Вы находитесь на странице: 1из 220

TEORI PERUBAHAN PERILAKU LEVEL

INTRAPERSONAL

Indira Annisa Sophia


1506668624
PBL 4
1. Proses Adopsi Perilaku

 Menurut Rogers (1974) terdapat beberapa tahapan sebelum mengadopsi perilaku baru
yang dinamakan Learning Ladder, atau juga diketahui sebagai Decision-Making
Continuum, yang berdasarkan pada konsep bahwa manusia belajar dalam serangkaian
langkah yang berkesinambungan. Ini menggambarkan kemajuan dari ketidakpedulian
terhadap perolehan informasi dan pada adopsi perilaku baru.
 Learning Ladder Steps, berurutan dari yang terendah hingga tertinggi:
 Pada teori ini, learner harus bergerak melalui tiap step dalam rangkaian tersebut untuk
memperoleh dan membuat komitmen terhadap tingkah laku baru. Jika suatu langkah
dihilangkan, perubahan perilaku jangka panjang (kebiasaan) tidak akan terjadi. Untuk
menerapkan teori ini, educator mengidentifikasi tingkat masuk learner dalam rangkaian
dan mengembangkan rencana untuk berpindah ke langkah-langkah selanjutnya secara
berurutan.
 Dengan menilai lokasi learner pada Learning Ladder Decision-Making Continuum, dapat
membantu educator mengembangkan rencana edukasi pada learner dengan pesan
yang dirancang khusus untuk tahap kesiapan edukasi mereka.
2. Health Belief Model

 Health Belief Model berguna dalam memprediksi kemungkinan kepatuhan seseorang


terhadap rekomendasi profesional untuk perilaku kesehatan preventif. Model ini pertama
kali dikenalkan pada tahun 1950 oleh I.M. Rosentock dan psikologis lain yang bekerja
pada U.S. Public Health Service.
 o Model ini didasarkan pada teori bahwa perilaku diarahkan oleh persepsi dan
kepercayaan. Ini menunjukan bahwa apakah seseorang terlibat atau tidak dalam
tindakan kesehatan preventif bergantung pada kepercayaan-kepercayaan tersebut.
Singkatnya, ini memberikan garis besar faktor esensial yang terlibat dalam perubahan
perilaku.
Komponen-komponen dari Health Belief Model:
 Susceptibility: Individu harus percaya bahwa mereka rentan terhadap penyakit atau
kondisi tertentu.
 Severity: Individu harus percaya bahwa penyakit akan memiliki dampak keparahan yang
sedang (paling tidak) atau serius dalam kehidupan mereka.
 Beneficial: Individu harus percaya bahwa ada tindakan efektif yang dapat dilakukan
untuk mengurangi risiko, atau mengendalikan penyakit.
 Benefits outweigh barriers to action: Individu harus percaya bahwa manfaat mengambil
tindakan yang disarankan melebihi setiap kesulitan yang mungkin akan mereka hadapi.
3. Transtheoretical Model

 Konstruksi tahap dinilai penting karena mewakili dimensi temporal.


 Perubahan menyiratkan adanya fenomena yang terjadi dari waktu ke waktu, tetapi tak
satu pun teori-teori mengenai terapi mengandung konstruksi yang mewakili waktu.
 Perubahan perilaku sering ditafsirkan sebagai suatu peristiwa, seperti berhenti merokok,
minum alkohol, atau makan berlebihan.
 Model transtheoretical menafsirkan perubahan sebagai proses yang melibatkan
kemajuan perilaku melalui serangkaian enam tahap terdiri dari: prekontemplasi,
kontemplasi, persiapan, aksi, pemeliharaan, dan terminasi.
Prekontemplasi

 Prekontemplasi adalah tahap di mana orang belum berniat untuk mengambil tindakan
perubahan di masa mendatang, biasanya diukur dalam 6 bulan ke depan.
 Orang yang berada dalam tahap ini mungkin dikarenakan mereka tidak tahu atau
kurang informasi tentang konsekuensi dari perilaku mereka. Atau mereka mungkin
mencoba untuk berubah beberapa kali dan menjadi terdemoralisasi tentang
kemampuan mereka untuk berubah.
 Kedua kelompok cenderung menghindari membaca, berbicara, atau memikirkan
perilaku berisiko tinggi mereka.
 Mereka sering dicirikan dalam teori lain sebagai klien yang resisten atau tidak termotivasi
atau tidak siap untuk terapi/program promosi kesehatan.
 Faktanya adalah, program promosi kesehatan tradisional tidak cocok untuk individu
seperti itu dan belum termotivasi untuk menyesuaikan kebutuhan pasien jenis ini.
Kontemplasi

 Kontemplasi adalah tahap di mana orang berniat untuk berubah dalam 6 bulan ke
depan. Mereka lebih sadar akan keuntungan perubahan, tetapi juga sangat sadar akan
kerugiannya.
 Keseimbangan antara cost dan benefit dari perubahan dapat menghasilkan
ambivalensi yang mendalam yang dapat membuat orang terjebak dalam tahap ini
untuk jangka waktu yang lama.
 Weoften mencirikan fenomena ini sebagai kontemplasi kronis atau prokrastinasi perilaku.
Orang-orang ini juga belum siap untuk program-program tradisional yang bersifat action-
oriented.
Persiapan

 Persiapan adalah tahap di mana orang berniat untuk mengambil tindakan dalam waktu
dekat, biasanya diukur dalam 1 bulan berikutnya.
 Mereka biasanya mengambil tindakan yang sangat signifikan dalam satu tahun terakhir.
 Orang-orang ini memiliki rencana tindakan, seperti bergabung dengan kelas pendidikan
kesehatan, berkonsultasi dengan konselor, berbicara dengan dokter mereka, membeli
buku self-help, atau melakukan self-change approach.
 Mereka adalah orang-orang yang cocok untuk program-program action-oriented seperti
program berhenti merokok, penurunan berat badan, atau berolahraga.
Aksi

 Aksi adalah tahap di mana orang telah membuat modifikasi yang jelas dalam gaya
hidup mereka dalam 6 bulan terakhir.
 Karena aksi dapat diamati, perubahan perilaku sering disamakan dengan aksi. Namun
dalam model transtheoretical, aksi hanyalah satu dari enam tahap. Tidak semua
modifikasi perilaku dihitung sebagai aksi dalam model ini.
 Orang harus mencapai kriteria yang disetujui oleh para ilmuwan dan profesional bahwa
perubahannya cukup untuk mengurangi risiko penyakit.
 Dalam merokok misalnya, dulunya, pengurangan konsumsi rokok dinilai sebagai aksi,
atau beralih ke rokok rendah tar dan nikotin.
 Sekarang, konsensusnya jelas - hanya total abstinence yang dihitung sebagai aksi.
 Di area diet, ada konsensus yang menyatakan bahwa kurang dari 30% kalori harus
dikonsumsi dari lemak. Tetapi ada pula yang percaya bahwa pedoman ini harus
diturunkan menjadi 25% atau bahkan 20%.
Pemeliharaan

 Pemeliharaan adalah tahap di mana orang-orang berusaha untuk mencegah


kekambuhan terjadi.
 Mereka sudah tidak mudah tergoda untuk kambuh dan semakin yakin bahwa mereka
dapat melanjutkan perubahan mereka.
 Berdasarkan data temptation dan self-efficacy, diperkirakan pemeliharaan berlangsung
selama 6 bulan hingga sekitar 5 tahun. Walaupun perkiraan ini mungkin tampak agak
pesimis, data longitudinal dalam laporan Surgeon General 1990 mendukung perkiraan
temporal ini.
 4 Setelah 12 bulan berhenti merokok terus menerus, persentase orang yang kembali ke
kebiasaan merokok adalah 43%.
 Setelah 5 tahun, barulah risiko kambuh turun menjadi 7%.
Terminasi

 Terminasi adalah tahap di mana individu sudah tidak memiliki godaan sama sekali dan
100% self-efficacy.
 Tidak peduli apakah mereka sedang depresi, cemas, bosan, kesepian, marah, atau stres,
mereka yakin mereka tidak akan kembali ke kebiasaan lama mereka yang tidak sehat
sebagai cara untuk mengatasinya, seolah-olah mereka tidak pernah memiliki kebiasaan
tersebut.
 Dalam studi tentang mantan perokok dan pecandu alkohol, ditemukan bahwa kurang
dari 20% dari setiap kelompok yang telah mencapai kriteria terminasi. Kriteria mungkin
terlalu ketat, atau mungkin tahap ini adalah tujuan ideal bagi mayoritas orang.
 Di area lain, seperti olahraga, penggunaan kondom yang konsisten, dan pengendalian
berat badan, tujuan yang realistis mungkin berupa masa pemeliharaan seumur hidup
karena tidak ada yang perlu diterminasi
4. Consumer Information Processing
Model

Model ini berkembang dari penelitian mengenai memecahkan masalah manusia dan
memproses informasi, merujuk ke cara bagaimana konsumen menerima dan menggunakan
informasi dalam pembuatan keputusan. Model ini memiliki 2 asumsi :
1. Seseorang memiliki batasan dalam seberapa banyak mendapatkan, menggunakan, dan
mengingat informasi.
2. Seseorang menggabungkan potongan informasi untuk mendapatkan kesimpulan yang
berguna dan membuat aturan dalam pembuatan keputusan agar pilihan menjadi lebih
cepat dan mudah.
Konsep utama dalam model ini adalah pengajar kesgimul harus menilai lingkungan
informasi dan memastikan bahwa audiens yang ditargetkan menilai informasinya sesuai
kebutuhan, menarik dan mudah digunakan.
5. Theory of Planned Behavior

 Teori ini mengeksplorasi hubungan antara perilaku dan kepercayaan, sikap, dan niat.
Dan mengasumsikan niat perilaku (behavioral intention) adalah penentu perilaku yang
paling penting.
 Menurut model ini, behavioral intention dipengaruhi oleh sikap seseorang terhadap
perilaku (attitude toward behavior), dan oleh keyakinan tentang apakah individu yang
penting bagi orang tersebut menyetujui atau menolak perilaku (norma subjektif).
 Model ini mengasumsikan semua faktor lain (mis., budaya, lingkungan) beroperasi
melalui konstruksi model, dan tidak secara independen menjelaskan kemungkinan
seseorang akan berperilaku dengan cara tertentu.
 Kemudian perceived behavioral control, berkaitan dengan kepercayaan masyarakat
bahwa mereka dapat mengendalikan perilaku tertentu. Konstruk ini ditambahkan untuk
memperhitungkan situasi di mana perilaku orang, atau niat perilaku, dipengaruhi oleh
faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka. Mereka berpendapat bahwa orang
mungkin berusaha lebih keras untuk melakukan perilaku jika mereka merasa memiliki
kontrol yang tinggi terhadapnya.
Pada gambar dijelaskan bahwa bagaimana behavioral intention menentukan perilaku
(behavior), dan bagaimana sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior), subjective
norm, dan pecieved behavioral control mempengaruhi behavioral intention.
 Menurut model ini, sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior) dibentuk oleh
keyakinan tentang apa yang diperlukan dalam melakukan perilaku dan hasil dari
perilaku tersebut.
 Keyakinan tentang standar social dan motivasi untuk memauthi norma-norma tersebut
mempengaruhi subjective norms. Ada atau tidaknya hal-hal yang akan membuat lebih
mudah atau sulit untuk melakukan perilaku mempengaruhi perceived behavioral control.
Dengan demikian, rantai kausal dari kepercayaan, sikap, dan niat mendorong perilaku.
Referensi

 Jill Mason. Concepts in Dental Public Health, 2nd edtion. 2010


 Prochaska JO, Velicer WF. The Transtheoretical Model of Health Behaviour Change. Am J
Health Promote. 1997.
HEALTH BEHAVIOR
THEORY:
THEORIES WITH
COMMUNITY
FOCUS
Sumber: Mason, Jill. Concepts in
Dental Public health 2nd ed. Hal
138. Lippincott Williams &
Wilkins. 2010.
COMMUNITY
ORGANIZATION
THEORY
Community Organization
Theory
• Dibangun atas dasar mengidentifikasi masalah
umum, mengembangkan dan mengimplementasi
metode untuk meraih goal yang diinginkan dan
mengaktifkan sumber daya yang ada.
• Teori ini menekankan partisipasi aktif dan
perkembangan komunitas untuk mengevaluasi dan
menyelesaikan masalah kesehatan dan sosial.
• Berkebalikan dengan aktivitas yang didesain dan
diimplementasi secara professional, hal ini
merupakan proses perkembangan oleh diri sendiri
didalam kelompok.
• Komunitas atau grup merupakan sarana untuk
perubahan.
Community Organization
Theory
Pada teori ini, anggota kelompok:
• Berpartisipasi dan have ownership dari
proses perubahan
• Percaya bahwa mereka memiliki kontrol
hidupnya sendiri dan hidup anggota
kelompoknya (empowerment)
• Memikul tanggung jawab dan mengambil
peran leadership dalam perubahan
• Secara efektif berkolaborasi untuk
mengidentifikasi masalah dan mencapai
kesepakatan dalam menetukan tujuan dan
prioritas serta implement actions.
Community Organization Theory
DIFFUSION OF
INNOVATIONS
THEORY
Diffusion of Innovations
Theory
• Sebelum ide, perilaku, produk, atau suatu
layanan baru menjadi bagian dari
masyarakat, hal tersebut harus
dikomunikasikan, diterima, dan diadopsi
terlebih dahulu.
• Teori Difusi Inovasi menjelaskan bagaimana
suatu ide, praktik sosial, atau produk baru
yang menyebar melalui dan antar
masyarakat dikomunikasikan, diterima, dan
diadopsi.
• Teori ini dipelopori oleh Rogers pada tahun
1962 untuk menggambarkan penerimaan
varietas jagung yang lebih keras oleh petani
Midwest di masyarakat pedesaan pada masa
sulit.
Diffusion of Innovations
Theory
• Teori ini cukup umum digunakan
dalam menangani banyak tantangan
kesehatan masyarakat kontemporer,
seperti menyebarkan metode deteksi
dini dan pengobatan dini, atau
gagasan pencegahan penyakit baru.
• Teori ini cukup umum untuk
membantu dalam meningkatkan
utilisasi program yang
menguntungkan.
Diffusion of Innovations
Theory

Nilai, kebutuhan,
Melibatkan populasi
pengalaman, dan
sasaran
kebiasaan

Mengidentifikasi opini
pemimpin masyarakat
dan mendapatkan
dukungan mereka
Diffusion of Innovations
Theory
• Aspek penting lain dari teori ini adalah bahwa
memandang komunikasi sebagai proses dua arah.
• Saat menerapkan teori ini, semua saluran
komunikasi formal dan informal serta sistem sosial
harus diidentifikasi dan digunakan untuk
menyebarkan pengetahuan baru.
• Tidak semua anggota masyarakat akan mengadopsi
atau bahkan menerima ide baru. Bagi mereka yang
melakukannya, adopsi terjadi pada tingkat yang
bervariasi.
• Menentukan di mana anggota kelompok berada
pada kurva adopter membantu pendidik kesehatan
memilih strategi intervensi terbaik untuk
digunakan bagi individu dalam kategori tertentu.
Diffusion of Innovations Theory
Diffusion of Innovations
Theory
Berbagai faktor meningkatkan penerimaan dan
adopsi ide, perilaku, produk, ataupun inovasi
layanan baru. Karakteristik yang meningkatkan
peluang adopsi antara lain:
• Keuntungan relative (apakah lebih baik
dibandingkan ide sebelumnya?)
• Kompatibilitas (apakah konsisten dengan
pengalaman dan nilai-nilai yang dimiliki
adopters?)
• Kompleksitas (kemudahan penggunaan)
• Trialability (dapatkah hal ini dieksperimentasikan
atau dicoba pada keadaan terbatas?)
• Observability (visibilitas hasil nyata yang sukses)
Diffusion of Innovations Theory
TEORI PERUBAHAN
ORGANISASI
(ORGANIZATIONAL
CHANGE THEORY)
• Teori Perubahan Organisasi
diterapkan untuk
meningkatkan proses
pemecahan masalah dan
Teori pembaruan organisasi besar
atau seluruh komunitas.
Perubahan • Premisnya adalah bahwa
organisasi bergerak melalui
Organisasi tahapan, atau serangkaian
langkah, ketika mereka
memulai dan mengadopsi
(Organization perubahan.
al Change • Dengan mengenali tahapan,
strategi untuk
mempromosikan perubahan
Theory) dapat dikembangkan untuk
menyesuaikan berbagai poin
dalam proses perubahan.
Teori Perubahan Organisasi (Organizational Change
Theory)

1 2 3 4
Menentukan masalah: Memulai aksi: Menerapkan perubahan: Melembagakan
mengenali dan merumuskan kebijakan letakkan perubahan ke perubahan: kebijakan
menganalisis masalah; dan arahan; alokasi dalam tindakan perubahan baru menjadi
mencari dan sumber daya terintegrasi ke dalam
mengevaluasi solusi organisasi.

Agar perubahan organisasi menjadi lengkap, kebijakan baru harus menjadi


tertanam dalam organisasi sebagai tujuan dan nilai-nilai baru yang diinternalisasi.
Teori Perubahan Organisasi (Organizational Change
Theory)
PROMOSI KESEHATAN GIGI Aqila Putri Sabrina
DAN MULUT
DEFINISI PROMOSI KESEHATAN

Health promotion adalah proses yang memungkinkan orang untuk mengendalikan dan
meningkatkan kesehatan mereka (WHO)

Health promotion adalah ilmu dan seni membantu orang dan masyarakat untuk mengubah
gaya hidupnya untuk mencapai kesehatan optimal

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1114 /MENKES/SK/VII/2005 tentang Pedoman


Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah, promosi kesehatan adalah upaya untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan
bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong diri sendiri, serta mengembangkan
kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan
didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
Mason, J. (2005). Concepts in dental public health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
http://www.depkes.go.id (Promosi Kesehatan di Daerah Bermasalah Kesehatan)
Promosi kesehatan menyatukan 4 bagian puzzle dalam dental hygiene care plan:

penilaian perencanaan
(assessing) (planning)

implementasi evaluasi
(implementation), (evaluating)

Sumber: Mason, J. (2005). Concepts


in dental public health. Philadelphia:
untuk mencapai kesehatan yang lebih baik
Lippincott Williams & Wilkins.
Promosi kesehatan menekankan pada quantity (umur) dan quality of life (seberapa
berartinya kehidupan)

Lima strategi utama promosi kesehatan WHO (WHO’s five core strategies of health promotion)
o Menciptakan lingkungan yang suportif
o Membuat kebijakan publik mengenai kesehatan
o Memperkuat kegiatan komunitas
o Mengembangkan skill personal
o Reorientasi pelayanan kesehatan

Sumber: Mason, J. (2005). Concepts in dental public health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
• Pemberdayaan adalah pemberian informasi dan
pendampingan dalam mencegah dan menanggulangi
masalah kesehatan, guna membantu individu, keluarga
atau kelompok-kelompok masyarakat menjalani tahap-
tahap tahu, mau dan mampu mempraktikkan PHBS.

• Bina suasana adalah pembentukan suasana


lingkungan sosial yang kondusif dan mendorong
dipraktikkannya PHBS serta penciptaan panutan-panutan
dalam mengadopsi PHBS dan melestarikannya.

• Advokasi adalah pendekatan dan motivasi terhadap


pihak-pihak tertentu yang diperhitungkan dapat
Kemitraan  antar individu, keluarga, pejabat atau
mendukung keberhasilan pembinaan PHBS baik dari segi
instansi pemerintah yang terkait dengan urusan
kesehatan (lintas sektor), pemuka atau tokoh materi maupun non materi.
masyarakat, media massa dan lain-lain
Berdasarkan Ottawa Charter for Health Promotion,
WHO menggambarkan syarat kesehatan untuk semua orang sebagai:

2. Enable: promosi kesehatan


1. Advokasi: promosi kesehatan bertujuan mengurangi perbedaan
bertujuan menciptakan kondisi status kesehatan yang ada saat
yang layak lewat kegiatan ini dan memastikan kesempatan
advokasi kesehatan. dan sumber daya yang sama
untuk semua orang meraih
kesehatan.

3. Mediasi: promosi kesehatan 4. Membangun kebijakan


bertujuan melibatkan semua masyarakat sehat: kebijakan
orang sebagai individu, keluarga, publik dan pembuat kebijakan di
dan komunitas. Strategi yang semua tingkatan harus
dibuat harus disesuaikan dengan mempertimbangkan konsekuensi
kebutuhkan lokal karena adanya kesehatan dari keputusan yang
perbedaan sistem sosial, budaya, mereka buat dan harus menerima
dan ekonomi. tangggung jawab yang sama.
Sumber: Mason, J. (2005). Concepts in dental public health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
5. Ciptakan lingkungan 6. Menguatkan peran
yang mendukung komunitas: tentukan prioritas,
kesehatan: buat keputusan buat keputusan, rencanakan,
global yang kondusif dan dan implementasikan strategi
tidak merugikan kesehatan. untuk meraih kesehatan
melalui peran komunitas.

7. Mengembangkan
keterampilan personal: 8. Reorientasi pelayanan
sediakan informasi lewat kesehatan: ahli dan
edukasi individu untuk organisasi kesehatan harus
meningkatkan keterampilan mengubah
hidup yang dapat
meningkatkan opsi kesehatan.

Sumber: Mason, J. (2005). Concepts in dental public health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
empat penyakit gigi dan mulut yang preventable 
DITUJUKAN PADA karies, penyakit periodontal, kanker oral faringeal, dan
injuri kraniofasial

memberdayakan masyarakat untuk meraih kesetaraan


TUJUAN dalam kesehatan serta mengurangi insidensi dan
prevalensi penyakit gigi mulut melalui edukasi dan
intervensi.

Sumber: Mason, J. (2005). Concepts in dental public health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
SASARAN PROMOSI KESEHATAN
Sasaran primer Sasaran sekunder Sasaran tersier

• Pasien, individu • Pemuka masyarakat, • Pembuat kebijakan


sehat dan keluarga baik pemuka informal publik yang berupa
(rumah tangga) (misalnya pemuka peraturan
sebagai komponen adat, pemuka agama perundang-undangan
dari masyarakat. dan lain-lain) maupun di bidang kesehatan
• Mereka ini pemuka formal dan bidang-bidang
diharapkan (misalnya petugas lain yang berkaitan
mengubah perilaku kesehatan, pejabat serta mereka yang
hidup mereka yang pemerintahan dan dapat memfasilitasi
tidak bersih dan tidak lain-lain), organisasi atau menyediakan
sehat menjadi kemasyarakatan dan sumber daya
perilaku hidup bersih media massa.
dan sehat (PHBS)
Komponen-komponen program promosi kesgimul yang efektif:
Intervensi: Edukasi:

• Berbagai tindakan kesehatan baik • Edukasi saja tidak cukup efektif


promotif, preventif, kuratif, atau dalam mencegah suatu penyakit,
rehabilitasi yang tujuan utamanya harus digunakan bersama dengan
adalah meningkatkan kesehatan. teknik lainnya.
• Intervensi harus efektif dan efisien. • Edukasi didesain untuk membantu
• Kegiatan seperti komunikasi, individu atau kelompok
edukasi, advokasi komunitas, mempelajari informasi kesehatan
evaluasi status kesehatan, insentif dan membangun perilaku
dan disinsentif, serta modifikasi kesehatan yang baru.
perilaku dapat digunakan sebagai • Edukasi harus spesifik terhadap
bagian intervensi target audiensnya, contohnya
edukasi mengenai tembakau yang
menargetkan anak umur 6 tahun
harus mencakup informasi yang
sesuai dengan usia, aktivitas, dan
bacaan yang menarik dan mudah
dipahami.

Sumber: Mason, J. (2005). Concepts in dental public health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Sumber: Mason, J. (2005). Concepts in dental public health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Faktor sosial yang memengaruhi kesgimul:
kebiasaan, nilai, jejaring sosial, dan etnisitas.
Faktor sosial dapat mempengaruhi kesehatan seseorang
pada tingkat
o Mikro mempengaruhi individu;
o Meso melibatkan institusi, organisasi, dan jejaring
sosial;
o Makro  berdampak pada lembaga sosial, budaya,
dan politik.

Faktor psikologis yang memengaruhi kesehatan:


kebiasaan kesehatan dan motivasi manusia

Sumber: Mason, J. (2005). Concepts in dental public


health. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Penyusunan
Pesan
Kesehatan
Pengertian Pesan
Pesan merupakan ungkapan bahasa dari komunikator ke
komunikan sesuai dengan tujuan komunikasi. Pesan dalam
penyuluhan atau promosi kesehatan yang merupakan terjemahan
dari tujuan komunikasi yang diungkapan secara kreatif dalam
bentuk kata-kata atau kalimat, gambar, lambang-lambang, buyi,
suara, lagu, dll, kemudian disampaikan lewat berbagai
medium/media kepada sasarannya.

57
Bagaimana menyusun pesan?
Kaidah menyusun pesan :
 Disusun sesuai dengan karakteristik target sasarannya
 Bersifat mengajak, informatif, memperingatkan, membimbing,
dan memberi solusi
 Meliputi tema, isi, dan visualisasi

58
Bagaimana menyusun pesan?
• Bahasa
B

• Ide
I

• Subjek sasaran
S

• Sumber
S

• Waktu
W

• Tempat
T

• Saluran
S
59
Bagaimana menyusun pesan?
• Statement
S

• Evidence
E

• Example
E

• Action
A

60
Bagaimana menyusun pesan?
Harus efektif yaitu “seven C’s for effective communication”. Suatu
pesan dapat dikatakan efektif dan kreatif jika memenuhi tujuh
kriteria :

Command Clarify the Communicate a


Creative Trust
Attention Message Benefit

Cater to the
Consistency Call to Action
Main

61
Struktur Pesan
Unsur

Attention Interest Desire

Conviction Action

62
Pendekatan dalam Penyusunan
Pesan

Pendekatan Pendekatan Pendekatan Pendekatan Pendekatan Pendekatan


rasa takut rasa besalah rasional emosional humor moral

63
Dwinda Rizky Afdrian
1506725376

TAHAPAN PENYAMPAIAN
PESAN
The Stages of the Health
Communication Process
• Program komunikasi yang
berhasil harus didasari oleh
pemahaman needs dan
persepsi dari audiens. Planning and Strategy
Development

• Needs dan persepsi dapat


berubah seiring berjalannya Developing and
Assessing Effectiveness
program. and Making Refinements
Pretesting Concepts,
Messages, and Materials
• Untuk merencanakan dan
mengembangkan program
Implementing the
komunikasi kesehatan, Program

proses dibagi menjadi 4


tahap, yaitu:
*pada tahapan terakhir mengumpan balik tahapan
pertama seiring lingkaran planning, implementation
dan improvement yang kontinyu
Komponen yang akan tercapai dalam final
plan:
• Deskripsi mengenai program, termasuk audiences, target, dan
tujuan
• Market research plans
• Message and materials development and pretesting plans
• Materials production, distribution, and promotion plans
• Partnership plans
• Process evaluation plan
• Outcome evaluation plan
• Task and time table
• Budget
Stage 1: Planning and Strategy
Development
Pentingnya planning,
membantu: • Membuat program
• Memahami isu kesehatan komunikasi yang
yang dibicarakan mendukung tujuan
• Menentukan peran • Menentukan prioritas
kesehatan yang tepat dalam • Menetapkan tanggung
komunikasi kesehatan jawab
• Mengidentifikasi • Menilai progress
pendekatan yang penting • Mencegah terjadinya
dalam mendukung bencana
perubahan yang diinginkan
• Membentuk proses • Membuat perencanaan
pengembangan program yang menjadi dasar dari
yang logis program.
Yang harus dicapai:
• Identifikasi bagaimana organisasi dapat
menggunakan komunikasi secara efektif untuk
menyampaikan pesan masalah kesehatan.
• Identifikasi intended audiences
• Menggunakan consumer research untuk
membentuk strategi dan tujuan komunikasi
• Membuat rencana komunikasi, termasuk
aktivitas, partnership, baseline survey untuk
evaluasi outcome.
Langkah-langkah:
1. Menilai masalah kesehatan dan mengidentifikasi seluruh
komponen dari solusi yang memungkinkan (e.g., communication
as well as changes in policy, products, or services).
a. Review data yang tersedia
b. Identifikasi aktivitas yang sudah ada
c. Mengumpulkan data baru yang diperlukan
d. Mengidentifikasi seluruh komponen solusi
e. Menggunakan komunikasi dalam mendukung
perubahan kebijakan
f. Menentukan apakah komunikasi kesehatan sesuai
dengan masalah dan organisasi
2. Menentukan tujuan komunikasi.
a. Harus suportif terhadap tujuan program,
reasonable dan realistic (achievable), specific
terhadap perubahan yang diinginkan kapan
perubahan harus terjadi, measurable agar dapat
melihat progres, prioritized untuk mengalokasikan
resources.
b. Goal : peningkatan kesehatan secara umum yang
ingin dicapai oleh organisasi
c. Communication objectives : Spesific
communication outcome yang dituju untuk
mencapai dan mendukung goal
d. Strategy : pendekatan program
3. Menentukan dan mempelajari intended audiences.
– Dipengaruhi oleh behavior, budaya, demografi, fisik,
psikografik
4. Meninjau settings, channels dan aktivitas yang
paling sesuai untuk mencapai intended audiences.
a. Interpersonal
b. Kelompok
c. Organisasi dan komunitas
d. Media massa
e. Media digital interaktif
5. Mengidentifikasi partner yang potensial dan
mengembangkan rencana partnership.
6. Mengembangkan strategi komunikasi untuk
intended audience dan membuat draft rencana
komunikasi.
Stage 2: Developing and Pretesting
Concepts, Messages, and Materials
• Pada stage 2 akan dikembangkan konsep dari pesan dan
mencoba pada intended audiens dengan
metode kualitatif
• Akhir dari stage 2, akan didapatkan:
Perkembangan yang relevan, dan isi pesan yang
bermakna
Perencanaan kegiatan dan draft materi
Pre-test pesan dan materi pada intended audiens
Langkah-langkah:
1. Meninjau ulang materi yang ada
2. Mengembangkan dan menguji konsep pesan
3. Menentukan materi yang akan dikembangkan
4. Mengembangkan pesan dan materi
5. Pre-test pesan dan materi

Feedback dari intended audies penting ketika


mengembangkan pesan untuk menilai kesuksesan
setiap program komunikasi.
Stage 3: Implementing the Program
• Pada stage 3, dilakukan pengenalan program secara
lengkap kepada calon audience
• Pada akhir stage 3 akan didapatkan:
 Memulai implementasi program, melakukan promosi dan
kegiatan lain melalui semua channels
 Meninjau reaksi intended audiens terhadap program dan
menentukan penyesuaian yang dibutuhkan (proses evaluasi)
 Meninjau secara berkala semua komponen program
• Melengkapi proses evaluasi dan membuat penyesuaian
perlu dalam implementasi suatu program dan akan
menentukan bahwa program tersebut akan berjalan secara
efektif
Stage 4: Assessing Effectiveness and
Making Refinements
• Pada stage 4, akan dapat dinilai program dari hasil evaluasi
yang telah direncanakan pada stage 1
• Pada akhir dari stage 4, akan didapatkan:
– Penilaian health communication program
– Mengidentifikasi perbaikan yang dapat
meningkatkan keefektifan dari program
selanjutnya
Karena program perencanaan merupakan a recurring process,
maka tahap planning, management, and evaluation merupakan
keseluruhan dari sebuah program.
MEDIA PROMOSI KESEHATAN

zela
• Media promosi kesehatan adalah semua
saranana atau upaya menampilkan pesan atau
informasi yang ingin disampaikan oleh
komunikator, baik melalui media cetak,
elektronika, dan media luar ruang, sehingga
pengetahuan sasaran dapat meningkat dan
akhirnya dapat mengubah perilaku ke arah
positif terhadap kesehatan (Soekidjo, 2005).
TUJUAN MEDIA PROMOSI KESEHATAN
• Dapat menampilkan obyek yang tidak bisa ditangkap
mata
• Memperlancar komunikasi
• Sebagai alat bantu dalam pendidikan/ latihan/
penyuluhan.
– Media dapat mempermudah penyampaian informasi
– Media dapat menghindari kesalahan persepsi
– Dapat memperjelas informasi
• Untuk menimbulkan perhatian terhadap suatu masalah
• Untuk mengingatkan suatu pesan/ informasi
• Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan.
MANFAAT MEDIA PROMOSI
KESEHATAN
• Dapat menghindari kesalahan
pengertian/pemahaman atau salah tafsir.
• Dapat memperjelas apa yang diterangkan dan
dapat lebih mudah ditangkap.
• Apa yang diterangkan akan lebih lama diingat,
terutama hal-hal yang mengesankan.
• Dapat menarik serta memusatkan perhatian.
• Dapat memberi dorongan yang kuat untuk
melakukan apa yang dianjurkan.
• Menimbulkan minat sasaran pendidikan
• Mencapai sasaran yang lebih banyak
Langkah menetapkan media

Menetapkan tujuan

• Tujuan harus realistis, jelas, dan dapat


diukur (apa yang diukur, siapa sasaran yang
akan diukur, seberapa banyak perubahan
akan diukur, berapa lama dan dimana
pengukuran dilakukan). Penetapan tujuan
merupakan dasar untuk merancang media
promosi dan merancang evaluasi.
Langkah menetapkan media

Menetapkan segmentasi sasaran

• Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan


memilih kelompok sasaran yang tepat dan
dianggap sangat menentukan keberhasilan
promosi kesehatan. Tujuannya antara lain
memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya,
memberikan kepuasan pada masing-masing
segmen, menentukan ketersediaan jumlah dan
jangkauan produk, serta menghitung jenis dan
penempatan media.
Langkah menetapkan media

Memposisikan pesan (positioning)

• Memposisikan pesan adalah proses atau upaya


menempatkan suatu prosuk perusahaan, individu atau apa
saja ke dalam alam pikiran sasaran atau konsumennya.
Positioning membentuk citra.

Menentukan strategi positioning

• Identifikasi para pesaing, termasuk persepsi konsumen,


menentukan posisi pesaing, menganalisis preferensi
khalayak sasaran, menetukan posisi merek produk sendiri,
serta mengikuti perkembangan posisi.
Langkah menetapkan media

Memilih media promosi kesehatan

• Pemilihan media didasarkan pada selera


khalayak sasaran. Media yang dipilih harus
memberikan dampak yang luas. Setiap media
akan memberikan peranan yang berbeda.
Penggunaan beberapa media secara
seremoak dan terpadu akan meningkatkan
cakupan, frekuensi, dan efektivitas pesan.
Penggolongan Media kesehatan
• Berdasarakan bentuk • Berdasarkan cara
umum penggunaan produksi:
– Bahan bacaan : modul, – MEDIA CETAK
buku rujukan/bacaan, – MEDIA ELEKTRONIK
leaflet majalah, buletin, – MEDIA PAPAN
tabloid dll
– Bahan peragaan : poster
tunggal, poster seri, flip
chart, transparansi, slide,
film dll
Media cetak

BOOKLET
• Dalam bentuk buku, baik berupa tulisan maupun gambar.

LEAFLET/ BROSUR
• Berupa lembaran yang dilipat.

FLIPCHART
• Dalam bentuk lembar balik.

POSTER
• Berisi pesan/ informasi kesehatan yang ditempel di kendaraan, papan pengumuman, dll.

FOTO

RUBRIK/ TULISAN PADA SURAT KABAR/ MAJALAH


Media cetak
• Yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan –pesan visual. Pada
umumnya terdiri dari gambaran sejumlah kata, gambar atau foto dalam
tata warna

• Fungsi Utama : Memberi Informasi dan Menghibur


• Kelebihan
– Tahan lama
– Mencakup banyak orang
– Biaya tidak terlalu tinggi
– Tidak perlu energi listrik
– Dapat dibawa
– Mempermudah pemahaman
– Meningkatkan gairah belajar
• Kelemahan :
– Tidak dapat mensimulasi efek suara dan efek gerak
– Mudah terlipat
Media elektronik

TELEVISI
• Dalam bentuk sandiwara/ sinetron, forum diskusi, ceramah, kuis, iklan, dll

RADIO

VIDEO

SLIDE

OHP

LCD

INTERNET
Media elektronik
• Yaitu suatu media bergerak dan dinamis dapat dilihat dan didengar dalam
menyampaikan pesannya melalui alat bantu elektronika
• Kelebihan
– Sudah dikenal masyarakat
– Melibatkan semua panca indra
– Lebih mudah dipahami
– Lebih menarik karena ada suara & gambar
– Bertatap muka penyajian dapat dikendalikan
– Jangkauan relatif lebih besar / luas
– Sebagai alat diskusi dapat diulang – ulang
• Kelemahan
– Biaya lebih tinggi
– Sedikit rumit
– Memerlukan energi listrik
– Diperlukan alat canggih dalam proses produksi
– Perlu persiapan yang matang
– Peralatan yang selalu berkembang & berubah
– Perlu ketrampilan penyimpanan
– Perlu ketrampilan dalam pengoperasian
Media papan/ luar ruang
• suatu media yang menyampaikan pesannya di
luar ruang secara umum melalui media cetak
dan elektronik secara statis
• Contoh : Papan Reklame, Spanduk, Pameran,
Banner, TV Layar Lebar Dll
Media papan/ luar ruang
• Kelebihan
– Sebagai informasi umum dan hiburan
– Melibatkan semua panca indra
– Lebih menarik karena ada suara dan gambar
– Adanya tatap muka
– Penyajian dapat dikendalikan
– Jangkauan relatif lebih luas
• Kelemahan
– Biaya lebih tinggi
– Sedikit rumit
– Ada yang memerlukan listrik dan atau alat canggih
– Perlu kesiapan yang matang
– Peralatan yang selalu berkembang dan berubah
– Perlu ketrampilan penyimpanan
MEDIA DHE

untuk anak pra-


untuk anak kelas 3
sekolah sampai
sampai kelas 5
kelas 2 Sekolah
sekolah dasar
dasar
Anak pra-sekolah sampai kelas 2
Sekolah dasar

Key dental vocabulary

•The Good and the Bad (2nd graders)

•National Children’s Dental Health Month Calendar

•Age appropriate coloring pages with dental health messages


Key dental vocabulary

• Tooth • Dentist
• Enamel • Hygienist
• bacteria (tooth bugs or • dental assistant
germs) • Gums
• Sugar • Sweets
• Floss • Checkup
• Toothbrush • Smile
• Toothpaste • Plaque
• Healthy • Dudley
• decay (“cavities”)
The Good and the
Bad (2nd graders)
National Children’s
Dental Health Month
Calendar
Age appropriate
coloring pages
with dental health
messages
untuk anak kelas 3 sampai kelas 5
sekolah dasar

Key dental •What is the Secret


•Fill-in the Blank
vocabulary Word

•The Good and the •Vocabulary Word


•Crossword Puzzle
Bad (3rd graders) Search Puzzle

•National Children’s
Dental Health
Month Calendar
Key dental
vocabulary

• Tooth • healthy • smile


• Enamel • nutrition • sealants
• Dentin • fillings • Mouthguard
• Bacteria • dentist • Dudley
• Sugar • hygienist • decay
• Acid • dental assistant • chew
• floss • plaque • molar
• toothbrush • gums • jaws
• Toothpaste • sweets
• fluoride • checkup
What is the
Secret Word
Fill-in the
Blank
The Good
and the Bad
(3rd graders)
Vocabulary
Word Search
Puzzle
Crossword
Puzzle
National
Children’s
Dental Health
Month
Calendar
Hubugan Perilaku dengan Kesehatan
Gigi dan Mulut
(Karies dan penyakit peridontal
Gaya hidup dipengaruhi oleh
sikap/ perilaku dan kebiasaan
Institute of Medicine (US) Committee on Using Performance Monitoring to
Improve Community Health; Durch JS, Bailey LA, Stoto MA,
Bonita R, Beaglehole R, Kjellstrom T. Basic Epidemiology 2nd edition.
Meningkatkan pengetahuan dan sikap dalam suatu
tindakan akan meningkatkan kesadaran dalam perilaku.

Sikap

Pengetahuan Tindakan

Perilaku
kesehatan

Nurjannah. Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Kesehatan Gigi dan Mulut
terhadap Status Kebersihan Mulut Pelajar SMP/MTs Pondok Pesantren Putri Ummul
Hubungan perilaku dengan penyakit
karies

• Berbagai perilaku
kesehatan gigi dan mulut
yang berpengaruh
terhadap karies:
– Konsumsi
makanan/minuman
manis  frekuensi, cara,
dan jumlah
– Frekuensi asupan fluor
– Menyikat gigi 
frekuensi dan waktu
– Penggunaan dental floss,
mouthwash
– Kesadaran ke dokter gigi

Ann Felton et al. Basic Guide to Oral Health Education and Promotion,
Hubungan perilaku dengan penyakit
periodontal
• Oral Hygiene yang buruk
• Merokok – smokeless tobacco
• Kebiasaan dan self-inflicted Injury

Carranza. Clinical Periodontology 11th ed


MODEL PRECEDE-PROCEED
PRETICIA

1. Mason, J. Concepts in Dental Public Health, 2nd Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2010. P. 75-6,
141-3.
2. Community Toolbox. Section 2. Precede/Proceed. Di akses di [Internet] https://ctb.ku.edu/en/table-
contents/overview/other-models-promoting-community-health-and-development/preceder-proceder/main
diakses pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 20.12 WIB
DEFINISI

 Model PRECEDE-PROCEED  sebuah model perencanaan yang menjelaskan


perilaku yang berhubungan dengan kesehatan dan untuk mendesain dan
mengevaluasi intervensi yang dapat mempengaruhi kondisi lingkungan dan
perilaku
 Dipublikasikan oleh Green dan Kreuter untuk edukasi kesehatan dan program
promosi kesehatan yang menyediakan format dalam mengindentifikasi faktor-
faktor yang berkaitan dengan masalah, perilaku, dan implementasi program
kesehatan

Mason, J. Concepts in Dental Public Health, 2nd Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2010. P. 75-6, 141-3.
PRECEDE - PROCEED

P Predisposising Memungkinkan pengurutan P Political


R Reinforcing and perilaku menjadi segmen-segmen R Regulatory and
E Enabling untuk perencanaan program
O Organizational
C Constructs that affect
C Constructs in
E Ecosystem
E Educational and
D Diagnosis and E Environmental
E Evaluation D Development

Mason, J. Concepts in Dental Public Health, 2nd Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2010. P. 75-6, 141-3.
MODEL PRECEDE –
PROCEED
DALAM PERENCANAAN
PROGRAM PROMOSI
KESEHATAN

Mason, J. Concepts in Dental Public Health, 2nd Ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2010. P. 75-6, 141-3.
PRECEDE

 mempertimbangkan faktor-faktor perilaku yang relevan dengan munculnya masalah kesehatan


 Ada 4 fase, yaitu

1.Fase 1 - Mengidentifikasi hasil akhir yang diinginkan

1.Fase 2 - Mengidentifikasi masalah.

1.Fase 3 – Mengidentifikasi faktor predisposing, enabling,


dan reinforcing yang dapat mempengaruhi perilaku, sikap,
dan faktor lingkungan yang telah diprioritaskan pada Fase 2.
Fase 4 - Mengidentifikasi cara terbaik dan sumber
panduan lainnya untuk merancang intervensi, serta masalah
administratif, peraturan, dan kebijakan yang dapat
mempengaruhi pelaksanaan program atau intervensi

Community Toolbox. Section 2. Precede/Proceed. Di akses di [Internet] https://ctb.ku.edu/en/table-contents/overview/other-models-promoting-community-health-and-


development/preceder-proceder/main diakses pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 20.12 WIB
FASE 1

 Fokus pada community wants and needs.


 Fase ini dimulai dengan pengumpulan data demografi, yang kemudian dipresentasikan
kepada masyarakat untuk membantu warga menentukan prioritas. Cara untuk
menentukan apa yang warga inginkan untuk komunitas mereka adalah dengan
bertanya kepada mereka. Ada beberapa pilihan di sini yang dapat digunakan:

Survei Kuisioner di
Phone Face-to-face
(community Focus group tempat-
interviews interviews
survey) tempat umum

Community Toolbox. Section 2. Precede/Proceed. Di akses di [Internet] https://ctb.ku.edu/en/table-contents/overview/other-models-promoting-community-health-and-


development/preceder-proceder/main diakses pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 20.12 WIB
FASE 2

 Tetapkan prioritas diantara berbagai isu kesehatan serta determinan perilaku dan
lingkungan mereka yang menghalangi pencapaian hasil, atau kondisi yang harus dicapai
untuk mencapai hasil tersebut; dan identifikasi perilaku, gaya hidup, dan/ atau
faktor lingkungan yang mempengaruhi masalah atau kondisi tersebut
 Lalu pilih yang paling penting

perilaku gaya hidup lingkungan


Community Toolbox. Section 2. Precede/Proceed. Di akses di [Internet] https://ctb.ku.edu/en/table-contents/overview/other-models-promoting-community-health-and-
development/preceder-proceder/main diakses pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 20.12 WIB
FASE 3

Faktor predisposing Faktor enabling Faktor reinforcing

• mengenai alasan atau • kondisi internal dan • Sikap mendukung atau


motivasi dari sebuah eksternal yang secara menyulitkan dalam adopsi
perilaku langsung berhubungan dan perilaku sehat atau kondisi
• Pengetahuan membantu seseorang lingkungan sehat
• Sikap mengadopsi dan
mempertahankan perilaku &
• Keyakinan
gaya hidup sehat atau tidak
• Nilai sehat.
• Kepercayaan diri • Ketersediaan sumber daya
• Aksesibilitas layanan
• Hukum, kebijakan, prioritas,
dan komitmen masyarakat
dan/atau pemerintah
• Keterampilan
Community Toolbox. Section 2. Precede/Proceed. Di akses di [Internet] https://ctb.ku.edu/en/table-contents/overview/other-models-promoting-community-health-and-
development/preceder-proceder/main diakses pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 20.12 WIB
FASE 4

 Mengidentifikasi cara terbaik dan sumber panduan lainnya untuk merancang


intervensi, serta masalah administratif, peraturan, dan kebijakan yang dapat
mempengaruhi pelaksanaan program atau intervensi.
 Pada fase ini dapat dilihat masalah organisasi dapat berdampak pada intervensi.

Community Toolbox. Section 2. Precede/Proceed. Di akses di [Internet] https://ctb.ku.edu/en/table-contents/overview/other-models-promoting-community-health-and-


development/preceder-proceder/main diakses pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 20.12 WIB
Community Toolbox. Section 2. Precede/Proceed. Di akses di [Internet] https://ctb.ku.edu/en/table-contents/overview/other-models-promoting-community-health-and-
development/preceder-proceder/main diakses pada tanggal 10 Oktober 2018 pukul 20.12 WIB

PROCEED

 melibatkan komponen administratif dan kebijakan untuk perencanaan model


 Ada 4 fase, yaitu:

1.Fase 5 - Implementasi  pelaksanaan intervensi

1.Fase 6 - Evaluasi proses. Fase ini bukan mengenai hasil, tetapi


mengenai prosedur. Evaluasi adalah apakah Anda benar-benar
melakukan apa yang Anda rencanakan.
1.Fase 7 - Evaluasi dampak. Pada fase ini mulai evaluasi keberhasilan awal usaha
yang telah dilakukan. Apakah intervensi memiliki efek yang diinginkan pada faktor
perilaku atau lingkungan yang ditujukan untuk berubah? Apakah intervensi memiliki
dampak yang diharapkan pada populasi target?

1.Fase 8 - Evaluasi hasil. Apakah intervensi yang telah dilakukan


benar-benar memberikan hasil yang diinginkan seperti pada Fase 1?
Community Toolbox. Section 2.
Precede/Proceed. Di akses di
[Internet]
https://ctb.ku.edu/en/table-
contents/overview/other-models-
promoting-community-health-
and-development/preceder-
proceder/main diakses pada
tanggal 10 Oktober 2018 pukul
20.12 WIB
Clarita
Oral health literacy
Definisi Health literacy
“keterampilan kognitif dan sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan
individu dalam mendapatkan akses, memahami, dan menggunakan informasi yang
dapat membantu menjaga tingkat kesehatan individu tersebut”
-WHO

”tingkatan dimana individu memiliki kapasitas untuk mendapatkan, memproses, dan


mengerti informasi dasar tentang kesehatan dan jasa yang dibutuhkan untuk
memperoleh pelayanan untuk membantu membuat keputusan terkait pelayanan
kesehatan yang tepat.”
-Ratzan & Parker
Horowitz AM, Kleinman D V. Oral Health Literacy: The New Imperative to Better Oral Health. Dent Clin North Am. 2008;52(2):333-344.
doi:10.1016/j.cden.2007.12.001.
Definisi oral Health literacy

“tingkat dimana individu memiliki kapasitas untuk memperoleh,


memproses, dan memahami informasi dan layanan kesehatan dasar
yang duperlukan untuk membuat keputusan kesehatan gigi dan mulut
yang tepat. Dengan meningkatkan oral health literacy, seseorang juga
dapat menjadi pelayan yang baik untuk dirinya sendiri.”
-ADA

http://www.ada.org/en/public-programs/health-literacy-in-dentistry
Kemampuan
mencakup?
 Mengerti tentang instruksi pada botol obat
yang diresepkan
 Menggunakan obat-obatan secara aman
 Bertanya mengenai pertanyaan-pertanyaan
yang berhubungan dengan kesehatan
personal/keluarga
 Mengerti tentang rekomendasi medis dan
dental yang dibicarakan
 Menunjukan respon komunikasi kepada
tenaga kesehatan
 Advokasi terhadap hak pasien dalam
lingkungan kesehatan

Kanj M, Mitic W. Oral Health Literacy. World Health


Organization. 2009;(October):26-30.
• Tingkat Health Literacy bervariasi berdasarkan pada ras, etnis,
tingkat pendidikan, dan tingkat kemiskinan

• Health Literacy penting karena:


Semakin rendah, maka:
– Kemungkinan individu akan memiliki kesehatan yang buruk
– Kemungkinan individu menggunakan prosedur preventif yang
lebih sedikit
– Biaya pelayanan darurat yang lebih mahal
– Kemungkinan individu tidak dapat memanajemen kondisi
kesehatan yang sudah kronis
3 Level Health Literacy

1. Functional Literacy
Kemampuan individu untuk membaca consent form, label obat, dan
informasi kesehatan; serta memahami informasi tertulis dan verbal
yang diberikan oleh tenaga kesehatan

2. Conceptual Literacy
Kompetensi seseorang untuk mencari, mengevaluasi, dan
menggunakan informasi kesehatan dan konsep yang dimiliki untuk
menentukan pilihan, mengurangi risiko penyakit, dan meningkatkan
kualitas hidup
3 Level Health Literacy
3. Health Literacy as Empowerment
Memperkuat kewarganegaraan aktif dengan memiliki komitmen untuk
melaksanakan promosi kesehatan dan usaha pencegahan serta melibatkan
setiap individu dalam:
– Memahami haknya sebagai pasien dan kemampuan
mengarahkannya melalui sistem pelayanan kesehatan
– Berperan sebagai konsumen yang telah memiliki informasi mengenai
risiko kesehatan suatu produk, pelayanan dan pilihan tenaga
kesehatan
– Berperan sebagai individu atau kelompok untuk meningkatkan
kesehatan melalui sistem politik, advokasi, atau keanggotaan suatu
gerakan sosial
Faktor yang Mempengaruhi
Health Literacy
1. Keterampilan Komunikasi
Health literacy bergantung pada keterampilan komunikasi pasien dan tenaga
kesehatan. Keterampilan komunikasi termasuk keterampilan literacy seperti
membaca, menulis, berbicara, mendengar dan memahami.

2. Pengetahuan tentang Topik Kesehatan


Pasien dengan keterbatasan pengetahuan mengenai tubuhnya dan penyebab
penyakitnya tidak dapat:
– Memahami hubungan antara faktor gaya hidup (contoh: diet dan olahraga atau oral
hygiene dan kontrol diabetes) dengan status kesehatannya
– Menyadari ketika mereka membutuhkan pelayanan kesehatan
– Memiliki informasi preventif terkini
Penyedia yang tidak mengikuti perkembangan sains tidak dapat menyediakan
pengetahuan dan informasi yang akurat dan pelayanan evidence-based ke
pasien mereka
Faktor yang Mempengaruhi
Health Literacy
3. Sosial dan Budaya
Mempengaruhi individu dalam:
– Bagaimana individu berkomunikasi dan memahami informasi kesehatan
– Bagaimana individu berpikir dan rasakan mengenai kesehatannya
– Jika dan bagaimana individu menghargai kesehatan gigi dan mulut
– Kapan dan dari siapa individu mencari bantuan pelayanan kesehatan
– Bagaimana individu merespon terhadap rekomendasi perubahan gaya hidup dan
perawatan
Mempengaruhi tenaga kesehatan dalam:
– Bagaimana penyedia berkomunikasi dan memahami informasi kesehatan
– Bagaimana penyedia berpikir dan rasakan mengenai kelompok ras/ etnis/ ekonomi lain
selain mereka sendiri
– Bagaimana penyedia menghargai kesehatan gigi dan mulut
– Jika dan bagaimana penyedia merespon terhadap rekomendasi dan guideline evidence-
based untuk pasien mereka
Faktor yang Mempengaruhi Health
Literacy
4. Permintaan Sistem Pelayanan Kesehatan
Individu perlu untuk:
• Mengetahui cara menemukan lokasi dan mengatur fasilitas kesehatan
• Membaca, memahami, dan memenuhi berbagai macam bentuk formulir
untuk menerima perawatan dan reimbursement pembayaran
• Dapat mengutarakan tanda dan gejala yang dialami dengan jelas
• Mengetahui mengenai berbagai macam tipe ahli kesehatan dan pelayanan
apa yang mereka sediakan dan bagaimana mengakses layanan tersebut
• Mengetahui bagaimana dan kapan menanyakan pertanyaan atau
menanyakan klarifikasi ketika mereka tidak mengerti
Faktor yang Mempengaruhi
Health Literacy
5. Permintaan Terhadap Situasi atau Konteks
• Konteks kesehatan umumnya dibandingkan dengan konteks lain karena
individu merasa stress atau faktor takut
• Konteks kesehatan dapat meliputi kondisi unik seperti penurunan fisik atau
mental karena penyakit
• Situasi kesehatan seringkali baru, asing, mengintimidasi, dan melelahkan
individu
• Beberapa fasilitas kesehatan memiliki staff yang tidak empati terhadap
pasiennya
• Beberapa fasilitas kesehatan memiliki banyak batasan untuk pasien
Faktor yang mempengaruhi health knowledge, decisions
& actions

Kanj M, Mitic W. Oral Health Literacy. World


Health Organization. 2009;(October):26-30.
Model Health Literacy oleh Institute of
Medicine, US, 2014

Kanj M, Mitic W. Oral Health Literacy. World Health Organization. 2009;(October):26-30.


Model Health Literacy oleh
The Canadian Public Health
Association Expert Panel

Kanj M, Mitic W. Oral Health Literacy. World


Health Organization. 2009;(October):26-30.
Model Health Literacy oleh Gillis, 2006

Kanj M, Mitic W. Oral Health Literacy. World


Health Organization. 2009;(October):26-30.
Model Health Literacy oleh
Nutbeam, 2006

Kanj M, Mitic W. Oral Health Literacy.


World Health Organization.
2009;(October):26-30.
Model Health Literacy oleh
Rootman, 2009

Kanj M, Mitic W. Oral Health Literacy. World


Health Organization. 2009;(October):26-30.
Cara meningkatkan health
literacy
1. Meningkatkan cara penyampaian informasi tentang kesehatan,
edukasi, dan formulir dengan baik.

2. Membuat lingkungan rumah sakit dan komunitas kesehatan yang


bersahabat dan suportif untuk pasien.

3. Menentukan tingkat health literacy pasien dengan menggunakan


pengukuran.
Horowitz AM, Kleinman D V. Oral Health Literacy: The New Imperative to Better Oral Health. Dent Clin North
Am. 2008;52(2):333-344. doi:10.1016/j.cden.2007.12.001.
Cara meningkatkan health
literacy
4. Membangun pengetahuan untuk meningkatkan kemampuan
dalam mengambil keputusan terkait kesehatan

5. Langkah selanjutnya:
 Membuat action plan berisikan tujuan, aksi spesifik yang dapat
dilakukan, timetable, dan evaluasi dari proses

Horowitz AM, Kleinman D V. Oral Health Literacy: The New Imperative to Better Oral Health. Dent Clin North Am. 2008;52(2):333-344.
doi:10.1016/j.cden.2007.12.001.
Alat ukur health literacy
• REALM (Rapid Estimate of Adult Literacy in Medicine)
• REALMD (Rapid Estimate of Adult Literacy in Medicine and Dentistry)
• REALD (Rapid Estimate of Adult Literacy in Dentistry)
• TOFHLA (Test of Functional Health Literacy in Adults)
• TOFHLiD (Test of Functional Health Literacy in Dentistry)
• NVS (Newest Vital Sign)

American Association of Public Health Dentistry


Pendekatan pengukuran yang dapat diaplikasikan di klinik – Chew & kolega

• Keempat pertanyaan ini dapat dimasukkan ke dalam


formulir kesehatan.
• Jika pertanyaan pertama dan kedua diisi dengan “quite
sure” atau “extremely sure” maka dapat diasumsikan
pasien dapat mengerti instruksi tertulis atau pun materi
edukasi lainnya.
• Namun, jika pasien mengisi dengan “not sure at all”, “a
little sure” atau dengan “somewhat sure” maka dapat
diketahui bahwa pasien memerlukan asistensi ekstra
untuk memastikan pasien dapat memahami instruksi,
formulir atau pun bahan edukasi lainnya
• begitu pula jika pasien menjawab pertanyaan ketiga dan
keempat dengan pilihan 3 terakhir.

Horowitz AM, Kleinman D V. Oral Health Literacy: The New Imperative to


Better Oral Health. Dent Clin North Am. 2008;52(2):333-344.
doi:10.1016/j.cden.2007.12.001.
Communica
tionAssess
ment tool

Horowitz AM, Kleinman D V. Oral Health Literacy: The New


Imperative to Better Oral Health. Dent Clin North Am.
2008;52(2):333-344. doi:10.1016/j.cden.2007.12.001.
Teori Adopsi Perilaku
• Pada teori ini, learner harus bergerak melalui tiap step
dalam rangkaian tersebut untuk memperoleh dan
membuat komitmen terhadap tingkah laku baru. Jika suatu
langkah dihilangkan, perubahan perilaku jangka panjang
(kebiasaan) tidak akan terjadi. Untuk menerapkan teori ini,
educator mengidentifikasi tingkat masuk learner dalam
rangkaian dan mengembangkan rencana untuk berpindah
ke langkah-langkah selanjutnya secara berurutan.
• Dengan menilai lokasi learner pada Learning Ladder
Decision-Making Continuum, dapat membantu educator
mengembangkan rencana edukasi pada learner dengan
pesan yang dirancang khusus untuk tahap kesiapan edukasi
mereka
Motivational Interviewing (MI)
• Dalam praktek kesehariannya, tenaga
kesehatan mempunyai kewajiban untuk
melakukan edukasi pada pasien.
• Edukasi pasien akan mempunyai
dampak yang bermakna bila diberikan
dengan memasukkan unsur
memberikan motivasi pada pasien agar
pasien tahu, mampu dan mau
melakukan nasehat yang diberikan oleh
tenaga kesehatan.
MI merupakan
langkah bagi tenaga
kesehatan untuk
memotivasi pasien
untuk mengikuti
nasehat, terutama
pasien yang belum
mempunyai pikiran
dan keinginan untuk
berubah menuju
• Sebagai contoh, pasiendiabetes, diharuskan
keadaan sehat
untuk mengikuti pola makan yang lebih
sehat, mengurangi gula, garam dan lemak.
Tidak semua pasien akan langsung mengikuti
nasehat tenaga kesehatan untuk mengatur
pola makan, karena makan dengan
pengaturan tidak sederhana dan belum tentu
menyenangkan pasien. Oleh karena itu,
pasien perlu dimotivasi.
Five Principles of Motivational
Interviewing
1. Express empathy through reflective listening.
2. Develop discrepancy between clients' goals or
values and their current behavior.
3. Avoid argument and direct confrontation.
4. Adjust to client resistance rather than
opposing it directly.
5. Support self-efficacy and optimism.
1. Cognitive Recognition of the problem
(e.g., "I guess this is more serious than I
thought.")
• Dalam hal ini seorang profesional kesehatan,
untuk memberikan motivasi awal, perlu
mengenalkan pemahaman pasien mengenai
penyakit dan keseriusan penyakitnya. Sebagian
pasien mempunyai pemahaman bahwa
penyakitnya dan terutama kebiasaannya tidak
mempunyai dampak yang serius
• Upaya mengenalkan pasien pada keseriusan
penyakit atau gejalanya diperlukan agar mereka
akhirnya juga menyatakan bahwa “jadi….sakit
saya ini serius ya dok?”
2. Affective Expression of concern about the
perceived problem (e.g., "I'm really worried
about what is happening to me.")

• Dalam hal ini dokter perlu menimbulkan ekspresi


perasaan untuk kemudian diharapkan ekspresi
perasaan tenaga kesehatan akan membawa pada
sentuhan pada emosi pasien. Contoh berikut ini
menunjukkan ekspresi perasaan:
• “Saya kuatir jika mas Rudy tetap melanjutkan
kebiasaan merokoknya, sesak nafasnya tidak akan
berkurang, dan bahkan lebih parah”
.
3. A Direct or Implicit Intention to
change behavior (e.g., "I've got to do
something about this.")

• Tenaga kesehatan dapat memberikan pernyataaan yang


mendorong pasien untuk melakukan perubahan, sebagai
contoh:
• “Saya ingin membantu agar bu Riza bisa segera melakukan
dietnya”
• Dalam konteks pasien yang menyatakan niatnya untuk
mengubah perilakunya, misalnya saja pasien akhirnya ingin
berhenti merokok, tenaga kesehatan dapat melakukan
penguatan untuk mempertajam niatnya dan mewujudkan
niatnya, seperti contoh berikut
• “Bagus sekali Bastian ingin berhenti merokok, kapan akan
mulai berhenti? Sebentar…dua hari lagi tahun baru,
mengapa tidak mencoba berhenti di tahun baru, sekalian
melakukan resolusi?”
4. Optimism about one's ability to change
(e.g., "I know that if I try, I can really do it.")

• Tenaga kesehatan juga perlu meyakinkan pasiennya


agar mereka dapat mewujudkan keinginan untuk
mengikuti nasehat tenaga kesehatan atau ingin
berubah. Agar perilaku dapat diubah, seseorang perlu
mempunyai keyakinan diri (atau disebut sebagai
“efikasi diri”) untuk dapat berubah.
• Bila pasien yang mengatakan bahwa dia yakin bisa
mengubah perilakunya (sebagai contoh, mengubah
pola makannya), tenaga kesehatan tinggal menambah
keyakinan tersebut dengan menguatkan keyakinannya.
4 Tipe pasien resisten

1. Arguing
• Pasien dapat berargumentasi dengan tenaga kesehatan karena pasien
meragukan keahlian atau integritas mereka. Di era keterbukaan informasi
dan teknologi, pasien di kota besar yang sebagian berpendidikan
menengah dan tinggi mempunyai akses terhadap informasi
• Sebagai contoh, pasien akan mengatakan berikut “Saya kemarin mencari
tahu di internet dok soal merokok ini, katanya justru merokok dapat
melindungi dari Alzheimer”, atau “Mengapa saya harus diet Dok?,
bukankah dokter sudah memberi saya obat pengendali gula darah dan
saya sudah minta yang terbaik?”
2. Interrupting
• Pasien jenis ini terkadang menyela dan melakukan
interupsi pada saat tenaga kesehatan sedang
berbicara. Interupsi pasien dilakukan untuk
pertahanan diri, sebagai contoh, dokter sedang
berbicara tentang bahaya asap rokok terhadap kondisi
anak yang sedang sakit “…maaf dokter, sejak dulu di
keluarga kami banyak perokoknya, dan baru anak
saya yang sakit asma, mungkin diturunkan dari istri
saya dok, bukan karena asap rokok saya….”
3. Denying
• Pasien dengan tipe ini melakukan ekspresi
ketidakinginannya untuk menjalankan nasehat tenaga
kesehatan atau memahami permasalahan yang
dihadapi, dan tidak koperatif.
4. Ignoring
• Pasien jenis ini memperlihatkan bukti bahwa dia tidak
mengikuti nasehat tenaga kesehatan, bahkan terkadang
terlihat “bangga” menunjukkan ketidakpatuhannya terhadap
nasehat tenaga kesehatan. Sebagai contoh adalah pasien
berikut
• “Nah dok, tekanan darah saya sudah turun dua minggu
lalu, kebetulan saya mengantar istri ke Puskesmas dan saya
sekalian minta ditensi. Tekanan darahnya sudah tidak
seperti bulan lalu, padahal saya belum minum obat yang
diberikan oleh dokter, saya lupa terus untuk menebus di
apotik, tapi saya coba mengurangi gorengan saja, begitu
saja sudah turun dok……..saya hari ini menemui dokter
karena ingin supaya saya tidak usah minum obat saja,
em….saya paham kalau saya seharusnya minum obat..tapi
kalau hidup sehat bukankah tekanan darah dapat
terkendali dok? ”
Maintenance

Stages of
Changes
Relapse/Recurr
ence

Action

Pre- Preparation
Contemplatio
n…

Contemplation
Stages of Changes

1.
6. Relapse Precontemplation
(X) Masalah <Informasi
Kembalinya perilaku (X) Niat Resistant,
lama unmotivat
ed
2. Contemplation
5. Maintenance ✔️ Masalah
Melanjutkan ✔️ Niat u/ berubah
tindakan dlm waktu
Menghindari lama
terjadinya relapse Sadar dari + dan –
dari perubahan
4. Action
✔️Praktek tingkah 3.Preparation/Determination
laku ✔️ Rencana berubah
Perubahan perilaku Niatan mengambil tindakan
sudah dilakukan dalam waktu dekat
selama 6 bulan.
Komponen dan Teknik MI

Ask Permission
Meminta izin
berdiskusi atau
berbagi informasi.

Provide Option
and Obtain
Commitment Elicit-Provide-
Dokter harus Eicit
mampu Untuk memandu
menahan diri pasien menemukan
memberikan solusi nyata.
solusi (OARS)
tunggal.
Cara melakukan MI

1. Simple reflection
• Pendekatan terbaik untuk merespon resistensi adalah
dengan melakukan yang disebut non resisten, dengan
cara mengulang pernyataan pasien dengan cara netral.
Hal tersebut untuk mengakui dan memvalidasi
perkataan pasien dan kemudian tenaga kesehatan
dapat memberikan respon sebaliknya.
• Sebagai contoh untuk pasien yang arguing dan
mengatakan “Saya kemarin mencari tahu di internet
dok soal merokok ini, katanya justru merokok dapat
melindungi dari Alzheimer”,
2. Shifting focus
• Tenaga kesehatan dapat melebur resistensi dengan
membantu fokus pasien jauh dari hambatan dan tantangan.
Hal ini akan menawarkan kesempatan untuk meneguhkan
pilihan personal pasien untuk hidupnya.
• Untuk pasien yang menyela dokter dan mengatakan berikut
"maaf dokter, sejak dulu di keluarga kami banyak
perokoknya, dan baru anak saya yang sakit asma, mungkin
diturunkan dari istri saya dok, bukan karena asap rokok
saya….”.
3. Reframing
• Strategi ini dapat digunakan pada saat pasien menyangkal
masalahnya dan dokter dapat menawarkan interpretasi baru
dan positif dari informasi negative yang diberikan pasien.
Pembingkaian kembali merupakan pengakuan dari akurasi
pengamatan kasar pasien, namun menawarkan arti baru.
• Sebagai contoh untuk pasien yang mengatakan berikut
“Mengapa saya harus diet Dok?, bukankah dokter sudah
memberi saya obat pengendali gula darah dan saya sudah
minta yang terbaik”
4. Rolling with resistence
a. Momentum can be used to good advantage.
b. Perceptions can be shifted.
c. New perspectives are invited but not imposed.
d. The client is a valuable resource in finding solutions to problems.
• Keterampilan berikutnya untuk melakukan intervensi motivasional adalah
memutarbalikkan resistensi dengan menggunakan “momentum” (misal,
kekambuhan atau alasan menemui dokter). Selain itu persepsi pasien bisa
diubah dan perspektif baru diperkenalkan, meski tidak dipaksakan, pasien
dapat menjadi sumber penyelesaian masalah.
5. Siding with the negative
• Mengatasi ambivalensi pasien. Ambivalensi
adalah kebingungan dalam memilih pilihan
yang kadang-kadang terjadi karena hambatan
dalam melakukan nasehat dokter.
• Sebagai contoh, pasien tahu bahwa dia harus
mengatur pola makan, namun pekerjaannya
menghambat dia untuk dapat mengatur pola
makan , sehingga dia mengatakan “ya…saya
mengerti Dok kalau saya seharusnya diet,
namun……..”. Strategi ini mengangkat sisi
negatif pasien dan kemudian mengangkat sisi
lainnya (sisi positif).
6. Self efficacy
a. The belief that one can perform a behavior or accomplish a
particular task
b. Belief in the possibility of change is an important motivator.
c. The client is responsible for choosing and carrying out
personal change.
d. There is hope in the range of alternative approaches
available.
• Self efficacy atau efikasi diri merupakan keyakinan seseorang
untuk dapat melakukan tindakan atau menjalankan tugas.
Keyakinan ini diperlukan untuk mengubah perilaku karena
keyakinan untuk dapat berubah adalah motivator utama.
• Tenaga kesehatan perlu mendorong keyakinan pasien untuk
dapat mengikuti nasehat. Dorongan terhadap keyakinan
disesuaikan dengan perubahan yang diinginkan terjadi oleh
pasien dan dipilih dari beberapa pendekatan. Sebagai
contoh adalah pernyataan dokter berikut:
7. Avoiding arguments
• Menghadapi pasien atau sesorang yang resisten dan
berargumen, hindarilah melawan argumentasinya, karena
melakukan argumentasi yang cenderung debat kusir
• Sebagai contoh untuk mengatasi pasien atau seseorang yang
tidak mau berhenti merokok dan memberikan penjelasan
panjang lebar mengenai alasan tetap merokoknya, dapat
dihadapi dengan memberikan pernyataan berikut:
• “Sebagai seorang dokter sudah merupakan kewajiban saya
untuk mengingatkan pasien untuk berhenti merokok”
8. Open ended questions
• Dalam melakukan intervensi motivasional, meskipun
sederhana, gunakanlah lebih banyak pertanyaan terbuka.
Pertanyaan terbuka akan dapat membantu memahami
pandangan pasien dan perasaan mereka terhadap satu topic
atau situasi. Pertanyaan terbuka juga dapat memfasilitasi
dialog, karena tidak dapat dijawab hanya dengan kata tunggal,
ya atau tidak.
9. Listen reflectively
• Mendengar secara reflektif
(menyatakan kembali perkataan lawan
bicara dengan bahasa kita sendiri)
merupakan cara untuk menunjukkan
bahwa kita mendengarkan
10. Expressing empathy
a. Empathy communicates acceptance, while
supporting the process of change.
b. Acceptance facilitates change.
c. Clinician seeks to build up rather than tear
down.
d. Skillful reflective listening is fundamental to
expressing empathy.
11. Affirm
• When it is done sincerely, affirming your
patient supports and promotes self-efficacy
• Memberikan afirmasi atau menguatkan pasien
dengan dukungan dan meyakinkan pasien
bahwa mereka bisa melakukan diperlukan
untuk menutup intervensi motivasional
sederhana.
Health Belief Method
Health Belief Model berguna dalam
memprediksi kemungkinan kepatuhan
seseorang terhadap rekomendasi profesional
untuk perilaku kesehatan preventif. Model ini
pertama kali dikenalkan pada tahun 1950 oleh
I.M. Rosentock dan psikologis lain yang bekerja
pada U.S. Public Health Service.
• Susceptibility: Individu harus percaya bahwa mereka
rentan terhadap penyakit atau kondisi tertentu.
• Severity: Individu harus percaya bahwa penyakit akan
memiliki dampak keparahan yang sedang (paling tidak)
atau serius dalam kehidupan mereka.
• Beneficial: Individu harus percaya bahwa ada tindakan
efektif yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko,
atau mengendalikan penyakit.
• Benefits outweigh barriers to action: Individu harus
percaya bahwa manfaat mengambil tindakan yang
disarankan melebihi setiap kesulitan yang mungkin
akan mereka hadapi.
Teori Difusi-Inovasi
• menjelaskan bagaimana suatu ide, praktik sosial,
atau produk baru yang menyebar melalui dan antar
masyarakat dikomunikasikan, diterima, dan diadopsi.
• dipelopori oleh Rogers pada tahun 1962 untuk
menggambarkan penerimaan varietas jagung yang
lebih keras oleh petani Midwest di masyarakat
pedesaan pada masa sulit
• digunakan dalam menangani banyak tantangan
kesehatan masyarakat kontemporer, seperti
menyebarkan metode deteksi dini dan pengobatan
dini, atau gagasan pencegahan penyakit baru.
Faktor faktor difusi inovasi
• Melibatkan populasi sasaran dalam pengembangan
inovasi
• Nilai, kebutuhan, pengalaman, dan kebiasaan populasi
sasaran
• Teori ini juga menunjukkan bahwa penting untuk
mengidentifikasi opini pemimpin masyarakat dan
mendapatkan dukungan mereka terhadap ide dan
pengalaman baru. Ketika seorang pemimpin
masyarakat menyajikan kembali informasi yang telah
diberikan melalui media massa, kemungkinan orang
akan menerima ide atau praktik baru meningkat.
Karakteristik yang meningkatkan
peluang adopsi
• Keuntungan relative (apakah lebih baik
dibandingkan ide sebelumnya?)
• Kompatibilitas (apakah konsisten dengan
pengalaman dan nilai-nilai yang dimiliki adopters)
• Kompleksitas (kemudahan penggunaan)
• Trialability (dapatkah hal ini dieksperimentasikan
atau dicoba pada keadaan terbatas?)
• Observability (visibilitas hasil nyata yang sukses)
Penggunaan Diffusion of Innovations
Theory
• Identifikasi nilai, kebutuhan, kebiasaan, dan pengalaman dari populasi
yang menjadi sasaran. Modifikasi atau adaptasikan "hal baru atau ide
baru" agar konsisten dengan hal tersebut dan dapat disajikan dalam
konteks yang dapat diterima.
• Mengidentifikasi opini pemimpin dan meminta dukungan mereka;
tanyakan pada diri Anda: siapakah anggota masyarakat yang berpengaruh
yang mungkin merupakan pengadopsi awal inovasi?
• Libatkan kelompok dalam mengembangkan dan memberikan umpan balik
mengenai ide baru tersebut.
• Gunakan media untuk mengekspos kelompok tersebut pada inovasi.
Gunakan flyers dan jenis pengumuman komunitas lainnya di acara sosial,
rekreasi, atau gereja dapat berjalan efektif. Gunakan pengumuman
layanan publik dan siaran pers. Sertakan kesempatan untuk pengalaman
percobaan (seperti contoh gratis).
• Buat kegiatan yang memungkinkan orang melihat dan memahami
kemungkinan keuntungan untuk menerima inovasi.
Referensi
• Rockville. 1999. Motivational Interviewing as a
Counseling Style from
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK64964/
• Sanusi Rossi, etc. 2014. Buku Acuan Umum CHFC-IPE.
Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada
• Miller and Rollinick,Motivational Interviewing: Preparing People for
Change Guilford Press 2002
• (Concept of Dental Public Health 2nd ed,
https://www.prochange.com/transtheoretical-
model-of-behavior-change)
Partisipasi dan Pemberdayaan
Masyarakat Dalam Promosi
Kesehatan
Muhammad Hanif Munandar
1506724045
PARTISIPASI MASYARAKAT
Partisipasi Masyarakat
• Adalah ikut sertanya seluruh anggota masyarakat
dalam memecahkan permasalahan-permasalahan
masyarakat tersebut.
• Partisipasi masyarakat di bidang kesehatan berarti
keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam
memecahkan masalah kesehatan mereka sendiri.
Masyarakat sendiri yang akan memikirkann,
merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasikan
program-program kesehatan mereka.
• Institusi kesehatan hanya memotivasi dan
membimbing masyarakat.
Partisipasi Masyarakat
• Di dalam partisipasi, setiap anggota masyarakat dituntut
untuk melakukan kontribusi atau sumbangan. Kontribusi
bukan hanya terbatas pada dana dan finansial, namun dapat
berupa daya (tenaga) dan ide (pemikiran). Hal tersebut dapat
diwujudkan melalui 4M:

Mind Manpower

Material Money
Partisipasi Masyarakat:
Dasar-dasar Filosofi
• Partisipasi masyarakat dapat menciptakan fasilitas dan tenaga
kesehatan. Pelayanan atau program kesehatan yang
diciptakan dengan adanya partisipasi masyarakat didasarkan
kepada idealisme:
Community Felt
Needs
• Apabila pelayanan atau • Organisasi pelayanan • Pelayanan kesehatan
program itu diciptakan oleh atau program kesehatan tersebut akan dikerjakan
masyarakat, berarti mereka
merasa memerlukan
masyarakat yang oleh masyarakat sendiri.
pelayanan tersebut. Sehingga berdasarkan partisipasi Artinya, tenaga dan
Adanya pelayanan kesehatan masyarakat adalah salah penyelenggaraannya
bukan karena diturunkan dari satu bentuk akan ditangani oleh
atas, yang belum dirasakan pengorganisasian anggota masyarakat itu
perlunya, tetapi tumbuh dari masyarakat. Hal ini sendiri yang dasarnya
bawah, yang diperlukan
masyarakat dan untuk
berarti bahwa fasilitas sukarela, di bawah
masyarakat. pelayanan kesehatan itu bimbingan petugas
timbul dari masyarakat kesehatan setempat.
sendiri.
Partisipasi Masyarakat:
Cara Menumbuhkan

Partisipasi dengan paksaan 1.Partisipasi dengan persuasi


(enforcement participation) dan edukasi
• Masyarakat dipaksa untuk • Partisipasai didasari oleh
berkontribusi dalam suatu kesadaran. Sukar ditumbuhkan dan
program, baik melalui perundang- memakan waktu yang lama. Tetapi
undangan, peraturan-peraturan, bila tercapai hasilnya akan ada rasa
maupun perintah lisan. Cara ini memiliki dan rasa memelihara.
akan lebih cepat hasilnya dan Partisipasi ini dimulai dengan
mudah. Namun masyarakat akan penerangan, penyuluhan,
takut, merasa dipaksa, dan kaget pendidikan, dan sebaigainya,
karena dasarnya bukan kesadaran baiksecara langsung maupun tidak
(awareness) melainkan ketakutan. langsung.
Akibatnya masyarakat tidak akan
mempunyai rasa memiliki terhadap
program.
Partisipasi Masyarakat:
Nilai-nilai

Partisipasi masyarakat merupakan cara yang paling murah.


Dengan ikut berpartisipasinya masyarakat dalam program-
program kesehatan, itu berarti diperolehnya sumber daya
dan dana dengan mudah untuk melengkapi fasilitas
kesehatan mereka sendiri
1.Bila partisipasi berhasil, bukan hanya salah satu bidang
saja yang dapat dipecahkan, tetapi dapat menghimpun
dana dan daya untuk memecahkan masalah di bidang
yang lain
•Partisipasi masyarakat akan membuat semua orang belajar untuk
bertanggung jawab terhadap kesehatannya sendiri. Apabila
masyarakat hanya menerima saja pelayanan kesehatan yang
disediakan oleh pemerintah atau instansi penyelenggara kesehatan
lain, masyarakat tidak merasa mempunyai tanggung jawab atas
kesehatan mereka sendiri.
Partisipasi Masyarakat:
Nilai-nilai (cont’d)

Partisipasi masyarakat tumbuh dan berkembang dari bawah


dengan stimulasi dan bimbingan dari atas, bukan sesuatu
yang dipaksakan dari atas

1.Partisipasi masyarakat akan menjamin suatu


perkembangan yang langsung karena dasarnya adalah
kebutuhan dan kesadaran masyarakat sendiri

•Melalui partisipasi, masyarakat dirangsang untuk belajar


berorganisasi dan mengambil peran yang sesuai dengan
kemampuan masing-masing
Partisipasi Masyarakat:
Elemen-elemen

Motivasi Komunikasi
• Motivasi merupakan persyaratan • Komunikasi yang baik dapat
utama untuk masyarakat menyampaikan pesan, ide, dan
berpartisipasi. Motivasi harus timbul informasi kepada masyarakat. Media
dari masyarakat sendiri sedangkan massa seperti tv, radio, poster, film,
pihak luar hanya menstimulasi dan sebagainya merupakan alat yang
timbulnya motivasi tersebut. Untuk efektif untuk menyampaikan pesan
itu pendidikan atau promosi yang akhirnya dapat menimbulkan
Mobilisasi
Kooperasi
kesehatan sangat diperlukan dalam partisipasi.
•Partisipasi merupakan gerakan masyarakat menuju

• rangka menstimulasi tumbuhnya masyarakat yang sehat. Partisipasi tidak hanya terbatas pada
Kerjasama antara instansi-instansi tahap pelaksanaan, namun dimulai seawal mungkin hingga
motivasi.
diluar kesehatan masyarakat dan seakhir mungkin, dari identifikasi masalah, menentukan
prioritas, perencanaan program, pelaksanaan sampai dengan
instansi kesehatan diperlukan untuk monitoring. Selain itu, tidak hanya terbatas pada bidang
kesehatan saja, melainkan bersifat multidisiplin..
membantu menumbuhkan partisipasi.
Partisipasi Masyarakat:
Metode
• Pendekatan masyarakat
– Memperoleh simpati dan pengakuan masyarakat, terutama kepada
pimpinan masyarakat
• Pengorganisasian masyarakat dan pembentukan panitia (tim)
• Survei diri (community self survey)
– Survei masyarakat, diolah, dipresentasikan ke masyarakat, serta
mbersama-sama menentukan prioritas masalah yang akan dipecahkan
 agar masyarakat mengenali masalahnya
• Perencanaan program oleh masyarakat
– Pembentukan dana sehat dan kader kesehatan sukarela
• Training kader kesehatan  dipimpin oleh dokter puskesmas
• Rencana evaluasi  penetapan kriteria keberhasilan program
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Pemberdayaan Masyarakat
• Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan sasaran
utama dalam promosi kesehatan dan merupakan salah satu sratergi
global promosi kesehatan. Sasaran pemberdayaan adalah
masyarakat atau komunitas. Masyarakat sebagai sasaran primer
(primary target) harus diberdayakan agar mereka mau dan mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri, terdiri
dari individu-individu dan kelompok-kelompok atau komunitas-
komunitas.
• Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya atau proses untuk
menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat
dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi dan
meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri. Pada bidang
kesehatan, pemberdayaan masyarakat merupakan upaya atau
proses dalam menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan.
Pemberdayaan Masyarakat:
Tujuan

1.Menumbuhkan kesadaran, pengetahuan, pemahaman tentang kesehatan


bagi individu, kelompok atau masyarakat. Pengetahuan dan kesadaran
mengenai cara-cara memelihara dan meningkatkan kesehatan merupakan
langkah awal dari keberdayaan kesehatan

1.Menimbulkan kemauan atau kehendak dan pemahaman dalam bidang


kesehatan (langkah lanjutan dari kesadaran)

1.Menimbulkan kemampuan masyarakat (individu atau kelompok) dalam


melakukan tindakan atau perilaku sehat
Pemberdayaan Masyarakat:
Indikator “Mampu”

1.Masyarakat mampu mengenali masalah kesehatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi masalah
kesehatan, terutama di lingkungan masyarakat setempat. Agar masyarakat dapat mengenali masalah
kesehatn dan faktor yang mempengaruhi dibutuhkan pengetahuan kesehatan yang baik (health
literacy). Pengetahuan yang setidaknya dimiliki adalah pengetahuan mengenai penyakit, gizi dan
makanan, perumahan dan sanitasi, bahaya merokok dan zat yang menimbulkan gangguan kesehatan

1.Masyarakat mampu mengatasi masalah-masalah kesehatan mereka sendiri secara mandiri,


yaitu dengan menggali potensi-potensi di masyarakat.

1.Masyarakat mampu memelihara dan melindungi diri, baik individual, kelompok atau
masyarakat dari ancaman kesehatan, yaitu dengan melakukan antisipasi pencegahan.

1.Masyarakat mampu mengingkatkan kesehatan, baik individual, kelompok atau masyarakat. Hal ini
dapat dilakukan dengan upaya promosi kesehatan di komunitas.
Pemberdayaan Masyarakat:
Prinsip-prinsip

Menumbuh-
kembangkan
Desentralisasi
Potensi
Masyarakat

Mengembang-
Menjalin
kan Gotong-
Kemitraan
royong

Menggali
Kontribusi
Masyarakat
Pemberdayaan Masyarakat:
Ciri-ciri

• Petugas kesehatan (health provider) melakukan pemberdayaan dengan cara melakukan pendekatan
Community
kepada tokoh masyarakat atau pemimpin masyarakat. Seperti ketua RT/RW, lurah, camat, kepala
Leaders adat, ustad, dan lain-lain.

• Melakukan kerja sama dengan organisasi masyarakat setempat seperti karang taruna, majelis taklim,
Community PKK yang merupakan potensi dalam menjadikan mitra kerja dalam pemberdayaan masyarakat.
Organization sebagai contoh adalahn Posyandu dan Polindes yang merupakan kerja sama antara Puskesmas,
pemerintah setempat dan pemberdayaan organisasi PKK.

• Merupakan pendanaan kesehatan dari pemerintah melalui Kementrian kesehtan seperti program
Community Fund JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat). Dana-dana yang diberikan dapat digunakan
untuk memfasilitasi masyarakat dan memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan kesehatan.

• Pemberdayaan material yang ada di wilayah sekitar tempat tinggal untuk dimanfaatkan sebaik
Community
mungkin. Seperti memberbaiki jalan akses ke puskesmas dengan batu yang merupakan material
Material yang banyak ada daerah tersebut.

• Pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan komponen pengetahuan masyarakat seperti semua


Community bentuk penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Kegiatan penyuluhan kesehatan akan bernuansa
Knowledge pemberdayaan masyarakat apabila dilakukan dengan pendekatan community based health
education

• Teknologi sederhana yang dimanfaatkan oleh masyarakat tersebut dalam mengembangkan program
Community
kesehatan seperti penyaringan air. Kemudian provider atau petugas dapat mengadopsi dan
Technology digunakan di wilayah lain.
Pemberdayaan Masyarakat:
Indikator Hasil

• Kegiatan pemberdayaan masyarakat didukung oleh dari berbagai elemen yang meliputi sumber
Input daya manusia (tokoh masyarakat) yang berpartisipasi dalam kegiatan, dana, alat dan bahan yang
digunakan dalamm kegiatan.

• Indikator yang dapat dilihat meliputi jumlah penyuluhan kesehata yang telah dilaksanakan di
Proses masyarakat, frekuensi dan jenis pelatihan, jumlah tokoh masyarakat atau kader kesehatan,
pertemuan yang melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

• Meliputi jumlah dan jenis upaya kesehatan yang bersumber daya masyarakat (Posyandu, Polindes),
jumlah masyarakat yang meningkat pengetahuan dan perilaku tentang kesehatan, jumlah anggota
Output keluarga yang memiliki usaha dalam meningkatkan pendapatan keluarga, dan meningkatnya fasilitas
umum di masyarakat.

• Hasil dari pemberdayaan masyarakat antara lain meliputi menurunnya angka kesakitan, angka
Outcome kematian umum, angka kelahiran, angka kematian bayi dan meningkatnya status gizi anak balita
dalam masyarakat.
Advokasi kesehatan

By:
Raudha
Wardina
1505559085
PBL 4
Definisi advokasi
• Advokasi adalah program komunikasi untuk mendekatkan problem
publik kepada pembuatan kebijakan (Proceeding IFPPD, 2002)

• Advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik


melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif (JHU, 1999)

• Advokasi pada dasarnya merupakan suatu perangkat kegiatan yang


dilakukan secara terencana dan terorganisir, ditujukan pada para
pengambil keputusan agar memberikan dukungan kebijakan untuk
mengatasi masalah spesifik.

• Advokasi adalah upaya atau proses untuk memperoleh komitmen,


yang dilakukan secara persuasif dengan menggunakan informasi
yang akurat dan tepat.
Definisi advokasi
• Advokasi adalah suatu usaha untuk mendapatkan atau menciptakan
perhatian para pembuat keputusan terhadap sesuatu permasalahan /
issue yang penting dan mengarahkan agar mau memberikan
dukungannya untuk memecahkan permasalahan tersebut.

• Advokasi bidang kesehatan mulai digunakan dalam program


kesehatan masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984
sebagai salah satu strategi global Promosi Kesehatan. Advokasi
bidang kesehatan adalah usaha untuk mempengaruhi para penentu
kebijakan atau pengambil keputusan untuk membuat kebijakan
publik yang bermanfaat untuk peningkatan kesehatan masyarakat.

• Advokasi kesehatan merupakan serangkaian kegiatan komunikasi


untuk mempengaruhi penentu kebijakan dengan cara: membujuk,
meyakinkan, menjual ide agar memberikan dukungan terhadap
upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat.
Tujuan advokasi
Tujuan advokasi
Advokasi Kesehatan ini juga bertindak memberikan dukungan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada di wilayah kerjanya.
Dukungan tersebut, dalam bentuk :
• Komitmen politis (political commitment)  komitmen pejabat publik atau berbagai pihak terkait terhadap upaya pemecahan
masalah kesehatan masyarakat yang ada di wilayah kerjanya.
• Dukungan kebijakan (policy support)  dukungan nyata yang diberikan oleh pejabat publik serta para pimpinan institusi terkait
untuk memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan publik untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang ada di wilayah
kerjanya.
• Penerimaan social (social acceptance)  Adalah diterimanya suatu program kesehatan oleh masyarakat terutama tokoh
masyarakat. Contoh: Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang dikeluarkan oleh Walikota Bogor, ditindak lanjuti oleh peraturan
perusahaan, peraturan organda dll tentang mewujudkan perusahaan KTR serta KTR di dalam kendaraan umum.
• Dukungan sistem (system support)  Adanya sistem atau organisasi kerja yang memasukkan program kesehatan dalam
program kerjanya (partnership).
Manfaat advokasi

Penyelenggaraan program kesehatan mendapat dukungan kebijakan yang kuat dalam mengatasi
masalah kesehatan.

Penyelenggaraan program kesehatan mendapat dukungan alokasi sumberdaya yang


diperlukan untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat

Upaya mengatasi kesehatan menjadi tugas dan tanggung jawab semua pihak, jadi bukan
merupakan masalah sektor kesehatan saja.

Program kesehatan dapat dirancang dengan baik, dan dapat terintegrasi dengan lintas
sektor terkait.

Penyelenggaraan program kesehatan akan lebih optimal sehingga dapat berdampak lebih
maksimal terhadap upaya mengatasi masalah kesehatan masyarakat.

Meningkatkan kinerja eksekutif dan legislatif dalam pembangunan kesehatan masyarakat


Pelaku dan Sasaran advokasi kesehatan

PELAKU :
SASARAN:
- Pakar, pejabat yang berwenang,
Pengambil keputusan,
- Perg. Tinggi, Media massa
Pembuat kebijakan,
- Swasta, Org. profesi
- Org. masy/agama, LSM Pembuat opini, Penyusun draft, Dll
- Tokoh publik, Dll

SEPERTI :
- Unsur Pemerintah, DPR/DPRD
DENGAN SYARAT :
- Pengusaha, Penyandang Dana
Peduli kesehatan, Paham akan
masalahnya, Berkemampuan, - Media massa
Dipercaya / Dihormati, Tidak - Org.profesi, Org.masy/agama, LSM
tercela, dll - Tokoh publik, Klp. Potensial
- Penentang/lawan, Dll.
Jenis advokasi kesehatan

• apabila sasaran advokasi sudah merasakan


adanya masalah penting yang harus diatasi.

Advokasi reaktif

• apabila masalah telah terjadi, namun sasaran


advokasi belum memahami bahwa hal itu
Advokasi pro- merupakan suatu masalahnya dan belum ada
kepedulian.
aktif • Petugas advokasi harus melakukan kegiatan
advokasi secara pro-aktif
Langkah-langkah Pokok dalam Advokasi

• Menurut Depkes (2007), terdapat lima langkah kegiatan


advokasi antara lain sebagai berikut:
– Identifikasi dan analisis masalah atau isu yang memerlukan
advokasi
– Identifikasi dan analisis kelompok sasaran
– Siapkan dan kemas bahan informasi Bahan informasi minimal
memuat rumusan masalah, latar belakang, alternatif
mengatasinya, dan tindak lanjut penyelesainnya. Bahan
informasi juga minimal memuat 5W dan 1H (what, why, who,
where, when, dan how) tentang permasalahan yang diangkat.
– Rencanakan teknik atau cara atau kegiatan operasional
– Laksanakan kegiatan, pantau dan evaluasi serta lakukan tindak
lanjut
Metode dan Teknik Advokasi Kesehatan

• berbincang-bincang secara informal para pengambil keputusandan


Lobi pembuat kebijakan untuk menginformasikan isu-isu strategis yang
menjadi permasalahan di masyarakat.

• Petisi adalah cara formal dan tertulis untuk menyampaikan gagasan


Petisi advokator dan memberikan tekanan kolektif terhadap para
pembuat keputusan.

• berbagai advocator dapat mengangkat dan membahas isu


Debat kesehatan dari pihak yang pro maupun kontra

• Hampir sama dengan debat, dialog lebih tepat digunakan sebagai


Dialog metode advokasi melalui pendekatan kelompok

• Negosiasi merupakan cara yang efektif untuk mendapatkan


Negosiasi kesepakatan tentang pentingnya memberikan dukungan kebijakan
maupun sumberdaya dalam mencapai tujuan program kesehatan.
Metode dan Teknik Advokasi Kesehatan

• Materi paparan adalah isu strategis tentang masalah kesehatan yang


Paparan (presentasi) disampaikan dalam bahasa yang baik, cukup menyentuh, efektif, tidak
berbelit-belit, dapat dimengerti dan dipahami dengan cepat dan jelas.

• Seminar merupakan salah satu metode advokasi yang membahas isu


Seminar strategis secara ilmiah yang dilakukan bersama beberapa pejabat publik
sebagai sasaran advokasi.

• Studi banding juga merupakan salah satu metode advokasi yang baik,
Studi Banding yakni dengan mengajak sasaran advokasi mengunjungi suatu daerah
yang baik maupun yang kurang baik kondisinya.

• metode advokasi dengan cara menghimpun kekuatan baik secara


Pengembangan Kelompok peorangan maupun organisasi dalam suatu jaringan kerjasama untuk
Peduli menyuarakan/memperjuangkan isu yang diadvokasikan.

• Media massa merupakan media yang mampu memberi informasi kepada


Penggunaan Media Massa banyak orang pada banyak tempat yang berbeda dalam waktu yang
hampir bersamaan.
Teknik Advokasi Kesehatan
• Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknik advokasi
yaitu:
1. Pastikan bahwa kegiatan siap dilakukan  sumberdaya yang terkait dengan
pelaksanaan kegiatan advokasi sudah siap, baik petugas advokatornya, peluang
sasaran advokasi , teknik advokasi, ketersediaan media advokasi.
2. Lakukan pengorganisasian dengan jelas, terhadap peran, tugas dan tanggung
jawab berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan advokasi kesehatan
3. Buatlah jadwal yang rinci dan jelas, kegiatan advokasi serta dimana lokasi
pelaksanaan advokasi.
4. Pilih jenis media advokasi yang sesuai dengan karakteristik sasaran advokasi,
apakah beliau senang dengan presentasi jadi gunakanlah media slide dll.
5. Gunakan beberapa jenis media advokasi secara simultan dan terintergrasi
(media mix)
6. Petugas advokasi harus menguasai pesan advokasi yang ada dalam media
tersebut serta dapat memberikan argumen dengan baik, apabila sasaran
advokasi menyampaikan klarifikasi atau pertanyaan.
Unsur-unsur Advokasi Kesehatan

Pemanfaatan Identifikasi
Penetapan tujuan
data dan riset sasaran

Pengembangan Membuat
Membangun
dan penyampaian presentasi yang
koalisi
pesan persuasif

Penggalangan Pemantauan dan


dana penilaian
Pendekatan Advokasi Kesehatan
Ada lima pendekatan utama dalam advokasi kesehatan yaitu;
• Melibatkan Para Pemimpin  yaitu para pembuat undang-undang,
pemimpin politik, para pembuat kebijakan, dan para penentu
keputusan sangat berpengaruh dalam menciptakan perubahan yang
terkait dengan isu-isu sosial, termasuk kesehatan, pendidikan dan
kependudukan.
• Bekerja dengan Media Massa dalam membentuk opini publik untuk
mempengaruhi persepsi public atas isu atau masalah tertentu.
• Membangun Kemitraan
• Memobilisasi Massa  suatu proses mengorganisasikan individu
yang telah termotivasi ke dalam kelompok-kelompok atau
mengorganisasikan kelompok yang sudah ada.
• Membangun Kapasitas  maksudnya melembagakan kemampuan
untuk mengelola program yang komprehensif dan membangun
critical mass pendukung yang memiliki ketrampilan advokasi.
Bagan/alur advokasi kesehatan
Referensi

• Kementerian Kesehatan RI. Promosi Kesehatan


Di Daerah Bermasalah Kesehatan. Tahun 2011.
• Kementerian Kesehatan RI. Kurikulum Dan
Modul Pelatihan Teknis Tentang Pengelolaan
Advokasi Kesehatan. Tahun 2013.
• Pratomo, Hadi, 2013. Advokasi Kesehatan,
Buku referensi (draf akhir) (ADVOKES)