You are on page 1of 65

MANAJEMEN K3 SARANA, PRASARANA

DAN LIMBAH RUMAH SAKIT

PENINGKATAN KAPABILITAS PETUGAS


K3 RUMAH SAKIT

DIREKTORAT BINA KESEHATAN KERJA


DEPARTEMEN KESEHATAN RI

Salatiga, 26-28 Oktober 2009

Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan


MENGAPA MANAJEMEN PERLU
???

TUJUAN YANG
DITETAPKAN
PENDAHULUAN

Pengertian Manajemen
• Manajemen sebagai proses/usaha/aktivitas
• Manajemen sebagai seni ( art )
• Manajemen terdiri dari orang-orang yang melakukan aktivitas
• Manajemen menggunakan berbagai sumber-sumber yg tersedia
dengan cara efisien dan efektif
• Adanya tujuan yang telah ditetapkan bersama

Manajemen Planning Karyawan Tujuan


Organizing
Directing
Coordinating
Controlling
MANAJEMEn

Untuk penerapan
pencapaian pengelolaan
K3 di Rumah Sakit secara
aman, handal,
berkesinambungan,
efisien dan efektif.
James Reason “Human Error”
Cambridge Univ Press, 1990
Bahasa Istilah Arti Semula
Latin Resecare Membelah (Memotong) *
Yunani Rhiza Batu Karang *
Prancis Risque ---
Italia Risco, Risico, Rischio ---
Inggris Risk ---
Belanda Risico ---
Indonesia Risiko ---

Risiko = Probabilitas x Konsekuensi


Konsekuensi = Hazard x Pemajanan
Pemajanan = Konsentrasi x Waktu

Risiko = Probabilitas x Hazard x Konsentrasi x Waktu


BAHAYA POTENSIAL K3 YANG ADA DI
LINGKUNGAN KERJA

BAHAYA FISIK
Meliputi : Bising, suhu, vibrasi, tekanan, pencahayaan dll

BAHAYA KIMIA
Meliputi : pelarut organik (methanol, benzena,
karbon tetraklorida, karbon disulfida dll)

BAHAYA BIOLOGI
Meliputi : virus, cacing, bakteri, plasmodium, jamur dll

BAHAYA ERGONOMI
Meliputi : Gangguan Kecelakaan/kenyamanan kerja

BAHAYA PSIKOSOSIAL
Meliputi : bahya stress pada pekerja
Prinsip dasar penerapan K3

Risk assessment Tindakan


identifikasi & Pengendalian
analisa potensi bahaya
bahaya

HAZARD CONTROL
HIRARKI PENGENDALIAN
RISIKO

Menghilangkan

Penggantian

Engineering/rekayasa

Administrasi

Alat Pelindung Diri

10
PROGRAM MANAJEMEN K3 S P
Pelaksanaan Program :
Untuk terlaksananya program aksi dalam kegiatan
manjemen K3 S P diperlukan pengkajian-pengkajian khusus
yang bersifat teknis, non teknis dan ekonomis
Pengkajian teknis :
Pengkajian atas metode yang paling mungkin dan efektif
untuk indentifikasi sumber bahaya, penilaian & pengendalian
resiko
Pengkajian non teknis :
Berkaitan dengan hal-hal yang menghambat pelaksanaan,
seperti mengganggu aktifitas pelayanan rumah sakit.
Pengkajian ekonomis :
Perkaitan dengan layak tidaknya secara keuangan program
yang akan dilaksanakan
PENERAPAN MANAJEMEN S P
A. Monitoring
Perlu Survei dan Audit S P
Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kondisi
aktual S P serta segala aspek yang
mempengaruhinya

Audit SP dilakukan pada :


Sistem Sarana RS (Arsitektur Medik)
Sistem Prasarana RS (Listrik RS, Gas Medis, Limbah
RS, dll)
PENERAPAN MANAJEMEN K3 S P
B. Evaluasi
Dilakukan evaluasi atas hasil audit S P
Hasil audit dibandingkan dengan aturan-aturan
standar dan benchmarking dengan Sarana dan
Prasarana di Rumah Sakit.
Perbandingkan terhadap standar-standar
Sistem Arsitektur Medik RS.
Sistem Kelistrikan RS
Sistem Gas medis RS
Sistem Pengelolaan Limbah RS
dll
SARANA RS
Struktur/ Arsitektur
Kontruksi Medik
Gawat
Darurat
Rawat
Jalan RUMAH Rawat
Intensif
SAKIT
Penunjang:
- Radiologi Rawat
- Laboratorium Inap
- CSSD
- Farmasi Tindakan: Perkantoran:
- dll - Bedah Sentral - Direksi
- Fisiotherapy - Sekretariat
- dll

14
PRASARANA RS
Listrik

Air Gas Medis

Uap Air /
RUMAH SAKIT Alat Transportasi
Steam
Dalam Gedung

Alat
Komunikasi Pengkondisian
Pemadam
Udara
Kebakaran

15
LIMBAH RS

Limbah Gas

LIMBAH RS

Limbah Cair
Limbah Padat
Medis dan Non Medis

16
PENGELOLAAN K3 LIMBAH
SUMBER LIMBAH

JENIS KARAKTERISTIK
(PADAT,CAIR LIMBAH
(FISIK, KIMIA
DAN GAS) DAN BIOLOGI)

FASILITAS
PENGOLAH LIMBAH

JENIS BAHAYA

FAKTOR BAHAYA/RESIKO
Strategi Penanganan limbah
Strategi lama :
Penanganan limbah secara ‘tradisional’ atau disebut
pula dengan pengelolaan secara end of pipe
treatment.
Strategi baru :
Penanganan limbah secara terpadu, yaitu melalui
upaya minimisasi limbah (Front of pipe treatment).
Minimisasi limbah (waste minimization) :
Upaya mengurangi volume, konsentrasi, toksisitas,
dan tingkat bahaya limbah yang berasal dari proses
produksi, dengan jalan reduksi pada sumbernya dan
atau pemanfaatan limbah (3 R)
PERENCANAAN PENGELOLAAN
LIMBAH
Identifikasi aspek-aspek penanganan limbah Sarkes
 Identifikasi jenis dan karakteristik limbah
Sarkes
 Identifikasi sumber-sumber limbah Sarkes
 Identifikasi fasilitas pengolahan limbah Sarkes
 Identifikasi jenis bahaya limbah Sarkes
 Identifikasi faktor risiko limbah Sarkes

Perencanaan pelaksanaan penanganan limbah


Diagram pengelolaan limbah cair Rumah Sakit.
Identifikasi fasilitas pengolahan
limbah di RS
a. Fasilitas pengolahan limbah padat :
 TPS sampah, Tong sampah, Kontainer dirungan
 Mesin incinerator
 Autoclave /Microwave
 Alat penghancur Jarum
b. Fasilitas pengolahan limbah cair :
 Septik tank
 IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
c. Fasilitas pengolahan gas :
 Cerobong asap disertai filter
 Exhause fan, ceiling fan dll.
INCINERATOR BILIK GANDA UNTUK LIMBAH B3
sarana kesehatan
Skema Proses Pembakaran Limbah Medis Bilik Tunggal.
Teknologi Microwave
ALAT PENGHANCUR JARUM
SKALA KECIL
Identifikasi jenis bahaya limbah
Sarkes
a. Jenis bahaya limbah Padat :
 Sampah tajam (jarum suntik, ampul bekas, pisau scapel)
 Leachate (airlindi) dan gas pembusukan.
 mikro organisme Patogen
 Vektor penyakit serangga (Kucing, kecoa , tikus, nyamuk, lalat)
 House keeping yang buruk (bau/gas pembusukan)
 Residu sisa pembakaran incinerator
b. Jenis bahaya limbah cair
 Bahan kimia
 Mikroorganisme
 Disain IPAL dan peralatannya yang tidak ergonomis
 Gas gas beracun air limbah
 Operasional peralatan mekanikal dan elektrikal
 House keeping yang buruk
c. Jenis bahaya limbah Gas
 Gas gas beracun
 Operasional peralatan mekanikal dan elektrikal
 Partikulat
POTENSI BAHAYA PENANGANAN SAMPAH
MEDIS
Jenis bahaya residu (Limbah B3)
incinerator
JENIS BAHAYA SAMPAH NON MEDIS
JENIS BAHAYA SAMPAH MEDIS
POTENSI KASUS K3 :
DI IPAL sarana kesehatan
Identifikasi Faktor Risiko Limbah
di RS
a. Jenis bahaya limbah Padat :
 Cedera pada petugas (tertusuk, tersayat, terjepit)
 Menimbulkan pencemaran lingkungan (air, tanah dan udara).
 Penularan penyakit (akumulatif)
 Bahaya kebakaran
 Gangguan estetika
b. Jenis bahaya limbah cair
 Mencemaran air tanah, air sungai
 Cedera pada petugas pemelihara IPAL
 Keracunan
 Bahaya Fisik (panas, bising, pencahayaan, getaran)
 Gangguan estetika (kontak alergi)
c. Jenis bahaya limbah Gas
 Keracunan gas
 Ketidaknyamanan
 Iritasi (mata, kulit dll)
PENGANGKUTAN LIMBAH PADAT MEDIS
Perencanaan pelaksanaan
penanganan limbah
Meliputi :
1. Perencanaan SDM (Pendidikan, pengalaman,
sertifikasi/keahlian, beban kerja dll)
2. Perencanaan organisasi (berbasis fungsional)
3. Perencanaan pembiayaan (investasi,
operasional, pemeliharaan, social cost dll),
4. Perencanaan jadwal kegiatan (jadwal OM)
5. Perencanaan mekanisme kerja (perangkat
pedoman, SOP dll)
PENANGANAN LIMBAH
PADAT :
Pemilahan, Pengurangan dan Penampungan limbah
padat medis dan non medis
Pemisahan dan Pengurangan
 Reduksi keseluruhan volume limbah, hendaknya
merupakan proses yang kontinyu. Pemilahan dan
reduksi volume limbah medis dan yang sejenisnya
merupakan persyaratan keamanan yang penting untuk
petugas pembuang sampah, petugas emergency dan
masyarakat.
Penampungan
 Sarana penampungan untuk limbah harus memadai,
diletakkan pada tempat yang sesuai, aman dan higienis.
Faktor-faktor tersebut perlu mendapat perhatian dalam
pengembangan seluruh strategi pembuangan limbah
untuk sarana kesehatan.
Standarisasi Kantong dan Kontainer
Pembuangan Limbah
Kontainer Plastik Untuk Limbah Benda Tajam Untuk berbagai Ukuran.

Bag-Holder Dengan Kantong Limbah


Yang Ditandai Dengan Simbul
Internasional Untuk Limbah
Infeksius.

Kontainer Beroda Untuk Penampungan Kantong Plastik Yang Berisi


Limbah Layanan Kesehatan.
BEBERAPA RS MENGGUNAKAN GEROBAG SEBAGAI ALAT ANGKUT SAMPAH
MEDIS
Penanganan Akhir Limbah Padat Non Medis

 Penanganan akhir limbah padat non medis


merupakan kegiatan pengangkutan limbah
padat non medis dari ruangan ke
pengumpulan lokal atau tempat
penampungan sementara (TPS), kemudian
dibawa ke lokasi pembuangan akhir (TPA)
Dinas Kebesihan setempat. Pengangkutan
biasanya dengan kereta trolly atau gerobak
yang tertutup.
Metode Pengolahan Limbah Padat Medis

1). Insinerasi
Proses insinerasi adalah metode pengolahan limbah padat medis dengan
pembakaran suhu tinggi, mencapai lebih dari 1000oC. Untuk mendapatkan hasil
pembakaran yang sempurna diperlukan 2 tahap pembakaran dalam 2 ruang
yang berbeda.
2). Autoclaving
Proses autoclaving adalah proses pemanasan dengan suhu rendah
menggunakan uap yang proses pemanasannya bergerak dari luar ke dalam.
3). Microwave
Proses microwave adalah memanfaatkan gelombang sangat pendek dalam
spektrum elektromegnetik. Pemanasan yang terjadi adalah suhu rendah dan
transmisinya berlangsung dari dalam ke keluar.
4). Desinfeksi dengan bahan kimia
Desinfeksi dengan bahan kimia adalah suatu cara untuk membunuh mikro-
organisme yang terdapat pada limbah infeksius dengan bahan kimia seperti
hypochlorik atau permangonate.
PENANGANAN LIMBAH GAS :
Prinsipnya :
Pendekatan teknis untuk menyalurkan, mendispersi dan
mengurangi konsentrasi gas  memenuhi baku mutu kualitas
udara yang berlaku.
Cara penanganan limbah gas tersebut adalah :
 Pemilihan jenis mesin penghasil emisi gas yang mampu
menciptakan proses pembakaran bahan bakar secara
sempurna
 Membuat cerobong (stack) dengan ketinggian tertentu
 Melengkapi cerobong dengan filter
 Membuat penyemprot air bertekanan (pressure water spray)
pada cerobong untuk menangkap debu/partikulat emisi
 Melengkapi bangunan dengan ventilasi buatan, exhause fan
dan ceiling exhause fan yang memadai
Cara pengendalian resiko yang
ditimbulkan oleh limbah sarana
kesehatan

a. Pengendalian terhadap fasilitas, alat dan sarana


 Merubah disain
 Mengganti fasilitas Pengolahan Limbah yang ada
 Menambah pengaman/pelindung fasilitas
 Menyediakan fasilitas yang memenuhi pesyaratan
teknis.
 Menentukan lokasi yang layak
 Penerapan prinsip 3R (reuse, recycling and Recovery).
Contoh penggunaan kembali :
Residu incinerator di reuse menjadi
batu/pembatas taman/kanstein

CARA :
Residu/abu di
campur dengan
semen dan air,
diaduk (adonan)
dan dicetak sesuai
keinginan

Keterangan :
Cara yang sama
digunakan untuk
lumpur IPAL
Cara pengendalian resiko yang
ditimbulkan oleh limbah sarana
kesehatan

b. pengendalian terhadap mekanisme kerja


 Membuat atau merevisi pedoman, juknis, petunjuk
penggunaan alat dan SOP.
 Kebijakan / komitmen pimpinan .

c. pengendalian terhadap tenaga


 Petugas yang menangani limbah, harus
menggunakan alat pelindung diri yang terdiri dari :
topi/helm, masker, pelindung mata, pakaian panjang,
pelindung kaki/sepatu boot dan sarung tangan
khusus (disposable gloves atau heavy duty gloves).
 Melakukan pelatihan cara bekerja yang sehat dan
selamat
Contoh :
Pengendalian terhadap Fasilitas Limbah ( Blower
Incinerator)
Peran dalam mengendalian limbah RS

Bentuk peranserta yang diharapkan dapat menunjang


pelaksanaan penanganan limbah Sarkes, terutama pada
operator penanganan limbah adalah sebagai berikut :
 Pentaatan pada prosedur (SOP) penanganan limbah Sarkes
 Penataatan terhadap penggunaan alat pelindung kerja
 Kemauan untuk memahami faktor resiko akibat penanganan
limbah

Sedang bentuk peran serta pasien, pengunjung dan


karyawan sarana kesehatan seperti :
 Mentaati peraturan yang berlaku di sarana kesehatan antara lain
tidak membuang sampah sembarangan.
 Penataatan terhadap penggunaan alat pelindung kerja pada
karyawan.
 Mentaati rambu-rambu K 3 yang ada
Monitoring dan evaluasi (Monev) pengelolaan
limbah Sarkes

Monitoring dilakukan untuk mengendalikan implementasi perencanaan


melalui daftar pengamatan dan butir-butir yang tertuang dalam
perencanaan.

Aspek yang monitoring :


 Melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap penanganan limbah
meliputi aspek :
• Apakah pelaksanaannya telah mengikuti prosedur tetap yang ada?
• Bagaimana pencapaian indikator & sasaran yang ditetapkan?
• Apakah sumber daya manusia yang bekerja mencukupi?
• Apakah jumlah & kualitasnya sesuai?
• Apakah waktu pelaksanaannya sesuai waktu & jadualnya?
• Apakah biayanya sesuai dengan rencana?
• Dll?
 Melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap pengendalian faktor
resiko meliputi aspek :
 Jumlah kasus (accident)
 Pola sebaran kasus
LANGKAH INSPEKSI K3 DALAM
PENANGANAN LIMBAH
1. Mengumpulkan data dasar ( denah, tenaga kerja,
proses, produk utama/samping, keadaan
kesehatan operator, shit, jam istirahat, keadaan
keselamatan dll)
2. Membuat situasi tempat kerja
3. Pemeriksaan lingkungan kerja ( konstruksi, gudang
bahan, ruang kerja operator, proses kerja, faktor
lingkungan)
4. Pemeriksan fasilitas K3 (pakaian kerja, alat
pelindung, poster K3, fasilitas cuci tangan, dll)
5. Pemeriksan fasilitas kesejahteraan (MCK, tempat
istirahat, ruang ganti pakaian dll)
BENTUK REKOMENDASI ATAS
HASIL MONEV :
 PENGENDALIAN MELALUI PERATURAN (LEGISLATIVE CONTROL)
:
 Pedoman, SOP, Instruksi Direktur tentang penanganan limbah Sarkes dll
 PENGENDALIAN ADMINISTRATIF/ORGANISASI (ADMINISTRATIVE
CONTROL):
 Pengaturan jam kerja, istirahat dan lembur operator limbah
 Pesyaratan operator limbah : batas umur, jenis kelamin, kesehatan dll
 PENGENDALIAN TEKNIS (ENGINEERING CONTROL):
 Substitusi bahan dan alat yang dipakai dalam fasilitas limbah
 Isolasi : bahan, alat, proses kerja, operator dengan alat pelindung
 Perbaikan sistem ventilasi bangunan limbah
 PENGENDALIAN JALUR KESEHATAN:
 Pemeriksaan kesehatan : awal, berkala dan khusus operator limbah
 Pendidikan K3 : kebesihan, pesonal hygiene, disiplin pemakaian alat
pelindung pada operator limbah dll
Dokumentasi dan Pelaporan pengelolaan
Limbah RS
 Seluruh hasil kegiatan penanganan limbah
Sarkes harus dicatat secara lengkap
selanjutnya dilakukan dokumentasi.
 Kegiatan yang telah didokumentasikan
selanjutnya dilakukan penyusunan laporan
kepada manajemen RS untuk mendapatkan
rekomendasi dan arahan kebijakan lebih
lanjut.
Hubungan Tata Kerja Manajemen
Limbah sarana kesehatan
Sistem hubungan antar unit dalam kegiatan penanganan limbah RS
adalah meliputi kewenangan dan tanggung jawab pengawasan dan
pelaksanaan.
 Ruangan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan
pengawasan internal kegiatan penanganan limbah.
 Unit kerja penanganan limbah bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan dan pengawasan di sumber,
penyaluran/transportasi dan pengolahan serta pengawasan mutu
limbah
Prosedur tetap pengelolaan limbah :
 Protap penanganan limbah cair
 Protap Penanganan Limbah Padat
 Protap penanganan limbah gas
Implementasi Kebijakan K3
Sarana, Prasarana dan Limbah RS

Kebijakan pengelolaan K3 Sarana, Prasarana dan Limbah


RS :

Rumusan komitmen 
 Untuk secara terus menerus melakukan upaya perbaikan
penanganan S, P & Limbah RS
 Berupaya untuk mentaati semua peraturan yang berkaitan
dengan penanganan S, P & Limbah RS.

Di rumuskan :
- Secara formal berbentuk tulisan yang ditandatangani oleh
pimpinan sarana kesehatan.
- Didokumentasikan
- Disosialisasikan
 kebijakan ini beRsifat terbuka.