You are on page 1of 48
ASMA Shafa Medina 1210011098 Radinda Amalia 1210011 Preseptor : dr. Apen Afgani, SpPd

ASMA

ASMA Shafa Medina 1210011098 Radinda Amalia 1210011 Preseptor : dr. Apen Afgani, SpPd

Shafa Medina 1210011098

Radinda Amalia 1210011

ASMA Shafa Medina 1210011098 Radinda Amalia 1210011 Preseptor : dr. Apen Afgani, SpPd
ASMA Shafa Medina 1210011098 Radinda Amalia 1210011 Preseptor : dr. Apen Afgani, SpPd

Preseptor :

dr. Apen Afgani, SpPd

Anatomy of Respiratory System?

Anatomy of Respiratory System

Struktur

Upper : hidung dan faring

Fungsional

Lower : laring, trakea, bronkus, paru

Conducting zone : hidung, faring, laring, trakea,

 

bronkus, bronkeolus terminal. F(x) untuk

menghantarkan udara, filtrasi, humidifikasi, menghangatkan udara.

 

Respiratory zone : respiratory bronkeolus, alveolar duct, alveolar sac, alveoli. F(x) sebagai tempat pertukaran udara

Anatomy of bronchial tree

Trakea berakhir sejajar dengan sternal angle atau T5 yang kemudian bercabang menjadi primary bronkus kiri dan kanan sebelum masuk hilum

Didalam paru, primary bronkus bercabang menjadi secondary/ lobar bronkus (3 kanan dan 2 kiri) secondary bronkus bercabang menjadi 18-20 tertiary/segmental bronkus (10 kanan dan 8-10 kiri) bercabang menjadi 20-25 bronkeolus dan berakhir di terminal bronkeolus masing2 terminal bronkeolus bercabang menjadi 2 atau lebih respiratory broncheolus

Setiap respiratory broncheolus terdapat 2-11 alveolar duct setiap alveolar duct terdapat 5-6 alveolar sac yang terdapat alveoli

Alveoli akan terus berkembang sampai usia 8 tahun dan jumlahnya 300juta alveoli.

Histology of

bronchial

tree

Bronkus primer, sekunder, tersier

Mukosa

Epitel : epitel respiratory yang secara bertahap menurun dari ketinggian, sel

goblet, dan silia

Lamina propia : menurun dari ketebalannya dan elastic fiber meningkat. Terdapat mucous dan sereous gland

Submukosa : Pada primary bronkus kartilagonya complete namun secondary

dan tertiary berbentuk pulau2

Otot : beberapa lapis circular smooth muscle

Physiology of Ventilation

Inspirasi

Ekspirasi

Istirahat : otot diaphragma dan external intercostal. Otot tambahan : sternocleidomastoid, scalene, pectoralis

Proses parif karena relaksasi dari otot inspirasi. Exercise menjadi aktif karena kerja otot ekspirasi seperti otot abdomen dan internal intercostal

Physiology of Ventilation Inspirasi Ekspirasi ● Istirahat : otot diaphragma dan external intercostal. ● Otot tambahan
Physiology of Ventilation Inspirasi Ekspirasi ● Istirahat : otot diaphragma dan external intercostal. ● Otot tambahan

VOLUME & KAPASITAS PARU

VOLUME & KAPASITAS PARU

Volume Dinamis Paru-Paru

Volume Dinamis Paru-Paru FVC dan FEV1 tergantung pada tinggi, umur dan jenis kelamin pasien. Rasio FEV1/FVC

FVC dan FEV1 tergantung pada tinggi, umur dan jenis kelamin pasien.

Rasio FEV1/FVC = 75-80%

Spirometry

The most common of the Pulmonary Functions test Apparatus to measure lung volume recorded by spirometer (respirometer) resulting spirogram Specially Measurement the amount (volume) and or speed of air that can be inhaled and exhaled

Function Knowing the disease of lung ( Restrictive or Obstructive) and follow up terapy

Principle:

Breath to mouthpiece attached to a recording device, then information collected by the spirometer may be printed out on a chart called spirogram

Obstructive Lung Disease

  • - Tidak dapat menghembuskan udara (unable to get air out)

  • - FEV1/FVC < 75%

  • - Semakin rendah rasionya, semakin parah obstruksinya FEV1/FVC: 60-75% = mild

FEV1/FVC: 40-59% = moderate

FEV1/FVC: <40% = severe

Restrictive Lung Disease

  • - tidak dapat menarik napas(unable toget air in)

  • - FVC rendah; FEV1/FVC normal atau meningkat

  • - TLC berkurang sebagai Gold Standard

Mixed (cystic fibrosis with excess mucus)

Ekspirasi diperlama dengan peningkatan kurva perlahan mencapai plateau.

Kapasitas vital berkurang signifikan dibandingkan gangguan

obstruktif. Pola campuran ini, jika tidak terlalu parah, sulit dibedakan dengan pola obstruktif.

The peak expiratory flow (PEF), also called peak expiratory flow rate (PEFR) is a person's maximum speed of expiration, as measured with a peak flow meter, a small, hand-held device used to monitor a person's ability to breathe out air. It measures the airflow through the bronchi and thus the degree of obstruction in the airways.

Peak flow meter sering digunakan oleh pasien asma untuk mengukur jumlah udara yang dapat dihembuskan dari paru-paru.

Jika saluran nafas menyempit atau tersumbat karena asma, nilai peak flow akan menurun karena pasien tidak dapat menghembuskan udara dengan sempurna.

Peak flow meter berguna untuk memonitor pasien asma sepanjang waktu dan dapat untuk menentukan apakah pengobatan asma berhasil atau tidak.

ASMA

ASMA

Definisi : Penyakit inflamasi kronis pada

saluran pernapasan menyebabkan hiperresponsif,

obstruktif dan aliran

udara yeng terbatas, disebabkan oleh bronkokontriksi, penumpukan mukus,

dan proses inflamasi

INITIAL DIAGNOSIS

The following feature are typical of asthma

and, if present, increase the probability that the patient has asthma :

More than one symptom (wheeze, shortness of breath, cough, chest

tightness) Symptoms often worse at night or in the early morning Symptoms vary over time and intensity Symptoms are triggered by viral infection (colds), exercise, allergen exposur, change in weather, laughter, or iiritans .

The following feature decrease the probability that

respiratory symptoms are due to asthma :

Chronic production of sputum Shortness of breath associated with dizziness, light headedness or peripheral

tingling (paresthesia) Chest pain Exercise-induced dyspnea with noisy inspiration

DIAGNOSIS

DIAGNOSIS

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

ASSESMENT

OF ASTHMA

CONTROL

Drugs Uses in Astma

Drugs short-term relievers long-term controllers Bronkhodilator Antimuscarinic Agent LABA Anti inflamatory (Corticostreroidteroid)
Drugs
short-term relievers
long-term controllers
Bronkhodilator
Antimuscarinic Agent
LABA
Anti inflamatory
(Corticostreroidteroid)

Short Term Reliever

Bronchodilator :

■ β 2 -selective adrenoceptor agonist drugs: Salbutamol (albuterol), Terbutaline, Metaproterenol and Pirbuterol

Methylxanthine

drugs: Theophylline, Aminophylline, Theobromine, and Caffeine.

Antimuscarinic agents: Ipratropium bromide

long-term controllers

anti-inflammatory agent such as an inhaled corticosteroid, a leukotriene antagonist, an inhibitor of mast cell degranulation, eg, cromolyn or nedocromil long-acting -adrenoceptor stimulants, salmeterol and formoterol monoclonal anti-IgE antibody

Pharmacological Intervention

Controller

Penggunaan jangka panjang untuk menjaga asthma di bawah control sehingga tidak menimbulkan

serangan.

Inhaled Glucocorticoid (Sebagai agen antiinflamasi)

 

Budesonide : Low dose 200-400 ug , medium dose >500-1000 ug , high dose >1000-2000 ug

Ciclesonide : Low dose 80-160 ug , medium dose >160-320 ug , high dose >320-1280 ug

Glukokortikoid Sistemik

 

Pada pasien yang tidak mempan per inhalasi dan asma berat tidak terkontrol(sebagai reliever/control)

Prednisolone/prednisone:30-40 mg once daily , 5-10 day.

Leukotriene modifier

 

E.g., cysteinyl leukotriene 1 receptor antagonist dan 5 lipoxygenase inhibitor. Efek bronkodilator, mengurangi batuk, mneghambat inflamasi .

Long Acting Bronchodilator (inhaler) Beta 2 agonist per inhalasi

 

Formoterol dan selmeterol dikombinasikan dengan glukokortikoid .

Long Acting oral B 2 agonist

 

Salbutamol ,terbutaline , dan bambuterol

Theophyline

 

Dapat berperan sebagai anti inflamasi dan bronchodilator (High dose dapat menyebabkan gangguan

pencernaan arrhythmia

kejang

hingga kematian).

Reliever

Pengobatan untuk mengatasi bronchoconstriction dan meredakan gejala.

Rapid acting inhaled B2 agonist Meredakan bronchospasm E.g., salbutamol, terbutaline, Formoterol. Digunakan apabila serangan saja dengan dosis terendah. Glukokortikoid Sistemik Hanya untuk serangan akut yang sangat berat . Oral Prednisolone : 40-50 mg Atau hydrocortisone IV Setelah gejala mereda , tapering off lalu diganti dengan glukokortikoid per inhalasi Anticholinergic Ipatropium bromide / oxitropium bromide theophyline

Non-pharmacological Intervention

Menghentikan merokok dan menghindari paparan asap rokok Melakukan aktivitas fisik (e.g., renang) Hindari allergen yang menjadi pencetus munculnya asthma Hindari emotional stress

MANAGEMENT

MANAGEMENT

STAGE 1:

Pilihan pertama: SABA

Diberikan pada pasien dengan gejala harian (<2 hari dalam sebulan), dengan durasi yang pendek, tanpa terbangun pada malam hari, dan fungsi paru yang normal.

Pilihan lain : low dose ICS

Pasien dengan resiko eksaserbasi

SIX-PART PROGRAM TO MANAGE AND CONTROL ASTHMA

1.

Educate Memberikan pendidikan kepada pasien untuk membentuk kerjasama dalam pengobatan asthma (+) dengan bantuan dokter, pasien dapat mencegah

serangan asthma dan dapat hidup lebih produktif. Pasien dapat mempelajari bagaimana.
2. Assess and Monitor Menilai dan mengamati tingkat keparahan serangan asthma dengan mengukur gejala dan fungsi paru. (+) dokter dapat memberikan beberapa pertanyaan

mengenai keefektifan management, penggunaan inhaler,

dan keluhan asthmanya. Fungsi paru dapat dilihat dengan

menggunakan spirometry.
3. Avoid Hindari paparan terhadap faktor resiko. (+) pasien diharapkan meningkatkan pengontrolan terhadap

paparan faktor yang dapat membuatnya asthma sehingga

dapat menurunkan penggunaan obat-obatan. Cara

mengetahui allergen pasien dapat dilakukan dengan cara skin prick test.
4. Establish control

Menetapkan rencana pengobatan asthma untuk

manajemen dalam jangka waktu yang panjang pada bayi, anak dan dewasa.

Pasien dapat memakai obat-obatan sehari-hari. Bisa berupa obat untuk mengkontrol agar tidak terjadi serangan ataupun obat reliever ketika terjadi serangan asthma.
5. Establish reliever Menetapkan rencana pengobatan untuk memanajemen saat serangan asthma Serangan asthma dapat berupa adanya peningkatan dari gejala- gejala seperti sesak napas, batuk, mengi, atau

perasaan seperti dada yang tertekan. Pasien jangan

mengabaikan serangan asthma, karena serangan asthma bisa tiba-tiba menjadi parah.
6. Provide follow up care Fasilitas kesehatan menyediakan follow up care yang reguler

Pasien asthma butuh perhatian dari tenaga kesehatan

sehingga dapat memenuhi target pengobatannya. Dari dokter umum sampai dokter spesialis ikut berperan.

Manajemen eksaserbasi (pada

primary care)

Manajemen eksaserbasi (pada primary care)
Manajemen eksaserbasi (pada primary care)
emergency)
emergency)

Manajemen eksaserbasi (pada

Terimakas

ih

The Experiment

Materials

Found around the house!

2 drinking glasses Table salt 2 eggs Water

Procedure

  • 1. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua

  • 2. Incididunt ut labore et dolore

  • 3. Consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua

  • 4. Incididunt ut labore et dolore

Procedure 1. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut
Procedure 1. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut
Procedure 1. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut

Hypothesis

Tell the audience what you expect to happen ...

Hypothesis support

I think this is what’s going to happen because…

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur

adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna

aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis

nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut

aliquip.

Variables that may affect the outcome ...

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit Sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua

The experiment

Conclusion

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor

incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis

nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip.