You are on page 1of 179

Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan

Teguh Irawan

Tangerang, 10 November 2014

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)


Deputi I Bidang Tata Lingkungan
Asdep Kajian Dampak Lingkungan
Pokok Bahasan :

1. Gambaran Umum Proses AMDAL, UKL –UPL serta


Izin Lingkungan
2. PUU Sektor Terkairt AMDAL, UKL-UPL dan Izin
Lingkungan
3. SKKLH , Rekomendasi UKL-UPL , Izin Lingkungan
Serta Pengawasan Izin Lingkungan
4. SE- MENLH Pelaksanaan Pasal 121 UU No. 32 Tahun
2009 tentang PPLH
1
Gambaran Umum Proses AMDAL, UKL –UPL
serta Izin Lingkungan
Keterkaitan Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan dengan Instrumen PPPLH Lainnya
Pengembangan Usaha/ Kegiatan Tahap Perencanaan Usaha/ Kegiatan Tahap Pra- Usaha/ Kegiatan Tahap
KRP Konstruksi, Konstruksi &Operasi
Pasca Operasi

Izin PPLH BML KBKL


Tata Ruang
Rencana izin Pelaksanaan Penutupan
Usaha Usaha usaha Usaha
dan/atau dan/atau dan/atau dan/atau
kegiatan kegiatan kegiatan Kegiatan

RTRW/RDTR
Amdal ARLH Tata Ruang
Implementasi Audit
atau Izin
Paska
LH Usaha/
RPPLH KLHS UKL-UPL Lingkungan &
Kegiatan
Izin PPLH
serta
Izin Continuous
ARLH Izin Improvement ARLH
Lingkungan Pinjam Pencana Penutupan
Pakai Usaha dan/atau
Kawasan kegiatan serta
Pengawasan
Daya Dukung & Hutan
Lingkungan Hidup
Persetujuannya
Daya Tampung atau
Lingkungan ARLH Pelepasan
Penaatan BML KBKL
Kawasan Pemanfaatan
Hidup HPK Ruang Paska
Hasil ERA merupakan Penegakan Hukum Usaha/Kegiatan
bagian dari Amdal Lingkungan Hidup
Instrumen
Ekonomi LH Instrumen Ekonomi LH Instrumen Ekonomi LH Instrumen Ekonomi LH
Izin Lingkungan: Jantungnya Sistem Perizinan di Indonesia
Diterbitkan oleh Diterbitkan oleh Dilakukan oleh Pengawasan
• Proses Penilaian Amdal oleh KPA; Lingkungan Hidup &
MENLH, Gubernur, MENLH, MENLH,
• Proses Pemeriksaan UKL-UPL Penegakan Hukum
atau Gubernur, atau Gubernur, atau
oleh Instansi LH Lingkungan
Bupati/Walikota Bupati/Walikota Bupati/ Walikota

Pemrakarsa Izin PPLH • Pelaksanaan


Usaha dan/atau
Rencana Usaha Proses Izin Usaha Kegiatan
Izin Pelaksanaan Izin
dan/atau Amdal atau Lingkungan
dan/atau •
Kegiatan Lingkungan & Izin
UKL-UPL Kegiatan
PPLH
Diterbitkan oleh Menteri
Proses Penyusunan Amdal atau terkait, Gubernur, atau
UKL-UPL oleh Pemrakarsa Bupati/Walikota
Penaatan terhadap
• IZIN LINGKUNGAN merupakan ‘Jantung-nya’ Sistem Perizinan di BML & KBKL
Indonesia. Secara legal, sesuai PUU PSDA dan PPLH izin usaha
dan/atau kegiatan tidak dapat diterbitkan tanpa adanya izin
lingkungan.
• Izin Lingkungan merupakan hasil dari Proses Amdal atau UKL-
UPL (Sistem KDL) yang disusun oleh Pemrakarsa dan dinilai oleh
KPA atau diperiksa oleh Instansi LH; Penurunan Beban
Pencemaran dan Laju
• Izin lingkungan instrumen utama penurunan Beban Pencemaran Kerusakan LH
Lingkungan dan Laju Kerusakan Lingkungan & Pengawasan LH
Izin Lingkungan: Produk Proses Amdal atau UKL-UPL
Izin lingkungan = diterbitkan
Proses pada tarap perencanaan &
Usaha dan/atau penyusunan dan persyaratan untuk memperoleh
Kegiatan Wajib Penilaian Amdal izin usaha dan/atau kegiatan
AMDAL
IZIN Usaha
IZIN
Wajib Memiliki dan/atau
LINGKUNGAN
Kegiatan
Usaha dan/atau
Kegiatan Wajib
Izin
UKL/UPL
Proses
penyusunan dan
PPLH Izin PPLH, antara
lain:
a. Izin pembuangan air
Pemeriksaan UKL- limbah ke sungai;
Catatan: Usaha dan/atau UPL b. Izin pemanatan air
Kegiatan wajib SPPL tidak 1. Izin PPLH diterbitkan pada tahap limbah untuk aplikasi
wajib memiliki izin operasional. ke tanah
lingkungan c. Izin pembuangan air
2. Izin PPLH diterbitkan berdasarkan limbah ke laut
persyaratan dan kewajiban izin d. Izin injeksi air limbah
lingkungan yang harus ditaati oleh e. Izin PLB3
perusahaan
Pembagian Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Berdasarkan Dokumen LH
Jenis Rencana Usaha Dampak Lingkungan dan Dokumen
dan/atau kegiatan Lingkungan

USAHA DAN/ATAU Kegiatan AMDAL


KEGIATAN berdampak
WAJIB AMDAL penting terhadap
LH Peraturan MENLH
Pasal 22-33 UU 32/2009 Wajib
Batas AMDAL No 05/2012
Memiliki Izin
Lingkungan

USAHA DAN/ATAU Kegiatan tidak


KEGIATAN berdampak UKL-UPL
WAJIB UKL/UPL penting terhadap
LH

Pasal 34 UU 32/2009
Batas dokumen Peraturan Gub. atau
UKL-UPL Bupati/Walikota

USAHA DAN/ATAU Kegiatan tidak wajib UKL/UPL & Tidak Wajib


KEGIATAN WAJIB SPPL tidak berdampak penting serta SPPL Memiliki Izin
Pasal 35 UU 32/2009 Kegiatan usaha mikro dan kecil Lingkungan
DEFINISI AMDAL
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Kata Kunci
1. kajian; AMDAL
2. dampak
penting; Kajian mengenai dampak penting
3. Rencana suatu usaha dan/atau kegiatan
usaha yang direncanakan pada lingkungan hidup
dan/atau yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
kegiatan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
4. Proses
pengambilan
keputusan UU No. 32 / 2009 - Pasal 1 angka 11

• Amdal pada dasarnya sebuah kajian ilmiah yang dilakukan oleh pemrakarsa untuk
membuktikan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan tersebut aman
bagi lingkungan hidup (ramah lingkungan). Kajian tersebut dilakukan melalui proses
pelibatan masyarakat.
• Sebagai sebuah kajian ilmiah, Amda berisi atau memuat informasi mengenai identifikasi,
prediksi (prakiraan), evaluasi serta mitigasi berbagai dampak lingkungan yang akan terjadi
di masa depan (biogefisik kimia, social-ekonomi, social budaya dan kesehatan masyarakat) dari
rencana usaha dan/atau kegiatan (proyek) yang akan dilakukan saat ini.
Definisi UKL-UPL & SPPL
PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN
1 terhadap usaha dan/atau kegiatan yang
tidak berdampak penting terhadap
lingkungan hidup yang diperlukan bagi
PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN
tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
UKL – UPL kegiatan

PERNYATAAN KESANGGUPAN dari


2 SPPL
penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan untuk melakukan
PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN
lingkungan hidup atas dampak
lingkungan hidup dari usaha dan/atau
kegiatannya
UU 32/2009, Ps. 1
Amdal dan Tata Ruang
Tahap Perencanaan
1 2 3 4 5
Rencana Studi Disain Pra Kontruksi Operasi
Umum Kelayakan Rinci dan Konstruksi

Amdal disusun oleh pemrakarsa pada tahap perencanaan suatu usaha


dan/atau kegiatan Tidak sesuai
dengan
rencana tata
KA 1 ruang,
ANDAL 2 dokumen
Lokasi rencana usaha Amdal tidak
RKL-RPL 3 dan/atau kegiatan dapat dinilai
Dokumen AMDAL wajib sesuai dengan dan wajib
rencana tata ruang dikembalikan
kepada
pemrakarsa
Sumber: Pasal 4-5 PP 27/2012 Izin Lingkungan
Penyusunan UKL-UPL
Tahap Perencanaan
1 2 3 4 5
Rencana Studi Disain Prakontruksi Operasi
Umum Kelayakan Rinci /Konstruksi

UKL-UPL disusun oleh pemrakarsa pada tahap perencanaan


suatu usaha dan/atau kegiatan
11. Identitas pemrakarsa;
22. Rencana usaha dan/atau
kegiatan;
33. Dampak lingkungan yang
akan terjadi; dan
44. Program pengelolaan dan
1.Lokasi sesuai dengan
rencana tata ruang.
Formulir UKL-UPL pemantauan lingkungan
2.Tidak sesuai: tidak dapat
hidup.
dinilai dan dikembalikan
Sumber: Pasal 14-15 PP 27/2012 Izin Lingkungan
3 (TIGA) Pendekatan Amdal
Kriteria Amdal Amdal Terpadu Amdal Kawasan
Tunggal
jenis usaha 1 (satu) lebih dari 1 (satu) jenis lebih dari 1 (satu)
dan/atau usaha dan/atau kegiatan usaha dan/atau
kegiatan kegiatan
Kewenangan 1 (satu) lebih dari 1 (satu) K/LPNK
pembinaan K/LPNK atau atau SKPD
dan/atau SKPD
pengawasannya
Keterkaitan antar perencanaan dan perencanaan dan
Usaha dan/atau pengelolaannya saling pengelolaannya
Kegiatan terkait saling terkait

Ruang/Lokasi Satu hamparan Satu kesatuan zona


ekosistem rencana
pengembangan
kawasan
Pengelola Ada Pengelola
Kawasan Kawasan

Sumber: Pasal 8 PP 27/2012 Izin Lingkungan


Gambaran Umum Proses Amdal, UKL-UPL dan
Izin Lingkungan di Indonesia
Rencana Usaha dan/atau Kegiatan (Project)

Proses Penapisan (Screening)

Wajib Amdal Wajib UKL-UPL SPPL

Proses Proses
Amdal dan Proses
UKL-UPL dan Izin
Izin Lingkungan Lingkungan SPPL
Identitas pemrakarsa isi dengan identitas jelas pemrakarsa, termasuk di dalamnya:
a. Nama badan usaha
b. Nama penanggung jawab rencana usaha dan/atau kegiatan
c. Alamat kantor/pabrik/lokasi
d. Nomor telepon/fax
e. Nama rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan untuk ditapis

(contoh: Rencana Pembangunan Industri Semen di Kecamatan X, Kabupaten Y,


Provinsi Z, oleh PT ABCDE)
f. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan

(lengkapi dengan peta yang dapat ditampalkan/dioverlaykan dengan peta tata


ruang yang berlaku sesuai ketentuan peraturan perundangan dan Peta Indikatif
Penundaan Izin Baru yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun
2011)
NO. HAL INFORMASI SKALA/BESARAN KETERANGAN/INFO
RMASTAMBAHAN

1. Rencana usaha dan/atau kegiatan Contoh: Kapasitas produksi semen


utama yang ditapis PT ABCDE berencana melakukan 300.000 ton/tahun
-
kegiatan pembangunan dan
pengoperasian industri semen dengan
proses klinker

2. Rencana usaha dan/atau Direncanakan pula membangun jetty Panjang jetty 100 m;
kegiatan pendukung yang - Direncanakan pula untuk - Luas quarry 100 ha;
ditapis melakukan penambangan kapur - kapasitas
(quarry) di lokasi XXXX
- Direncanakan pula untuk
pengambilan air tanah
melakukan pengambilan air tanah dengan debit 50
Liter/detik (dari 5
sumur dalam satu area
seluas 1 ha)
Pasal 2: Proses Penapisan Usaha/Kegiatan Wajib Amdal
Deskripsi jenis rencana usaha
Uji informasi Awal Pemrakarsa mengisi dan/atau kegiatan utama &
dengan daftar jenis ringkasan informasi awal pendukung harus diuraikan secara
jelas . Periksa dan bandingkan
rencana usaha Rencana Usaha dan/atau
seluruh jenis usaha dan/atau
dan/atau kegiatan Kegiatan yang diusulkan kegiatan dengan Permen 05/2012
wajib Amdal (Kegiatan Utama &
(Lampiran I) Pendukung) (lampiran V)
• Kawasan lindung wajib
ditetapkan;
• Tidak semua jenis kawasan
lindung dalam PP 26/2008 dan
Keppres 32/1990 dimasukan
dalam daftar kawasan lindung
Periksa apakah lokasinya • Ada jenis usaha dan/atau
Tidak berada di dalam dan/atau kegiatan yang dikecualikan
? berbatasan langsung dengan
kawasan lindung Tidak
(Lampiran III)
Ya
Uji ringkasan awal dengan
kriteria pengecualian
(Pasal 3 ayat 4)

Wajib Memiliki Tidak Ya Wajib UKL-UPL


Amdal
? atau SPPL
Pemrakarsa dan Penyusunan Dokumen Amdal
Pemrakarsa 1 Penyusun dari
Pemrakarsa
sendiri

Menyusun Dokumen
Amdal

Pihak Lain:
DILARANG ! •2 Penyusun
Persyaratan Penting !
Penyusunan dokumen
PNS di Instansi Perorangan
Amdal wajib memiliki
Lingkungan Hidup
•3 Penyusun yang sertifikat kompetensi
(Pusat, Provinsi dan
tergabung penyusun Amdal
Kabupaten/Kota),
dalam LPJP
Kecuali bertindak
sebagai pemrakarsa
Sumber: Pasal 10-12 PP 27/2012 Izin Lingkungan
11. Pendidikan dan pelatihan
penyusunan Amdal; dan
Dokumen Amdal merupakan dokumen Pemrakarsa.
Pemrakarsa dalam menyusun dokumen Amdal dapat 22. Uji kompetensi
dilakukan sendiri atau meminta bantuan pihak lain
Penyusun Amdal Bersertifikasi Kompetensi
Ini alamat website Lembaga Sertifikasi Kompetensi
AMDAL (INTAKINDO) http://lsk.intakindo.org

Jumlah tenaga penyusun Amdal yang telah


memiliki Sertifikasi Kompetensi = 598 orang,
terdiri dari KTPA = 278 dan ATPA = 320(31 Mei
17
Sertifikat Tanda Registrasi Kompetensi LPJP
87 LPJP yang Telah
Teregistrasi Kompetensi
di KLH
Tampilan
Depan Sertifikat
Tampilan
Belakang
Sertifikat
Lampiran 1: Daftar Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Amdal
Peraturan MENLH No. 11/2006 Peraturan MENLH No. 05/2012
No Bidang Jumlah No Bidang Jumlah
Jenis Jenis
Kegiatan Kegiatan
1. Pertahanan 3 1. Multisektor 5
2. Pertanian 2 2. Pertahanan 3
3. Perikanan 1 3. Pertanian 3
4. Kehutanan 1 4. Perikanan dan Kelautan 1
5. Perhubungan 10 5. Kehutanan 1
6. Teknologi Satelit 1 6. Perhubungan 5
7. Perindustrian 7 7. Teknologi Satelit 5
8. Pekerjaan Umum 16 8. Perindustrian 8
9. Sumber Daya Energi 10 9. Pekerjaan Umum 12
Mineral
10. Perumahan dan Kaw. Permukiman 1
10. Pariwisata 2
11. Energi dan Sumber Daya Mineral 18
11. Pengembangan Nuklir 2
12. Pariwisata 2
12. Pengelolaan LB3 1
13. Ketenaganukliran 4
13. Rekayasa Genetika 2
14. Pengelolaan LB3 4
13 Bidang 58 Jenis Kegiatan
14 Bidang 72 Jenis Kegiatan
Lampiran 1: Daftar Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Amdal
Deskripsi Rencana Usaha dan/atau Kegiatan (Utama dan
Pendukung) dan Wajib Amdal
Penegasan di Peraturan MENLH No. 05/2012: Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk
dalam lampiran I Peraturan Menteri ini dapat menjadi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan amdal apabila di dalam usaha dan/atau kegiatan dimaksud terdapat salah satu jenis
usaha dan/atau kegiatan pendukung yang termasuk dalam jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan amdal sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini

Contoh:

Rencana
Pembangunan
Bangunan
Gedung Menjadi Usaha
dan/atau kegiatan
Pengambilan Jenis Rencana Wajib Amdal
Air Tanah Usaha dan
Kegiatan Utama di
luar Lampiran 1
Penting !
Jenis Usaha dan Dalam Proses Penapisan, uraikan
Kegiatan (UKL-UPL)
Misal: Pembangunan deskripsi jenis rencana usaha
Pendukungnya Wajib
Amdal. Misal Bangunan Gedung dan/atau kegiatan utama &
Pengambilan air tanah kurang dari 10.000 pendukung secara jelas . Periksa
lebih dari 50 liter/detik m2 atau luas lahan dan bandingkan seluruh jenis usaha
dari 1-5 sumur dalam kurang dari 5 Hektar dan/atau kegiatan dengan Lampiran
satu area < 10 hektar I Permen 05/2012
Peta Indikatif Penundaan Izin Baru (PIPIB) – Inpres 10/2011 (2011-2013)
Lokasi PIPIB
Lokasi yang Hutan Alam Primer (Moratorium) –
masih boleh Lahan Gambut di dalam dan di luar
Tidak Boleh Ada
ada izin baru kawasan Hutan
Izin Baru
Integrasi Inpres No. 10/2011 ke dalam Proses Penilaian Amdal atau Pemeriksaan UKL-UPL dan Izin Lingkungan
Penilaian Amdal: Peraturan MENLH No. 24/2009
Pemeriksaan UKL-UPL: Peraturan MENLH No. Izin SK Kelayakan LH atau Bagi usaha
13/2010 dan/atau
Lingkungan Rekomendasi UKL-UPL kegiatan yang
Rencana Usaha Layak/Disetujui dikecualikan,
dan/atau RKL-RPL-nya
Kegiatan Penilaian Dokumen harus harus
Amdal atau mencakup

Tidak Pemeriksaan UKL-UPL upaya mitigasi


atau
ya pengurangan
emisi GRK
Apakah Lokasinya Apakah lokasinya
• Sesuai dengan berada di dalam
Sesuai ya Apakah termasuk
Rencana Tata Kawasan Hutan
usaha dan/atau
Ruang, dan/atau Primer & Lahan
Kegiatan yang
• Sesuai dengan Gambut dalam Peta
DIKECUALIKAN?
Ketentuan PUU Indikatif Penundaan
SDA Izin Baru (PIPIB) ?
Tidak
Tidak Sesuai

Ditolak Inpres 10/2011 Ditolak

Usaha dan/atau kegiatan yang dikecualikan dalam Inpres 10/2011:


• Permohonan yang telah mendapat persetujuan prinsip dari Menteri Kehutanan;
• Pelaksanaan pembangunan nasional yang bersifat vital, yaitu: geothermal, migas, ketenagalistrikan, lahan
untuk padi dan tebu
• Pemanfaatan izin pemanfaatan hutan dan/atau penggunaan kawasan hutan yang telah ada sepanjang izin
di bidang usahanya masih berlaku
Daftar Kawasan Lindung dalam Peraturan MENLH No. 05 Tahun 2012
Kawasan lindung yang dimaksud dalam Peraturan Menteri
ini: Catatan :
1. Kawasan hutan lindung • Tidak semua kawasan
2. Kawasan bergambut lindung yang tercantum
3. Kawasan Resapan Air
dalam PP No. 26/2008 dan
4. Sempadan Pantai
5. Sempadan Sungai Keppres 32/1990
6. Kawasan Sekitar Danau atau Waduk dicantumkan dalam daftar
7. Suaka Margasatwa dan Suaka Margasatwa Laut kawasan lindung di
8. Cagar Alam dan Cagar Alam Laut Peraturan MENLH Ini;
9. Kawasan Pantai Berhutan Bakau • Kawasan lindungan =
10. Taman Nasional dan Taman Nasional Laut kawasan yang telah
11. Taman Hutan Raya DITETAPKAN sebagai
12. Taman Wisata Alam dan Taman Wisata Alam Laut
kawasan lindung
13. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan
14. Kawasan Cagar Alam Geologi • Usaha dan/atau kegiatan di
15. Kawasan Imbuhan Air Tanah kawasan lindung adalah
16. Sempadan Mata Air usaha dan/atau kegiatan
17. Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah yang diizinkan sesuai
18. Kawasan Pengungsian Satwa dengan ketentuan PUU
19. Terumbu Karang
20. Kawasan Koridor Bagi Jenis Satwa dan Biota Laut yang Dilindungi
Kawasan lindung  wilayah yang DITETAPKAN dengan fungsi utama untuk melindungi
kelestarian lingkungan hidup mencakup SDA dan Sumber Daya Buatan. Penetapan
kawasan lindung tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan PUU
Rencana Usaha/Kegiatan di dalam dan/atau berbatasan langsung dengan kawasan
Lindung Wajib Memiliki AMDAL (Pasal 3 Peraturan MENLH No. 05/2012)
Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan
lokasinya berada di dalam kawasan lindung 
jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang
yang berada di dalam dan/atau berbatasan
diizinkan sesuai peraturan perundang-undangan, langsung dengan kawasan lindung yang
misal: tambang di hutan lindung, wisata alam di dikecualikan dari kewajiban menyusun
kawasan lindung Amdal adalah rencana usaha dan/atau
kegiatan:

Batas proyek
1 1. Eksplorasi pertambangan, migas dan
panas bumi;
2. Penelitian dan pengembangan di bidang
terluar yang Kawasan Lindung
ilmu pengetahuan;
bersinggungan Yang tercantum dalam
Lampiran Permen LH & 3. Yang menunjang pelestarian kawasan
dengan batas
terluar dari telah ditetapkan sesuai lindung;
kawasan dengan PUU 4. Yang terkait dengan kepentingan

2
lindung pertahanan dan keamanan negara yang
tidak berdampak penting terhadap
Dampak
lingkungan;
potensial
5. Budidaya yang secara nyata tidak
Dampak potensial dari

3
rencana usaha dan/atau
berdampak penting bagi lingkungan
kegiatan yang akan hidup;
dilaksanakan tersebut 6. budidaya yang diizinkan bagi penduduk
secara nyata asli dengan luasan tetap dan tidak
mempengaruhi kawasan Keterangan: mengurangi fungsi lindung kawasan dan
lindung terdekat = Rencana Usaha di bawah pengawasan ketat.
dan/atau kegiatan
Jenis Kegiatan yang izinkan dalam Kawasan Lindung Sesuai dengan
Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008
No. Kawasan Lindung Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Lindung Nasional Sesuai
Dalam Peraturan dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008
MENLH No. 05 Tahun
2012
1. Kawasan Hutan a. wisata alam tanpa merubah bentang alam;
Lindung b. kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk asli
dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung
kawasan, dan di bawah pengawasan ketat
2. Kawasan bergambut a. wisata alam tanpa merubah bentang alam
3. Kawasan Resapan a. kegiatan budi daya tidak terbangun yang memiliki
Air kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;
b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk pada lahan
terbangun yang sudah ada

4. Sempadan Pantai a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;


b. pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk
mencegah abrasi;
c. pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang
kegiatan rekreasi pantai;
Lanjutan - Jenis Kegiatan yang izinkan dalam Kawasan Lindung Sesuai
dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008
No. Kawasan Lindung Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan
Dalam Peraturan Lindung Nasional Sesuai dengan Ketentuan
MENLH No. 05 Tahun Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008
2012
5. Sempadan Sungai a. pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka
6. Kawasan sekitar hijau;
danau/waduk b. bangunan untuk pengelolaan badan air
dan/atau pemanfaatan air;
c. pendirian bangunan dibatasi hanya
untuk menunjang fungsi taman rekreasi;

7. Suaka margasatwa a. penelitian, pendidikan, dan wisata alam;


dan suaka b. pendirian bangunan dibatasi hanya
margasatwa laut untuk menunjang kegiatan sebagaimana
8. Cagar alam dan dimaksud pada huruf a;
cagar alam laut
9. Kawasan pantai a. kegiatan pendidikan, penelitian, dan
berhutan bakau wisata alam
Lanjutan - Jenis Kegiatan yang izinkan dalam Kawasan Lindung Sesuai
dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008
No. Kawasan Lindung Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Lindung Nasional
Dalam Peraturan Sesuai dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun
MENLH No. 05 2008
Tahun 2012
10. Taman Nasional a. wisata alam tanpa merubah bentang alam;
atau taman b. pemanfaatan ruang kawasan untuk kegiatan budidaya
nasional laut hanya diizinkan bagi penduduk asli di zona penyangga
dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung
kawasan, dan di bawah pengawasan ketat

11. Taman hutan raya a. penelitian, pendidikan, dan wisata alam;


b. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang
kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a;

12. Taman Wisata a. wisata alam tanpa mengubah bentang alam;


Alam dan Taman b. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk menunjang
Wisata Alam Laut kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a; dan
Lanjutan - Jenis Kegiatan yang izinkan dalam Kawasan Lindung Sesuai
dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008
No. Kawasan Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Lindung Nasional
Lindung Dalam Sesuai dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun
Peraturan 2008
MENLH No. 05
Tahun 2012
13. Kawasan cagar a. penelitian, pendidikan, dan pariwisata; dan
budaya dan ilmu b. pelarangan kegiatan dan pendirian bangunan yang tidak
pengetahuan sesuai dengan fungsi kawasan

14. Kawasan cagar a. pariwisata tanpa mengubah bentang alam


alam geologi b. kegiatan penggalian dibatasi hanya untuk penelitian
arkeologi dan geologi
c. pelindungan bentang alam yang memiliki ciri langka
dan/atau bersifat indah untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, budaya, dan/atau pariwisata.
d. pelindungan kawasan yang memiki ciri langka berupa
proses geologi tertentu untuk pengembangan ilmu
pengetahuan dan/atau pariwisata.
Lanjutan - Jenis Kegiatan yang izinkan dalam Kawasan Lindung Sesuai
dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP No. 26 Tahun 2008
No. Kawasan Lindung Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Kawasan Lindung
Dalam Peraturan Nasional Sesuai dengan Ketentuan Pasal 99-Pasal 106 PP
MENLH No. 05 Tahun No. 26 Tahun 2008
2012
15. Kawasan imbuhan a. kegiatan budi daya tidak terbangun yang
air tanah memiliki kemampuan tinggi dalam menahan
limpasan air hujan;
b. penyediaan sumur resapan dan/atau waduk
pada lahan terbangun yang sudah ada

16. Sempadan mata air a. ruang terbuka hijau


17. Kawasan a. wisata alam tanpa mengubah bentang alam;
perlindungan b. pelestarian flora, fauna, dan ekosistem unik
plasma nutfah kawasan
18. Kawasan a. wisata alam tanpa mengubah bentang alam;
pengungsian satwa b. pelestarian flora dan fauna endemik kawasan;
19. Terumbu Karang a. pariwisata bahari
20. Kawasan koridor
bagi jenis satwa atau
Jenis Kegiatan yang diizinkan dalam Kawasan Konservasi (KSA) dan
KPA sesuai dengan PP 28/2011
No Jenis Pemanfaatan KSA dan Kawasan Suaka Kawasam Pelestarian
KPA Alam (KSA) Alam (KPA)
Cagar Suaka Taman Taman Taman
Alam Marga- Nasion Wisata Hutan
(CA) satwa al (TN) Alam Raya
(SM) (TWA) (Tahura)
1. penelitian dan pengembangan     
ilmu pengetahuan
2. pendidikan dan peningkatan     
kesadartahuan konservasi alam
koleksi kekayaan keanekaragaman
hayati
3. penyerapan dan/atau     
penyimpanan karbon
4. pemanfaatan air serta energi air,    
panas, dan angin serta wisata alam
terbatas
5. pemanfaatan tumbuhan dan satwa  
liar
Sumber: Pasal 33-37 PP No. 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam
Jenis Kegiatan yang diizinkan dalam Kawasan Konservasi (KSA) dan
KPA sesuai dengan PP 28/2011
No Jenis Pemanfaatan KSA dan KPA Kawasan Kawasam Pelestarian
Suaka Alam Alam (KPA)
(KSA)
Caga Suaka Taman Taman Taman
r Marga- Nasion Wisata Hutan
Alam satwa al (TN) Alam Raya
(CA) (SM) (TWA) (Tahura)
6. pemanfaatan sumber plasma nutfah     
untuk penunjang budidaya
7. pemanfaatan tradisional oleh   
masyarakat setempat.
6. pembinaan populasi melalui 
penangkaran dalam rangka
pengembangbiakan satwa atau
perbanyakan tumbuhan secara buatan
dalam lingkungan yang semi alami.
7. pembinaan populasi dalam rangka 
penetasan telur dan/atau pembesaran
anakan yang diambil dari Alam
Sumber: Pasal 33-37 PP No. 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam
Kawasan Lindung Sempadan Pantai Mangrove
PP 26/2008 Pasal 57 ayat (5), Keppres Keppres 32/1990 Pasal
32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan 26: Perlindungan
terhadap kawasan
Lindung, Pasal 27 dan Kepmen LH No. 201 pantai berhutan bakau
Tahun 2004 dilakukan untuk
melestarikan hutan
bakau sebagai
pembentuk ekosistem
hutan bakau dan
tempat
berkembangbiaknya
berbagai biota laut
disamping sebagai
KAWASAN LINDUNG Sempadan pelindung pantai dan
pantai hutan mangrove = 130 x nilai pengisian air laut serta
rata-rata perbedaan air pasang perlindungan usaha
budidaya di
tertinggi dan terendah tahunan, belakangnya
DIUKUR dari garis air surut
teredah

Pasal 101 ayat 3 PP 26/2008: Kawasan pantai berhutan bakau


 pemanfaatan utk keg. Pendidikan, penelitan & wisata
alam, pelarangan pemanfaatan kayu bakau, pengurangan
luas dan pencemaran ekosistem bakau
Kriteria Kawasan Lindung Sempadan Pantai
Zonasi untuk sempadan pantai: Pemanfaatan untuk RTH, Pengembangan struktur
alami dan struktur buatan untuk menunjang kegiatan rekreasi pantai, Pelarangan
pendirian bangunan, Pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas,
nilai ekologis, dan estetika kawasan (Pasal 100 ayat (1) PP 26 Tahun 2008 tentang
RTRWN)

Kawasan Lindung
Sempadan Pantai = 100
meter
Garis batas sempadan pantai

Berdasarkan PP 26/2008 Pasal 56 ayat (2), Keppres 32/1990 Pasal 14:


Sempadan pantai diukur 100 meter dari garis pasang tertinggi
Perlindungan Ekosistem
Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan Kawasan Lindung
(Pasal 52 ayat (6) PP 26/2008 tentang RTRWN)

Zonasi Terumbu Karang


• Pemanfaatan untuk wisata bahari
• Pelarangan kegiatan penangkapan ikan dan
pengambilan terumbu karang
• Pelarangan kegiatan yang dapat menimbulkan
pencemaran air
(Pasal 103 ayat (6) PP 26/2008 tentang RTRWN)
Larangan
penambangan terumbu karang yg menimbulkan
kerusakan, pengambilan terumbu karang di
kawasan konservasi, penggunaan peralatan, cara tau
metode lain yg merusak ekosistem terumbu karang

(Pasal 35 UU 27/2007 tentang PWP & PPK)


Kawasan Lindung Sempadan Sungai
S. Bone di Kab. Bolmong, Prop. Sulut PP 82/2001
Pengelolaan
Kualitas Air &
Pengendalian
PP 26 Tahun 2008 tentang Pencemaran Air
Tata Ruang Nasional &
Keppres 32/1990 tentang
Kawasan Lindung
Zonasi sempadan sungai
• Pemanfaatan Ruang utk
RTH;
• Pelarangan mendirikan
bangunan
Pasal 100 ayat 2 PP 26/2008
Sungai
Rencana Usaha dan/atau Kegiatan serta Kewenangan Penilaian
Dokumen Amdal (1)
Strategis nasional Strategis Provinsi
(Lampiran II) (Lampiran III)

KPA
Strategis Provinsi Pusat Strategis Kab/Kota
(Lampiran III) (Lampiran IV)

Tidak bersifat
Strategis Kab/Kota Strategis (Lampiran
(Lampiran IV) KPA V)
Provinsi
Tidak bersifat 1. Lebih dari 1 wilayah
kab/kota atau lintas
Strategis (Lampiran
kab/kota;
V) 2. Wilayah laut paling
1. Lebih dari 1 wilayah KPA jauh 12 mil
provinsi’ Kab/Kota
2. Wilayah NKRI dalam
sengketa dgn negara 1. Satu wilayah
lain; Strategis Kab/Kota kab/kota
3. Wilayah laut > 12 mil (Lampiran IV) 2. Wilayah laut
4. Lintas batas NKRI paling jauh 1/3
dengan negara lain Tidak bersifat wilayah laut
Strategis (Lampiran kewenangan
V) provinsi
Contoh 1: Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Hulu Migas dan
Kewenangan Penilaian/Pemeriksaan Dokumen LH-nya

1. Lebih dari 1 wilayah


Explorasi UKL-UPL provinsi’
2. Wilayah NKRI dalam
sengketa dgn negara lain; Instansi
wajib UKL-UPL
3. Wilayah laut > 12 mil
4. Lintas batas NKRI
LH Pusat
dengan negara lain

wajib Amdal 1. Lebih dari 1 wilayah


Produksi kab/kota atau lintas Instansi
kab/kota; LH
2. Wilayah laut paling jauh
12 mil Provinsi

1. Satu wilayah kab/kota Instansi


2. Wilayah laut paling jauh
1/3 wilayah laut LH
kewenangan provinsi Kab/Kota
Rencana Usaha
dan/atau Kegiatan
Minyak & Gas Bumi
AMDAL KPA Pusat
Contoh 2: Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Panas Bumi dan
Kewenangan Penilaian/Pemeriksaan Dokumen LH-nya
1. Lebih dari 1 wilayah
Explorasi UKL-UPL provinsi’
2. Wilayah NKRI dalam
sengketa dgn negara lain; Instansi
wajib UKL-UPL
3. Wilayah laut > 12 mil
4. Lintas batas NKRI
LH Pusat
dengan negara lain

wajib Amdal 1. Lebih dari 1 wilayah


Eksploitasi kab/kota atau lintas Instansi
kab/kota; LH
2. Wilayah laut paling jauh
12 mil Provinsi

1. Satu wilayah kab/kota Instansi


2. Wilayah laut paling jauh
1/3 wilayah laut LH
kewenangan provinsi Kab/Kota
Di dalam
KPA Pusat
Rencana Usaha kawasan hutan
AMDAL lindung
dan/atau Kegiatan
Panas Bumi Di luar kawasan
KPA Kab/Kota
hutan lindung
Penilaian Amdal Terpadu atau Kawasan oleh Komisi Penilai Amdal
Komisi Penilai Amdal Pusat Komisi Penilai Amdal Provinsi

1 + 2 + 3 2 + 3
atau Studi AMDAL dengan Pendekatan
TERPADU atau KAWASAN
1 + 2 Komisi penilai Amdal provinsi menilai
atau dokumen Amdal yang disusun dengan
menggunakan pendekatan terpadu atau
1 + 3 kawasan apabila terdapat usaha
dan/atau kegiatan (2) dan (3)
Studi AMDAL dengan Pendekatan
TERPADU atau KAWASAN Keterangan
1
1. Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang
dinilai oleh Komisi Penilai Amdal Pusat
Komisi penilai Amdal pusat
menilai dokumen Amdal yang 2
2. Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang
dinilai oleh Komisi Penilai Amdal Provinsi
disusun dengan menggunakan
pendekatan terpadu atau kawasan 3
3. Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang
dinilai oleh Komisi Penilai Amdal
apabila terdapat usaha dan/atau Kabupaten/Kota
kegiatan (1), (2) dan/atau (3)

Sumber: Pasal 55 PP No. 27 Tahun 2012 Izin Lingkungan dan Pasal 11 Peraturan MENLH No. 8/2013
Studi Kasus Penapisan & Penentuan Kewenangan Rencana
Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Mineral
• Apakah
Kawasan rencana usaha
Hutan Tambang dan/atau
Lindung Mineral kegiatan
(PIT) 1 tersebut dapat
Wilayah Dalam
Satu dilakukan?
Kabupaten/Kota 3 • Jika Ya, Apa
Smelte Dokumen
LH?
r
2 Jalan • Pendekatan
Pelabuhan studi apa yang
4 (Terminal Untuk akan
Kepentingan dilakukan?
Sendiri/Terminal • KPA yang
Khusus)
berwenang?
Batas Tapak Catatan: Pelabuhan ini
Laut
Transhipme
Proyek berada di dalam
nt
wilayah DLKp dan
DLKr Pelabuhan
Utama
1999 2010 2012 PP Nomor 27 tahun 2012:
Perbaikan
Integrasi Izin Lingkungan
(PP Nomor 27 revitalisasi dalam Proses Amdal &
tahun 1999)
UKL-UPL & Streamlining
1993
Pengembangan
(PP Nomor 51 tahun
1993
1986 UU
tonggak awal Lingkungan
(PP Nomor 29 Hidup
tahun 1986)
Peraturan
Pemerintah
tentang
AMDAL
2009
UU 32/2009

Inovasi Kebijakan:
1997
PP No 27/2012 UU 23/1997
Merupakan PP
Generasi Ke-4 (empat) 1982
yang mengatur tentang
UU 4/1982 42
Amdal di Indonesia
Semangat PP NO. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
1. Menghindari terjadinya birokrasi baru. Dalam PP ini,
Izin lingkungan diintegrasikan ke dalam proses Amdal
dan UKL-UPL;
2. Pelaksanaan Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan
harus lebih streamlining dan bermutu, serta menuntut
profesionalisme, akuntabilitas dan integritas semua
pihak;
3. Kaidah Amdal sebagai Kajian Ilmiah;
4. Penegakan hukum atas pelanggar Amdal-UK-UPL dan
Izin Lingkungan;
5. Memperkuat Akses Partisipasi Masyarakat;
6. Mengubah Mindset Seluruh Pemangku Kepentingan;
7. Izin Lingkungan = Filter Investasi Hijau 
Pro-Lingkungan dan Pro-Investasi Hijau
Pasal 40 UU No. 32 Tahun 2009
1) Izin lingkungan merupakan
persyaratan untuk memperoleh izin
usaha dan/atau kegiatan.

2) Dalam hal izin lingkungan dicabut,


izin usaha dan/atau kegiatan
dibatalkan.
Izin Lingkungan
• Izin Lingkungan setara dengan
Izin Usaha
• SKKL atau Rekomendasi UKL-UPL
bukan Keputusan TUN
• Izin Lingkungan merupakan
keputusan TUN (konkrit, individual
dan final )
Pasal 36 Ayat 4 UU Nomor 32 Tahun 2009

Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri,


gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pelimpahan Kewenangan Penerbitan Rekomendasi UKL-UPL
dan Izin Lingkungan
1. Sesuai dengan ketentuan Pasal 40 huruf c ayat PP No. 27 Tahun 2012, penerbitan
rekomendasi UKL-UPL pada dasarnya dapat dilimpahkan dari Bupati/Walikota kepada
Kepala Instansi Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota
2. Pelimbahan kewenangan penerbitan rekomendasi UKL-UPL dari Bupati/Walikota
kepada Kepala Instansi Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota juga harus disertai juga
dengan pelimpahan kewenangan penerbitan izin lingkungan dari Bupati/Walikota
kepada Kepala Instansi Lingkungan Hidup, hal ini disebabkan karena:
a. PP No. 27 Tahun 2012 mengintegrasikan proses izin lingkungan ke dalam proses
AMDAL dan UKL-UPL.
b. Dengan integrasi proses izin lingkungan ke dalam proses UKL-UPL untuk rencana
usaha dan/atau kegiatan wajib memiliki UKL-UPL, proses UKL-UPL sesuai dengan
ketentuan PP No. 27 Tahun 2012 akan menghasilkan dua keputusan jika rencana
usaha dan/atau kegiatan wajib memiliki UKL-UPL dinyatakan disetujui:
i. Rekomendasi Persetujuan UKL-UPL
ii. Izin Lingkungan
c. Sesuai dengan ketentuan Pasal 47 PP No. 27 tahun 2012, izin lingkungan wajib
diterbitkan bersamaan dengan penerbitan rekomendasi UKL-UPL;
3. Pelimpahan kewenangan penerbitan Rekomendasi UKL-UPL dan Izin lingkungan 
melalui keputusan atau surat resmi sesuai dengan ketentuan peraturan perudang-
udangan terkait dengan tata naskah dinas administrasi pemerintahan
Pasal 47
(1) Izin Lingkungan diterbitkan oleh:

a. Menteri, untuk Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau Rekomendasi UKL-


UPL yang diterbitkan oleh Menteri;
b. gubernur, untuk Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau Rekomendasi
UKL-UPL yang diterbitkan oleh gubernur; dan
c. bupati/walikota, untuk Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup atau
Rekomendasi UKL-UPL yang diterbitkan oleh bupati/walikota.

(2) Izin lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota:

a. setelah dilakukannya pengumuman permohonan Izin Lingkungan sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 44; dan
b. dilakukan bersamaan dengan diterbitkannya Keputusan
Kelayakan Lingkungan Hidup atau Rekomendasi UKL-
UPL.
Sumber : PP 27 Tahun 2012
Pengumuman Izin Lingkungan yang Sudah Diterbitkan
1. Menteri melalui pejabat yang ditunjuk oleh Menteri, gubernur melalui
kepala instansi lingkungan hidup provinsi, atau bupati/walikota melalui
kepala instansi lingkungan hidup kabupaten/kota, mengumumkan
keputusan izin lingkungan yang telah diterbitkan.
2. Pengumuman tersebut dilakukan melalui media massa dan/atau
multimedia antara lain adalah situs internet yang secara efektif dan efisien
dapat dapat menjangkau masyarakat.
3. Izin lingkungan yang telah diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota wajib diumumkan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak
izin lingkungan diterbitkan.
4. Dalam hal terjadi keberatan terhadap izin lingkungan yang
telah diterbitkan, masyarakat dapat mengajukan gugatan
terhadap keputusan izin lingkungan tersebut.
5. Tata cara pengajuan gugatan terhadap keputusan izin lingkungan
sebagaimana dimaksud pada angka 4 mengacu pada Hukum Acara
Peradilan Tata Usaha Negara.
Sumber Permen LH No. 17 Tahun 2012.
IZIN LINGKUNGAN: ‘Jantung’ Sistem Perizinan di Indonesia

• izin yang diberikan kepada setiap orang yang


melakukan Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib
Amdal atau UKL-UPL

• dalam rangka perlindungan dan pegelolaan


hidup

• sebagai persyaratan memperoleh izin Usaha


dan/atau Kegiatan

IZIN LINGKUNGAN merupakan ‘Jantung-nya’ Sistem Perizinan di Indonesia. Sesuai


dengan ketentuan PUU PSDA dan LH, Izin lingkungan merupakan persyaratan bagi
diperolehnya izin PPLH dan Izin Usaha dan/atau Kegiatan. Secara legal, izin PPLH dan
Izin usaha tidak dapat diterbitkan tanpa adanya izin Lingkungan.
Proses Penyusunan dan Penilaian Amdal serta Penerbitan SKKL & Izin Lingkungan
Pemrakarsa Sekretariat KPA, Tim Teknis dan Komisi Menteri, gubernur, atau
Penilai Amdal bupati/walikota
1
Pengumuman Jasa Penilaian Amdal dibebankan Biaya Adm Penerbitan SKKL dan
SPT dari kepada Pemrakarsa – sesuai SBU/PNBP Izin Lingkungan dibebankan
dan Pengumuman kepada Pemrakarsa sesuai PNBP
Konsultasi = 10 hari
Publik Kerja
Penilaian Kerangka Acuan Paling lambat 5 hari
30 hari kerja kerja setelah diterbitkan
3 4 5 6
2
Pengajuan Penilaian Penerbitan Pengumuman Izin
Penyusunan Penilaian 15
Penilaian KA oleh Persetujuan Lingkungan
Kerangka KA oleh
Kerangka Sekretariat KA oleh Ketua
Acuan (KA) Tim Teknis
Acuan KPA KPA 14a
Penerbitan:
1. Keputusan
Biaya Penyusunan 7 Kelayakan
Penyusunan
Amdal oleh
ANDAL dan Lingkungan; dan
Pemrakarsa RKL-RPL 2. izin Lingkungan
Penilaian ANDAL dan RKL-RPL
Pengajuan Permohonan Izin 8 75 hari kerja, termasuk 10 hari kerja SPT Layak 10 hari
Lingkungan dan Penilaian ANDAL Pengumuman Lingkungan kerja
9 11 12
dan RKL-RPL Penilaian Penilaian Penilaian
ANDAL & 14b
Satu surat ANDAL & ANDAL & Keputusan
RKL-RPL RKL oleh RKL-RPL Ketidaklayakan LH
permohonan
Sekretariat Tim Teknis oleh KPA
KPA
Tidak Layak
Catatan: Waktu penilaian tidak Lingkungan
termasuk waktu perbaikan Pengumuman Permohonan Rekomendasi
10
dokumen oleh pemrakarsa Izin Lingkungan KPA 13
10 Kriteria Kelayakan Lingkungan (1)
1. Rencana tata ruang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
2. Kebijakan di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta
sumber daya alam (PPLH & PSDA) yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan;
3. Kepentingan pertahanan keamanan;
4. Prakiraan secara cermat mengenai besaran dan sifat penting dampak
dari aspek biogeofisik kimia, sosial, ekonomi, budaya, tata ruang, dan
kesehatan masyarakat pada tahap prakonstruksi, konstruksi, operasi, dan
pasca operasi Usaha dan/atau Kegiatan;
5. Hasil evaluasi secara holistik terhadap seluruh dampak penting sebagai
sebuah kesatuan yang saling terkait dan saling mempengaruhi sehingga
diketahui perimbangan dampak penting yang bersifat positif dengan yang
bersifat negatif;
6. Kemampuan pemrakarsa dan/atau pihak terkait yang bertanggung
jawab dalam menanggulanggi dampak penting negatif yang akan
ditimbulkan dari Usaha dan/atau Kegiatan yang direncanakan dengan
pendekatan teknologi, sosial, dan kelembagaan;
10 Kriteria Kelayakan Lingkungan (2)
7. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak menganggu nilai-nilai
sosial atau pandangan masyarakat (emic view);
8. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak akan mempengaruhi
dan/atau mengganggu entitas ekologis yang merupakan:
• entitas dan/atau spesies kunci (key species);
• memiliki nilai penting secara ekologis (ecological importance);
• memiliki nilai penting secara ekonomi (economic importance);
dan/atau
• memiliki nilai penting secara ilmiah (scientific importance).
9. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak menimbulkan gangguan
terhadap usaha dan/atau kegiatan yang telah ada di sekitar
rencana lokasi usaha dan/atau kegiatan;
10. Tidak dilampauinya daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup dari lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan, dalam hal
terdapat perhitungan daya dukung dan daya tampung lingkungan
dimaksud; dan
Proses Penyusunan dan Pemeriksaan UKL-UPL serta Penerbitan SKKL & Izin Lingkungan

Pemrakarsa Menteri, gubernur, atau bupati/walikota

Pemeriksaan UKL-
Penyusunan Permohonan Izin Lingkungan UPL dan

UKL-UPL dan Pemeriksaan UKL/UPL Penerbitan


Rekomendasi
UKL-UPL dapat
Biaya Pemeriksaan Administrasi dilakukan oleh:
Penyusunan a. Pejabat yang
UKL-UPL oleh
Pemrakarsa ditunjuk oleh
Pengumuman Permohonan Izin Menteri;
Lingkungan b. Kepala Instansi
LH Provinsi;
Pemrakarsa atau
Pemeriksaan Substansi UKL/UPL c. Kepala Instansi
Catatan: Jangka waktu LH Kab/Kota.
Pemeriksaan Teknis UKL- Jasa40
Pasal Pemeriksaan
PP 27/2012
UPL: 14 Hari Kerja, Penerbitan Rekomendasi UKL-UPL dibebankan
kepada Pemrakarsa
termasuk pengumuman Persetujuan UKL-UPL & – sesuai SBU/PNBP
permohonan izin lingkungan Izin Lingkungan Biaya Adm Penerbitan
DAN Rekomendasi UKL-UPL dan
tidak termasuk perbaikan/ Izin Lingkungan dibebankan
penyempurnaan Pengumuman Izin Lingkungan kepada Pemrakarsa (PNBP)
Kriteria Persetujuan /Penolakan UKL-UPL terhadap Rencana
Usaha dan/atau Kegiatan Wajib UKL-UPL
1. Rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan Rencana tata ruang yang sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan;

2. Rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan Kebijakan di bidang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup serta sumber daya alam (PPLH & PSDA) yang diatur dalam peraturan perundang-
undangan;

3. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak menganggu Kepentingan pertahanan keamanan;

4. Kemampuan pemrakarsa dan/atau pihak terkait yang bertanggung jawab dalam menanggulanggi
dampak penting negatif yang akan ditimbulkan dari Usaha dan/atau Kegiatan yang direncanakan

5. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak menganggu nilai-nilai sosial atau pandangan masyarakat
(emic view);

6. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak akan mempengaruhi dan/atau mengganggu entitas
ekologis yang merupakan: (a) entitas dan/atau spesies kunci (key species); (b) memiliki nilai penting
secara ekologis (ecological importance); (c) memiliki nilai penting secara ekonomi (economic
importance); dan/atau (d) memiliki nilai penting secara ilmiah (scientific importance).

7. Rencana usaha dan/atau kegiatan tidak menimbulkan gangguan terhadap usaha dan/atau kegiatan
yang telah ada di sekitar rencana lokasi usaha dan/atau kegiatan;

8. Tidak dilampauinya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dari lokasi rencana usaha
dan/atau kegiatan, dalam hal terdapat perhitungan daya dukung dan daya tampung lingkungan
dimaksud; dan

Sumber: Pasal 27 ayat (1) Draft Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan
Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
Audit Lingkungan Hidup
Audit lingkungan hidup adalah evaluasi yang dilakukan untuk menilai
ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap persyaratan
hukum dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah
(Pasal 1, angka 28 UU 32/2009)

PENANGGUNG JAWAB USAHA dan/atau KEGIATAN

Tingkat
Ketaatan Persyaratan
Hukum dan
Kebijakan yang
ditetapkan
Pemerintah
Jenis Audit Lingkungan Hidup
Sukarela 1 Audit LH 2 Wajib
Seluruh Jenis a1. Berkala bagi kegiatan
Usaha dan/atau berisiko tinggi 
Kegiatan seperti: Petrokimia,
Kilang MIGAS, PLTN
[Daftar Jenis Usaha/Keg.
Alat pemantauan beresiko tinggi – Lamp. 1] &
dan pengelolaan usulan dari Komisi dan Usulan
lingkungan hidup dari K/L
yang bersifat
internal b1. Kegiatan yang
menunjukkan
ketidaktaatan terhadap
PUU, dgn kriteria:
• Dugaan pelanggaran PUU Bidang PPLH;
• pelanggaran tersebut telah terjadi paling
sedikit 3 (tiga) kali dan berpotensi tetap
terjadi lagi di masa datang; dan
• belum diketahui sumber dan/atau
penyebab ketidaktaatannya.
Sumber: Rancangan Peraturan MENLH tentang Audit Lingkungan
Pelaksanaan Audit Lingkungan
Auditor LH 1 Informasi yg meliputi
1.
tujuan dan proses
pelaksanaan audit
2 Temuan audit
2.
3
3. Kesimpulan audit
Audit LH 4. Data dan informasi
5
pendukung

Dokumen Audit LH
Kriteria kompetensi mencakup kemampuan:
Sertifikat Kompetensi • Memahami prinsip, metodologi dan tata
Auditor Lingkungan laksana audit Lingkungan Hidup
Hidup • Melakukan audit LH yang meliputi: tahapan
perencanaan, pelaksanaan, pengambilan
kesimpulan dan pelaporan;
• Merumuskan rekomendasi langkah perbaikan
LSK sebagai tindak lanjut audit lingkungan
Auditor LH Sumber: Penjelasan pasal 49 dan Pasal 50-51 UU 32/2009
Keputusan/Peraturan MENLH Terkait
Audit Lingkungan
11. Keputusan MENLH No. 42 Tahun
1994 tentang Pedoman Umum
Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup
Peraturan
22. Keputusan MENLH No. 30 Tahun MENLH No. 03
2001 tentang Pedoman Pelaksanaan
Tahun 2013
Audit Lingkungan Hidup yang
Diwajibkan tentang Audit
Lingkungan
31. Peraturan
MENLH No. Hidup
17 Tahun 2010
tentang Audit
Lingkungan
Perubahan Usaha dan/atau Kegiatan dan
Perubahan Izin LIngkungan
Dalam hal usaha dan/atau kegiatan
Pasal 40 ayat (3) mengalami perubahan, Penanggung
1
UU No. 32 Tahun 2009
tentang PPLH
Jawab Usaha dan/atau Kegiatan
wajib Memperbarui Izin Lingkungan
1
Ketentuan Pasal 40 ayat (3) UU PPLH diterjemahkan dalam pasal 50 dan Pasal
51 PP Izin Lingkungan dan akan dijabarkan secara rinci dalam Peraturan
MENLH tentang Pedoman Perubahan Izin Lingkungan

2 Peraturan MENLH
Tentang Pedoman
Pasal 50 dan 51 3 Perubahan Izin
PP No. 27 Tahun 2012 Lingkungan
tentang Izin Lingkungan
1. jenis-jenis perubahan;
1. Lima jenis perubahan usaha 2. kriteria perubahan dan
dan/atau kegiatan secara umum; jenis dokumen LH
2. Mekanisme perubahan Izin 3. Muatan dokumen LH
Lingkungan secara umum 4. Tata cara
Perubahan Izin Lingkungan untuk Usaha dan/Kegiatan Wajib Amdal

Penerbitan Perubahan Izin Lingkungan

Laporan Perubahan SKKL


Perubahan

Perubahan Perubahan yang Adendum


Pengelolaan & Berpengaruh Amdal
Andal &
Perubahan Pemantauan terhadap LH Baru RKL-RPL
Kepemilikan Lingkungan (9 Kriteria)

1 2 3
Perubahan Dampak/ Resiko
4 LH (ERA/Audit LH]
Perubahan Usaha
5
dan/atau Kegiatan Rencana Usaha/Kegiatan tidak
dilaksanakan setelah 3 Tahun Izin
Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib
Lingkungan diterbitkan
mengajukan permohonan perubahan izin lingkungan,
apabila usaha dan/atau kegiatan yang telah
memperoleh izin lingkungan direncanakan untuk Sumber: Pasal 50-51 PP No. 27 Tahun 2012
dilakukan perubahan
Perubahan Berpengaruh terhadap Lingkungan Hidup
Usaha dan/Kegiatan Wajib Amdal
Kata kunci “ BERPENGARUH”  Hanya
rencana perubahan usaha dan/atau kegiatan
Perubahan Usaha dan/atau Kegiatan yang BERPENGARUH terhadap lingkungan
yang wajib mengajukan perubahan izin
1. Alat-alat Produksi lingkungan.
2. Kapasitas Produksi
3. Spesifikasi teknik Kriteria
4. Sarana Usaha dan/atau Perubahan
kegiatan
yang lebih
5. Perluasan Lahan dan
detail
Bangunan
6. Waktu dan Durasi Operasi
7. Usaha dan/atau Kegiatan
dalam Kawasan yang belum
a b
Adendum
8.
dilingkup
Perubahan Kebijakan
AMDAL Andal &
Pemerintah BARU RKL-RPL
9. Perubahan LH yang
mendasar akibat peristiwa Sumber: Pasal 50 ayat (2) huruf (c), ayat (4) dan
alam atau akibat lain ayat (8) PP No. 27 Tahun 2012
Perubahan Kepemilikan Usaha dan/atau Kegiatan

Pemilik/ Pemilik/
Penanggung Jawab Penanggung Jawab
Usaha dan/atau Usaha dan/atau
Kegiatan Kegiatan

“A” Usaha dan/atau


Kegiatan “B”

Menteri, Permohonan
Gubernur, atau Perubahan
Bupati/Walikota Izin
sesuai kewenangannya Lingkungan
menerbitkan
Perubahan Izin Lingkungan
dari Pemegang izin “A” ke “B”
[Tanpa Mekanisme Amdal/UKL-UPL]

Sumber: Pasal 50 ayat (2) huruf (a) dan Pasal (51)


Perubahan Izin Lingkungan Proyek Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS)
Kereta Api Ekspres Bandara (SHIA Rail Link)
1. Pemrakarsa rencana usaha
dan/atau kegiatan SHIA
Rail Link adalah
Kementerian Perhubungan
 Amdal dan Izin
Lingkungan a.n.
Kemenhub;
2. Implementasi SHIA Rail
Link oleh Unit Management
Badan Usaha 
Perubahan Izin Lingkungan
Pasal 50 ayat (1), ayat (2)
huruf a dan Pasal 51 ayat
(1) PP 27/2012

Kementerian Unit Management


Perhubungan Badan Usaha

Perubahan Izin Lingkungan karena


terjadi perubahan kepemilikan
Perubahan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup

Usaha dan/atau
Kegiatan
Laporan MENTERI
Perubahan
yang akan GUBERNUR
direncanakan Bupati/Walikota
Perubahan Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan Hidup

Perubahan bentuk Berpengaruh


pengelolaan dan terhadap
pemantauan yang Lingkungan Evaluasi/
berpotensi menimbulkan [sesuai mekanisme Telaahan
dampak lingkungan baru Pasal 50 ayat (2)
huruf (c) ] Perubahan bentuk
pengelolaan dan
pemantauan yang
bertujuan perbaikan
(continual improvement)
Penerbitan Perubahan Izin Lingkungan dan tidak
menimbulkan dampak
lingkungan baru.
Contoh Perubahan Pengelolaan dan Pemantauan LH
Berpengaruh
terhadap
Lingkungan
[sesuai
mekanisme Pasal
Rumah 50 ayat (2) huruf
Rumah (c) ]
Sakit Limbah Limbah
Medis Dikirim ke Sakit Medis Insenerator
Izin
tempat lain PPLH

Laporan Rencana
Perubahan dalam
Laporan
Pelaksanaan Izin
Rumah Lingkungan

Sakit Air Rumah Air


Limbah
IPAL Sakit Limbah Modifikasi
IPAL
Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan – Kawasan Industri
Pasal 8 PP 27 Tahun 2012:
Setiap Perusahan Industri dalam Dalam menyusun
Kawasan Industri wajib memiliki dokumen Amdal,
Pemrakarsa wajib
UKL-UPL menggunakan pendekatan
studi:
a. Tunggal,
b. Terpadu,
c. Kawasan
Termasuk Kawasan Industri

• Pasal 13 ayat (1) huruf a PP No.


27/2012: Kawasan Industri yang
telah memiliki Amdal Usaha
dan/atau kegiatan (Perusahan
Industri) yang berdampak

Kawasan Industri
Penting terhadap LH
dikecualikan dari kewajiban
menyusun Amda;
• Pasal 13 ayat (1) PP No. 27/2012:
Kawasan Industri wajib memiliki usaha dan/atau kegiatan tersebut
wajib menyusun UKL-UPL
Amdal Kawasan berdasarkan dokumen RKL-RPL
Kawasan Industri
Contoh Perubahan Usaha dan/atau Kegiatan di Kawasan Industri

Setiap Perusahan Industri dalam Jenis Usaha dan/atau


Kegiatan (Perusahan
Kawasan Industri wajib memiliki Industri) Baru yang
UKL-UPL belum dilingkup dalam
AMDAL Kawasan
Industri

Perubahan Keputusan
Kelayakan LH Kawasan
Industri:
1. Amdal Baru atau
2. Adendum Andal &
RKL-RPL
Untuk Kawasan Industri

Kawasan Industri
Perusahan Industri
wajib menyusun UKL-
Kawasan Industri wajib memiliki UPL berdasarkan RKL-
Amdal Kawasan RPL Kawasan Industri
Perubahan Usaha Perkebunan & Izin
Lingkungan serta Perubahan IUP
Perusahaan Perkebunan yang Perusahaan Perkebunan yang
memiliki IUP-B atau IUP memiliki IUP-P atau IUP

• Perubahan luas lahan


melalui perluasan atau Penambahan kapasitas
pengurangan; industri pengolahan hasil
• Perubahan jenis tanaman
perkebunan
• Diversifikasi usaha

Perubahan Izin Perubahan Izin


Lingkungan Lingkungan
Persetujuan dari
Persetujuan dari Gubernur
Gubernur atau
atau Bupati/Walikota
Bupati/Walikota
Sumber: Pasal 32-35 Peraturan Menteri Pertanian No. 98/2013 dan Pasal 50 PP 27/2012
Perubahan Dampak Dan/Atau Risiko Lingkungan Hidup Berdasarkan
Hasil Kajian Analisis Risiko Lingkungan Hidup (ARLH) Dan/Atau Audit
Lingkungan Hidup Yang Diwajibkan

Ketentuan tentang ARLH masih berupa ketentuan


yang tercantum dalam UU 32/2009. PP tentang
ARLH belum diterbitkan (masih dalam draft RPP
ARLH)

MENLH telah Menerbitkan Peraturan MENLH No.


03 Tahun 2013 tentang Audit Lingkungan Hidup
Perubahan Dampak dan/atau Risiko LH

Audit
Lingkungan Perubahan
Hidup Dampak
dan/atau
Risiko
Analisi Risiko Lingkungan
Lingkungan Hidup
Hidup Usaha dan/atau
Kegiatan

a b c
Adendum UKL-UPL
AMDAL Andal &
BARU RKL-RPL BARU
Tidak Dilaksanakannya Rencana Usaha Dan/Atau
Kegiatan Dalam Jangka Waktu 3 (Tiga) Tahun Sejak
Diterbitkannya Izin Lingkungan

Jenis perubahan yang dimaksud dalam kategori ini


adalah tidak adanya pelaksanaan usaha dan/atau
kegiatan sesuai dengan deskripsi kegiatan yang
tercantum dalam:
1. dokumen lingkungan hidup yang telah dinilai
atau diperiksa,
2. keputusan kelayakan lingkungan
hidup/rekomendasi persetujuan UKL-UPL dan
izin lingkungannya yang telah diterbitkan,
dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun setelah izin
lingkungan diterbitkan
Kriteria Perubahan Usaha dan/Atau Kegiatan dan Jenis Dokumen LH
yang Wajib Disusun untuk Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Amdal
No Kriteria Perubahan AMDAL BARU ANDENDUM ANDAL dan RKL-RPL
1. Skala/Besaran skala besaran rencana skala besaran rencana
Rencana perubahan usaha dan/atau perubahan usaha dan/atau
Perubahan Usaha kegiatan tersebut sama kegiatan tersebut lebih kecil
dan/atau Kegiatan dengan atau lebih besar dari dari skala besaran jenis
skala besaran jenis rencana rencana usaha dan/atau
usaha dan/atau kegiatan yang kegiatan yang wajib memiliki
wajib memiliki Amdal seperti Amdal seperti tercantum
tercantum dalam Lampiran 1 dalam Lampiran 1 Peraturan
Peraturan Menteri Negara Menteri Negara Lingkungan
LingkunganHidup Nomor 05 Hidup Nomor 05 Tahun 2012
Tahun 2012

2. Dampak penting Rencana perubahan akan Tidak terdapat dampak


yang ditimbulkan berpotensi menimbulkan penting baru atau dampak
akibat rencana dampak penting baru penting yang timbul akibat
perubahan usaha perubahan tersebut sudah
dan/atau kegiatan dikaji dalam Amdal
sebelumnya
3. Batas wilayah Rencana perubahan akan Rencana perubahan dimaksud
studi Amdal berpotensi mengubah batas tidak mengubah batas
Penting untuk Diperhatikan!!!
SKKL Proses yang Benar
Penyusunan Penilaian
Amdal Amdal Izin
Lingkungan Izin lingkungan wajib
diterbitkan bersamaan
Rekomendasi dengan SKKL atau
Penyusunan Pemeriksaan UKL_UPL Rekomendasi UKL-UPL
UKL-UPL UKL-UPL Izin sejak PP 27/2013
Lingkungan diberlakukan (23 Feb
2012)

Penyusunan Penilaian Proses yang SALAH


Amdal Amdal SKKL Izin lingkungan TIDAK
DITERBITKAN,
walaupun SKKL atau
Penyusunan Pemeriksaan Rekomendasi Rekomendasi UKL-UPL
UKL-UPL UKL-UPL UKL-UPL sudah diterbitkan
Potensi Pelanggaran
1. Tidak ada alasan untuk tidak menerbitkan Izin Lingkungan setelah Pasal 109 dan 111 ayat
berlakunya PP 27/2012.
2. PP 27/2012 telah menjelaskan proses penerbitan izin lingkungan (2)
yang diintegrasikan dengan proses Amdal atau UKL-UPL. UU 32/2009
Alasan Izin Lingkungan Tidak Diterbitkan:
• Sedang dalam proses pelimpahan kewenangan terkait dengan tata naskah
dinas administrasi pemerintahan
• Yang bersangkutan masih menyiapkan peraturan teknisnya;
• Belum dapat mengeluarkan surat izin lingkungan, karena Raperda sedang
dalam proses pembahasan di DPRD
• Belum menerapkan izin lingkungan karena peraturan bupati mengenai hal
tersebut sedang dalam proses, sehingga untuk rekomendasi UKl-UPL
yang telah diterbitkan dapat digunakan/dipersamakan dengan izin
lingkungan sampai diterbitkannya peraturan bupati.
• Perusahaan yang berlokasi di Kabupaten X yang menunjukan adanya
Peraturan Bupati X tanggal 3 Februari 2014 menjelaskan bahwa: dokumen
lingkungan yang telah mendapat persetujuan sebelum berlakunya
Peraturan Bupati ini dinyatakan berlaku dan dipersamakan dengan Izin
Lingkungan.
• Pada beberapa instansi lingkungan sudah siap untuk mengeluarkan izin
lingkungan, namun ada izin lingkungan yang diterbitkan oleh Kepala
Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu, Pelayanan Terpadu Satu
Pintu (PTSP) yang bertentangan dengan UU No.32/2009 dan PP 27/2012
• Sumber :Surat Dari Direktur Pelayanan Izin Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Nomor:
31/B.2/A.8/2014, tanggal 19 Maret 2014, perihal Permohonan Penjelasan tentang Izin Lingkungan
Muatan Izin Lingkungan
Izin lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit memuat:
1. persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam keputusan
kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL;
2. persyaratan dan kewajiban yang ditetapkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota; dan
3. Berakhirnya izin lingkungan.
Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pemrakarsa wajib memiliki izin PPLH, izin lingkungan tersebut
mencantumkan jumlah dan jenis izin PPLH.

Izin lingkungan hidup berakhir bersamaan dengan berakhirnya


izin usaha dan/atau kegiatan maksudnya adalah:
Izin Lingkungan berlaku selama usaha dan/atau kegiatan
tetap berlangsung sepanjang tidak ada perubahan dan tidak
dicabut
Sumber: ; 48 PP 27/2012 Izin Lingkungan
Pasal Pasal 48 PP 27 Tahun 2012
Ketentuan Penutup

Dokumen lingkungan yang


telah mendapat persetujuan
sebelum berlakunya PP ini
(Tanggal 23 Februari 2012),
dinyatakan tetap berlaku dan
dipersamakan sebagai izin
lingkungan
Sumber: Pasal 73 PP 27/2012 Izin Lingkungan
2
PUU sektor terkait AMDAL, UKL-UPL dan Izin
Lingkungan
Pemenuhan Standar Pelayanan Publik & Pelaksanaan Good
Governance dalam Proses Amdal, UKL-UPL & Izin Lingkungan
Pelayanan Publik (UU Standar Pelayanan Publik
25/2009 & PP96/2012): Standar pelayanan publik menurut
Kegiatan atau rangkaian
kegiatan dalam rangka UU 25/2009 & PP 96/2012
kebutuhan pelayanan sesuai
dengan PUU bagi setiap
warganegara atau penduduk 1. Dasar hukum:
atas: Barang; Jasa; dan/atau 2. Peryaratan:
Pelayanan administratif 3. Sistem, Mekanisme dan Prosedur:
Yang disediakan oleh 4. Jangka waktu:
penyelenggara pelayanan 5. Biaya/tarif:
publik 6. Produk/Hasil pelayanan:
7. Sarana, prasarana dan fasilitas:
8. Kompetensi pelaksana:
9. Pengawasan Internal
1. Proses Amdal UKL-UPL 10. Penanganan Pengaduan, Saran dan Masukan
dan Izin Lingkungan , & 11. Jumlah Pelaksana
2. Penerapannya sesuai 12. Jaminan Pelayanan
dengan Prinsip-Prinsip 13. Jaminan Keselamatan dan Keamanan Pelayanan
Good Governance 14. Evaluasi Kinerja Pelaksana
Standar Pelayanan Publik Terkait dengan Izin Lingkungan
No Standar Pelayanan Penjelasan Pasal 21 Konteks Pelayanan Publik terkait
Publik (Pasal 21 UU No. 25/2009 & dengan Proses Penilaian Amdal,
UU 25/2009 & Pasal Peraturan MENPAN & Pemeriksaan UKL-UPL dan Penerbitan
25 PP 96/2012) RB No. 25/2012 Izin Lingkungan
a. Dasar hukum PUU yang menjadi dasar 1. UU No. 32/2009 tentang PPLH
penyelenggaraan pelayanan 2. PP No. 27/2012 Izin Lingkungan;
3. Peraturan MENLH terkait dengan Amdal, UKL-
UPL & Izin Lingkungan

b. Persyaratan Syarat yang harus dipenuhi Persyaratan (Pasal 43 PP 27/2012):


(adminitratif maupun teknis) 1. Dokumen Amdal atau UKL-UPL;
2. Dokumen Pendirian Usaha dan/atau kegiatan;
3. Profil Usaha dan/atau kegiatan

c. Sistem, Mekanisme dan Tata cara pelayanan yang Sesuai dengan PP 27/2012 dan Peraturan MENLH
Prosedur dibakukan terkait penatalaksanaan Amdal, UKL-UPL dan Izin
Lingkungan

d. Jangka waktu Jangka waktu yang diperlukan 1. AMDAL: 30 hari KA, 75 hari Andal & RKL-RPL, 10
penyelesaian untuk menyelesaikan seluruh hari SKKL & Izin Lingkungan:
proses pelayanan dari setiap 2. UKL-UPL= 14 Hari;
jenis pelayanan
e. Biaya /Tarif Ongkos yang dikenakan sesuai PNPB & SBU (Pasal 68 dan 69 PP 27/2012) &
Peraturan MENLH terkait penatalaksanaan Amdal,
UKL-UPL dan Izin Lingkungan
Standar Pelayanan Publik Terkait dengan Izin Lingkungan - Lanjutan
No Standar Pelayanan Penjelasan Pasal 21 Konteks Pelayanan Publik terkait
Publik (Pasal 21 UU UU No. 25/2009 & dengan Proses Penilaian Amdal,
25/2009 & Pasal 25 Peraturan MENPAN & Pemeriksaan UKL-UPL dan
PP 96/2012) RB No. 25/2012 Penerbitan Izin Lingkungan
f. Produk Pelayanan Hasil pelayanan yang diberikan 1. Usaha dan/atau kegiatan wajib Amdal: SKKL
dan diterima sesuai dengan dan Izin Lingkungan sesuai dengan PUU;
ketentuan yang telah ditetapkan 2. Usaha dan/atau kegiatan wajib UKL-UPL:
Rekomendasi Persetujuan UKL-UPL dan Izin
Lingkungan sesuai dengan PUU
g. Sarana, Prasana dan Peralatan dan fasilitas yang 1. Penilaian Amdal & Penerbitan Izin
Fasilitas diperlukan Lingkungan: diatur dalam Peraturan MENLH
No. 15 Tahun 2010 terkait dengan Lisensi KPA
i.e. Kelembagaan, UPT, sekretariat, ruang
rapat, Lab, Sistem informasi, dll
2. Penilaian UKL-UPL & Penerbitan Izin
Lingkungan: Instansi LH beserta SKPD tterkait,
UPT, Ruang Rapat, Sistem Informasi
h. Kompetensi Pelaksana Kemampuan yang dimiliki oleh 1. Penilaian Amdal & Penerbitan Izin
pelaksanaan: pengetahuan, Lingkungan: diatur dalam Peraturan MENLH
keahlian, ketrampilan dan No. 15 Tahun 2010 terkait dengan Lisensi KPA
pengalaman terkait dengan persyaratan ketua KPA, Tim
Teknis dan Tenaga Ahli;
2. Penilaian UKL-UPL & Penerbitan Izin
Lingkungan: terkait dengan kompetensi
personil penatalaksanaan pemeriksa an UKL-
UPL
Standar Pelayanan Publik Terkait dengan Izin Lingkungan - Lanjutan
No Standar Pelayanan Penjelasan Pasal 21 Konteks Pelayanan Publik terkait
Publik (Pasal 21 UU UU No. 25/2009 & dengan Proses Penilaian Amdal,
25/2009 & Pasal 25 Peraturan MENPAN & Pemeriksaan UKL-UPL dan
PP 96/2012) RB No. 25/2012 Penerbitan Izin Lingkungan
i. Pengawasan Internal Pengendalian yang dilakukan Dilakukan oleh Ketua KPA, Ketua Tim Teknis dan
oleh Pimpinan kerja atau atasan Kepala Sekretariat serta Deputi MENLH atau
langsung Kepala Instansi LH

j. Penanganan Pengaduan, Tata cara pelaksanaan Sesuai dengan Peraturan MENLH terkait dengan
Saran dan Masukan penanangan pengaduan dan Pembinaan dan Evaluasi Kinerja Penatalaksanaan
tindak lanjut Amdal, UKL-UPL dan Izin Lingkungan (Peraturan
MENLH No.25/2009)

k. Jumlah Pelaksana Tersedianya pelaksana sesuai


dengan beban kerja

l. Jaminan Pelayanan Memberikan kepastian Pengembangan Sistem informasi


pelayanan dilaksanakan sesuai
dengan standar pelayanan

m. Jaminan Keselamatan dan Kepastian memberikan rasa


Keamanan Pelayanan aman dan bebas dari bahaya,
risiko dan keraguan

n. Evaluasi Kinerja Pelaksana Penilaian untuk mengeathui Sesuai dengan Pasal 66 PP 27/2012 dan Peraturan
seberapa jauh pelaksanaan MENLH terkait dengan Pembinaan dan Evaluasi
kegiatan sesuai dengan standar Kinerja Penatalaksanaan Amdal, UKL-UPL dan
pelayanan Izin Lingkungan (Peraturan MENLH No.25/2009)
Pasal 3, Penjelasan Pasal 3 huruf (c) dan Pasal 4 Huruf (i) beserta
penjelasannya ,Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
PelayananPublik
Pasal 3

Tujuan Undang-Undang tentang Pelayanan Publik adalah:


a. terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung
jawab, kewajiban, dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan
penyelenggaraan pelayanan publik;
b. terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak
sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik;
c. terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan
peraturan perundang-undangan; dan
d. terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat
dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Penjelasan Pasal 3 huruf (a)


Huruf a Pemberian pelayanan publik tidak boleh menyimpang dari peraturan perundang-
undangan
lanjutan
Pasal 4
Penyelenggaraan pelayanan publik berasaskan: a.
kepentingan umum; b. kepastian hukum; c. kesamaan
hak; d. keseimbangan hak dan kewajiban; e.
keprofesionalan; f. partisipatif; g. persamaan
perlakuan/tidak diskriminatif; h. keterbukaan; i.
akuntabilitas; j. fasilitas dan perlakuan khusus bagi
kelompok rentan; k. ketepatan waktu; dan l. kecepatan,
kemudahan, dan keterjangkauan.

Penjelasan Pasal 4 huruf i


Proses penyelenggaraan pelayanan harus dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Pasal 16 huruf (c) PP 96 Tahun 2012

• Penjelasan Pasal 16 huruf (c) Peraturan Pemerintah


Nomor 96 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik menyatakan bahwa:

Pendelegasian wewenang atau pelimpahan


wewenang dari bupati/walikota kepada pimpinan
Satuan Kerja Penyelenggara sistem pelayanan
terpadu di kabupaten/ kota di dalamnya termasuk
satuan kerja yang berada di kecamatan.
analisis aspek hukum
• Dalam Pasal 3 huruf (a) menyebutkan bahwa Tujuan
Undang-Undang tentang Pelayanan Publik adalah
terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang
hak, tanggung jawab, kewajiban dan kewenangan
seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan
pelayanan publik. Penjelasan terhadap ketentuan ini
mengatakan bahwa pemberian pelayanan publik tidak
boleh menyimpang dari peraturan perundang-
undangan. Terkait dengan izin lingkungan, maka
pelayanan publik izin lingkungan tidak boleh
bertentangan dengan UU No. 32 Tahun 2009 tentang
PPLH dan PP 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
serta Peraturan Pelaksanaannya (Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2013 tentang Tata
Laksana Penilaian dan Pemeriksaan Dokumen
Lingkungan Hidup dan Izin Lingkungan);
analisis aspek hukum
• Pasal 4 huruf (i) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009,
menyebutkan bahwa penyelenggaraan pelayanan
berasaskan akuntabilitas. Penjelasan ketentuan ini
menyebutkan proses penyelenggarakan harus dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan. Terkait dengan izin lingkungan,
maka pelayanan publik izin lingkungan tidak boleh
bertententang dengan UU No. 32 Tahun 2009 tentang
PPLH dan PP 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
serta Peraturan Pelaksanaannya (Peraturan MENLH
Nomor 08 Tahun 2013 tentang Tata Laksana Penilaian
dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup dan Izin
Lingkungan););
analisis aspek hukum
• Ketentuan Pasal 16 PP 96 Tahun 2012 pada pada dasarnya
mengatur tentang pendelegasian wewenang atau
pelimpahan kewenangan kepada satuan kerja
penyelenggara pelayanan publik. Ketentuan pasal 16 ini
juga menegaskan bahwa pendelegasian wewenang atau
pelimpahwan kewenangan berdasarkan ketentuan peraturan
perudang-undangan. Terkait dengan proses izin lingkungan
yang terintegrasi dengan proses AMDAL atau UKL-UPL,
pendelagasian wewenang atau pelimpahan kewenangan
proses izin lingkungan kepada satuan kerja penyelenggara
pelayanan publik tidak sesuai dengan ketentuan dalam UU 32
Tahun 2009 dan PP 27 Tahun 2012 serta Pasal 7 Peraturan
MENLH No. 8 Tahun 2013 yang menyatakan bahwa unit kerja
yang membidangi pelayanan publik dapat menjadi bagian
dari Sekretariat Komisi Penilai Amdal (KPA) yang melakukan
pemeriksaan administrasi terhadap permohonan penilaian
Amdal dan Izin Lingkungan.
analisis aspek hukum
• Berdasarkan uraian tersebut di atas maka,
Pendelegasian wewenang dan pelimpahan
kewenangan proses izin lingkungan kepada SKPD
(Satuan Kerja Pemerintah Daerah) Pelayanan
Terpadu tidak tepat dan perlu dikaji kembali
harmonisasinya dengan Undang -Undang No. 25
Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan PP No. 96
Tahun 2012 terkait dengan standar pelayanan
publik dengan UU 32 Tahun 2009 tentang PPLH dan
PP 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan serta
Peraturan Pelaksanaannya (Peraturan MENLH
terkait dengan Sistem Kajian Dampak Lingkungan
Peraturan Sektor
PP 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
Pasal 13
(1) Usaha dan/atau Kegiatan yang berdampak penting terhadap
lingkungan hidup d ikecualikan dari kewajiban menyusun Amdal
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 apabila:
a. lokasi rencana Usaha dan/atau Kegiatannya berada di kawasan
yang telah memiliki Amdal kawasan

PP 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri


Pasal 23
(1) Perusahaan Industri di dalam Kawasan industri wajib memiliki:
a. Upaya Pengelolaan Lingkungan; dan
b. Upaya Pemantauan Lingkungan.
(2) Perusahaan Industri di dalam Kawasan Industri yang mengelola atau
memanfaatkan limbah bahan berbahaya dan beracun wajib
menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan mendapat
pengesahan.
Amdal Kawasan Industri:
Perusahan Industri peleburan
Industri Petro timah hitam
PLTU kimia Hulu

Setiap
Perusahan
Industri yang
berada dalam
Kawasan
Industri wajib
memiliki
UKL-UPL
Studi Kasus Kawasan Industri

Kawasan Industri wajib memiliki


Amdal Kawasan
Kasus : Perubahan Usaha dan/atau Kegiatan di Kawasan Industri

Setiap Perusahan Industri dalam Jenis Usaha dan/atau


Kegiatan (Perusahan
Kawasan Industri wajib memiliki Industri) Baru yang
UKL-UPL belum dilingkup dalam
AMDAL Kawasan
Industri

Perubahan Keputusan
Kelayakan LH Kawasan
Industri:
1. Amdal Baru atau
2. Adendum Andal &
RKL-RPL
Untuk Kawasan Industri

Kawasan Industri
Perusahan Industri
wajib menyusun UKL-
Kawasan Industri wajib memiliki UPL berdasarkan RKL-
Amdal Kawasan RPL Kawasan Industri
AKIBAT DISHARMONISASI
1. Terjadi perbedaan penafsiran dalam
pelaksanaannya.
2. Timbulnya ketidak pastian hukum.
3. PERATUN tidak terlaksana secara efektif dan
efisien.
4. Disfungsi hukum, artinya hukum tidak dapat
berfungsi memberikan pedoman berperilaku
kepada masyarakat, pengendalian sosial,
penyelesaian sengketa, dan sebagai sarana
perubahan sosial secara tertib dan teratur.

Sumber : Diklat PerUU, KLH, Dep. Hukum dan HAM


BAGAIMANA MENGATASI DISHARMONI PERATUN
Ada 3 (tiga) cara mengatasi disharmoni PERATUN
1. Mengubah/mencabut pasal tertentu yang mengalami disharmoni atau seluruh
pasal PERATUN yang bersangkutan oleh lembaga/instansi yang berwenang
membentuknya.
2. Mengajukan permohonan uji materiil kepada lembaga yudikatif:
a. UU terhadap UUD 1945  Mahkamah Konstitusi
b. PERATUN dibawah UU terhadap UU  Mahkamah Agung
3. Menerapkan asas hukum /doktrin hukum:
a. Lex superior derogat legi inferiori (PERATUN yang lebih tinggi
mengesampingkan PERATUN yang lebih rendah);
b. Lex specialis derogat legi generalis (aturan hukum yang khusus akan
mengesampingkan aturan hukum yang umum)  dengan ketentuan:
1) aturan hukum umum tetap berlaku, kecuali yang diatur dalam aturan hukum
khusus tersebut;
2) ketentuan yang khusus harus sederajat dengan yang umum (UU dengan UU);
3) berada dalam lingkungan yang sama (KUHD & KUHPdt = KUHPdt)

Sumber : Diklat PerUU, KLH, Dep. Hukum dan HAM


BAGAIMANA MENGATASI DISHARMONI

PERATUN
c. Lex posterior derogat legi priori (aturan hukum yang lebih
baru mengesampingkan aturan hukum yang lama. Asas ini
mewajibkan menggunakan hukum yang baru  dengan
prinsip
1) Aturan hukum yang baru harus sederajat atau lebih tinggi
dari aturan hukum yang lama; dan
2) Aturan hukum baru dan lama mengatur aspek yang sama.
Asas ini antara lain dimaksudkan mencegah dualisme yang
dapat menimbulkan ketidak pastian hukum.
Dengan adanya asas ini, ketentuan yang mengatur
pencabutan suatu PERATUN sebenarnya tidak begitu penting.
Secara hukum, ketentuan lama yang serupa tidak akan
berlaku lagi pada saat aturan hukum baru mulai berlaku.

Sumber : Diklat PerUU, KLH, Dep. Hukum dan HAM


Amdal dan Izin Lingkungan serta Izin Usaha dan/atau Kegiatan
Diterbitkan oleh Diterbitkan oleh Dilakukan oleh Pengawasan
• Proses Penilaian Amdal oleh KPA;
MENLH, Gubernur, MENLH, MENLH, Lingkungan Hidup &
• Proses Pemeriksaan UKL-UPL
atau Gubernur, atau Gubernur, atau Penegakan Hukum
oleh Instansi LH
Bupati/Walikota Bupati/Walikota Bupati/ Walikota Lingkungan

Izin PPLH
Pemrakarsa • Pelaksanaan
Usaha dan/atau
Proses Izin Usaha Kegiatan
Rencana Usaha Pelaksanaan Izin
Izin dan/atau •
dan/atau Amdal atau Lingkungan Lingkungan & Izin
Kegiatan
UKL-UPL Kegiatan PPLH

Proses Penyusunan Amdal atau Diterbitkan oleh Menteri


UKL-UPL oleh Pemrakarsa terkait, Gubernur, atau
Bupati/Walikota Penaatan terhadap
BML & KBKL
• Secara legal, sesuai PUU PSDA dan PPLH izin usaha
dan/atau kegiatan tidak dapat diterbitkan tanpa adanya
izin lingkungan. Amdal atau UKL-UPL dan Izin
Lingkungan merupakan salah satu persyaratan Izin
Usaha dan/atau Kegiatan
• Izin Lingkungan merupakan hasil dari Proses Amdal atau Penurunan Beban
UKL-UPL (Sistem KDL) yang disusun oleh Pemrakarsa dan Pencemaran dan Laju
dinilai oleh KPA atau diperiksa oleh Instansi LH; Kerusakan LH
AMDAL & PERIZINAN

… Hasil studi Amdal sebagai


persyaratan dalam penerbitan
izin lokasi ………
Amdal, Izin Lingkungan dan IMB
• Persyaratan pengendalian dampak lingkungan menjadi salah satu persyaratan
tata bagunan sesuai dengan ketentuan pasal 16 PP 36/2005 tentang Peraturan
Pelaksanaan UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung..
• Setiap bangunan bangunan gedung yang menimbulkan dampak penting
harus didahului dengan menyertakan AMDAL (Pasal 26 PP 36/2005). terkait
dengan hal tersebut, Pasal 14 ayat (1) dan (2) serta Pasal 15, PP No. 36 Tahun
2005 secara tegas menyatakan bahwa setiap orang yang akan mendirikan
bangunan gedung wajib memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).
• IMB tersebut diterbitkan oleh pemerintah daerah kecuali untuk bangunan
gedung fungsi khusus oleh Pemerinatah.
• Salah satu persyaratan atau kelengkapan yang dibutuhkan untuk pengajuan
permohonan IMB gedung adalah AMDAL

RTRW/RDTR
keterkaitan Tahapan Kegiatan MIGAS & Perizinan
Lingkungan Secara Umum
Proses Amdal atau
Proses UKL-UPL UKL-UPL Izin
PPLH
Izin
b PPLH d
Izin Izin Lingkungan
Lingkungan

a
Kegiatan Produksi &
PSC Paska Operasi
Eksplorasi
c e

Pengawasan Laporan Pelaksanaan Izin Lingkungan


Lingkungan Hidup dan
Penegakan Hukum
Penaatan terhadap Izin Lingkungan
Izin Lingkungan dan Izin Usaha Tenaga Listrik
Izin Usaha untuk Penyedian Tenaga Listrik PP 14 Tahun 2012
UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
tentang Kegiatan
Usaha Penyedian
Tenaga Listrik
Pasal 13 ayat (1) dan ayat (7)

• Persyaratan administratif,
teknis, dan lingkungan.
• Persyaratan lingkungan
Izin usaha penyediaan tenaga listrik berlaku ketentuan PUU di
(Pasal 19 a) bidang PPLH.

Izin operasi Pasal 29 ayat (1) dan ayat (4) PP


(Pasal 19b) 14/2012:
• Persyaratan administratif,
Pasal 42: Setiap kegiatan usaha teknis, dan lingkungan.;
ketenagalistrikan wajib memenuhi ketentuan • Persyaratan lingkungan
yang disyaratkan dalam PUU di bidang berlaku ketentuan PUU di
lingkungan hidup. bidang PPLH
Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi
Persyaratan IUP Eksplorasi:
a. administratif; Clear & Clean
b. teknis; (C&C) + Green
c. lingkungan; dan
d. finansial. Pernyataan
Kegiatan IUP untuk
Eksplorasi mematuhi
IUP Eksplorasi terdiri atas: ketentuan
kondisi
geologi
Penyelidikan
a. mineral logam; PUU di
Umum
regional
& indikasi
b. batubara; bidang
adanya c. mineral bukan logam; PPLH.
mineralisasi dan/atau
d. batuan.
informasi secara Eksplorasi
terperinci dan
teliti Studi
Kelayakan
Kelayakan ekonomis dan teknis (FS)
usaha pertambangan, termasuk
kelayakan lingkungan serta Sumber: Pasal 1 UU No. 4 Tahun 2009 dan Pasal 22 Ayat (2), Pasal 23, Pasal
perencanaan pascatambang 26, Pasal 29 Ayat (2)PP No. 23/2010)
Izin Usaha Pertambangan (IUP)
Operasi Produksi
IUP Operasi Produksi adalah izin Persyaratan IUP Operasi
Produksi
usaha yang diberikan setelah Clear & Clean
a. administratif;
selesai pelaksanaan IUP (C&C) + Green
b. teknis;
Eksplorasi untuk melakukan c. lingkungan;
tahapan kegiatan operasi dan
d. finansial.
produksi
Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan 1. pernyataan kesanggupan
usaha untuk mematuhi ketentuan
pertambangan yang meliputi PUU di bidang PPLH; dan
• konstruksi, 2. persetujuan dokumen
• penambangan, lingkungan hidup sesuai
• pengolahan, pemurnian, termasuk
dengan ketentuan PUU
pengangkutan dan
• penjualan, serta
• sarana pengendalian dampak lingkungan (Pasal 26 PP No. 23/2010)
sesuai dengan hasil studi kelayakan.

Sumber: Pasal 1 UU No. 4 Tahun 2009


Pasal 25 UU No 18/2004 tentang
Perkebunan: Pelestarian Lingkungan
Hidup
1. Wajib memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup &
mencegah kerusakannya;
2. Sebelum memperoleh izin usaha perkebunan (a) wajib, membuat
AMDAL, (b) analisis dan manajemen risiko (hasil rekayasa Genetik), (c)
pernyataan kesanggupan untuk menyediakan sarana, prasarana,
dan system tanggap darurat untuk penanggulangan kebakaran
lahan
3. wajib menerapkan AMDAL dan melaksanakan UKL/UPL dan/atau
analisis dan manajemen risiko lingkungan hidup
4. Tidak ada AMDAL atau UKL-UPL, Permohonan Izin ditolak
5. tidak menerapkan AMDAL atau RKL/RPL, izin usahanya, dicabut
Izin Usaha Perikanan (IUP) Pembudidayaan Ikan
Pasal 26 UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan: Setiap orang yang melakukan
usaha perikanan (kecuali nelayan kecil dan/atau pembudidaya ikan kecil)
pembudidayaan dan pengolahan ikan wajib memiliki Surat Izin Usaha Perikanan
(SIUP)

Izin Usaha Perikanan (IUP) salah satu persyaratan


Pembudidayaan Ikan adalah AMDAL sesuai
dengan ketentuan PUU

Sumber: Pasal 2, Pasal 4 ayat (1), Pasal 5-Pasal 19 serta pasal 45 Keputusan Menteri KKP
No. 2/MEN/2004 tentang Perizinan Usaha Pembudidayaan Ikan
PP No 16/2004 tentang Penatagunaan Tanah

1. Pasal 8 dan Pasal 13: Penggunaan dan


pemanfaatan tanah sesuai Rencana Tata Ruang
Wilayah serta harus memelihara tanah dan
mencegah kerusakan tanah;
2. Pasal 14: Dalam penggunaan dan pemanfaatan
tanah, pemegang hak atas tanah wajib
mengikuti persyaratan yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan (seperti:
persyaratan AMDAL – penjelasan pasal 14)
PP 18 Tahun 2010: Usaha Budidaya Tanaman

Pasal 8 ayat (1): Penetapan luas maksimum lahan untuk


setiap jenis usaha budidaya tanaman didasarkan pada
ketersediaan, kesesuaian dan kemampuan lahan maupun
pelestarian fungsi lingkungan hidup khususnya
konservasi tanah

Pasal 11 ayat (1) huruf (j): Untuk mendapatkan izin


usaha.... pemohon harus memenuhi persyaratan......j. hasil
analisis mengenai dampak lingkungan atau upaya
pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan
lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang lingkungan hidup
Dokumen LH dan Izin Pinjam Pakai
Kawasan Hutan
Salah satu
persyaratan
teknis
permohonan izin Amdal atau UKL-UPL
pinjam pakai dan Izin Lingkungan
kawasan hutan

Izin Pinjam
Salah satu Pakai Kawasan
IUP Explorasi
persyaratan
administratif atau IUP
Hutan
permohonan izin
pinjam pakai Exploitasi Sumber: Pasal 13 dan 14 Peraturan
kawasan hutan MIGAS MENHUT No. 18 Tahun 2011 tentang
Pedoman Pinjam Pakai Kawasan
Hutan
Izin Reklamasi
1. Pasal 15: Pemerintah, pemerintah daerah, dan setiap orang yang akan
melaksanakan reklamasi wajib memiliki izin lokasi dan izin pelaksanaan
reklamasi;
2. Pasal 18: Permohonan izin pelaksanaan reklamasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 wajib dilengkapi dengan:
a. izin lokasi;
b. rencana induk reklamasi;
c. izin lingkungan;
d. dokumen studi kelayakan teknis dan ekonomi finansial;
e. dokumen rancangan detail reklamasi;
f. metoda pelaksanaan dan jadwal pelaksanaan reklamasi; dan
g. bukti kepemilikan dan/atau penguasaan lahan
3. Pasal 19: Izin pelaksanaan reklamasi berlaku untuk jangka waktu paling
lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 5 (lima) tahun
dengan mempertimbangkan metode dan jadwal reklamasi;
4. Pasal 20: Izin pelaksanaan reklamasi dapat dicabut apabila:
a. tidak sesuai dengan perencanaan reklamasi; dan/atau
b. izin lingkungan dicabut

Sumber: Peraturan Presiden No. 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah
Pesisir dan Pulai-Pulau Kecil
Amdal dalam Tahapan Pelaksanaan Proyek KPS

Pasal 4 ayat( 3):


Kajian Pendukung

Dilampiri
dengan
Dokumen
SKKLH & Izin AMDAL.
Proses Penyusunan Lingkungan Pelaksanaan RKL-
Penapisan Wajib Pada tahap
Dokumen AMDAL sudah RPL/ Izin Lingkungan
Amdal atau diterbitkan
ini sdh pada tahap:
UKL-UPL, dan diperoleh • Pra-kontruksi,
Penyusunan SKKLH dan • Konstruksi dan
KA Pengadaan IEE KA ANDAL RKL-RPL Izin • operasi komersial
Konsultan Amdal Lingkungan
IEE = Initial Environmental
Examination
Sumber: Peraturan Menteri Negara Perecanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS No. 03 Tahun 2012 tentang
Panduan Umum Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyedian Infrastuktur
IEE dan AMDAL dalam Proyek KPS

Sumber: Peraturan Menteri Negara Perecanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS No. 03 Tahun 2012 tentang
Panduan Umum Pelaksanaan Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyedian Infrastuktur
Amdal, UKL-UPL, Izin Lingkungan dan Rencana Pengadaan Tanah
Amdal atau UKL-UPL dan Izin Lingkungan merupan salah satu
dasar penyusunan Dokumen Rencana Pengadaan Tanah (Tahap
Perencanaan) Sumber: Pasal 6 aayat (1)
Pengadaan Tanah untuk
dokumen dan ayat (4) Perpres
perencanaan 71/2012
Kepentingan Pembangunan
Infrastruktur MIGAS
Pengadaan
Tanah disusun
Perencanaan
1 Pasal 2 Perpres 71 Tahun 2012
berdasarkan
studi kelayakan
Persiapan 2
Amdal atau
UKL-UPL Bagian dari Tahap Pra-Konstruksi
& Izin
Lingkungan

Pelaksanaan
3
PENTING DIPERHATIKAN!
Pengadaan Tanah hanya dapat dilakukan setelah
4
pelaksanaan studi Amdal atau UKL-UPL selesai
dilakukan (SKKL dan Izin Lingkungan atau
Rekomendasi UKL-UPL dan Izin Lingkungan Penyerahan Hasil
Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum,
Menteri Komunikasi dan Informatika dan Kepala Badan Koordinasi
Penanaman Modal Nomor : 18 Tahun 2009, Nomor: 07/PRT/M/2009, Nomor:
19/PER/M. KONINFO/03/ 2009, Nomor: 3/P/2009 tentang Pedoman
Pembangunan dan Penggunaan Bersama Menara Telekomunikasi

Pembangunan menara wajib memiliki izin Mendirikan Bangunan Menara


dari Bupati/Walikota, kecuali untuk Provinsi DKI Jakarta wajib memiliki Izin
Mendirikan Bangunan Menara dari Gubernur ( Pasal 4 Ayat 1)

Pemberian Izin Mendirikan Bangunan Menara sebagaimana dimaksud


pada aya (1) wajib memperhatikan ketentuan-ketentuan perundang-
undangan tentang Penataan Ruang ( Pasal 4 ayat 2)

Izin Mendirikan Bangunan adalah Izin mendirikan bangunan yang diberikan


oleh pemerintah kabupaten/kota dan khusus untuk Pemerintah DKI Jakarta
oleh Pemerintah Provinsi , kepada pemilik menara telekomunikasi untuk
membangun baru atau mengubah menara telekomunikasi sesuai dengan
persyaratan administrasi dan persyaratan teknis yang berlaku ( angka 10)
Lokasi pembangunan menara wajib mengikuti:
a. Rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota, dan khusus DKI Jakarta wajib
mengikuti rencana tata ruang provinsi;
b. Rencana detail tata ruang wilayah kabupaten/kota, dan khusus untuk DKI Jakarta
wajib mengikuti rencana detail tata ruang provinsi; dan/atau
c. Rencana tata bangunan dan lingkungan (Pasal 6 )

Pembangunan menara di kawasan yang sifat dan peruntukannya memiliki


karakteristik tertentu wajib memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan
(Pasal 9 ayat 1)
Kawasan yang sifat dan peruntukannnya memiliki karakteristik tertentu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Kawasan bandar udara
b. Kawasan cagar alam
c. Kawasan pariwisata
d. Kawasan hutan lindung
e. Kawasan kepresidenan
f. Kawasan yang karena fungsinya memiliki atau memerlukan tingkat keamanan dan
kerahasiaan tinggi
g. Kawasan pengendalian ketat (Pasal 9 ayat 2)
Permohonan Izin Mendirikan Bangunan Manara diajukan oleh Penyedia
menara kepada Bupati/walikota , dan khusus untuk Provinsi DKI Jakarta
permohonan izin diajukan kepada Gubernur (Pasal 10)

Pasal 11 ayat 1
Permohoman Izin Mendirikan Bangunan Menara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 10 melampirkan persyaratan sebagai berikut:
a. Persyaratan administrasi; dan
b. Persyaratan teknis
Persyaratan teknis: ( Pasal 11 ayat (3)
Persyaratan administrasi: ( Pasal 11 ayat 2)
Pesyaratan
Mengacu kepada SNI atau standar baku yang berlaku
a. Status kepemilikan tanah dan bangunan secara internasional serta tertuang dalam bentuk dokumen
b. Surat keterangan rencana kota teknis:
c. Rekomendasi dari instasi terkait khusus untuk kawasan a. gambar rencana teknis bangunan menara meliputi : situasi,
yang sifat dan peruntukannya memiliki karakteristik denanh, tampak, potongan dan detail serta perhitungan
tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 struktur
d. Akte pendirian perusahaan yang telah disahkan oleh b. Spesifikasi teknis pondasi menara meliputi : data
Departemen Hukum dan HAM penyelidikan tanah, jenis pondasi, jumlah titik pondasi
e. Surat bukti pencatatan dari Bursa Efek Indonesia (BEJ)bagi termasuk geoteknik tanah sebagaimana dimaksud dalam
penyedia menara yang berstatus perusahaan terbuka lampiran peraturan bersama ini; dan
f. Informasi rencana penggunaan bersama menara c. Spesifikasi teknis struktur atas menara meliputi beban tetap (
g. Persetujuan dari warga sekitar dalam radius sesuai dengan beban sendiri dan bebab tambahan) beban sementara (angin
ketinggian menara dan gempa), bebabn khusu , beban maksimum manara yang
h. Dalam hal menggunanakan genset sebagai catu daya diizinkan, sisitem kontruksi, ketinggian manara yang
dispersyaratkan izin ganguan dan izin genset. diizinkan, sistem kontruksi, ketinggian menara, dan proteksi
terhadap petir.
Lampiran 1: Daftar Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Amdal
Peraturan MENLH No. 05/2012
No Bidang Jumlah 1. Jenis Rencana Usaha dan /atau Kegiatan
Jenis pembangunan menara telekomunikasi
merupakan jenis usaha dan/atau kegiatan
Kegiatan yang tidak termasuk dalam jenis
1. Multisektor 5 rencana usaha dan/atau kegiatan yang
wajib menyusun dokumen Amdal
2. Pertahanan 3 berdasarkan Permen LH Nomor 05 Tahun
2012.
3. Pertanian 3
2. Pemerintah Daerah (Gubernur,
4. Perikanan dan Kelautan 1 Bupati/Walikota) sesuai dengan
kewenangannya dapat mewajibkan Jenis
5. Kehutanan 1 Rencana Usaha dan atau Kegiatan
Pembangunan menara telekomunikasi
6. Perhubungan 5 menyusun UKL-UPL, karena Izin
Mendirikan Bangunan Menara merupakan
7. Teknologi Satelit 5 intrument izin usaha.(Pasal 34 ayat (2)
UU No. 32 Tahun 2009 tentang
8. Perindustrian 8 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup (PPLH)
9. Pekerjaan Umum 12
3. Apabila Jenis rencana usaha dan/atau
10. Perumahan dan Kaw. Permukiman 1 kegiatan pembangunan menara
telekomunikasi tersebut lokasinya berada
11. Energi dan Sumber Daya Mineral 18 dalam dan/atau bersinggungan dengan
batas terluar dari kawasan lindung,
12. Pariwisata 2 maka jenis rencana usaha dan atau
kegiatan pembangunan menara
13. Ketenaganukliran 4 telokomunikasi tersebut diwajibkan untuk
menyusun dokumen AMDAL
14. Pengelolaan LB3 4 (Pasal 3 Permen LH No. 05 Tahun 2012)
14 Bidang 72 Jenis Kegiatan
Izin Mendirikan Bangunan Menara Telekomunikasi
Izin mendirikan bangunan Menara yang diberikan oleh pemerintah kabupaten/kota dan
khusus untuk Pemerintah DKI Jakarta oleh Pemerintah Provinsi , kepada pemilik menara
telekomunikasi untuk membangun baru atau mengubah menara telekomunikasi sesuai dengan
persyaratan administrasi dan persyaratan teknis yang berlaku
Dalam Peraturan Bersama Menteri Dalam
Negeri, Menteri PU , Menteri Komunikasi
dan Informatika,dan Kepala BKPM
tentang Pedoman Pembangunan dan
a. Syarat Administrasi Penggiunaan Bersama Menara
Telekomunikasi, kewajiban penyusunan
b. Syarat Teknis dokumen lingkungan tidak
dipersyaratkan baik dalam persyaratan
administrasi ataupun teknis dalam
persyaratan memperoleh izin mendirikan
menara.

IZIN MENDIRIKAN
BANGUNAN MENARA • Izin Lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin
usaha dan atau kegiatan ( Pasal 40 ayat 1 UU No. 32 Tahun 2009)

• Karena izin Mendirikan Bangunan Menara merupakan izin Usaha


maka kepada pemilik menara wajib menyusun dokumen lingkungan (
amdal/UKL-UPL)
Contoh :
Pesyaratan Administrasi dan Teknis Izin Pembangunan Menara
Telekomunikasi Selluler (Kabupaten Sleman)

Syarat-syarat yang harus dipenuhi:

1. Bukti kepemilikan tanah (rangkap 2)


2. Denah Bangunan 1 : 100 (rangkap 2)
3. Dokumen lingkungan dari Kantor Pengendalian dampak lingkungan Kab. Sleman (rangkap 4)
4. Gambar Teknis Tampak, Potongan, Renc, Pondasi 1 : 100 (rangkap 2)
5. Grounding / penangkal petir yang disahkan oleh Dinas Nakernas Sleman (rangkap 4)
6. Kesanggupan membongkar menara apabila sudah tidak dimanfaatkan kembali bermaterai Rp. 6000,-
(rangkap 2)
7. Mengisi Formulir permohonan bermaterai
8. Perhitungan Struktur/ Konstruksi dan Gambarnya (rangkap 2)
9. Peta Lokasi dan situasi (rangkap 2)
10. Rekomendasi Ketinggian dari Lanud Adisucipto & Dinas Perhubungan (rangkap 4)
11. Surat Kuasa Sah dari Perusahaan apabila diurus oleh pihak lain bermaterai Rp. 6000.- (rangkap 2)
12. Surat kerelaan/ perjanjian penggunaan/ pemanfaatan tanah (rangkap 2)
13. Surat pernyataan sanggup menepati janji sosialiasasi bermaterai Rp. 6000,- (rangkap 2)
14. Surat pernyataan sanggup mengganti kerugian kepada warga apabila terjadi kerugian/ kerusakan yang
diakibatkan oleh keberadaan menara bermaterai Rp. 6000,- (rangkap 2)
15. Surat pernyataan sanggup untuk digunakan secara bersama (rangkap 2)
16. Surat persetujuan dari warga sekitar dalam radius 1.5 kali tinggi menara yang diketahui oleh Dukuh,
Lurah dan Camat setempat setelah dilakukan sosialisasi obyektif tentang menara kepada masyarakat
sekitar (rangkap 4)
17. Uji penyelidikan tanah (rangkap 2)

Sumber : http://perijinan.slemankab.go.id
Izin Reklamasi
1. Pasal 15: Pemerintah, pemerintah daerah, dan setiap orang yang akan
melaksanakan reklamasi wajib memiliki izin lokasi dan izin pelaksanaan
reklamasi;
2. Pasal 18: Permohonan izin pelaksanaan reklamasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 wajib dilengkapi dengan:
a. izin lokasi;
b. rencana induk reklamasi;
c. izin lingkungan;
d. dokumen studi kelayakan teknis dan ekonomi finansial;
e. dokumen rancangan detail reklamasi;
f. metoda pelaksanaan dan jadwal pelaksanaan reklamasi; dan
g. bukti kepemilikan dan/atau penguasaan lahan
3. Pasal 19: Izin pelaksanaan reklamasi berlaku untuk jangka waktu paling
lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 5 (lima) tahun
dengan mempertimbangkan metode dan jadwal reklamasi;
4. Pasal 20: Izin pelaksanaan reklamasi dapat dicabut apabila:
a. tidak sesuai dengan perencanaan reklamasi; dan/atau
b. izin lingkungan dicabut

Sumber: Peraturan Presiden No. 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah
Pesisir dan Pulai-Pulau Kecil
3
Surat Kelayakan Lingkungan,
Rekomendasi UKL-UPL , Izin Lingkungan
dan Pengawasan Izin Lingkungan
Penerbitan Keputusan Kelayakan Lingkungan Hidup
atau Ketidaklayakan Lingkungan Hidup

MENTERI Jangka waktu penetapan

GUBERNUR 10 Hari Kerja Keputusan Kelayakan


Bupati/Walikota Lingkungan atau
Ketidaklayakan

Muatan Keputusan Kelayakan Lingkungan


Rekomendasi Hasil 1 Dasar pertimbangan dikeluarkannya
1.
penetapan; dan
Penilai an Andal & RKL-
2 Pernyataan kelayakan lingkungan usaha
2.
RPL dari Komisi Penilai dan/atau kegiatan;
Amdal 3 Persyaratan dan kewajiban pemrakarsa sesuai
3.
dengan yang tercantum dalam RKL-RPL.
Sumber: Pasal 32-33 PP 27/2012
Izin Lingkungan
4 Kewajiban yang harus dilakukan oleh pihak
4.
terkait
Dalam PP 27/1999: tidak datur sedetil atau
serinci ini. SKKL sudah termasuk 75 hari 5 jumlah dan jenis izin PPLH yang
1.
penilaian Andal dan RKL-RPL. Muatan SKKL diwajibkan (Jika wajib memiliki izin
juga belum/tidak diatur PPLH)
Penerbitan Izin Lingkungan Hidup Untuk Rencana
Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Amdal

AMDAL
SK Kelayakan LH dari Izin lingkungan dari
SK Kelayakan Menteri
LH dari Menteri
Izin lingkungan dari
SK Kelayakangubernur
LH dari gubernur
Izin lingkungan dari
bupati/ walikota bupati/ walikota

Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota


bersamaan dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup

Sumber: Pasal 47 PP 27/2012 Izin Lingkungan Dalam PP 27/1999: Ketentuan terkait hal
ini tidak diatur/tidak ada
Muatan Izin Lingkungan
Sumber: Pasal 48 PP No. 27 Tahun 2012

Izin lingkungan hidup paling sedikit memuat:


1. persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam keputusan
kelayakan lingkungan hidup atau rekomendasi UKL-UPL;
2. persyaratan dan kewajiban yang ditetapkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota; dan
3. Berakhirnya izin lingkungan.

Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan


pemrakarsa wajib memiliki izin PPLH, izin lingkungan tersebut
mencantumkan jumlah dan jenis izin PPLH.

Izin lingkungan hidup berakhir bersamaan dengan berakhirnya


izin usaha dan/atau kegiatan maksudnya adalah: Izin
Lingkungan berlaku selama usaha dan/atau kegiatan tetap
berlangsung sepanjang tidak ada perubahan dan tidak
Sumber: Pasal 48 PP 27/2012 Izin Lingkungan
dicabut;
Muatan Keputusan kelayakan
lingkungan hidup
1. lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan;
2. ringkasan dampak yang diperkirakan timbul;
3. rencana pengelolaan dan pemantauan dampak yang
akan dilakukan oleh pemrakarsa dan pihak lain;
4. pernyataan penetapan kelayakan lingkungan;
5. dasar pertimbangan kelayakan lingkungan;
6. jumlah dan jenis izin PPLH yang diperlukan; dan
7. tanggal penetapan Keputusan Kelayakan
Lingkungan Hidup

Sumber: Pasal 16 Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan
Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
Muatan Izin Lingkungan untuk Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan Yang Wajib Memiliki Amdal

1. Dasar diterbitkannya izin lingkungan berupa surat keputusan kelayakan


lingkungan;
2. identitas pemegang Izin Lingkungan sesuai dengan akta notaris, meliputi:
a. nama perusahaan;
b. jenis usaha dan/atau kegiatan;
c. nama penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dan jabatan;
d. alamat kantor; dan
e. lokasi kegiatan;
3. deskripsi lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan;
4. persyaratan pemegang Izin Lingkungan, antara lain:
a. persyaratan sebagaimana tercantum dalam RKL-RPL; dan
b. memperoleh Izin PPLH yang diperlukan;
c. persyaratan lain yang ditetapkan oleh Menteri, gubernur, bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya berdasarkan kepentingan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup;
Lihat di: www.dadu-online.com

Sumber: Pasal 17 Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan
Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
Muatan Izin Lingkungan untuk Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang
Wajib Memiliki Lanjutan

5. kewajiban pemegang izin lingkungan antara lain:


a. memenuhi persyaratan, standar, dan baku mutu lingkungan
dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan;
b. menyampaikan laporan pelaksanaan persyaratan dan kewajiban
yang dimuat dalam Izin Lingkungan selama 6 (enam) bulan sekali;
c. mengajukan permohonan perubahan Izin Lingkungan apabila
direncanakan untuk melakukan perubahan terhadap lingkup
deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatannya; dan
d. kewajiban lain yang ditetapkan oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan
kepentingan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;

Sumber: Pasal 17 Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan
Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
Muatan Izin Lingkungan untuk Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang
Wajib Memiliki Amdal - Lanjutan

6. hal-hal lain, antara lain:


a. pernyataan yang menyatakan bahwa pemegang Izin Lingkungan dapat
dikenakan sanksi administratif apabila ditemukan pelanggaran
sebagaimana tercantum dalam Pasal 71 Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan;
b. pernyataan yang menyatakan bahwa Izin Lingkungan ini dapat
dibatalkan apabila di kemudian hari ditemukan pelanggaran
sebagaimana tercantum dalam Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang 32 tahun
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
c. pernyataan yang menyatakan bahwa pemegang izin lingkungan wajib
memberikan akses kepada pejabat pengawas lingkungan hidup untuk
melakukan pengawasan sesuai dengan kewenangan sebagaimana
tercantum dalam Pasal 74 Undang-Undang 32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
7. masa berlaku Izin Lingkungan, yang menjelaskan bahwa izin lingkungan ini
berlaku selama usaha dan/atau kegiatan berlangsung sepanjang tidak ada
perubahan atas usaha dan/atau kegiatan dimaksud; dan
8. penetapan mulai berlakunya Izin Lingkungan
Sumber: Pasal 17 Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan
Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
Penerbitan Rekomendasi UKL-UPL
MENTERI
GUBERNUR Menerbitkan
Bupati/Walikota Rekomendasi
UKL-UPL

Pemeriksaan Muatan Rekomendasi Persetujuan UKL-UPL

Teknis 1 persetujuan UKL-UPL;


1. Dasar pertimbangan dikeluarkannya

UKL-UPL 2 Peryataan persetujuan UKL-UPL


2.
Sumber: Pasal 38 PP 27/2012 3
3. persyaratan dan kewajiban pemrakarsa
Izin Lingkungan sesuai dengan yang tercantum dalam RKL-
RPL.
4 jumlah dan jenis izin PPLH yang
1.
diwajibkan (Jika wajib memiliki izin
PPLH)
Muatan Rekomendasi Persetujuan
UKL-UPL
1. lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan;
2. ringkasan dampak yang diperkirakan timbul;
3. upaya pengelolaan dan pemantauan dampak yang
akan dilakukan oleh pemrakarsa dan pihak lain;
4. pernyataan persetujuan UKL-UPL;
5. dasar pertimbangan persetujuan persetujuan UKL-
UPL;
6. jumlah dan jenis izin PPLH yang diperlukan; dan
7. tanggal penetapan rekomendasi UKL-UPL.

Sumber: Pasal 27 ayat (3) Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan
Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
Penerbitan Izin Lingkungan Hidup Untuk Rencana
Usaha dan/atau Kegiatan Wajib UKL-UPL

UKL-UPL
Rekomendasi dari Menteri Izin lingkungan dari
Rekomendasi dari gubernur Menteri
Izin lingkungan dari
Rekomendasi dari bupati/ gubernur
Izin lingkungan dari
walikota bupati/ walikota

Izin lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota


bersamaan dengan diterbitkannya rekomendasi persetujuan UKL-UPL

Sumber: Pasal 47 PP 27/2012 Izin Lingkungan


Muatan Izin Lingkungan Untuk Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan Wajib UKL-UPL
Izin lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit memuat:
1. persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam rekomendasi
persetujuan UKL-UPL
2. persyaratan dan kewajiban yang ditetapkan oleh Menteri,
gubernur, atau bupati/walikota; dan
3. Berakhirnya izin lingkungan.
Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pemrakarsa wajib memiliki izin PPLH, izin lingkungan tersebut
mencantumkan jumlah dan jenis izin PPLH.

Izin lingkungan hidup berakhir bersamaan dengan berakhirnya


izin usaha dan/atau kegiatan maksudnya adalah: Izin
Lingkungan berlaku selama usaha dan/atau kegiatan tetap
berlangsung sepanjang tidak ada perubahan dan tidak
dicabut;
Sumber: Pasal 48 PP 27/2012 Izin Lingkungan
Muatan Izin Lingkungan untuk Rencana Usaha dan/atau
Kegiatan YANG Wajib Memiliki UKL-UPL
1. Dasar diterbitkannya izin lingkungan berupa rekomendasi persetujuan
UKL-UPL;
2. identitas pemegang Izin Lingkungan sesuai dengan akta notaris, meliputi:
a. nama perusahaan;
b. jenis usaha dan/atau kegiatan;
c. nama penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dan jabatan;
d. alamat kantor; dan
e. lokasi kegiatan;
3. deskripsi lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan;
4. persyaratan pemegang Izin Lingkungan, antara lain:
a. persyaratan sebagaimana tercantum dalam UKL-UPL; dan
b. memperoleh Izin PPLH yang diperlukan;
c. persyaratan lain yang ditetapkan oleh Menteri, gubernur, bupati/walikota
sesuai dengan kewenangannya berdasarkan kepentingan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup;

Lihat di: www.dadu-online.com

Sumber: Pasal 28 Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan
Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
Muatan Izin Lingkungan untuk Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang
Wajib Memiliki UKL-UPL- Lanjutan

5. kewajiban pemegang izin lingkungan antara lain:


a. memenuhi persyaratan, standar, dan baku mutu lingkungan
dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan;
b. menyampaikan laporan pelaksanaan persyaratan dan kewajiban
yang dimuat dalam Izin Lingkungan selama 6 (enam) bulan sekali;
c. mengajukan permohonan perubahan Izin Lingkungan apabila
direncanakan untuk melakukan perubahan terhadap lingkup
deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatannya; dan
d. kewajiban lain yang ditetapkan oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya berdasarkan
kepentingan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;

Sumber: Pasal 28 Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan
Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
Muatan Izin Lingkungan untuk Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang
Wajib Memiliki UKL-UPL - Lanjutan

6. hal-hal lain, antara lain:


a. pernyataan yang menyatakan bahwa pemegang Izin Lingkungan dapat
dikenakan sanksi administratif apabila ditemukan pelanggaran
sebagaimana tercantum dalam Pasal 71 Peraturan Pemerintah Nomor 27
Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan;
b. pernyataan yang menyatakan bahwa Izin Lingkungan ini dapat
dibatalkan apabila di kemudian hari ditemukan pelanggaran
sebagaimana tercantum dalam Pasal 37 ayat (2) Undang-Undang 32 tahun
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
c. pernyataan yang menyatakan bahwa pemegang izin lingkungan wajib
memberikan akses kepada pejabat pengawas lingkungan hidup untuk
melakukan pengawasan sesuai dengan kewenangan sebagaimana
tercantum dalam Pasal 74 Undang-Undang 32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
7. masa berlaku Izin Lingkungan, yang menjelaskan bahwa izin lingkungan ini
berlaku selama usaha dan/atau kegiatan berlangsung sepanjang tidak ada
perubahan atas usaha dan/atau kegiatan dimaksud; dan
8. penetapan mulai berlakunya Izin Lingkungan
Sumber: Pasal 28 Peraturan MENLH tentang Tata Laksana Penilaian Dan Pemeriksaan
Dokumen Lingkungan Hidup Serta Penerbitan Izin Lingkungan
NSPK & Instrumen PPLH pada Tahap Pelaksanaan Usaha
dan/atau Kegiatan
Izin LH & Izin PPLH Penaatan
Dampak terhadap Baku
Mutu
Penting & Lingkungan
Dampak LH (BML) & Kriteria
Baku Kerusakan
Pelaksanaan Usaha dan/atau
lainnya Lingkungan
(KBKL)
Kegiatan
• KepMenLH No. 45 Tahun 2005
tentang Pedoman Penyusunan
Implementasi
Audit LH Persyaratan Izin
Laporan Pelaksanaan RKL-RPL
(LAPORAN PELAKSANAAN IZIN
Lingkungan & Izin PPLH LINGKUNGAN)
serta Continuous
• KepMenLH No.07 Th 2001 tentang
Peraturan MENLH No. 03 Tahun Improvement PPLH dan PPLHD
2013 tentang Audit Lingkungan
Hidup sebagai revisi dari: • KepMenLH No.56 Th 2002 tentang
• KepMenLH No. 42 Tahun 1994 Pedoman Umum Pengawasan LH
• KepMenLH No. 30 Tahun 2001 • KepMenLH No.57 Th 2002 tentang
• PerMenLH No. 17 Tahun 2010 Pengawasan Tata Kerja PPLH
• KepMenLH No.58 Th 2002 tentang
Lingkungan Hidup Tata Kerja PPLHD
Kewajiban Pemegang Izin Lingkungan
Pasal 68 UU 32/2009: Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan
berkewajiban memberikan informasi yang terkait dengan PPLH secara benar, akurat,
terbuka dan tepat waktu, menjaga keberlanjutan fungsi LH, menaati ketentuan BML
dan/atau KBKL
• Pemegang izin lingkungan berkewajiban untuk:
a. menaati persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam
izin lingkungan;
b. membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan
terhadap persyaratan dan kewajiban dalam izin
lingkungan kepada Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota; dan
c. Menyediakan dana penjamin untuk pemulihan fungsi
lingkungan hidup sesuai ketentuan PUU; -
(diberlakukan jika sudah ada PP yang mengatur
tentang dana penjaminan)
• Laporan disampaikan secara berkala setiap 6 (enam) bulan
Sumber: Pasal 53 PP 27/2012 Izin Lingkungan
Sanksi Administratif
Pasal 53: Kewajiban Pemegang Izin Lingkungan: (a) menaati persyaratan dan kewajiban yang dimuat dalam
izin lingkungan, (b) membuat dan menyampaikan laporan pelaksanaan terhadap persyaratan dan
kewajiban dalam izin lingkungan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota; dan (c) Menyediakan dana
penjamin untuk pemulihan fungsi lingkungan hidup sesuai ketentuan PUU. Laporan disampaikan secara
berkala setiap 6 (enam) bulan

Pemegang izin yang melanggar ketentuan sebagaimana


1 dimaksud dalam Pasal 53 dikenakan sanksi administratif
yang meliputi:
• teguran tertulis;
• paksaan pemerintah;
• pembekuan izin lingkungan; atau
• pencabutan izin lingkungan

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat


2 (1) di terapkan oleh Menteri, gubernur, atau
bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya

Sumber: Pasal 71 PP 27/2012 Izin Lingkungan


Izin Lingkungan dan Izin PPLH
Diterbitkan oleh Diterbitkan oleh Dilakukan oleh Pengawasan
• Proses Penilaian Amdal oleh KPA;
MENLH, Gubernur, MENLH, MENLH, Lingkungan Hidup &
• Proses Pemeriksaan UKL-UPL
atau Gubernur, atau Gubernur, atau Penegakan Hukum
oleh Instansi LH
Bupati/Walikota Bupati/Walikota Bupati/ Walikota Lingkungan

Pemrakarsa Izin PPLH • Pelaksanaan


Usaha dan/atau
Rencana Usaha Izin Usaha Kegiatan
Proses Amdal Izin • Pelaksanaan Izin
dan/atau dan/atau
atau UKL-UPL Lingkungan Lingkungan & Izin
Kegiatan Kegiatan
PPLH
Diterbitkan oleh Menteri
Proses Penyusunan Amdal atau terkait, Gubernur, atau
UKL-UPL oleh Pemrakarsa Bupati/Walikota
Penaatan terhadap
1. Izin PPLH diterbitkan pada tahap operasional. BML & KBKL
2. Izin PPLH diterbitkan berdasarkan persyaratan dan kewajiban izin
lingkungan yang harus ditaati oleh perusahaan
3. Izin PPLH, antara lain:
a. Izin pembuangan air limbah ke sungai;
b. Izin pemanatan air limbah untuk aplikasi ke tanah
Penurunan Beban
c. Izin pembuangan air limbah ke laut
Pencemaran dan Laju
d. Izin injeksi air limbah Kerusakan LH
e. Izin PLB3
Izin Pembuangan Air Limbah Ke Sungai
1) Izin lingkungan yang berkaitan dengan
Persyaratan administrasi pembuangan air limbah ke sumber air
terdiri atas: diselenggarakan melalui tahapan:
a. isian formulir permohonan
a. pengajuan permohonan izin;
izin;
b. izin yang berkaitan dengan b. analisis dan evaluasi permohonan izin;
usaha dan/atau kegiatan; dan dan
c. penetapan izin
c. dokumen Amdal , UKL- 2) Pengajuan permohonan izin sebagaimana
UPL, atau dokomen lain yang dimaksud pada ayat (1) huruf a harus
dipersamakan dengan
memenuhi persyaratan:
dokumen dimaksud.
a. administrasi; dan
b. teknis.

Persyaratan teknis terdiri atas:


Kajian dampak pembuangan a. upaya pencegahan pencemaran, minimisasi air
air limbah menggunakan limbah, serta efisiensi energi dan sumberdaya yang
dokumen Amdal atau UKL- harus dilakukan oleh penanggungjawab usaha
UPL dan/atau kegiatan yang berkaitan dengan
apabila dalam dokumen pengelolaan air limbah; dan
tersebut telah memuat secara b. kajian dampak pembuangan air limbah
lengkap kajian dampak terhadap pembudidayaan ikan, hewan, dan
pembuangan air limbah tanaman, kualitas tanah dan air tanah, serta
kesehatan masyarakat.
Izin Pemanfaatan Air Limbah untuk Aplikasi Ke Tanah
Persyaratan administrasi 1) Izin lingkungan yang berkaitan dengan
terdiri atas: pemanfaatan air limbah ke tanah untuk aplikasi
a. isian formulir permohonan pada tanah diselenggarakan melalui tahapan:
izin; a. pengajuan permohonan izin;
b. izin yang berkaitan dengan b. analisis dan evaluasi permohonan izin; dan
usaha dan/atau kegiatan; dan c. penetapan izin.
2) Pengajuan permohonan izin sebagaimana
c. dokumen Amdal , UKL- dimaksud pada ayat (1) huruf a harus memenuhi
UPL, atau dokumen lain yang persyaratan:
dipersamakan dengan
dokumen dimaksud. a. administrasi; dan
b. teknis.

dampak pemanfaatan air


limbah ke tanah untuk aplikasi Persyaratan teknis terdiri atas:
a. kajian pemanfaatan air limbah ke tanah untuk aplikasi pada tanah
pada tanah menggunakan terhadap pembudidayaan ikan, hewan, dan tanaman, kualitas tanah
dokumen Amdal atau b.
dan air tanah, dan kesehatan masyarakat;
kajian potensi dampak dari kegiatan pemanfaatan air limbah ke
UKL-UPL tanah untuk aplikasi pada tanah terhadap pembudidayaan ikan,
hewan, dan tanaman, kualitas tanah dan air tanah, dan kesehatan
apabila dalam dokumen masyarakat; dan
tersebut telah memuat secara c. upaya pencegahan pencemaran, minimisasi air limbah, efisiensi
energi dan sumberdaya yang dilakukan usaha dan/atau kegiatan
lengkap kajian dampak yang berkaitan dengan pengelolaan air limbah termasuk rencana
pemanfaatan air limbah pada pemulihan bila terjadi pencemaran.
tanah
Izin Pembuangan Air Limbah ke Laut
1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang akan melakukan pembuangan
air limbah ke laut wajib mendapatkan izin dari Menteri;
2) Menteri dapat mendelegasikan wewenang pemberian izin
pembuangan air limbah ke laut kepada Gubernur.
3) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan melakukan
pembuangan air limbah ke laut wajib mengintegrasikan kajian
pembuangan air limbah ke laut sebagaimana dimaksud dalam
Lampiran II Peraturan Menteri ini ke dalam kajian analisis mengenai
dampak lingkungan hidup atau di dalam Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup;
4) Pada saat berlakunya Peraturan Menteri ini, bagi usaha dan/atau
kegiatan yang sudah beroperasi dan melakukan pembuangan air
limbah ke laut tetapi belum memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Lampiran II Peraturan Menteri ini wajib melakukan
kajian pembuangan air limbah ke laut.
Izin Pembuangan Air Limbah ke Laut
1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang akan melakukan pembuangan
air limbah ke laut wajib mendapatkan izin dari Menteri;
2) Menteri dapat mendelegasikan wewenang pemberian izin
pembuangan air limbah ke laut kepada Gubernur.
3) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan melakukan
pembuangan air limbah ke laut wajib mengintegrasikan kajian
pembuangan air limbah ke laut sebagaimana dimaksud dalam
Lampiran II Peraturan Menteri ini ke dalam kajian analisis mengenai
dampak lingkungan hidup atau di dalam Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup;
4) Pada saat berlakunya Peraturan Menteri ini, bagi usaha dan/atau
kegiatan yang sudah beroperasi dan melakukan pembuangan air
limbah ke laut tetapi belum memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud dalam Lampiran II Peraturan Menteri ini wajib melakukan
kajian pembuangan air limbah ke laut.
Pasal 72 PP 27 Tahun 2012

Menteri, gubernur, atau bupati/walikota


sesuai dengan kewenangannya wajib
melakukan pengawasan ketaatan
penanggung jawab usaha dan/atau
kegiatan terhadap izin lingkungan.
Dasar Hukum Penyusunan Peraturan MENLH tentang
Pedoman Pelaporan Pelaksanaan Izin Lingkungam
Pasal 72 dan Pasal 63 ayat Pasal 68 UU 32/2009 :
(1) huruf o dalam UU Penanggung Jawab Kewajiban Memberikan
32/2009 : Pembinaan dan Usaha dan/atau informasi terkait PPLH secara
Pengawasan Penaatan Kegiatan benar, akurat dan tepat waktu;
Perizinan Lingkungan
Penguatan Demokrasi Pasal 53 PP 27/2012
Lingkungan : Kewajiban menyampaikan
• akss informasi; laporan persyartan dan
• akses partisipasi; kewajiban dalam izin
• penguatan hak-hak lingkungan setiap 6 bulan
masyarakat dalam PPLH. sekali
(Penjelasan Umum
UU 32/2009 angka 8) • Instansi
Pemerintah;
• Masyarakat/

Pasal 63 ayat (1)


Informasi PPLH Publik

huruf e UU 32/2009:
Pemerintah bertugas
dan berwenang untuk Pasal 65 ayat (2) UU
menetapkan dan Peraturan MENLH tentang 32/2009 :
Pelaporan Pelaksanaan
melaksanakan Hak mendapatkan akses
kebijakan mengenai informasi dalam memenuhi
amdal dan UKL-UPL
Izin Lingkungan hak atas lingkungan hidup
yang baik dan sehat
Pengawasan Lingkungan Hidup
Menteri dapat mendelegasikan
a Pengawasan
Gubernur
kewenangannya dalam
melakukan pengawasan
kepada pejabat/instansi
Bupati/Walikota teknis yang bertanggung
(sesuai kewenangannya)
b
jawab di bidang
PENANGGUNG JAWAB perlindungan dan
USAHA dan/atau KEGIATAN pengelolaan lingkungan
hidup

PPLH Berwenang:
• melakukan pemantauan;
• meminta keterangan;
• membuat salinan dari dokumen
dan/atau membuat catatan yang Tingkat
diperlukan;
• memasuki tempat tertentu; Implementasi Ketaatan
• memotret;
Izin Lingkungan & Izin PPLH serta
• PUU Bid. PPLH
• membuat rekaman audio visual;
• mengambil sampel; Continuous Improvement
• Izin
• memeriksa peralatan;
• memeriksa instalasi dan/atau
c Menetapkan Pejabat
Lingkungan
alat transportasi; dan/atau
• menghentikan pelanggaran Pengawas
tertentu. Lingkungan Hidup
(Psl 74)
Sumber: Pasal 71 dan Pasal 72 UU No. 32 Tahun 2009
PENGAWASAN LAPIS KEDUA
(second line inspection)
PENANGGUNG JAWAB USAHA dan/atau
KEGIATAN

Izin LH
diterbitkan
PEMDA

Menteri dapat melakukan pengawasan terhadap ketaatan


penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang izin
lingkungannya diterbitkan oleh pemerintah daerah jika
Pemerintah menganggap terjadi pelanggaran yang serius di bidang
perlindungan dan pengelolaan LH
Tujuan, Sasaran dan Ruang Lingkup Pengawasan Penaatan LH
Keputusan MENLH No. 56 Tahun 2002

Data dan
Memantau
informasi
secara Mengevaluasi
umum
Menetapkan Status
berupa
fakta-fakta Ketaatan
 kinerja Penanggungjawab
atau status 1. Kewajiban yang tercantum
ketaatan
Usaha dan atau dalam PUU PPLH.
Kegiatan 2. Kewajiban untuk
melakukan pengelolaan
lingkungan dan
Ruang Lingkup Pengawasan pemantauan lingkungan
• Aspek PUU PPLH sebagaimana tercantum
dalam dokumen AMDAL
• Aspek Perizinan atau UKL-UPL atau
• Aspek Kesiagaan dan Tanggap persyaratan lingkungan
Darurat, yang tercantum dalam izin
yang terkait
Pasal 115 UU No.32 Tahun 2009

Setiap orang yang dengan sengaja


mencegah, menghalang-halangi, atau
menggagalkan pelaksanaan tugas pejabat
pengawas lingkungan hidup dan/atau
pejabat penyidik pegawai negeri sipil
dipidana dengan pidana penjara paling
lama (satu) tahun dan denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah
Pasal 112 UU No. 32 Tahun 2009
Setiap pejabat berwenang yang dengan sengaja
tidak melakukan pengawasan terhadap ketaatan
penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
terhadap peraturan perundangundangan dan izin
lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71
dan Pasal 72, yang mengakibatkan terjadinya
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan yang
mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
atau denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah).
Audit Legalitas Perizinanan: Upaya KPK Memperbaiki Tata Kelola
Perizinan Usaha dan/atau Kegiatan Pemanfaatan Sumber Daya Alam
• Dalam upaya pembaiki tata kelola perizinan sumberdaya alam
khususnya tambang dan kebun, KPK dan UKP4 sedang
mengembangkan dan melaksanakan audit legalitas perizinan.
• Ruang lngkup audit mencakup kepatuhan pemegang izin di bidang
lingkungan hidup: Izin Lingkungan, Izin PPLH dan Laporan
Pelaksanaan Izin Lingkungan

Usaha dan/atau Kesesuaian


Kegiatan
dengan
Rencana Memiliki Laporan
Tata Ruang Memiliki Pelaksanaan Izin
Izin Usaha Lingkungan, Izin
dan/atau PPLH dan Izin
Memiliki Kegiatan Usaha dan/atau
Izin kegiatan
Lingkungan

Memiliki
Izin PPLH
149

Lingkungan/ Ekosistem
Hasil Pembinaan dan Pengawasan Komisi Penilai Amdal Daerah

Administrasi Proses Amdal


SK Kelayakan lingkungan Penilaian dokumen tanpa SK Kesepakatan KA-
yang dikeluarkan tanpa dilakukan pemeriksaaan Andal dan SK Kelayakan
SK Kesepakatan administrasi  ada ditandatangani pada hari
1 yang sama
Proses
kegiatan yang tidak 6 perbaikan
SK Kelayakan melakukan pengumuman dokumen
Lingkungan yang dikeluar maupun konsultasi SK Kesepakatan maupun pasca sidang
tanpa ada proses masyarakat 4 SK Kelayakan komisi hanya
penilaian Amdal dan Lingkungan diterbitkan dilakukan
sebelum Dokumen Final oleh personil
dokumen Amdal 2
Penilaian Andal RKL RPL (dokumen masih dalam yang duduk
dilakukan hanya perbaikan) pada
7
Penilaian KA Andal atau berselang 1-3 hari sejak sekretariat
Andal RKL RPL yang SK Kesepakatan komisi
Sidang ANDAL RKL-RPL
dinilai > 1 kegiatan dalam dikeluarkan atau sejak
dilaksanakan sebelum SK
1 hari penilaian KA Andal
3 5 KA-ANDAL diterbitkan
8 9

Lisensi Komisi
Melanggar Ketentuan Penilai Amdal
Kabupaten/Kota
PUU di Bidang Amdal
akan dicabut
Penegakan Hukum terhadap Izin Lingkungan
Penegakan hukum, Pasal 98-100 UU 32/2009:
Tantangan yang harus Pelanggaran Baku Mutu Lingkungan Hidup (BML) dan
dijawab untuk Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup (KBKL) 
meningkatkan efektivitas Penjara dan Denda
izin lingkungan
Pasal 111 UU 32/2009
(1) Pejabat yang
menerbitkan izin
lingkungan tanpa
Amdal atau UKL-
UPL: penjara dan
denda;
(2) Pejabat yang
menerbitkan izin
usaha dan/atau
kegiatan tanpa
izin lingkungan:
Penjara dan Denda
Pasal 71 PP 27/2012:
Pasa 109 UU 32/2009: usaha dan/atau Sanksi Admnistrasi kepada pemegang izin
lingkungan yang melanggar ketentuan pasal 53 PP
kegiatan tanpa memiliki izin 27/2012: tidak melaksanaan izin lingkungan dan
lingkungan: Penjara dan denda tidak melaporkan pelaksanaan izin lingkungan
Ketentuan Pidana terkait dengan Izin Lingkungan
dan Dokumen Lingkungan
Pelanggaran Pidana Denda (rupiah)
Minimum Maksimum Minimum Maksimum
Melakukan usaha
dan/atau kegiatan 1 tahun 3 tahun 1 miliar 3 miliar
tanpa izin lingkungan
Menyusun AMDAL
tanpa memiliki sertifikat
- 3 tahun - 3 miliar
kompetensi penyusun
AMDAL
Menerbitkan izin
lingkungan tanpa
- 3 tahun - 3 miliar
dilengkapi AMDAL atau
UKL-UPL
Menerbitkan izin usaha
tanpa dilengkapi izin - 3 tahun - 3 miliar
lingkungan
4
SE-MENLH Arahan Pelaksanaan Pasal 121
UU No. 32/2009
Kebijakan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak
Memiliki Dokumen Lingkungan Hidup
• PP 29 Tahun 1986;
SEMDAL
1986
• Berlaku selama 13 Tahun
(1986-1999)

Upaya • Keputusan MENLH No. 30


‘Pemutihan’ Tahun 1999 tentang Panduan
DPL Penyusunan Dokumen
Pengelolaan Lingkungan
Hidup
• Berlaku selama 3 Bulan
(12 Okt 199-31 Des 1999)
2001
• Peraturan MENLH No. 12
DPPL Tahun 2007
• Berlaku selama 2 Tahun Audit LH Wajib
(2007-2009) sesuai dengan
Keputusan
• Pasal 121 UU 32/2009 MENLH No. 30
DELH/DPLH • Peraturan MENLH No. 14 Tahun
2010
Tahun 2001
• Berlaku selama 2 Tahun (2009-2011)
Upaya 2012
‘Penegakan • Pasal 121 UU 32/2009
• Peraturan MENLH No. 14 Tahun
(PP27/2012)
Hukum’ DELH/DPLH 2010
• SE MENLH 27 Desember 2013
• Berlaku selama 2 Tahun (2013-2015)
Undang-undang No. 32 tahun 2009
Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Pasal 121
(1) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini,dalam waktu paling
lama 2 (dua) tahun, setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah
memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki
dokumen amdal wajib menyelesaikan Audit Lingkungan Hidup.

(2) Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, dalam waktu paling


lama 2 (dua) tahun, setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah
memiliki izin usaha dan/atau kegiatan tetapi belum memiliki UKL-
UPL wajib membuat Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
(DPLH).

Peraturan MENLH No. 14 Tahun 2010 Berlaku selama 2 (dua) Tahun (2009-
2011) berakhir hingga 3 Oktober 2011
Isi SE-MENLH B1413-4/MENLH/KP/12/2013
Tanggal 27 Desember 2013
1. Target SE Usaha dan/atau Kegiatan yang sudah miliki izin usaha dan/atau kegiatan
sebalum UU 32/2009 (Kriterianya Sesuai dengan Peraturan MENLH No. 14
Tahun 2010)
2. Kebijakan a. Bentuk Kebijakan: Penerapan Sanksi Administrasi berupa teguran tertulis
 Perintah membuat dokumen LH (BUKAN PEMUTIHAN);
b. Pelaksana kebijakan: MENLH, Gubernur atau bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya;
c. Waktu penerapan sanksi administrasi: 18 Bulan (27 Desember 2013-27 Juli
2015).
d. Waktu penyelesaian dan mendapat keputusan dokumen LH: 6 (enam)
bulan sejak sanksi teguran tertulis diterbitkan
3. Dokumen LH a. DELH untuk Usaha dan/atau Kegiatan Wajib Amdal
b. DPLH untuk Usaha dam/atau Kegiatan Wajiab UKL-UPL
c. Tata cara penyusunan dan penilaiannya sesuai dengan Peraturan MENLH
No 14 Tahun 2010
4. DELH dan Keputusan Dokumen LH (DELH/DPLH) digunakan sebagai dasar penerbitan
DPLH serta Izin izin lingkungan
Lingkungan
5. Tindak lanjut Tidak menyelesaikan kewajiban membuat dan mendapat keputusan
SE MENLH DELH/DPLH sampai batas yang telah ditentukan (6 bulan setelah mendapat
sanksi administrasi)- Dikenakan pasal 109 UU 32/2009
SE-MENLH Pasal 121 UU 32/2009: Penegakan Hukum untuk Usaha dan/atau Kegiatan
sudah Memiliki Izin Usaha dan/atau Kegiatan tetapi Belum Memiliki Dokumen
Lingkungan

SE-MENLH tentang
Pelaksanaan
Pasal 121 UU 32/2009
1. Usaha dan/atau Belum Memiliki
Kegiatan sudah DELH atau DPLH • Sanksi Administrasi
memiliki Izin Usaha yang Telah Teguran Tertulis (Paling
SEBELUM 3 Oktober
Disetujui
SE- Lambat 18 bulan setelah
2009,
2. Sudah beroperasi MENLH SE)
SEBELUM 3 Oktober
• Penyusunan dan
Tidak Penilaian DELH/DPLH
2009;
3. Lokasi usaha Berlaku (6 Bulan)  Izin
dan/atau kegiatan Lingkungan
sesuai dengan
rencana tata ruang,;
1. Usaha dan/atau Kegiatan sudah memiliki Izin Jika Tidak
dan,
Usaha SETELAH 3 Oktober 2009, dan
4. belum memiliki
dokumen lingkungan 2. belum memiliki dokumen lingkungan Pasal 109
UU32/2009
Waktu/Time UU 32/2009 PP 27/2012 Saat ini
3 Okt 2011
Line 3 Okt 2009 23 Feb 2012
Gugatan Administratif
Pasal 93 UU No. 32 Tahun 2009
(1) Setiap orang dapat mengajukan gugatan terhadap keputusan tata
usaha negara apabila:
a. badan atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin lingkungan
kepada usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal tetapi tidak
dilengkapi dengan dokumen amdal;
b. badan atau pejabat tata usaha negara menerbitkan izin lingkungan
kepada kegiatan yang wajib UKL-UPL, tetapi tidak dilengkapi
dengan dokumen UKLUPL; dan/atau
c. badan atau pejabat tata usaha negara yang menerbitkan izin usaha
dan/atau kegiatan yang tidak dilengkapi dengan Izin lingkungan.
(2) Tata cara pengajuan gugatan terhadap keputusan tata usaha negara
mengacu pada Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara.
PEMRAKARSA
(PEMERINTAH/SWASTA)
1
• USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG
TIDAK MEMILIKI DOKUMEN
LSM LINGKUNGAN (AMDAL, UKL-UPL ) SERTA
IZIN LINGKUNGAN
A
• PEJABAT YANG MENERBITKAN IZIN
2 USAHA TANPA ADA DOKUMEN
LINGKUNGAN (AMDAL-UKL-UPL ) SERTA
IZIN LINGKUNGAN

PPLH /PPNS • PEJABAT YANG MENERBITKAN IZIN


atau
LINGKUNGAN TANPA DOKUMEN
3 LiNGKUNGAN (AMDAL, UKL-UPL)
(Pasal 109 dan Pasal 111 )
UU Nomor 32 Tahun 2009

B
PERS
Ketentuan Pidana terkait dengan Izin Lingkungan
dan Dokumen Lingkungan
Pelanggaran Pidana Denda (rupiah)
Minimu Maksimum Minimum Maksimum
m
Melakukan usaha
dan/atau kegiatan tanpa
1 tahun 3 tahun 1 miliar 3 miliar
izin lingkungan
(Ps. 109)
Menerbitkan izin
lingkungan tanpa
dilengkapi AMDAL atau - 3 tahun - 3 miliar
UKL-UPL
(Ps. 111 ayat 1)
Menerbitkan izin usaha
tanpa dilengkapi izin
- 3 tahun - 3 miliar
lingkungan
(Ps. 111 ayat 2)
Timeline Pelaksaan SE-MENLH Pasal 121 UU No. 32 Tahun 2009
Batas akhir Batas akhir penerbitan
SE-MENLH Pasal
penerapan sanksi persetujuan DELH/DPLH dan
121 UU 32/2009 Izin Lingkungan untuk
(mulai berlaku 27 Administrasi penerapan sanksi Administrasi
Desember 2013) (27 Juni 2015) 27 Juni 2015

Penegakan
Hukum
Administrasi LH:
Penerapan sanksi
27 Des administrasi 27 Juni 27 Des
2013 teguran tertulis 2015 2015

Masa penyusunan, penilian/pemeriksaan


DELH/DPLH dan Penerbitan Izin Lingkungan

Keterangan: (PENTING)
• Jika penerapan sanksi administrasi dilakukan pada tanggal 1 Januari 2014, maka dalam masa
6 (enam) bulan, DELH/DPLH sudah harus disusun dan dinilai/diperiksa serta diterbitkan
persetujuannya dan izin lingkungan (JIKA DISETUJUI), (1 Juli 2014).
• Untuk usaha dan/atau kegiatan pemerintah, masa penerapan sanksi administrasi disesuaikan
dengan penganggaran untuk penyusunan dan penilaian/pemeriksaan DELH dan DPLH
Tindak Lanjut Pelaksanaan SE-MENLH tentang
Pelaksanaan Pasal 121 UU 32/2009 (Surat Deputi I)
Gubernur atau Bupati/Walikota sesuai dengan Instansi Lingkungan Hidup
kewenangangannya mendelegasikan kepada Pusat, Provinsi, atau
Kepala Instansi LH untuk melakukan penerapan kabupaten/kota sesuai
sanksi Administratif teguran tertulis dengan kewenangannya

Penerbitan
Inventarisasi Usaha Usaha dan/atau keputusan
dan/atau kegiatan kegiatan sesuai Penyusunan Penilaian
sesuai dengan
DELH/DPL
kriteria SE- DELH/DPLH DELH/DPLH
kriteria SE-MENLH H dan Izin
MENLH Lingkungan
Penanggung Jawab Usaha
dan/atau kegiatan
(Pemrakarsa)
1. Sekretaris Membantu
dalam Kriteria Penyusun DELH:
Jenderal,
2. Sekretaris penyusunan Auditor Lingkungan Hidup
Kementerian, DELH/DPLH yang telah memiliki sertifikat
3. Sekretaris kompetensi atau Sesuai
Utama LPNK, Pembinaan dengan Kriteria dalam Surat
4. Kepala SKPD oleh Instansi Deputi No.
Lingkungan Hidup 096/Dep.I/LH/PDAL/01/2014
(butir angka 4)
Percepatan Proses Penyusunan dan Penilaian DELH
atau Pemeriksaan DPLH (Surat Deputi I)
Dalam rangka percepatan proses penyusunan dan
penilaian DELH atau Pemeriksaan DPLH, Kepala
Instansi Lingkungan Hidup diharapkan antara lain dapat:

Mendorong kepada para penanggung


Mengembangkan dan
jawab usaha dan/atau kegiatan
Menerapkan
Penyusunan DELH & DPLH
Sistem Clustering Bersama-sama

Menyusun Melakukan
Template DELH & DPLH Proses Penilaian DELH &
untuk Usaha dan/atau
kegiatan sejenis Pemeriksaan DPLH secara Kolektif

Memprioritaskan kepada
Usaha dan/atau Kegiatan Pemerintah
Kriteria Penyusun DELH
Auditor Lingkungan Hidup yang telah memiliki sertifikasi
kompetensi Auditor LH
Atau
1) Telah memiliki sertifikat penyusun Amdal; dan
2) Pernah mengikuti kursus audit (audit LH, audit mutu,
EMS, K3/HSE dan/atau pengenalan audit)
Atau
1) Pendidikan minimal S1;
2) Pengalaman kerja terkait dengan pengelolaan LH minimal 3 tahun;
3) Pelatihan audit SML ISO 14000, diklat teknis pengelolaan lingkungan
hidup
4) Pengalaman audit lingkungan hidup SML minimal 3 kali atau
penyusun dokumen Amdal minimal 5 dokumen (dalam 5 tahun
terakhir);
Keputusan DELH dan DPLH serta Izin Lingkungan

1. Deputi I MENLH Bidang Tata


Lingkungan;
Keputusan 2. Kepala Instansi Lingkungan
Provinsi; atau
DELH atau DPLH 3. Kepala Instansi Lingkungan
Hidup Kabupaten/kota
Sesuai dengan kewenangannya

Menjadi
dasar
1. MENLH;
2. Gubernur; atau
Keputusan Izin 3. Bupati/Walikota

Lingkungan Sesuai dengan kewenangannya,


sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan (PUU)
Format Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH)
Dokumen Evaluasi Lingkungan Hidup (DELH) paling
sedikit berisi hal-hal sebagai berikut:
1
Pendahuluan

4 RKL-RPL DELH Ruang


2
Lingkup

Kajian Evaluasi
terhadap Kegiatan
yang berjalan
3
Pendahuluan dan Ruang Lingkup
Pada Bab ini diinformasikan: Pada Bab ini
a. Identitas Perusahaan; diinformasikan
b. Perizinan yang telah deskripsi kegiatan
dimiliki; utama dan kegiatan
c. Latar belakang kegiatan pendukung yang
1 meliputi:
a. Kegiatan yang telah
Pendahuluan berjalan;
b. Pengelolaan dan
pemantauan
Ruang
Lingkup 2 lingkungan yang
pernah dilakukan
(apabila tidak pernah
melakukan pengelolaan
lingkungan, hal ini agar
diinformasikan di dalam
bagian ini)
Kajian Evaluasi terhadap Kegiatan yang Berjalan
d a
Komponen kegiatan- Data-databjenis,
Baku mutu yang telah kegiatan yang parameter, sifat, dan
ditetapkan oleh menimbulkan dampak jumlah bahan
peraturan perundang- atau sebagai sumber pencemar/buangan/
undangan dampak, limbah yang
dihasilkan oleh
e masing-masing
Upaya pengelolaan sumber dampak
dan pemantauan
yang telah c
Data-data kondisi rona
dilakukan apabila
lingkungan atau
telah ada upaya-
kondisi eksisting
upaya tersebut,
lingkungan yang
f berpotensi terkena
dampak,
Informasi kegiatan
dan kondisi
lingkungan sekitar
Kajian Evaluasi terhadap
3 Kegiatan yang berjalan
Kajian Evaluasi terhadap Kegiatan yang Berjalan

Kajian Evaluasi seharusnya dapat menjawab:


• keterkaitan antara komponen-komponen tersebut di atas,
• sehingga dapat dianalisis dan diambil kesimpulan mengenai
• dampak-dampak yang dihasilkan,
• pengaruhnya terhadap lingkungan serta
• upaya pengelolaan yang seharusnya dilakukan sehingga tidak
mencemari lingkungan

Hasil evaluasi dan kesimpulan dijadikan arahan-


arahan pengelolaan dan pemantauan yang
kemudian digunakan sebagai dasar penetapan
RKL-RPL.
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan

a b c d e f g
No Dampak LH Tolok Tujuan PLH Upaya Lokasi Periode Institusi
ditimbulkan ukur PLH PLH PLH
dan Sumber dampak
PLH
Dampak

1.

Pada Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup diuraikan dan dilengkapi matrik yang berisi:
a. Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan yang mencakup dampak dan sumber dampak;
b. Tolok ukur dampak, untuk mengukur komponen yang terkena dampak berdasarkan baku
mutu standar;
c. Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup;
d. Upaya pengelolaan lingkungan hidup;
e. Lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan (peta, sketsa, gambar);
f. Periode pengelolaan lingkungan yang memuat kapan dan berapa lama kegiatan
pengelolaan dilaksanakan;
g. Institusi pengelolaan lingkungan hidup, yang memuat:
• Pelaksana yang bertanggungjawab melaksanakan pengelolaan lingkungan;
• Pengawas pengelolaan lingkungan
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
a b c d e
No Dampak LH Parameter LH Tujuan RKL Metode Institusi PLH
ditimbulkan dan yang dipantau Pemantuan LH
Sumber Dampak

1.

Pada Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup diuraikan dan dilengkapi matrik


yang berisi:
a. Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan yang mencakup dampak dan sumber
dampak,
b. Parameter lingkungan hidup yang dipantau
c. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup
d. Metode pemantauan lingkungan hidup, yang memuat:
i. Metode pengumpulan dan analisis data;
ii. Lokasi pemantauan lingkungan hidup;
iii. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan.
e. Institusi pemantauan lingkungan hidup, yang memuat:
i. Pelaksana yang bertanggungjawab melaksanakan pemantauan lingkungan;
ii. Pengawas pemantauan lingkungan
Format Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH)
Format Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH)
1. Penanggu Jawab Kegiatan

2. Lokasi Kegiatan
LANJUTAN - Format Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH)

3. Bidang Usaha dan/atau Kegiatan

4. Mulai Beroperasi
LANJUTAN - Format Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH)

5. Deskripsi Usaha dan/atau Kegiatan

Kegiatan
Utama

Kegiatan
Penduku
ng
LANJUTAN - Format Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup (DPLH)

Kapasitas

Sarana
Penunjan
g

Catatan:
Berbagai informasi pendukung deksripsi kegiatan dapat
disampaikan, baik berupa peta, gambar, foto, sketsa, tata
letak, dll.
Format DPLH: Matrik Pengelolaan Lingkungan Hidup

*) Kolom tindakan perbaikan pengelolaan lingkungan hidup ini wajib diisi apabila
upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan saat ini masih belum
memadai untuk memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundangan yang berlaku (baku mutu, baku kerusakan dan lain-lain)
Format DPLH: Matrik Pemantauan Lingkungan Hidup

*) Kolom tindakan perbaikan pemantauan lingkungan hidup ini wajib diisi apabila
upaya pemantauan lingkungan hidup yang dilaksanakan saat ini masih belum
memadai untuk memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundangan yang berlaku (baku mutu, baku kerusakan dan lain-lain).
Terima kasih
Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)


Deputi I Bidang Tata Lingkungan – Asdep Kajian Dampak Lingkungan

Jl. D.I. Panjaitan Kab. 24 Kebon Nanas Jakarta Timur 13410


Gedung A lanta 6, Telp/Fax: 021-85904925
http://www.menlh.go.id/