You are on page 1of 31

PP GADAR

Kejang demam adalah bangkitan kejang


yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal di atas 38⁰C). Kenaikan suhu
tubuh tersebut disebabkan oleh suatu
proses ekstrakranial.
 Kejang demam kompleks :
 Fokal
 Lama > 15 menit
 Multipel (berulang dalam waktu 24 jam)
 Kejang demam sederhana :
 Kejang demam yang berlangsung singkat,
umumnya serangan akan berhenti sendiri
dalam waktu < 10 menit, bangkitan kejang
tonik atau tonik-klonik, tanpa gerakan fokal,
tidak berulang dalam waktu 24 jam.
Sebanyak 80-90% di antara seluruh kejang
demam merupakan kejang demam
sederhana.
 Demam
 Efek produk toksik daripada
mikroorganisme (kuman dan virus
terhadap otak)
 Respon alergik atau keadaan imun yang
abnormal oleh infeksi
 Perubahan keseimbangan cairan atau
elektrolit
 Ensevalitis viral (radang otak akibat virus)
yang ringan yang tidak diketahui
 Demam ( terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh
yang terjadi secara tiba -tiba.)
 Pingsan yang berlangsung selam 30 detik sampai 5menit
(hampir selalu terjadi pada anak- anak yang mengalami
kejang demam.
 Postur tonik ( kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang
berlangsung 10 – 20 detik)
 Gerakan klonik ( kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan
berirama, biasanya berlangsung selama 1- 2 menit)
 Lidah tergigit
 Gigi atau rahangnya terkatup rapat
 Gangguan pernafasan
 Apneu ( henti nafas)
 sianosis
 Kerusakan sel otak
 Penurunan IQ pada kejang demam yang
berlangsung lama dari 15 menit
 Kelumpuhan
 Aspirasi
 Asfiksia
 Retardasi mental
 Pemeriksaan laboratorium :
Darah tepi lengkap, elektrolit, glukosa darah
→ kadang tidak menunjukkan kelainan yang
berarti
 Indikasi pungsi lumbal → untuk menegakkan
atau menyingkirkan kemungkinan meningitis.
Bila tidak terpikirkan kemungkinan meningitis
→ pungsi lumbal tidak perlu dilakukan.
 Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak
dapat memprediksi kemungkinan berulangnya
kejang, atau memperkirakan kemungkinan
terjadinya epilepsi di kemudian hari. →
pemeriksaan EEG pada kejang demam tidak
direkomendasikan
 PemeriksaanEEG masih dapat dilakukan pada
keadaan kejang demam yang tidak khas atau
kejang demam kompleks.
 Pemeriksaan foto kepala, CT scan dan / atau
MRI tidak dianjurkan pada anak tanpa
kelainan neurologis karena hampir semuanya
menunjukkan gambaran normal.
 CTScan atau MRI boleh dilakukan pada
kasus dengan kelainan neurologis atau kasus
dengan kejang fokal untuk mencari lesi
organik di otak.
Tujuan pengobatan :
1. mencegah berulangnya kejang
2. tidak terbukti mencegah epilepsi di
kemudian hari

 Pengobatan fase akut


 Profilaksis
 Pengobatan fase akut :
 Hentikan kejang dengan antikonvulsan
 Diazepam per rektal : → dapat diberikan di
rumah. Dosis 5 mg < usia 3 tahun
Dosis 7,5mg > usia 3 tahun.
maksimum diberikan 2 kali berturutan
dengan jarak 5 menit →depresi pernapasan.
 BB < 10 kg = 5 mg
 BB > 10 kg = 10 mg
 Turunkan suhu
 Antipiretik : parasetamol atau NSAID
 Investigasi dan mengobati penyebab
 LP – laboratorium
 Antibiotik
 Pengobatan intermitten :
 Phenobarbital tidak bermanfaat
 Mencegah kejang lama
 Diazepam per rektal / intravena

 Mencegah kejang berulang


 Diazepam per oral : 0,3-0,5 mg/kgbb
BAGAN PEMBERANTASAN KEJANG

KEJANG
(A) DIAZEPAM IV : 0,2-0,5 mg/kg BB
atau
DIAZEPAM REKTAL :
< 10 kg = 5 mg
1 2 > 10 kg = 10 mg

KEJANG (-) KEJANG (+)


INITIAL :
< 1 bln : 30 mg 1 m (A) Diulang Interval
1-1 thn : 50 mg 5 menit
> 1 thn : 75 mg
4 JAM KEMUDIAN
FENOBARBITAL KEJANG (+)
8-10 mg/kg BB (2 dosis)
(2 hari) Dilantin 10-20 mg/kg BB
Bolus

KEJANG (+) KEJANG (-)


FENOBARBITAL KEJANG (+) KEJANG (-)
4-5 mg/kg BB/hari
(2dosis) 12 Jam kemu
ULANGI
(Rumatan) dian Dilantin
JALUR 2
5-7 mg/kg BB
NB : ICU (:3 dosis)
-Kejang yang tidak teratasi dengan KEJANG (-)
pemberian --- berikan Dilantin Dilantin Rumatan
-Status Konvulsivus - ICU
-Dosis maksimal FENOBARBITAL
200 mg/harii
1. Pengkajian
a. Pengkajian umum
Pada Kejang demam paling penting peran perawat selama
pasien kejang adalah observasi kejangnya dan gambarkan
kejadiannya. Setiap episode kejang mempunyai
karakteristik yang berbeda misal adanya halusinasi (aura ),
motor efek seperti pergerakan bola mata , kontraksi otot
lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang
dimulai dan lamanya kejang. Sehingga pada pengkajian
klien dengan kejang demam tergolong sakit berat pada
pengkajian umum gawat darurat.
b. Pengkajian kesadaran
Pada kasus kejang demam kesadarannya adalah antara
Unrespon sebab klien tidak sadar terhadap penyakitnya.
c. Pengelompokan Triage
kasus ini adalah emergensi karena dapat mengancam jiwa
dan akan mati tanpa tindakan segera
d. Pengkajian Primer
Pada kasus kejang demam yang biasanya dikaji adalah :
A : Airway ( jalan nafas )
Akibat langsung yang timbul apabila terjadi kejang demam
adalah gerakan mulut dan lidah tidak terkontrol. Lidah dapat
seketika tergigit, dan atau berbalik arah lalu menyumbat
saluran pernapasan.
B : Breathing (pola nafas)
pada kejang yang berlangsung lama misalnya lebih 15 menit
biasanya disertai apnea, Na meningkat, kebutuhan O2 dan
energi meningkat untuk kontraksi otot skeletal yang
akhirnya terjadi hipoxia dan menimbulkan terjadinya
asidosis.
C : Circulation
karena gangguan peredaran darah mengakibatkan hipoksia
sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul
edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
Pengumpulan data
1. Biodata
2. Keluhan utama /alasan masuk RS : demam,
kejang, apakah anak menangis/tidak setelah
terjadi kejang
3. Keluhan tambahan
• Kapan pertama kali timbulnya
kejang,berapa lama dan sifat kejang
• Ada/tidak infeksi diluar SSP,seperti
tonsilitis
4. Riwayat penyakit yang lalu
• Riwayat penyakit kejang tanpa demam
dalam keluarga
• Pernah menderita penyakit yang
sama sebelumnya
• Pernah dirawat / tidak sebelumnya
• Alergi
• Imunisasi
5. Riwayat Tumbuh Kembang
• Riwayat kelahiran
• Ada/tidak gangguan perkembangan
6. Riwayat sosialisasi dan psikologi anak
status emosi : anak gelisah,rewel
7. Tanda –tanda vital
suhu : meningkat
Nadi : meningkat
Pernafasan : dispnoe / tachipnoe
8. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : UUB tegang dan menonjol
atau
tidak
b. Mata : Pada saat kejang mata keatas.
c. Hidung : NCH,ujung hidung teraba
dingin
d. Mulut : Sianosis, terkunci
e. Leher : Kaku kuduk atau tidak
f. Dada : Bentuk dada,dispnoe,retraksi
g. Jantung : Tachikardi, irama teratur/tidak,
denyut kuat/lemah
h. Abdomen : Tegang/tidak
i. Ekstremitas : Gangguan pergerakan, tremor,
sianosis
j. Eliminasi
BAK : jumlah urine, warna
BAB : konstipasi/diare

9. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : Darah tepi/rutin, urine lengkap,
Elektrolit
Lumbal pungsi
EEG
Data Subjektif
• Riwayat kejang : kapan pertama kali timbulnya
kejang, lamanya dan sifat kejang
• Setelah terjadi kejang apakah langsung
menangis/tidak
• Riwayat kelahiran
• Riwayat kejang sebelumnya

Data Objektif
- K.U,kesadaran
- Tanda – tanda vital
- Tonus otot / reflek
- Sifat kejang,lamanya kejang
- Adanya lendir dijalan nafas
Dx 1 Tujuan
Peningkatan suhu tubuh berhubungan Suhu tubuh tidak meningkat setelah
dengan dilakukan
tindakan keperawatan selama…..
 Gangguan kontrol suhu tubuh
diotak Kriteria Hasil
 Infeksi diluar SSP  TD…
 …..  Suhu….
 Nadi……
Ditandai dengan
 Tidak ada demam
DS….
 Akral hangat
DO:
 Sianosis tidak ada
 TD…
Rencana Tindakan
 Suhu….  Observasi suhu tiap 2-4 jam
 Nadi….  Berikan kompres hangat
 RR….  Pakaikan pakaian tipis dan menyerap
 Akral…. keringat
 Sianosis….  Libatkan keluarga dalam pemberian
minum secara adekuat
 …….
 Berikan penkes tentang pentingnya
banyak minum
 Kolaborai dengan dokter untuk
pemberian antipiretik dan pemeriksaan
lab
Dx2 Kriteria Hasil
 Aktual  TD…
 Resiko  Suhu…
Gangguan jalan nafas tidak efektif  Nadi…
berhubungan dengan  RR….
 Obstruksi trakheobronkhial  Tidak ada slym
 Kerusakan neuromuskuler  NCH tidak ada
Ditandai dengan  Retraksi tidak ada
DS….  Sianosis tidak ada
DO
 Kesadaran… Rencana Tindakan
 Slym….  Observasi tanda-tanda vital
 Batuk….  Kaji suara nafas,frekuensi dan bunyi
 NCH….. nafas tambahan
 Retraksi….  Atur posisi pasien pada posisi miring
selama terjadi serangan kejang
 Sianosis….
 Libatkan OT dalam memberi minum
 TD…. hangat
 Suhu….  Berikan penkes tentang pentingnya
 Nadi…. minumair hangat untuk mengencerkan
secret
 RR….
 Kolaborasi untuk pemberian oksigen
Tujuan dan untuk terapi inhalasi
Jalan nafas kembali efektif setelah
dilakukan tindakan keperawatan
selama…….
DX3 Kriteria Hasil
 Aktual  Kesadaran CM
 Resti  Apnoe tidak ada
Gangguan penghentian jalan nafas  Akral hangat
berhubungan dengan
 Frekuensi kejang yang sering  Sianosis tidak ada
 Kejang yang lama  RR…..
Ditandai dengan
DS….. Rencana Tindakan
DO  Observasi tanda-tanda vital
 Apnoe  Observasi tingkat kesadaran
 Letargi  Beri tongue spatel bila terjadi kejang
 Bradikardi  Kaji situasi dan stimulasi yang dapat
menjadi pencentus kejang
 Akral dingin
 Libatkan OT untuk melaporkan bila
 Sianosis pasien kejang
 ….  Berikan penkes tentang tanda-tanda
Tujuan: Penghentian jalan nafas tidak kejang
terjadi setelah dilakukan tindakan  Siapkan alat-alat emergency,kolaborasi
keperawatan…. untuk tindakan intubasi
DX4 Kriteria Hasil
 Aktual  Kesadaran CM
 Resti  Kaku kuduk tidak ada
Terjadi kerusakan sel otak berhubungan  Tidak terjadi kejang berulang
dengan
 Frekuensi kejang yang sering  Hasil EEG normal
 Kejang yang lama
Ditandai dengan Rencana Tindakan
DS….  Kaji tingkat kesadaran
DO  Monitor keadaan pasien saat terjadi
kejang
 Kesadaran….
 Dokumentasikan lamanya kejang,
 Kaku kuduk… frekuensi dan sifat kejang
 Kelemahan otot pada…  Libatkan OT dalam perawatan anaknya
 Hasil EEG….  Berikan penkes tentang tanda-tanda
kejang
Tujuan  Kolaborasi dengan dokter untuk
Kerusakan sel otak tidak terjadi setelah pemberian antikonvulsif dan
dilakukan tindakan keperawatan…… pemeriksaan EEG
DX 5 Tujuan:
 Aktual Cairan dan elektrolit terpenuhi setelah
dilakukan tindakan
 Resti
keperawatan…
Gangguan keseimbangan cairan dan
elektrolit
Kriteria Hasil.
berhubungan dengan
 Turgor kulit baik
 Intake yang tidak adekuat
 Membran mukosa bibir basah
 Demam
 Ubun-ubun...
 Frekuensi kejang yang sering  Diuresis...
Ditandai dengan  Hasil elekrolit....
DS... Rencana Tindakan
DO  Observasi tanda-tanda vital
 TD…  Kaji tanda-tanda dehidrasi
 Suhu…  Catat intake output
 Nadi….  Beri cairan secara adekuat
 RR….  Libatkan OT dalam pemberian cairan
 Ubun-ubun…. secara adekuat
 Muntah….  Berikan penkes tentang pentingnya
cairan yang adekuat
 Membran mukosa…
 Kolaborasi untuk pemberian cairan
 Turgor kulit..
parenteral
 Diuresis….
 Pantau Nilai elektrolit sesuai insrukasi
dokter
DX 6 Kriteria Hasil
 Aktual  Kesadaran CM
 Resti  TD...
Cedera / injuri berhubungan dengan  Suhu...
 Kejang  Nadi...
 Penurunan kesadaran  RR...
 Kelemahan otot  Tidak ada tanda-tanda trauma
Ditandai dengan  Tidak ada letargi
DS.......
DO Rencana Tindakan
 Kesadaran...  Kaji tanda-tanda adanya trauma /
 Letargi... memar pada kulit

 TD...  Pertahankan pagar tempat tidur tetap


terpasang
 Suhu...
 Libatkan OT dalam memberikan
 Nadi... pengaman pada sisi tempat tidur
 Suhu....  Berikan penkes tentang pentingnya
 RR... pengamanan pada saat kejang
Tujuan  Kolaborasi dengan dokter untuk terapi
antikonvulsan
Injuri tidak terjadi setelah dilakukan
tindakan keperawatan....
DX 7 Rencana Tindakan :
Resiko terjadi kejang ulang berhubungan 1. Longgarkan pakaian, berikan pakaian
dengan hipertermi tipis yang mudah menyerap keringat.
Tujuan: 2. Lakukan surface cooling
Klien tidak mengalami kejang selama 3. Berikan ekstra cairan (susu, sari
berhubungan dengan hiperthermi buah, dll).
Kriteria hasil : 4. Observasi kejang dan tanda vital
1. Tidak terjadi serangan kejang ulang. tiap 4 jam

2. Suhu 36,5 – 37,5 º C (bayi), 36 – 37,5 5. Batasi aktivitas bsp; : Tidak


º C (anak) terjadi trauma fisik selama
perawatan.
3. Kesadaran composmentis
4. Tidak terjadi trauma fisik selama
perawatan
5. Mempertahankan tindakan yang
mengontrol aktivitas kejang.
6. Mengidentifikasi tindakan yang harus
diberikan ketika terjadi kejang.
DX 8 Rencana Tindakan
Cemas orang tua berhubungan dengan  Kaji tingkat cemas OT
 Kurang pengetahuan  Adakan pendekatan dan tenangkan OT
 Kondisi anak  Dengarkan keluhan pasien
Ditandai dengan  Libatkan OT dalam perawatan anaknya
DS...  Ciptakan suasana tenang, tidak panik
DO saat melakukan tindakan ke pasien

 Eksresi wajah tampak cemas  Berikan penkes tanda dan gejala


kejang
 Orang tua sering bertanya
 Kolaborasi dengan dokter untuk
 .... penjelasan tentang kondisi penyakit
Tujuan: anaknya
Cemas orang tua berkurang / hilang
setelah dilakukan tindakan
keperawatan...
Kriteria Hasil:
 Ekspresi wajah tampak tenang
 OT tidak tampak bingung
 OT memahami tentang penyakit yang
diderita anaknya