You are on page 1of 31

HIDUNG BUNTU

Stefanny Claudia Sengkey 1522316053


PILEK

Pilek (common cold) adalah penyakit infeksi saluran


pernafasan akut (ISPA) bagian atas. Pilek merupakan penyakit
yang paling umum dan sering ditemui, dapat menyerang anak-
anak maupun lanjut usia. Penyakit pilek sering diikuti dengan
peradangan tonsil/amandel dan radang tenggorokan
MEKANISME PILEK
 Alergen yang masuk tubuh melalui saluran pernafasan, kulit, saluran
pencernaan dan lain-lain akan ditangkap oleh makrofag yang bekerja
sebagai antigen presenting cells (APC).
 Setelah alergen diproses dalam sel APC, kemudian oleh sel tersebut,
alergen dipresentasikan ke sel Th. Sel APC melalui penglepasan interleukin
I (II-1) mengaktifkan sel Th. Melalui penglepasan Interleukin 2 (II-2) oleh
sel Th yang diaktifkan, kepada sel B diberikan signal untuk berproliferasi
menjadi sel plasma dan membentuk IgE.
 IgE yang terbentuk akan segera diikat oleh mastosit yang ada dalam
jaringan dan basofil yang ada dalam sirkulasi. Hal ini dimungkinkan oleh
karena kedua sel tersebut pada permukaannya memiliki reseptor untuk
IgE. Sel eosinofil, makrofag dan trombosit juga memiliki reseptor untuk IgE
tetapi dengan afinitas yang lemah.
 Bila orang yang sudah rentan itu terpapar kedua kali atau lebih dengan
allergen yang sama, allergen yang masuk tubuh akan diikat oleh IgE yang
sudah ada pada permukaan mastofit dan basofil. Ikatan tersebut akan
menimbulkan influk Ca++ kedalam sel dan terjadi perubahan dalam sel yang
menurunkan kadar cAMP.
 Kadar cAMP yang menurun itu akan menimbulkan degranulasi sel. Dalam
proses degranulasi sel ini yang pertama kali dikeluarkan adalah mediator
yang sudah terkandung dalam granul-granul (preformed) di dalam sitoplasma
yang mempunyai sifat biologik, yaitu histamin, Eosinophil Chemotactic
Factor-A (ECF-A), Neutrophil Chemotactic Factor (NCF), trypase dan kinin.
Efek yang segera terlihat oleh mediator tersebut ialah obstruksi oleh
histamin.
 Histamin menyebabkan Vasodilatasi, penurunan tekanan kapiler &
permeabilitas, sekresi mukus
 Sekresi mukus yang berlebih itulah yang menghasilkan pilek
 Pilek akibat kontak fisik dengan zat iritan dan disebabkan adanya gangguan
keseimbangan fungsi-fungsi saraf pada hidung disebut juga pilek non alergi.
Artinya, permukaan dalam hidung mudah mengalami pembengkakan yang
menimbulkan keluhan hidung tersumbat, memudahkan timbulnya
rangsangan pada permukaannya dan keluarnya cairan yang berlebihan
sehingga timbul pilek.
 Faktor-faktor pencetus yang telah diketahui antara lain keadaan fisik
lingkungan (udara yang terlalu lembab, suhu udara yang dingin), faktor psikis
(stres), gangguan hormonal, dan pemakaian obat-obatan seperti obat anti
hipertensi.
 Gejala yang ditimbulkan hampir sama seperti pilek alergi, hanya saja saat
dilakukan tes alergi hasilnya negatif.
SALESMA

 Selesma merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh virus. Biasanya


menular melalui kontak langsung atau melalui sekret yang dikeluarkan oleh penderita
saat batuk atau bersin. Virus memasuki tubuh melalui mulut atau hidung, sesudah
berjabatan tangan dengan seseorang yang sedang pilek dan menggunakan barang-
barang secara bersama seperti gelas, handuk, telepon.
 Gejala selesma :
oHidung gatal
oHidung tersumbat
oSulit bernafas melalui hidung
oBatuk
oNyeri tenggorokan
RHINITIS ALERGI

 Pilek alergi dikenal dengan istilah rhinitis alergi. Pada pilek alergi, faktor
kepekaan penderita merupakan kunci utama timbulnya keluhan ini.
Kepekaan penderita terhadap suatu bahan, zat, makanan tertentu, dan
udara dapat mencetuskan keluhan ini.
 Pilek alergi umumnya bersifat menahun, gejala yang ditimbulkannya
bersifat hilang timbul berupa bersin-bersin yang mengganggu, hidung
terasa tersumbat, disertai keluar cairan encer dan bening.
 Keluhan ini berlangsung tiap kali penderita kontak dengan bahan yang
menjadi penyebab alergi
SINUSITIS

 Penyebab sinusitis adalah pilek terutama pilek yang


menahun.
 Prosesnya, ketika pilek, hidung menjadi tersumbat.
Sementara itu, di dalam sinus terdapat lubang
drainase, jika sering pilek maka lubang drainase ini
akan tertutup. Sehingga terjadi gangguan drainase
yang bisa menyebabkan sinusitis.
 Jika yang terkena sinus frontalis, nyeri biasanya
dirasakan di dahi. Sedangkan jika yang terkena
adalah sinus ethmoidalis, nyeri akan terasa di
bagian belakang dan antara mata, serta dahi.
TERAPI

Dekongestan
 Bekerja dengan melakukan penyempitan pembuluh darah kapiler.
 Dekongestan Sistemik, seperti pseudoefedrin, efedrin, dan fenilpropanolamin
 Dekongestan Topikal, digunakan untuk rinitis akut yang merupakan radang selaput lendir
hidung
 Efedrin digunakan sebagai dekongestan hidung, bekerja sebagai vasokonstriktor lokal bila
diberikan secara topikal pada permukaan mukosa hidung, karena itu bermanfaat dalam
pengobatan kongesti hidung
 Pseudoefedrin, Isomer dekstro dari efedrin dengan mekanisme kerja yang sama, namun
daya bronkodilatasinya lebih lemah, tetapi efek sampingnya terhadap SSP dan jantung
lebih ringan.
PENEKAN BATUK

 Ekspektoran  untuk meningkatkan sekresi saluran pernapasan. Sekresi tidak


hanya melindungi mukosa saluran pernapasan, tetapi juga mengurangi
kekentalan sputum. Sputum yang tipis lebih mudah mengalir dan dikeluarkan.
Contoh: gliseril guaiakolat.
 Mukolitik  untuk mengencerkan dahak akibat produksi dahak yang berlebihan.
Contoh: ambroxol HCl.
 Antitusif  untuk menyembuhkan batuk dengan menekan sistem saraf pusat.
Beberapa antitusif mengandung kodein yang berefek anestetik dan
menyebabkan pusing. Contoh: kodein HCl, dekstrometorfan.
Antihistamin
 Antagonis reseptor H1 berikatan dengan reseptor H1 tanpa mengaktivasi
reseptor, yang mencegah ikatan dan kerja histamine. Antihistamin lebih
efektif dalam mencegah respon histamine daripada melawannya.
 Antihistamin oral dapat dibagi menjadi dua katogori utama: nonselektif
(generasi pertama atau antihistamin sedasi) dan selektif perifer (generasi
kedua atau antihistamin nonsedasi).
NASAL STEROID

Adapun mekanisme kerja dari nasal steroid adalah sebagai berikut:


 Menurunkan inflamasi dengan jalan menurunkan pengeluaran mediator
inflamasi
 Menekan kemotaksis neutrofil
 Menurunkan edema intraseluler
 Menyebabkan vaskonstriksi menengah
 Menghambat reaksi fase akhir yang diperantarai oleh sel mast
HIDUNG BERBAU
DEFINISI

 Foetor ex Nasi (Hidung Berbau) adalah bau busuk dari dalam hidung yang
merupakan suatu gejala dari sebuah penyakit, biasanya disertai dengan
gejala hidung lain seperti hidung tersumbat, keluar cairan dari hidung
(darah, pus, dll)
 Nama lain : Offensive Odor, stinkende afscheiding, a stench
ETIOLOGI

 Corpus Alienum
 Rhinolit
 Difteri Hidung
 Sinusitis
 Ozaena (Rhinitis Atrofi)
 Nasofaringitis Kronis
 Rhinitis Kaseosa
 Menurut BOIES
Foetor ex Nasi terjadi akibat adanya nekrosis dari mukosa dan terdapat organisme
saprofit didalamnya, selain itu juga bisa disebabkan pus yang kronis dan berbau dalam
sinus maksilaris yang berasal dari gigi.
 Menurut BOYD
Nekrosis sebagai penyebab foetor ex nasi dapat disebabkan oleh :
1.Suplai darah <<<
2.Toksin Bakteri
3.Iritasi Fisik maupun Kimiawi sehingga jaringan yang nekrosis tersebut akan
mengalami pembusukan oleh organisme saprofit
Secara Umum dapat disimpulkan bahwa penyebab Foetor ex Nasi adalah :
1. Pembusukan sel-sel mati atau Corpus Alienum oleh kuman saprofit
2. Pembusukan jaringan Nekrotik akibat trauma, radang karena iritasi fisik
atau kimiawi, toksin bakteri, neoplasma maligna
DIAGNOSIS

ANAMNESIS
 Keluhan Pasien : Bau busuk dari hidung yang disadari pasien dan atau
orang lain, disertai discharge atau tidak, bau busuk pada kedua lubang
hidung atau salah satu.
Pemeriksaan Fisik
 Jika terdapat discharge perlu ditentukan apakah purulent/sanguinous dan
banyak/sedikit, bau discharge seperti apa, warna discharge, dan lain-lain
sesuai etiologi.
KORPUS ALIENUM

 Sering terjadi pada anak-anak, biasanya unilateral


 Rute : Anterior hidung – biasanya ditemukan di anterior vestibulum atau meatus
inferior sepanjang dasar hidung
 Benda Logam (Kancing, dll) dan Non Logam (Biji buah, manik-manik, kelereng,
batu, kacangkacangan,dll)
 Gejala : Halitosis, Rhinitis unilateral dengan kausa tidak jelas, Obstruksi hidung,
Tanda-tanda infeksi, Tanda iritasi, Edema, Luka bakar (jika corpal = baterai)
 Tatalaksana : Ekstraksi Corpus Alienum
RHINOLIT

 Benda asing berasal dari garam yang tidak larut dalam sekret hidung dan
membentuk massa berkapur sebesar benda asing yang tertahan lama atau
bekuan darah.
 Sering terjadi pada orang dewasa, unilateral
 Warna massa : abu-abu, coklat, hitam kehijauan
 Konsistensi massa : lunak – keras, rapuh atau porus
 Terapi : Ekstraksi Rhinolit
DIFTERI HIDUNG

Ada 2 tipe difteri hidung yaitu:


1. Primer : terbatas dalam hidung, benigna
2. Sekunder : berasal atau bersama-sama dengan difteri faring, maligna
Gejala klinis :
Demam, Discharge bilateral (sanguinous), ekskoriasi vestibulum nasi, Toksemia ,
Limfadenitis, Paralisis otot pernapasan
Terapi :
Antibiotika, ADS, salep antibiotika untuk cegah dermatitis akibat nasal discharge
SINUSITIS

 Bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, bersifat unilateral atau bilateral
 Pada anak-anak discharge banyak (bilateral >>) , infeksi adenoid, alergi
 Gejala : obstruksi nasal, persistent mucopurulent discharge, frequent colds
 Pada Dewasa = anak-anak tetapi penderita dewasa menyadari bahwa terdapat bau
tidak enak pada hidungnya
 Bisa terjadi hiposmia jika ada obstruksi dan bersifat temporer
 Terapi
oMembersihkan discharge, memperbaiki ventilasi dan drainas
oAntibiotika yg sesuai
oTindakan operatif
OZAENA

 Ozaena = rhinitis chronica atrophicans cum foetida


 Karakteristik
oAtropi mukosa dan jaringan pengikat submucosa struktur fossa nasalis
oKrusta kuning kehijauan dan discharge berbau
oBilateral
oPasien Anosmia, Orang lain tidak tahan bau hidung pasien
 Penderita wanita > Pria, usia pubertas >>
 Terapi Konservatif dan atau dikombinasi dengan terapi operatif
NASOFARINGITIS KRONIK

 Pada nasofaring terdapat jaringan limpoid, adenoid yang dapat ditempati


oleh bakteri-bakteri dalam kripte.
 Infeksi virus (+), bakteri yg menetap pada limpoid dan adenoid menjadi
virulen, meluas ke semua arah.
 Sifat : Self Limiting atau Kronis, tergantung daya tahan tubuh
 Kronis : discharge purulent (+) bilateral, berbau
 Terapi : menghilangkan discharge yang lengket di nasofaring, antibiotika,
dan tetes hidung
RHINITIS KASEOSA

adalah perubahan kronis inflamatoar dalam hidung dengan adanya


pembentukan jaringan granulasi dan akumulasi massa seperti keju yang
menyerupai kolesteatoma.
Terapi
 Membersihkan discharge, memperbaiki ventilasi dan drainase
 Antibiotika yg sesuai
 Tindakan operatif
RADANG KRONIK SPESIFIK

 Sifilis tertier -> gumma pada septum bagian tulang (vomer) s/d palatum
durum, bisa nekrosis -> perforasi septum. Foetor bilateral
 TB -> Tuberkuloma mengenai septum bagian kartilago, bisa nekrosis ->
perforasi septum. Foetor bilateral
 Sifilis vs TB -> CBC dan Biopsi, Nasal swab, FotoThorax
 Terapi spesifik sesuai kausa
NEOPLASMA MALIGNA

 Gejala tersering : obstruksi nasal unilateral dan perdarahan nasal.


 Diagnosis dengan Biopsi pada bagian jaringan tidak nekrotik
 Perlu tindakan sedini mungkin
 Terapi : Operatif, Radioterapi atau Kemoterapi, dan atau Kombinasi
PROGNOSIS

 Korpus alienum dan rinolit setelah ekstraksi pada umumnya baik


 Prognosis untuk radang pada umumnya baik. Adanya bermacam-macam
antibiotika dapat memperkecil insidens, komplikasi dan mortalitas
 Khusus Ozaena prognosis sesuai dengan derajat : Ringan ( konservatif atau
kombinasi , prognosis baik (sembuh 100%)), Sedang (terapi kombinasi
75%-83% berhasil baik, bisa residif), Berat (Konservatif dan Operatif tidak
berhasil (hasilnya 0%) -> operasi tidak dianjurkan)
PENCEGAHAN

 Menjaga kebersihan
 Meningkatkan daya tahan tubuh
 Mencegah infeksi kronis
TERIMA KASIH