You are on page 1of 26

“OM

SWASTYASTU”
KONSEP MODEL PRAKTIK
KEPERAWATAN PROFESIONAL

OLEH
SITI MUNAWAROH (P07120014036)
NI PUTU DEWI ERMAWATI (P07120014060)
NI KOMANG MERI SUCITANINGSIH (P07120014061)
PENGERTIAN

Model praktik keperawatan profesional (MPKP)


adalah suatu sistem (struktur, proses dan nilai-
nilai profesional), yang memfasilitasi perawat
profesional, mengatur pemberian asuhan
keperawatan, termasuk lingkungan tempat
asuhan tersebut diberikan (Ratna Sitorus & Yuli,
2006).
TUJUAN
• Menjaga konsistensi asuhan keperawatan
• Mengurangi konflik, tumpang tindih dan
kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan
oleh tim keperawatan.
• Menciptakan kemandirian dalam memberikan
asuhan keperawatan.
• Memberikan pedoman dalam menentukan
kebijakan dan keputusan.
• Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan
tujuan asuhan keperawatan bagi setiap tim
keperawatan
Pilar Model Praktik Kperawatan
Profesional
• Pilar I : Pendekatan Manajemen (manajemen
approach)
• Pilar II : Sistem Penghargaan (Compensatory
Reward)
• Pilar III: Hubungan Profesional
• Pilar IV: Manajemen Asuhan Keperawatan
PILAR I
Pendekatan Manajemen (manajemen approach)

• Pada pilar I yaitu pendekatan manajemen terdiri


dari :
a. Perencanaan dengan kegiatan perencanaan yang
dipakai di ruang MPKP meliputi (perumusan visi,
misi, filosofi, kebijakan dan rencana jangka
pendek; harian,bulanan,dan tahunan)
b. Pengorganisasian dengan menyusun stuktur
organisasi, jadwal dinas dan daftar alokasi pasien.
c. Pengarahan
d. Pengendalian
PILAR II
Sistem Penghargaan (Compensatory Reward)

• Manajemen sumber daya manusia diruang model


praktik keperawatan professional berfokus pada
proses rekruitmen, seleksi kerja orientasi,
penilaian kinerja, staf perawat.proses ini selalu
dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan
setiap ada penambahan perawatan baru.
• Compensatory reward (kompensasi
penghargaan) menjelaskan manajemen
keperawatan khususnya manajemen sumber daya
manusia (SDM) keperawatan.
PILAR III
Hubungan Profesional

Hubungan professional dalam pemberian


pelayanan keperawata (tim kesehatan)
dalam penerima palayana keperawatan
(klien dan keluarga). Pada pelaksanaannya
hubungan professional secara interal
artinya hubungan yang terjadi antara
pembentuk pelayanan kesehatan misalnya
antara perawat dengan perawat, perawat
dengan tim kesehatan dan lain–lain.
Sedangkan hubungan professional secara
eksternal adalah hubungan antara pemberi
dan penerima pelayanan kesehatan.
PILAR IV
Manajemen Asuhan Keperawatan

Salah satu pilar praktik professional perawatan


adalah pelayanan keperawat dengan
mengunakan manajemen asuhan
keperawatan di MPKP tertentu. Manajemen
asuhan keperawat yang diterapkan di MPKP
adalah asuhan keperawatan dengan
menerapkan proses keperawatan.
Komponen Model Praktik Kperawatan
Profesional
1. Ketenagaan Keperawatan
Dalam suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga
yang diperlukan tergantung pada jumlah pasien dan
derajat ketergantungan pasien. (Douglas, 1984)
klasifikasi derajat ketergantungan pasien :
a. Perawatan minimal : memerlukan waktu 1 – 2
jam/24 jam
b. Perawatan intermediet: memerlukan waktu 3 – 4
jam/24 jam
c. Perawatan maksimal/total : memerlukan waktu 5 –
6 jam/24 jam
2. Metoda pemberian asuhan keperawatan

Terdapat 3 pola yang sering digunakan dalam


pemberian asuhan keperawatan, yaitu :
1. Penugasan Keperawatan Fungsional
2. Penugasan Keperawatan Tim
3. Penugasan Keperawatan Primer
3. Proses Keperawatan
• Proses keperawatan merupakan proses pengambilan
keputusan yang dilakukan perawat dalam menyusun
kegiatan asuhan secara bertahap. Kebutuhan dan
masalah pasien merupakan titik sentral dalam
pengambilan keputusan.
• Pendekatan ilmiah yang fragmatis dalam pengambilan
keputusan adalah :
a. Identifikasi masalah
b. menyusun alternatif penyelesaikan masalah
c. pemilihan cara penyelesaian masalah yang tepat dan
melaksanakannya
d. evaluasi hasil dari pelaksanaan alternatif penyelesaian
masalah.
4. Dokumentasi Keperawatan

• Secara lebih spesifik, dokumentasi berfungsi


sebagai sarana komunikasi antar profesi
Kesehatan, sumber data untuk pemberian asuhan
keperawatan, sumber data untuk penelitian,
sebagai bahan bukti pertanggung jawaban dan
pertanggung gugatan asuhan keperawatan.
• Dokumen dibuat berdasarkan pemecahan
masalah pasien. Dokumentasi berdasarkan
masalah terdiri dari format pengkajian, rencana
keperawatan, catatan tindakan keperawatan, dan
catatan perkembangan pasien.
Berdasarkan MPKP yang sudah
dikembangkan di berbagai rumah sakit,
Hoffart & Woods (1996) menyimpulkan
bahwa MPKP tediri lima komponen yaitu
a. Nilai – nilai professional

Pada model ini PP dan PA membangun kontrak


dengan klien/keluarga, menjadi partner dalam
memberikan asuhan keperawatan .
b. Hubungan antar professional
Hubungan antar profesional dilakukan oleh PP.
PP yang paling mengetahui perkembangan
kondisi klien sejak awal masuk. Sehingga
mampu memberi informasi tentang kondisi
klien kepada profesional lain khususnya dokter.
Pemberian informasi yang akurat akan
membantu dalam penetapan rencana tindakan
medik.
c.Metode pemberian asuhan keperawatan
Metode pemberian asuhan keperawatan yang
digunakan adalah modifikasi keperawatan primer ehingga
keputusan tentang renpra ditetapkan oleh PP, PP akan
mengevaluasi perkembangan klien setiap hari dan
membuat modifikasi pada renpra sesuai kebutuhan klien.
d. Pendekatan manajemen
Pada model ini diberlakukan manajemen SDM, yaitu
ada garis koordinasi yang jelas antara PP dan PA.
performa PA dalam satu tim menjadi tanggung jawab PP.
Dengan demikian, PP adalah seorang manajer asuhan
keperawatan. Sebagai seorang manajer, PP harus dibekali
dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan
sehingga PP dapat menjadi manajer yang efektif dan
pemimpin yang efektif.
e. Sistem kompensasi dan panghargaan.
PP dan timnya berhak atas kompensasi
serta penghargaan untuk asuhan keperawatan
yang dilakukan sebagai asuhan yang profesional.
Kompensasi dan penghargaan yang diberikan
kepada perawat bukan bagian dari asuhan
medis atau kompensasi dan penghargaan
berdasarkan prosedur.
MPKP dikembangkan beberapa jenis sesuai
dengan kondisi sumber daya manusia yang
ada yaitu:

• Model praktek Keperawatan Profesional III


Tenaga perawat yang akan bekerja di
ruangan ini semua profesional dan ada yang
sudah doktor, sehingga praktik keperawatan
berdasarkan evidence based. Di ruangan
tersebut juga dilakukan penelitian
keperawatan, khususnya penelitian klinis.
• Model Praktek Keperawatan Profesional II
Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini
mempunyai kemampuan spesialis yang dapat
memberikan konsultasi kepada perawat primer. Di
ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian
keperawatan dan melakukan penelitian keperawatan.
• Model Praktek Keperawatan Profesional I
Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu
ketenagaan, metode pemberian asuhan keperawatan
dan dokumentasi keperawatan. Metode yang
digunakan pada model ini adalah kombinasi metode
keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim
primer.
• Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula
Model ini menyerupai MPKP I, tetapi baru tahap
awal pengembangan yang akan menuju profesional I.
MPKP di Rumah Sakit Jiwa
• MPKP Transisi
MPKP dasar yang tenaga perawatnya masih
ada yang berlatar belakang pendidikan SPK,
namun Kepala Ruangan dan Ketua Timnya
minimal dari D3 Keperawatan
• MPKP Pemula
MPKP dasar yang semua tenaganya minimal
D3 Keperawatan.
• MPKP Profesional dibagi 3 tingkatan yaitu :
MPKP I
MPKP dengan tenaga perawat pelaksana minimal
D3 keperawatan tetapi Kepala Ruangan (Karu) dan
Ketua Tim (Katim) mempunyai pendidikan minimal S1
Keperawatan.
MPKP II
MPKP Intermediate dengan tenaga minimal D3
Keperawatan dan mayoritas Sarjana Ners keperawatan,
sudah memiliki tenaga spesialis keperawatan jiwa.
MPKP III
MPKP Advance yang semua tenaga minimal
Sarjana Ners keperawatan, sudah memiliki tenaga
spesialis keperawatan jiwa dan doktor keperawatan
yang bekerja di area keperawatan jiwa.
Diagnosa Keperawatan Pada Model
Praktik Keperawatan Jiwa
Berdasarkanm survey masalah yang dilakukan dibeberapa
rumah sakit jiwa ditemukan 7 diagnosa keperawatan
utama, yaitu :
• Resiko prilaku kekerasan
• Gangguan sensori persepsi : halusinasi
• Isolasi sosial
• Gangguan pola pikir : waham
• Resiko bunuh diri
• Defisit keperawatan diri (berpakaian, berhias, kebersihan
diri, makan , aktifitas sehari-hari dan eliminasi)
• Ganggun konsep diri : Harga diri rendah
• Devi (049)
• Spesifikasi pendekatan ilmiah fragmentasi?
Apakah pendekatan juga dilakukan kepada
keluarga?
• Rika (054)
• Tujuan pilar MPKP? Apakah yang akan terjadi
apabila salah satu pilar tersebut tidak
terlaksana?
• Chaya (055)
• Hambatan dalam menjalan proses MPKP?
• Chaya (055)
• Hambatan dalam menjalan proses MPKP?