You are on page 1of 67

Case Report

Session

Closed Fracture Os Femur


Dextra 1/3 Distal Comminuted
Displaced FKIK UNIVERSITAS JAMBI
Profesi Dokter

 PEMBIMBING  Agustina Br
Pakpahan
dr. Humaryanto, Sp.OT,
Pendahuluan
• Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang,
tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik
yang bersifat total maupun parsial.
Laporan Kasus
IDENTITAS

ANAMNESIS

PEMFIS

P. PENUNJANG

TATALAKSANA

FOLLOW UP
IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. Don Avaldo


Umur : 46 Tahun
Jenis kelamin : Laki-Laki
Pekerjaan : Buruh
Alamat : Desa Talang Berangin
Masuk RS : 8 Maret 2019
BACK
ANAMNESIS
• Keluhan utama:
Nyeri di tungkai kanan atas
Riwayat penyakit sekarang:
• Pasien datang dengan keluhan nyeri tungkai kanan bagian atas sejak 3 Jam SMRS.
Nyeri dirasakan semakin berat bila kaki digerakkan. Awalnya pasien sedang
melakukan pekerjaannya sebagai buruh, lalu terjatuh dari ketinggian ± 4 meter.
Pasien terjatuh dengan tungkai terlebih dahulu menyentuh permukaan tanah dan
dalam posisi setengah duduk. Kepala pasien tidak terbentur saat terjatuh. Pasien
sadar saat kejadian. Setelah terjatuh, kaki pasien dirasakan tidak dapat digerakkan
karena sangat sakit. Pasien kemudian dibawa ke RS Abdul Manap dan kemudian di
rujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi.

• Riwayat penyakit dahulu:Riwayat keluhan serupa (+) 1
tahun yang lalu di tungkai kanan atas. Pasien tidak ke rumah sakit
dan hanya diurut
• Riwayat penyakit keluarga: Keluhan yang sama
STATUS GENERALISATA

• Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


• Kesadaran : Compos Mentis (GCS V5
E4 M6)
• Tanda Vital :
RR HR T TD

18 x/ menit 88x/menit, kuat 36,5ºC 140/80 mmHg


angkat
PEMERIKSAAN FISIK UMUM

– Kepala : normochepal
– Mata : CA (-/-), SI (-/-), RC (+/+), pupil isokor ,
– Hidung : deviasi septal (-), rinorhea (-), epistaksis
(-)
– Telinga : otorhea (-), Serumen (+)
– Leher : Pembesaran KGB (-)
– Mulut: dbn
Paru:
Inspeksi : simetris, penggunaan otot tambahan (-), jejas (-)
Palpasi: fremitus taktil (+), nyeri tekan (-), krepitasi (-)
Perkusi: sonor
Auskultasi : vesikular kiri = kanan, wh (-/-), Rh (-/-)

Jantung : BJ I/II reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen :
Inspeksi : cembung, sikatrik (-), massa (-), bekas operasi (-)
Palpasi: nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar dan lien tidak teraba
Perkusi: timpani (+)
Auskultasi : bunyi usus (+) normal
Ekstremitas:
Superior : hangat, CRT <2 detik, edema (-), nyeri sendi (-),
Inferior : hangat, CRT <2 detik, gerakan terbatas ekstremitas dextra,
nyeri (+)
BACK
Status lokalisata
Regio Femoralis Dextra
Look : Bengkak (-), deformitas (+), luka (-), spalk
terpasang
Feel : Nyeri tekan (+) di femoris distal, pulsasi
distal (+), sensibilitas (+), akral hangat, krepitasi
tidak dapat dinilai
Move : Pergerakan aktif dan pasif terbatas oleh
karena nyeri, pergerakan sendi jari-jari kaki (+).
Fraktur
tertutup
Pemeriksaan penunjang
• Darah Rutin (08-03-2019)
• WBC : 10.6 109/L (4-10)
• RBC : 4.65 1012/L (3,50- 5,50)
• HGB : 13,6 g/dl (11,0-16,0)
• PLT : 163 109/L (100-300)
• GDS : 118 mg/dl (<200)
• Kimia Darah
• Faal Ginjal (08-03-2019)
• Ureum : 28 mg/dL (15-39)
• Kreatinin : 0.9 mg/dL (0,9-1,3)

• Elektrolit (08-03-2019)
• Na : 133.88(135-148)
• K : 3.53 (3,5-5,3)
• Cl : 102.11 (98-110)
• Ca : 1.21 (1.19-1.23)
Diagnosa Kerja

• Closed fracture os femur dextra 1/3 distal


comminuted displaced
BACK

Penatalaksanaan
– Pasang spalk
– IVFD RL + Ketorolac 30 mg 20 tpm
– Inj. Ranitidine 2 x 1 amp
– Inj. Ceftriaxon 1 x 2 gr (Skin test)
– Konsul SpOT (Rencana ORIF)
BACK

Prognosis

• Dubia et Functionam : Dubia ad Bonam


• Dubia et Vitam : Dubia ad Bonam
• Dubia et Sanationam : Dubia ad Bonam
BACK
Follow Up
Tangg S O A P
al

10/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed -IVFD RL 20 tpm


3/20 tungkai TD:130/70 mmHg fracture os -Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan atas, N: 82x/menit femur dextra -Inj. Metronidazole
pergerakan T: 36.5oC 1/3 distal 3x500mg
terbatas RR: 20x/menit comminuted -Inj. Ranitidine 2x1
Status lokalis: nyeri displaced - Pro ORIF
tekan (+), motorik
terganggu
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
12/03 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
/2019 tungkai TD:140/90 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
kanan atas, N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
pergerakan T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
terbatas RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik
terganggu

13/03 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm


/2019 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
kanan atas, N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
pergerakan T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
terbatas RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
Status lokalis: nyeri displaced
tekan (+), motorik
terganggu
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
11/0 Nyeri pada GCS: 15 Closed IVFD RL 20 tpm
3/20 tungkai TD:130/80 mmHg fracture os Ceftriaxone inf 1x2
19 kanan N: 79x/menit femur dextra Inj. Metronidazole
atas, T: 36.7oC 1/3 distal 3x500mg
pergerakan RR: 17x/menit comminuted Inj. Ranitidine 2x1
terbatas Status lokalis: nyeri displaced Pro ORIF
tekan (+), motorik Hasil lab:
terganggu Protein total: 6.3
Albumin: 4.0
Globulin: 2.3
SGOT: 21
SGPT: 22
CT: 4.5
BT: 4
ANATOMI KRURIS
ANATOMI FEMUR
Fisiologi Regenerasi
Tulang
Patah tulang → pembuluh darah robek → perdarahan dan matrik tulang rusak dan sel-sel
tulang mati.

Periosteum dan endosteum sekeliling patah tulang bereaksi → proliferasi sel


osteoprogenitor → membentuk jaringan yg mengelilingi patah tulang dan masuk
keantara bagian tulang yg patah.

Fibroblas dan kapiler darah masuk kejaringan → jaringan ikat/jaringan granulasi.

Jaringan granulasi berubah menjadi jaringan tulang rawan.

Sel osteoprogenitor → osteoblas → terbentuk tulang primer/spongiosa (kalus) → tulang


kompakta
Fraktur
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas
tulang dan atau tulang rawan yang disebabkan karena
rudapaksa

Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat


berupa trauma langsung dan trauma tidak
langsung.

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung


pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah
tekanan.

Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan


ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur,
misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat
menyebabkan fraktur pada klavikula
KLASIFIKASI

Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).


• Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih
utuh) tanpa komplikasi.
• Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya
perlukaan kulit.

Berdasarkan komplit atau ketidak klomplitan fraktur.


• Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
• Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang
tulang
Berdasarkan bentuk garis patah dan
hubungannya dengan mekanisme
trauma.
1. Fraktur Transversal
2. Fraktur Oblik
3. Fraktur Spiral
4. Fraktur Kompresi
5. Fraktur Avulsi

Berdasarkan jumlah garis patah.


• Fraktur Komunitif
• Fraktur Segmental
• Fraktur Multiple

Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.


• Fraktur Undisplaced (tidak bergeser)
• Fraktur Displaced (bergeser)
Berdasarkan posisi frakur
• 1/3 proksimal
• 1/3 medial
• 1/3 distal

• Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.


• Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Klasifikasi Fraktur Terbuka
 Tipe 1
Luka kecil kurang dr 1cm panjangnya,
terdapat sedikit kerusakan jaringan
dan tidak terdapat tanda2 trauma
yang hebat pada jaringan lunak.
fraktur yang terjadi biasanya bersifat
simple, transversal, oblik pendek atau
sedikit komunitif.
Tipe 2
Laserasi kulit melebihi 1cm tetapi tidak ada kerusakan jaringan yang hebat atau
avulsi kulit. terdapat kerusakan yang sedang dari jaringan dengan sedikit
kontaminasi fraktur.
• Tipe 3
Terdapat kerusakan yang hebat dari jaringan lunak termasuk otot,
kulit dan struktur neurovaskuler dengan kontaminasi yang hebat.
Tipe 3 a
• Jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah walaupun terdapat
laserasi yang hebat ataupun adanya flap
Tipe 3 b
Fraktur di sertai dengan trauma yang hebat dengan kerusakan dan kehilangan
jaringan, terdapat pendorongan periost, tulang terbuka, kontaminasi yang
hebatserta fraktur komunitif yang hebat.
• Tipe 3 c
Fraktur terbuka yang disertai
dengan kerusakan arteri yang
memerlukan perbaikan tanpa
memperhatikan tingkat
kerusakan jaringan lunak.
PENYEBAB FRAKTUR

a. Peristiwa trauma
b. Fraktur kelelahan atau tekanan
c. Fraktur patologik
Diagnosis Fraktur
Anamnesis
• Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik
yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan
untuk menggunakan anggota gerak.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan lokal
• 1. Inspeksi (Look)
• 2. Palpasi (Feel)
• 3. Pergerakan (Move)
• 4. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris
Pemeriksaan penunjang
X-Ray
Penyembuhan
Fraktur
FASE HEMATOME
• Fraktur  pembuluh darah robek  membentuk hematoma.
• Periosteum terdorong dan mengalami robekan akibat tekanan hematoma 
ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak.
• Osteosi akan kehilangan darah dan mati
• Waktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 2 – 3 minggu.
FASE PROLIFERASI
• Sel – sel osteogenik berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus
eksterna dan endosteum membentuk kalus interna

• Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi penambahan jumlah
dari sel – sel osteogenik yang memberi penyembuhan yang cepat.

• Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa
yang meliputi jaringan osteogenik.

• Pada fase ini dimulai pada minggu ke 2 – 3 setelah terjadinya fraktur dan
berakhir pada minggu ke 4 – 8.
FASE KALUS
• Setelah pembentukan jaringan seluler yang tumbuh dari setiap fragmen
sel dasar yang berasal dari osteoblast dan kemudian pada kondroblast
membentuk tulang rawan.

• Tempat osteoblas diduduki oleh matriks interseluler kolagen dan


perlekatan polisakarida oleh garam – garam kalsium pembentuk suatu
tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut woven bone.

• Pada pemeriksaan radiolgis kalus atau woven bone sudah terlihat dan
merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya penyembuhan fraktur.
FASE KONSOLIDASI
• Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan – lahan diubah
menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur
lamellar dan kelebihan kalus akan di resorpsi secara bertahap.

• Pada fase 3 dan 4 dimulai pada minggu ke 4 – 8 dan berakhir pada minggu ke 8 –
12 setelah terjadinya fraktur.
FASE REMODELING
• Pada fase remodeling ini perlahan – lahan terjadi resorpsi secara
osteoklastik dan tetapi terjadi osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna
secara perlahan – lahan menghilang. Kalus intermediet berubah menjadi
tulang yang kompak dan berisi system haversian dan kalus bagian dalam
akan mengalami peronggaan untuk membentuk susmsum.
• Pada fase terakhir ini, dimulai dari minggu ke 8 – 12 dan berakhir sampai
beberapa tahun dari terjadinya fraktur.
Tatalaksana Fraktur

Prinsip-prinsip pengobatan fraktur


• Pertolongan pertama 
ABCDE
Menutup luka dengan verban yang bersih
Imobilisasi fraktur pada anggota gerak

• Penilaian klinis  nilai luka

• Resusitasi  transfusi dan cairan-cairan lainnya serta obat-obat anti


nyeri.
Prinsip Pengobatan yaitu :
1. Recognition (diagnosis dan penilaian fraktur)
Perhatikan :
• Lokalisasi fraktur
• Bentuk fraktur
• Menentukan teknik yang sesuai dengan pengobatan
• Komplikasi yang mungkin selama dan sesudah pengobatan

2. Reduction
• Reposisi fraktur. Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi
tertutup, traksi, dan reduksi terbuka.

3. Retention
• Imobilisasi fraktur

4. Rehabilitation
• Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin
Terapi Konservatif
• Proteksi saja
Mitella

• Immobilisasi saja tanpa reposisi


Pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur
dengan kedudukan baik

• Reposisi tertutup dan fiksasi gips


Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula terhadap
fragmen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil
dalam gips

• Traksi
Dipakai untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh
Terapi Operatif
• Reduksi tertutup dengan fiksasai eksterna atau fiksasi perkutaneus
dengan K-Wire

• Reduksi terbuka dengan fiksasi interna atau fiksasai ekterna tulang


(ORIF/Open Reduction Internal Fixation dan OREF/Open Reduction
Eksternal Fixation)

• Alat-alat “eksternal” (bebat, brace, case, pen dalam plester, fiksator


eksterna, traksi, balutan)

• Alat-alat “internal” (nail, lempeng, sekrup, kawat, batang, dll)


• ORIF
Indikasi
1. Fraktur intraartikuler seperti fraktur maleolus,kondilus, olekranon,
patela
2. Reduksi tertutup yang mengalami kegagalan misalnya fraktur
radius dan ulna disertai malposisi yang hebat atau fraktur yang
tidak stabil
3. Fraktur terbuka
4. Bila terdapat kontraindikasi pada imobilisasi eksterna sedangkan
diperlukan mobilisasi yang cepat, misalnya fraktur pada orang tua
5. Fraktur avulsi misalnya pada kondilus humeri
6. Fraktur multipel misalnya fraktur pada tungkai atas dan bawah
7. Untuk mempermudah perawatan penderita misalnya fraktur
vertebra tulang belakang yang disertai paraplegia
OREF
Indikasi :
• Fraktur terbuka grade II dan grade III
• Fraktur terbuka disertai hilangnya jaringan atau tulang yang hebat
• Fraktur dengan infeksi atau infeksi pseudoartosis
• Kadang-kadang pada fraktur tungkai bawah penderita diabetes
melitus
Penatalaksanaan Fraktur
Terbuka
Prinsip dasar pengelolaan fraktur tebuka:
• Obati sebagai satu kegawatan.
• Evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat
menyebabkan kematian.
• Berikan antibiotic
• Debrideman dan irigasi yang baik ulangi 24-72 jam
• Stabilisasi fraktur
• Biarkan luka tebuka antara 5-7 hari
• Lakukan bone graft autogenous secepatnya
• Rehabilitasi anggota gerak yang terkena
Tahap-tahap Pengobatan Fraktur Terbuka

Pembersihan luka
• Irigasi dengan cairan NaCl fisiologis

Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen)


• Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya dieksisi

Pengobatan fraktur itu sendiri


• Fiksasi fraktur

Penutupan kulit
Periode emas (6-7 jam mulai dari terjadinya kecelakaan), kulit ditutup. Jika
penutupan membuat kulit sangat tegang dilakukan split thickness skin-graft

Pemberian antibiotic
Pencegahan tetanus
Waktu Penyembuhan
LOKALISASI WAKTU PENYEMBUHAN (minggu)

Phalang / metacarpal/ metatarsal / kosta 3–6


Distal radius 6
Diafisis ulna dan radius 12
Humerus 10 – 12
Klavicula 6
Panggul 10 – 12
Femur 12 – 16
Condillus femur / tibia 8 – 10
Tibia / fibula 12 – 16
Vertebra 12
Waktu penyembuhan fraktur

Tergantung dari :
1. Umur penderita
2. Lokasi dan konfigurasi fraktur
3. Pergeseran awal fraktur
4. Vaskularisasi pada kedua fragmen.
5. Reduksi serta immobilisasi
6. Waktu immobilisasi
7. Ruang diantara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan
lunak.
8. Adanya infeksi
9. Caitan synovial
10. Gerakan aktif dan pasif anggota gerak j uga mempengaruhi.
Komplikasi
Komplikasi segera
• Komplikasi lokal : kerusakan kulit, pembuluh darah (hematom,
spasme arteri, dan kontusio), kerusakan saraf, kerusakan otot, dan
kerusakan organ dalam.
• Komplikasi sistemik : syok hemoragik

Komplikasi dini
Sindoma kompartemen
5 P : Pain, Pallor, Pulseles, Parastesi, Paralisis
Komplikasi lanjut
• Malunion :
Penyambungan fraktur tidak
normal sehingga menimbukan
deformitas

- Delayed union :
Proses penyembuhan lambat dari
waktu yang dibutuhkan secara
normal.

- Nonunion :
Dimana secara klinis dan radiologis
tidak terjadi penyambungan.
Analisis Kasus
KASUS TEORI
Keluhan : Nyeri pada paha kanan, luka  Nyeri, shortening (pemendekan),
terbuka pada betis kanan angulasi, bengkak, dan krepitasi.
Status Lokalisata
Regio Femoralis dextra
Look: Bengkak (+), deformitas (+), kulit
utuh (tidak terdapat luka robek)
Feel : Nyeri tekan (+), pulsasi distal (+),
sensibilitas (+)
Move : Nyeri gerak aktif (+), nyeri
gerak pasif (+)
KASUS TEORI
Diagnosis • Operasi OREF dilakukan
Open fracture 1/3 medial tibia memfiksasi tulang ,
dextra oblique displaced grade II & memperbaiki fungsi dan
open fracture multiple os fibula mengembalikan gerakan dan
dextra oblique displaced grade I stabilitas.

Closed fracture 1/3 medial os


femur dextra oblique displaced

Tatalaksana
Debridement & OREF
• TERIMAKASIH