You are on page 1of 31

Clinical Science Session

Karsinoma Mammae
Preseptor
H. Yusuf Heriadi, dr.,Sp.B(K)Onk

Disusun Oleh :
Gina Desyari 12100116257
Sefri Saputra 12100116187

SMF ILMU BEDAH


RSUD AL-IHSAN
FAKULTAS KEDOTERAN UNISBA
2018
BASIC SCIENCE
Mammary Glands
Payudara adalah suatu kelenjar yang terdiri atas
jaringan lemak, kelenjar fibrosa, dan jaringan ikat.
• bagian yang membesar. Di dalamnya terdapat alveolus
(penghasil ASI), lobulus, dan lobus.
Korpus • Payudara memiliki 12-20 lobulus  masing mempunyai
duktus lactiferus bermuara ke papilla mamae

• bagian yang kecokelatan atau kehitaman di sekitar puting.


Areola Tuberkel–tuberkel Montgomery adalah kelenjar sebasea
pada permukaan areola

• merupakan bagian yang menonjol dan berpigmen di puncak


Puting payudara dan tempat keluarnya ASI
Batas-batas
payudara

Lateral :
Superior :
anterior
Iga II
axillary line

Medial : Posterior :
sternum Iga VI Dasar Otot
dinding Costa Intercosta Serratus
payudara anterior
Vaskularisasi
Payudara
Arteri subklavia --> internal thoracic
a. & axillary a.  Mammary
branches

Lateral & medial mammary v 


Internal thoracic v & lateral thoracic
v  internal jugular v
Drainase
Payudara

aliran limfatik dari bagian sentral kelenjar mammae, kulit,


puting, dan aerola adalah melalui sisi lateral menuju aksila

limfe dari payudara mengalir melalui nodus limfe aksilar


CLINICAL
SCIENCE
Karsinoma Mammae
Definisi

Proliferasi malignant pada epithelial


cell di duktus atau lobulus payudara.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat tahun 2010 160,000 wanita/tahun dan 40.000
meninggal/tahun
Insidensi Female:Male, 150:1

Kanker tersering pada perempuan dengan insidensi 22%

Di Indonesia Menempati urutan kedua setelah kanker mulut rahim

Rata-rata 10 dari 100.000 wanita di Indonesia menderita kanker


payudara
Karsinoma mammae jarang sebelum umur 25 tahun dan tidak biasa
sebelum umur 30 tahun, tetapi insidensinya meningkat dengan
cepat setelah umur 30 tahun dengan rata-rata medium age 60
tahun
Faktor Resiko Umur >45 thn

Menarche Usia dini

Menupause usia
Unchangeable
lanjut

Riwayat keluarga (=)

Riwayat penyakit
payudara jinak
Faktor Riwayat kehamilan

Obseitas & konsumi


tinggi lemak
Penggunaan hormon &
kontrasepsi oral
Changeable
Konsumsi alkohol dan
rokok

Riwayat paparan radiasi


Etiologi
Mutasi gen BRCA1 dan BRCA2 terletak di lengan
BRCA2. kromosom 13q
• Fx : tumor suppressor • Mutasi BRCA2 sebanyak
genes. 85% risiko kanker
• BRCA1 terletak di lengan payudara
kromoson 17q. • Kanker ovarium, colon,
• Mutasi germline BRCA1 prostat, pancreatic,
menjadi faktor gallbladder, bile duct.
predisposisi sebanyak 45%
menjadi hereditary breast
cancers, 80% menjadi
hereditary ovarian cancers
Klasifikasi berdasarkan histologi

Epitel & jaringan


Epitel
ikat

Karsinosarcoma
Non invasif Invasif Filoides maligna Angiosarcoma
mammae

Ductal in situ Lobular in situ Lobular invasif Ductal invasif


Berdasarkan staging
Pathway
Manifestasi Klinis
• Terdapat massa utuh kenyal, biasa di kuadran atas bagian dalam,
dibawah ketiak bentuknya tak beraturan dan terfiksasi.
• Nyeri di daerah massa.
• Perubahan bentuk dan besar payudara, adanya lekukan ke dalam, tarikan
dan refraksi pada areola mammae.
• Edema dengan “peau d’ orange (keriput seperti kulit jeruk)
• Pengelupasan papilla mammae
• Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah, darah, cairan
encer padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui.
• Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi
T4

Ulkus Retraksi Nipple

Peau De Orange
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
•Posisi Duduk
Lakukan inspeksi pada pasien dengan posisi tangan jatuh bebas ke samping dan
pemeriksa berdiri di depan dalam posisi lebih kurang sama tinggi. Perhatikan keadaan
payudara kiri dan kanan, simetris / tidak; adakah kelainan papilla, letak dan bentuknya,
retraksi putting susu, kelainan kulit berupa peau d’orange, dimpling, ulserasi, atau
tanda-tanda radang. Lakukan juga dalam keadan kedua lengan di angkat ke atas untuk
melihat apakah ada bayangan tumor di bawah kulit yang ikut bergerak atau adakah
bagian yang tertinggal, dimpling dan lain-lain.
•Posisi Berbaring
Sebaiknya dengan punggung diganjal dengan bantal, lakukan palpasi mulai dari
cranial setinggi iga ke-2 sampai distal setinggi iga ke-6, serta daerah subaerolar dan
papilla atau dilakukan secara sentrifugal, terakhir dilakukan penekanan daerah papilla
untuk melihat apakah ada cairan yang keluar. Tetapkan keadaan tumornya, yaitu lokasi
tumor berdasarkan kuadrannya; ukuran, konsistensi, batas tegas / tidak; dan mobilitas
terhadap kulit, otot pektoralis, atau dinding dada.
• Pemeriksaan KGB regional di daerah :
• Aksila
• Supra dan infraklavikula, serta KGB leher utama.
• Organ lain yang diperiksa untuk melihat adanya metastasis yaitu hepar, lien,
tulang belakang, dan paru. Metastasis jauh dapat bergejala sebagai berikut:
• Otak : nyeri kepala, mual, muntah, epilepsi, ataksia, paresis, paralisis.
• Paru : efusi pleura, coint lesion foto paru, atelektasis,
• Hati : hepatomegali, fungsi hati terganggu SGOT/SGPT, ikterus, asites.
• Tulang : nyeri tekan, osteolytic lesion, destruksi tulang, lesi osteoblastik.
• Pemeriksaan penunjang
Mammografi

USG

Pemeriksaan Histopatologi
• Eksisional Biopsy
• Insisional Biopsy
• FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy)
Diagnosis Banding
Diagnosis Banding
Fibroadenoma mammae ( • Merupakan tumor jinak payudara yang biasanya terdapat pada usia muda (
15 – 30 tahun ) , dengan konsistensi padat kenyal, batas tegas, tidak nyeri
FAM ) dan mobile. Terapi pada tumor ini cukup dengan eksisi.

• Merupakan tumor yang tidak berbatas tegas, konsistensi padat kenyal atau
Kelainan fibrokistik kistik, terdapat nyeri terutama menjelang haid, ukuran membesar, biasanya
bilateral / multiple. Terapi tumor ini dengan medikamentosa simtomatis.

• Menyerupai FAM yang besar, berbentuk bulat lonjong, berbatas tegas,


Kistosarkoma filoides mobile dengan ukuran dapat mencapai 20- 30 cm. terapi tumor ini dengan
mastektomi simple.

• Merupakan masa tumor kistik yang timbul akibat tersumbatnya saluran/


Galaktokel ductus laktiferus. Tumor ini terdapat pada ibu yang baru atau sedang
menyusui.

• Infeksi pada payudara dengan tanda radang lengkap bahkan dapat


Mastitis berkembang menjadi abses. Biasanya terdapat pada ibu yamg sedang
menyusui.
Penatalaksanaan
• Jenis – jenis pengobatan :
Pada stadium I , II , III awal ( stadium operable ), sifat pengobatan adalah kuratif. Semakin
dini semakin tinggi kurasinya. Pengobatan pada stadium I , II , IIIA adalah operasi yang primer,
terapi lainnya hanya bersifat adjuvant. Untuk stadium I , II pengobatan adalah radikal
mastektomi atau modified radikal mastektomi, dengan atau tanpa radiasi dan sitostatika
adjuvant. Berdasarkan protokol di RSCM , diberikan terapi radiasi pasca operasi radikal
mastektomi, tergantung dari kondisi kelenjar getah bening aksila. Jika kelenjar getah bening
aksila tidak mengandung metastase, maka terapi radiasi dan sitostatika adjuvant tidak
diberikan. Stadium IIIA adalah simple mastektomi dengan radiasi dan sitostatika adjuvant.
Stadium IIIB dan IV, sifat pengobatannya adalah paliasi, yaitu terutama untuk mengurangi
penderitaan pasien dan memperbaiki kualitas hidup. Untuk stadium IIIB atau localy advanced
pengobatan utama adalah radiasi dan dapat diikuti oleh modalitas lain yaitu hormonal terapi
dan sitostatika ( kemoterapi ).
Stadium IV pengobatan yang primer adalah bersifat sistemik yaitu hormonal dan
kemoterapi. Radiasi terkadang diperlukan untuk paliasi pada daerah – daerah tulang weight
bearing yang mengandung metastase atau pada tumor bed yang berdarah difuse dan berbau
yang mengganggu sekitarnya.
Perlu dikemukaan suatu metode pengobatan kanker payudara stadium dini
yaitu breast conservating treatment. Cara ini yaitu hanya dengan
mengangkat tumor (tumorektomi atau segmentektoni atau
kwadrantektomi ) dan diseksi aksila dan diikuti dengan radiasi kuratif.
Hanya dikerjakan untuk stadium I atau II (3 cm,untuk yang lebih besar
belum dikerjakan dan mempunyai prognosa yang buruk dari terapi radikal).
Oleh karena itu penerapan cara ini memerlukan pertimbangan yang lebih
jauh, antara lain
• Penentuan stadium harus betul – betul akurat
• Tersedianya fasilitas terapi radiasi yang cukup, karena pada breast conserving
treatment antara operasinya dan radiasi merupakam satu kesatuan.
• Pendidikan masyarakat atau penderita yang baik dan mau control secara teratur.
• Dan teknik diseksi aksila benar – benar dikerjakan dengan baik. Diseksi aksila
dikerjakan lebih sulit karena otot-otot pectoral tetap intake dan jaringan payudara
sendiri masih ada yang menghambat pembukaan lapangan operasi aksila yang
baik.
• Hormonal terapi
• Dari pemberian terapi hormonal ini adalah kenyataan bahwa 30 – 40 % kanker payudara
adalah hormone dependen. Terapi ini semakin berkembang dengan ditemukannya hormone
estrogen dan progesteron reseptor. Pada kanker payudara dengan estrogen reseptor dan
progesteron reseptor yang positif respon terapi hormonal sampai 77 %.
• Hormonal terapi merupakan terapi utama pada stadium IV disamping khemoterapi karena
kedua-keduanya merupakan terapi sistematik.

• Dibedakan 3 golongan penderita menurut status menstruasi yaitu :


Premenoupause.
Untuk premenopause terapi hormonal berupa terapi ablasi yaitu bilateral opharektomi.

1 – 5 tahun menoupause.
Untuk 1 – 5 tahun menopause, jenis terapi hormonal tergantung dari aktivitas efek estrogen.
Efek estrogen positif dilakukan terapi ablasi, efek estrogen negative dilakukan pemberian obat –
obatan anti estrogen.

Postmenoupause.
Untuk postmenopause terapi hormonal berupa pemberian obat anti estrogen.
Kemoterapi
Terapi ini bersifat sistemik, bekerja pada tingkat sel. Terutama diberikan
pada kanker payudara yang sudah lanjut, bersifat paliatif, tapi dapat pula
diberikan pada kanker payudara yang sudah dilakukan operasi mastektomi
dengan adanya metastase bersifat terapi adjuvant.
Tujuannya adalah menghancurkan mikrometastasis yang biasanya terdapat
pada pasien yang kelenjar aksilanya sudah mengandung metastasis.
Biasanya diberikan terapi kombinasi CMF. (C : Cyclophosphamide =
endoxan ; M : methotrexate ; F : 5-Fluorouracil) selama 6 bulan pada
wanita pramenopause, sedangkan pada wanita pascamenopause diberikan
terapi adjuvant hormonal berupa pil anti estrogen.
Pencegahan Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara :
1. Kesadaran SADARI dilakukan setiap bulan.
2. Berikan ASI pada Bayi. Memberikan ASIpada bayi secara berkala akan
mengurangi tingkat hormone tersebut. Sedangkan kanker payudara berkaitan
dengan hormone estrogen.
3. Jika menemukan gumpalan / benjolan pada payudara segera kedokter.
4. Cari tahu apakah ada sejarah kanker payudara pada keluarga. Menurut
penelitian 10 % dari semua kasus kanker payudara adalah factor gen.
5. Perhatikan konsumsi alcohol. Dalam penelitian menyebutkan alcohol
meningkatkan estrogen.
6. Perhatikan BB, obesitas meningkatkan risiko kanker payudara.
7. Olah raga teratur. Penelitian menunjukkan bahwa semakin kurang berolah raga,
semakin tinggi tingkat estrogen dalam tubuh.
8. Kurangi makanan berlemak. Gaya hidup barat tertentu nampaknya dapat
meningkatkan risiko penyakit.
9. Usia > 50 th lakukan srening payudara teratur. 80% Kanker payudara terjadi
pada usia > 50 th
Komplikasi

Psychological complications
• fear
• anxiety
• loss of sleep
• loss of sexual interest
• depression due to possible physical changes resulting from the
intensive treatments
Komplikasi sekunder mencakup :
• Infllamasi jaringan paru
• heart damage
• secondary cancers

Komplikasi yang memungkinkan terjadi setelah dilakukannya operasi adalah :


• hematoma atau berkumpulnya darah dibawah kulit
• seroma atau berkumpulnya cairan disekitar area operasi
• lymphedema atau bengkak kelenjar linfoid sekitar (ketiak dan payudara)
• reactions to the anesthesia
Komplikasi dari kemoterapi mencakup :

• low immunity 7-14 days after undergoing chemotherapy and thus prone to infections
• hair loss and thinning due to chemotherapy
• nausea and vomiting episodes after chemotherapy
• constipation or diarrhea
• dental and mouth problems, such as, sore gums, mouth ulcers
• dry skin and brittle nails
• constant exhaustion
• infertility
• early menopause
• menopausal symptoms ( hot flashes and vaginal symptoms
Prognosis
Prognosis kanker payudara ditentukan oleh :
Staging ( TNM )
Semakin dini semakin baik prognosisnya.
• Stadium I : 5 – 10 tahun 80 %
• Stadium II : 60 %
• Stadium III : 30 %
• Stadium IV :5%

Jenis histopatologis keganasan


• Karsinoma in situ  mempunyai prognosis yang baik dibandingkan dengan karsinoma yang sudah invasive.
• Suatu kanker payudara yang disertai oleh gambaran peradangan dinamakan mastitis karsinomatosa, ini mempunyai
prognosis yang sangat buruk. Harapan hidup 2 tahun hanya kurang lebih 5 %. Tepat tidaknya tindakan terapi yang
diambil berdasarkan staging sangat mempengaruhi prognosis.