You are on page 1of 24

Askep Amputasi

Kelompok V:
Dinasti Putri
Moch. Rizal Fahlefi
Anatomi Muskuloskeletal
Sistem muskuloskeletal merupakan
penunjang bentuk tubuh mengurus
pergerakan.
Sistem ini terdiri atas tulang, sendi, otot
rangka, tendon, ligamen, bursa, dan jaringan
khusus yang menghubungkan struktur-
struktur ini.
1. Tulang
Tulang membentuk rangka penunjang dan
pelindung bagi tubuh dan menjadi tempat
melekatnya otot- otot yang menggerakan
kerangka tubuh.
Fungsi tulang:
• Membentuk kerangka badan.
• Sebagai pengumpul dan tempat melekat
otot.
• Sebagai bagian dan tubuh untuk
melindungi dan mempertahankan alat
dalam seperti otak, sumsum tulang
belakang, jantung, dan paru-paru.
• Sebagai tempat mengatur dan deposit
kalsium, fosfat, magnesium, dan garam.
2. Sendi
Sendi adalah tempat pertemuan dua
tulang atau lebih. Tulang-tulang ini
dipadukan dengan berbagai cara,
misalnya kapsul sendi, pita fibrosa,
ligament, tendon, fasia, atau otot. Ada
tiga tipe sendi sebagai berikut.
ANATOMI MUSKULOSKELETAL
Definisi
Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang
lebih diartikan “pancung”. Amputasi dapat diartikan
sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian
atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini
merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi
pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi
pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki
dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi
organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien
secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti
dapat menimbulkan komplikasi infeksi.
Etiologi
Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi:
• Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat
diperbaiki.
• Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin
diperbaiki.
• Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang
berat, seperti diabetes militus dan arteriosklerosis.
• Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke
anggota tubuh lainnya.
• Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi
secara konservatif.
• Deformitas organ.
Klasifikasi
Berdasarkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi :
• Amputasi selektif/terencana
Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan
mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-
menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif
terakhir.
• Amputasi akibat trauma
Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak
direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi
lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien.
• Amputasi darurat
Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan.
Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat
seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan
kerusakan/kehilangan kulit yang luas.
Berdasarkan amputasi yang dikenal:
• Amputasi terbuka
Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana
pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama.
• Amputasi tertutup
Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan
dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan
memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan
tulang.
Setelah dilakukan tindakan pemotongan, selanjutnya diikuti perawatan
luka operasi/mencegah terjadinya infeksi, menjaga kekuatan
otot/mencegah kontraktur, mempertahankan intaks jaringan, dan
persiapan untuk penggunaan protese (mungkin).
Berdasarkan pada gambaran prosedur tindakan pada klien yang
mengalami amputasi maka perawat memberikan asuhan keperawatan
pada klien sesuai dengan kompetensinya.
Patofisiologi
Terjadinya amputasi (kehilangan bagian tubuh) pada seseorang disebabkan
karena berbagai factor antara lain penyakit vascular perifer yaitu penyakit
pada pembuluh darah/trauma disebabkan karena kecelakaan, tumor ganas
seperti osteosarkoma (tumor tulang) serta conginetal (bawaan sejak lahir).
Amputasi sendiri bisa diartikan sebagai diskontuitas jaringan tulang dan otot
yang dapat mengakibatkan terputusnya pembuluh darah bagian tubuh, dimana
pada terputunya pembuluh darah dan syaraf serta kehilangan bagian tubuh,
dimana pada terputusnya pembuluh darah dan syaraf ini akan menimbulkan
rasa nyeri yang sering kali berdampak pada resiko terjadinya infeksi pada luka
yang ada dan gangguan mobilitas fisik yang dapat menimbulkan resiko
kontraktur flesi pinggul. Selain disebabkan oleh nyeri, gangguan mobilitas fisik
juga bisa disebabakan oleh kehilangannya bagian tubuh terutama pada bagian
ekstremitas bawah. Kehilangan bagian tubuh juga dapat menimbulkan stress
emosional dikarenakan gangguan psikologis yang disebabkan oleh adanya
perubahan dari struktur tubuh yang berdampak pada timbulnya gangguan
citra diri dan penurunan intake oral. Pada penurunan intake oral ini biasanya
pemenuhan nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh dan akan menjadi
kelemahan fisik serta resiko penyembuhan luka yang lambat).
WOC
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada
pasien dengan post operasi amputasi antara lain:
• Nyeri akut.
• Keterbatasan fisik.
• Pantom syndrome.
• Pasien mengeluhkan adanya perasaan tidak nyaman.
• Adanya gangguan citra tubuh, mudah marah, cepat
tersinggung, pasien cenderung berdiam diri.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
• Foto Rontgen: mengidentifikasi abnormalitas tulang.
• CT Scan: mengidentifikasi lesi neoplastik, osteomielitis,
pembentukan hematoma.
• Angiografi dan pemeriksaan aliran: mengevaluasi
perubahan sirkulasi/perfusi jaringan dan membantu
memperkirakan potensi penyembuhan jaringan setelah
amputasi.
• Ultrasound Doppler, Flowmetri Doppler: dilakukan untuk
mengkaji dan mengukur aliran darah.
• Tekanan O2 transkutaneus: memberi peta pada area
perfusi paling besar dan paling kecil dalam keterlibatan
ekstremitas.
• Termografi: mengukur perbedaan suhu pada tungkai
iskemik di dua sisi, dari jaringan kutaneus ke tengan
tulang. Perbedaan yang rendah antara dua pembacaan,
makin besar untuk sembih.
• Pletismografi: mengukur TD segmental bawah terhadap
ekstremitas bawah mengevaluasi aliran darah arterial.
• LED: peningkatan mengidentifikasikan respons inflamasi.
• Kultur luka: mengidentifikasi adanya infeksi dan
organisme penyebab.
• Biopsy: menginformasikan diagnose massa
benigna/maligna.
• Hitungan darah lengkap/diferensial: peninggian dan
pergeseran ke kiri diduga proses infeksi.
Penatalaksanaan
1. Balutan Rigid Tertutup
2. Balutan Lunak
3. Bertahap
4. Prostesis
Komplikasi
• Perdarahan
• Infeksi
• Nyeri phantom
• Neuroma
• Kerusakan kulit
• Fleksi kontraktur
Asuhan Keperawatan
Pengkajian
Diagnosa
• Nyeri (akut) berhubungan dengan cedera
fisik/jaringan dan trauma saraf.
• Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
kehilangan bagian tubuh.
• Gangguan integritas kulit berhubungan dengan
amputasi bedah.
• Gangguan konsep diri: citra tubuh berhubungan
dengan kehilangan bagian tubuh.
• Resti infeksi berhubungan dengan luka pada daerah
amputasi.
• Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.
Perencanaan
JANGAN PANDANG KAMI DENGAN
SEBELAH MATA ….
SEMOGA BERMANFAAN
SEKIAN TERIMAKSIH