You are on page 1of 25

SIDIK ARGANA

WIDYAISWARA PPPG TEKNOLOGI MALANG


081 25285356, 0341 7616866
FUNGSI BATERAI DALAM
KENDARAAN
 Baterai penyimpan energi listrik yang
dihasilkan oleh altenator saat mesin
hidup agar baterai selalu dalam
keadaan siap pakai.
 Baterai menyediakan energi listrik
yang cukup untuk start mesin
 Menyediakan energi listrik untuk
kelistrikan mobil saat mesin mati
KONSTRUKSI BATERAI

 Baterai terdiri dari beberapa sel-


sel yang dihubung secara seri
 Setiap sel mempunyai plat /
elektrode positif (PbO2) berwarna
coklat dan plat / elektrode negatif
(Pb) berwarna abu-abu yang
terendam dalam elektrolit
(H2SO4). Antara plat positip dan
negatip dipisahkan dengan
separator dari ebonit berpori dan
serat serat gelas
 Setiap sel mengahsilkan 2 volt
sehingga untuk 12 volt perlu 6 sel
yang dihubung seri
BAGIAN-BAGIAN DARI BATERAI
SPESIFIKASI BATERAI
Pada baterai tertulis spesifikasi
12 Volt – 65 AH
 12 Volt adalah tegangan jepit baterai
 65 AH adalah besar kapasitas baterai
 Kapasitas baterai adalah besaran yang menyatakan
jumlah muatan energi listrik dengan satuan Amper
Hour (AH)
 Kapasitas baterai tergantung dari jumlah plat-plat
baterai, jumlah bahan aktif PbO2 & Pb pada plat-plat
baterai dan luas penampang plat-plat baterai yang
terendam elektrolit. Kapasitas baterai menentukan
besar kecilnya ukuran baterai.
UMUR BATERAI
sangat ditentukan oleh :
 Perlakuan baterai baru setelah diisi
elektrolit H2SO4
 Perawatan baterai selama pemakaian

 Perlakuan baterai selama pemakaian

 Kondisi sistem pengisian


Perlakuan Baterai Baru
Umur baterai salah satunya ditentukan oleh perlakuan
baterai pertama kali setelah diisi cairan elektrolit H2SO4,
oleh sebab itu baterai baru memerlukan perlakuan sebagai
berikut:
Baterai baru diisi dengan cairan elektrolit H2SO4 setinggi
“Upper Level“ dengan berat jenis 1,28 kg/l
Diamkan baterai selama kurang lebih 1 jam atau “Charge“
baterai dengan arus kecil (1/10 dari kapasitas nominal) agar
dalam baterai terjadi reaksi elektrokimia yang sempurna jika
elektrolit berkurang tambahkan air suling dan baterai siap
dipakai
Perawatan baterai
 Permukaan baterai dan pol/klem baterai
harus selalu bersih
 Amati permukaan baterai jika basah
dengan elektrolit berarti terjadi tegangan
lebih atau terjadi kapilerisasi pada pol
baterai, bersihkan dengan larutan soda
api atau sabun cream kemudian keringkan
 Periksa elektrolit baterai, jika berkurang
tambahkan dengan air suling sebab yang
menguap adalah hidrogen
Perlakuan baterai selama
pemakaian
 Start mesin jangan sampai lebih dari 10 detik
 Hindari start mesin sampai berulang-ulang lebih
dari 4 kali dan beri jarak waktu sesaat jika akan
start kembali
 Mobil yang tidak dipergunakan dalam waktu lama
baterai harus diisi arus sedikitnya setiap 2
minggu sekali agar tidak terjadi sulfatisasi pada
plat-plat baterai atau mobil dihidupkan selama
minimal 10 menit
 Jangan memukul atau mengungkit pol dan klem
terminal baterai sewaktu melepas atau
memasang klem terminal baterai yang dapat
mengakibatkan kebocoran elektrolit
Kondisi sistem pengisian
 Tegangan sistem pengisian saat
tanpa beban harus 14,8 – 15 volt
sebab pada tegangan tersebut pada
elektrolit mulai terjadi gelembung-
gelembung hidrogen yang menguap,
diatas tegangan tersebut elektrolit
akan mendidih
SISTEM PENGISIAN
FUNGSI SISTEM PENGISIAN
 Sebagai penyedia energi listrik untuk
seluruh kebutuhan listrik mobil
saat mesin hidup
 Memberikan energi listrik untuk
mengisi baterai agar baterai selalu
siap pakai
Diagram Alir Sistem Pengisian

ENGINE M. STARTER
Saat start

ALTERNATOR Baterai
Saat mesin hidup

BEBAN

Tetap Tidak Tetap


Kelistrikan Kelistrikan
mesin Bodi
Persyaratan dalam sistem
pengisian
 Daya total beban tidak boleh menelihi
daya (I maks) alternator jika berlebihan
menyebabkan baterai "tekor“
 Sistem pengisian dapat bekerja dengan
baik jika saat beban penuh tegangan
terukur pada B+ alternator 13 Volt
 Baterai harus dalam kondisi baik sebab
baterai jelek akan menjadi beban
alternator
 Kondisi rangkaian dalam keadaan baik,
kerugian tegangan dalam sistem sekecil
muingkin
Rangkaian sistem pengisian dengan regulator
tegangan konvensional
Rangkaian sistem pengisian dengan regulator
tegangan elektronik
Komponen-komponen alternator
konvensional
Komponen-komponen alternator
elektronik built in regulator
Perbandingan Regulator konvensional

Regulator tegangan dua kumparan


Rentang tegangan outputnya lebih
sempit dan variasi tegangan outputnya
dalam waktu singkat Regulator tegangan elektronik (IC
Tahan terhadap getaran dan dapat Built in Regalator) Nippodenso
digunakan dalam waktu lama karena
tidak banyak bagian-bagian yang
IC Regulator sangat kompak dan
bergerak.
ringan dan mempunyai kemampuan
Karena tegangan outputnya rendah
yang tinggi karena tidak
suhunya naik, pengisian baterai dapat
mempunyai titik kontak mekanik
dilakukan dengan baik
Pemeriksaan pada sistem pengisian
Pengukuran tegangan regulasi

Tegangan regulasi adalah tegangan output alternator saat regulator


sudah bekerja dan baterai sudah dalam keadaan penuh (kondisi tanpa
beban). Tegangan regulasi diukur pada terminal B+ alternator dan
bodi alternator pada putaran 1500 s/d 2000 rpm dan tegangan terukur
antara 14,8 – 15 volt. Amati kenaikan tegangan bila sudah tercapai
tegangan regulasi turunkan putaran mesin pada Idle, tegangan harus
tetap diatas 14 volt. Jika tegangan pada saat idle tersebut turun
hingga 12 Volt berarti baterai dalam keadaan jelek

Catatan: Bila ampermeter terpasang besar arus terukur saat tegangan


regulasi tercapai adalah sebesar krang lebih 10 amper (tergangtung
pada beban tetap / kelistrikan engine)
Pengukuran kemampuan daya alternator pada mobil

Kemampuan daya alternator dapat diketahui dengan


memberi beban yang ada dalam mobil tersebut.

Hidupkan mesin pada 2000 rpm, hidupkan beban yang


ada dalam mobil tersebut satu persatu ( terutama
beban yang prosentasi hidupnya lebih dari 60 %)
hingga tegangan terukur mencapai 13 Volt. Besar daya
alternator adalah sebesar jumlah beban yang hidup
ditambah daya beban tetap (kelistrikan engine). Bila
beban ditambah akan menyebabkan tegangan turun
terus
Pengukuran rugi tegangan pada sistem pengisian

Rugi tegangan diukur untuk mengetahui besar kehilangan daya


akibat tegangan yang hilang pada kabel atau sambungan-
sambungan.
Pengukuran rugi tegangan dilakukan pada beban penuh meliputi:
Pengukuran rugi tegangan kabel dari B+ alternator sampai plus
Baterai dan dari minus baterai hingga bodi alternator. Besar rugi
tegangan maksimum adalah 0,4 volt
Pengukuran rugi tegangan sinyal regulasi antara B+ alternator
sampai B+ regulator (untuk regulator tegangan konvensional).
Besar rugi tegangan maksimum 0,4 Volt. Rugi tegangan ini bila
terlalu besar akan mempengaruhi kerja regulator yang dapat
menyebabkan kelebihan tegangan output alternator
Tindakan apa jika tegangan regulasi tidak
tercapai?
Untuk mengetahui letak gangguan perlu
dilakukan pemberian arus medan
langsung seperti berikut:
Pada sistem pengisian
denganregulator konvensional
hubungkan terminal F alternator
dengan + baterai, kemudian hidupkan
mesin dan ukur tegangan out put. Bila
tegangan terukur lebih dari 16 Volt
berarti regulator yang tidak bekerja
dengan baik
Pada sistem pengisian dengan
regulator elektronik pemberian arus Lubang by pass arus
medan langsung dapat dilakukan medan untuk alternator
dengan memberi by-pass ke massa di
lubang untuk memby-pass. Bila dengan regulator elektronik
tegangan terukur lebih dari 16 volt (built in regulator)
berarti regulator jelek
Pemeriksaan regulator elektronik
type ND
Rangkaikan pengujian seperti
pada gambar
Jika saklar pada posisi I maka
lampu simulator kumparan medan
akan menyala
Jika saklar pada posisi II dengan
menambahkan tegangan 2 baterai
kecil 1,5 volt lampu simulator
kumparan medan akan mati yang
menunjukkan tegangan regulasi
tercapai regulator dapat bekerja
dengan baik
TERIMA KASIH

DILANJUTKAN DENGAN
DISKUSI DAN PRAKTIK