You are on page 1of 21

REFERAT

TONSILITIS DIFTERI
Lilik Hartini
1522317050
Tonsilitis Difteri
Definisi:
Difteri tonsil faring adalah radang akut pada tonsil sampai
mukosa faring yang disebabkan kuman corynebacterium
diphtheriae.
Yang sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10
tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2-5 tahun walaupun
pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini.
Epidemiologi
Epidemiologi
Etiologi

Kuman Corynebacterium diphteriae


adalah kuman Gram positif yang
menginfeksi di saluran nafas bagian
atas yaitu hidung, faring dan laring.
Ada tiga strain C. diphtheriae yaitu :
1.Strain gravis memiliki waktu
generasi (in vitro) 60 menit.
2.strain intermedius memiliki waktu
generasi sekitar 100 menit.
3.mitis memiliki waktu
generasi sekitar 180 menit
Patogenesis
Patofisiologi

Kontak dengan Masuk lewat


Corynebacterium orang atau barang saluran pencernaan
Aliran sistemik
diphteriae yang atau saluran
terkontaminasi. pernafasan.

Peradangan Membentuk
Mukosa, pseudomembran Masa inkubasi 2 – 5
Tenggorokan sakit, Nasal, Tonsil, Laring dan mengeluarkan hari.
Demam toksin (eksotoksin)
Tonsilitis Difteri

Gejala & tanda:


Diagnosis
1. Dari gejala Klinis
2. Pemeriksaan penunjang
a. Bakteriologik. Preparat apusan kuman difteri dari bahan apusan
mukosa hidung dan tenggorok (nasofaringeal swab).
b. Kultur lesi tenggorokan dibutuhkan untuk diagnose klinis, untuk
isolasi primer menggunakan agar Loeffler, atau agar tellurite Tinsdale.
c. Menyusul isolasi awal C.diphteriae dapat diidentifikasi sebagai mitis,
intermedius, atau biotipe gravis berdasar fermentasi karbohidrat
karbohidrat dan hemolisis pada agar pelat darah domba. Strain
ditentukan secara in vitro dan in vivo.
d. Tes schick
Penatalaksanaan
Difteri

Pengobatan Pengobatan
Umum Khusus
Pengobatan Umum
• Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan hapusan
tenggorok negative 2 kali berturut-turut
• Istirahat tirah baring selama kurang lebih 2-3 minggu, pemberian
cairan serta diet yang adekuat, makanan lunak yang mudah dicerna,
cukup mengandung protein dan kalori.
Pengobatan Khusus
1. Antitoksin : Anti Diphtheria Serum
(ADS)
Diberikan segera setelah diagnosis difteri
Sebelum Pemberian ADS harus dilakukan uji
kulit atau uji mata terlebih dahulu, oleh
karena pada pemberian ADS dapat terjadi
reaksi anafilaktik.
Pengobatan
Khusus
• Uji Kulit
Uji kulit dilakukan dengan penyuntikan 0,1 ml ADS dalam larutan garam fisiologis 1:1000 secara
intrakutan.
Hasil positif bila dalam 20 menit terjadi indurasi > 10 mm.

• Uji Mata
Uji mata dilakukan dengan meneteskan 1 tetes larutan serum 1:10 dalam garam fisiologis. Pada
mata yang lain diteteskan garam fisiologis.
Hasil positif bila dalam 20 menit tampak gejala hiperemis pada konjungtiva bulbi dan lakrimasi
Pengobatan
Khusus
2. Antibiotik
Dosis :
• Penisilin 300.000 IU/hari IM (BB < 10kg), 600.000 IU/hari IM (BB >10kg) selama 14
hari atau
• Eritromisi 40-50 mg/kgBB/hari peroral/ injeksi, terbagi 3 dosis selama 14 hari.
3. Kortikosteroid 1,2mg/KgBB/hari
4. Paracetamol 3x500mg
5. Trakeostomi bila sudah ada sumbatan jalan napas
Tonsilektomi
Berdasarkan AAO-HNS tahun 1995, indikasi
tonsilektomi dibagi menjadi dua:
O Indikasi Absolut = Tonsil yang besar hingga mengakibatkan
gangguan pernafasan, nyeri telan yang berat, gangguan tidur atau
komplikasi penyakit-penyakit kardiopulmonal.
O Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan
dengan pengobatan
O Tonsillitis yang mengakibatkan kejang demam.
O Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan
gambaran patologis jaringan.
Indikasi Relatif
O Jika mengalami tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak menunjukkan
respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang memadai.
O Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada tonsillitis kronis yang tidak
menunjukkan perbaikan dengan pengobatan.
O Tonsillitis kronis atau tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman
Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan
antibiotika.
O Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan dengan
keganasan (neoplastik)
1. Imunisasi

Pencegahan Imunisasi DTP untuk bayi dan anak-anak umumnya lima


kali umumnya diberikan pada 2, 4, dan 6 bulan, dengan
dosis keempat yang diberikan antara 15-18 bulan, dan
dosis kelima pada usia 4-6 tahun. Karena kekebalan
terhadap difteri berkurang seiring dengan waktu, maka
pemberian booster dianjurkan.
Pencegahan
2. Profilaksis
a. benzylpenisilin intramuskular dengan dosis 600.000 IU untuk usia di
bawah enam tahun, dan 1.200.000 IU untuk usia lebih dari enam tahun.
b. eritromisin oral dengan dosis 125 mg setiap 6 jam untuk anak di
bawah 2 tahun, 250 mg setiap 6 jam untuk anak usia 2-8 tahun, dan 250-
500 mg setiap 6 jam untuk usia di atas 8 tahun selama 7 hari.
1. Laringitis
difteri

2. Kelainan
8. Obstruksi kardiovaskule
jalan napas r
(miokarditis)

7. Paresis
atau paralysis 3. Kelainan
anggota Komplikasi neurologis
gerak

4. Ocular
6. Nefritis
palsy

5. Paralisis
diafragma
Prognosis
Prognosis tergantung kepada
• Virulensi kuman
• Lokasi dan perluasan membrane
• Kecepatan terapi
• Status kekebalan
• Umur penderita,karena makin muda umur anak prognosis makin buruk.
• Keadaan umum penderita,misalnya prognosisnya kurang baik pada penderita gizi kurang
• Ada atau tidaknya komplikasi
Secara umum, pasien dengan tonsillitis difteri tanpa komplikasi yang berespon baik terhadap
pengobatan memiliki prognosis yang baik. Penyembuhan bisa mengambil masa yang lama dan kadar
kematian adalah 5 – 10% bagi semua kasus difteri respiratorik.