You are on page 1of 6

 keseriusan adalah adanya maksud (al-qashd,

purpose), adanya usaha untuk merealisasikan


maksud tersebut, disertai dengan adanya
gambaran yang baik tentang fakta yang
dipikirkan.
 Berpikir tentang sesuatu mesti dimaksudkan
untuk mengetahuinya. Sementara itu, berpikir
tentang realisasi sesuatu tersebut harus
ditujukan dalam rangka mewujudkannya.
 ketika dia berusaha menjauhkan diri dari kesia-
siaan dan kebiasaan (rutinitas) berpikir yang
mendominasi seseorang berarti dia telah
mampu berpikir serius.
 Mudah baginya untuk merealisasikan tujuan itu
dan mendaptkan gambaran fakta yang
ditujunya
 adanya maksud merupakan asas dalam berpikir
serius, sedangkan menciptakan keseriusan
merupakan tujuan itu sendiri.
 Keseriusan harus setara dengan yang difikirkan
 berpikir serius meniscayakan adanya usaha
untuk merealisasikan maksud yang dipikirkan,
dan usaha tersebut harus setaraf dengan
maksudnya.
 yang menunjukkan seseorang serius dalam
berpikir adalah dia melakukan aktivitas-aktivitas
fisik, dan berbagai aktivitas fisik ini setaraf
dengan apa yang dia pikirkan.
 Berbagai umat dan bangsa yang merosot, akan
mendorong seseorang untuk menginginkan
yang mudah-mudah, sehingga dia enggan
mengupayakan hal-hal yang lebih berat dan
sulit.
 individu-individu yang malas,
 orang-orang yang tidak mau menanggung
berbagai risiko, memalingkan seseorang dari
keseriusan.
 orang-orang yang didominasi rasa malu,
 rasa takut, atau tergantung kepada yang lain,
 Keseriusan dalam berpikir tidak mengharuskan
adanya jarak (waktu) yang dekat ataupun yang jauh
antara berpikir dan amal (berbuat), karena amal
sendiri merupakan buah dari aktivitas berpikir.
 berpikir itu wajib menghasilkan amal. untuk dapat
menghasilkan buah dari apa yang sedang dipikirkan,
berpikir mesti dilakukan dengan serius,
 masalahnya bukanlah masalah jarak, karena jarak
antara berpikir dan berbuat tidak harus dekat atau
jauh, Yang terpenting dalam hal ini adalah keharusan
adanya perbuatan/usaha sebagai hasil dari aktivitas
berpikir,