop, bagian spesifik antigen yang
dikenal dan diikat zat anti atau sel T. Oleh karena vaksin subunit
ini hanya mengandung antigen essensial, kemungkinan
terjadinya reaksi yang tidak diinginkan sangat sedikit. Vaksin
subunit dapat mengandung 1-20 antigen atau lebih
(Baratawidjaja & Rengganis,2014).
Ada 3 bentuk umum vaksin sub unit yang digunakan :

1. Vaksin polisakarida
Vaksin polisakarida adalah sub-unit yang inactiveted dengan bentuknya yang unik terdiri
dari atas rantai panjang molekul-molekul gula yang membentuk permukaan kapsul bakteri
tertentu.

2. Vaksin eksotoksin atau toksoid


Vaksin yang dibuat dari beberapa jenis bakteri yang menimbulkan penyakit dengan
memasukkan racun dilemahkan ke dalam aliran darah.

3. Vaksin Peptida
Peptida sintetik adalah vaksin subunit yang hanya mengandung epitop dari antigen
protektif.
F. VAKSIN DNA
Vaksin DNA merupakan vaksin yang mengandung satu gen atau lebih
yang diisolasi dari virus yang mengkode ekspresi dari protein inti virus
atau protein selubung virus.
Keuntungan vaksin DNA dapat merangsang respon imun humoral
melalui pembentukan antibodi juga dapat merangsang imun seluler melalui
aktivasi sel T sehingga dapat memberikan kekebalan terhadap mikroba
patogen intraseluler serta plasmid DNA mudah diproduksi dalam jumlah
yang besar secara ekonomis dalam ewaktu yang lebih cepat.
(sumber : vaccine fact book,2012)
VAKSIN KONJUGASI
Vaksin konjugasi adalah vaksin yang mengandung bakteri kapsul
polisakarida yang bergabung dengan protein untuk meningkatkan
imunogenisitas; Terutama: salah satunya digunakan untuk
mengimunisasi bayi dan anak-anak terhadap penyakit invasif yang
disebabkan oleh bakteri Hib dan mengandung poliakkilkolitik kapsul
polisakarifin fosfat yang terikat ke difteri atau toksoid tetanus atau
protein membran luar dari meningococcus.
VAKSIN KONJUGASI
Vaksin ini dibuat untuk meningkatkan efektivitas vaksin yang
terbuat dari komponen polisakarida selubung mikroorganisme.
Biasanya vaksin ini dikombinasi dengan toxoid difteri sehingga
menghasilkan vaksin yang bersifat polivalen. Contoh vaksin
konjugasi adaalh vaksin DPT dan vaksin MMR (Radji & Biomed,
2010).
Vaksin konjugasi terdiri dari antigen (polisakarida atau oligosakarida) yang
digabungkan secara kimiawi dengan pembawa protein (PC).
Vaksin glycoconjugasi pertama yang digunakan pada manusia adalah
konjugat Haemophilus influenzae tipe b (Hib), yang dilisensikan di AS pada
tahun 1987 dan segera setelah itu dimasukkan ke dalam jadwal imunisasi bayi
di Amerika Serikat. Keberhasilan vaksin konjugasi Hib dalam mengurangi
kejadian penyakit Hib invasif pada masa kanak-kanak telah mempercepat
pengembangan vaksin konjugasi yang dirancang untuk mencegah infeksi oleh
bakteri yang dienkapsulasi lainnya.
Patogen seperti Neisseria meningitidis serogroup C, Streptococcus
pneumoniae dan Hib adalah penyebab utama meningitis pada masa kanak-
kanak serta sindrom infeksi lainnya
Keuntungan utama dari teknologi konjugasi yang digunakan
pada vaksin bakteri, karena pembangkitan yang tergantung
respon imun sel T, secara singkat diuraikan:

a) Perbaikan priming: imunogenik juga di Indonesia bayi dan anak kecil (Ab-
response, predomi dari isotipe IgG1).
b) Kemampuan untuk memunculkan ingatan respon imunogenik (produksi memori
lama B-sel) dan efek penguat pada kontak baru dengan antigen spesifik
(vaksinasi ulang).
c) Kemampuan menuju kematangan afinitas Respon-Ab, dengan konsekuensinya
peningkatan ab - ag fit dan memperbaiki fungsi opsonising
d) Membentuk respon imun mukosa (sekretori IgA dan IgG aktif mukosalnya).
e) Pengurangan gerbong mukosa (prasyarat dari perlindungan kawanan)
Glikoprotein Kojugasi
(T-Dependent)
Vaksin yang dikembangkan untuk melawan bakteri
dengan kapsul polisakarida terbagi menjadi dua
kategori utama:

Vaksin Polisakarida Vaksin Konjugasi


Polisakarida
Vaksin Polisakarida
Polisakarida pada beberapa bakteri membantu tubuh mendeteksi dan
menghancurkannya, jadi vaksin polisakarida biasa dikembangkan untuk
melatih sistem kekebalan tubuh untuk membangun respons kekebalan
terhadap kapsul polisakarida.
Namun Vaksin Ini Juga Memiliki Beberapa
Keterbatasan, Diantaranya:
Sedikit atau hanya berdampak jangka pendek pada bakteri
carrier
Penurunan respon imun setelah pemberian dosis berulang
Kemampuan terbatas untuk melindungi anak di bawah usia 2
tahun.
Vaksin Konjugasi Polisakarida

Vaksin konjugasi polisakarida - atau vaksin konjugasi- dikembangkan


dengan menempelkan antigen polisakarida ke protein pembawa, yang
membantu tubuh mengenali antigen sebagai zat asing yang harus
dihancurkan. Metode ini meningkatkan respon kekebalan tubuh terhadap
vaksin.

Vaksin konjugasi memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:


Perlindungan terhadap bakteri
Mengurangi jumlah penularan
Mampu memberikan respon imun protektif pada bayi
REAGEN
Teknik konjugasi tergantung pada gugus fungsional reaktif
dari reagen crosslinking maupun dari molekul target. Jika salah
satu tidak memiliki gugus reaktif, atau jika keduanya tidak
kompatibel maka reaksi konjugasi tidak akan berhasil
(Hermanson, 1996). Sehingga jika ingin mendapatkan hasil
reaksi yang optimal, perlu dilakukan pemilihan antara reagen
crosslinking dan molekul target yang tepat.
Biokonjugasi adalah penghubung dua biomolekul untuk membentuk yang
ketiga, yaitu bioconjugate, yang mempertahankan sifat masing-masing individu
namun menambah kemampuan yang lebih besar kombinasi.
Dalam diagnostik, ELISA (enzyme-linked immunosorbent assays) paling
banyak metode berbasis konjugasi yang digunakan secara luas untuk mendeteksi
antigen terkait penyakit pada keduanya penelitian dan lingkungan klinis.
Biokonjugat juga digunakan dalam teknik imunohistokimia klasik yang
menggunakan konjugat antibodi neon atau enzim melokalisasi dan mengenali
komponen seluler secara spasial.
Metode in situ sudah banyak digunakan untuk mendeteksi berbagai
komponen seluler yang meliputi:
 Protein sitoplasma dan nuklir
 DNA genomik
 RNA, termasuk MRNA, RRNA, dan MIRNAS
 Komponen struktural seperti organel dan mikrofilamen

Konjugasi Linker Reagen


Semua reagen linker konjugasi SoluLinK berbagi seperangkat fitur yang kuat
dengan manfaat sebagai berikut: Signifikan, Stabil, Membentuk ikatan hidrazon
yang stabil (94ºC 2 jam), Terproteksi, Konfirmasi spektral pembentukan konjugat
dan pemurnian Konjugasi Kontrol , Rasio substitusi molar yang mudah ditentukan
Biokompatibel: mengurangi Zat yang tidak diperlukan, misalnya cyanoborohydride
Specificity, Linkers bereaksi hanya satu sama lain dengan adanya -NH2, -SH, -
COOH dan fungsi protein lainnya.
Konjugasi Haptens (Peptida)
ke Protein Pembawa
Molekul dengan massa molar yang rendah, diantaranya, sebagai contoh
peptida sintesis kimia, dimana dalam beberapa kasus tidak dapat masuk
untuk menginduksi antibody pada hewan, dengan demikian molekul ini
harus berikatan atau berkonjugasi dengan molekul pembawa.
Beberapa contoh pembawa makromolekul adalah hemolymph dari
keyhole limpet Megathura crenulata (KLH), hemolymph dari eatable snail
Helix pomatia, hemolymph dari horseshoe crab Limulus
polyphemus,Albumin serum kationisasi, telur ayam ovalbumin,
thyreoglobulin, atau Dekstran.
Adapun reagen kopling yang digunakan untuk hapten-
carier konjugasi adalah sebagai berikut :
TERIMAKASIH