You are on page 1of 28

Berfikir Sistem dalam Organisasi

Kesehatan

Nada Nadia Ulfah


1411212052
Definisi Sistem
 Sistem berasal dari bahasa latin systēma dan
bahasa Yunani sustēma yaitu suatu kesatuan yang
terdiri komponen atau elemen yang dihubungkan
bersama untuk memudahkan
aliran informasi, materiatau energi. Secara
sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai
suatu kumpulan atau himpunan dari unsur,
komponen, atau variabel yang terorganisir, saling
berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan
terpadu. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-
bagian yang saling berhubungan yang berada dalam
suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak.
Definisi Berfikir Sistem
 Berpikir sistemik (systemic thinking) didefinisikan
sebagai hal yang lebih kearah proses memahami
dan berpikir bagaimana agar kita memandang
suatu sistem dalam perspektif yang lebih luas,
melihat keseluruhan pola berbagai
macam komponen di dalam sistem tadi saling
mempengaruhi satu sama lain dalam suatu
kesatuan. Contohnya di dalam suatu organisasi,
bagaimana kita memahami suatu sistem yang
terdiri dari orang – orang, struktur dan proses
dapat saling bekerja sama agar membuat
organisasi tersebut dapat bekerja dengan baik
atau tidak baik.
 Dengan berpikir sistemik, kita akan diarahkan
untuk melihat suatu permasalahan sebagai
bagian dari suatu sistem secara luas, bukan
sebagai suatu bagian spesifik yang
terpisah. Dengan demikian, akan lebih
mudah dalam mengidentifikasi isu – isu yang
ada di suatu sistem / organisasi kemudian
berusaha berpikir lebih luas dan jangka
panjang tentang bagaimana mengatasi
permasalahan tersebut.
Komponen Sistem
 Objek: berupa bagian, elemen, ataupun
variabel. Ia dapat benda fisik, abstrak,
ataupun keduanya sekaligus; tergantung
kepada sifat sistem tersebut.
 Atribut: menentukan kualitas atau sifat
kepemilikan sistem dan objeknya.
 Hubungan internal, di antara objek-objek
di dalamnya.
 Lingkungan, tempat di mana sistem
berada.
Karakteristik Sistem
 Sistem bersifat hierarchical – tersusun dari
subsistem-subsistem yang merupakan sistem
tersendiri
 Pada hirarki yang lebih tinggi muncul sifat
baru (emergent properties) yang berbeda
dengan sifatsifat pada tingkat yang lebih
rendah
 Sifat baru muncuk akibat interaksi subsistemsubsistem
(interaction of the sub-systems)
yang bersatu untuk mencapai tujuan tertentu
 Sangat penting untuk melakukan pendekatan
holistik dalam berpikir sistemik
Konsep Sistem
 a. Tujuan
 Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), baik
hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan
inilah yang menjadi motivasi yang akan
mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem
menjadi tak terarah dan tak terkendali.
Tentu saja, tujuan antara satu sistem
dengan sistem yang lain berbeda.
 b. Masukan
 Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke
dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses.
Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara
fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang
berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak
berwujud adalah informasi. Input berupa komponen –
komponen yang membentuk suau kesatuan yang akan
diproses ini, diklasifikasikan berdasar kegunaannya dalam
sistem tersebut, yaitu :
 · Komponen esensial
 Merupakan komponen yang penting dan harus ada dalam
menjalankan fungsi dan mencapai tujuan dari sistem tersebut.
 · Komponen aksesoris
 Merupakan komponen yang boleh ada, namun tidak vital
dalam fungsi suatu sistem menjalankan tugasnya.
 Suatu komponen sistem, dapat digolongkan
menjadi esensial dan aksesoris tergantung tujuan
dari sistem itu sendiri. Sebuah komponen dapat
saja menjadi esensial bagi suatu sistem, namun di
sistem lain bisa saja menjadi tidak esensial. Seperti
halnya antara sistem sepeda motor dan sistem
pembelajaran, di lihat dari tujuannya kedua sistem
tersebut memiliki tujuan yang berbeda, maka
komponen misalnya “sumber bahan ajar” yang
merupakan komponen esensial di sistem
pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan seseorang, menjadi tidak esensial
pada sistem sepeda motor yang tujuannya sebagai
alat transportasi.
 Tidak hanya di antara sistem yang berbeda, dalam
sistem yang sama pun, bila tujuannya berbeda,
maka komponen yang tadinya esensial dapat juga
menjadi aksesoris, misalnya pada sistem telepon
genggam, bila tujuannya sebagai alat komunikasi
dan penghubung antar pengguna, maka komponen
pemutar musik menjadi tidak esensial bila
dibandingakan dengan sistem telepon genggam
yang pembuatan dan pemasarannya ditujukan
sebagai alat penghibur dengan spesifikasi edisi
musik. Begitulah contoh sederhananya.
 c. Proses
 Proses merupakan bagian yang melakukan
perubahan atau transformasi dari masukan
menjadi keluaran yang berguna dan lebih
bernilai, misalnya berupa informasi dan
produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang
tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan
atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat
berupa bahan mentah. Pada rumah sakit,
proses dapat berupa aktivitas pembedahan
pasien.
 d. Keluaran
 Keluaran (output) merupakan hasil dari
pemrosesan. Pada sistem Kesehatan,
keluaran bisa berupa kesembuhan pasien
atau malah perburukan kondisi pasien.
 e. Batas
 Yang disebut batas (boundary) sistem adalah
pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem
(lingkungan). Batas sistem menentukan konfigurasi,
ruang lingkup, atau kemampuan sistem. Sebagai
contoh, rumah sakit memiliki aturan – aturan yang
mengatur jalannya fungsi sistem di rumah sakit
tersebut. Tentu saja batas sebuah sistem dapat
dikurangi atau dimodifikasi sehingga akan
mengubah perilaku sistem. Sebagai contoh, dengan
memilih program – program prefentif dan
mengeliminasi program yang kurang di butuhkan
saat itu, rumah sakit dapat menghindar dari
adanya keterbatasan biaya.
 f. Mekanisme Pengendalian dan Umpan
Balik
 Mekanisme pengendalian (control
mechanism) diwujudkan dengan
menggunakan umpan balik (feedback),
yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini
digunakan untuk mengendalikan baik
masukan maupun proses. Tujuannya adalah
untuk mengatur agar sistem berjalan
sesuai dengan tujuan.
 g. Lingkungan
 Lingkungan adalah segala sesuatu yang
berada diluar sistem. Lingkungan bisa
berpengaruh terhadap fungsi suatu sistem,
dalam arti bisa merugikan atau
menguntungkan sistem itu sendiri.
Lingkungan yang merugikan tentu saja harus
ditahan dan dikendalikan supaya tidak
mengganggu kelangsungan fungsional sistem,
sedangkan yang menguntungkan tetap harus
terus dijaga, karena akan memacu terhadap
kelangsungan hidup sistem.
Organisasi merupakan
complex adaptive systems
 Interaksi dan umpan balik yang complex
dalam organisasi menimbulkan perilaku yang
tidak segaris lurus (non linear)
 Sistem bersifat adaptive artinya
mempertahankan struktur esensial saja,
selebihnya menyesuaikan dengan lingkungan
 Dinamakan system karena keseluruhan
lebih dari jumlah bagian-bagiannya
(emergent properties)
 Perilaku yang tidak segaris lurus dan respons
adaptive menimbulkan kesulitan untuk
memprediksi sistem
CARA BERFIKIR SISTEM
 Bukan menguraikan masalah kompleks
menjadi lebih sederhana
 Tetapi melihat dari jarak yang lebih jauh
sehingga keterkaitan yang kompleks di
antara subsistem tetap terlihat
 Menggunakan diagram
Peran Berfikir Sistemik dalam Bidang
Kesehatan
 Adanya tanggung jawab besar dalam
memajukan kesehatan masyarakat,
membuat pemerintah menjadi konsen
pada sistem kesehatan. Berbagi upaya
telah dilakukan namun dari tahun ke tahun
tingkat kesehatan masyarakat masih belum
dapat ditingkatkan secara bermakna,
sehingga terjadi ketidakpuasan masyarakat
terhadap sistem kesehatan yang ada.
 Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk
memperbaiki kondisi ini ialah mencoba
merubah cara pandang, perumusan dan
analisa masalah di dalam sistem kesehatan
tersebut. Sebab, permaslahan yang ada saat
ini telah membuat sistem kesehatan yang ada
seharusnya memandang lebih holistik yang
tidak hanya berfokus pada analisa satu bagian
sistem, tapi lebih ke arah bagaimana
menyatukan seluruh komponen subsistem
tersebut dan saling menghubungkannya satu
sama lain.
 Hal ini sangatlah penting, sebab dengan hanya
menganalisa dan melakukan perbaikan pada satu
sector saja, dapat mengakibatkan gangguan
terhadap keseimbangan keseluruhan sistem yang
sudah dibangun sejak awal san menyebabkan
bagian sistem yang lain menjadi menolak bahkan
melakukan tindakan yang melawan terhadap aksi
perbaikan tersebut. Oleh karena itulah saat ini
pendekatan masalah yang paling memungkinkan
terhadap situasi tersebut ialah melalui Systems
Thinking, dimana kita memandang satu masalah
sebagai suatu bagian dari keseluruhan sistem, yang
keseluruhan komponen sistem tersebut juga harus
ditinjau lagi, guna perbaikan ke depannya.
 Penerapan Systemic thinking pada sistem
kesehatan nasional ditujukan untuk membantu
tercapainya tujuan dari sistem kesehatan nasional
itu sendiri. Karena sistem kesehatan adalah suatu
sistem yang kompleks dan luas sehingga harus
disusun secara sistematik agar dapat tercipta
suatu cara pandang yang dapat mencakup semua
aspek yang berhubungan dengan terciptanya
kesehatan di Indonesia. Dengan menerapkan
kerangka konsep dari pemikiran yang sistemik,
akan membantu pelaksanaan sistem dan
meminimalisir kemungkinan kegagalan sistem.
 Pemikiran secara sistemik akan memberikan
wawasan yang luas sehingga dalam
perencanaan dan pelaksanaannya dapat lebih
mencakup seluruh aspek sehingga tidak ada
yang terlewatkan dan lebih sistematis dan
terkonsep dengan baik. Dengan penerapan
pemikiran sistemik yang baik dalam sistem
kesehatan nasional akan memudahkan
komponen - komponen dalam sistem
kesehatan baik yang esensial maupun yang
non-esensial dalam menyatukan visi dan misi.
MANFAAT BERPIKIR SISTEM
 Memberi pemahaman atas keterkaitan
elemen-elemen yang mempengaruhi
kinerja organisasi
 Menjadi bahasa bersama untuk dialog
tentang struktur dan proses sistem
 Memetakan dan simulasi apa yang
dipahami bersama
HUKUM BERPIKIR SISTEM
 Masalah sekarang bersumber dari penyelesaian
masalah yang lalu: orde lama, orde baru, orde
reformasi
 Semakin keras mendorong sistem, semakin keras
sistem mendorong balik
 Perilaku membaik sebelum akhirnya memburuk. Solusi
simtomatik pada akhirnya gagal.
 Jalan keluar yang paling mudah pada umumnya menuju
ke tempat semula. Solusi yang umum dilakukan sering
gagal mengatasi masalah fundamental.
 Solusi sering berdampak lebih buruk dari masalahnya
masalahnya. Solusi yang tidak sistemik menimbulkan
kebutuhan solusi-solusi lain.
 Sebab-akibat tidak selalu terkait langsung dalam waktu
dan tempat
 Perubahan kecil menghasilkan dampak besar – tetapi
pemecahan dengan daya ungkit terbesar sering
tersembunyi
 Anda dapat mengambil kue dan memakannya, tetapi
tidak sekaligus. Daya ungkit membutuhkan tahap demi
tahap.
 Membelah seekor gajah tidak menghasilkan dua gajah.
Bukan komponen yang terurai, tetapi interaksi di
antaranya (mungkin tidak terlihat) yang lebih penting.
 Tidak ada orang luar yang harus disalahkan. Saya dan
penyebab sistem masalah saya berada dalam satu
sistem. Kuncinya ada pada INTERAKSI.
Referensi
 www.kmpk.ugm.ac.id
 http://healthforindonesia.blogspot.co.id/20
10/11/berpikir-sistem-solusi-
penyelesaian.html
Pertanyaan
 Apakah berfikir sistem mempunyai
kelemahan?
 Skill apa saja yang harus dimiliki jika ingin
berfikir sistem?