You are on page 1of 30

KELOMPOK 2

ADMINISTRASI KEPEGAWAIAN
“SISTEM PENETAPAN FORMASI DAN
REKUITMENT PNS”

Disusun Oleh:
1. SABILATUL HUSAIN
2. HANDINI RAKHMA .S
3. AJENG KUSUMA .R
4. DARDO A. KAMBU
5. ISMAIL
MANAJEMEN KEPEGAWAIAN MELIPUTI :

 FORMASI

 REKRUITMEN DAN SELEKSI

 PENGANGKATAN CPNS

 PEMBINAAN KARIER

 PEMBERHENTIAN
DASAR HUKUM :
1. UNDANG-UNDANG NOMOR 43 TAHUN 1999
2. UNDANG-UNDANG RI NOMOR 32 TAHUN 2004
3. PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 54 TAHUN
2003
4. KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 42 TAHUN 2002
5. KEPUTUSAN KEPALA BKN NOMOR 26 TAHUN 2004
PENGERTIAN
“Formasi adalah Jumlah dan susunan pangkat Pegawai Negeri

Sipil yang diperlukan suatu satuan organisasi ditetapkan dalam suatu

formasi untuk jangka waktu ter tentu berdasarkan jenis, sifat dan

beban kerja yang harus dilaksanakan, dengan tujuan agar unit

organisasi itu mampu melaksanakan tugasnya secara berdaya guna,

berhasil guna dan berkelangsungan. Formasi adalah Susunan

(pegawai, pengurus, kabinet, pesawat terbang, dan sebagainya).”


PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 54 TAHUN 2003 TENTANG
FORMASI PEGAWAI NEGERI SIPIL

PA S A L 1

For m asi pe gawai ne geri si pil yang sel anj utnya disebut d e n g a n
for masi adal ah juml ah d a n susunan p a n g kat pe gawai ne geri si pi l
yang di per lukan dal am suatu satuan or ganisasi ne gar a untuk
m am pu m el aksanakan tugas pokok dal am j angka waktu ter tentu

PA S A L 2

AYAT ( 1)

For m asi p n s secar a nasi onal seti ap tahun ang gar an di teta pkan
ol eh m enteri yang be r ta n g g u n g jawa b di bi dang pendaya gunaa n
a par atur ne gar a, s e te l a h mem perhati kan penda pat m enteri
keuangan d a n per ti m bangan kepal a b a d a n kepe gawai an ne gar a .
Menurut peraturan pemerintah republik

indonesia no.97 tahun 2000 bahwa formasi

pegawai negeri sipil terbagi menjadi dua yaitu :

formasi pegawai negeri sipil pusat

formasi pegawai negeri sipil daerah


JENIS PEGAWAI NEGERI SIPIL
UU NO. 43 TAHUN 1999, PASAL 2, AYAT (1 )

Pegawai Negeri ialah :


 Pegawai Negeri Sipil
 Anggota Tentara Nasional Indonesia;
 Anggota Kepolisian Negara Republik
Indonesia.

PNS yang dimaksud pada ayat (1),


terdiri dari:
 PNS Pusat
 PNS Daerah
 KEBUTUHAN
PEG
ANALISIS MENURUT
KEBUTUHAN JABATAN
PEGAWAI  KEBUTUHAN
PEG
MENURUT
SYARAT
JABATAN
 SUSUNAN PNS
ANALISIS PETA PENYUSUNAN MENURUT
JABATAN JABATAN FORMASI JAB, GOL
RUANG, JENIS
KELAMIN, &
USIA
 KEBUTUHAN
PEG
KEBIJAKAN
MENURUUT
PEMERINTAH
KUALIFIKASI
PENDIDIKAN
Ke pu tu san Ke pala BKN No. 26 Tahun 2004
Tenta ng Ketentua n Pela k sa naan PP No. 5 4 Thn 2 0 0 3 ,
Penyusunan Fo r m a si d i d a sa rkan a ta s :

1. Jenis pekerjaan
2. Sifat pekerjaan
3. Perkiraan beban kerja & perkiraan
kapasitas seorang PNS dlm jangka waktu ttt
4. Prinsip pelaksanaan pekerjaan (dikerjakan
sdr atau tidak)
5. Peralatan yg tersedia (Komputer/mesin tik)
6. Kemampuan keuangan negara
REKRUTMEN DAN
SELEKSI
PENGADAAN PEGAWAI

Menurut PP no. 98 thn 2000, Pengadaan PNS:


Kegiatan utk mengisi formasi yg lowong
a. Penerimaan (recruitment)
b. Pelamaran (application)
c. Seleksi (ujian)
d. Pelaksanaan perkenalan pribadi & interview
A. PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN
REKRUITMEN PEGAWAI
Rekruitmen adalah suatu usaha untuk mencari dan
mendapatkan calon-calon pegawai yang melamar jabatan
yang kosong/lowong.
Rekruitmen atau perencanaaan pengadaan Calon
Pegawai Negeri Sipil (CPNS), meliputi:

1. Perencanaan
a. penyusunan jadwal kegiatan
b. Biaya
2. PENGUMUMAN
Dalam pengumuman harus dicantumkan :

a. Jumlah dan jenis jabatan yang kosong


b. Kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan
c. Persyaratan yang harus dipenuhi
d. Alamat dan tempat surat alamat
e. Tempat dan waktu tes
f. Hal-hal lain yang dipandang perlu
3. PERSYARATAN
1. Foto copy Surat Tanda Tamat Belajar/Ijasah yang
disahkan oleh pejabat yang berwewenang
2. Kartu tanda pencari kerja dari Dinas tenaga Kerja
3. Daftar Riwayat Hidup
4. Pas photo menurut ukuran dan jumlah yang ditentukan
4. PENYARINGAN

a. Pemeriksaan administratif
b. Panitia Ujian
c. Materi Ujian
d. Pemanggilan pelamar
e. Ujian
B. Penentuan kelulusan dan pengangkatan
sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil
a. Pengumuman
b. Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil
1 . setiap pelamar yang ditetapkan diterima, wajib
melengkapi dan menyerahkan persyaratan untuk
keengkapan administrasi
2. apabila salah satu syarat diatas tidak dipenuhi, maka
yang bersangkutan tidak dapat diangkat sebagai calon
pegawai negeri sipil.
3. pejabat pembina pegawai pusat dan daerah
menyampaikan daftar pelamar yang dinyatakan lulus
ujian penyaringan dan ditetapkan untuk diangkat
sebagai calon pegawai negeri sipil kepada Kepala
Badan Kepegawaian negara (KBKN) untuk mendapat
nomor identitas pegawai negeri sipil (NIP)
PEMBINAAN KARIER

 Pembinaan seringkali diartikan sebagai upaya memelihara


dan membawa suatu keadaan yang seharusnya terjadi atau
menjaga keadaan sebagaimana seharusnya. Pembinaan
dilakukan dengan maksud agar kegiatan atau program yang
sedang dilaksanakan selalu sesuai dengan rencana atau tidak
menyimpang dari hal yang telah direncanakan.
 Menurut Soetopo dan Soemanto, W (1991: 43) mendefinikan,
bahwa pembinaan adalah suatu kegiatan mempertahankan
dan menyempurnakan apa yang telah ada
DASAR HUKUM PEMBINAAN PEGAWAI NEGRI
SIPIL

Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 43 Tahun


1999 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor: 8 Tahun
1974 Tentang Pokok-pokok Kepegawaian. Nomor 3. Sebagai
bagian dari Pembinaan Pegawai Negeri, Pembinaan Pegawai
Negeri Sipil perlu dilakukan sebaik-baiknya dengan berdarkan
pada perpaduan system prestasi kerja dan system karier yang
dititik beratkan pada system prestasi kerja. Hal ini
dimaksudkan untuk memberi peluang bagi Pegawai Negeri Sipil
yang berprestasi tinggi untuk meningkatkan kemampuan secara
propesional dan berkompetisi secara sehat.
S I S T E M P E M B I N A A N K A R I R B A G I A L S O R E A D P E G AWA I N E G E R I
S I P I L D I G O L O N G K A N D I D A L A M 2 ( D U A ) K AT E G O R I YA K N I P E M B I N A A N
K A R I R T E R B U K A D A N P E M B I N A A N K A R I R T E R T U T U P,

1 . Sistem Karir Terbuka


Adalah sistem kepegawaian dimana untuk menduduki suatu jabatan
yang kosong dalam suatu unit organisasi, berlaku untuk tiap warga
Negara yang memiliki skill, kecakapan, dan pengalaman untuk
jabatan itu.

2.Sistem karir ter tutup dibagi dua, yaitu:


a. Sistem karir ter tutup dalam ar ti
Kementerian/Lembaga/Provinsi/Kabupaten/Kota. Ar tinya jabatan
yang kosong hanya dapat diduduki oleh pegawai dari
Kementerian/Lembaga/Provinsi/Kabupaten/Kota setempat, dan tidak
boleh diisi oleh pegawai di luar
Kementerian/Lembaga/Provinsi/Kabupaten/Kota lain.
b. Sistem karir ter tutup dalam ar ti Negara. Ar tinya jabatan – jabatan
yang ada dalam organisasi pemerintah hanya dapat diduduki oleh
pegawai yang ada dalam instansi pemerintah saja. Dalam sistem karir
ter tutup dalam ar ti Negara, setiap Pegawai Negeri Sipil dimungkinkan
untuk pindah dari Kementerian/Lembaga/Provinsi/Kabupaten /Kota yang
satu ke Kementerian /Lembaga/Provinsi/Kabupaten/Kota yang lain
ataupun sebaliknya, terkhusus pada yang menduduki jabatan manajerial.

3. Sistem Prestasi Kerja


Suatu sistem kepegawaian dimana untuk pengangkatan seorang
Pegawai Negeri Sipil dalam suatu jabatan bukan hanya berdasarkan pada
kecakapan, keahlian, dan pengalamannya namun lebih didasarkan pada
prestasi kerja yang harus dibuktikan secara nyata. Sesuai dengan
ketentuan pasal 1 2 Undang – Undang Nomor 43 Tahun 1999, pembinaan
Pegawai Negeri Sipil dilaksanakan dengan perpaduan antara system
prestasi kerja dan system karir yang menitikberatkan pada sistem
prestasi kerja.
HAL-HAL POKOK DALAM PEMBINAAN
PEGAWAI NEGERI SIPIL

1. Penentuan kebutuhan,
2. Pengadaan
3. Penempatan
4. Pengendalian
5. Peningkatan moril
6. Peningkatan mutu
7. Pemeliharaan tata usaha kepegawaian(wijaya, 1995:35).
TUJUAN

 Diarahkan untuk menjamin penyelenggaraan tugas-tugas


perintahan dan pembangunan secara berdaya guna dan berhasil
guna.
 Meningkatkan mutu dan keterampilan dan memupuk kegairahan
kerja.
 Diarahkan menuju terwujudnya komposisi pegawai, baik dalam
jumlah maupun mutu yang memadai serasi dan harmonis.
 Terwujudnya pegawai yang setia dan taat kepada Pancasila dan
Undnag-undang Dasar 1945 dan terwujudnya aparatur yang
bersih dan berwibawa.
 Ditujukan kepada terwujudnya suatu iklim kerja yang serasi dan
menjamin terciptanya kesejahteraan jasmani maupun rohani
secara adil dan merata.
 Diarahkan kepada penyaluran, penyebaran dan pemanfaatan
pegawai secara teratur terpadu dan berimbang.
 Diarahkan kepada pembinaan dengan menggunakan
sistem karier dan sistem prestasi kerja
DASAR HUKUM PEMBERHENTIAN

 PP No. 11/2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil,


juga diatur mengenai beberapa skema pemberhentian PNS
dan penanganannya.
MACAM-MACAM PEMBERHENTIAN
Atas permintaan sendiri
Karena mencapai batas usia pensiun
Karena perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah
Karena tidak cakap jasmani dan/atau rohani
Karena meninggal dunia, tewas, atau hilang
Tata cara pemberhentian karena melakukan tindak
pidana/penyelewengan
Karena pelanggaran disiplin
Karena mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi presiden dan
wakil presiden, ketua, wakil ketua, dan anggota dewan
perwakilan rakyat, ketua, wakil ketua, dan anggota dewan
perwakilan daerah, gubernur dan wakil gubernur,
bupati/walikota, wakil bupati/wakil walikota
Karena menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik
Karena tidak menjabat lagi sebagai pejabat negara
Karena hal lain
TATA CARA PEMBERHENTIAN
 ATAS PERMINTAAN SENDIRI
1 . Permohonan berhenti sebagai PNS diajukan secara ter tulis kepada
Presiden atau PPK melalui PyB secara hierarki .
2. Permohonan pemberhentian atas permintaan sendiri disetujui , ditunda,
atau ditolak diberikan setelah mendapat rekomendasi dari PyB.
3. Dalam hal permohonan berhenti ditunda atau ditolak , PPK menyampaikan
alasan penundaan atau penolakan secara ter tulis kepada PNS yang
ber sangkutan.
4. Keputusan pemberian per setujuan, penundaan, atau penolakan
permohonan pemberhentian atas permintaan sendiri ditetapkan paling lama
14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak permohonan diterima .
5. Sebelum keputusan pemberhentian ditetapkan, PNS yang ber sangkutan
wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
6. Presiden atau PPK menetapkan keputusan pemberhentian PNS dengan
mendapat hak kepegawaian sesuai dengan ketentuan\ peraturan perundang-
undangan.
 KARENA MENCAPAI BATAS USIA PENSIUN
1. Kepala BKN menyampaikan daftar perorangan calon penerima
pensiun kepada PNS yang akan mencapai Batas Usia Pensiun
melalui PPK paling lama 15 (lima belas) bulan sebelum PNS
mencapai Batas Usia Pensiun.

2. PPK atau PyB menyampaikan usulan PNS yang mencapai


Batas Usia Pensiun kepada Presiden atau PPK berdasarkan
kelengkapan berkas yang disampaikan oleh PNS paling lama
3 (tiga) bulan sejak Kepala BKN menyampaikan daftar
perorangan calon penerima pensiun.

3. PPK atau PyB menyampaikan usulan PNS yang mencapai


Batas Usia Pensiun kepada Presiden atau PPK berdasarkan
kelengkapan berkas yang disampaikan oleh PNS paling lama
3 (tiga) bulan sejak Kepala BKN menyampaikan daftar
perorangan calon penerima pensiun.
 KARENA PERAMPINGAN ORGANISASI ATAU KEBIJAKAN
PEMERINTAH

1. PPK menginventarisasi kelebihan PNS sebagai akibat


perampingan organisasi.
2. Kelebihan PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaporkan kepada Menteri dan Kepala BKN.
3. Menteri merumuskan kebijakan penyaluran kelebihan PNS
pada Instansi Pemerintah.
4. Kepala BKN melaksanakan penyaluran kelebihan PNS pada
Instansi Pemerintah yang membutuhkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Dalam hal kelebihan PNS tidak dapat disalurkan pada
Instansi Pemerintah, PNS yang bersangkutan diberhentikan
dengan hormat dengan mendapat hak kepegawaian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
 KARENA TIDAK CAKAP JASMANI DAN/ATAU ROHANI

1. Pemberhentian dengan hormat PNS yang tidak cakap


jasmani dan/atau rohani, berdasarkan hasil pengujian
kesehatan PNS oleh tim penguji kesehatan.

2. Presiden atau PPK menetapkan keputusan pemberhentian


dengan hormat sebagai PNS sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dengan mendapat hak kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan
 KARENA MENINGGAL DUNIA, TEWAS, ATAU HILANG

1. PPK atau PyB mengusulkan pemberhentian dengan hormat


PNS yang meninggal dunia, tewas, atau hilang kepada
Presiden atau PPK.

2. Presiden atau PPK menetapkan keputusan pemberhentian


dengan hormat sebagai PNS sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dengan mendapat hak kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Keputusan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada


ayat (2) ditetapkan paling lama 14 (empat belas) hari kerja
setelah usul pemberhentian diterima
 TATA CARA PEMBERHENTIAN KARENA MELAKUKAN TINDAK
PIDANA/PE NYE LEWE NG AN

1. Pemberhentian dengan hormat atau tidak dengan hormat PNS yang


melakukan tindak pidana/ penyelewengan diusulkan oleh:
a. PPK kepada Presiden bagi PNS yang menduduki JPT utama, JPT madya,
dan JF ahli utama; atau
b. PyB kepada PPK bagi PNS yang menduduki JPT pratama, JA, JF selain JF
ahli utama.

2. Presiden atau PPK menetapkan keputusan pemberhentian dengan hormat


atau tidak dengan hormat sebagai PNS sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dengan mendapat hak kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

3. Keputusan pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan


paling lama 21 (dua puluh satu) hari kerja setelah usul pemberhentian
diterima.