Вы находитесь на странице: 1из 32

SINDROM KORONER AKUT

ACUTE CORONARY SYNDROME


Pembimbing : dr. Evi Supriadi, Sp. JP (K), FIHA

Mutiara Putri Syafira, S. Ked


G1A217034
PENDAHULUAN
• UAP
Klasifikasi SKA
• NSTEMI
• STEMI

Kriteria Diagnosis • Nyeri Tipikal


• Evolusi EKG
• Biomarka Jantung

Why so important? • salah satu penyebab kematian utama di Indonesia.


• dibutuhkan petugas kesehatan lini terdepan yang mampu
menegakkan diagnosis dini serta memberi tatalaksana awal
yang tepat pada pasien sindrom koroner akut (SKA).

2
Tinjauan Pustaka
• UAP/NSTEMI
•  suatu kesinambungan dengan kemiripan patofisiologi dan gejala klinis sehingga pada
prinsipnya penatalaksanaan keduanya tidak berbeda.
• Pembedanya : Biomarka Jantung.

• STEMI
• kejadian oklusi mendadak di arteri koroner epikardial dengan gambaran EKG elevasi
segmen ST.

3
RISK FACTORS

4
Klasifikasi Ustable Angina Pektoris menurut Braunwald
Berdasarkan Serangan Angina :
Kelas I angina yang berat untuk pertama kali, atau makin bertambah beratnya nyeri dada.

Kelas II angina pada waktu istirahat dan terjadi subakut dalam 1 bulan, tidak ada serangan angina dalam 48
jam terakhir.
Kelas III angina pada waktu istirahat dan terjadinya secara akut 1x / lebih, dalam waktu 48 jam terakhir.

Berdasarkan Keadaan Klinis :


Kelas A angina tak stabil sekunder. Berasal dari ekstra kardiak yang dapat memperberat iskemia miokard.

Kelas B angina tak stabil primer, tak ada faktor ekstrakardiak.

Kelas C angina yang timbul 2 minggu setelah serangan infark jantung

Berdasarkan Pengobatan
Tidak Ada Pengobatan pengobatan minimal untuk angina pektoris stabil kronik

Timbul keluhan walaupun telah telah mendapat terapi yang standar untuk angina pektoris stabil kronik (pemberian dosis oral
mendapat terapi konvensional antiangina seperti penyekat beta, nitrat kerja panjang dan antagonis kalsium.
Timbul keluhan pengobatan telah diberikan pengobatan anti iskemik yang maksimum, termasuk dengan nitrat intravena.
maksimum 6
PENEGAKKAN
anamnesis
DIAGNOSIS
1
Angina tipikal yang persisten selama lebih dari 20 menit (80%).

2
Angina awitan baru (de novo) CCS kelas III (20%)

3
Angina stabil yang mengalami destabilisasi (angina progresif atau kresendo): menjadi makin sering,
lebih lama, atau menjadi semakin berat; minimal kelas III klasifikasi CCS.
4
Angina pascainfark-miokard: angina yang terjadi dalam 2 minggu setelah infark miokard.

5
Angina ekuivalen, terutama pada wanita dan kaum lanjut usia.

7
Gejala Klinis...
•Lokasi :
retrosternal, pasien sulit melokalisasi.
•Onset :
lebih dari 20 menit.
•Karakteristik :
rasa berat seperti dihimpit, ditekan,
diremas, panas atau dada terasa
penuh.
•Penjalaran
•Faktor pencetus :
latihan fisik, stress emosi, udara dingin,
dan sesudah makan.
•Gejala sistemik :
mual, muntah atau keringat dingin.
EKG UAP/NSTEMI
1. Gelombang Q yang
menetap
2. Nondiagnostik ataupun
Normal

3. Depresi segmen ST dan/atau


Inversi gelombang T; dapat disertai dengan elev
asi segmen ST yang tidak persisten (>20 menit).
ecg in stemi

ecg location
T-tall in STEMI
TIMI (Thrombolysis In Myocardial Infarction)
Tujuan stratifikasi risiko adalah untuk menentukan strategi penanganan selanjutnya (konservatif atau intervensi
segera) bagi seorang dengan NSTEMI.

• Skor TIMI untuk UAP dan • Stratifikasi Risiko


NSTEMI berdasarkan skor TIMI

12
STRESS TEST
Dilakukan apabila....
Biomarka Jantung
• Gold Standart : troponin • Troponin tidak ada  CKMB
I/T
Peningkatan akan terjadi dalam waktu 2 Meningkat dalam waktu 4 -6 jam. Kadar puncak :
hingga 4 jam dan menetap sampai 2 12 jam, dan menetap sampai 2 hari.
minggu.

15
Pemeriksaan Invasif dan Noninvasif

Angiografi Koroner
Penemuan angiografi khas :
eksentrisitas, batas yang ireguler, ulserasi,penampakkan yang kabur, dan
filling defect yang mengesankan adanya trombus intrakoroner.

ECHO
Hipokinesia atau akinesia segmental dari dinding ventrikel kiri dapat
terlihat saat iskemia dan menjadi normal saat iskemia menghilang.
TIMI FLOW GRADING in coronary angiography
Penatalaksanaan
• Pasien rawat RS  sebaiknya di unit intensif koroner  bed rest  oksigen  pemberian morfin atau petidin apabila diperlukan pada
pasien yang masih merasakan sakit dada walaupun sudah mendapatkan nitrogliserin.
• Penghambat Reseptor
• Antiiskemia Glikoprotein IIb/IIIa
1. Penyekat Beta (Beta
• Statin
blocker)
2. Nitrat
3. Calcium Channel Blocker

• Antiplatelet • Antikoagulan

• Aspirin • ACEI dan ARB


• Clopidogrel

18
ACC/AHA Guidelines for the Management of Patients
with ST-Elevation Myocardial Infarction (2013)
IKP PRIMER / PCI

03
Terapi Reperfusi
a. Fibrinolitik : Streptokinase,
Alteplase
b. Antikoagulan : Warfarin,

02
Heparin, Enoxaparin
Morfin, Oksigen
Nitrat, Aspirin
Clopidogrel, Beta Bloker,

01
ACEI, ARB, Statin

19
Penyekat •Direkomendasikan untuk pasien dengan :
UAP atau NSTEMI, hipertensi dan/atau
Beta (Beta takikardia.
•Keuntungan :
blocker) Efek terhadap reseptor beta-1  turunnya
konsumsi oksigen miokardium.
•Kontraindikasi :
gangguan konduksi atrio-ventrikuler yang
signifikan, asma bronkiale, dan disfungsi akut
ventrikel kiri.
Calcium channel blockers (CCBs) dan ACEI
Nitrat

Indikasi nitrat intravena :


Iskemia yang persisten, gagal jantung, atau hipertensi
dalam 48 jam pertama UAP/NSTEMI.
Kontraindikasi Nitrat:
Dilatasi vena yang
1. TD sistolik <90 mmHg atau >30 mmHg di bawah
mengakibatkan berkurangnya
nilai awal
preload dan volume akhir
2. bradikardia berat (<50 kali permenit)
diastolic ventrikel kiri
3. takikardia tanpa gejala gagal jantung
sehingga konsumsi oksigen
miokardium berkurang. 4. infark ventrikel kanan.
5. Pasien yang telah mengkonsumsi inhibitor
fosfodiesterase: sidenafil dalam 24 jam, tadalafil
dalam 48 jam.
Antiplatelet
Penghambat reseptor
glikoprotein IIb/IIIa dapat
diberikan pada pasien IKP
yang telah mendapatkan DAPT
dengan risiko tinggi apabila
risiko perdarahan rendah.

Tidak disarankan diberikan


secara rutin sebelum
angiografi.
Antikoagulan

• Fondaparinuks  profil keamanan berbanding risiko yang paling baik.


Dosis : 2,5 mg/hari subcutan.
• Enoksaparin (1 mg/kg 2x/hari)  pasien dengan risiko perdarahan
rendah bila fondaparinuks tidak ada.
• Heparin tidak terfraksi (UFH) dengan target aPTT 50-70 detik atau
heparin berat molekul rendah (LMWH) lainnya (dengan dosis yang
direkomendasikan)  fondaparinuks atau enoksaparin tidak tersedia.
Statin

• Inhibitor hydroxymethylglutary-coenzyme A reductase (statin)


harus diberikan pada semua penderita UAP/NSTEMI.
– Hendaknya dimulai sebelum pasien keluar RS, dengan sasaran terapi untuk
mencapai kadar kolesterol LDL <100 mg/dL.
PENATALAKSANAAN STEMI
• Semua pasien STEMI seharusnya menjalani evaluasi untuk terapi reperfusi. Reperfusi
dini akan...

Sasaran terapi reperfusi pada • memperpendek lama oklusi


pasien STEMI : door to needle koroner
/ medical contact to balloon
time untuk IKP dapat dicapai
dalam 90 menit.

• mengurangi kemungkinan • meminimalkan derajat


pasien STEMI berkembang disfungsi dan dilatasi
menjadi pump failure atau ventrikel
takiaritmia ventrikular yang
maligna.
28
Fibrinolitik

• Streptokinase
– Dosis awal 1,5 juta U/100ml Dextrose 5% atau
larutan saline 0,9% dalam waktu 30-60 menit.
– Koterapi Heparin i.v selama 24-48 jam
• Alteplase
– Dosis awal bolus 15 mg intravena 0,75 mg/kg
selama 30 menit, kemudian 0,5mg / kg selama
60 menit, dosis total tidak lebih dari 100mg
– Koterapi Heparin i.v selama 24-48 jam
PROGNOSIS
Klasifikasi KILLIP

01 02 03 04
• Ronkhi
• Tidak • Edema Paru • Syok
basah
terdapat Kardiogenik
kasar,
Tanda
distensi
Kongesti
vena
jugularis
atau S3

Mortality Rate in 30 days:


I : 5.1 %
II : 13.6 %
III : 32.2 %
IV : 57.8 %
BAB III
KESIMPULAN
01 02 03 04
• SKA merupakan suatu • Pemeriksaan • Prinsip • Terapi fibrinolitik
masalah Penunjang SKA : EKG, penatalaksanaan diindikasikan
kardiovaskular yang marka jantung (gold : meningkatkan sebagai terapi
utama karena standart adalah pemberian reperfusi awal
menyebabkan angka Troponin I/T), ECHO oksigen (dengan yang dilakukan
perawatan dan dan angiografi. meningkatkan pada 30 menit
kematian yang tinggi. aliran darah awal dari
koroner) dan kedatangan di
menurunkan Rumah Sakit.
kebutuhan
oksigen (dengan
mengurangi kerja
jantung).

31
terimakasih

  

32