You are on page 1of 25

BAB X

PENENTUAN TARIF
PELAYANAN PUBLIK
Dasar Penentuan Tarif Pelayanan Publik
• Penyediaan pelayanan publik membutuhkan biaya pelayanan
(cost of service production).
• Sumber biaya penyediaan pelayanan publik :
– Penarikan pajak
• apabila penentuan harga pelayanan tersebut tidak
mungkin dilakukan.
• Pelayanan pertahanan dan keamanan, kepolisian,
peradilan.
– Penjualan pelayanan tersebut kepada masyarakat sebagai
pengguna jasa publik (charging for service).
• Apabila terdapat harga publiknya,
• Terdapat kemudahan dalam pengumpulannya,
• Terdapat manfaat yang diterima langsung dari pembeli
layanan.
• Pelayanan penyediaan air bersih, pelayanan listrik dan
energi, pelayanan tempat rekreasi (pariwisata),
pelayanan jalan tol, pelayanan perizinan.
Dasar dalam penentuan harga pelayanan
• Pendapatan yang diinginkan.
• Biaya untuk menghasilkan pelayanan.
• Produk pelayanan.
• Pasar pelayanan.
Pendapatan yang diinginkan.
– Pendapatan bersih setelah dikurangi biaya
(’laba’) yang diinginkan dari pelayanan
tersebut.
– Pendapatan bersih yang dibutuhkan untuk
meningkatkan pendapatan daerah (PAD)

Biaya untuk menghasilkan pelayanan.


– Total biaya untuk menghasilkan pelayanan
– Komponen-komponen biaya untuk
menghasilkan pelayanan
Produk pelayanan.
– Harga produk pelayanan yang logis untuk diterapkan
– Harga pelayanan yang sudah sepadan dengan kualitas
pelayanan.
– Adanya diskriminasi produk pelayanan sehingga
diperlukan diskriminasi harga

Pasar pelayanan.
– Permintaan terhadap produk pelayanan yang elastis
atau inelastis
– Pelanggan atau pengguna layanan tersebut
– Keberadaan produk pelayanan di pasar yang homogen
atau heterogen
– Persaingan dalam penyediaan pelayanan tersebut.
Biaya Produksi Pelayanan
• Penentuan harga pelayanan
– Informasi tentang biaya untuk menghasilkan
pelayanan.
– Diidentifikasi dan dihitung mengenai struktur biaya.
– Struktur biaya faktor penting untuk harga jual.
• Struktur biaya
– adalah komposisi antara biaya tetap dengan biaya
variabel.
• Menekan biaya pelayanan agar mampu
memberikan pelayanan publik yang murah dan
berkualitas.
Metode Penentuan Harga Pelayanan
Publik.
• Gross Margin Pricing
• Full cost pricing
• Direct cost pricing
• Time and material pricing
• Subsidized cost pricing
• Target pricing
• Marginal cost pricing.
Gross Margin Pricing
• Umumnya digunakan oleh perusahaan dagang.
– Perusahaan yang tidak membuat sendiri produk yang dijual
tetapi hanya membeli dari pemasok (supplier) kemudian
menjualnya kepada pelanggan.
• Dilakukan dengan cara menambahkan persentase tertentu
(mark up) di atas harga pokok produk yang dibeli.
– Bagian untuk menutup biaya operasi
– Bagian yang merupakan laba yang diinginkan.
• Sebagai contoh: harga pokok suatu produk yang dibeli
dari suplier adalah sebesar Rp. 5.000,-. Margin yang
ditetapkan sebesar 20%, maka harga jualnya adalah:
Harga pokok produk Rp. 5000,-
Margin (20% x Rp. 5000,-) Rp. 1.000
Harga jual Rp. 6.000,-,-
Full Cost Pricing
• Adalah penentuan harga jual dengan
mempertimbangkan seluruh jenis biaya, baik
biaya tetap maupun biaya variabel, untuk
menghasilkan barang atau jasa.
• Harga jual ditetapkan dengan cara
– Menghitung semua biaya untuk membuat produk
barang atau jasa (biaya produksi) ditambah presentase
keuntungan (margin) ditambah biaya operasi.
• Metode full cost pricing dapat diformulasikan
sebagai berikut:
Biaya produksi total + (margin x biaya produksi
total) + biaya operasi.
Penghitungan harga suatu produk pelayanan dengan
metode full cost pricing:
• Bahan baku 10.000
• Tenaga kerja langsung 5.000
• Overhead variabel 15.000
• Overhead tetap 5.000
• Jumlah biaya produksi 35.000
• Biaya operasi Variabel 3.500
• Biaya operasi tetap 1.500
• Jumlah biaya operasi 5.000
• Total biaya 40.000
• Marinal income diinginkan 20% x 35.000 7.000
• Harga jual produk 47.000
Direct Cost Pricing
• Menetapkan harga jual hanya dengan menghitung
biaya variabel saja (variable cost pricing)
• Diterapkan pada produk yang diproduksi tetapi
melebih daya serap pasar karena over produksi
– Memanfaatkan kapasitas yang menganggur.
– Dipasarkan pada pasar yang berbeda namun dengan tidak
merusak pasaran produk di pasaran bebas.
• Dikenal dengan nama Marginal income pricing
– Hanya memperhitungkan biaya-biaya yang
berhubungan secara proporsional dengan
volume/penjualan sehingga menghasilkan
tambahan pendapatan (marginal income)
Penentuan harga suatu produk pelayanan dengan
metode direct cost pricing:
• Bahan baku 10.000
• Tenaga kerja langsung 5.000
• Overhead variabel 15.000
• Jumlah biaya variabel 30.000
• Marginal income diinginkan 20% x 30.000 6.000
• Harga jual produk 36.000
Time and Material Pricing
• Banyak digunakan pada perusahaan jasa,
• Perusahaan servis kendaraan, notaris, percetakan,
konsultan.
• Bisa diaplikasikan pada pemda yang juga
memiliki kemiripan dengan organisasi jasa.
• Harga jual atau tarif pelayanan
– Ditentukan dari upah tenaga kerja langsung dan biaya
bahan baku dan bahan penolong yang digunakan
untuk menghasilkan pelayanan ditambah dengan
margin tertentu untuk menutup biaya overhead dan
memperoleh laba.
Contoh :
• Untuk mencetak KTP untuk setiap kartu yang
dicetak, pemerintah mengeluarkan biaya sebagai
berikut;
• Bahan seperti kertas dan plastik 1.500
• Upah tenaga kerja langsung 1.000
• Jasa penggunaan alat cetak dan press 1.500
• Pemerintah menentukan akan mengambil
tambahan untuk menutup indirect cost sebesar
25%.
Dengan demikian harga jual atau tarif
pelayanan KTP tersebut:
• Bahan seperti kertas dan plastik 1.500
• Upah tenaga kerja langsung 1.000
• Jasa penggunaan alat cetak dan press 1.500
• Jumlah total biaya 4.000
• Margin diinginkan 25% x 4.000 1.000
• Harga jual produk pelayanan KTP 5.000
Subsidized Cost Pricing
• Penentuan harga jual dengan mempertimbangkan
seluruh biaya dikurangi dengan subsidi yang
diberikan.
• Jika pada metode yang lain pada umumnya harga
jual dihitung dengan menambahkan margin atau
mark up atas biaya yang terjadi.
• Pada metode subsidized cost pricing justru dikurangi
atau dilakukan mark down terhadap total biaya
produksi barang atau pelayanan.
• Subsidized cost pricing banyak dilakukan
pemerintah.
– Dalam penentuan harga jual pelayanan kesehatan,
pelayanan pendidikan, harga pupuk dan produk pertanian,
listrik untuk penduduk miskin, transportasi kereta api
kelas ekonomi, harga bensin.
Target Pricing
• Penentuan harga barang atau pelayanan publik
yang sudah ditentukan terlebih dahulu, sehingga
justru biayanya yang harus ditekan melalui
efisiensi.
Target pricing bisa terjadi karena dua sebab:
• Adanya persaingan yang tajam dalam pasar
persaingan sempurna sehingga harga pelayanan
ditentukan harga pasar.
• Adanya kebijakan pemerintah yang mewajibkan
penyedia layanan publik menjual harga pelayanan
pada tingkat tertentu.
Marginal Cost Pricing.
• Penentuan harga jual yang menyatakan bahwa
harga jual atau tarif yang dipungut harus sama
dengan biaya untuk malayani tambahan
konsumen (marginal cost).
• Marginal cost pricing
– Biaya operasi variabel dan biaya overhead
semivariabel yang terjadi ditambah dengan biaya
penggantian atas aset modal yang sudah usang, dan
biaya penambahan aset modal untuk meningkatkan
kapasitas produksi yang digunakan untuk memenuhi
tambahan permintaan.
• Dalam praktiknya metode penentuan harga
dengan marginal cost pricing menemui beberapa
kesulitan.
– Ketidakmampuan menghitung secara tepat
marginal cost untuk jenis pelayanan tertentu.
– Data biaya kadang sulit diperoleh
• Data biaya penggantian aset modal lama
(historic capital cost).
– Marginal cost pricing tidaksama dengan full
cost recovery. Historic capital cost dan total
biaya operasi tidak dapat dipulihkan
sepenuhnya.
Prinsip Pemulihan Biaya (cost Recovery)
• Organisasi sektor publik memiliki karakteristik
spesifik yang berbeda dengan sektor bisnis,
– Sektor bisnis tujuan utamanya memaksimalkan
laba.
– Sektor publik tujuan utamanya adalah
memaksimalkan pelayanan publik (nonprofit
motive).
• Namun untuk memberikan pelayanan publik yang
berkualitas diperlukan biaya.
– Dalam hal tertentu dibenarkan menjual atau
memungut tarif atas beberapa jenis pelayanan
kepada masyarakat yang menggunakan
pelayanan tersebut.
• Penjualan pelayanan publik bukan untuk mengejar
laba,
– Tetapi untuk memulihkan biaya pelayanan.
– Prinsip ini disebut cost recovery.
– Perlu mempertimbangkan keadilan (equity) dan
kemampuan masyarakat untuk membayar
(ability to pay).
– Jika masyarakat tidak mampu membayar, maka
tidak harus full cost recovery, tetapi perlu
disubsidi.
– Tetapi sepanjang masyarakat mampu membayar
dan penetapan harga jual pelayanan tersebut
tidak menimbulkan ekses ekonomi, sosial dan
politik yang negatif, maka full cost recovery
dapat diterapkan.
Diferensiasi Harga Pelayanan Publik
• Harga pelayanan dapat dibedakan antara
pengguna satu dan yang lain atau dengan kata lain
terdapat deferensiasi harga.
– Yang menikmati pelayanan lebih baik atau
lebih banyak dapat dikenakan harga atau tariff
yang lebih tinggi.
– Pelayanan kereta api kelas eksekutif, bisnis dan
ekonomi.
Perusahaan PDAM, perusahaan bisa
menerapkan diferensiasi harga
• Berdasarkan kemampuan masyarakat
untuk membeli, bukan karena perbedaan
kualitas air yang diterima pelanggan.
• Masyarakat yang tinggal diperumahan elit
dapat diterapkan harga yang lebih tinggi
daripada masyarakat yang tinggal di
perkampungan.
• Tidak pada semua jenis pelayanan dapat
diterapkan diferensiasi harga.
– Pengurusan KTP, SIM, Akta Kelahiran, Surat
Nikah, tidak bisa dilakukan diskriminasi
harga, misalnya yang kaya harus membayar
lebih mahal.
– Pada dasarnya pelayanan administrasi
tersebut sama untuk semua warga Negara,
tidak ada diskriminasi pelayanan. Masing-
masing menerima pelayanan yang sama dan
kewajiban yang sama pula.
REFERENSI
• Davey, K. J. 1988. Pembiayaan Pemerintah Daerah, penerjemah
Amanulah, dkk. Jakarta: UI Press
• Devas, Nick. Brian Binder. Anne Booth. Kenneth Davey. Roy Kelly. 1989.
Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Penerjemah Masri Maris.
Jakarta: UI Press.
• Suparmoko, M.. 2000. Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek. Edisi
lima. Yogjakarta. BPFE
• Halim, Abdul. 2004. Bunga Rampai Manajemen Keuangan Daerah,
Yogajakarta: Unit Penerbit dan Percetakan (UPP) AMP YKPN.
• Mardiasmo. 2004. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah.
Penerbit Andi. Yogjakarta.
• Prakoso, Kesit Bambang. 2005. Pajak dan Retribusi Daerah. Yogjakarta:
UII Press.
• Kurniawan, Panca. Agus Purwanto. 2006. Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah di Indonesia. Malang: Bayumedia Publishing.
• Muhammad Tahwin. 2009. Analisis Penerimaan Pajak Daerah
Kabupaten Rembang. Thesis. Program Pascasarjana MIESP.Undip
Semarang (tidak dipublikasikan)
• Mahmudi. 2010. Manajemen Keuangan Daerah. Penerbit Erlangga.
Jakarta.