You are on page 1of 48

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009

Artificial Lift
Seiring dengan diproduksikannya hidrokarbon dari reservoir, maka
akan terjadi penurunan TEKANAN Reservoir.

Jika tekanan reservoir sudah tidak mampu lagi mengangkat cairan


sampai permukaan, maka diperlukan peralatan tambahan untuk
membantu mengangkat cairan sampai permukaan, yaitu dengan
Metode Pengangkatan Buatan (Artificial Lift Method).

Artificial lift tersebut adalah :

1. Gas Lift (Continuous dan Intermitent)


2. Sucker Rod Pump
3. Hydraulic Pumping Unit
4. Progressive Cavity Pump
5. Electrical Submersible Pump

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Gas Lift
GAS LIFT
Adalah metode pengangkatan fluida dari lubang sumur dengan cara
menginjeksikan gas yang bertekanan relatif tinggi ke dalam kolom
fluidanya.

Pengangkatan fluida dengan cara gas lift didasarkan pada pengurangan


gradien tekanan fluida di dalam tubing, pengembangan dari gas yang
diinjeksikan serta pendorongan fluida oleh gas injeksi yang bertekanan
tinggi.

Berdasarkan cara injeksi gasnya, dibedakan menjadi :

1. Continuous Gas Lift


2. Intermittent Gas Lift

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Gas Lift
SKEMA SUMUR GASLIFT

Gas Masuk Scrubber

Minyak

Gas dari Gas masuk


separator / Kompressor
sumur-sumur Prod. Minyak & Gas

Gas Injeksi TANGKI


PENAMPUNG
MINYAK
Drain
KOMPRESSOR
Drain Katup Unloading SEPARATOR

SCRUBBER

Katup Operasi

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Gas Lift

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Gas Lift

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Gas Lift
1. Continuous Gas Lift
Dalam continuous flow gas lift, volume yang kontinyu dari gas
bertekanan tinggi diinjeksikan ke dalam tubing sehingga gradien
tekanan fluida dalam tubing menjadi turun.

Metode ini digunakan pada sumur yang mempunyai Productivity Index


(PI) tinggi dan tekanan statis dasar sumur (Ps) tinggi

PI > 0.5 B/D/psi


Ps tinggi artinya dapat mengangkat kolom cairan minimum 70% dari
kedalaman sumur.

Laju produksi yang dihasilkan antara 200 – 20000 B/D.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Gas Lift
2. Intermitent Gas Lift
Intermittent flow gas lift digunakan pada sumur-sumur dengan
volume fluida rendah atau yang mempunyai Productivity Index (PI)
dan Ps rendah

PI < 0.5 B/D/psi


Ps rendah artinya kolom cairan yang terangkat kurang dari 70%.

Dalam intermittent flow gas lift, gas diinjeksikan secara terputus-


putus pada selang waktu tertentu sehingga dengan demikian injeksi
gas merupakan suatu siklus injeksi dan diatur sesuai dengan rate
fluida yang mengalir dari formasi ke lubang sumur.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Permukaan Gas Lift
Peralatan Permukaan Gas Lift
1. Well Head
2. X Mass Tree
3. Kompresor Gas
4. Stasiun Distribusi (Gas Line)
5. Peralatan Kontrol

Peralatan Bawah Permukaan Gas Lift


1. Tubing
2. Manderll
3. Gas Lift Valve
4. Packer

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Permukaan Gas Lift
Peralatan Permukaan Gas Lift

Stasiun Distribusi
Dalam menyalurkan gas injeksi dari kompressor ke sumur terdapat
beberapa cara, antara lain :

Sistem Distribusi Langsung


Terdapat manifold yang menuju ke sumur-sumur secara langsung,

Kelemahan :
Distribusi tekanan dari kompresor kurang optimal, karena
kebutuhan gas yang tidak sama untuk setiap sumur.
Pemakaian pipa transport gas yang lebih panjang sehingga tidak
ekonomis.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Permukaan Gas Lift
Peralatan Permukaan Gas Lift
Sistem Distribusi dengan Pipa Induk
Lebih ekonomis karena panjang pipa dapat diperkecil, tetapi adanya
hubungan langsung antara satu sumur dengan sumur lainnya, jika
salah satu sumur sedang diinjeksikan gas maka sumur lain sumur lain
bisa terpengaruh.

Sistem Distribusi dengan Stasiun Distribusi


Paling banyak dipakai dan lebih efektif. Gas dari Kompresor ke stasiun
distribusi kemudian dibagi ke sumur-sumur dengan menggunakan
pipa.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Permukaan Gas Lift
Kompresor Gas

Kompresor Gas

Kompresor Gas

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Permukaan Gas Lift
Peralatan Kontrol

Choke control dan regulator


Choke control adalah alat yang berfungsi untuk mengatur jumlah gas
yang diinjeksikan, sehingga dalam waktu tertentu (saat valve terbuka)
gas tersebut dapat mancapai suatu harga tekanan yang dibutuhkan.
Choke control ini dilengkapi pula dengan regulator yang berfungsi
untuk membatasi gas injeksi yang dibutuhkan. Bila gas injeksi cukup
maka regulator akan menutup. Choke control dan regulator tersebut
hanya khusus dipergunakan untuk intermittent gas lift.

Time cycle control


Alat ini berfungsi untuk mengontrol aliran gas injeksi dalam
intermittent gas lift untuk interval waktu tertentu. Time cycle control
dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Bawah Permukaan Gas Lift
Secara umum pemakaian katub gas lift berfungsi :

Untuk mengosongkan sumur dari fluida workover atau kill fluid


supaya injeksi gas dapat mencapai titik optimum di dalam sumur.

Mengatur aliran injeksi gas ke dalam tubing baik proses unloading


maupun proses pengangkatan fluida.

Valve Gas Lift dapat dibedakan menjadi :

Konvensional Valve Gas lift


Retrievable Valve Gas lift

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Bawah Permukaan Gas Lift

Pb Pb
Dome Dome

Chevron Chevron
Packing Packing
Stack Stack

Bellows Bellows

Stem Tip (Ball)

Pc Square Edged
Seat Pc
Stem Tip (Ball)

Square Edged
Seat

Pt
Chevron Chevron
Packing Pt Packing
Stack Stack

Check Valve Check Valve

Nitrogen Charged Bellows Type Nitrogen Charged Bellows Type


Injection Pressure (Casing) Operated Gas Lift Valve Production Pressure (Fluid) Operated Gas Lift Valve

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Bawah Permukaan Gas Lift

Ada 4 (empat) macam katup gas lift, yaitu :


1. Casing pressure operated valve ( pressure valve)
Valve jenis ini 50-100% sensitive terhadap tekanan casing pada
posisi tertutup dan 100% sensitive terhadap tekanan casing pada
posisi terbuka. Membutuhkan penambahan tekanan casing untuk
membuka valve dan pengurangan tekanan casing untuk menutup
valve.
2. Throttling pressure valve
Valve ini disebut juga proportional valve atau continuous flow
valve. Valve ini sama dengan pressure valve pada posisi tertutup,
akan tetapi pada posisi terbuka valve ini sensitive terhadap
tekanan tubing. Valve ini membutuhkan penambahan tekanan
casing untuk membuka dan pengurangan tekanan tubing atau
tekanan casing untuk menutup.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Peralatan Bawah Permukaan Gas Lift
3. Fluid operated valve
Katup ini konstruksinya hampir sama dengan casing pressure
operated valve, tetapi tekanan tubing bekerja pada permukaan
bagian valve yang lebih luas, sedangkan tekanan casing bekerja
pada permukaan yang lebih kecil.
4. Combination valve
Valve ini juga disebut fluid open-pressure closed valve. Valve ini
membutuhkan penambahan tekanan fluid untuk membuka dan
pengurangan tekanan casing atau tekanan tubing untuk menutup.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Instalasi Gas Lift
Instalasi Gas Lift
Dalam menentukan tipe instalasi (apakah Contiuous atau Intermitent)
harus didasarkan pada kemampuan sumur untuk diproduksikan, yaitu
tekanan dasar sumur dan Productivity Index (PI), yang secara grafis
digambarkan dalam kurva IPR

Instalasi Gas Lift, dibedakan menjadi 3, yaitu :


1. Instalasi Terbuka (Open Installations)
2. Instalasi Setengah Tertutup (Semi Closed Installations)
3. Instalasi Tertutup (Closed Installations)

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Instalasi Gas Lift
Instalasi Terbuka (Open Installations)
Pada installasi ini tubing dipasang tanpa packer dan standing valve. Tipe
ini baik untuk continuous gas lift, dimana packer tidak dipasang dengan
suatu alasan seperti gas tidak dapat menyembur di sekitar tubing. Jika
instalasi ini digunakan pada intermittent gas lift maka pada saat shut-
down time fluida akan ke annulus casing

Instalasi Setengah Tertutup (Semi Closed Installations)


Sama dengan intallasi terbuka, bedanya dipasang packer dan tidak
menggunakan standing valve. Installasi ini cocok untuk continuous flow
gas lift dan intermittent flow gas lift.

Instalasi Tertutup (Closed Installations)


Sama dengan instalasi setengah tertutup hanya bedanya dipasang packer
dan standing valve (Gambar 4.12). Standing valve diletakan dibawah
valve yang paling bawah atau pada ujung tubing string, dimaksudkan
untuk mencegah masuknya gas yang diinjeksikan ke dalam sumur.Standing
valve ini dipasang pada installasi intermittent gas lift.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Instalasi Gas Lift

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Gas Lift
Perencanaan Gas Lift
Perencanaan instalasi gas lift yang umum akan berdasarkan prinsip-
prinsip di bawah ini :

1. Valve sebagai titik injeksi atau biasa disebut operating valve harus
diletakkan sedalam mungkin sesuai dengan tekanan injeksi gas yang
tersedia, rate gas dan produksi minyak/liquid yang diinginkan.
2. Sedangkan valve-valve yang bertindak sebagai unloading hanya
merupakan sarana menuju operating valve. Unloading valve dalam
keadaan normal harus selalu tertutup, sehingga hanya satu valve
saja yang terbuka yaitu operating valve.
3. Semua valve diset di permukaan pada temperatur 60oF, tekanan
setting ini dikoreksi terhadap temperatur sesungguhnya di dalam
sumur.
4. Operating valve harus yang paling dalam.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
Perencanaan Continuous Gas Lift

Pwf = Pt + Gfa L+ Gfb (D – L)

Pwf = Tekanan alir dasar sumur, psi


Pt = Tekanan pada well head, psi
Gfa = Gradient tekanan rata-rata di atas titik injeksi, psi/ft
Gfb = Gradient tekanan rata-rata di bawah titik injeksi, psi/ft
L = Kedalaman titik injeksi, ft
D = Kedalaman total sumur, ft

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
Perencanaan continuous gas lift meliputi :
a. Penentuan titik injeksi
b. Spasi katup
c. Jumlah gas yang diinjeksikan
d. Tekanan operasi valve sebelum valve di pasang

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
a. Penentuan titik injeksi
Titik perpotongan antara garis gradient tekanan alir dasar sumur di bawah
titik injeksi dengan garis gradient tekanan gas injeksi di atas titik injeksi
merupakan titik keseimbangan, artinya tekanan di dalam tubing dan
annulus adalah sama (tidak terjadi aliran), agar terjadi aliran dari annulus
ke dalam tubing, maka titik keseimbangan harus dikurangi tekanannya
(sekitar 100 psi). Titik potong hasil perpotongan ini merupakan titik injeksi

a.1. Prosedur penentuan letak titik injeksi secara grafis


a. Plot kedalaman vs tekanan pada kertas grafik, dimana kedalaman
pada sumbu ordinat dan tekanan pada sumbu absis.
b. Plot tekanan statis dasar sumur (SBHP) pada kedalaman
sumur/tengah perforasi.
c. Tentukan besarnya tekanan drawdown yang diperlukan untuk
memproduksi laju produksi yang diinginkan.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
d. Tentukan tekanan alir dasar sumur (Pwf) dengan cara mengurangi
SBHP dengan tekanan drawdown.
e. Plot Pwf pada kedalaman sumur/ tengah perforasi.
f. Dari titik Pwf plot gradient tekanan alir di bawah titik injeksi ke arah
atas. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kurva gradien
tekanan alir yang sesuai dengan GLRf, atau dengan gradient tekanan
campuran yang dapat dihitung dengan rumus :

Gf mix  WOR (Gfo)  (1  WOR )Gfw

Keterangan :
Gfmix = Gradient tekanan campuran
Gfo = Gradient tekanan minyak = SGo (< 0.433)
Gfw = Gradient tekanan air = SGw (0.433)

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
g. Plot titik tekanan kick off (Pko) dimana Pko yang besarnya 50 psi lebih
rendah dari tekanan kick off yang tersedia (Pko = Pko - 50) dan
tekanan operasi (Pso) yang besarnya 100 psi lebih rendah dari
tekanan operasi yang tersedia (Pso = Pso – 100) pada kedalaman 0
(di permukaan)
h. Dari titik Pso, tarik garis ke bawah sampai memotong garis gradient
tekanan alir di bawah titik injeksi dengan memperhitungkan gradient
gas injeksi. Gradient gas injeksi dapat diperoleh dengan
menggunakan Weight of Gas Colomn Chart (Gambar 4.14 dan
Gambar 4.15). Titik potong ini merupakan titik keseimbangan antara
tekanan tubing dan annulus atau Point of Balance (POB).
i. Tentukan Point of Injection (POI) yang besarnya 100 psi lebih kecil
dari POB (POI = POB – 100 psi) pada kurva gradient tekanan alir.
j. Plot tekanan kepala sumur (Pwh) pada kedalaman 0 (di permukaan)
k. Dari titik Pwh , plot gradient tekanan alir di atas titik injeksi dengan
menghubungkan POI dengan Pwf. Dengan menggunakan kurva
gradient tekanan alir yang sesuai, kurva ini akan menunjukkan
perbandingan gas cairan (GLR) total.

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
a.2. Penentuan Jumlah Gas Injeksi
Syarat utama yang harus dipenuhi gas injeksi :
• Jumlah /volume gas
• Tekanan jaringan

Jumlah gas injeksi = q gi  GLRoptimum  qt max atau q gi  GLRt  GLR f  qt max

Keterangan :
qgi = Laju injeksi gas, scf/day
qt max = Laju produksi total maksimum, stb/day
GLRoptimum = Gas liquid ratio, scf/stb
GLRt = Gas liquid ratio total, scf/stb
GLRf = Gas liquid ratio formasi, scf/stb

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
Koreksi qgi pada temperatur titik injeksi :
q gi  q gi  correction

Correction  0.0544 Sgi(Tpoi)


Keterangan :
Sgi = Specific gravity gas injeksi
Tpoi = Temperatur pada titik injeksi, oR.

a.3. Penentuan Spasi Valve


Spasi valve gas lift dimaksudkan sebagai letak dari beberapa unloading
valve.

adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :


1. Buat garis perencanaan tekanan tubing yang didapatkan dengan
menarik garis dari (P2,0) dengan POI.
Dimana P2 = Pwh + 0.2 (Pso)

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
2. Tarik garis Kill Fluid Gradient dari Pwh sebesar 0.4 – 0.5 psi/ft hingga
memotong garis injeksi gas (Pko), dimana Pko = Pko – 50. Titik ini
merupakan kedalaman valve pertama (Dv1) atau valve yang paling
atas.
3. Untuk menentukan kedalaman valve kedua (2), (3),…dst, dapat
dilakukan beberapa cara, diantaranya :
a. Surface Opening Pressure (Pso) tetap
b. Surface Opening Pressure (so) berkurang 25 psi untuk setiap
valve.
I. Penentuan kedalaman valve dengan Pso tetap
1. Tarik garis horizontal dari Dv1 hingga memotong garis perencanaan
tubing.
2. Dari perpotongan garis perencanaan tubing dengan garis horizontal,
tarik garis sejajar dengan garis Kill Fluid Gradient sebesar 0.4 – 0.5
psi/ft hingga memotong garis Pso, dimana Pso = Pso – 100. Titik
potong tersebut merupakan kedalaman valve 2 (Dv2).

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
3. Lakukan langkah 1 dan 2 untuk Dv3, Dv4,..dst sampai pada
kedalaman katup yang lebih dalam dari titik injeksi (POI), sehingga
diperoleh :
valve (1)…….ft
valve (2)…….ft
dst

II. Penentuan kedalaman valve dengan Pso berkurang 25 psi


1. Tarik garis horizontal Dv1 hingga memotong garis perencanaan
tekanan tubing.
2. Dari perpotongan garis perencanaan tekanan tubing dengan garis
horizontal, tarik garis sejajar dengan garis Kill Fluid Gradient sebesar
0.4 – 0.5 psi/ft hingga memotong garis injeksi 25 psi lebih rendah dari
garis Pko (Pso1). Titik potong tersebut merupakan kedalaman valve 2
(Dv2).
3. Ulangi langkah tersebut di atas untuk menentukan Dv3, Dv4, dst
sampai pada kedalaman katup yang lebih dalam dari titik injeksi (POI)

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
Valve no. Kedalaman Pso Dimana Pko = Pko - 50
1 Dv1 Pko
2 Dv2 Pko – 25
3 Dv3 Pko – 50

Sedangkan penentuan spasi katup secara analitis dapat dilakukan


dengan menggunakan persamaan berikut :
Pko  Pwh Pso1, so 2....  Pwh  Dv1, v 2...(Gu)
Dv1  Dv 2, v3...  Dv1, v 2.. 
Gs Gs

Keterangan :
Dv1, v2… = Kedalaman katup 1, 2, dst, ft
Pso1, Pso2… = Tekanan buka permukaan 1, 2, dst, psi
Pwh = Tekanan kepala sumur, psi
Gs = Gradient kill fluid, psi/ft
Gu = Gradient unloading, psi/ft

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
a.4. Penentuan Tekanan Buka Valve
1. Siapkan data penunjang seperti pada penentuan kedalaman katup.
2. Di bagian atas kanan pada grafik penentuan spasi katup buat skala
temperatur pada sumbu tekanan dan plot titik (Ts,0) dan (Td,D) dan
hubungkan titik tersebut.
3. Pada setiap katup yang didapat, baca :
a. Kedalaman katup (Dv)
b. Tentukan tekanan gas injeksi dalam casing (Pvo), yaitu :
- Untuk katup pertama Pvo1 dibaca dari garis gradient gas yang
dibuat mulai dari (Pko,0), sesuai dengan Dv1
- Untuk katup-katup berikutnya Pvo2 dst dibaca dari garis
gradient gas yang dibuat dari (Pso,0) sesuai dengan Dv2 dst.
c. Tekanan tubing (Pt) dibaca dari penentuan garis tekanan tubing.
d. Temperatur (Tv) dibaca pada garis gradient temperatur berturut-
turut Tv1, Tv2, dst sesuai dengan kedalaman masing-masing
katup Dv1, Dv2, dst.
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Artificial Lift – Perencanaan Continuous Gas Lift
4. Tentukan ukuran port setiap katup dengan menggunakan Gambar 4.18
dan Gambar 4.19
Cara menggunakan grafik tersebut adalah sebagai berikut :
a. Mulai dari Pvo (Upstream Pressure) dibuat garis tegak sampai
memotong garis Pt (DownStream Pressure).
b. Dari titik potong ini buat garis mendatar ke kiri.
c. Pada sumbu Gas Throughput (qgi), plot qgi koreksi ke bawah
sampai berpotongan dengan garis dari langkah 4b.
d. Ukuran port yang dipilih adalah titik potong dari langkah 4c. apabila
tidak tepat pada garis yang tersedia, tentukan ukuran port
berdasarkan garis terdekat.
5 Berdasarkan diameter luar tubing dan diameter dalam casing, pilih
ukuran katup. Ukuran yang tersedia adalah 1 dan 1.5 in.
6 Berdasarkan ukuran port dan ukuran katup, tentukan harga R dan 1 –
R untuk setiap katup, menurut persamaan :

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
Ap
R
Ab

Ap = Luas port, in2


=  ( d 2
) , d = ukuran port, in
4

Ab = Luas bellow, in2


Untuk katup 1 in, Ab = 0.32 in2
Untuk katup 1.5 in, Ab = 0.77 in2

7. Tentukan tekanan tutup valve pada lokasi kedalaman valve Pvc,


dimana Pvc sama dengan tekanan dome valve (Pd), atau bisa
dihitung :

Pd  Pvc  Pvo(1  R)  PtR

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
8. Tentukan tekanan dome (pd) untuk setiap valve pada temperatur 60oF,
menurut persamaan :

Pd @ 60  Ct ( Pd ) Harga Ct didapat dari Tabel

9. Hitung tekanan setting di work shop (Ptro) pada temperatur 60oF,


dengan persamaan :
Pd @ 60
Ptro 
1 R

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
WAKTU

KESEMPATAN USAHA

“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009
“NODAL ANALYSIS” Oleh : Muchamad Yani AKAMIGAS Palembang : Semester – IV tahun 2009